Senin, 22 Desember 2008

Manusia Zombie

10 tahun lalu (1998), saat saya masih kuliah di P. Jawa, untuk pertama kalinya seumur hidup saya melihat ada sekelompok manusia di negara ini bisa berkumpul bersama-sama, dalam jumlah yang cukup besar, untuk memperjuangkan hal yang sama.

Tetapi saya masih ragu-ragu, adakah alasan lainnya yang bisa mempersatukan negara ini, dalam jumlah yang lebih masif lagi? Waktu itu yang berdemo hanyalah mahasiswa & sejumlah kecil dosen senior. Komponen negara lainnya seperti kelas pekerja, baik di retail maupun di pabrik tidak muncul. Para pengusaha, baik besar maupun kecil, juga tidak muncul. Orang-orang tua atau yang lebih senior di masyarakat, juga tidak muncul.

Rakyat negara ini, sejauh yang bisa saya lihat dan rasakan, cuek bebek satu sama lain. Dari luar seolah-olah kita bersikap cukup ramah pada orang-orang di samping kita, tetapi saat situasi sedang krisis, baru ketahuan hubungan antar golongan sebenarnya sangat renggang.

Di negara ini, saya merasa bahwa sama sekali tidak ada cara bagi rakyat biasa untuk menjangkau wakil rakyat di DPR / MPR. Apapun yang dilakukan para wakil rakyat, seburuk apapun keputusan mereka, sepertinya tidak ada cara sama sekali bagi rakyat biasa untuk berkomunikasi dengan mereka, apalagi mempengaruhi keputusan mereka. Bagaimana saya tahu? Karena saya sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjangkau DPRD kota saya, apalagi yang duduk manis di Jakarta.

Negara ini melakukan Pemilu setiap 5 tahun, tetapi kalau kita menjumlahkan total waktu untuk pemilihan DPR, MPR, Presiden, dan DPRD (propinsi), maka sekitar 2 - 2,5 tahun (40 - 50%) dari 5 tahun total waktu kekuasaan para "wakil rakyat" habis untuk kampanye dan promosi. Biaya yang dihabiskan juga luar biasa besar, puluhan trilyun rupiah setiap periode!

Kalau pada akhirnya yang kita dapatkan hanyalah sejumlah "wakil rakyat" yang tidak bisa kita akses, yang tidak bisa kita pengaruhi dalam membuat kebijakan publik, untuk apa sebenarnya kita memilih??

Rakyat negara ini, di mata saya, tidak cukup memiliki informasi sebagai basis untuk berpikir, tidak memiliki emosi, dan tidak bisa bersatu dalam jumlah masif. Dan masyarakat semacam ini pada akhirnya akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima... Perbudakan dan hilangnya hak sipil.

Gambar-gambar berikut adalah contoh demonstrasi yang melibatkan berbagai komponen rakyat di negara-negara lainnya. Saya tidak mengatakan ini adalah hal yang baik, yang ingin saya katakan hanyalah bahwa di beberapa negara yang lain, rakyat mereka sanggup berpikir, bersatu, dan menyampaikan emosi mereka saat "wakil rakyat" yang mereka pilih tidak membela kepentingan mereka.

Korea


Yunani


Francis


Thailand

Taiwan

Saya penasaran, akankah tiba suatu hari rakyat Indonesia juga bisa bersatu dan berkata dengan keras kepada para "wakil rakyat" bahwa pihak yang harusnya mereka bela adalah rakyat Indonesia, bukan kepentingan pihak lainnya (terutama bankir internasional).

Sampai saat ini, berdasarkan apa yang bisa saya lihat, pekerjaan terpenting dari pemerintahan manapun di seluruh dunia adalah meningkatkan hutang publik. Itu pekerjaan #1 dari Presiden dan pemerintahannya. Segala pekerjaan yang lain hanyalah kamuflase. Dan negara-negara yang bisa menghindari kebijakan tersebut, berdiri sebagai pemenang di antara yang tersisa.

Saya ambil sebuah contoh, negara tetangga kita, Singapura.

Walaupun saya sama sekali tidak ragu negara ini adalah antek Israel, tetapi satu hal yang benar-benar harus saya akui tentang mereka adalah pemerintahan Singapura memperlakukan rakyat mereka dengan sangat baik. Baik bukan dalam bentuk kebebasan berpolitik, tetapi baik dalam hal kepedulian mereka akan kesejahteraan publik.

Singapura bukanlah negara demokrasi, mereka adalah pemerintahan totaliter. Keluarga Lee Kuan Yew memegang kendali absolut di negara itu. But so what? Siapa juga yang bilang sistem demokrasi lebih baik dari sistem totaliter? Di negara itu, siapapun oposisi yang secara serius ingin mengancam kekuasaan partai PAP (People Action Party) Lee, dalam waktu dekat pasti akan jatuh bankrut. Rakyat Singapura sendiri menyadarinya, karena itulah mereka jarang memprotes. Selama pemerintahan mereka bisa terus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan riil per kapita mereka bisa terus meningkat setiap tahun, rakyat mereka benar-benar tidak perlu peduli tentang hal yang lain.

Indonesia tidak diberkati dengan "keberuntungan" seperti ini. Anyway, jangan salahkan nasib. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah reedukasi masyarakat. Saya 100% yakin setiap masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Masyarakat bodoh akan mendapatkan apa yang pantas diterima orang bodoh, demikian juga sebaliknya. Hasil reedukasi memang tidak akan terlihat langsung, tetapi dengan berlalunya waktu, perbaikan kualitas manusia di negara ini akan memperbaiki "nasib" rakyat negara ini. Saya percaya demikian.

Manusia yang bisa berpikir memiliki emosi, sebaliknya, manusia yang tidak bisa lagi berpikir, mereka adalah manusia zombie. Hidup, tapi mati...

Jangan sampai negara ini menjadi negara zombie... Negara yang rakyatnya hanya bisa "terima nasib," tidak bisa berpikir dan bereaksi atas kejadian apapun, & tidak bisa menyampaikan perasaan apapun ketika sekelompok "wakil rakyat" menghianati kepentingan mereka.

& Ingat hal ini, jangan mau dianggap remeh sekelompok bajingan di luar sana (Yahudi Talmudik) yang menganggap kita "goyim". Anda tahu apa itu goyim? Sederhananya, artinya ternak (binatang)! Semakin sebuah negara melarat, semakin rakyat sebuah negara putus asa, semakin lebarlah senyuman para Yahudi Talmudik itu. Jangan biarkan mereka menertawai kita! Jangan biarkan Rothschild, Rockefeller cs mengendalikan kehidupan kita!

Mulailah bercerita kawan. Ini negara Anda juga!

2 komentar:

intelligence mengatakan...

Although there are differences in content, but I still want you to establish Links, I do not
fashion jewelry

chiko mengatakan...

setuju pak, orang hidup jaman sekarang memang seperti zombie! boro2 diajak ngomong soal beginian, ditanya kelebihan dan kelemahan saja sudah bingung (gak bisa mikir dan gak mau mikir!).
Sepengetahuan saya, dalam politik2 konspirasi selalu terjadi bahwa yang mengatakan kebenaran akhirnya adalah orang yang dianggap bersalah oleh masyarakat..sementara si provokator sendiri tetap tidak 'terlihat'. Dicontohkan dengan baik sekali dalam kisah penyaliban Yesus.
Saya kira, saran lindsey williams yang juga anda ulas di blog ini, cukup memberikan solusi...