Rabu, 24 Desember 2008

Merry X'mas & Happy New Year

*** Selamat Hari Natal 2008 & Tahun Baru 2009 ***




Selamat berlibur & berkumpul dengan keluarga Anda.




Sampai jumpa lagi di tahun 2009.


Thank you for visiting.


Selasa, 23 Desember 2008

Mengenai Madoff, Ponzi, dkk

Madoff mengatakan bisnis dia adalah sebuah skema Ponzi, dan seluruh media utama dunia melaporkan sesuai dengan apa yang dia katakan. Orang-orang mulai sibuk menjelaskan apa itu skema Ponzi, tetapi tak seorang pun memaparkan secara detail bagaimana bisa bisnis Madoff adalah skema Ponzi.

Tentu saja tidak bisa, katakan Madoff sendiri tidak menjelaskannya.

Saya tidak ingin berspekulasi tentang hal ini. Tetapi satu hal yang perlu Anda ketahui, hanya beberapa hari setelah kasus ini muncul di berita, seorang hakim di Amerika mengatakan bahwa karena Madoff menyelenggarakan sebuah bisnis "penipuan", maka para "korban" sepantasnya berhak mendapatkan kompensasi!

Berikut beberapa perusahaan yang menjadi "korban" Madoff:
- HSBC
- BNP Paribas
- Nomura
- AXA
- Royal Bank of Scotland
- Fortis
- Swiss Life Holding
- UBS
- Jewish Community Foundation
- etc

**List Korban Madoff

Come on... Lihat baik-baik list di atas. Kita bukan sedang membicarakan ibu-ibu rumah tangga yang kehilangan uang di reksa dana atau bursa saham, perusahaan-perusahaan itu adalah institusi finansial paling profesional di dunia, dan juga organisasi yang dikelola oleh manusia paling licik dan kejam di dunia (Yahudi Talmudik), bagaimana bisa orang-orang percaya mereka adalah "korban?"

Pernahkah Anda meminjam uang ke bank? Dalam dunia riil, meminjam uang tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Setiap perusahaan finansial memiliki divisi credit risk department, semua investasi perusahaan itu harus melewati departemen ini. Semakin besar nominal investasi, semakin banyak study & due diligence yang harus dilakukan, dan semakin tinggi posisi orang yang harus menyetujui penanaman uang itu.

Customer Madoff menanam masing-masing ratusan juta dolar dan beberapa ada yang menginvestasikan beberapa miliar dolar kepadanya. Mana mungkin mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Madoff. Apakah Anda benar-benar percaya Madoff mengatakan kepada mereka, "Berikan saja uang kalian kepadaku, jangan tanya apa yang saya lakukan, yang penting setiap tahun saya akan memberikan Anda return 13,5%" dan customer dia setuju begitu saja?

Huh..

Kalau sampai ada bailout kepada mereka, strategi ini jangan-jangan bisa menjalar ke seluruh dunia. Cukup tunjuk satu orang sebagai kambing hitam, maka kerugian uang yang diderita para bankir dan yayasan zionis di pasar finansial bisa dinombok oleh pembayar pajak di masing-masing negara. Luar biasa...!!

Anyway, bagi Anda yang masih tertarik dengan skema Ponzi, berikut adalah sedikit informasi yang bisa saya sharing kepada Anda.

(Terima kasih kepada seorang teman saya yang masih menyimpan file-file lama buku PPB, bila tidak saya tidak bisa memposting file ini lagi)

Buku : Berbohong & Menjadi Kaya
Bab 3 : Skema Ponzi, Piramid Game, dan Kawan-Kawan

Sepintas Tentang Mr. Ponzi

Carlo Ponzi lahir di Italia dan pindah ke New York pada tahun 1893. Saat itu usianya 15 tahun, dan dia suka mencari berbagai jalan singkat menuju kekayaan. Dia pernah masuk penjara di Kanada (karena penipuan surat berantai dan penggunaan cek palsu) dan juga di Atlanta (untuk skema imigrasi ilegal). Akhirnya Ponzi pindah ke Boston tahun 1919.



Berpindah kerja dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Boston, pria berbadan kecil ini (tingginya sekitar 156 cm, walaupun sering tidak memiliki pekerjaan, namun selalu mengenakan pakaian yang elegan) bertekad mengubah realita hidupnya. Dia sering begadang membayangkan berbagai cara untuk menjadi kaya dengan cepat.

Boston bukanlah tempat yang sesuai untuk menjadi orang miskin. Kota itu penuh dengan orang kaya dengan gaya hidup yang mewah, hal ini membuat Ponzi muda frustrasi dan sangat kecewa. Dia terus memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan sebagian dari kemakmuran yang berlimpah di kota barunya. Selama waktu itu, Ponzi juga tidak lupa untuk selalu menyurati keluarga dan saudaranya yang mungkin sedang khawatir padanya, mengingat masa itu adalah masa perang dunia pertama.

Surat-surat yang dia tulis ini kemudian memberikan Ponzi sebuah gagasan yang di kemudian hari dia ilustrasikan sebagai sebuah “gagasan hebat.” Ponzi sendiri mungkin tidak menyangka, skema yang dia ciptakan ini pada akhirnya menjadi bentuk lain dari sistem spekulasi mata uang modern.

Di awal 1900-an, seseorang dapat menyertakan sebuah kupon di dalam surat untuk menghemat biaya koresponden untuk membeli perangko. Sebuah organisasi yang dinamakan International Postal Union mengeluarkan kupon yang dapat diperdagangkan di sejumlah negara tertentu untuk mendapatkan perangko setempat.

Ponzi menemukan bahwa kupon-kupon yang dibeli di negara yang ekonominya lemah dapat dijual dengan sejumlah keuntungan di Amerika Serikat. Dia memutuskan untuk menggunakan sedikit uang yang dengan susah payah dia tabung untuk mencoba “gagasan hebat” ini. Sayangnya, dalam waktu singkat dia menemukan bahwa ada berbagai hal lainnya di skema ini yang membuat impiannya tidak bisa berhasil. Terutama adalah bahwa mayoritas keuntungan pada akhirnya ternyata kembali ke organisasi postal.

Namun, walaupun gagasan hebat dia tidak berhasil, hal yang lain muncul. Setiap kali dia membicarakan skema ini dengan orang lain, mereka tampaknya percaya dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Teman-teman dan keluarga mereka akan selalu bertanya padanya, tanpa curiga, bagaimana rencana ini harus dilakukan. Orang-orang sangat tertarik dengan investasi ini, walaupun Ponzi sudah tahu skema itu sebenarnya tidak berhasil.

Jadi, di akhir tahun 1919, Ponzi mengambil keputusan yang akan membuat namanya tercatat di sejarah sebagai salah satu icon paling terkenal di dunia penipuan. Dia berhenti membeli kupon perangko internasional dan berurusan dengan birokrasi tak berujung. Mulai saat itu dia fokus untuk melakukan hal yang lebih menguntungkan, yaitu mencari investor.

Pada Desember 1919, Ponzi mulai menggunakan nama baru, “Charles” Ponzi. Dengan modal $150, dia mulai meminjam uang dengan memberikan nota-nota pengembalian di masa mendatang. Dia mulai mengundang teman-teman dan saudara mereka untuk ikut di program yang dia sebut sebagai “Rencana Ponzi.”

Ponzi mengklaim bahwa dia bisa menghasilkan keuntungan 100% dalam beberapa bulan. Masalahnya adalah dia kekurangan modal untuk mengeksploitasi kelemahan sistem postal internasional. Karena masih ada ruang untuk pertumbuhan, dia tidak keberatan untuk berbagi keuntungan dengan investor.

Ponzi melakukan presentasinya secara berhasil. Dia memberi contoh bahwa sebuah kupun yang dia beli di Spanyol dengan harga satu sen dapat ditukar dengan nilai ekuivalen enam sen di Amerika. Keuntungannya adalah lima kali lipat! Nada bicaranya begitu meyakinkan sehingga banyak orang mempercayainya.

Apapun juga yang dia katakan, dia berhasil. Beberapa orang, termasuk teman dekat dan saudara mereka, memutuskan untuk berjudi dengannya, dan Ponzi berhasil mengumpulkan $1.250 dari mereka. 90 hari kemudian, Ponzi memberikan bunga kepada mereka sebesar $750. Investor yang terkagum-kagum padanya menceritakan kisah ini kepada lebih banyak orang. Dalam waktu singkat, kantor Ponzi penuh dengan orang-orang serakah yang ingin menginvestasikan uang mereka kepadanya.

Dengan perjanjian tertulis bahwa dia akan membayar $150 dalam waktu 90 hari untuk setiap $100 yang dia terima, Ponzi berhasil meyakinkan ribuan orang yang akhirnya memberikan jutaan dolar kepadanya (termasuk ¾ anggota kepolisian Boston). Dia juga kadang-kadang menenangkan kebimbangan investornya dengan melunasi pembayarannya dalam waktu 45 hari. Dalam delapan bulan, dia mengumpulkan $9 juta, yang mana kewajibannya adalah $14 juta. Dia membayar agennya komisi sebesar 10%. Termasuk 50% bunga pinjaman kepada investor, bunga yang harus dia bayar sebenarnya adalah 60%.

Tetapi metode finansial gaya Ponzi tidak berdasarkan keuntungan riil dalam berbisnis. Dia menggunakan uang investor baru untuk membayar uang investor lama yang jatuh tempo. Walaupun penuh dengan uang tunai, sebenarnya Ponzi tidaklah menghasilkan uang apapun. Dalam suatu proses pengadilan di kemudian hari, terbukti bahwa sebenarnya Ponzi berada dalam kondisi yang sangat kepepet, semakin besar bisnisnya, semakin besar masalahnya. Dia sama sekali tidak melakukan investasi apapun, semua uang yang sedang dia pegang adalah uang orang-orang yang berhasil ditipunya.

Suatu saat, Ponzi mendapatkan $200 ribu dalam sehari, dengan dividen 50% dalam 90 hari. Akhirnya, dia menaikkan janjinya dengan memberikan 100% bunga dalam tiga bulan. Para investor pun antri menyerahkan uang kepadanya.

Ponzi adalah seorang genius dalam memanipulasi orang. Sebagai contoh: bila seorang investor mau mengambil uang mereka yang jatuh tempo, mereka harus berjalan melewati kantor mereka untuk sampai ke counter yang antriannya sangat panjang karena cuma ada dua atau tiga counter yang buka.

Setelah uang ada di tangan, para investor ini berjalan keluar dengan menghadapi belasan counter investasi yang antriannya pendek. Mayoritas kemudian tergoda untuk menginvestasikan lagi uang mereka. Sangat sedikit orang yang berjalan keluar dari kantor Ponzi dengan uang di tangan.

Di puncak masa likuiditasnya, Ponzi menjadi seorang maniak shopping. Dia menghabiskan waktunya untuk membeli baju baru, jam emas, berlian untuk istrinya, sebuah mobil limosin, dan juga villa 20 kamar di Lexington, pinggir kota Boston. Seperti yang juga dilakukan para penipu yang mengikuti jejaknya, Ponzi menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk membelanjakan uangnya.

Di awal bulan Juli 1920, Ponzi mendapatkan omset $1 juta per minggu. Pada suatu hari, Ponzi membawa sebuah tas berisi uang tunai $3 juta menuju Hanover Trust Co., dan membeli sejumlah saham di bank tersebut. Sayang kesuksesan dia tidak berlangsung lama.

Karena setiap hari ada ratusan orang antri di kantornya untuk menyetor dan mengambil uang, seorang editor harian Boston Post meminta pendapat dari sejumlah ahli keuangan dan mereka menyimpulkan bahwa, walaupun memang ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan ribuan dolar dari pertukaran kupon perangko, namun “gagasan hebat” Ponzi tidak mungkin sanggup melayani permintaan yang sedemikian besar dengan perdagangan sebesar jutaan dolar.

Tidak lama kemudian, para reporter yang skeptis meminta wawancara dengannya. Karena khawatir akan image-nya, Ponzi menyewa seorang public relation bernama William McMasters untuk menangani publisitasnya. Ini ternyata adalah langkah bumerang baginya. McMasters menghabiskan beberapa hari di kantor Ponzi, dan menemukan bahwa operasi ini adalah sebuah penipuan dan langsung menuju Kejaksaan. “Orang ini adalah seorang idiot finansial,” kata McMasters. “Dia bahkan tidak bisa berhitung…. Dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan menghisap cerutu lewat pipa emasnya sambil berguman tentang kupon perangko.”

Ponzi dipanggil untuk menghadap pengadilan di Boston. Para penggemar etnik Italianya bersorak mendukung saat Ponzi melewati jalan, namun para auditor dan polisi yang menggeledah kantornya tidak berhasil menemukan apapun, selain catatan nama-nama dan nomor telepon. Karyawannya, saat ditanya, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya bos mereka mendapatkan profit usaha.

Sebulan kemudian, khawatir akan runtuhnya skema “gagasan hebat”nya, Ponzi membawa $2 juta uang tunai menuju Saratoga Springs. Dia berharap memiliki nasib yang baik di casino tersebut. Dia tidak berhasil, dia kehilangan semuanya.

Pada Agustus 1920, harian Boston Globe menulis sebuah ekspos terhadap skema Ponzi. Nyaris terjadi kerusuhan, ribuan investor yang ketakutan menyerbu kantor Ponzi dan meminta uang mereka kembali. Itu seperti rush terhadap sebuah bank. Pengadilan kemudian menjelaskan secara detail:

Pada tanggal 19 Juli, rekening Ponzi di Hanover Trust adalah $334.000. Pada tanggal 24 Juli adalah sebesar $871.000. Namun, minggu berikutnya terjadi penarikan: $572.000 pada 26 Juli, $228.000 pada 27 Juli, dan $905.000 pada 28 Juli, total melebihi $1.765.000. Walaupun demikian, rekeningnya masih menunjukkan surplus, karena Ponzi menyetor uang tambahan yang dia ambil dari bank lain. Skema ini akhirnya berakhir karena penarikan sebesar $331.000 pada tanggal 9 Agustus. Ponzi bangkrut.

Di puncak skemanya, Ponzi hanya memiliki kupon perangko senilai $30, dengan uang investor sebesar $10 juta dari sekitar 20.000 investor di Boston dan New York.

Dalam masa 10 bulan itu, Ponzi merasakan suka duka tertinggi dari kehidupannya. Kebanyakan investor yang percaya padanya kehilangan seluruh uang mereka. Ponzi akhirnya ditangkap agen Federal dan menjalani hukuman penjara selama empat tahun di penjara Massachusetts.

Setelah keluar dari penjara, Ponzi kembali mengasah bakatnya. Dia melakukan berbagai aksi penipuan di Florida. Akhirnya, dia dideportasi kembali ke Italia. Dalam wawancaranya yang terakhir bersama sebuah harian berita, Ponzi mengatakan bahwa dia tidak menyesal namun berharap dunia memaafkannya.

Yang kemudian terjadi lebih cocok dibilang “melupakannya.” Di awal 1930-an, pimpinan Italia Benito Mussolini secara ceroboh mengira pria bernama Ponzi ini adalah seorang genius perbankan. Ponzi diangkat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan Italia. Tidak lama kemudian, para pengikutnya menemukan bahwa pimpinan mereka bahkan tidak bisa berhitung. Ponzi mengetahui bahwa dia segera akan diekspos, dia segera mengepak beberapa tas berisi uang tunai dan berlayar menuju Amerika Selatan.

Namun, ternyata Ponzi melakukan hal yang sama di sana. Ketika Ponzi meninggal di Brazil beberapa tahun setelah itu di salah satu rumah sakit, dia sedang dalam pengawasan polisi.


Mengenali Skema Ponzi:

Skema Ponzi terjadi ketika kita melihat dua kegiatan tersebut:

1. Perancang program menggunakan uang dari investor sendiri untuk membayar bunga “investasi” mereka, sambil menyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan dana investasi mereka.
2. Perancang program mencari investor baru dan menggunakan uang mereka untuk membayar kepada investor lama.

Semakin besar bunga yang dijanjikan, semakin besar kebutuhan perancang program untuk menemukan partisipan baru. Semakin cepat masa jatuh tempo yang dijanjikan, semakin cepat perancang program harus menemukan investor baru.

Skema permainan Ponzi tidak mungkin bertahan terlalu lama karena keterbatasan jumlah partisipan di wilayah geografis manapun. Skema ini dapat berumur lebih panjang jika perancang program sanggup membangun sumber pendapatan baru di wilayah lain setelah partisipan di suatu wilayah sudah mencapai tingkat maksimal.

Namun, pada akhirnya, pada suatu ketika semua skema Ponzi pasti akan runtuh. Pertanyaannya hanya satu: Kapan?

Berikut adalah sebuah ilustrasi bagaimana skema Ponzi bekerja di zaman sekarang:

Contoh #25:

Anda mengaku sebagai seorang pengusaha peternakan ayam. Anda membuat perhitungan bisnis peternakan ayam dan menemukan bahwa untuk setiap juta rupiah yang diinvestasikan, Anda bisa mendapatkan keuntungan 400% dalam setahun. Setelah itu, Anda mulai mengundang orang-orang untuk mendengarkan presentasi Anda. Anda menawarkan kepada mereka bunga 25% setiap 3 bulan atas dana investasi mereka.

Ketika orang mulai menginvestasikan uang mereka, Anda secara aktif masih terus mencari investor baru. Saat masa 3 bulan sampai, Anda menggunakan uang investor sendiri untuk membayar mereka. Proses ini dilanjutkan selama yang Anda bisa sampai Anda tidak sanggup membayar para investor lagi.

Di contoh di atas, perancang program tidak memiliki niat untuk mengembangkan peternakan ayam sejak awal. Namun skema Ponzi tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang, perancang program bisa jadi benar-benar melaksanakan rencana bisnis yang dia buat. Namun, di tengah jalan, bisnisnya gagal dan dia menemukan bahwa keuntungan dengan mengembangkan skema Ponzi ternyata lebih menguntungkan dibanding dengan rencana bisnis awalnya. Akhirnya, dia berpindah haluan dan fokus pada pencarian investor baru dan mengabaikan rencana bisnis awalnya.


Pyramid Game

Perbedaan utama antara skema Ponzi dengan permainan piramida adalah usaha para partisipan/investor. Pada skema Ponzi, para investor adalah bersikap pasif, mereka tinggal menunggu masa jatuh tempo dan mengambil uang mereka. Sedangkan pada permainan piramida, para partisipan harus secara aktif mencari partisipan baru. Para peserta memang sejak awal menyadari apa yang mereka lakukan, mereka memang sadar bahwa keselamatan modal dan keuntungan yang mereka terima adalah tergantung hasil perekrutan mereka.

Pada permainan piramida, para peserta mula-mula harus membayar biaya tertentu untuk bisa bergabung dengan sistem bisnis itu untuk mencari rekrutan baru dan mendapatkan komisi/bonus dari perusahaan.

Contoh #26:

Sebuah perusahaan, sebut saja PT. Rimba Finance Indonesia, menawarkan peluang “bisnis” seperti ini: Anda disuruh membayar Rp75.000 untuk bergabung dengan mereka. Rp25.000 adalah joining fee, sisa Rp50.000 dibayar kepada lima orang yang merupakan upline Anda, dan masing-masing upline mendapatkan Rp10.000. Setelah membayar uang itu, Anda berhak menjadi anggota perusahaan mereka dan mulai mencari partisipan baru. Para partisipan baru juga akan menyetor Rp75.000 dan Anda sebagai perekrut, upline dari mereka, akan mendapatkan Rp10.000.

Setiap orang boleh merekrut maksimal 5 orang dalam satu level. Karena total ada 5 upline yang akan mendapatkan bayaran, berarti total pembayaran adalah sebesar 5 level. Total pembayaran yang bisa Anda terima secara matematis adalah sebagai berikut:

Level 1 : 5 partisipan : bonus Rp 50.000,-
Level 2 : 25 partisipan : bonus Rp 250.000,-
Level 3 : 125 partisipan : bonus Rp 1.250.000,-
Level 4 : 625 partisipan : bonus Rp 6.250.000,-
Level 5 : 3125 partisipan : bonus Rp 31.250.000,-

Total bonus komulatif matematis adalah:
Rp 39.050.000,-

Ini tampaknya sebuah bisnis yang “masuk akal” dan yang pasti, sangat bonafit, bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, dengan modal Rp75.000, seseorang bisa mendapatkan manfaat maksimal sebesar 39 juta, artinya lebih dari 52.000%. Bisnis atau tabungan deposito jangka pendek mana yang bisa menandingi angka ini?

Sesungguhnya, perusahaan seperti ini beberapa di antaranya menyebut mereka sebagai PT. X, artinya di Indonesia mereka adalah badan hukum yang legal. Saya tidak tahu apakah PT. yang melekat pada nama perusahaan seperti itu adalah jujur atau tidak, yang jelas saya memang pernah melihat brosur iklan dari PT-PT seperti itu.

Pada mayoritas permainan piramida, biaya untuk bergabung biasanya masih terjangkau kebanyakan orang. Para partisipan sejak awal memang sudah menyadari bahwa mereka sedang melakukan usaha piramida. Mereka tidak takut rugi, karena bagi mereka kegiatan itu hanyalah sebuah taruhan judi biasa, kalaupun rugi, kerugiannya masih bisa diterima dan tidak memberatkan.

Semua permainan piramida pada akhirnya akan berkembang seperti skema Ponzi untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka harus mengeks-pansikan wilayah “bisnis” mereka ke wilayah geografis lain untuk melanjutkan sumber dana untuk membayar para partisipan sebelumnya.

Karena keterbatasan jumlah populasi dan reputasi piramida yang buruk, permainan atau “bisnis” piramida biasanya tidak bisa berkembang terlalu besar dan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya dalam beberapa bulan, masa ekspansi mereka sudah akan berakhir. Para partisipan yang bergabung belakangan akan kehilangan uang mereka. Jumlah mereka adalah mayoritas, cukup sering adalah lebih dari 90% karena sistem bagi hasil piramida memang mengharuskan demikian.


MLM / Network Marketing,
Orang Kaya Membangun “Jaringan”

Menurut salah satu “guru” finansial yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini: “Orang kaya membangun jaringan, orang miskin dan kelas menengah sibuk mencari pekerjaan.”

Salah satu sistem bisnis yang dipuji setinggi langit oleh “guru” tersebut adalah bisnis Multi Level Marketing (MLM) alias Network Marketing. Katanya, MLM adalah salah satu cara untuk membangun jaringan dan menjadi kaya sambil menolong orang lain. Anehnya, “guru” tersebut tidak bergabung dengan MLM manapun, yang dia lakukan adalah menulis buku untuk memuji MLM dan menjualnya kepada jutaan partisipan MLM. Pada saat dia memuji “jaringan” versi MLM, dia sendiri membangun jaringan versi yang lain, model jaringan bisnis yang lebih konvensional.

Sebenarnya “guru” tersebut tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa MLM akan membuat orang menjadi kaya. Masalahnya adalah kalimat yang barusan sebenarnya belum selesai, permasalahan penting yang harus Anda pikirkan adalah: Kaya bagi siapa? Kaya bagi berapa persen partisipan yang bergabung?

Perusahaan MLM menganggap para distributor mereka sebagai pelaku bisnis independen, orang-orang yang membeli hak distribusi produk bisnis mereka. Sederhananya, bos MLM sedang menjual bisnis kepada para distributor.

Kalau Anda pernah membeli saham, Anda tentunya tahu perusahaan yang hendak go public diharuskan untuk memberikan paparan publik yang akurat tentang bisnis dan data-data keuangan perusahaan. Walaupun kita tahu yang namanya “akurat” versi korporat tidak selalu demikian, namun setidaknya mereka sudah mencoba dan melaksanakan prosedur formal untuk menjual bisnis mereka.

Contoh lain, seorang pedagang yang hendak menjual toko dan bisnisnya, tentunya calon pembeli berhak meminta informasi tentang penjualan toko dan catatan keuangan toko tersebut.

Bila Anda menghadiri “business opportunity” versi MLM, ketika perusahaan itu mencoba menjual hak “bisnis” kepada Anda, data apa yang sebenarnya Anda dapatkan? Apakah mereka akan memberitahu kepada Anda: Siapa mendapatkan berapa? Berapa banyak orang mendapatkan berapa banyak uang? Berapa persen partisipan yang mendapatkan keuntungan? Berapa persen partisipan yang tidak mendapatkan keuntungan?

Beberapa tahun yang lalu, saat saya menjadi partisipan dari suatu program MLM, bila saya mencoba mengajak teman saya untuk ikut MLM dan mereka tidak tertarik, saya benar-benar berpikir demikian dalam hati saya:

 Mereka tidak punya visi.
 Mereka tidak punya impian.
 Mereka butuh motivasi.
 Mereka belum sadar.
 Mereka harus menghadiri seminar “business opportunity” kami.
 Mereka benar-benar kasihan.

Saya tidak menyangka, beberapa tahun setelah itu, saya sendiri akan menjadi anggota masyarakat yang anti-MLM.

Dalam seminar MLM, umumnya kita akan dijelaskan tentang siapa mereka (profil perusahaan), “business plan” mereka (cara bagi hasil/bonus), diikuti dengan berbagai testimonial dan kisah kesuksesan. Di seminar-seminar turunannya, mereka menyelenggarakan seminar motivasi yang intinya adalah berpikir positif, bertindak positif, dan program NLP lainnya.

Bila mengikuti seminar mereka secara rutin, partisipan akan menjadi sangat bersemangat dan sekaligus menjadi “buta.” Mereka tidak lagi bisa melihat gambaran yang akurat tentang apa yang sedang mereka lakukan. Para partisipan menjadi lupa untuk berpikir berapa sebenarnya harga wajar dan manfaat dari produk yang mereka jual, mereka tidak lagi bisa melihat bahwa walaupun pemilik dan sejumlah upline mereka menikmati hidup yang berlimpah, namun peluang matematis mayoritas peserta untuk mencapai level itu adalah mendekati nihil.

Mereka tidak ingat lagi walaupun mereka sedang menjual untuk perusahaan tersebut, semua biaya penjualan dan marketing adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dan mereka juga tidak lagi sadar bahwa pembagian hasil/bonus MLM adalah permasalahan sistem kompensasi matematika, bukan berdasarkan seberapa positif/termoti-vasinya mereka. Bila rancangan skema bagi hasil mengharuskan bahwa hanya 1% partisipan yang akan untung dan 99% lainnya rugi, angka ini tidak bisa berubah walaupun 100% partisipan aktif membeli buku, kaset, dan vcd motivasi secara teratur.

Tidak ada yang salah dengan seminar motivasi, sesungguhnya secara pribadi saya sangat salut dengan industri MLM. Mereka bersedia mendidik para partisipannya secara mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Masalahnya adalah: Apakah karena kita menggunakan ilmu pengembangan diri positif dalam bekerja, lantas semua yang kita kerjakan otomatis juga menjadi benar?

Bagaimana kalau kita mengajarkan seorang calo obat bius ilmu berpikir positif? Kita mengajari dia untuk bangun lebih pagi, lebih ramah mencari pelanggan, bekerja lebih giat, berpikir lebih optimis, dan akhirnya berhasil menjual lebih banyak. Apakah lantas pekerjaannya menjadi positif?

Tunggu dulu! Jangan salah paham. Saya tidak mengatakan kegiatan MLM adalah salah atau ilegal. Saya tidak berkata demikian. Sampai di sini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa seminar motivasi dan pikiran positif yang diberikan MLM tidak berhubungan dengan positif tidaknya model bisnis mereka. Itu adalah 2 hal yang berbeda. Seminar pikiran positif adalah seminar pikiran positif. MLM adalah MLM. Mereka tidak sama. Bukan karena MLM menyelenggarakan seminar pikiran positif, lantas mereka juga pasti positif.

Saran saya, hadiri saja seminar motivasi MLM, tetapi lebih baik gunakan pelajaran yang didapat untuk melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Kalau Anda adalah pedagang, gunakan pelajaran yang didapat untuk menjual lebih banyak. Kalau Anda seorang profesional, gunakan pelajaran yang didapat untuk bekerja lebih cerdas dan efektif. Kalau Anda seorang salesman, gunakan pelajaran yang didapat untuk menutup lebih banyak transaksi.

Angka-angka bicara lebih keras dibanding kata-kata. Berikut adalah data keuangan salah satu MLM top di Amerika yang disajikan dalam bentuk penerimaan per 10.000 distributor.

Komposisi bagi hasil seperti di atas adalah tidak berbeda jauh antara MLM yang satu dengan yang lainnya. Tentu saja, karena sistem bagi hasil antar MLM tidak persis sama, maka angka yang akan terlihat di MLM lain juga akan berbeda. Namun, tetap saja perbedaannya tidak terlalu besar.

Mayoritas partisipan MLM ditakdirkan secara matematis untuk rugi (setelah biaya pembelian dan marketing diperhitungkan). Pola bagi hasil terhadap 10.000 partisipan di atas akan tetap tampak dengan pola yang sama sekalipun mereka semua membaca buku pikiran positif yang sama, mendengarkan kaset pikiran positif yang sama, dan menonton vcd presentasi pikiran positif yang sama. Keberhasilan di sistem bisnis mereka juga sangat tergantung pada posisi dan timing seorang partisipan di bagan perusahaan, bukan hanya permasalahan motivasi dan pikiran positif.

Apa sebenarnya MLM???

Menurut pendapat pribadi saya, perbedaan antara MLM dengan permainan piramida adalah MLM menjual produk tertentu, sedangkan permainan piramida hanya melibatkan perputaran uang para partisipan tanpa produk.

Skema mereka secara garis besar identik, tujuan dan hasil akhir juga demikian. MLM bisa dikategorikan sebagai usaha yang legal adalah berkat adanya produk sah yang mereka jual. Saya akui sejumlah perusahaan MLM memang menjual produk dengan kualitas yang sangat baik, namun saya tetap percaya mayoritas partisipan MLM manapun tidak bergabung dengan mereka karena manfaat produk yang mereka jual, melainkan karena mereka mempercayai janji-janji pendapatan amat besar yang mereka dengar di pertemuan “business opportunity” MLM tersebut.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa MLM bersalah atau ilegal, sesungguhnya saya tidak peduli dengan sistem bagi hasil ekstrim yang terjadi pada sistem bisnis mereka. Sama seperti permainan piramida, di mana sebagaian kecil partisipan mendapatkan keuntungan lewat kerugian masif yang dialami mayoritas peserta, bagi saya itu hanyalah masalah kesepakatan. Seandainya seorang partisipan mengetahui secara jelas apa yang sedang dia lakukan, mengetahui secara jelas peluang menang-kalahnya sejak awal dan tetap sepakat untuk bergabung, ya silakan saja, itu kan hak masing-masing.

Perbedaan ekstrim pendapatan antar orang dalam suatu organisasi di mata saya adalah realita hidup, sekadar memprotes tidaklah ada artinya. Negara kapitalis manapun mengalami masalah ini. Kalau MLM dinyatakan bersalah karena masalah ini, tentunya banyak jenis usaha lainnya yang akan segera menyusul.

Yang penting di mata saya mengenai industri MLM adalah transparansi dan kejujuran mereka. Bila mereka bersedia memberikan data yang akurat kepada distributor dan calon distributor mereka sejak awal tentang peluang menang-kalah di sistem bisnis mereka, bila mereka bersedia memaparkan secara transparan laporan pembayaran riil mereka kepada semua level distributornya, saya tidak akan mengkritik mereka lagi.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, salah satu perusahaan MLM paling terkenal diperintahkan oleh FTC (Federal Trade Commission) untuk menuliskan label berikut di semua produk mereka: “54% dari distributor kami tidak men-dapatkan keuntungan dan sisanya mendapatkan rata-rata $65 per bulan.” Sayangnya, perusahaan ini tidak diharuskan untuk melakukan hal yang sama di perusahaan cabangnya di negara lain, termasuk Indonesia.

Perbedaan MLM Dengan Perusahaan Direct-Selling

Sering kali kita mendengar dari pelaku MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct-selling, namun hal itu lebih sering daripada tidak, adalah tidak benar. Perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen non-distributor. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan retail. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan meretailkan produk ke konsumen non-distributor, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus.

Senin, 22 Desember 2008

Manusia Zombie

10 tahun lalu (1998), saat saya masih kuliah di P. Jawa, untuk pertama kalinya seumur hidup saya melihat ada sekelompok manusia di negara ini bisa berkumpul bersama-sama, dalam jumlah yang cukup besar, untuk memperjuangkan hal yang sama.

Tetapi saya masih ragu-ragu, adakah alasan lainnya yang bisa mempersatukan negara ini, dalam jumlah yang lebih masif lagi? Waktu itu yang berdemo hanyalah mahasiswa & sejumlah kecil dosen senior. Komponen negara lainnya seperti kelas pekerja, baik di retail maupun di pabrik tidak muncul. Para pengusaha, baik besar maupun kecil, juga tidak muncul. Orang-orang tua atau yang lebih senior di masyarakat, juga tidak muncul.

Rakyat negara ini, sejauh yang bisa saya lihat dan rasakan, cuek bebek satu sama lain. Dari luar seolah-olah kita bersikap cukup ramah pada orang-orang di samping kita, tetapi saat situasi sedang krisis, baru ketahuan hubungan antar golongan sebenarnya sangat renggang.

Di negara ini, saya merasa bahwa sama sekali tidak ada cara bagi rakyat biasa untuk menjangkau wakil rakyat di DPR / MPR. Apapun yang dilakukan para wakil rakyat, seburuk apapun keputusan mereka, sepertinya tidak ada cara sama sekali bagi rakyat biasa untuk berkomunikasi dengan mereka, apalagi mempengaruhi keputusan mereka. Bagaimana saya tahu? Karena saya sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjangkau DPRD kota saya, apalagi yang duduk manis di Jakarta.

Negara ini melakukan Pemilu setiap 5 tahun, tetapi kalau kita menjumlahkan total waktu untuk pemilihan DPR, MPR, Presiden, dan DPRD (propinsi), maka sekitar 2 - 2,5 tahun (40 - 50%) dari 5 tahun total waktu kekuasaan para "wakil rakyat" habis untuk kampanye dan promosi. Biaya yang dihabiskan juga luar biasa besar, puluhan trilyun rupiah setiap periode!

Kalau pada akhirnya yang kita dapatkan hanyalah sejumlah "wakil rakyat" yang tidak bisa kita akses, yang tidak bisa kita pengaruhi dalam membuat kebijakan publik, untuk apa sebenarnya kita memilih??

Rakyat negara ini, di mata saya, tidak cukup memiliki informasi sebagai basis untuk berpikir, tidak memiliki emosi, dan tidak bisa bersatu dalam jumlah masif. Dan masyarakat semacam ini pada akhirnya akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima... Perbudakan dan hilangnya hak sipil.

Gambar-gambar berikut adalah contoh demonstrasi yang melibatkan berbagai komponen rakyat di negara-negara lainnya. Saya tidak mengatakan ini adalah hal yang baik, yang ingin saya katakan hanyalah bahwa di beberapa negara yang lain, rakyat mereka sanggup berpikir, bersatu, dan menyampaikan emosi mereka saat "wakil rakyat" yang mereka pilih tidak membela kepentingan mereka.

Korea


Yunani


Francis


Thailand

Taiwan

Saya penasaran, akankah tiba suatu hari rakyat Indonesia juga bisa bersatu dan berkata dengan keras kepada para "wakil rakyat" bahwa pihak yang harusnya mereka bela adalah rakyat Indonesia, bukan kepentingan pihak lainnya (terutama bankir internasional).

Sampai saat ini, berdasarkan apa yang bisa saya lihat, pekerjaan terpenting dari pemerintahan manapun di seluruh dunia adalah meningkatkan hutang publik. Itu pekerjaan #1 dari Presiden dan pemerintahannya. Segala pekerjaan yang lain hanyalah kamuflase. Dan negara-negara yang bisa menghindari kebijakan tersebut, berdiri sebagai pemenang di antara yang tersisa.

Saya ambil sebuah contoh, negara tetangga kita, Singapura.

Walaupun saya sama sekali tidak ragu negara ini adalah antek Israel, tetapi satu hal yang benar-benar harus saya akui tentang mereka adalah pemerintahan Singapura memperlakukan rakyat mereka dengan sangat baik. Baik bukan dalam bentuk kebebasan berpolitik, tetapi baik dalam hal kepedulian mereka akan kesejahteraan publik.

Singapura bukanlah negara demokrasi, mereka adalah pemerintahan totaliter. Keluarga Lee Kuan Yew memegang kendali absolut di negara itu. But so what? Siapa juga yang bilang sistem demokrasi lebih baik dari sistem totaliter? Di negara itu, siapapun oposisi yang secara serius ingin mengancam kekuasaan partai PAP (People Action Party) Lee, dalam waktu dekat pasti akan jatuh bankrut. Rakyat Singapura sendiri menyadarinya, karena itulah mereka jarang memprotes. Selama pemerintahan mereka bisa terus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan riil per kapita mereka bisa terus meningkat setiap tahun, rakyat mereka benar-benar tidak perlu peduli tentang hal yang lain.

Indonesia tidak diberkati dengan "keberuntungan" seperti ini. Anyway, jangan salahkan nasib. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah reedukasi masyarakat. Saya 100% yakin setiap masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Masyarakat bodoh akan mendapatkan apa yang pantas diterima orang bodoh, demikian juga sebaliknya. Hasil reedukasi memang tidak akan terlihat langsung, tetapi dengan berlalunya waktu, perbaikan kualitas manusia di negara ini akan memperbaiki "nasib" rakyat negara ini. Saya percaya demikian.

Manusia yang bisa berpikir memiliki emosi, sebaliknya, manusia yang tidak bisa lagi berpikir, mereka adalah manusia zombie. Hidup, tapi mati...

Jangan sampai negara ini menjadi negara zombie... Negara yang rakyatnya hanya bisa "terima nasib," tidak bisa berpikir dan bereaksi atas kejadian apapun, & tidak bisa menyampaikan perasaan apapun ketika sekelompok "wakil rakyat" menghianati kepentingan mereka.

& Ingat hal ini, jangan mau dianggap remeh sekelompok bajingan di luar sana (Yahudi Talmudik) yang menganggap kita "goyim". Anda tahu apa itu goyim? Sederhananya, artinya ternak (binatang)! Semakin sebuah negara melarat, semakin rakyat sebuah negara putus asa, semakin lebarlah senyuman para Yahudi Talmudik itu. Jangan biarkan mereka menertawai kita! Jangan biarkan Rothschild, Rockefeller cs mengendalikan kehidupan kita!

Mulailah bercerita kawan. Ini negara Anda juga!

Jumat, 19 Desember 2008

Serba - Serbi

Beberapa tahun yang lalu, saya mengajak teman saya untuk join menerbitkan buku. Untuk penghasilan tambahan saja. Topik yang kami bahas biasanya adalah ekonomi, karena saat ngobrol / kongko-kongko di kedai, topik yang paling sering kami bicarakan memang adalah uang.

Sudah 4 tahun lebih sejak waktu itu, kalau dipikir-pikir, sepertinya penerbitan buku lebih mirip yayasan sosial daripada usaha orientasi profit. Untungnya kecil.... tapi thanks God usaha ini tidak repot, tak perlu terlalu diurus.

Anyway, omong-omong ada sebuah blog yang menurut saya sangat menarik... Ada linknya di sisi kanan blog ini: Blog Hypertiger. Si hypertiger menjelaskan kepada orang-orang bahwa inflasi tidak mungkin berlangsung selamanya, deflasi pasti akan mengikuti inflasi. Sekalipun terjadi hiperinflasi, nantinya pun akan diikuti oleh hiperdeflasi. Sejak sistem bank sentral yang didirikan pada abad ke-15 di Venetia sampai sekarang, siklus ekonomi (& sosial) selalu mengulangi pola yang sama.

Singkatnya, apa yang hendak diceritakan oleh hypertiger kepada kita adalah siklus ekonomi selalu berupa 3 siklus yang berulang-ulang:
1. Inflasi dan rusaknya tabungan.
2. Deflasi dan rusaknya modal.
3. Kebangkrutan ekonomi dan konsolidasi kekuasaan.

Mengapa harus ada inflasi? Karena ada bunga saat uang diciptakan sebagai kredit (hutang). Bila tidak ada inflasi (pertambahan jumlah uang atau kredit), bagaimana mungkin bunga pinjaman lama bisa dibayarkan? Anda paham?

Misalnya:
Sebuah masyarakat yang baru meninggalkan sistem barter, dan sekarang mulai memiliki bank.

* Bank meminjamkan kepada masyarakat Rp X, berlaku 1 tahun, plus bunga 5%.
* Tahun depan masyarakat harus mengembalikan Rp X + 5% (Ini tidak mungkin, karena 5% nya bahkan tidak eksis di masyarakat).
* Bank meminjamkan lagi (Rp X + 5%) kepada masyarakat, berlaku 1 tahun, plus bunga 5%.
* Tahun depan masyarakat harus mengembalikan (Rp X + 5 %) + 5% lagi (Ini tidak mungkin lagi, karena 5% yang terakhir juga tidak eksis di masyarakat).
* dst, dst, dst..

Tentu saja, dalam kehidupan riil, sistem ini tidak sesederhana itu. Ada berbagai jenis hutang, yang jatuh tempo dan tingkat bunganya berbeda-beda, dan juga bank pemberi kredit yang berbeda-beda. Tapi gambaran besarnya tidak berubah, masyarakat harus terus mencari usaha baru, kesempatan baru, & pengembangan baru agar bisa terus mengajukan uang (hutang) baru kepada bank agar suplai uang cukup untuk digunakan mereka setelah bunga dan pokok pinjaman lama dikembalikan kepada bank.

Sistem ini harus terus-menerus menginflasikan diri... sampai mereka mencapai limit atas mereka, kemampuan berhutang maksimal mereka... Inflate or die my dear...

dan setelah itu.... Bufff.... Balon kredit mereka pecah. Suplai uang berkurang dan masyarakat harus hidup dengan konsekuensi kurangnya suplai uang bagi mereka (kemiskinan, kelaparan, kriminalitas yang melonjat, tingkat kesehatan / sanitasi yang berkurang, dll).

Dan akhirnya adalah konsolidasi kekuasaan. Krisis selalu mengurangi kompetisi untuk setiap jenis industri. Akan ada semakin sedikit orang yang eksis di setiap jenis industri setelah deflasi berakhir. Kue yang dulu dibagi 100 orang nantinya akan dibagi oleh 50 orang. Di siklus berikut, dibagi oleh 20 orang. Di siklus berikut, dibagi oleh 10 orang, dst... Survival of the fittest...

Tapi hidup & kompetisi tidak berlansung adil kawan... Anda lihat sendiri, siang bolong Wall Street terang-terangan memaksakan konsolidasi kekuasaan. Perusahaan yang harus tutup malah diselamatkan, dan bahkan uang pembayar pajak diberikan secara gratis kepada mereka supaya mereka bisa membeli perusahaan saingan mereka. Ini sudah sinting!! Mengapa tidak ada orang yang menghentikan mereka? Sudah sebodoh apa masyarakat Amerika dan negara-negara lainnya sekarang?

Apapun yang bisa dilakukan di Amerika, Inggris, atau negara lainnya saya percaya juga bisa dilakukan di Indonesia. Saya yakin UU JPSK Indonesia akan diluluskan DPR dalam minggu-minggu ke depan. Penduduk di negara ini sama bodohnya dengan rakyat negara lainnya. Mereka belajar berdasarkan kurikulum sekolah yang sama, dan menonton televisi dengan acara pembodohan masal yang juga kurang lebih sama.

Sorry to say this, but it's quite hopeless.
Masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima, tidak peduli baik atau buruk. Kita semua ikut bertanggungjawab atas kebodohan bangsa dan konsekuensinya.

Anda masih menyimpan harapan akan perubahan? Kalau masih, Anda harus mengedukasi orang-orang di sekitar Anda secepatnya. Saya tidak benar-benar percaya ini akan berhasil, tapi ini satu-satunya alternatif yang saya tahu.

Do it or not do it, it's up to you...

Rabu, 17 Desember 2008

Saham - Emas - Minyak

Melihat gambar kadang-kadang bisa memberikan lebih banyak gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan dibanding kata-kata.

Moga-moga 2 chart ini berguna bagi Anda..



(2 gambar di atas belum diupdate)
* Dow Jones hari ini 8900, emas 850, jadi rationya 10,4x
* Emas hari ini 850, minyak 44, sekarang rationya 19,3x

Kalau saya harus berspekulasi, saya akan bertaruh ratio Dow/Gold kembali ke 1:1 daripada naik langsung kembali.

Rata-rata ratio Gold/Oil adalah sekitar 15x, jadi saat ini emas tidak murah-murah banget dibanding minyak... Anyway, ratio gold/oil pernah menembus 30x, dan momentum orang menuntut delivery fisik emas dan perak di bursa berjangka Comex mulai meningkat, jadi bisa-bisa saja kalau ratio Gold/Oil naik lebih tinggi lagi sebelum turun kembali.


Note:
Komentar di atas hanyalah untuk informasi umum kepada publik, dan bukan anjuran untuk melakukan spekulasi di bursa saham dan bursa berjangka!

Selasa, 16 Desember 2008

Pentingnya Real Estate

Hari ini, kita bicara sebentar tentang real estate, mengapa produk ini sedemikian penting bagi ekonomi.

Pentingnya real estate adalah karena 2 hal. Pertama, kemampuannya untuk mempengaruhi permintaan atas hampir semua produksi industri lainnya. Kedua, dalam hal suplai uang di masyarakat, bagaimana kredit KPR bisa mempengaruhi suplai uang di masyarakat.

Poin #1
Coba bayangkan, apa yang terjadi ketika seseorang membeli rumah?
Rumah tidak muncul karena sulap. Rumah ada setelah industri-industri suplair bahan bangunan memproduksi produk mereka. Semen, granit, cat, genteng, baja, kayu, kabel, pipa, aluminium, dll. Setelah rumah selesai dibangun, orang yang menempati rumah tersebut memerlukan lagi furnitur, tv, radio, kipas angin, AC, alat dapur, perkakas rumah tangga, alat elektronik, dll.

Anda lihat, karena sebuah rumah, sedemikian banyak industri lain tertolong. Tanpa orang-orang membeli rumah, berapa banyak karyawan lain di industri lain yang akan kehilangan pekerjaan?
Sebaliknya, karena booming properti, tak terhitung jumlah orang yang mendapatkan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung. Coba Anda perhatikan, bukankah hampir semua usaha ramai ketika penjualan properti lancar? Ketika sebuah daerah baru dibuka pembangunannya, bukankah orang-orang yang berjualan di sekitar sana bisa mendapatkan nafkah lebih baik dibanding daerah yang penjualan propertinya stagnan? Jadi kalau Anda sedang ingin membuka toko dan sekarang bingung mau buka di mana, tips dari saya, perhatikan bisnis properti di wilayah yang mau Anda masuki. Semakin bagus penjualan properti di wilayah itu, semakin mungkin bisnis akan ramai di sana.

Poin #2
Suplai uang. Kalau Anda mengikuti blog ini dari awal. Anda sudah tahu kalau uang muncul di masyarakat hanya dalam bentuk kredit (hutang). Karena uang muncul dalam bentuk hutang, dan yang namanya hutang harus dibayar kembali, dan juga karena bunga bank (riba), yang tidak diciptakan oleh bank saat pemberian kredit, maka sebagai sebuah komunitas, orang-orang yang mendapatkan uang dari bank harus bergantian mengajukan kredit baru untuk menggantikan pembayaran bunga dan sebagian hutang pokok pinjaman lama setiap tahun.

KPR (termasuk juga kredit ruko dan apartemen), seperti yang Anda ketahui, bukanlah pinjaman jangka pendek. Di Indonesia, orang mengajukan KPR untuk pembayaran selama 7 - 15 tahun. Di negara-negara maju, kredit KPR bisa selama 30 tahun.

Jadi, uang yang dipinjam debitur KPR ini bisa eksis di masyarakat untuk jangka waktu 7 - 30 tahun di masyarakat tersebut. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, pinjaman tersebut perlahan-lahan dikembalikan kepada perbankan. Tidak ada satu produk konsumsi apapun yang bisa menandingi KPR dalam hal volume uang (kredit) yang bisa diciptakan, dan juga uang yang bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama di masyarakat.

Jadi ketahuilah, salah satu hal yang paling berbahaya bagi dalam konteks suplai uang di masyarakat adalah macetnya penjualan rumah dan banyaknya orang yang membayar lunas hutang KPR mereka. Hehe.. Jangan kaget, tetapi memang ini kenyataannya, semakin banyak orang melunasi hutang mereka (KPR), semakin sedikit suplai uang di masyarakat. Dan ingat ini... Tidak ada pengurangan suplai uang di masyarakat yang tidak diikuti dengan resesi / depresi. Tidak ada.

Ketika orang default / gagal bayar, bank terpaksa mencoret pinjaman debitur di kolom aset mereka, tetapi titipan uang nasabah tidak bisa dikurangi, maka yang terjadi adalah modalnya yang berkurang. Kalau modal mereka berkurang, maka pinjaman yang bisa mereka berikan sesuai dengan fractional reserve system juga berkurang. Jadi default juga akan menyebabkan pengurangan suplai uang di masyarakat, tetapi efeknya berbeda dengan orang yang melunasi hutang KPR mereka.

**************************

Saat ini, kita melihat collapsenya bisnis properti di negara-negara maju. Kita fokus saja ke Amerika, karena negara inilah yang paling penting kalau Anda mau berspekulasi apa yang akan terjadi di bulan-bulan kemudian di seluruh dunia. Ingat, dolar Amerika adalah reserve currency seluruh negara di dunia, hampir semua transaksi internasional menggunakan US dolar. Seberapa banyak bank sentral sebuah negara bisa menciptakan kredit di negaranya juga dipengaruhi oleh seberapa banyak cadangan US dolar mereka.

Siapa yang bisa menciptakan US dolar? Jawabannya adalah HANYA konsumen dan pemerintah Amerika. Siapapun selain mereka berdua tidak bisa menciptakan US dolar, sebab hanya merekalah yang bisa mengajukan kredit kepada perbankan Amerika untuk menciptakan dolar (kredit). Kalau Anda melihat orang lain di berbagai belahan dunia bertransaksi dolar, itu adalah dolar-dolar yang sudah eksis sebelumnya, bukan dolar fresh from US banking oven..

Konsumen Amerika sudah di ambang batas untuk berhutang lebih jauh, pemerintah Amerika juga sama buruknya. Mereka berdua sekarang tidak sanggup membayar hutang pokok masing-masing, bulan demi bulan sekarang hanya berupaya membayar bunga pinjaman. Tetapi US dolar masih adalah reserve currency dunia. Itu masalahnya. Pemerintah Amerika bisa saja mengambil jalan pintas untuk pelunasan hutang-hutang mereka, caranya adalah nyalakan mesin cetak di Federal Reserve Bank.

Seluruh dunia sekarang melihat apa yang akan mereka lakukan. Kita sedang menuju kalau bukan hiperdeflasi karena suplai uang (total cash & kredit) di Amerika yang berkurang drastis dengan sangat cepat, berarti hiperinflasi karena pemerintah Amerika memutuskan untuk mengintervensi keadaan dengan menyelesaikan masalah dengan cara mencetak uang baru.

Siapapun yang berpikir ini hanyalah resesi kecil, ekonomi akan sedikit buruk, tetapi tidak buruk-buruk amat... Anda sebaiknya mengedukasi diri Anda secepatnya. Terakhir kali dunia memasuki situasi seperti ini (1930-an), tahun-tahun berikutnya manusia memasuki perang dunia II.

Jutaan orang akan kembali musnah di tahun-tahun berikut, kalau bukan karena perang, berarti karena wabah lainnya.

Believe or not, up to you.

Jumat, 12 Desember 2008

Demo Lagi

Dalam cerita "Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%", Anda melihat bahwa karena suplai uang di masyarakat muncul dalam bentuk kredit (pinjaman kepada bankir), dan bunga untuk melunasi pinjaman tersebut bahkan tidak eksis, maka tahun demi tahun ada masyarakat yang gagal bayar atas hutangnya, atau jatuh bangkrut.

Uang rasanya selalu kurang, pengusaha senantiasa berharap untuk menekan biaya perusahaannya, dan pekerja senantiasa merasa mereka dibayar terlalu sedikit.

Manusia akan selalu membela kepentingan pribadi dan kelompoknya, ini fakta, sifat alami dari kita. Pengusaha membuat berbagai asosiasi untuk menampung kepentingan mereka. Buruh pun demikian, perserikatan-perserikatan terus didirikan, seolah-olah nasib mereka akan berubah setelahnya.

Manusia itu egois, Anda harus tahu itu. Anda tidak bisa membayangkan seberapa jahat kita bisa menjadi kalau hidup kita sudah terdesak. Itulah sebabnya manusia, yang juga diberkati dengan akal untuk berpikir, harus menciptakan sistem, aturan, dan hukum untuk melayani kepentingan bersama mereka, sesempurna yang sanggup mereka pikirkan.

Mengenakan bunga atas uang: uangnya sudah diedarkan, tetapi bunganya tidak eksis, sebenarnya mudah untuk dipahami, sistem ini tidak adil, dan pasti akan menciptakan kemiskinan dalam jangka panjang. Ribuan tahun yang lalu, masyarakat seperti yang kita baca di Alkitab dan Al Qur'an pun sudah merasakannya. Itulah sebabnya mereka melarang riba.

Tetapi manusia modern, yang sekolah dan kuliah belasan tahun, yang mempelajari ekonomi "modern", yang bahkan rajin solat dan ke gereja / tempat sembahyang lainnya, tidak menyadarinya. Televisi telah mencuci bersih otak mereka. Solusi mereka atas persoalan ekonomi selalu berdasarkan aturan yang sudah berlaku, harus dalam konteks uang tetap sebagai hutang, dan bunga harus tetap diberlakukan. Anak-anak muda ini tidak tahu bahwa ada alternatif.. Uang tidak harus muncul dalam bentuk hutang, dan bunga tidak harus ada.

Colonial script di Amerika abad 18, Greenbacks Amerika abad 19, dan Labor Tresury Certificate Jerman abad 20 adalah contoh untuk mereka pelajari. Tapi sayang, sekolah dan universitas tidak akan membahas ini. Kewajiban kita di luar sistem edukasi formallah untuk melakukannya. Ketiga jenis uang ini berhasil melayani publik, dan gagal setelah dipalsukan secara besar-besaran oleh bankir internasional yang tidak menyukainya. Dan tentu saja, para goldbug, suporter emas sebagai uang, mereka juga mengatakan menjadikan emas / perak sebagai uang bisa menjadi solusi. Anyway, bukan saatnya berdebat dengan para goldbug, prioritas utama kita adalah mengedukasi masyarakat. Pendukung greenbacks dan emas harus bersatu dan menyingkirkan sistem perbankan swasta yang memungut riba kepada kita terlebih dahulu.

Berita yang saya baca hari ini di koran lokal saya, kemarin dalam demonstrasi buruh di depan gedung Walikota, terjadi perkelahian antara buruh dan polisi. 4 buruh kepalanya bocor, dan 7 polisi dan satgas luka memar karena lemparan batu dan botol mineral... Ribuan buruh berdemonstrasi di sana karena mereka mau meminta kenaikan UMK tahun 2009.

Pemandangan ini akan muncul berulang-ulang, intensitasnya juga akan terus meningkat. Krisis bahkan belum mulai, yang Anda lihat ini baru pemanasan. Tunggulah sampai pabrik benar-benar mem-PHK buruh dalam jumlah jutaan tahun 2009-2010, tunggulah sampai berbagai usaha skala kecil menengah mulai mengurangi karyawan mereka, tunggulah rak supermarket kosong karena tidak ada yang mengimpor barang karena L/C perbankan tidak lagi diakui oleh penjual maupun perusahaan pengangkutan. You have seen nothing yet!

Nikmatilah hidupmu sekarang, dan bacalah berita-berita semacam ini sebagai hiburan, seolah-olah ini ditulis oleh orang kurang kerjaan yang paranoid. Nikmatilah, selagi Anda masih bisa. Anda mengira waktu masih panjang, biarlah masyarakat ini tetap bodoh, biarlah perbankan swasta terus menghisap lebih banyak darah kita lebih lama lagi. Anda akan kaget dengan apa yang akan Anda lihat nantinya.

Time is running out.

Kamis, 11 Desember 2008

Mulailah Bercerita

Minggu lalu, dalam rapat tahunan perusahaan tempat saya bekerja, salah satu komisaris kami berkata, "Kalian harus lebih hemat lagi. Anda tahu, sekarang kalau saya naik pesawat, saya hanya bisa naik kelas ekonomi, saya tidak terbiasa dengan itu!"

"Dasar keparat...." Dalam hati saya benar-benar muak dengan orang itu. Ada seribuan karyawan outsourcing di pabrik tempat saya bekerja, mereka bekerja sepanjang bulan hanya untuk mendapatkan ongkos hidup yang pas-pasan. UMR kota saya adalah 960 ribu. Sebelumnya mereka bisa saja dapat 1,5 - 2 juta karena ada OT (over time). Tetapi sekarang lupakan itu, nyaris tidak ada order dari customer. Dengan biaya hidup minimum sekitar 1,5 juta di kota saya, sebenarnya kebanyakan pegawai kami hidup di bawah garis hidup layak.

Manager kami yang lain, mengatakan ada kemungkinan "profit tambahan" di anggaran 2009 karena asumsi dolar terhadap rupiah adalah Rp 10.500, dan mereka cukup yakin angka rata-rata kurs riil dolar akan lebih tinggi dari itu. Jadi selisihnya akan menjadi keuntungan perusahaan. Huh.. Manusia-manusia yang bekerja kepada mereka ternyata sekarang menjadi objek keuntungan.

Anyway, saya tidak bisa membenci lebih jauh. Bagaimanapun, inilah tempat saya mancari nafkah. Saya pun tidak ingin pabrik kami ada masalah. Setahun yang lalu, saya bincang-bincang dengan seorang manager yang lain, saya mengatakan kepadanya bahwa hutang perusahaan kita sebaiknya dikurangi. Balasan darinya adalah saya terlalu muda untuk memahami ekonomi, hutang adalah untuk gear up, leverage! Kalau tidak gear up, tidak bisa maju!

Sekarang perusahaan kami mulai terpojok, hutang kami ada 1/4 trilyun rupiah.. Order customer menukik tajam, tetapi bunga bank tetap jalan terus, dan biaya overhead semacam listrik dan air justru meningkat (harga listrik baru dinaikkan sama PLN bulan lalu dan tarif air akan naik Januari mendatang). Masa depan mulai tampak mengerikan..

Saya tidak benar-benar membenci manajemen perusahaan saya. Saya tahu mereka sama hanya dengan manusia-manusia lainnya, telah menjadi korban bunga bank, dan budak dari fractional reserve system.

Inflasi adalah hal yang buruk, saya tahu itu. Tetapi deflasi (kalau terjadi), akan menjadi hal yang jauh lebih buruk. Ketika masyarakat masih sanggup menambah hutang, kredit-kredit baru bisa terus diajukan kepada bank komersial. Setidak-tidaknya suplai uang relatif cukup untuk digunakan masyarakat untuk perdagangan, membayar bunga pinjaman lama, atau melunasi sebagian hutang-hutang lama. Tetapi di siklus deflasi, suplai uang berkurang, tapi (hutang + bunga) yang harus dibayar kembali tidak berkurang. Ini akan memperparah dan mempercepat tingkat kebangkrutan.

Terus terang, kalau keadaan terus begini, nasib perusahaan tempat saya bekerja maupun puluhan ribu pabrik lainnya di dunia tidak terlalu sulit untuk diprediksi. Bank, yang memberikan kredit kepada pabrik-pabrik ini, neraca mereka pun gampang untuk ditebak. Apakah mereka masih bisa mempertahankan ratio kecukupan modal mereka 1 atau 2 tahun lagi? Entahlah... Saya tidak peduli, uang saya tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak itu, sejumlah besar juga sudah saya tarik dari bank. Untuk apa juga saya titipkan uang saya kepada mereka?

Kawan.. Tidak akan ada perubahan apapun mengenai sistem keuangan negara kita dan negara-negara lainnya kalau publik tetap sebodoh hari ini. Sekolah dan universitas tidak akan mengajarkan mekanika penciptaan uang kepada murid-muridnya. Kurikulum ditulis oleh profesor-profesor yang dibayar oleh sang pemenang (bankir internasional).

Kita butuh dukungan setidaknya 10 atau 20% penduduk untuk melancarkan perubahan. Penduduk Indonesia ada 230 juta, artinya kita butuh setidaknya 23 - 46 juta orang untuk membaca cerita-cerita tentang perbankan, fractional reserve system, dan sejarah bankir internasional terlebih dahulu. Huh.. Bagaimana caranya??

Media tidak akan mengupas topik ini. Topik apapun lainnya boleh dibahas, siapapun boleh jadi presiden, tetapi satu topik tidak boleh.. Tidak boleh ada yang menyinggung riba perbankan, tidak boleh ada yang membahas kriminalitas bankir dan fractional reserved system di televisi dan koran nasional. Sinetron-sinetron pembodohan masal akan terus muncul di primetime tayangan televisi.. Publik akan terus dibodoh-bodohi sampai tua. Tak heran kalau beberapa dekade yang lalu seorang diktator pernah berkata "Berkat terbesar bagi pemerintah adalah kalau memiliki sekumpulan rakyat yang tidak sanggup berpikir..."

Sebuah masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima, tidak peduli baik atau buruk. Kita boleh muak terhadap semua politisi, kita boleh muak terhadap semua orang, tetapi kita tidak punya alternatif.. Politisilah yang akan menjalankan negara, itulah konsekuensi sistem demokrasi. Kita butuh mereka untuk menjalankan negara. Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil, hidup mandiri dan tidak tergantung kepada siapapun untuk hidup, bila tidak Anda harus mengambil tindakan sekarang.

Saya bermimpi semua orang Indonesia akan membaca artikel di blog ini,
- Sejarah dinasti Rothschild
- Sejarah pedagang uang
- Saya menginginkan seluruh dunia plus 5%
- & Protocols of Zion

Bacalah, dan kalau Anda menganggap artikel itu berguna, sebarkanlah artikel itu. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Pada akhirnya, kita, sebagai sebuah masyarakat, akan mendapatkan apa yang pantas kita terima. Tidak peduli baik atau buruk.

Mulailah bercerita kawan.. Fractional Reserved Banking is a crime.

Silence is acceptance!

Selasa, 09 Desember 2008

Di Ambang Kehancuran Terbesar Ekonomi

Cuplikan wawancara DBS dengan Muhammad Rafeeq di www.iamthewitness.com.

Muhammad Rafeeq adalah mantan regulator di perbankan Inggris, ikut membantu Dr. Mahathir Mohamad (Malaysia) menghadapi para spekulan mata uang pada krisis moneter 1997-98. Saat ini tinggal di Inggris.


Anda sudah tahu mengenai fractional reserve system.. Bank tidak benar-benar menggunakan semua uangnya ketika mereka menciptakan aset di kolom neraca mereka. Hanya sebagian uang mereka yang diperlukan ketika mereka meminjamkan uang ke si peminjam.

Kalau Anda mendengar reserve requirement adalah sebesar 10%, maka untuk setiap $100 pinjaman yang mereka berikan, mereka hanya mengeluarkan $10 saja.

Model ini bisa disebut dengan nominal based fractional reserved system.

Paska penerapan new capital accord (Basel Accord 2) tahun lalu, kita melihat dunia perbankan dan finansial bergejolak tak henti-hentinya. Dan semua orang dengan akal waras dan insider sudah keluar sama sekali dari pasar finansial.

Apa sebenarnya yang diterapkan di capital accord baru ini? Sederhananya, perbankan tidak lagi menganut nominal based reserved, mulai tahun lalu perbankan harus menerapkan risk based fractional reserved system.

Sekarang, aset perbankan dibagi menjadi 3 level:
Level 1 antara lain surat hutang pemerintahan negara maju, seperti USA, Inggris, Euro, & Emas.
Level 2 antara lain surat hutang / obligasi korporat kualitas tinggi (rating AAA)
Level 3 antara lain surat hutang dengan rating lebih rendah (B atau C), sekuritisasi aset (KPR, otomotif, dll), kontrak Swap dll.

Modal yang diperlukan untuk membiayai ketiga level aset ini berbeda-beda:
Level 1 sebagai aset yang paling aman nyaris tidak perlu modal, misalnya hanya perlu mencadangkan $0.5 untuk setiap $100 aset yang bank miliki.
Level 2 sedikit lebih banyak, misalnya cadangan modal sampai $5 untuk setiap $100 aset yang bank miliki.
Level 3 adalah produk berisiko tinggi, cadangan modal yang diperlukan berbeda-beda tergantung produknya, bisa $10, $15, $20, $30, $50, bahkan sampai setinggi $100 untuk setiap $100 aset.

Seperti yang sudah Anda ketahui, sekuritisasi produk CDO (collaterized Debt Obligation) subprime sebelumnya adalah produk AAA. Tetapi dengan banyaknya KPR gagal bayar, banyak produk CDO yang akhirnya menjadi kertas sampah. Status produk-produk inipun terus menurun dan modal yang harus dicadangkan perbankan pun terus meningkat. Bank-bank di negara maju, yang sebelumnya hanya mencadangkan beberapa dolar untuk produk ini, terpaksa meningkatkan modal mereka untuk produk-produk sampah ini. Tetapi..... bank tidak ada uang, dan mereka pun terkena margin call.

Bilions-billions dan trillions dolar injeksi bank sentral di seluruh negara maju yang Anda baca di koran dari tahun lalu sampai sekarang adalah untuk membantu bank memenuhi ratio kecukupan modal mereka supaya mereka bisa memenuhi ketentuan capital accord yang baru. Kalau mereka tidak bisa memenuhi ketentuan baru ini, mereka harus dinyatakan pailit... bankrut...

Sekarang Anda tahu mengapa pemerintah negara maju mati-matian menutup mata mereka terhadap perusahaan rating yang terus-menerus memberikan rating palsu, penilaian yang lebih bagus daripada yang seharusnya didapatkan oleh klien mereka. Rating AAA seolah-olah adalah gratis, semua korporat adalah AAA, seburuk-buruknya kinerja klien mereka, rating mereka masih AAB atau AA-. Mengapa? Karena bila rating diturunkan, modal yang perlu dicadangkan oleh perbankan untuk produk ini pun bertambah, dan bank sudah tidak punya uang untuk itu.

Namun satu hal yang tidak kelihatan di banking book perbankan (neraca) adalah detail produk derivatif mereka. Produk ini biasanya dicatatkan di pembukuan yang lain, namanya trading book. Tetapi ada satu hal yang sangat luar biasa mengenai peraturan pencadangan modal mengenai produk derivatif, yaitu negatively correlating asset.

Bila bank menulis sebuah kontrak kepada beberapa pihak, dan pihak-pihak tersebut secara teori (menurut model komputer, marked to model) bisa saling meniadakan resiko, maka bank hanya perlu mencadangkan modal atas selisih resiko mereka.

Kita buat perumpamaan saja, andaikan bank memberikan pinjaman ke toko eskrim sebesar $10, dan memberikan pinjaman lain ke toko payung sebesar $11. Bukannya mencadangkan modal sebesar $21, bank hanya mencadangkan $1 atas 2 transaksi ini. Perusaaan eskrim dan payung adalah negatively correlating asset. Yang satu akan sukses di musim kemarau, dan kalau yang terjadi musim hujan, maka payunglah yang sukses. Hehe... luar biasa bukan. Mengapa bank suka melakukan hal ini? Karena semakin sedikit modal yang perlu dicadangkan, semakin besar leverage mereka. Ingat, leverage adalah kunci kekuatan dari fractional reserved system.

Atau kita ambil perumpamaan lain, bank menulis foreign exchange swap dalam US dolar dan Euro. Di kaki USD, mereka mencari mitra dagang lain untuk trasaksi USD-Yen, dan di kaki Euro, mereka mencari lagi mitra dagang lan untuk transaksi Euro-Swiss Franc. Lalu mereka menutup transaksi ini dengan mencari orang yang bertransaksi Yen-Swiss Franc. Selama tidak ada counterparty yang gagal bayar, skema ini tidak bermasalah, dan bank bahkan tidak perlu menyediakan modal untuk memfasilitasi produk derivatif ini, dan yang pasti angka-angka perdagangan derivatif ini tidak muncul di banking book (neraca) yang mereka berikan kepada publik setiap 3 bulanan itu.

Jadi ibaratkan trading book perbankan sebagai sebuah meja, meja itu harus balanced supaya modal perbankan tidak terpakai untuk produk-produk tersebut.

Krisis CDO subprime telah memicu ketidakseimbangan meja trading book perbankan negara maju. Model marked to model mereka tidak pernah teruji di dunia nyata, kalau ada counterparty yang ingkar janji, bankrut, atau gagal bayar, keseluruhan sistem ini akan runtuh.

Setiap kali adalah aset di trading book yang membusuk, produk tersebut harus segera diganti dengan meterial baru supaya meja tersebut tidak runtuh. Material apa yang dipakai untuk "menyeimbangkan meja" sejak tahun lalu? Jawabannya adalah cash....

Sebelumnya ada Contract Default Swap (CDS) untuk melindungi para partisipan derivatif atas resiko gagal bayar counterparty mereka, dan dengan demikian mereka bisa terus menyembunyikan transaksi itu di trading book mereka. Tetapi sekarang CDS pun diragukan gunanya, buktinya AIG sudah jatuh. Alasan AIG dan perusahaan asuransi raksasa lainnya diselamatkan karena bila CDS yang ditulis mereka dinyatakan menjadi sampah, maka kontrak-kontrak derivatif akan dimasukkan di banking book (neraca) perbankan. Dan bila dimasukkan ke neraca, maka perlu modal trilyunan dolar lagi untuk menopang aset-aset sampah itu, dan bank-bank di negara maju sudah terlalu bangkrut untuk bisa menemukan trilyunan dolar baru itu.

Solusi krisis yang diambil berbagai bank sentral sampai saat ini, di satu sisi bank sentral terus menginjeksi uang ke perbankan (bank menukar aset sampah di neraca mereka dengan surat hutang negara), dan di sisi lain perbankan terus menahan kredit untuk diberikan kepada publik. Bukan karena mereka sengaja ingin publik mati, tetapi karena mereka memang tidak punya cukup uang untuk memenuhi rasio kecukupan modal mereka lagi. Secara teknis, bank-bank besar di negara barat sebenarnya sudah insolvent, aset mereka lebih kecil dari hutang, alias modalnya negatif!

* Ingat bagan neraca?









dan X harus = Y (A + B)

(Sekarang di bank-bank utama Amerika dan Eropa, X sebenarnya lebih kecil dari A. Berkat suntikan dana tak habis-habis dari bank sentral, maka seolah-olah modal mereka masih positif. Tetapi, dengan ekonomi riil dan lapangan kerja yang terus memburuk, semakin banyak customer mereka yang gagal bayar, dan semakin kecil lagi X, dan semakin negatif lagi B. Kalau bank sentral menghentikan suntikan dana, bank-bank itu akan langsung tutup!)

Produk derivatif perbankan sudah melewati $1000 trilyun! Semua bank sentral dan bankir pun panik. Sampai sejauh mana bank sentral bersedia mencetak uang untuk diberikan kepada perbankan (resiko hyperinflasi) untuk mempertahankan rasio kecukupan modal mereka? Sampai seberapa dalam bank komersial harus menahan kredit kepada publik dan tidak menciptakan resiko hyperdeflasi? Di satu sisi bankir sekarang kebanjiran trilyunan dolar baru, tetapi di sisi lain masyarakat umum dan pengusaha tidak memiliki akses kredit kepada perbankan komersial, hutang-hutang pun nyaris tidak ada yang bisa dirollover... Bahkan pasar obligasi internasional bisa dibilang beku total sepanjang tahun 2008 ini, dan 2009 akan lebih ketat lagi...

***

Bayangkan seorang pengusaha, sebut saja dengan nama Rizal. Dia punya hutang 5 milyar rupiah. Perusahaannya memiliki 100 karyawan. Hutangnya kepada bank biasanya akan dia rolling over setiap bulan Maret. Rizal dalam hatinya berencana untuk terus membayar cicilan bunga bulanan saja, dia tidak berencana sama sekali untuk melunasi hutang pokoknya. Yang dia tahu, selama dia sanggup membayar bunga pinjaman, bank tidak akan menarik kredit pokok darinya.

Tetapi betapa terkejutnya dia, pada bulan Januari dia ditelepon oleh sang bankir, katanya bulan Maret ini bank akan menarik piutang mereka. Rizal pun stress, dia mencoba mencari pinjaman ke bank lain, tetapi tak ada yang mau meminjaminya. Akhirnya, Rizal pun menjual aset-aset perusahaannya. Tokonya yang dulu seluas 5000 m², sekarang tinggal 500 m². Karyawannya pun tinggal 20 orang.

Ada jutaan Rizal-Rizal yang lain di seluruh dunia. Tidak semua seberuntung dia, setidak-tidaknya Rizal yang ini masih sanggup menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan. Tetapi yang lain bagaimana? Kalau kredit mereka ditarik oleh bank, berapa banyak dari Rizal-Rizal yang lain yang akan menutup usahanya, berapa juta manusia akan yang kehilangan pekerjaan karena PHK?

* Satu hal yang tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah betapa para "orang kaya" dan "konglomerat" sebenarnya tidak terlalu kaya. Mereka memiliki penampilan ekstra mewah memang karena mereka memiliki banyak uang, tetapi uang mereka adalah kredit (hutang). Kalau kredit-kredit itu dikembalikan, Anda akan kaget betapa orang-orang itu sebenarnya biasa-biasa saja. Korporat-korporat juga demikian, nyaris semua perusahaan high profile hidup dari hutang. Kalau mereka gagal merestrukturisasi (rollover) hutang dan obligasi jatuh tempo mereka, perusahaan-perusahaan ternama itu akan bankrut saat itu juga.

Sistem perbankan yang sekarang ibarat meja yang sudah runtuh. Komponen di kaki-kaki meja mereka setiap bulan ada yang membusuk dan harus diamputasi... Bukannya membuat meja dari bahan padat, bankir-bankir modern malah membuat meja mereka dari bahan kertas lunak beracun (derivatif)...

Gagal bayarnya KPR subprime (KPR untuk orang-orang berpendapatan rendah ataupun pendapatan tidak tetap / KPR yang beresiko tinggi untuk default) hanyalah pembuka, masih ada KPR prime yang juga sedang gagal bayar, kredit pembelian real estate komersial, kartu kredit, kredit kendaraan bermotor, kredit korporat, effect swap, foreign exchange swap, dan sebagainya. Sejumlah besar sekuritisasi produk-produk tersebut masih disembunyikan di trading book perbankan barat. Kalau semuanya nantinya akan dicatatkan di banking book (neraca), it's game over, mereka tidak akan mungkin menemukan modal untuk itu. $1000's trillion is just too much....!

Dalam Protokol Zion, disebutkan bahwa bankir zionis akan menghancurkan ekonomi riil, lalu menghancurkan sistem finansial (perbankan), dan kemudian tampil sebagai Raja (penyelamat manusia) dengan menyediakan semua infrastruktur dan bahan baku bagi manusia untuk survive. Mereka secara de facto memang telah menguasai semua asset riil di dunia. Berbagai perusahaan komoditi dan usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak memang telah diprivatisasi oleh semua negara dan diborong oleh perusahaan-perusahaan yang dibacking oleh bankir zionis ini (Rothschild, Rockefeller, Oppenheimer, Warburg, dll).

Kemarin saya membaca di koran, pemerintah berencana untuk bernegosiasi dengan IMF untuk mendapatkan pinjaman siaga untuk mengantisipasi krisis moneter 2009. Bankir-bankir di IMF bukanlah penyelamat, mereka adalah sekumpulan vampire penghisap darah! Pertemuan-pertemuan semacam itu benar-benar hanya membuang waktu, sekumpulan orang super munafik bertatap muka dan membicarakan tentang rencana perbaikan kesejahteraan rakyat dunia.

Kalau para bankir zionis benar-benar berniat menyelamatkan Indonesia dan negara miskin lainnya, apa yang perlu mereka lakukan sebenarnya sederhana saja.
1. Hapus bukukan hutang pemerintah Indonesia.
2. Kembalikan aset-aset penghasil income yang mereka rampok paska privatisasi kepada negara kita.
Tentu saja, mereka tidak akan melakukan itu!

Dan kalau politisi dan ekonom di semua negara benar-benar mau memperbaiki standar hidup rakyatnya, benar-benar mau memenuhi janjinya saat kampanye, ini yang harus mereka lakukan duluan:
1. Hapuskan sistem moneter kredit (hutang) sebagai uang dan fractional reserved system.
2. Hentikan spekulasi nilai tukar mata uang di pasar forex internasional.
Tentu saja, ini juga tidak akan dilakukan!

Kita diajarkan di sekolah bahwa imperialisme Inggris sudah lama berakhir, tetapi sejarah ditulis oleh pemenang.. dan kita masih adalah pecundang.. Inggris dan Belanda meninggalkan negara-negara jajahannya setelah mendirikan bank sentral di masing-masing negara. Bank sentral tersebut kemudian akan mengembangkan mata uang lokal (kredit/hutang) untuk dipakai oleh rakyat negara tersebut (suplai uang tumbuh lewat kredit oleh bank komersial swasta yang meminjam duluan kepada bank sentral). Tetapi tahukah Anda, nilai dari mata uang negara-negara tersebut masih dalam kendali kelompok yang sama yang duduk manis di sepetak tanah di City of London? Kelompok yang sama yang mengeksploitasi rakyat yang mereka jajah sejak beberapa abad yang lalu.

Jadi... Maaf, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Bersiap-siaplah menyambut kehancuran terbesar ekonomi di abad 21 ini!!

The next question... Kapan sistem perbankan barat akan collapse?
Saya bukan insider... Saya tidak bisa menjawabnya. Tetapi saya bisa berspekulasi.

Pertama, ekonomi riil harus collapse duluan. Harus ada puluhan juta orang kehilangan pekerjaan mereka, dan puluhan bahkan ratusan juta lainnya hidup dalam kepanikan.

Kedua, suplai bahan pangan harus defisit. Sekarang kebanyakan negara masih memiliki simpanan beras atau gandum (di negara barat) selama beberapa bulan. Tetapi jatuhnya harga komoditi saat ini bisa memicu kebangkrutan pertanian / perkebunan. Bila sebagian dari mereka tidak menanam kembali pada bulan-bulan mendatang, maka hasil panen akan menurun. Dan bila berbagai negara telah habis mengkonsumsi cadangan bahan pangan mereka, situasi akan menjadi tak terkontrol, inilah saat yang paling cocok untuk para zionis mengambil alih dunia. Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu, seluruh dunia akan tergantung pada mereka, sang Mesiah penyelamat umat manusia.

Sekadar spekulasi, semester kedua 2009 - semester pertama 2010 akan ada perubahan besar-besaran akan standar hidup kebanyakan manusia di planet ini... Perubahan yang tidak akan kita senangi...!!

Jumat, 05 Desember 2008

Berdagang - Berspekulasi - Berjudi

Semakin lama semakin sering saya membaca kata "investor" di koran dan majalah. Saya agak heran juga, sejak kapan orang-orang menjadi begitu pandai? Darimana para "investor" ini berasal? Di mana mereka berada sebelumnya?

Orang-orang tua sering bilang "Keputusan dalam hidup selalu adalah perjudian, karena tidak ada hal yang pasti, maka orang hanya bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang dia tahu."

Benar sekali, tidak ada yang pasti, dan semua orang memang hanya berjudi berdasarkan apa yang dia tahu. Namun satu hal yang perlu Anda sadari, dalam semua bidang dan dalam setiap transaksi, sekalipun sekelompok orang melakukan keputusan yang sama, namun mereka melakukannya berdasarkan level informasi dan pengetahuan yang berbeda-beda.

Mari kita berandai-andai.....
Saya bekerja di sebuah perusahaan eskrim, PT kami adalah perusahaan publik. Akhir-akhir ini saya mengetahui bahwa perusahaan saya berhasil mendapatkan sebuah order dari customer baru yang akan meningkatkan laba perusahaan saya sebesar 200% dalam waktu 6 bulan mendatang.

Jadi.. Diam-diam saya pergi ke broker saham saya dan membeli saham perusahaan saya sebanyak yang saya bisa... (Jangan khawatir mengenai peraturan insider trading... Dunia nyata tidak seperti itu, every insider trades!)

Di tempat lain, ada seseorang yang sering jual beli saham, sebut saja di Jacky. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini cuaca memang agak panas. Dia bertaruh bahwa global warming itu benar, dan dia pun membeli sejumlah saham perusahaan eskrim saya.

Di tempat lain lagi, seorang Ibu muda, Susi, yang lagi kebanyakan duit, yang baru mulai belajar membeli saham dan menjadi "investor", tidak sabar lagi untuk membeli saham pertamanya. Dan PT kami yang begitu beruntung, menjadi saham pembuka di portfolionya.

Anda lihat... Antara saya, Jacky, dan Susi, walaupun mengambil keputusan yang sama, tetapi kami melakukannya dengan alasan dan informasi yang berbeda.

* Bagi saya, saya bisa mengatakan dengan nyaris pasti saya akan menang, karena saya tahu customer baru kami akan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan saya. Maka saya tidak ragu untuk menyebut diri saya sebagai pedagang, bahkan investor.
* Bagi Jacky, saya akan menyebutnya spekulator. Keputusan dia memang ada dasarnya, tetapi tetap saja dia tidak benar-benar tahu apa yang sedang dia lakukan.
* Bagi Susi, dia adalah penjudi! Ibu ini sedang mempertaruhkan uangnya tanpa dasar.

Jadi, perbedaan antara berdagang, berspekulasi, dan berjudi terletak pada alasan dan informasi yang dimiliki si pembuat keputusan. Semakin Anda mengetahui informasi mengenai apa yang Anda lakukan dan semakin besar kontrol Anda atas hasil dari sebuah kejadian, semakin Anda bisa menyebut diri Anda investor. Sebaliknya, semakin Anda tidak tahu dan tidak bisa memegang kendali atas hasil sebuah kejadian, semakin Anda memenuhi kriteria sebagai seorang penjudi.

Kawan... Jangan mengira karena kita sedang melakukan hal yang sama dengan seseorang, lantas kita pun berada satu level dengan mereka.

Mari kita sambung lagi andai-andai tadi....
6 bulan kemudian, setelah hasil perdagangan kami dengan customer baru itu selesai dan muncul di laporan keuangan publik kami, harga saham perusahaan saya meroket 4 kali lipat.

Jacky, yang gembira atas "kepandaian" dia, memutuskan untuk take some profit. Dia menjual 1/2 saham dia, dan menyimpan 1/2 yang tersisa sambil berharap saham perusahaan eskrim saya akan terus naik harganya.

Susi, yang gembira atas "kepandaian dan keberuntungan" dia, memutuskan bahwa 4 kali lipat hanyalah awal. Dia menyimpan semua sahamnya, dan dengan tekat bulat akan terus menunggu hingga sahamnya naik lebih tinggi lagi.

Saya, di sisi lain, mendapatkan informasi rahasia dari pemasok kami di Amerika, bahwa global ternyata tidak warming.... (hehe), bulan-bulan mendatang, yang terjadi malahan adalah global cooling... dan saya pun menjual semua saham yang saya miliki, ditambah shortselling atas saham perusahaan saya.

Cuaca berubah sesuai yang saya antisipasi, cuaca sangat dingin dan eskrim tidak laku.. Penjualan kami anjlok, dan harga saham pun menukik tajam paska pengumuman laporan keuangan kami yang terbaru.

* Saya, lagi-lagi untung besar.
* Jacky, yang untung saat menjual 1/2 sahamnya dulu, sekarang rugi atas 1/2 saham yang tersisa.
* Susi yang malang, dia bukan saja tidak pernah mendapatkan keuntungan, sekarang malah harus rugi setelah menunggu 1 tahun.

Kawan, dunia ini sangatlah kejam.
Pikirkanlah baik-baik sebelum melibatkan diri di pasar finansial...

Semoga Anda bukan Jacky, apalagi Susi. Good luck!

Kamis, 04 Desember 2008

The Rich Will Go On...

Mengenai Hyperinflasi Weimar

Bab 4 dari buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Terjemahan dari artikel Ellen Brown, www.webofdebt.com

SEBUAH PELAJARAN DARI JERMAN PASKA PERANG DUNIA I

Kami tidak cukup bodoh untuk mencoba menciptakan sebuah mata uang yang dibacking oleh emas, yang memang tidak kami miliki lagi, tetapi setiap Mark yang akan kami cetak akan dibacking oleh pekerjaan dan barang yang nilainya setara… kami tertawa saat ahli finansial nasional memandang bahwa nilai dari sebuah mata uang adalah tergantung kepada emas dan sekuritas lain yang berada di ruangan besi bank.”
- Adolf Hitler -


Paska perang dunia I di Jerman, saat Hitler sedang berkuasa, negara itu sedang dalam kebangkrutan total. Perjanjian Versailles mewajibkan Jerman untuk membayar semua biaya reparasi perang, nilainya setara dengan tiga kali lipat nilai semua properti negaranya. Spekulasi terhadap mata uang Mark menyebabkan mata uang ini hancur, dan membawa Jerman menuju era hiperinflasi saat itu. Di puncak kejatuhannya, sebuah gerobak yang membawa 100 milyar Mark bahkan tidak bisa membeli sepotong roti. Tabungan negara sudah kosong, dan sejumlah besar rumah dan sawah diambil alih oleh bankir dan spekulator. Rakyat hidup dalam kesulitan dan kelaparan. Hal seperti itu belum pernah dialami mereka sebelumnya… Jerman akhirnya tidak memiliki pilihan selain meminjam uang dan menjadi budak dari bankir internasional.

Hitler dan para Sosialis Nasionalis, yang mulai berkuasa sejak 1933, kemudian melompati para bankir dan mulai menerbitkan mata uang mereka sendiri. Mereka belajar dari Abraham Lincoln yang menerbitkan “greenbacks.” Hitler mulai menyusun program kredit dengan merancang berbagai pekerjaan umum. Proyek-proyek utamanya adalah pengendalian banjir, perbaikan bangunan publik dan perumahan umum, konstruksi bangunan baru, jalan raya, jembatan, kanal, dan pelabuhan. Nilai dari proyek-proyek ini ditentukan untuk bernilai 1 milyar unit mata uang baru, yang mereka namai Labor Treasury Certificate.

Jutaan orang dipekerjakan untuk mengerjakan proyek-proyek ini, dan mereka akan mendapatkan bayaran dalam bentuk sertifikat ini. Uang ini tidak dibacking oleh emas, melainkan oleh sesuatu yang memiliki nilai, yaitu tenaga kerja dan material yang diberikan kepada pemerintah. Hitler berkata, “Untuk setiap Mark yang kami cetak kami mewajibkan pekerjaan ataupun barang produksi dengan nilai yang setara.” Para pekerja kemudian dapat menggunakan sertifikat ini untuk membeli dan membayar berbagai barang dan jasa, dan mulai menciptakan pekerjaan untuk lebih banyak orang.

Dalam waktu 2 tahun, masalah pengangguran teratasi dan negara ini kembali berdiri di atas kaki sendiri. Mereka memiliki sebuah mata uang yang stabil, kuat, tanpa hutang, dan tanpa inflasi, padahal pada saat yang bersamaan jutaan orang di Amerika dan negara-negara Barat lainnya masih tetap menganggur dan hidup dari bantuan pemerintah. Jerman bahkan sanggup memulai perdagangan dengan luar negeri, sekalipun dia tidak diberikan kredit dan harus menghadapi boikot perekonomian dari luar. Mereka melakukannya dengan sistem barter: mesin-mesin dan komoditi ditukar langsung dengan negara lain, tanpa melalui bankir internasional. Sistem pertukaran langsung ini bisa dilakukan tanpa perlu berhutang dan tanpa defisit perdagangan. Eksperimen ekonomi Jerman ini tidak berlansung lama, sama seperti yang terjadi pada Lincoln, tetapi berhasil meninggalkan sejumlah peninggalan atas kesuksesannya, salah satunya adalah Autobahn, superhighway ekstensif pertama di dunia.

Hjalmar Schacht, yang saat itu adalah kepala bank sentral Jerman, memiliki sebuah kutipan menarik tentang greenbacks versi Jerman ini. Seorang bankir Amerika berkata kepadanya, “Dr. Schacht, kamu seharusnya datang ke Amerika. Kami punya banyak uang dan itulah perbankan yang sebenarnya.” Schacht membalas, “Kamu seharusnya datang ke Jerman. Kami tidak punya uang dan itu baru perbankan yang sebenarnya.”

Walaupun Hitler dihujat dalam berbagai buku sejarah, tetapi dia sebenarnya sangat populer di Jerman, setidaknya pada masa-masa tertentu. Ini terjadi karena selama periode tertentu, Hitler berhasil menyelamatkan Jerman dari teori ekonomi Inggris, bahwa uang harus dipinjam dalam bentuk emas kepada para kartel bankir dan bukannya bisa dicetak langsung oleh pemerintah. Sebenarnya inilah sebabnya kekuasaan Hitler harus dihentikan, dia melompati bankir internasional dan menciptakan mata uang dia sendiri.

Sebelumnya Hitler dibiayai oleh para bankir untuk melawan Soviet yang dipimpin Stalin. Tetapi kemudian Hitler menjadi ancaman yang bahkan lebih besar dibanding Stalin karena dia mencoba mencetak uangnya sendiri, sebuah hak istimewa yang dimonopoli oleh bankir.

Dalam bukunya, “Billions for the Bankers, Debts for the People (1984), Sheldon Emry menulis,

Jerman menerbitkan uang bebas hutang mereka mulai 1935, mereka kemudian bangkit dari depresi dan menjadi kekuatan besar dunia hanya dalam waktu 5 tahun. Jerman membiayai pemerintahan dan semua operasional perang mereka dari 1935 sampai 1945 tanpa emas dan tanpa hutang, dan memerlukan gabungan semua kekuatan kapitalis dan komunisme untuk bisa menghancurkan Jerman dan mengembalikan Eropa kembali ke genggaman para bankir. Bagian sejarah uang ini tidak pernah muncul dalam pelajaran uang di buku-buku dan kurikulum sekolah zaman ini.

MENGENAI HIPERINFLASI WEIMAR

Banyak buku yang menceritakan tentang inflasi gila-gilaan 1923 yang dialami Republik Weimar (panggilan untuk Jerman saat itu). Devaluasi radikal dari mata uang Mark dikatakan adalah kesalahan dari pemerintah yang mencetak terlalu banyak uang. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Krisis finansial Weimar dimulai dari nilai reparasi mustahil yang dipaksakan dalam Perjanjian Versailles. Schacht, yang saat itu adalah komisioner mata uang berkata,

“Perjanjian Versailles adalah sebuah model untuk menghancurkan perekonomian Jerman… Kami tidak mungkin sanggup membayar kecuali dengan mencetak uang besar-besaran.”

Itu yang dia katakan saat itu. Tetapi dalam bukunya tahun 1967 “The Magic of Money,” Schacht mengungkapkan bahwa sebenarnya yang memompa begitu banyak uang baru ke perekonomian Jerman saat itu bukanlah pemerintah, melainkan sebuah bank swasta, Reichsbank.

Sama seperti Federal Reserve Amerika, kebanyakan orang mengira Reichsbank adalah bank pemerintah, tetapi dia sebenarnya adalah bank swasta yang dioperasikan untuk mencari kepentingan pribadi. Yang mendorong masa inflasi dalam peperangan menjadi masa hiperinflasi adalah spekulasi dari investor luar negeri, yang menjual mata uang Mark, bertaruh bahwa nilainya akan jatuh. Dalam sebuah manipulasi yang disebut shortselling, spekulator menjual sesuatu yang sebenarnya tidak mereka miliki, untuk dibeli kembali saat harga jatuh. Spekulasi terhadap Mark bisa dilakukan karena Reichsbank menyediakan mata uang ini dalam jumlah sangat besar untuk dipinjamkan kepada orang-orang yang mau meminjam, tentu saja dengan mengenakan bunga.


Menurut Schacht, pemerintah Weimar bukan hanya tidak menyebabkan hiperinflasi, tetapi merekalah yang akhirnya berhasil mengendalikan hiperinflasi tersebut. Pemerintah membuat batasan yang ketat terhadap Reichsbank, dan menghalangi dia untuk meningkatkan spekulasi oleh luar negeri dengan menghapuskan akses terhadap pinjaman bank. Hitler kemudian membawa Jerman bangkit kembali dengan menerbitkan Labor Treasury Certificate, sejenis greenbacks versi Amerika.

Schacht mengakui di buku riwayat hidupnya bahwa mengizinkan pemerintah untuk menerbitkan uang sebenarnya tidak serta-merta akan menciptakan inflasi seperti yang ditulis teori ekonomi klasik. Ketika suplai uang bertambah setara dengan pertambahan barang dan jasa, inflasi tidak akan terjadi dan harga barang pun tidak akan naik.