Jumat, 13 Februari 2009

Mengenai Krisis Ekonomi 2009

Hari ini kita sambung lagi cerita mengenai krisis ekonomi.

Sebelumnya, silahkan baca dahulu artikel yang diposting sebelumnya, seperti:
Mengenai Mata Uang dll
Mengenai Stimulus dll
Pentingnya Real Estate

Ok, sekarang kita mulai…

Paska perang dunia ke-2, dalam perundingan yang dikenal dengan Bretton Woods (1944), pimpinan dunia waktu itu sepakat untuk menjadikan US dolar sebagai medium pertukaran barang, alasannya Amerika adalah pemenang terbesar dari perang dunia dan memiliki cadangan emas terbanyak di dunia.

Lalu pada 1971, setelah dekade-dekade yang penuh dengan belanja dan belanja, Amerika mulai kehabisan emasnya. Presiden Nixon kemudian memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan dolar mereka dengan emas. Hebatnya, Amerika tetap berhasil meyakinkan negara yang lain untuk menjadikan dolar sebagai alat tukar untuk transaksi jual-beli dunia. Alasan yang mereka gunakan kurang lebih adalah bahwa negara mereka adalah negara paling produktif di dunia. Uang yang akan mereka cetak tidak mungkin akan menjadi kertas sampah karena dibacking oleh produksi rakyat mereka.

Jadi, tidak ada yang berubah sejak perang dunia ke-2, dolar Amerika adalah medium utama pertukaran barang (perdagangan antar negara) sejak 1944.

Bayangkan A, B, C, D, E.
A adalah Amerika, dan B, C, D, E adalah negara-negara yang lain.

B-C-D-E bukan hanya menggunakan dolar ketika bertransaksi dengan A, di antara B-C-D-E sendiri mereka menggunakan dolar untuk bertransaksi satu sama lain!

(Dalam perdagangan antar negara, memang ada sejumlah transaksi yang tidak menggunakan dolar, tapi volumenya tidak sebesar yang menggunakan dolar. Jadi dalam tulisan ini, transaksi non-dolar saya diabaikan dulu. Kita fokus pada gambaran besar saja)

Darimana asal muasal dolar Amerika?

Jawabannya adalah dari rakyat dan pemerintah Amerika. Rakyat adalah elemen yang paling penting.

Uang muncul saat konsumen mengajukan kredit (hutang). Pemerintah mungkin saja menerbitkan uang, tetapi itu bukan praktek lazim. Sumber pendapatan pemerintah adalah pendapatan dari perusahaan negara, penerbitan surat hutang, dan dari pajak.

Yang dimaksud dengan menerbitkan surat hutang adalah meminjam uang dari orang-orang yang memiliki uang. Jadi, uang berpindah tangan dari tangan orang-orang yang memiliki uang kepada pemerintah. Kalau tidak ada yang mau membeli surat hutang itu, dan pemerintah masih ngotot mau membelanjakan uang yang tidak dia miliki, mereka akan menerbitkan uang baru dalam bentuk hutang dan harus dibayarkan kembali lewat penarikan pajak kepada rakyatnya di tahun-tahun ke depan.

(Di Indonesia, negara menerbitkan uang bukanlah hal yang aneh, tetapi tetap saja tidak sering. Mungkin 1x dalam 1 generasi. Kalau kita sial, ya 2x. Hehe…Istilah yang lain adalah monetisasi, atau yang lain devaluasi mata uang. Tetapi di Amerika, belum pernah. Sejauh yang saya tahu, sejak Federal Reserve didirikan tahun 1913 sampai sekarang, belum pernah. Terakhir kali pemerintah Amerika menerbitkan uang sendiri adalah saat Lincoln menerbitkan greenbacks. Itu terjadi di 1862. J.F. Kennedy sempat melompati Federal Reserve dan menerbitkan silver dolar tahun 1963, tetapi beberapa bulan kemudian dia mati ditembak dan silver dolar langsung ditarik dari peredaran).

Trilyunan dolar hutang pemerintah Amerika (saat ini sekitar $10,5 trilyun) adalah hutang yang mereka pinjam dari tangan-tangan yang memiliki dolar. Bisa dari publik Amerika, bisa dari perusahaan finansial dari negara lain, bisa juga dari pemerintahan negara lain.

Darimana publik dan pemerintahan negara lain mendapatkan dolar Amerika mereka? Jawabannya adalah dari konsumen Amerika. Rakyat Amerika adalah konsumen utama dunia.

Ingat, dolar Amerika adalah medium perdagangan utama dunia. Sebelum B-C-D-E sendiri mau saling bertukar barang, sebelumnya mereka perlu menjual dulu kepada A.

Tetapi… Kawan, percayakah Anda daya beli orang ada batasnya? Kemampuan orang untuk berhutang juga ada limitnya?

Imajinasikan 3 generasi ini:




Kehidupan 3 generasi di atas adalah potret umum perubahan gaya hidup rakyat Amerika paska perang dunia ke-2 sampai sekarang. Dari negara dengan kemampuan menabung tertinggi menjadi negara dengan kemampuan berhutang tertinggi.

Bagaimana mereka bisa begitu? Berbagai peraturan dan fenomena perdagangan internasional dibuat karena sistem yang sedang kita anut memang membutuhkan konsumen Amerika untuk terus berbelanja. Globalisasi, bahwa bumi adalah “satu kesatuan,” di mana manufaktur besar di Amerika bisa dan perlu berpindah ke negara-negara murah adalah omong kosong. Produksi harus pindah ke negara murah untuk menekan harga barang & membantu konsumen Amerika agar mereka bisa membeli dengan harga murah, untuk memperlama usia dolar-system yang kita anut!

Konsumen Amerika tidak boleh berhenti berbelanja, juga tidak boleh berhenti mengajukan kredit kepada perbankan mereka, sebab di pundak merekalah tanggung jawab suplai utama uang dunia berasal.

Tanpa konsumsi mereka, darimana seluruh negara yang lain harus mencari suplai dolar untuk memenuhi kebutuhan impor berbagai barang dan komoditi untuk mereka sendiri?

Di satu sisi, orang boleh saja menyalahkan rakyat Amerika yang membeli terlalu banyak barang yang tidak mereka butuhkan dengan uang yang tidak mereka miliki (hutang), tetapi di sisi lain, kalau bukan mereka yang terus menghabiskan tabungan mereka dan kemudian berhutang sangat dalam, seluruh dunia sudah memasuki masa resesi besar, bahkan depresi sejak dulu. Ini konsekuensi dari dolar-system.

Coba lihat level hutang di Amerika ini…


Yang dimaksud dengan Total Credit Market Debt adalah total hutang publik + pemerintah Amerika. Perhatikan bahwa bubble ini sudah di ambang pecah. Apakah mungkin bubble raksasa ini, yang sebenarnya sudah ditiup sejak 1944 tidak akan pecah? Bahwa this time it is different? Menurut saya sih tidak (Kekuatan Bunga-Berbunga).


Federal Public Debt adalah hutang pemerintah federal Amerika (uang yang mereka pinjam dari orang-orang yang memiliki dolar). Anda lihat, secara persentase, di puncak perang dunia ke-2, pemerintah Amerika sesungguhnya pernah meminjam lebih banyak uang lagi dari publik untuk membiayai perang (120% dari GDP). Jadi, kalau hanya dihitung dari persentase saja, kondisi fiskal pemerintah Amerika hari masih lebih baik dibanding waktu puncak perang dulu. Saat ini, hutang pemerintah Amerika sekitar $10,5 trilyun. Dengan GDP sekitar $14 trilyun, maka persentase hutang pemerintah terhadap GDP sekarang adalah sekitar 75%.

Tetapi, tentu saja, Amerika hari ini tidak sama dengan yang dulu. Hari ini, mereka bukan lagi negara dengan tabungan terbesar dunia. Mereka sekarang adalah negara dengan hutang terbesar di dunia. USA hari ini sudah berubah menjadi UBSA, United Bankrupt States of America…

(Sedikit catatan tambahan, Anda perlu tahu bahwa konsumen membayar bunga saat mereka mengajukan kredit. Lalu saat pemerintah menerbitkan surat hutang, pemerintah juga harus membayar bunga. Karena uang pemerintah datang dari pajak terhadap rakyatnya, maka bunga surat hutang pemerintah juga dibayar oleh rakyat negara bersangkutan. Rakyat setiap negara sebenarnya harus membayar 2 set bunga hutang, hutang konsumen dan hutang pemerintah!)

Dari gambaran umum di atas, skenario apa yang bisa kita harapkan berdasarkan kejadian sekarang?

Defisit anggaran pemerintah Amerika tahun ini adalah minimal $1,3 trilyun. Kemungkinan besar akan lebih dari itu, karena belum termasuk program bail-out jilid 2, jilid 3, jilid 4…

Angka ini akan bertahan selama bertahun-tahun. Mereka tidak punya kemampuan untuk membayar, berhutang sudah menjadi satu-satunya alternatif bagi UBSA.

Di sisi lain, rendahnya harga komoditi dan ambruknya ekspor ke Amerika telah membuat negara-negara penabung dolar untuk mulai kehilangan pendapatan mereka. Kemungkinan yang lebih logis seharusnya adalah mereka akan menggunakan tabungan dolar mereka untuk menyelamatkan ekonomi mereka sendiri, dan mengurangi porsi pembelian surat hutang Amerika.

Kemungkinan Amerika untuk gagal menjual surat hutang dan membiayai anggaran mereka cukup besar, dan resiko ini terus membesar dari bulan ke bulan. Saya percaya, suatu ketika penjualan surat hutang mereka pasti akan mencapai titik puncak kejenuhan.

Beberapa tahun lalu Ben Bernanke (Gubernur Federal Reserve) pernah memberikan sebuah pidato yang kemudian terkenal dengan sebutan “Helicopter Speech,” bahwa dia bisa mencetak uang dan melemparnya dari helikopter kepada publik untuk mencegah depresi terulang kembali di Amerika. Banyak orang mempercayainya, termasuk saya.

Tetapi… Kawan, orang-orang Wall Street tidak terkenal jujur… Bisa saja Bernanke berbohong, kita tidak bisa tahu pasti.

Kalau dia memenuhi janjinya bahwa pemerintah Amerika akan mencetak uang untuk membiayai anggaran mereka saat surat hutang mereka tidak laku, tentu saja itu akan mendevaluasikan nilai dolar. Seberapa jauh tingkat devaluasinya, saya tidak tahu.

Lantas, apakah masalah selesai dengan devaluasi dolar Amerika? Menurut saya tidak, karena dolar-system belum berubah. Semua negara (B-C-D-E) masih memerlukan dolar untuk transaksi mereka, dan kalau mereka membiarkan nilai tukar uang mereka menguat signifikan terhadap dolar, ekspor mereka pasti akan terganggu, baik karena daya beli konsumen Amerika yang melemah maupun karena negara saingan mereka yang ikut mendevaluasikan mata uang mereka mengikuti Amerika.

Kemungkinan terbesar, pada akhirnya seluruh negara harus mengikuti Amerika untuk mendevaluasikan mata uang mereka, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh negara di dunia akan mendevaluasikan mata uang mereka secara bersama-sama!

Tetapi, setelah itu pun solusi tidak akan datang. Saat semua negara mendevaluasikan uang mereka secara bersamaan, lagi-lagi kita akan kembali ke masalah konsumen Amerika yang tidak sanggup lagi berhutang... Situasi hanya akan bertambah rumit.

Ini hanya kemungkinan pertama, kemungkinan kedua adalah “helicopter speech” hanyalah gertakan, Bernanke tidak akan melakukannya. Tidak ada era inflasi tinggi, mulai sekarang kita akan memasuki era deflasi.

Anyway
, saya tidak bisa memastikan kepada Anda apa yang sedang dipikirkan para kriminal di Wall Street, saya bukan insider di sana, Mr. Rothschild juga bukan paman saya. Hehe..

Selama kita masih dalam dolar-system, krisis sekarang tidak akan selesai sebelum daya beli rakyat Amerika membaik. Tetapi, bagaimana caranya memperbaiki daya beli mereka?

1. Penghasilan mereka perlu meningkat

Pertanyaannya, bagaimana penghasilan mereka bisa meningkat kalau di berbagai belahan dunia yang lain, ada ratusan juta bahkan milyaran manusia yang bersedia mengerjakan pekerjaan yang sama dengan upah budak?

2. Daya beli mata uang yang kuat

Dolar sedang menguat akhir-akhir ini, sebagian karena jumlah kredit (uang) menurun drastis, sebagian lagi karena settlement taruhan derivatif yang mayoritas harus dibayar pakai dolar. Ini akan membantu sedikit daya beli Amerika, tetapi juga akan memukul ekspor mereka. Faktor yang sangat penting sekarang apakah pemerintah Amerika benar-benar bisa menjual semua surat hutang yang mereka butuhkan. Bila nantinya mereka gagal menjual dan memutuskan untuk mencetak uang, dolar Amerika akan terdevaluasi, daya beli konsumen Amerika juga akan kembali terpukul. Jadi, skenario kedua mungkin kurang bisa diharapkan.

3. Beban hutang dikurangi

Sejak ribuan tahun yang lalu (sejak zaman Babilonia), sudah ada apa yang disebut dengan Jubilee / pemaafan hutang. Saat itu, semua hutang di atas 7 tahun harus dihapusbukukan. Karena masyarakat waktu itu pun sudah menyadari bahwa beban bunga dan hutang bertanggungjawab secara langsung terhadap berbagai penyakit masyarakat seperti perjudian, alkoholisme, tindakan kriminal, prostitusi, rusaknya hubungan rumah tangga dsb.

Menurut saya, jalan singkat adalah memaafkan hutang… Program bail-out hanyalah program untuk membantu jaringan kriminal Wall Street, mengapa tidak menghapusbukukan saja hutang publik? Kalau pada akhirnya solusi yang mereka buat tetap saja menginflasikan suplai uang, bukankah lebih sederhana kalau uang-uang diberikan saja kepada publik? Mengapa bertele-tele?

Hapusbukukan hutang, dan perkecil ratio fractional reserve atau hilangkan sama sekali sistem fractional reserve banking, maka suplai uang tidak akan meningkat drastis, dan tidak akan terjadi juga hiperinflasi.

Solusi yang akan dibuat oleh para pimpinan dunia sekarang, dengan asumsi mereka masih mau mempertahankan dolar-system ya harus memenuhi minimal salah satu dari 3 hal di atas. Daya beli konsumen Amerika harus diperbaiki. Tanpa melakukan itu, semua upaya akan percuma.

Solusi yang lain…. Tinggalkan dolar-system. Amerika mengambil alih tanggungjawab untuk menginflasikan suplai uang dunia dari Inggris pada awal abad ke-20. Karena bubble hutang mereka sudah mencapai puncak, ya biarlah bubble ini meletus. Penduduk mereka hanya 300 juta orang. Planet kita punya 6,6 milyar orang. Atas dasar apa pemimpin dunia menganggap manusia-manusia di belahan dunia yang lain tidak sanggup dan tidak berhak menjadi konsumen besar yang berikut? Mengapa harus kita-kita yang selamanya bekerja dengan upah rendah untuk melayani kebutuhan orang Barat?

***

Sedikit Komentar Mengenai Pemilu 2009

Sebentar lagi Indonesia akan menyelenggarakan Pemilu. Kalau saya tak salah baca, anggaran untuk Pemilu adalah Rp 13,5 trilyun… Rp 13.500.000.000.000,-….. Fantastis, pemerintah menghabiskan Rp 13,5 trilyun uang pembayar pajak untuk memilih kembali 1000 anggota Dewan Terhormat, dan sepasang Presiden - Wakil Presiden untuk MELANJUTKAN pekerjaan yang sama yang sudah dilakukan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Bisakah Anda membayangkan kalau uang ini kita gunakan untuk membiayai uang sekolah anak-anak Indonesia, memperbaiki standar kebersihan komunitas, atau dikembalikan kepada publik dalam bentuk pengurangan pajak, atau untuk membayar hutang-hutang kita kepada para vampire internasional? Saya curiga apapun yang sedang Anda pikirkan, kemungkinan besar rencana itu masih lebih berguna dibanding untuk menyelenggarakan Pemilu.

Saya sudah melihat berkali-kali kampanye para politisi di TV, dan tak seorang pun dari mereka yang mau menyinggung masalah perbankan ribawi. Tidak ada.

Anda tahu apa pekerjaan utama pemerintah di berbagai negara di dunia ini? Saya tidak tahu, tapi kalau saya harus berspekulasi, jawabannya adalah memperbesar hutang publik. Cari cara dan alasan apapun juga untuk meningkatkan hutang, baik hutang konsumen maupun hutang pemerintah. Anda bisa menebak sebaik apa kinerja sebuah pemerintahan dan seberapa mereka benar-benar bekerja untuk rakyatnya berdasarkan cara mereka memperlakukan uang.

Kalau Anda memahami bagaimana permainan uang di dunia dilakukan, Anda akan mulai melihat dunia ini dengan perspektif yang sangat berbeda.

Jadi, bagi Anda yang antusias terhadap Pemilu di depan mata ini, maaf, pendapat dari saya masih sama… Nothing is going to change!

Tentu saja, apa yang saya tulis di sini hanyalah opini pribadi. Mungkin sebagian benar, mungkin sebagian tidak. Mempersatukan opini publik adalah hal yang sangat sulit, kalau bukan mustahil. Untuk setiap 10 orang yang membaca blog ini, mungkin akhirnya hanya 1 orang yang percaya, 9 orang yang tersisa, ada yang mungkin ragu-ragu, ada yang mungkin tidak setuju, dan ada yang mungkin mengira saya adalah orang sinting yang terlalu banyak membaca novel konspirasi.

Hehe… Wajar-wajar saja, kita semua hidup di lingkungan yang berbeda-beda, dididik dengan cara yang berbeda. Para penganut talmudik mungkin memang memahami kelemahan kita, bukan kebetulan mereka menyebut kita goyim. Kita memang bermasalah dari dalam dan tidak pernah bisa bersatu (Divide & Conguer).

16 komentar:

M. Suryanto Pranata, SE mengatakan...

Luar biasa.penjelasannya..

saya sangat setuju,, maju terus pak

YuLianto1993 mengatakan...

Posting yg bagus tapi sedikit bingung dan menguras otak.

ngetips mengatakan...

Saya cuma bisa menyarankan sebagai rakyat Indonesia, agar menabung dalam bentuk emas koin atau batangan. Kan di pegadaian jual emas batangan mulai 5 gram sampai 100 gram.Koin emas juga sudah banyak yang jual. Lihat saja websitenya wakalanusantara dan geraidinar. Kalau mau simpan rupiah secukupnya saja untuk jangka pendek, kan rupiah gak bisa diharapkan kestabilannya. Seharusnya pemerintah mendukung adanya tabungan emas agar cadangan emas di masyarakat bertambah seperti yang dilakukan Cina dan Malaysia.

yuhandi mengatakan...

Bahasannya benar benar dalam, bagus pak, salam kenal.


Yuhandi
http://www.asuransijiwaku.com

Andre45 mengatakan...

Pak saya tertarik mengikuti tulisan anda tentang krisis ekonomi yang terjadi sekarang ini. Tulisan anda telah mencelikkan mata saya tentang bagaimana ekonomi dunia ini bekerja. Terima kasih.
Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan kenapa harga sembako akhir2 ini naik terus khususnya beras dan gula, padahal ekonomi dunia mengalami deflasi?
Sedangkan stok sembako dalam negeri kita khan berlimpah ruah serta harga minyak dunia turun.

harith mengatakan...

@Andre45
Menurut saya kalo harga komoditas di indonesia yang tidak kunjung turun karena produksi atau distribusinya masih dikuasai segelintir orang saja (oligopoli). Penguasaan yang terpusat itu memudahkan mereka mengatur distribusi atau menimbun, dll.
Apapun yang terjadi, mereka tidak akan membiarkan harga komoditas turun di tingkat konsumen.
Oya saya kok ngga bisa nampilin nama ya?

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

@Andre,
Pertama-tama, saya bukan ekonom, jadi saya gak bisa kasih komentar mendetail tentang berbagai hal, saya cuma bisa komentar mengenai hal-hal secara umum...

Makanan adalah kebutuhan pokok #1 manusia, sesulit apapun ekonomi, orang tetap butuh makan. Itu poin pertama.

Poin kedua, hukum suplai-demand secara umum. Cuaca dan ombak bisa mempengaruhi hasil panen ataupun hasil tangkapan ikan nelayan. Tahun-tahun terakhir ini cuaca di beberapa negara penghasil pangan kurang mendukung, jadi hasil panen pun tidak maksimal. Ini bisa menjadi faktor tingginya harga pangan juga.

Poin ketiga, mayoritas (atau mungkin semuanya) harga komoditi beracu pada harga di bursa komoditi New York. Harga beras dan gula juga demikian, acuannya adalah harga di sana. Kalau harga di bursa tinggi ya harga lokal di berbagai negara juga tinggi.

Yang keempat, memang akhir2 ini berbagai harga komoditi turun. Tetapi yang menjual ke konsumen tetap adalah retailer / distributor. Mereka mungkin masih ada stock lama, yang mereka beli sebelum harga komoditi jatuh. Sebelum inventori lama mereka habis, mereka tidak bisa jual menurut harga rendah sekarang di pasaran.

Poin kelima, harga komoditi memang turun dalam mata uang dolar, tetapi rupiah kita juga jatuh terhadap dolar. Jadi kejatuhan harga komoditi sebenarnya tak terlalu membantu kita, sebab rupiah pun ikut jatuh.

Anonim mengatakan...

kemampuan saya menangkap pesan yang ingin anda sampaikan benar - benar rendah. tolong kasih penjelasan yang sesuai pandangan awam saja ya pak. tapi kayaknya tulisan - tulisan bapak memang bagus

Krisna mengatakan...

Perlu diluruskan kepada bapak-bapak yang membaca postingan ini. Tulisan blogger from cirebon ini hanyalah saduran dari sebuah buku. Jadi nggak usahlah pake kagum-kagum segala. Memang saya sendiri juga seorang blogger yang hobinya menyadur tulisan orang, tapi kayaknya mas yang punya pohon bodhi ini seyogyanya menampilkan dari buku dan pengarang mana tulisan ini berasal. Kan melanggar hak cipta, dan kasihan yang udah mikir lama. Terimakasih dan juga maaf...

www.kriwil42.blogspot.com

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Website yang sering saya kunjungi untuk belajar sudah saya tulis di blog. Di buku saya yang saya cetak juga ada sumber referensi yang saya pakai. Kalau ada terjemahan, juga ada saya tulis siapa yang menulisnya.

Kalau itu masih tidak cukup, ya apa boleh buat...

Iyus mengatakan...

si kriwil sirik aja neh... selama transparan sumbernya ga apa2 nyadur. sama seperti harun yahya pun bukan saintist ko tapi telah berhasil menghimpun dan membangun karya yang menciptakan pencerahan, sama seperti pohon bodhi ini...trims pak pohon bodhi....keep posting karena dengan membaca blog ini telah membuka cakrawala berpikir baru bagi saya...sedikit memberi arah pemikiran tentang resesi ekonomi yg kerap terjadi

Wahyudi Purnomo mengatakan...

top markotop, terserah dar mana sumbernya. Yg jelas blog ini emang top. Walau ini saduran dari buku, bagi saya no problem. Klw saya baca bukunya, mungkin malah gak paham ( lha wong boso londo jerman / londo inggres )

Anonim mengatakan...

Wait...wait... Bretton Woods th 1944 setelah PD II dan Amerika sebagai pemenangnya ? Bukannya PD II berakhir setelah Bom atom di Jepang tahun 1945 ? Mhn konfirmasi, saya msh krg nyambung nih...

Anonim mengatakan...

tulisan yang bagus, orang bilang ini adalah konspirasi, saya jadi ingat di dalam sebuah buku (saya lupa udul dan pengaang). di situ dijelaskan tentang konspirasi amerika yang ingin menguasai 3 element penting di Irak yaitu tanah, air dan udara. tanah tentunya minyak bumi. air tentunya supply air minum dan udara tentunya menguasai jaringan satelit dan radio. hampir mirip konsep penerapannya.yah semoga bisa menambah wawasan buat kita semua.

Anonim mengatakan...

terima kasih pak tulisan ini membuka wawasan saya. Selamat dan terus berjuang pak....

Anonim mengatakan...

Luar biasa....cerdas ..