Kamis, 08 Januari 2009

Mata Uang, Anggaran Belanja, dll

Omong lagi mengenai uang.. Hari ini kita bicara tentang mata uang, logika anggaran belanja, dan serba-serbi lainnya...

Coba Anda bayangkan perumpamaan ini:

Di sebuah desa terdapat 3 orang: A, B, dan C.

A menanam jagung, B membuat gerobak, dan C hidup sebagai nelayan yang menjual ikan. Selama bertahun-tahun, mereka berdagang dengan cara barter, di mana produk yang mereka produksi mereka tukarkan dengan produk orang lain dalam jumlah yang menurut mereka nilainya setara.

Pada suatu tahun, karena suatu masalah, tanaman jagung A gagal panen, dan dia tidak punya jagung untuk ditukarkan dengan B dan C. Karena B dan C memang kelebihan persediaan gerobak dan ikan, dan juga karena selama ini A adalah orang yang jujur, maka B & C memutuskan untuk memberikan hutang kepada A. A akan menulis selembar surat hutang, menyatakan bahwa dia akan mendapatkan gerobak dan ikan dari B & C dalam jumlah tertentu, dan akan mengembalikan nilai barang tersebut dengan jagung yang akan dia bayarkan pada musim panen berikut. Hasilnya, semua orang merasa puas. A mendapatkan gerobak dan ikan untuk bertahan hidup, dan B & C pun berhasil “menjual” produksi mereka.

Di musim panen berikut, lagi-lagi A mengalami musibah. Jagungnya kembali gagal panen, dan dia kembali menulis surat hutang kepada B & C untuk “membeli” gerobak dan ikan mereka. B & C sedikit merasa tidak senang, namun karena mereka sangat percaya kepada A, mereka menerima surat hutang dari A. Di hari-hari kemudian, surat hutang yang ditulis A bahkan bisa diperdagangkan antara B & C untuk saling bertukar gerobak dan ikan.

Suatu ketika, A merasa bahwa strategi surat hutang yang dia tulis ini bisa bertahan selamanya, dan dia mulai mengabaikan tanaman jagung dia sama sekali. Dia menghabiskan kebanyakan waktunya yang berharga untuk menikmati hidup dan bermain golf. Ketika musim panen tiba, dia tinggal menulis surat hutang baru kepada B & C.

B & C, yang merasa ada yang tidak beres dengan tindakan A, kemudian pergi ke ladang A untuk melakukan investigasi, dan terkejut karena ternyata A bahkan tidak menanam bibit jagung. A sudah tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk membayar hutangnya. B & C akhirnya menyadari bahwa “penjualan” mereka kepada A selama ini adalah imaginer. Mereka tidak akan mendapatkan kembali nilai barang (jagung) dari A sebesar nilai gerobak dan ikan yang selama ini sudah mereka berikan kepada A.

****

Uang adalah alat tukar (medium of exchange), jadi surat hutang si A pada contoh di atas adalah uang, karena itulah yang dipakai oleh A untuk mendapatkan barang dari B & C, dan juga bisa dipakai oleh B dan C untuk saling bertukar hasil produksi mereka.

Perhatikan bahwa si A bisa membeli sebanyak yang dia mau tanpa perlu memproduksi barang selama surat hutang dia diakui oleh B dan C. Pada dasarnya, selama B & C bersedia menerima surat hutang itu, tidak ada limit waktu seberapa lama A bisa duduk nongkrong sambil "membeli" barang dengan surat hutang dia.

Di dunia nyata hari ini, si A adalah Amerika Serikat. Negara ini secara konsisten telah mengambil kebijakan defisit spending selama 2 dekade ini. Dan kalau Anda melihat kebijakan pemerintah mereka, tampaknya mereka tidak ada niat untuk berbalik arah. Industri dan manufaktur mereka terus dipindahkan ke negara murah seperti Cina, India, Vietnam, Indonesia, dll. Yang tersisa di sana hanya industri retail dan sejumlah perusahaan teknologi, yang inipun mulai meninggalkan Amerika tahun-tahun ini. Dan perhatikan apa topik favorit media sekarang di sana...

"Stimulus"

Dibiayai pakai apa? Negara itu tidak memiliki surplus anggaran (tabungan), demikian juga dengan rakyatnya, jadi jawabannya adalah surat hutang baru. Gali lubang tutup lubang kawan...

(& Jangan lupa, dalam sistem moneter yang kita anut, uang adalah kredit (hutang). Dan yang namanya hutang itu harus dibayar kembali + bunga. Paket stimulus versi mereka dalam bahasa yang paling sederhana adalah menyuruh pemerintah dan rakyat untuk menggali lubang lebih dalam lagi dari sekarang, tetapi dengan propaganda seolah-olah membela kepentingan rakyat supaya rakyat setuju dengan stimulus itu. Siapa yang nantinya mendapat untung? Hehe... The bankers again, stupid!)

Defisit perdagangan Amerika

Jadi, satu hal yang perlu Anda pelajari dari contoh di atas adalah, ada perbedaan antara kekayaan (wealth) dengan uang (money).

Sebuah negara mungkin saja tidak memiliki kekayaan, tetapi dia tidak mungkin kekurangan uang. Zaman sekarang uang hanyalah selembar kertas, bahkan hanya angka-angka digital di komputer. Kalau mau melihat contoh yang ekstrim, lihatlah Zimbabwe sekarang.

Kekayaan pada dasarnya datang dari PRODUKSI (barang & jasa). Uang hanyalah medium pertukaran. Menilai kekayaan berdasarkan jumlah uang bisa akurat selama uang yang dipakai adalah cerminan dari produksi rakyat yang memproduksi barang & jasa sebelumnya.

Dunia menjadikan US dolar sebagai reserve currency. Negara-negara lainnya di luar Amerika juga harus menggunakan US dolar dalam mayoritas transaksi mereka untuk saling bertukar barang. Selama praktek ini tidak dicabut, dan selama Amerika terus mengambil kebijakan defisit spending tanpa niat untuk membayar, seluruh dunia harus mensubsidi Amerika secara gratis.

Saat ini, tsunami finansial sedang melanda Amerika. Mata uang yang dipakai seluruh dunia, US dolar, pun bergoyang keras. Ada yang bilang akan naik tajam, ada yang bilang akan turun tajam. Siapa yang benar??

Silahkan meneliti berbagai faktor "fundamental" yang Anda suka, tetapi menurut saya saat ini faktor yang paling penting adalah tergantung seberapa Amerika bisa mempertahankan status US dolar sebagai reserve currency internasional. Kalau Amerika bisa mencegah negara lainnya menggunakan mata uang masing-masing untuk berdagang, US dolar akan terus menguat. Tetapi kalau Amerika tidak bisa mencegah negara-negara lainnya menggunakan mata uang mereka, US dolar akan bersaing ketat dengan Zimbabwe dolar nantinya.

Usaha pemerintah Amerika ini tidak akan dilakukan hanya dengan perundingan sopan di atas meja. Mereka tentunya bersedia menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Tindakan biadab apapun mungkin mereka lakukan, saya tidak bisa membayangkan sejauh apa mereka bersedia berbuat... So quite hard to tell what will happened next. Perang? Wabah penyakit baru? Atau yang lain?

Next, kita bicara tentang omong kosong di media yang mengatakan "Kelesuan ekonomi di Amerika bisa ditanggulangi dengan cara meningkatkan konsumsi dalam negeri dan perdagangan antar negara di luar Amerika."

Renungkanlah baik-baik efek US dolar sebagai reserve currency kawan. Seluruh dunia membutuhkan US dolar sebagai uang (berdasarkan sistem sekarang). Kalau rakyat Amerika tidak bisa berhutang lebih jauh (karena resesi dan juga bank yang tidak bersedia + tidak sanggup meminjamkan karena mereka sudah insolvent), darimana suplai US dolar nantinya akan berasal? Darimana negara-negara lainnya akan mendapatkan dolar untuk saling berdagang nantinya? Bulan demi bulan, selalu ada hutang yang perlu dibayar kembali ke bank. Kalau pertambahan hutang baru tidak bisa menandingi pembayaran hutang pokok, bunga, dan default pembayaran pinjaman lama, suplai uang US dolar akan terus menurun.



Hanya konsumen dan pemerintah Amerika yang bisa memproduksi US dolar (lewat pengajuan kredit ke perbankan Amerika). Bank sentral negara manapun tidak boleh mencetak US dolar, ingat itu.

Kedua, nilai tukar mata uang. Ambil contoh saja, negara kita, Indonesia. Bagaimana caranya meningkatkan konsumsi di dalam negeri kalau rupiah terus jatuh terhadap dolar dan mata uang lainnya?

Jangankan kalau terjadi PHK masal, tanpa PHK pun daya beli rakyat negara ini terus dikurangi karena jatuhnya rupiah. Bagaimana meningkatkan konsumsi di dalam negeri kalau daya beli rakyatnya sedemikian rendah?

Kita ambil contoh sederhana saja.. Anggaplah pendapatan bulanan rata-rata rakyat negara ini sebesar 2 juta. Kalau dibagi dengan harga nasi goreng rata-rata 8 ribu, berarti sebulan bisa membeli 250 piring. Kalau rupiah terus jatuh dan nantinya harga rata-rata nasi goreng 12 ribu, berarti hanya bisa membeli 167 piring. Dan kalau ditambah faktor PHK (kehilangan 2 juta pendapatan bulanan itu), bagaimana caranya meningkatkan penjualan nasi goreng dalam negeri??

(Lebih jauh mengenai mata uang, apa & siapa sebenarnya yang mengatur nilai tukar? "Fundamental"?? Hehe.. Saya pun berharap dunia sesederhana itu, tapi saya khawatir tidak demikian. Aksi spekulasi segerombolan hedge fund di London atau New York pun bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah kita)

Dan renungan yang lebih basic lagi, bagaimana caranya meningkatkan KONSUMSI bisa menciptakan kemakmuran? Makmur versi Amerika dan Zimbabwe??

Saya bukan ekonom, tetapi saya bisa berspekulasi berdasarkan apa yang saya lihat di dunia nyata, berdasarkan perbuatan dan peraturan yang dibuat pemerintah.

Sebuah negara pada dasarnya sama dengan sebuah individu, harus berusaha hidup dalam kemampuannya. Kalau di SD dan SMP kita terus-terusan diajari JANGAN "lebih besar pasak daripada tiang," mengapa hanya kita saja yang mempraktekkannya? Mengapa tidak negara juga?

Bayangkan keluarga ini:

Alex adalah petani jeruk dengan tanah yang luas. Karena ketagihan berjudi dan tidak mahir mengatur anggaran kehidupannya, dia mengabaikan tanahnya dan menghabiskan waktunya untuk berjudi dan juga menyerahkan usahanya kepada orang-orang yang tidak qualified. Perlahan-lahan, dia kehilangan uang tunainya. Tahap berikut dia menjual harta lainnya, emas, mobil, jam tangan mahal, perhiasan istrinya, lalu mulai berhutang kepada semua orang yang mau memberikan pinjaman kepadanya, dan akhirnya mulai menjual tanah dan aset perusahannya.. Kemudian meminta uang terus-menerus kepada anak-anaknya. Tidak jarang pula dia berdebat dengan anak-anaknya sebelumnya tentang buah jeruk yang mereka makan...

Harga jeruk di pasaran 3000 per buah. Ongkos Alex sebenarnya adalah 500 per buah, maka Alex pun terus mengeluh kepada anak-anaknya tentang "subsidi" yang terpaksa dia berikan kepada anak-anaknya.

Bandingkan dengan pemerintahan Republik Indonesia... Perhatikan perbuatan mereka:
- Penjualan terus-menerus BUMN
- Penerbitan terus-menerus SUN, SBN, Sukuk
- Terus mengeluh tentang "Subsidi" BBM (dan sekarang mulai mencabut subsidi sama sekali)
- Intensifikasi penarikan pajak dan pungutan kepada rakyat

Negara ini, tanpa perlu Anda menjadi ekonom profesional pun, bisa ditebak sedang dalam arah yang salah!

** Link APBN 2009

Sayang, solusi tidak gampang dipraktekkan...

"Sebelum Anda bisa menerapkan peraturan baru, pertama-tama Anda harus menghadapi terlebih dahulu pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari peraturan lama"

Banyak pihak yang mendapat manfaat dari status quo. Mengganti sistem moneter kredit sebagai uang dan praktek bunga (riba) bukan perkara gampang. Sekadar mengungkit masalah ini saja di media utama pun sudah sangat sulit, apalagi mengedukasi publik dalam jumlah masal. Dan tentu saja, saya tidak berpikir pemerintah berani melakukan itu. Presiden manapun yang berani menantang sistem ini dan kelompok kartel bank internasional (Rothschild cs) saya rasa tidak akan berumur panjang...

Hal menarik lainnya, tampaknya propaganda islam-fobia cukup sukses di mana-mana di dunia. Saya bukan muslim, dan dari lingkungan pergaulan saya sehari-hari, saya cukup tahu bahwa segala sesuatu yang bernada islamik cukup tidak populer bagi kalangan non muslim yang lain. Bila saya bicara soal anti riba (ini hanya kosakata sederhana), sejumlah teman-teman saya sudah mulai merasa otak saya sedang bermasalah. Mana mungkin di dunia yang "modern" ini, kita masih berpikir untuk kembali ke sistem "Islamik" yang sudah tidak dipraktekkan ribuan tahun itu?

Hei.. Anti riba bukan hanya diyakini oleh Islam, larangan riba juga adalah ajaran agama lainnya, bagaimana bisa orang-orang Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan lainnya berpikir sebaliknya?

Masih banyak masalah yang perlu diluruskan. Perjalanan kita masih sangat jauh untuk memulai perubahan.....

14 komentar:

Anonim mengatakan...

Menurut saya jika crash mata uang kertas secara bersamaan di seluruh dunia (mungkin tidak lama lagi), barulah masyarakat sadar bahwa berapa tidak berharganya uang kertas, dan betapa hebatnya penipuan yang sudah dilakukan para bankir. Mengenai para bankir, saya percaya mereka akan jatuh dengan sendirinya karena sistem yang mereka buat sendiri (fractional reserve banking) adalah sistem yang sebenarnya sangat rapuh, dan uang kertas fiat adalah batu pijakan pertama yang bisa membawa mereka ke dasar jurang kehancuran.

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan uang kertas. Yang saya kecam adalah sistem kredit (hutang)-sebagai-uang dan bunga.

Anda tahu efek bunga berbunga (compunding interest)? Secara matematis, tidak mungkin masyarakat sanggup membayar selamanya di dalam sistem bunga-berbunga.

Kemisikinan yang disebabkan oleh sistem ini bertanggungjawab secara langsung terhadap berbagai penyakit masyarakat: perjudian, alkoholisme, prostitusi, hancurnya hubungan rumah tangga, dll.

Saya berasumsi Anda seorang pendukung emas, bukan begitu? Saya tidak anti emas, tetapi saya benar-benar tidak sanggup membayangkan dunia hari ini, dengan 6,5 milyar penduduk, kembali lagi ke emas (& perak & logam lainnya) sebagai medium transaksi.

budi herprasetyo mengatakan...

Menurut saya , pendulum ekonomi dan politik memang telah bergerak terlalu ke kanan atau ke kiri (emang ada bedanya pak ?). Butuh sebuah kekuatan baru, (sistem baru ? apalagi sistemnya pak ?)untuk mentralisirnya. Bunga atau bagi hasil sebenarnya sama saja, bila kita bisa mengontrol apakah itu terlalu berat bagi orang lain. Hanya negara ini yang memberikan bunga tinggi kepada rakyatnya. Bahkan Amerika yang katanya menjadi episentrum krisis masih memberikan bunga yang relatif rendah kepada para pengusahanya. Jadi, siapa yang serakah disini ? Saya kira, kita sendiri....

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Masalah di masyarakat memang sudah kebanyakan, akumulasi sedimikian lama dari sistem kredit (hutang)-sebagai-uang dan bunga.

Orang2 yang ingin memperbarui sistem finansial tidak mengklaim bisa mengubah dunia dalam 1 malam. Tetapi perbaiki dulu akar permasalahannya, uang, maka perlahan-lahan berbagai masalah sosial ekonomi bisa ditanggulangi.

Sistem yang ingin saya kemukakan adalah uang diedarkan oleh pemerintah kepada produsen di negara masing-masing. Uang itu bukan kredit (hutang), dan tidak dikenakan bunga. Uang itu akan beredar terus di masyarakat tanpa perlu dikembalikan ke perbankan lagi. Itu gambaran yang sama sekali berbeda Pak dengan sistem saat ini.

Coba cari tahu lebih banyak tentang sistem colonial script amerika abad 18, atau greenbacks abad 19. Uang tidak sebagai hutang adalah mungkin dan bisa diterapkan, yang penting adalah menghindari para bankir menghalangi sistem ini. Sejarah uang penuh dengan kejahatan kelompok ini (bankir) dalam membunuh pimpinan, presiden, atau pemerintahan yang mencoba menerapkan sistem ini.

Mengenai bunga bank, bunga bank Amerika tidak rendah Pak. Angka 0-0,25% seperti yang Anda lihat di koran adalah bunga yang perlu dibayar oleh bank untuk meminjam ke bank sentral. Bunga untuk konsumen dan pengusaha sebenarnya tidak turun banyak, bahkan pinjaman aja nyaris tidak ada. Bank (yg sebenarnya sudah bangkrut) harus mempertahankan rasio kecukupan modal mereka, mereka tidak bisa memberikan kredit dalam jumlah besar lagi sekarang.

& bunga kredit di Iran sekarang 36%... Kita tidak sendirian dengan bunga tinggi...

Anonim mengatakan...

Saya tahu kalau efek bunga yang bahkan jika tidak berbunga sekalipun akan membuat sebagian orang tidak mampu membayar hutangnya. Saya juga tidak menyarankan untuk kembali ke uang emas, karena orang-orang yang tidak punya emas akan tiba-tiba tidak punya uang. Saya mendukung bila uang diciptakan dengan usaha, yang artinya uang dalam bentuk apapun itu mempunyai nilai intrinsik. Apakah adil ketika seorang pedagang bakso yang siang harinya harus mencari bahan untuk dijual pada malam harinya ditukar dengan benda yang untuk membuatnya hanya butuh beberapa ketikan di komputer?

technology mengatakan...

A friend told me this place I have been looking for, I come, it turned out, I have not disappointed, good Blog!
runescape money

Anonim mengatakan...

Pohon Bodhi yth,

Sungguh menyenangkan membaca tulisan anda di blog ini dan dapat dipastikan saya akan menjadi pengunjung tetap pada blog ini.

Sebelumnya saya pernah menonton film the money master yang mengisahkan cerita yang sama yaitu Banker swasta yang membuat kebohongan dengan diberikan kesempatan mencetak uang berlebihan dengan system fractional reserve (kalau saya tidak salah). FDR amerika ternyata punya swasta begitu bank of england dan sebagian besar bank sentral di europe.

Banker swasta ini mendapatkan bunga tanpa modal apapun selain sepotong surat hutang dan orang yang meminjam duit kepadanya

Namun hal ini bertolak belakang dengan di Indonesia, BI adalah milik pemerintah dan pemerintah tidak bisa mencetak uang semaunya tanpa persetujuan DPR atau pihak lainnya sehingga seharusnya terkontrol. Karena pemerintah milik pemerintah maka tidak ada kepentingan banker swasta disitu.

Hanya permasalahan di negara kita adalah kebiasaan berhutang dan kebiasaan mendevaluasi uang kalau mata uang kita sudah tidak bisa kompetitif lagi. selain itu, kita selalu mengacu kepada mata uang USD yang sudah tidak terkontrol lagi ekonominya.

Yang saya sesalkan adalah ketidak mampuan pemerintah mengendalikan anggaran, sedangkan anggaran yang ada bocor kemana-mana karena di korupsi. Seharusnya dengan anggaran yang cukup ketat dan kontrol korupsi yang kuat maka sistem keuangan kita bisa seperti sistem silver dollar sehingga ekonomi kita tidak seperti sekarang.

Bye the way, saya sangat senang membaca posting anda dan berterima kasih bahwa anda mau share pengetahuan anda.

Saya juga setuju bahwa semua agama melarang praktek riba dan system ekonomi kita sudah kadung menggunakan sistem riba ini sehingga sulit untuk dihapuskan dan larangan Riba bukan hanya murni ada di Islam karena dalam agama lainnya juga dilarang keras

salam hangat dan penuh persahabatan
Mettawira

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

@Metta,

Mengenai sifat pejabat yang korup dll, saya 100% setuju. Hehe..

Mengenai bank, sebenarnya bank sentral swasta atau bukan, bukan isu terpenting.. Memang kalau milik pemerintah rasanya akan sedikit lebih "adil".

Di sistem penciptaan uang kita, uang sampai ke tangan publik lewat bank komersial. Dan lewat sistem fractional reserve system, bank komersial bisa melipatgandakan modal mereka dengan memberikan pinjaman berulang-ulang ke publik.

Yang penting sebenarnya adalah mengendalikan bank-bank komersial. Merekalah yang memutuskan siapa mendapatkan kredit, siapa tidak. Dan seberapa banyak kredit yang akan didapat perusahaan X, dan berapa kredit yang akan didapat saingan perusahaan X. Dalam batas-batas tertentu, bisa dikatakan merekalah yang menentukan siapa pemenang di setiap bidang industri..

Jadi, ketika kartel bankir internasional tidak bisa menswastakan bank sentral di suatu negara, yang mereka lakukan adalah berupaya mendominasi kepemilikan bank komersial di negara tersebut.

Anonim mengatakan...

salam kenal. saya sangat senang membaca tulisan - tulisan bapak dlam blog ini. bapak sudah berusaha menjelaskan dengan analogi yang mudah dan juga gambar - gambar. sayangnya pikiran saya belum terjangkau. maaf mungkin naif, tapi saya ingin belajar. yang saya ingin tanyakan apakah kartel bankir internasional telah menguasai bank sentral indonesia, kalau iya bagaimana caranya? BI itu swasta atau milik negara? kalau gak salah gubernur BI sekarang pernah berdebat dengan sri mulyani dan usulan agar keputusan mencetak uang ada di tangan pemerintah. berarti gubernur BI kita sekarang grupnya kartel dong. saya ikut terus di blog bapak ini. terima kasih

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

see this..

http://financialaccess.org/about/advisors

Sebenarnya tak harus menguasai BI, kendalikan saja bank-bank komersial. Itu saja sudah luar biasa kekuatannya.

MyThinkAll mengatakan...

Salam. Terkait dengan kecukupan emas dan perak sebagai mata uang dapat anda baca di http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=75:emas-cukup&catid=1:latest-news&Itemid=50

Semoga dapat menambah wawasan kita bahwa sebuah sistem harus ditegakkan dengan sub sistem lainnya. Karena itulah hukum alam

schizo mengatakan...

Tulisan dengan analogi yang bagus sehingga mudah dicerna, bung PPB.

Saya setuju dengan anda.

Untuk poin2 di paragraf terakhir anda, ada baiknya ditambahkan argumen2 dari artikel di link institusi pendidikan berikut:

http://www.che.ac.uk/publications/usury.htm

Good luck!

Anonim mengatakan...

"penguasa financial" tsb punya akses thd semuanya termasuk internet.. izin copy paste untuk menyelamatkan tulisan ini in case blog anda ditutup.. hehe..

Anonim mengatakan...

Sungguh ini suatu tulisan yg sangat luar biasa....simpel dan mudah dimengerti oleh org yg bodoh seperti saya...ini suatu pengetahuan yg baru buat org yg awam spt saya.....saya berterima kasih pada penulis yg cerdas spt anda pak bodhi....bravo pak bodhi...