Ini adalah nilai IHSG dan kurs rupiah pada masa monetisasi rupiah tahun 1998, kita tunggu saja apakah Amerika & Inggris akan merasakan hal yang sama...
Sabtu, 17 Oktober 2009
Jumat, 11 September 2009
SummerSlam USD 2009
Moga-moga Anda yang sedang membaca di sini sudah membaca habis blog ini. Kita semua benar-benar sedang hidup di sebuah era yang luar biasa. Hari ini, kita review sebentar apa yang sudah dan sedang terjadi, dan menebak-nebak apa yang akan terjadi ke depan.
Sebelumnya, ingat hal ini:
Uang muncul dalam bentuk kredit.
Hutang dari A, setelah dibelanjakan, akan menjadi tabungan bagi B, C, D, dll.
Uang, begitu diciptakan, akan eksis terus di neraca perbankan, sampai seseorang default (gagal bayar).
Orang yang berhutang mungkin bisa membayar pinjamannya (plus bunga), mungkin juga tidak. Sedangkan orang yang menabung, akan sekuat tenaga tidak ingin berpisah dengan uang mereka.
Di sisi aset perbankan, pinjaman yang mereka berikan ke publik bisa kembali ataupun tidak. Tetapi, di sisi liabilitas, uang nasabah mereka tidak bisa dicoret sesuka hati, sebab tentu saja tidak ada orang yang mau uangnya menguap begitu saja.
Apakah kita sedang memasuki era deflasi atau inflasi?
Gelombang gagal bayar orang-orang yang gak mampu membayar menyebabkan kerugian masif di neraca perbankan Amerika. Karena tidak ada nasabah yang mau uangnya menguap, dan tentu saja pemerintah pun tidak akan membiarkan kebangkrutan perbankan yang menyebabkan hilangnya uang nasabah yang kemudian berujung ke instabilitas masyarakat apalagi jebloknya popularitas politisi elit, maka kerugian yang diderita perbankan akan ditomboki (bailout) oleh pemerintah.
Uang bailout ini datang darimana?
Awalnya, pemerintah Amerika meminjam dari publik (orang-orang & institusi yang memiliki uang, yang membeli surat hutang negara).
Seiring dengan memburuknya perekonomian global (kemampuan konsumen Amerika untuk terus mengajukan hutang dan memenuhi janji untuk membayar menurun), maka surplus neraca perdagangan berbagai negara pun menurun, dan dengan demikian sumber pembiayaan deficit pemerintahan Amerika pun ikut menurun.
Sejak awal tahun ini, setelah pengumuman quantitative easing (monetisasi) The Fed & Bank of England, Amerika dan Inggris membayar sebagian ongkos bailout ini dengan mencetak uang baru (hutang pemerintah kepada bank sentral). Jadi, sekarang ini, selain meminjam uang-uang yang sudah eksis, Amerika dan Inggris sudah menambah suplai uang.
Setiap bulan, setiap tahun, ada hutang yang harus dikembalikan ke sang pencipta kredit, bank. Bila penciptaan kredit baru lebih besar daripada pembayaran kredit lama, maka suplai uang meningkat. Bila penciptaan kredit baru lebih sedikit dibanding pembayaran kredit lama, maka suplai uang menurun.
Tetapi yang harus bisa Anda imajinasikan, turun dalam kasus ini artinya suplai uang yang ada di tangan publik yang menurun. Sedangkan total suplai uang sendiri, termasuk yang dikembalikan kepada perbankan yang kemudian ditahan oleh mereka, sebenarnya tidak menurun.
Tanpa sebuah bank dibiarkan bangkrut, dan uang nasabah mereka menguap, suplai uang tidak bisa turun.
Dengan monetisasi (uang baru), suplai uang sebenarnya meningkat. Kejatuhan harga komoditi tahun lalu sampai awal tahun ini bukan berarti ada penurunan suplai uang, yang terjadi hanyalah orang-orang yang memiliki uang mengurangi aktifitas pembelian mereka. Istilah sebagian ekonom adalah kecepatan perputaran uang (money velocity) yang menurun.
US dolar yang naik di tahun 2008 sampai awal tahun 2009 ini, adalah karena pemerintah Amerika mati-matian meminjam uang dari tangan publik. Bursa saham dan pasar surat hutang korporat menjadi korban dari siklus itu. Uang yang harusnya bisa berputar di kedua pasar ini berpindah ke pasar surat hutang negara.
Lambatnya perputaran uang juga menyebabkan debitur (individu maupun korporat) kesulitan untuk mendapatkan dolar untuk membayar. Maka dolar pun menguat pada masa itu.
Mengenai monetisasi, saya pernah menjelaskan kepada Anda bahwa tindakan mencetak uang bisa menghasilkan efek yang berbeda bila dilakukan dengan tujuan / aktivitas yang berbeda.
Bila uang baru digunakan untuk mewakili penciptaan barang-barang baru, maka uang (walaupun hanya terbuat dari kertas bahkan cuma sebuah angka elektronis), akan tetap bernilai. Sebaliknya, semakin sering barang yang sama dijadikan sebagai jaminan penciptaan uang (kredit), semakin tidak bernilai uang yang eksis.
Keputusan pemerintah Amerika dan Inggris untuk mencetak uang untuk membailout perbankan, dan membeli aset-aset sampah di neraca mereka, akan menghasilkan efek yang sama yang terjadi pada Indonesia saat pemerintah membailout perbankan nasional tahun 1997-1998.
Ini bukan saat untuk melihat chart dan menganalisa gerakan technical USD. Apa yang akan terjadi terhadap USD adalah devaluasi!
Apakah mungkin menghentikan prospek kehancuran dolar Amerika?
Pertama, kalau secara ajaib pemerintah Amerika memutuskan secara tegas bahwa mereka tidak akan membailout lagi bank-bank yang insolvent.
Kedua, kalau secara ajaib pemerintah Amerika bersedia mengurangi secara masif sisi pengeluaran dalam APBN mereka. Proyek-proyek infrastruktur pemerintah, layanan institusi publik, ongkos operasional militer, janji-janji asuransi dan pemeliharaan kesehatan publik, dll.
Ketiga, ada crash spektakuler di bursa saham dan pasar obligasi. Ketakutan ekstrim publik di kedua pasar ini secara relatif akan menguntungkan surat hutang berbagai negara, termasuk surat hutang pemerintah Amerika.
Kalau Anda ikut membaca berita, saya rasa Anda akan meragukan bahwa pemerintah Amerika bersedia melakukan 2 hal pertama di atas. The Fed mengatakan quantitative easing mereka akan berakhir Oktober ini. Dugaan saya adalah mereka sedang berbohong! Darimana uang untuk menjalankan anggaran tahunan mereka kalau bukan dari mencetak uang baru?
Penerimaan pajak di hampir semua negara bagian sudah menurun secara signifikan, prospek pasar tenaga kerja juga amat buruk, dan dengan demikian prospek penerimaan pajak di tahun anggaran berikut juga amat buruk. Dan kalaupun rakyat Amerika sekarang mulai rajin menabung dan bukan lagi rajin berhutang, kemungkinan mereka untuk menyisihkan tabungan mereka untuk membeli surat hutang pemerintah mereka juga amat sangat kecil. Ingat, bunga surat hutang pemerintah Amerika saat ini sangat rendah.
Ditambah dengan turunnya import oleh konsumen Amerika, maka negara-negara kreditur Amerika yang selama ini aktif membeli surat hutang Amerika tidak lagi memiliki cukup uang untuk terus membeli surat hutang mereka.
Mengapa bunga treasury rendah? Karena The Fed secara sengaja ikut membeli surat hutang negara dan menekan bunga / yieldnya. Untuk apa? Karena kemampuan pemerintah Amerika untuk menyicil bunga hutang nasional mereka ($12 trilyun) sudah tidak ada. Kalau bunga surat hutang pemerintah naik di saat seperti ini, ini sama saja dengan suntikan mati bagi pemerintah di sana.

Kalau di tahun anggaran baru ini (mulai 30 September 2009), Anda kembali mendengar berita quantitative easing dari pemerintah Amerika, maka secara resmi bisa dikatakan bahwa Amerika memang sudah memasuki era baru, era mencetak uang untuk membayar tagihan.
Dan kalau memang itu yang terjadi, maka skenario ketiga, crash spektakuler di bursa saham dan obligasi, mungkin akan mengecil. Daripada membeli surat hutang negara & dolar, orang kemungkinan lebih memilih membeli kepemilikan perusahaan (saham), surat hutang korporat, ataupun komoditi.
Dalam dolar-system ini, memang benar dolar Amerika adalah nyawa dari aktivitas perdagangan dunia. Dan kenyataannya, kita memang belum menemukan alternatif yang mudah untuk dipraktekkan dalam jangka pendek.
Tetapi, bukan karena tidak ada alternatif, lantas dolar tidak akan jatuh. Sebuah perumpamaan untuk Anda, kalau kebetulan Anda berada di kapal Titanic, dan seorang penumpang yang lain berkata kepada Anda:
Kapal ini tidak mungkin tenggelam! Mengapa? Sederhana, karena tidak cukup tersedia kapal pelampung (alternatif).
Apakah Anda akan mempercayai teori dia? Hehe..
Apa yang Anda lihat akhir-akhir ini, relatif naiknya bursa saham, turunnya nilai dolar, dan naiknya harga komoditi, hanyalah ancang-ancang pasar. Sebuah peringatan kepada The Fed untuk tidak lagi melanjutkan quantitative easing mereka.
Tetapi kalau mereka ngotot melanjutkannya, maka dalam waktu beberapa bulan pertama di tahun anggaran baru mereka, mereka pasti akan mendapatkan peringatan keras berikut. Saat itu, hal yang paling mungkin untuk terjadi di pasar valuta asing adalah:
SELL USD!
Selasa, 14 Juli 2009
Ikan Kecil Di Samudra Dusta
Saya rasa semua orang pernah merasa heran, kalau penyebab kemiskinan adalah kurangnya uang, mengapa dunia ini tidak mencetak lebih banyak uang dan menyebarkannya ke penduduk? Siapa tahu semua masalah kemiskinan di dunia bisa selesai dalam seminggu. Ini mungkin akan sama mengharukannya seperti mendengar Michael Jackson menyanyikan Heal The World…
Dan yang juga mengherankan, kalau negara memang bisa mencetak uang, mengapa mereka bisa terjerat dalam hutang, terbenam dalam tanggungjawab untuk membayar barang yang konon bisa mereka ciptakan.
Dengan berlalunya waktu, perlahan-lahan saya baru mulai sadar ternyata yang namanya “fakta” itu relatif, bisa berubah-ubah di dunia, tergantung siapa yang sedang berkuasa, tergantung siapa yang menjadi Sang Pemenang.
Sebagian pelajaran yang saya pelajari di zaman sekolahan, dan sejumlah informasi yang saya baca di koran, kalau dipikir-pikir sebenarnya hanyalah opini publik dan ilusi populer. Dirancang sedemikian rupa supaya sang pemenang akan tetap menjadi pemenang, dan si pecundang tetap akan menjadi pecundang. Yang berada di puncak piramida akan tetap berada di puncak, dan yang bergerombol di sisi bawah piramida akan tetap bergerombol di bawah.
Kita semua hanyalah ikan-ikan kecil di samudra dusta…
Apa yang Anda baca di sini?
Hmm… Mungkin ini termasuk sisa-sisa “fakta” versi si “pecundang.” Ditulis sedemikian rupa supaya para pecundang ini bisa mengetahui mengapa mereka adalah pecundang, dan berharap agar mereka bisa membalikkan situasi dan menciptakan dunia yang berbeda.
Ini ada beberapa postingan sebelumnya, mungkin ada baiknya Anda membacanya duluan.
• Saya menginginkan seluruh dunia plus 5%
• Debt based money system 1
• Debt based money system 2
• Bankir, Rakyat, & Pemerintah
• Kelaparan di Dunia Yang Berlimpah
• Mata Uang & Anggaran Belanja
• Stimulus Pemerintah
• Hak Pemerintah Untuk Mencetak Uang
Anda bisa membayangkan ada banyak sekali uang di dunia, bukan begitu? Uang-uang itu muncul karena ada orang yang mengajukannya ke perbankan. Uang-uang itu mewakili rumah, mobil, mesin, komoditi, dan berbagai hasil kerja keras seluruh penduduk di dunia.
Memang benar yang mencetak uang, medium transaksi resmi yang beredar, biasanya adalah negara, tetapi tidak ada uang yang beredar secara gratis, bahkan oleh negara. Uang hanya akan muncul di tangan seseorang kalau ada seseorang, sebuah institusi, ataupun sebuah negara yang mengajukan hutang terlebih dahulu.
Hari ini, kalau Anda pergi ke bank dan mendapatkan Rp 200 juta untuk membangun rumah impian Anda, maka suplai uang bertambah Rp 200 juta. Beberapa bulan kemudian, saat rumah Anda selesai, orang akan berkata:
"Hei, lihat, ada sebuah rumah, dan ada setumpuk uang, Rp 200 juta, untuk mewakili nilai rumah tersebut. Uang ini akan eksis secara permanen di masyarakat, berpindah tangan dari satu orang ke orang yang lain selama-lamanya."
Tetapi kawan, yang terjadi sebenarnya sedikit berbeda…:
1. Dunia ini bertambah sebuah rumah.
2. Dunia ini bertambah uang Rp 200 juta.
Rp 200 juta ini tercatat di sisi peminjam sebagai hutang (-200), dan di sisi kreditur sebagai piutang (+200). Net resultannya adalah nol. Dan kalau Anda memperhatikan bahwa si peminjam sebenarnya harus membayar lebih dari yang dia dapatkan, maka net resultan dari kejadian ini adalah NEGATIF (dalam satuan rupiah).
Dan satu hal lagi, Rp 200 juta ini, dalam realita, tidaklah eksis secara permanen. Kalau perjanjian kredit Anda dengan bank adalah 5 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 5 tahun. Kalau perjanjiannya adalah selama 15 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 15 tahun (abaikan dulu bunga pinjaman, kalau dengan bunga, uang ini akan menghilang sebelum masa kredit berakhir).
Orang-orang yang kemudian mendapatkan bayaran atas beredarnya Rp 200 juta ini, para tukang bangunan, kontraktor, toko bangunan, dll, mereka tentu saja akan menyimpannya sebagai tabungan mereka, dan bertekad untuk tidak berpisah dengan uang mereka dengan sekuat tenaga.
Lantas yang akan Anda gunakan untuk membayar Rp 200 juta ini kepada sang pencipta uang? Ya, itu urusanmu kawan. Hanya Andalah yang tahu. Yang pasti, Anda harus menemukan Rp 200 juta + bunganya dari tangan orang lain yang sumber uang juga sama seperti Anda, kalau bukan dari kredit (hutang), ya berarti dari tabungan yang diperolehnya dari kredit (hutang) orang lain sebelumnya.
Tapi bagaimana kalau apapun cara yang Anda pikirkan, Anda masih juga tidak bisa membayar? Ya, bank akan menyita rumah Anda. Dalam satuan unit rumah, mereka mendapatkan 1 unit rumah Anda. Dalam satuan rupiah, mereka bisa untung, bisa juga rugi, tergantung situasi pasar properti waktu itu.
Kalau Anda pada akhirnya memang gagal bayar, bank akan terpaksa menghapus (write-off) piutang mereka, tetapi tabungan pihak lain (nasabah bank) tidak bisa dihapus begitu saja. Karena itu yang dihapus adalah modal bank sendiri. Dan ketika jumlah debitur gagal bayar seperti Anda sedemikian besar, dan modal bank tidak sanggup lagi menomboki volume uang yang hangus ini, maka tabungan publiklah yang menghilang…
Untuk mencegah kemarahan publik, biasanya negara kemudian akan tampil sebagai sang penyelamat dan menyetor modal ke perbankan. Inilah maksud talangan / bailout. Uang talangan ini datang dari mana? Kalau negara punya uang, itu akan datang dari tabungan negara. Kalau negara tidak punya uang, maka uang itu akan datang lewat hutang negara.
Oleh karena itu, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ini, maka semua manusia dan semua negara di dunia ini harus saling membantu, mencari peluang dan rencana untuk menciptakan proyek baru, dan demikian menciptakan uang (hutang) baru, supaya pengaruh negatif, resultan atas akumulasi transaksi-transaksi mereka, tidak dirasakan di planet ini.
Species manusia sudah menginflasikan suplai uang (hutang) selama berabad-abad dalam Debt based money system ini. Cara menghindari krisis ekonomi adalah kalau selalu ada sekelompok manusia di dunia ini yang bisa diandalkan untuk terus menginflasikan suplai uang (hutang) dalam volume yang substansial, agar resultan negatif dari transaksi-transaksi sebelumnya dari seluruh species ini tidak dirasakan oleh kita semua.
Keseluruhan sistem keuangan modern sudah sakit sejak detik pertama debt based money system dipraktekkan. Alasan mengapa jarang ada masalah adalah karena kemampuan species manusia untuk mengeksplorasi dunia dan mengajukan hutang baru memanglah sangat besar.
Selama berabad-abad, manusia bukan hanya sanggup mempertahankan suplai uang, manusia bahkan sanggup terus meningkatkan suplai uang (hutang). Species homo sapiens benar-benar luar biasa. Selalu ada caranya menciptakan proyek baru, selalu ada caranya membuka hutan baru, selalu ada caranya menemukan permintaan untuk membangun gedung-gedung mutakhir yang terbaru.
Namun, setiap beberapa generasi, akan tiba sebuah era di mana beban hutang tidak lagi bisa ditanggungi, dan akhirnya konsekuensi logis dari Debt as Money akan dirasakan untuk kurun waktu tertentu. Setiap beberapa generasi Anda akan melihat runtuhnya kemampuan publik untuk mengajukan hutang baru dan kebangkrutan massal. Publik bangkrut karena tidak sanggup membayar, dan perbankan bangkrut karena insolvency yang tidak lagi bisa ditutupi.
Dan kalau Anda perhatikan, skala boom & bust setiap beberapa generasi itu akan terus bertambah besar, baik dari sisi volume uang, maupun dari sisi jumlah populasi yang terlibat.
1 orang di tengah-tengah 5 orang yang kelaparan tidaklah sama dengan 10 orang di tengah-tengah 50 orang yang kelaparan. Mungkin para penggemar rasio akan berargumentasi bahwa kedua-duanya sama saja, hanya 20% dari populasi… Tapi 1 tetaplah bukan 10…
1 juta manusia yang kehilangan pekerjaan tidaklah sama dengan 10 juta manusia yang kehilangan pekerjaan. Saya sedang membicarakan jumlah nyawa manusia yang terkena akibat kawan… Kalau depresi sebelumnya berakhir dengan likuidasi liabilitas (perang dunia) yang membunuh puluhan juta orang, berapa orang yang akan dikorbankan di siklus kali ini? Ratusan juta? 1 milyar? Atau berapa? Dan lewat cara apa?
Hutang Pemerintah
Debt based money system + riba akan membawa dampak negatif tak berujung di manapun sistem ini dipraktekkan (malangnya, sistem ini dipraktekkan di seluruh negara). Dengan berlalunya waktu, tahun demi tahun, generasi demi generasi, yang akan terjadi hanyalah kemiskinan yang terus bertambah besar dan masalah sosial-politik-budaya yang tak habis-habisnya.
Pemerintah eksis untuk menyelesaikan masalah publik. Semakin banyak masalah, semakin besar skala pemerintah. Dalam konteks hubungan antara skala pemerintah dengan perkembangan negara, apakah sebuah negara termasuk maju atau tidak, Anda perlu menggunakan sedikit imajinasi Anda, mana sebab-mana akibat.
Apakah publik yang produktif yang membuat sebuah bangsa menjadi besar, atau sebuah skala pemerintahan yang besar yang membuat sebuah bangsa menjadi besar? Orang bisa berargumentasi di kedua arah sekaligus, dan kedua belah pihak memang akan menemukan beberapa poin yang valid.
Namun, motor penggerak utama apakah sebuah bangsa bisa maju atau tidak, tetap adalah rakyat mereka. Rakyat yang cerdas, kreatif, dan pekerja keras akan bisa menghasilkan produksi yang bisa dijual keluar, dan kemudian mengumpulkan kekayaan. Setelah itu, barulah pemerintahan mereka bisa menemukan sumber uang / mesin ATM mereka, baik lewat penarikan pajak maupun lewat penjualan surat hutang.
Skala pemerintah (termasuk skala hutang mereka) tidak menyebabkan bangsa mereka menjadi besar. Sebaliknya, skala pemerintah justru berhubungan secara signifikan dengan akumulasi masalah ekonomi-sosial-politik-budaya yang terjadi di negara tersebut. Itu adalah akibat, bukan sebab.
Hal lainnya, saya pernah menjelaskannya sebelumnya, konsumen membayar bunga atas uang yang mereka minta dari perbankan. Dan mereka membayar sekali lagi saat pemerintah menerbitkan surat hutang. Ingat, kita sedang hidup di sebuah sistem di mana semua uang pemerintah pasti secara langsung ataupun tidak langsung diambil dari rakyat mereka. Surat hutang negara tidak dibayar oleh negara, itu dibayar oleh publik.
Sekalipun ada sebuah negara yang surat hutangnya dibiayai secara masif oleh rakyat mereka sendiri. Uang berpindah tangan dari rakyat yang satu ke pemerintah dan lalu kembali ke tangan rakyat yang lain. Lantas apakah itu kemudian pantas disebut fenomena yang baik? Kalau itu adalah hal yang baik, mengapa tidak sekalian saja menaikkan pajak penghasilan menjadi 50%, 70%, atau 90%? Toh uang tetap beredar di negara sendiri.
Hehe... Ini akan menjadi kekonyolan besar, tetapi tidak lucu. Dengan pajak yang sedemikian tinggi, siapalah yang mau bekerja? Siapalah yang mau menjadi wirausahawan? Nyaris semua jerih payah orang-orang yang produktif akan diminta kembali oleh pemerintahan mereka!
Keadaan menjadi lebih rumit ketika surat hutang sebuah negara dibiayai dari uang dari luar negeri, dan juga dalam mata uang luar negeri. Bayangkan negeri X…
X meminjam USD 1 milyar dari World Bank. Katanya uang ini adalah untuk pembangunan jalan raya di negara X. Tapi ternyata World Bank tidak hanya memberikan uang, mereka juga menunjuk lansung siapa yang menjadi kontraktor utama dan supplier material, yang sebenarnya adalah bagian dari kroni para bankir di negara mereka sendiri. Uang mengalir dari World Bank ke rekening lain yang juga ditunjuk oleh World Bank. Dari USD 1 milyar ini, misalnya hanya USD 400 juta yang akhirnya beredar di negara X.
Pertanyaannya, bagaimana caranya negara X menemukan USD 600 juta + bunga untuk dikembalikan ke World Bank?
Jawaban populer mungkin adalah dengan selesainya jalan baru ini, masyarakat bisa memproduksi secara lebih efektif dan efisien, dan lama-kelamaan hutang akan terbayar, pokoknya pasti akan terbayar. Bagaimaan matematika asumsi ini bisa dijustifikasi, nobody cares, it just doesn’t matter you idiot…
Tapi kawan… Paska selesainya proyek, sisa USD 400 juta tadi sekarang sudah menjadi tabungan rakyat X yang bekerja di proyek itu, itu bukan lagi uang negara X. USD hanya bisa masuk ke kantong negara X atas pajak dari rakyatnya. Dari total pinjaman USD 1 milyar ini, anggaplah hanya ada USD 50 juta yang bisa kembali ke pemerintah menjadi pajak, lantas sisa USD 950 juta + bunga yang harus dibayarkan akan datang dari mana? Jalan raya itu tidak akan serta-merta menghasilkan dolar bagi pemerintahan negara X. Uang USD itu harus datang lewat cara yang lain.
Berapa banyak sebenarnya rakyat mereka harus menjual barang ke luar negeri, berapa banyak sebenarnya negara X harus mengeksplorasi alamnya dan menjualnya keluar, supaya pemerintah negara X bisa mendapatkan pajak yang cukup untuk membayar tagihan USD 1 milyar + bunga ini?
Dan pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apa bedanya USD dengan uang negara X? Mengapa ada proyek yang bisa dilaksanakan dengan uang yang dicetak Federal Reserve tetapi proyek yang sama tidak boleh dilaksanakan dengan uang yang dicetak bank negara X?
Anyway… ini memang masalah yang kompleks. Transaksi hutang perlu dianalisa case by case, karena setiap kasus memang berbeda.
Hal lain yang perlu Anda sadari adalah permasalahan hutang negara tidaklah berjalan sendiri, bersamaan dengan pasar valuta asing (kontrol nilai tukar mata uang), hutang luar negeri, selain beberapa sisi positifnya, juga membawa sisi negatif yang bisa sangat berbahaya.
Jadi, sehubungan dengan isu peranan pemerintah, Anda memang harus menggunakan imajinasi untuk memahami masalah. Apakah Anda benar-benar ingin hidup di negara yang penuh dengan campur tangan pemerintah atau tidak? Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda ingin mempertahankan sistem debt as money, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak masalah di masyarakat, sistem yang memastikan skala pemerintah (termasuk hutang pemerintah) yang akan terus bertambah besar, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak tagihan dan pajak yang harus dibayar oleh anggota masyarakat yang masih produktif untuk menolong rekan-rekan mereka yang telah jatuh menjadi pecundang dalam sistem debt as money ini.
Ada sejumlah berita yang mengatakan bahwa sejumlah negara sudah mengurangi pajak kepada rakyatnya dalam menghadapi krisis global ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah APBN berbagai negara sesungguhnya sedang meningkat karena mereka sedang melancarkan proyek “stimulus” masing-masing?
Anda masih ingat pos penerimaan negara?
• Pajak
• Dividen perusahaan negara
• & Penerbitan berbagai jenis surat hutang
Kalau setoran pajak berkurang, dan pemasukan dividen perusahaan negara tidak bertambah, maka cara lain yang pemerintah gunakan untuk menutupi anggaran mereka pasti adalah dengan peningkatan penerbitan surat hutang negara. Efeknya sama saja, sebab yang membayar surat hutang tetap adalah rakyat mereka. Yang berbeda adalah timing pembayarannya. Kalau penerbitan surat hutang berhasil, maka setoran pajak yang perlu pemerintah tagih bisa diundur… Tetapi diundur tidak sama dengan dikurangi kawan… Diundur versi ini akan menyebabkan tagihan pajak yang semakin membesar di masa mendatang.
Kecuali Anda sama sekali tidak membaca berita, bila tidak Anda seharusnya tahu bahwa negara-negara “maju” seperti Amerika dan Inggris sebenarnya sudah sangat dekat dengan kebangkrutan. Mengapa masih ada begitu banyak orang yang justru mengagungkan mereka dan menganjurkan bahwa kita perlu meniru langkah-langkah mereka? Naikkan terus volume hutang, baik hutang konsumen maupun hutang negara, it doesn’t matter baby, just follow USA!
Dalam sistem yang kita anut, pemerintah tidak bisa menciptakan uang mereka sendiri. Pemerintah sesungguhnya hanya bisa meminjam… They can only borrow… Dan ketika Anda mendengar bahwa pemerintah sedang “mencetak uang” (monetisasi), apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah mereka sedang meminjam uang masa depan rakyat mereka. Mengapa? Sebab uang “cetakan” itu akan dibayar kembali dalam bentuk pajak yang ditagih kepada rakyat mereka di tahun-tahun mendatang.
Mengenai monetisasi, kalau disederhanakan, kredit konsumen adalah monetisasi dalam skala retail. Negara yang "mencetak uang" adalah monetisasi skala nasional.
Kapan pemerintah akan “mencetak uang”? Jawabannya adalah ketika mereka gagal meminjam. Tidak masalah pinjaman dicari dari dalam negeri ataupun luar negeri. Ketika tidak ada yang mau meminjami mereka secara suka rela, alternatif mereka hanyalah “meminjam secara paksa.”
Apakah saya sedang memojokkan pemerintah dalam blog ini?
Saya tidak merasa demikian. Sebaliknya, saya sebenarnya sedang mencoba menolong mereka, dan menolong diri kita sendiri.
Coba Anda bayangkan situasi ini:
Sekelompok orang terdampar di sebuah pulau terpencil. Di antara mereka, ada tenaga kerja yang masih muda dan kuat. Dan di pulau tersebut, ternyata tersedia material bangunan seperti pasir, semen, batu, kabel, dan lainnya. Dan orang-orang ini sebenarnya membutuhkan sebuah bangunan sebagai tempat berteduh mereka.
Tetapi, karena tidak ada uang sebagai medium transaksi, para pemuda itu pun menganggur. Mereka menghabiskan waktu mereka meratapi nasib buruk mereka, dan membayangkan betapa nikmatnya berada di kota mereka sebelumnya.
Mungkin kedengarannya terlalu ekstrim, tetapi sesungguhnya hal seperti ini bisa saja terjadi, apalagi dalam masyarakat yang kompleks. Otak kita sudah ketagihan dengan uang. Tanpa uang, masyarakat tidak berfungsi. Peradaban pun bisa macet.
Ini kenyataan.
Pemerintah negara XYZ bisa mengabaikan sejumlah pekerjaan umum mereka hanya karena tidak ada uang. Dan orang-orang tidak pernah bertanya, kalau rakyat bisa menciptakan uang untuk berbagai produk yang mereka produksi, mengapa pemerintah tidak boleh menciptakan uang atas infrastruktur yang mereka bangun?
Mengapa uang pemerintah harus berasal dari uang-uang yang eksis sebelumnya? Pemerintah mencetak uang itu inflationary? Harga akan melambung ke langit? Bisa ya dan tidak, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu.
Tetapi, kalau orang bisa menuduh tindakan pemerintah untuk mencetak uang itu inflationary, mengapa mereka tidak pernah berdemo ke bank komersial dan melemparkan isu yang sama?
Bank komersial melakukannya setiap hari, sepanjang tahun, dan sudah berlangsung selama berabad-abad! Kredit, dalam praktek, adalah uang. Dan perbankan sudah mencitakan kredit selama ratusan tahun.
Mengapa kalau sebuah negara mencetak uang biasanya mata uangnya jatuh? Ya sekali lagi, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu. Di postingan sebelumnya saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa tidak semua uang yang diciptakan menghasilkan nilai yang sama.
Menciptakan uang untuk membuat jalan tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk menomboki modal sebuah bank. Menciptakan uang untuk membangun stasiun pembangkit listrik tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk membayar tagihan kartu kredit.
Penyebab kedua jatuhnya mata uang adalah invisible hand Sang Majikan di puncak piramida. Kalau hari ini Anda mendengar pemerintah negara X memutuskan untuk mencetak sejumlah uang, bukan hutang kepada siapapun, untuk digunakan di negara mereka, Anda bisa bertaruh mata uang mereka akan langsung dihancurkan di pasar valas di London dan New York dalam waktu singkat.
Dan kalau hari ini, yang sedang melakukan quantitave-easing adalah Indonesia, dan bukannya Amerika, Anda bisa bertaruh rupiah yang ada di rekening Anda sekarang sudah jatuh sangat drastis nilainya.
Everybody is not equal my friend…
Hak untuk menciptakan uang adalah milik para Money Masters secara eksklusif. Penguasa tertinggi di dunia adalah bankir yang bisa memproduksi uang di puncak piramida dunia. Di bawah mereka adalah bankir-bankir lokal dengan pengaruh yang lebih minor. Jangan berharap mereka mau melepaskan sistem moneter seperti ini.
Pengaruh hutang negara terhadap rakyat mereka sering kali tidak kasat mata. Dan para aktor di belakang layar, mereka bisa sama sekali tak terdengar di media. Media akan sibuk menulis berita politisi dan partai politik mana yang bisa menyelesaikan masalah, atau politisi dan partai politik mana yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tetapi mereka tidak akan melaporkan asal-muasal masalah yang sebenarnya.
Untuk setiap 1 sen uang yang dibayar kepada World Bank, negara X kehilangan 1 sen uang yang mungkin bisa dipakai untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menjaga fakir miskin mereka, dan memelihara infrastruktur mereka. Ini semua tidak kelihatan kecuali Anda mengimajinasikannya.
Anda dibujuk membayar pajak, dibombardir dengan slogan "Orang Bijak Taat Pajak,” bahwa uang itu adalah untuk Anda juga, negara membutuhkan uang untuk membangun ini dan membangun itu. Memang kata-kata itu tidak sepenuhnya salah, tapi kalimat itu juga tidak sepenuhnya jujur. Jarang-jarang Anda akan mendengar bahwa negara juga membutuhkan pajak Anda untuk membayar IMF, World Bank, ADB, dan majikan-majikan lainnya, bukan begitu?
Bagi orang yang tidak menyukai topik zionisme dan isu politik yang lain, kabar baiknya adalah Anda memang tidak harus memikirkannya. Just follow the money. Kalau Anda bisa membayangkan bagaimana aliran uang mengalir di dunia, perlahan-lahan Anda akan memahaminya sendiri.
Zionis tidak harus eksis secara fisik di negara manapun. Yang mereka perlukan hanyalah memastikan bahwa Anda berada di dalam bagan piramid keuangan mereka. Memungut $100 dari setiap orang di sebuah negara dengan 1 juta penduduk tanpa paksaan yang terlalu kasat mata bahkan lebih efektif dibandingkan dengan menduduki secara paksa suatu negara dengan 1 juta penduduk dan kemudian merampok mereka $100 juta.
Adalah pilihan Anda, apakah Anda tertarik untuk menyebarkan “fakta” versi “pecundang” ini kepada ikan-ikan kecil lainnya, bila tidak saya hanya bisa mengatakan kepada Anda… Selamat berjuang dan memanjat bagan piramida dunia... Moga-moga bukan Anda sebagai korban berikut yang akan tenggelam di samudra dusta…
• Link APBN
• Seputar Hutang Indonesia
Dan yang juga mengherankan, kalau negara memang bisa mencetak uang, mengapa mereka bisa terjerat dalam hutang, terbenam dalam tanggungjawab untuk membayar barang yang konon bisa mereka ciptakan.
Dengan berlalunya waktu, perlahan-lahan saya baru mulai sadar ternyata yang namanya “fakta” itu relatif, bisa berubah-ubah di dunia, tergantung siapa yang sedang berkuasa, tergantung siapa yang menjadi Sang Pemenang.
Sebagian pelajaran yang saya pelajari di zaman sekolahan, dan sejumlah informasi yang saya baca di koran, kalau dipikir-pikir sebenarnya hanyalah opini publik dan ilusi populer. Dirancang sedemikian rupa supaya sang pemenang akan tetap menjadi pemenang, dan si pecundang tetap akan menjadi pecundang. Yang berada di puncak piramida akan tetap berada di puncak, dan yang bergerombol di sisi bawah piramida akan tetap bergerombol di bawah.
Kita semua hanyalah ikan-ikan kecil di samudra dusta…
Apa yang Anda baca di sini?
Hmm… Mungkin ini termasuk sisa-sisa “fakta” versi si “pecundang.” Ditulis sedemikian rupa supaya para pecundang ini bisa mengetahui mengapa mereka adalah pecundang, dan berharap agar mereka bisa membalikkan situasi dan menciptakan dunia yang berbeda.
Ini ada beberapa postingan sebelumnya, mungkin ada baiknya Anda membacanya duluan.
Anda bisa membayangkan ada banyak sekali uang di dunia, bukan begitu? Uang-uang itu muncul karena ada orang yang mengajukannya ke perbankan. Uang-uang itu mewakili rumah, mobil, mesin, komoditi, dan berbagai hasil kerja keras seluruh penduduk di dunia.
Memang benar yang mencetak uang, medium transaksi resmi yang beredar, biasanya adalah negara, tetapi tidak ada uang yang beredar secara gratis, bahkan oleh negara. Uang hanya akan muncul di tangan seseorang kalau ada seseorang, sebuah institusi, ataupun sebuah negara yang mengajukan hutang terlebih dahulu.
Hari ini, kalau Anda pergi ke bank dan mendapatkan Rp 200 juta untuk membangun rumah impian Anda, maka suplai uang bertambah Rp 200 juta. Beberapa bulan kemudian, saat rumah Anda selesai, orang akan berkata:
"Hei, lihat, ada sebuah rumah, dan ada setumpuk uang, Rp 200 juta, untuk mewakili nilai rumah tersebut. Uang ini akan eksis secara permanen di masyarakat, berpindah tangan dari satu orang ke orang yang lain selama-lamanya."
Tetapi kawan, yang terjadi sebenarnya sedikit berbeda…:
1. Dunia ini bertambah sebuah rumah.
2. Dunia ini bertambah uang Rp 200 juta.
Rp 200 juta ini tercatat di sisi peminjam sebagai hutang (-200), dan di sisi kreditur sebagai piutang (+200). Net resultannya adalah nol. Dan kalau Anda memperhatikan bahwa si peminjam sebenarnya harus membayar lebih dari yang dia dapatkan, maka net resultan dari kejadian ini adalah NEGATIF (dalam satuan rupiah).
Dan satu hal lagi, Rp 200 juta ini, dalam realita, tidaklah eksis secara permanen. Kalau perjanjian kredit Anda dengan bank adalah 5 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 5 tahun. Kalau perjanjiannya adalah selama 15 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 15 tahun (abaikan dulu bunga pinjaman, kalau dengan bunga, uang ini akan menghilang sebelum masa kredit berakhir).
Orang-orang yang kemudian mendapatkan bayaran atas beredarnya Rp 200 juta ini, para tukang bangunan, kontraktor, toko bangunan, dll, mereka tentu saja akan menyimpannya sebagai tabungan mereka, dan bertekad untuk tidak berpisah dengan uang mereka dengan sekuat tenaga.
Lantas yang akan Anda gunakan untuk membayar Rp 200 juta ini kepada sang pencipta uang? Ya, itu urusanmu kawan. Hanya Andalah yang tahu. Yang pasti, Anda harus menemukan Rp 200 juta + bunganya dari tangan orang lain yang sumber uang juga sama seperti Anda, kalau bukan dari kredit (hutang), ya berarti dari tabungan yang diperolehnya dari kredit (hutang) orang lain sebelumnya.
Tapi bagaimana kalau apapun cara yang Anda pikirkan, Anda masih juga tidak bisa membayar? Ya, bank akan menyita rumah Anda. Dalam satuan unit rumah, mereka mendapatkan 1 unit rumah Anda. Dalam satuan rupiah, mereka bisa untung, bisa juga rugi, tergantung situasi pasar properti waktu itu.
Kalau Anda pada akhirnya memang gagal bayar, bank akan terpaksa menghapus (write-off) piutang mereka, tetapi tabungan pihak lain (nasabah bank) tidak bisa dihapus begitu saja. Karena itu yang dihapus adalah modal bank sendiri. Dan ketika jumlah debitur gagal bayar seperti Anda sedemikian besar, dan modal bank tidak sanggup lagi menomboki volume uang yang hangus ini, maka tabungan publiklah yang menghilang…
Untuk mencegah kemarahan publik, biasanya negara kemudian akan tampil sebagai sang penyelamat dan menyetor modal ke perbankan. Inilah maksud talangan / bailout. Uang talangan ini datang dari mana? Kalau negara punya uang, itu akan datang dari tabungan negara. Kalau negara tidak punya uang, maka uang itu akan datang lewat hutang negara.
Oleh karena itu, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ini, maka semua manusia dan semua negara di dunia ini harus saling membantu, mencari peluang dan rencana untuk menciptakan proyek baru, dan demikian menciptakan uang (hutang) baru, supaya pengaruh negatif, resultan atas akumulasi transaksi-transaksi mereka, tidak dirasakan di planet ini.
Species manusia sudah menginflasikan suplai uang (hutang) selama berabad-abad dalam Debt based money system ini. Cara menghindari krisis ekonomi adalah kalau selalu ada sekelompok manusia di dunia ini yang bisa diandalkan untuk terus menginflasikan suplai uang (hutang) dalam volume yang substansial, agar resultan negatif dari transaksi-transaksi sebelumnya dari seluruh species ini tidak dirasakan oleh kita semua.
Keseluruhan sistem keuangan modern sudah sakit sejak detik pertama debt based money system dipraktekkan. Alasan mengapa jarang ada masalah adalah karena kemampuan species manusia untuk mengeksplorasi dunia dan mengajukan hutang baru memanglah sangat besar.
Selama berabad-abad, manusia bukan hanya sanggup mempertahankan suplai uang, manusia bahkan sanggup terus meningkatkan suplai uang (hutang). Species homo sapiens benar-benar luar biasa. Selalu ada caranya menciptakan proyek baru, selalu ada caranya membuka hutan baru, selalu ada caranya menemukan permintaan untuk membangun gedung-gedung mutakhir yang terbaru.
Namun, setiap beberapa generasi, akan tiba sebuah era di mana beban hutang tidak lagi bisa ditanggungi, dan akhirnya konsekuensi logis dari Debt as Money akan dirasakan untuk kurun waktu tertentu. Setiap beberapa generasi Anda akan melihat runtuhnya kemampuan publik untuk mengajukan hutang baru dan kebangkrutan massal. Publik bangkrut karena tidak sanggup membayar, dan perbankan bangkrut karena insolvency yang tidak lagi bisa ditutupi.
Dan kalau Anda perhatikan, skala boom & bust setiap beberapa generasi itu akan terus bertambah besar, baik dari sisi volume uang, maupun dari sisi jumlah populasi yang terlibat.
1 orang di tengah-tengah 5 orang yang kelaparan tidaklah sama dengan 10 orang di tengah-tengah 50 orang yang kelaparan. Mungkin para penggemar rasio akan berargumentasi bahwa kedua-duanya sama saja, hanya 20% dari populasi… Tapi 1 tetaplah bukan 10…
1 juta manusia yang kehilangan pekerjaan tidaklah sama dengan 10 juta manusia yang kehilangan pekerjaan. Saya sedang membicarakan jumlah nyawa manusia yang terkena akibat kawan… Kalau depresi sebelumnya berakhir dengan likuidasi liabilitas (perang dunia) yang membunuh puluhan juta orang, berapa orang yang akan dikorbankan di siklus kali ini? Ratusan juta? 1 milyar? Atau berapa? Dan lewat cara apa?
Hutang Pemerintah
Debt based money system + riba akan membawa dampak negatif tak berujung di manapun sistem ini dipraktekkan (malangnya, sistem ini dipraktekkan di seluruh negara). Dengan berlalunya waktu, tahun demi tahun, generasi demi generasi, yang akan terjadi hanyalah kemiskinan yang terus bertambah besar dan masalah sosial-politik-budaya yang tak habis-habisnya.
Pemerintah eksis untuk menyelesaikan masalah publik. Semakin banyak masalah, semakin besar skala pemerintah. Dalam konteks hubungan antara skala pemerintah dengan perkembangan negara, apakah sebuah negara termasuk maju atau tidak, Anda perlu menggunakan sedikit imajinasi Anda, mana sebab-mana akibat.
Apakah publik yang produktif yang membuat sebuah bangsa menjadi besar, atau sebuah skala pemerintahan yang besar yang membuat sebuah bangsa menjadi besar? Orang bisa berargumentasi di kedua arah sekaligus, dan kedua belah pihak memang akan menemukan beberapa poin yang valid.
Namun, motor penggerak utama apakah sebuah bangsa bisa maju atau tidak, tetap adalah rakyat mereka. Rakyat yang cerdas, kreatif, dan pekerja keras akan bisa menghasilkan produksi yang bisa dijual keluar, dan kemudian mengumpulkan kekayaan. Setelah itu, barulah pemerintahan mereka bisa menemukan sumber uang / mesin ATM mereka, baik lewat penarikan pajak maupun lewat penjualan surat hutang.
Skala pemerintah (termasuk skala hutang mereka) tidak menyebabkan bangsa mereka menjadi besar. Sebaliknya, skala pemerintah justru berhubungan secara signifikan dengan akumulasi masalah ekonomi-sosial-politik-budaya yang terjadi di negara tersebut. Itu adalah akibat, bukan sebab.
Hal lainnya, saya pernah menjelaskannya sebelumnya, konsumen membayar bunga atas uang yang mereka minta dari perbankan. Dan mereka membayar sekali lagi saat pemerintah menerbitkan surat hutang. Ingat, kita sedang hidup di sebuah sistem di mana semua uang pemerintah pasti secara langsung ataupun tidak langsung diambil dari rakyat mereka. Surat hutang negara tidak dibayar oleh negara, itu dibayar oleh publik.
Sekalipun ada sebuah negara yang surat hutangnya dibiayai secara masif oleh rakyat mereka sendiri. Uang berpindah tangan dari rakyat yang satu ke pemerintah dan lalu kembali ke tangan rakyat yang lain. Lantas apakah itu kemudian pantas disebut fenomena yang baik? Kalau itu adalah hal yang baik, mengapa tidak sekalian saja menaikkan pajak penghasilan menjadi 50%, 70%, atau 90%? Toh uang tetap beredar di negara sendiri.
Hehe... Ini akan menjadi kekonyolan besar, tetapi tidak lucu. Dengan pajak yang sedemikian tinggi, siapalah yang mau bekerja? Siapalah yang mau menjadi wirausahawan? Nyaris semua jerih payah orang-orang yang produktif akan diminta kembali oleh pemerintahan mereka!
Keadaan menjadi lebih rumit ketika surat hutang sebuah negara dibiayai dari uang dari luar negeri, dan juga dalam mata uang luar negeri. Bayangkan negeri X…
X meminjam USD 1 milyar dari World Bank. Katanya uang ini adalah untuk pembangunan jalan raya di negara X. Tapi ternyata World Bank tidak hanya memberikan uang, mereka juga menunjuk lansung siapa yang menjadi kontraktor utama dan supplier material, yang sebenarnya adalah bagian dari kroni para bankir di negara mereka sendiri. Uang mengalir dari World Bank ke rekening lain yang juga ditunjuk oleh World Bank. Dari USD 1 milyar ini, misalnya hanya USD 400 juta yang akhirnya beredar di negara X.
Pertanyaannya, bagaimana caranya negara X menemukan USD 600 juta + bunga untuk dikembalikan ke World Bank?
Jawaban populer mungkin adalah dengan selesainya jalan baru ini, masyarakat bisa memproduksi secara lebih efektif dan efisien, dan lama-kelamaan hutang akan terbayar, pokoknya pasti akan terbayar. Bagaimaan matematika asumsi ini bisa dijustifikasi, nobody cares, it just doesn’t matter you idiot…
Tapi kawan… Paska selesainya proyek, sisa USD 400 juta tadi sekarang sudah menjadi tabungan rakyat X yang bekerja di proyek itu, itu bukan lagi uang negara X. USD hanya bisa masuk ke kantong negara X atas pajak dari rakyatnya. Dari total pinjaman USD 1 milyar ini, anggaplah hanya ada USD 50 juta yang bisa kembali ke pemerintah menjadi pajak, lantas sisa USD 950 juta + bunga yang harus dibayarkan akan datang dari mana? Jalan raya itu tidak akan serta-merta menghasilkan dolar bagi pemerintahan negara X. Uang USD itu harus datang lewat cara yang lain.
Berapa banyak sebenarnya rakyat mereka harus menjual barang ke luar negeri, berapa banyak sebenarnya negara X harus mengeksplorasi alamnya dan menjualnya keluar, supaya pemerintah negara X bisa mendapatkan pajak yang cukup untuk membayar tagihan USD 1 milyar + bunga ini?
Dan pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apa bedanya USD dengan uang negara X? Mengapa ada proyek yang bisa dilaksanakan dengan uang yang dicetak Federal Reserve tetapi proyek yang sama tidak boleh dilaksanakan dengan uang yang dicetak bank negara X?
Anyway… ini memang masalah yang kompleks. Transaksi hutang perlu dianalisa case by case, karena setiap kasus memang berbeda.
Hal lain yang perlu Anda sadari adalah permasalahan hutang negara tidaklah berjalan sendiri, bersamaan dengan pasar valuta asing (kontrol nilai tukar mata uang), hutang luar negeri, selain beberapa sisi positifnya, juga membawa sisi negatif yang bisa sangat berbahaya.
Jadi, sehubungan dengan isu peranan pemerintah, Anda memang harus menggunakan imajinasi untuk memahami masalah. Apakah Anda benar-benar ingin hidup di negara yang penuh dengan campur tangan pemerintah atau tidak? Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda ingin mempertahankan sistem debt as money, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak masalah di masyarakat, sistem yang memastikan skala pemerintah (termasuk hutang pemerintah) yang akan terus bertambah besar, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak tagihan dan pajak yang harus dibayar oleh anggota masyarakat yang masih produktif untuk menolong rekan-rekan mereka yang telah jatuh menjadi pecundang dalam sistem debt as money ini.
Ada sejumlah berita yang mengatakan bahwa sejumlah negara sudah mengurangi pajak kepada rakyatnya dalam menghadapi krisis global ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah APBN berbagai negara sesungguhnya sedang meningkat karena mereka sedang melancarkan proyek “stimulus” masing-masing?
Anda masih ingat pos penerimaan negara?
• Pajak
• Dividen perusahaan negara
• & Penerbitan berbagai jenis surat hutang
Kalau setoran pajak berkurang, dan pemasukan dividen perusahaan negara tidak bertambah, maka cara lain yang pemerintah gunakan untuk menutupi anggaran mereka pasti adalah dengan peningkatan penerbitan surat hutang negara. Efeknya sama saja, sebab yang membayar surat hutang tetap adalah rakyat mereka. Yang berbeda adalah timing pembayarannya. Kalau penerbitan surat hutang berhasil, maka setoran pajak yang perlu pemerintah tagih bisa diundur… Tetapi diundur tidak sama dengan dikurangi kawan… Diundur versi ini akan menyebabkan tagihan pajak yang semakin membesar di masa mendatang.
Kecuali Anda sama sekali tidak membaca berita, bila tidak Anda seharusnya tahu bahwa negara-negara “maju” seperti Amerika dan Inggris sebenarnya sudah sangat dekat dengan kebangkrutan. Mengapa masih ada begitu banyak orang yang justru mengagungkan mereka dan menganjurkan bahwa kita perlu meniru langkah-langkah mereka? Naikkan terus volume hutang, baik hutang konsumen maupun hutang negara, it doesn’t matter baby, just follow USA!
Dalam sistem yang kita anut, pemerintah tidak bisa menciptakan uang mereka sendiri. Pemerintah sesungguhnya hanya bisa meminjam… They can only borrow… Dan ketika Anda mendengar bahwa pemerintah sedang “mencetak uang” (monetisasi), apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah mereka sedang meminjam uang masa depan rakyat mereka. Mengapa? Sebab uang “cetakan” itu akan dibayar kembali dalam bentuk pajak yang ditagih kepada rakyat mereka di tahun-tahun mendatang.
Mengenai monetisasi, kalau disederhanakan, kredit konsumen adalah monetisasi dalam skala retail. Negara yang "mencetak uang" adalah monetisasi skala nasional.
Kapan pemerintah akan “mencetak uang”? Jawabannya adalah ketika mereka gagal meminjam. Tidak masalah pinjaman dicari dari dalam negeri ataupun luar negeri. Ketika tidak ada yang mau meminjami mereka secara suka rela, alternatif mereka hanyalah “meminjam secara paksa.”
Apakah saya sedang memojokkan pemerintah dalam blog ini?
Saya tidak merasa demikian. Sebaliknya, saya sebenarnya sedang mencoba menolong mereka, dan menolong diri kita sendiri.
Coba Anda bayangkan situasi ini:
Sekelompok orang terdampar di sebuah pulau terpencil. Di antara mereka, ada tenaga kerja yang masih muda dan kuat. Dan di pulau tersebut, ternyata tersedia material bangunan seperti pasir, semen, batu, kabel, dan lainnya. Dan orang-orang ini sebenarnya membutuhkan sebuah bangunan sebagai tempat berteduh mereka.
Tetapi, karena tidak ada uang sebagai medium transaksi, para pemuda itu pun menganggur. Mereka menghabiskan waktu mereka meratapi nasib buruk mereka, dan membayangkan betapa nikmatnya berada di kota mereka sebelumnya.
Mungkin kedengarannya terlalu ekstrim, tetapi sesungguhnya hal seperti ini bisa saja terjadi, apalagi dalam masyarakat yang kompleks. Otak kita sudah ketagihan dengan uang. Tanpa uang, masyarakat tidak berfungsi. Peradaban pun bisa macet.
Ini kenyataan.
Pemerintah negara XYZ bisa mengabaikan sejumlah pekerjaan umum mereka hanya karena tidak ada uang. Dan orang-orang tidak pernah bertanya, kalau rakyat bisa menciptakan uang untuk berbagai produk yang mereka produksi, mengapa pemerintah tidak boleh menciptakan uang atas infrastruktur yang mereka bangun?
Mengapa uang pemerintah harus berasal dari uang-uang yang eksis sebelumnya? Pemerintah mencetak uang itu inflationary? Harga akan melambung ke langit? Bisa ya dan tidak, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu.
Tetapi, kalau orang bisa menuduh tindakan pemerintah untuk mencetak uang itu inflationary, mengapa mereka tidak pernah berdemo ke bank komersial dan melemparkan isu yang sama?
Bank komersial melakukannya setiap hari, sepanjang tahun, dan sudah berlangsung selama berabad-abad! Kredit, dalam praktek, adalah uang. Dan perbankan sudah mencitakan kredit selama ratusan tahun.
Mengapa kalau sebuah negara mencetak uang biasanya mata uangnya jatuh? Ya sekali lagi, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu. Di postingan sebelumnya saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa tidak semua uang yang diciptakan menghasilkan nilai yang sama.
Menciptakan uang untuk membuat jalan tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk menomboki modal sebuah bank. Menciptakan uang untuk membangun stasiun pembangkit listrik tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk membayar tagihan kartu kredit.
Penyebab kedua jatuhnya mata uang adalah invisible hand Sang Majikan di puncak piramida. Kalau hari ini Anda mendengar pemerintah negara X memutuskan untuk mencetak sejumlah uang, bukan hutang kepada siapapun, untuk digunakan di negara mereka, Anda bisa bertaruh mata uang mereka akan langsung dihancurkan di pasar valas di London dan New York dalam waktu singkat.
Dan kalau hari ini, yang sedang melakukan quantitave-easing adalah Indonesia, dan bukannya Amerika, Anda bisa bertaruh rupiah yang ada di rekening Anda sekarang sudah jatuh sangat drastis nilainya.
Everybody is not equal my friend…
Hak untuk menciptakan uang adalah milik para Money Masters secara eksklusif. Penguasa tertinggi di dunia adalah bankir yang bisa memproduksi uang di puncak piramida dunia. Di bawah mereka adalah bankir-bankir lokal dengan pengaruh yang lebih minor. Jangan berharap mereka mau melepaskan sistem moneter seperti ini.
Pengaruh hutang negara terhadap rakyat mereka sering kali tidak kasat mata. Dan para aktor di belakang layar, mereka bisa sama sekali tak terdengar di media. Media akan sibuk menulis berita politisi dan partai politik mana yang bisa menyelesaikan masalah, atau politisi dan partai politik mana yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tetapi mereka tidak akan melaporkan asal-muasal masalah yang sebenarnya.
Untuk setiap 1 sen uang yang dibayar kepada World Bank, negara X kehilangan 1 sen uang yang mungkin bisa dipakai untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menjaga fakir miskin mereka, dan memelihara infrastruktur mereka. Ini semua tidak kelihatan kecuali Anda mengimajinasikannya.
Anda dibujuk membayar pajak, dibombardir dengan slogan "Orang Bijak Taat Pajak,” bahwa uang itu adalah untuk Anda juga, negara membutuhkan uang untuk membangun ini dan membangun itu. Memang kata-kata itu tidak sepenuhnya salah, tapi kalimat itu juga tidak sepenuhnya jujur. Jarang-jarang Anda akan mendengar bahwa negara juga membutuhkan pajak Anda untuk membayar IMF, World Bank, ADB, dan majikan-majikan lainnya, bukan begitu?
Bagi orang yang tidak menyukai topik zionisme dan isu politik yang lain, kabar baiknya adalah Anda memang tidak harus memikirkannya. Just follow the money. Kalau Anda bisa membayangkan bagaimana aliran uang mengalir di dunia, perlahan-lahan Anda akan memahaminya sendiri.
Zionis tidak harus eksis secara fisik di negara manapun. Yang mereka perlukan hanyalah memastikan bahwa Anda berada di dalam bagan piramid keuangan mereka. Memungut $100 dari setiap orang di sebuah negara dengan 1 juta penduduk tanpa paksaan yang terlalu kasat mata bahkan lebih efektif dibandingkan dengan menduduki secara paksa suatu negara dengan 1 juta penduduk dan kemudian merampok mereka $100 juta.
Adalah pilihan Anda, apakah Anda tertarik untuk menyebarkan “fakta” versi “pecundang” ini kepada ikan-ikan kecil lainnya, bila tidak saya hanya bisa mengatakan kepada Anda… Selamat berjuang dan memanjat bagan piramida dunia... Moga-moga bukan Anda sebagai korban berikut yang akan tenggelam di samudra dusta…
Heal The World
(by Michael Jackson)
Heal the world…
Make it a better place
For you and for me
For all entire human race
There are.. People dying
If you care enough for the living
Make a better place
For you and for me…
(by Michael Jackson)
Heal the world…
Make it a better place
For you and for me
For all entire human race
There are.. People dying
If you care enough for the living
Make a better place
For you and for me…
Rabu, 24 Juni 2009
Step by Step Kebangkrutan Global
Dari berbagai berita di internet, kelihatannya sejumlah besar negara bagian Amerika akan bangkrut dalam waktu dekat. Yang paling kritis adalah California. Menurut Gubernur mereka, si Terminator Arnold Schwarzenegger, pemerintahan mereka hanya punya cukup uang untuk bertahan sampai bulan Juli ini.
Setelah Juli, kalau tanpa injeksi uang ke kantong pemerintahan mereka, maka sejumlah instansi pemerintah akan ditutup, dan sebagian lagi akan melakukan PHK besar-besaran. Bayangkan kalau instansi yang ditutup adalah penjara, para napi: perampok, pembunuh, pemerkosa, pengedar obat bius, psikopat, dll, dilepaskan ke masyarakat, tanpa pekerjaan, tanpa uang, karena negara tidak punya uang untuk menampung mereka lagi, hehe…
The Fed, yang diharapkan untuk membantu mereka, mengindikasikan bahwa mereka tidak akan membailout negara bagian. Ya wajar-wajar saja, kalau mereka membailout California, maka dalam beberapa jam 50 negara bagian yang lain juga akan sibuk menelepon mereka dan meminta uang dengan alasan yang sama.
Pemerintahan Federal Amerika, tampaknya juga tidak bisa berbuat banyak. Uang yang mereka kumpulkan dari tangan publik untuk membailout bank-bank besar dan menciptakan “proyek stimulus” sudah sangat besar, ke mana lagi mencari pinjaman berikut?
Tanpa defisit anggaran negara bagianpun, pemerintah mereka sudah kesulitan meminjam, buktinya adalahquantitave easing (printing debt money) beberapa bulan terakhir.
Jadi bagaimana? Apa yang akan terjadi?
Hmm.. Saya sama tidak tahunya dengan Anda… Tapi mari kita bayangkan kembali beberapa hal mendasar tentang uang….
Seperti yang sudah Anda ketahui, uang muncul saat pengajuan kredit oleh konsumen. Awalnya, pengajuan kredit dilakukan untuk tujuan produksi. Hasil dari proses ini adalah uang yang tercatat di rekening si pemimjam dan juga benda berwujud yang diproduksi dari uang tersebut.
Sampai di sini, uang (kertas maupun elektronik) masih sangat berharga, karena mewakili nilai dari sebuah produk.
Step berikut, kredit diajukan konsumen untuk membeli barang yang sudah jadi, artinya barang yang sama yang sebelumnya telah diwakili oleh uang tertentu, dijadikan lagi sebagai jaminan untuk menciptakan lebih banyak uang.
Barang-barang hasil produksi masih sama, tetapi uang (kredit) yang beredar yang mewakili barang-barang tersebut bertambah. Inilah salah satu alasan kenaikan harga di pasar. Uang yang lebih banyak yang mengejar jumlah barang yang masih tetap.
Sampai di sini, uang masih juga berharga, karena bagaimanapun masih mewakili nilai dari suatu barang (walaupun barang yang sama sudah dijadikan sebagai jaminan untuk kedua kalinya).
Semakin banyak level sebuah aset dijadikan sebagai jaminan atas penciptaan kredit berikut, atau semakin besar volume uang yang tercipta atas barang yang sama yang dijadikan sebagai jaminan penciptaan kredit, semakin menurun nilai uang yang beredar.
Semakin sering Anda melihat publik melakukan spekulasi lewat uang kredit di industri atau produk tertentu, semakin besar kenaikan harga di industri atau produk tersebut.
Misalnya ABS (Asset Backed Security) atau MBS (Mortgage Backed Security). Konsumen meminta bank untuk menciptakan uang atas misalnya sebuah rumah yang mereka beli. Bank kemudian menjual janji konsumen tersebut untuk membayar kepada “investor” berikut, dan uang yang bank terima kemudian dipakai sebagai modal untuk menciptakan pinjaman berikut ke konsumen / demander uang yang berikut, dst…
Walaupun demikian, dengan berjalannya waktu, uang masih tetap akan berharga. Mengapa? Karena tidak sama seperti barang (yang bisa saja bertahan lama di dunia), setiap digit uang di dunia memiliki umur tertentu, umurnya berkurang dan berkurang dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, seiring dengan masa pembayaran kredit ke sang pencipta uang, BANK.
Saya pernah menggambarkan kepada Anda bahwa suplai uang di planet kita pada dasarnya adalah sebuah balon hutang. Balon ini adalah mengembang ataupun mengempis tergantung volume udara (hutang) di dalamnya.
Suplai uang = A + B – C
A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.
Konsumen menciptakan uang, bukan mesin cetak. Korporasi-korporasi raksasa yang dibiayai oleh para bankir? Mereka juga adalah bagian dari konsumen.
Hutang dari A akan menjadi tabungan dari B.
Hutang dari C akan menjadi tabungan dari D, dst…
Somebody akan berhutang… Dan somebody lainnya akan mendapatkan tabungan…
Apa yang terjadi kepada individu, juga terjadi kepada negara. Sekarang coba Anda bayangkan…
Setiap hari, setiap bulan, manusia-manusia saling bertukar barang dan jasa, dan sekaligus bertukar uang, baik berupa cash, maupun hanya sebuah entri elektronik di bank.
Alex, seorang insinyur, memiliki sejumlah tabungan + income tertentu dari mata pencahariannya. Karena setiap bulan ada surplus, maka tabungannya terus bertambah, dan kemampuannya untuk membeli lebih banyak barang dan memenuhi keinginan lainnya pun meningkat.
Maka Alex pun membelanjakan uangnya. Misalnya, dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli sebuah rumah baru.
Lalu, karena tabungannya sudah habis untuk melunasi rumah barunya, maka tabungannya menjadi nol, tetapi dia masih memiliki mata pencahariannya, dia masih bisa menghasilkan surplus pendapatan di bulan-bulan berikut.
Maka, diapun mengajukan kredit, misalnya pembelian mobil baru. Dia menyicil mobil tersebut dengan cara misalnya 36 bulan, menggunakan surplus pendapatan bulanannya yang kebetulan pas untuk membayar cicilan bulanan mobil ini.
Sekarang, Alex sudah tidak sanggup lagi mengajukan kredit baru apapun. Limit hutangnya sudah tercapai.
Siapapun yang masih meminjamkan uang kepadanya untuk membeli barang konsumsi berikut adalah seorang idiot!
Kalau Alex ngotot untuk membeli, maka dalam waktu beberapa bulan, karena menunggak, maka aset yang menjadi jaminan pinjaman itu akan disita oleh sang kreditur.
…& Bayangkan, kalau di suatu negara, ada sejumlah besar populasi yang hidup dengan cara si Alex….
Inflasi tidak berlansung abadi, karena keterbatasan daya beli oleh publik. Di level-level hutang tertentu, orang akan berhenti mengajukan hutang, karena memang sudah tidak sanggup lagi membayar.
Dan di era deflasi, semua barang yang perlu dibeli lewat hutang (misalnya rumah) biasanya akan jeblok harganya, karena kemampuan orang untuk mengajukan kredit menciut. Semakin besar porsi kredit dalam pembelian barang tertentu, biasanya semakin jeblok harga barang tersebut.
Sebelumnya, Anda perlu mengingat kembali aturan main penciptaan uang:
Majikan (bankir) akan memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan, bila dan hanya bila Anda bisa membayar lebih dari yang Anda dapatkan.
Sebuah masyarakat, bila sudah sampai di limit hutang mereka, akan berhenti mengajukan kredit. Tetapi, suplai uang nanti akan terus menurun karena setiap bulan ada hutang pokok dan bunga yang harus dibayar ke perbankan.
Ingat, yang penting adalah berapa uang yang berada di tangan publik. Sekalipun ada berton-ton uang kertas dan trilyun-trilyun uang di rekening besi baja bank, bila uang ini tidak dimiliki oleh publik, atau tidak bisa sampai ke tangan publik (publik mengajukan kredit duluan), maka keberadaan uang itu tetap tak berarti.
Turunnya suplai uang akan menjatuhkan harga berbagai jenis aset yang dijaminkan saat penciptaan uang awal, dan bank bersangkutan bisa terkena resiko insolvent (liabilitas lebih besar dari aset)
Somebody harus membayar kerugian ini. Kalau bank tidak dibiarkan bangkrut, maka selisih kerugian yang diderita perbankan harus ditambal oleh somebody, dan somebody itu adalah publik.
Campur tangan pertama pemerintah adalah meminjam uang dari tangan publik yang memiliki uang dan memberikannya ke perbankan. Untuk membantu kelancaran proses meminjam ini, market yang lain memiliki uang harus dijatuhkan duluan, biasanya adalah pasar obligasi dan pasar saham. Maka uang berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain.
Step berikut, kalau kejatuhan harga aset masih begitu besar, dan lebih dari kemampuan pemerintah untuk meminjam, maka pemerintah akan sampai di titik di mana mereka harus menentukan salah satu dari hal ini:
- Hentikan bailout, biarkan sejumlah bank tutup, dan kebangkrutan massal.
- Tak perlu meminjam dari publik, cetak uang baru (monetisasi), dan berikan lagi kepada perbankan.
Menciptakan uang tanpa dasar produksi, dan memberikannya kepada perbankan agar mereka bisa memenuhi rasio kecukupan modal mereka, adalah lebih sinting dibanding publik yang berspekulasi dengan uang kredit untuk membeli produk tertentu.
Efeknya adalah penurunan nilai uang (devaluasi), karena sejumlah uang yang tidak lagi mewakili nilai dicampur dengan uang-uang lama (kredit) yang mewakili nilai.
Semakin besar porsi uang baru (monetisasi) tak bernilai yang dicetak, semakin terasa efek inflationary mereka.
Zimbabwe zaman ini dan Weimar abad yang lalu adalah contoh kalau uang yang dicetak untuk membayar tagihan jauh melebihi uang sebelumnya yang masih mewakili nilai. Ketika Anda mencetak uang, yang tidak didasari produksi ataupun jaminan apapun, maka uang itu hanyalah selembar kertas, sesederhana itu.
Semakin banyak sampah yang dicampur dengan kertas berharga, semakin tidak berharga keseluruhan paket kertas itu. Dan bila jumlah sampah yang dicetak sudah sedemikian besar, jauh lebih daripada kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya, maka bahkan kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya itu juga akan ikut menjadi sampah.
Namun, monetisasilah tidaklah seburuk yang orang sangka, bila digunakan untuk tujuan yang jelas, misalnya produksi oleh perusahaan negara, ataupun diberikan kepada publik untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
Singkatnya, kalau diimajinasikan, step by step menuju kebangkrutan adalah sebagai berikut:
1. Habisnya tabungan.
2. Beli barang berikut, bayar dengan sistem cicil (pokok & bunga)
3. Karena kesulitan membayar, ganti cara bayar. Bayar dengan sistem cicil (bunga aja, hutang pokok gak usah). Sebenarnya, ini sama saja dengan menyewa.. hehe…
4. Beli terus, kali ini bahkan bungapun sebenarnya gak sanggup dibayar. Tapi jangan khawatir, ada beberapa aset lunas yang terakumulasi sebelumnya yang bisa dijadikan jaminan.
5. Pembayaran macet, aset yang dijaminkan mulai disita. Dan kalau semua kreditur menuntut untuk dibayar, maka nyatakan kebangkrutan dan likuidasi semua aset untuk membayar mereka.
6. Khusus untuk negara, bisa diperpanjang ke step berikut. Kalau hutang dalam mata uang yang mereka cetak, mereka bisa bayar dengan mencetak mata uang itu. Kalau hutang dalam mata uang asing, mereka bisa mencetak uang sendiri, lalu ditukar di pasar valuta asing untuk membeli mata uang asing tersebut. Tergantung seberapa besar volune uang yang dicetak, tingkat devaluasi atau prospek hiperinflasi adalah relatif tergantung skala cetak uang itu.
Belum tentu kalau mulai mencetak uang lantas negara langsung bangkrut, karena tergantung apakah sebagai sebuah negara, mereka sanggup mengubah diri mereka, dari membeli lebih banyak daripada yang mereka jual (defisit) menjadi menjual lebih banyak daripada yang mereka beli (menabung).
Yang dilakukan saat negara mencetak uang (monetisasi atau quantitative easing) adalah membeli waktu dan menunda kebangkrutan. Kalau mereka bisa mengubah diri mereka dengan cepat, berubah dari sebuah entitas yang defisit menjadi sebuah entitas yang surplus, mereka bisa come back, hiperinflasi dan hancurnya mata uang tidaklah harus terjadi.
Tapi kalau mereka tidak bisa mengubah ketagihan mereka akan defisit, dan semua tagihan memang hanya mungkin dibayar lewat pencetakan uang baru berikut, maka the game is over. Uang yang mereka cetak pada akhirnya memang hanya akan dihargai sebesar nilai kertas itu sendiri…
Step 1 sampai 3 di atas akan membentuk siklus “booming” ekonomi, waktu di mana semua orang merasa “makmur,” hehe.. Di step no 4, bubble sudah di ambang pecah, dan pada step 5 dan 6, itu adalah masa-masa meletusnya “kemakmuran” ekonomi menjadi bencana ekonomi.
***
Kalau Anda sudah membaca mengenalimplikasi Capital Accord 2, Anda sudah tahu bahwa daya leverage sekuritas rating AAA sangatlah besar. Bersama dengan uang tunai, emas, surat hutang negara maju seperti Dolar Amerika, Pound Inggris, Euro, dan juga sebagian surat hutang negara bagian (muncipal bond), mereka bisa dimasukkan di aset level 1 ataupun level 2 pembukuan perbankan.
Runtuhnya rating surat hutang perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors yang barusan bangkrut dan juga surat hutang negara bagian seperti California nantinya akan menjatuhkan rating surat hutang tersebut dalam pembukuan bank-bank besar. Artinya, apa yang sebelumnya ada di level 1 akan jatuh ke level 2, atau apa yang ada di level 2 akan jatuh ke level 3, alias modal yang harus bank kumpulkan untuk memenuhi rasio kecukupan modal kembali akan membengkak.
Bedanya, kali ini pemerintah dan bank sentral mereka tidak lagi sanggup meminjam dari publik seperti yang mereka lakukan tahun lalu. Kali ini, pilihannya tinggal 2, biarkan bank tutup dan masuki era deflasi besar, ataupun cetak uang!!
Apakah Amerika, Inggris, dkk akan memonetisasi besar-besaran hutang mereka atau tidak, saya tentunya tidak tahu, tetapi kalau harus bertaruh, saya lebih condong bertaruh para Money Masters pada akhirnya akan mencobanya. Publik akan menuntut mereka untuk melakukannya. Duduk diam dan membiarkan sebuah krisis menghancurkan kehidupan masyarakat sepertinya bukan skenario yang bisa diharapkan untuk dilakukan para politisi dan pejabat bank sentral.
Negara maju adalah konsumen, dan kita, di Indonesia, dalam bagan piramida perdagangan global, adalah produsen. Kalau mereka melakukan devaluasi, kita juga nantinya akan ikut, karena mata uang kita kalau menguat, ekspor kita akan terganggu. Memang inilah nasib negara budak, kecuali kalau posisi Indonesia dan negara berkembang lainnya bisa diubah. Giliran Amerika, Inggris, dkk yang menjadi budak & mensuplai kebutuhan kita dengan harga murah. Hehe…
Tapi butuh waktu untuk melihat itu kawan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apa yang saya sharing kepada Anda mengenai masa depan, sejak bukuMasa Lalu Uang & Masa Depan Dunia, sampai tulisan2 di blog ini mungkin baru akan menjadi kenyataan setelah bertahun-tahun lagi, bahkan dekade. Yang bisa saya katakan adalah kita memang sedang dalam perjalanan sesuai dengan apa yang saya tulis, KEBANGKRUTAN GLOBAL...
“Our wallet is empty. Our bank is closed.
Our credit is dried up.”
- Arnold Schwarzenegger-
Our credit is dried up.”
- Arnold Schwarzenegger-
Setelah Juli, kalau tanpa injeksi uang ke kantong pemerintahan mereka, maka sejumlah instansi pemerintah akan ditutup, dan sebagian lagi akan melakukan PHK besar-besaran. Bayangkan kalau instansi yang ditutup adalah penjara, para napi: perampok, pembunuh, pemerkosa, pengedar obat bius, psikopat, dll, dilepaskan ke masyarakat, tanpa pekerjaan, tanpa uang, karena negara tidak punya uang untuk menampung mereka lagi, hehe…
The Fed, yang diharapkan untuk membantu mereka, mengindikasikan bahwa mereka tidak akan membailout negara bagian. Ya wajar-wajar saja, kalau mereka membailout California, maka dalam beberapa jam 50 negara bagian yang lain juga akan sibuk menelepon mereka dan meminta uang dengan alasan yang sama.
Pemerintahan Federal Amerika, tampaknya juga tidak bisa berbuat banyak. Uang yang mereka kumpulkan dari tangan publik untuk membailout bank-bank besar dan menciptakan
Tanpa defisit anggaran negara bagianpun, pemerintah mereka sudah kesulitan meminjam, buktinya adalah
Jadi bagaimana? Apa yang akan terjadi?
Hmm.. Saya sama tidak tahunya dengan Anda… Tapi mari kita bayangkan kembali beberapa hal mendasar tentang uang….
Seperti yang sudah Anda ketahui, uang muncul saat pengajuan kredit oleh konsumen. Awalnya, pengajuan kredit dilakukan untuk tujuan produksi. Hasil dari proses ini adalah uang yang tercatat di rekening si pemimjam dan juga benda berwujud yang diproduksi dari uang tersebut.
Sampai di sini, uang (kertas maupun elektronik) masih sangat berharga, karena mewakili nilai dari sebuah produk.
Step berikut, kredit diajukan konsumen untuk membeli barang yang sudah jadi, artinya barang yang sama yang sebelumnya telah diwakili oleh uang tertentu, dijadikan lagi sebagai jaminan untuk menciptakan lebih banyak uang.
Barang-barang hasil produksi masih sama, tetapi uang (kredit) yang beredar yang mewakili barang-barang tersebut bertambah. Inilah salah satu alasan kenaikan harga di pasar. Uang yang lebih banyak yang mengejar jumlah barang yang masih tetap.
Sampai di sini, uang masih juga berharga, karena bagaimanapun masih mewakili nilai dari suatu barang (walaupun barang yang sama sudah dijadikan sebagai jaminan untuk kedua kalinya).
Semakin banyak level sebuah aset dijadikan sebagai jaminan atas penciptaan kredit berikut, atau semakin besar volume uang yang tercipta atas barang yang sama yang dijadikan sebagai jaminan penciptaan kredit, semakin menurun nilai uang yang beredar.
Semakin sering Anda melihat publik melakukan spekulasi lewat uang kredit di industri atau produk tertentu, semakin besar kenaikan harga di industri atau produk tersebut.
Misalnya ABS (Asset Backed Security) atau MBS (Mortgage Backed Security). Konsumen meminta bank untuk menciptakan uang atas misalnya sebuah rumah yang mereka beli. Bank kemudian menjual janji konsumen tersebut untuk membayar kepada “investor” berikut, dan uang yang bank terima kemudian dipakai sebagai modal untuk menciptakan pinjaman berikut ke konsumen / demander uang yang berikut, dst…
Walaupun demikian, dengan berjalannya waktu, uang masih tetap akan berharga. Mengapa? Karena tidak sama seperti barang (yang bisa saja bertahan lama di dunia), setiap digit uang di dunia memiliki umur tertentu, umurnya berkurang dan berkurang dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, seiring dengan masa pembayaran kredit ke sang pencipta uang, BANK.
Saya pernah menggambarkan kepada Anda bahwa suplai uang di planet kita pada dasarnya adalah sebuah balon hutang. Balon ini adalah mengembang ataupun mengempis tergantung volume udara (hutang) di dalamnya.
Suplai uang = A + B – C
A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.
Konsumen menciptakan uang, bukan mesin cetak. Korporasi-korporasi raksasa yang dibiayai oleh para bankir? Mereka juga adalah bagian dari konsumen.
Hutang dari A akan menjadi tabungan dari B.
Hutang dari C akan menjadi tabungan dari D, dst…
Somebody akan berhutang… Dan somebody lainnya akan mendapatkan tabungan…
Apa yang terjadi kepada individu, juga terjadi kepada negara. Sekarang coba Anda bayangkan…
Setiap hari, setiap bulan, manusia-manusia saling bertukar barang dan jasa, dan sekaligus bertukar uang, baik berupa cash, maupun hanya sebuah entri elektronik di bank.
Alex, seorang insinyur, memiliki sejumlah tabungan + income tertentu dari mata pencahariannya. Karena setiap bulan ada surplus, maka tabungannya terus bertambah, dan kemampuannya untuk membeli lebih banyak barang dan memenuhi keinginan lainnya pun meningkat.
Maka Alex pun membelanjakan uangnya. Misalnya, dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli sebuah rumah baru.
Lalu, karena tabungannya sudah habis untuk melunasi rumah barunya, maka tabungannya menjadi nol, tetapi dia masih memiliki mata pencahariannya, dia masih bisa menghasilkan surplus pendapatan di bulan-bulan berikut.
Maka, diapun mengajukan kredit, misalnya pembelian mobil baru. Dia menyicil mobil tersebut dengan cara misalnya 36 bulan, menggunakan surplus pendapatan bulanannya yang kebetulan pas untuk membayar cicilan bulanan mobil ini.
Sekarang, Alex sudah tidak sanggup lagi mengajukan kredit baru apapun. Limit hutangnya sudah tercapai.
Siapapun yang masih meminjamkan uang kepadanya untuk membeli barang konsumsi berikut adalah seorang idiot!
Kalau Alex ngotot untuk membeli, maka dalam waktu beberapa bulan, karena menunggak, maka aset yang menjadi jaminan pinjaman itu akan disita oleh sang kreditur.
…& Bayangkan, kalau di suatu negara, ada sejumlah besar populasi yang hidup dengan cara si Alex….
Inflasi tidak berlansung abadi, karena keterbatasan daya beli oleh publik. Di level-level hutang tertentu, orang akan berhenti mengajukan hutang, karena memang sudah tidak sanggup lagi membayar.
Dan di era deflasi, semua barang yang perlu dibeli lewat hutang (misalnya rumah) biasanya akan jeblok harganya, karena kemampuan orang untuk mengajukan kredit menciut. Semakin besar porsi kredit dalam pembelian barang tertentu, biasanya semakin jeblok harga barang tersebut.
Sebelumnya, Anda perlu mengingat kembali aturan main penciptaan uang:
Majikan (bankir) akan memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan, bila dan hanya bila Anda bisa membayar lebih dari yang Anda dapatkan.
Sebuah masyarakat, bila sudah sampai di limit hutang mereka, akan berhenti mengajukan kredit. Tetapi, suplai uang nanti akan terus menurun karena setiap bulan ada hutang pokok dan bunga yang harus dibayar ke perbankan.
Ingat, yang penting adalah berapa uang yang berada di tangan publik. Sekalipun ada berton-ton uang kertas dan trilyun-trilyun uang di rekening besi baja bank, bila uang ini tidak dimiliki oleh publik, atau tidak bisa sampai ke tangan publik (publik mengajukan kredit duluan), maka keberadaan uang itu tetap tak berarti.
Turunnya suplai uang akan menjatuhkan harga berbagai jenis aset yang dijaminkan saat penciptaan uang awal, dan bank bersangkutan bisa terkena resiko insolvent (liabilitas lebih besar dari aset)
Somebody harus membayar kerugian ini. Kalau bank tidak dibiarkan bangkrut, maka selisih kerugian yang diderita perbankan harus ditambal oleh somebody, dan somebody itu adalah publik.
Campur tangan pertama pemerintah adalah meminjam uang dari tangan publik yang memiliki uang dan memberikannya ke perbankan. Untuk membantu kelancaran proses meminjam ini, market yang lain memiliki uang harus dijatuhkan duluan, biasanya adalah pasar obligasi dan pasar saham. Maka uang berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain.
Step berikut, kalau kejatuhan harga aset masih begitu besar, dan lebih dari kemampuan pemerintah untuk meminjam, maka pemerintah akan sampai di titik di mana mereka harus menentukan salah satu dari hal ini:
- Hentikan bailout, biarkan sejumlah bank tutup, dan kebangkrutan massal.
- Tak perlu meminjam dari publik, cetak uang baru (monetisasi), dan berikan lagi kepada perbankan.
Menciptakan uang tanpa dasar produksi, dan memberikannya kepada perbankan agar mereka bisa memenuhi rasio kecukupan modal mereka, adalah lebih sinting dibanding publik yang berspekulasi dengan uang kredit untuk membeli produk tertentu.
Efeknya adalah penurunan nilai uang (devaluasi), karena sejumlah uang yang tidak lagi mewakili nilai dicampur dengan uang-uang lama (kredit) yang mewakili nilai.
Semakin besar porsi uang baru (monetisasi) tak bernilai yang dicetak, semakin terasa efek inflationary mereka.
Zimbabwe zaman ini dan Weimar abad yang lalu adalah contoh kalau uang yang dicetak untuk membayar tagihan jauh melebihi uang sebelumnya yang masih mewakili nilai. Ketika Anda mencetak uang, yang tidak didasari produksi ataupun jaminan apapun, maka uang itu hanyalah selembar kertas, sesederhana itu.
Semakin banyak sampah yang dicampur dengan kertas berharga, semakin tidak berharga keseluruhan paket kertas itu. Dan bila jumlah sampah yang dicetak sudah sedemikian besar, jauh lebih daripada kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya, maka bahkan kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya itu juga akan ikut menjadi sampah.
Namun, monetisasilah tidaklah seburuk yang orang sangka, bila digunakan untuk tujuan yang jelas, misalnya produksi oleh perusahaan negara, ataupun diberikan kepada publik untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
Singkatnya, kalau diimajinasikan, step by step menuju kebangkrutan adalah sebagai berikut:
1. Habisnya tabungan.
2. Beli barang berikut, bayar dengan sistem cicil (pokok & bunga)
3. Karena kesulitan membayar, ganti cara bayar. Bayar dengan sistem cicil (bunga aja, hutang pokok gak usah). Sebenarnya, ini sama saja dengan menyewa.. hehe…
4. Beli terus, kali ini bahkan bungapun sebenarnya gak sanggup dibayar. Tapi jangan khawatir, ada beberapa aset lunas yang terakumulasi sebelumnya yang bisa dijadikan jaminan.
5. Pembayaran macet, aset yang dijaminkan mulai disita. Dan kalau semua kreditur menuntut untuk dibayar, maka nyatakan kebangkrutan dan likuidasi semua aset untuk membayar mereka.
6. Khusus untuk negara, bisa diperpanjang ke step berikut. Kalau hutang dalam mata uang yang mereka cetak, mereka bisa bayar dengan mencetak mata uang itu. Kalau hutang dalam mata uang asing, mereka bisa mencetak uang sendiri, lalu ditukar di pasar valuta asing untuk membeli mata uang asing tersebut. Tergantung seberapa besar volune uang yang dicetak, tingkat devaluasi atau prospek hiperinflasi adalah relatif tergantung skala cetak uang itu.
Belum tentu kalau mulai mencetak uang lantas negara langsung bangkrut, karena tergantung apakah sebagai sebuah negara, mereka sanggup mengubah diri mereka, dari membeli lebih banyak daripada yang mereka jual (defisit) menjadi menjual lebih banyak daripada yang mereka beli (menabung).
Yang dilakukan saat negara mencetak uang (monetisasi atau quantitative easing) adalah membeli waktu dan menunda kebangkrutan. Kalau mereka bisa mengubah diri mereka dengan cepat, berubah dari sebuah entitas yang defisit menjadi sebuah entitas yang surplus, mereka bisa come back, hiperinflasi dan hancurnya mata uang tidaklah harus terjadi.
Tapi kalau mereka tidak bisa mengubah ketagihan mereka akan defisit, dan semua tagihan memang hanya mungkin dibayar lewat pencetakan uang baru berikut, maka the game is over. Uang yang mereka cetak pada akhirnya memang hanya akan dihargai sebesar nilai kertas itu sendiri…
Step 1 sampai 3 di atas akan membentuk siklus “booming” ekonomi, waktu di mana semua orang merasa “makmur,” hehe.. Di step no 4, bubble sudah di ambang pecah, dan pada step 5 dan 6, itu adalah masa-masa meletusnya “kemakmuran” ekonomi menjadi bencana ekonomi.
Kalau Anda sudah membaca mengenal
Runtuhnya rating surat hutang perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors yang barusan bangkrut dan juga surat hutang negara bagian seperti California nantinya akan menjatuhkan rating surat hutang tersebut dalam pembukuan bank-bank besar. Artinya, apa yang sebelumnya ada di level 1 akan jatuh ke level 2, atau apa yang ada di level 2 akan jatuh ke level 3, alias modal yang harus bank kumpulkan untuk memenuhi rasio kecukupan modal kembali akan membengkak.
Bedanya, kali ini pemerintah dan bank sentral mereka tidak lagi sanggup meminjam dari publik seperti yang mereka lakukan tahun lalu. Kali ini, pilihannya tinggal 2, biarkan bank tutup dan masuki era deflasi besar, ataupun cetak
Apakah Amerika, Inggris, dkk akan memonetisasi besar-besaran hutang mereka atau tidak, saya tentunya tidak tahu, tetapi kalau harus bertaruh, saya lebih condong bertaruh para Money Masters pada akhirnya akan mencobanya. Publik akan menuntut mereka untuk melakukannya. Duduk diam dan membiarkan sebuah krisis menghancurkan kehidupan masyarakat sepertinya bukan skenario yang bisa diharapkan untuk dilakukan para politisi dan pejabat bank sentral.
Negara maju adalah konsumen, dan kita, di Indonesia, dalam bagan piramida perdagangan global, adalah produsen. Kalau mereka melakukan devaluasi, kita juga nantinya akan ikut, karena mata uang kita kalau menguat, ekspor kita akan terganggu. Memang inilah nasib negara budak, kecuali kalau posisi Indonesia dan negara berkembang lainnya bisa diubah. Giliran Amerika, Inggris, dkk yang menjadi budak & mensuplai kebutuhan kita dengan harga murah. Hehe…
Tapi butuh waktu untuk melihat itu kawan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apa yang saya sharing kepada Anda mengenai masa depan, sejak buku
Rabu, 03 Juni 2009
Serba - Serbi & Klarifikasi
Sebenarnya informasi yang bisa saya sharing sudah habis saya sampaikan, tapi dari beberapa email yang saya terima, sepertinya ada penyampaian saya yang kurang beres. Untuk mencegah kesalahpahaman, mungkin lebih baik ditulis lagi artikel tambahan.
Tentu saja, saya paham kebanyakan orang tidak akan benar-benar membaca semua artikel yang ada di sini. Zaman ini, orang menginginkan informasi instan, kalau bisa sebuah artikel yang bisa dibaca habis dalam 3 menit untuk menjelaskan semua topik yang ada. Hehe... Sayang, saya gak punya…
Campur Tangan Pemerintah
Ketika saya mengkritik pemerintah atas
Uang pemerintah selalu datang dari pinjaman, entah itu suka-rela (rakyat membeli surat hutang negara) atau tidak suka-rela (pajak).
Ingat, pemerintah manapun tidak boleh mencetak uang (dalam sistem sekarang), mereka hanya boleh meminjam. Ketika mereka memonetisasi hutang, uang baru itu juga adalah hutang. Yang bayar? Ya you and me…
Lantas, apakah saya mendukung pemerintah mencetak uang secara membabi-buta? Tentu tidak kawan.
Dalam konteks kredit konsumen, orang mengatakan asalkan pertumbuhan uang diikuti dengan pertumbuhan barang dan jasa, maka relatif tidak ada kenaikan harga.
Jika kalimat ini berlaku untuk konsumen, maka kalimat ini seharusnya juga berlaku untuk pemerintah, bukan begitu?
Jadi, dalam hal pemerintah mencetak uang, maksud saya adalah:
1. Uang digunakan untuk tujuan produksi barang ataupun jasa yang mereka berikan ke publik.
2. Uang itu eksis secara permanen di dalam negara, bukan hutang kepada siapapun. Tidak ada masa jatuh tempo atas uang tersebut.
Dan kalau memang harus ada kompromi, di mana uang bagaimanapun tetap harus diciptakan sebagai kredit (hutang), maka hutang pemerintah, sama seperti hutang swasta, tidak perlu dikenakan bunga.
Atau alternatif kompromi yang lain, hutang konsumen tetap dikenakan bunga, tetapi semua keuntungan perbankan harus dikembalikan lagi kepada publik dalam bentuk penghilangan pajak. Untuk itu, semua bank komersial, yang diberikan hak untuk menciptakan kredit, harus dinasionalisasikan terlebih dahulu oleh negara. Rakyat tidak perlu lagi membayar pajak, anggaran negara akan dibiayai sebagian oleh keuntungan bank, sebagian lagi lewat pencetakan uang baru.
Suplai uang di sebuah negara bisa dipatok oleh pemerintah, dengan kenaikan sekian persen tertentu setiap tahun, mengikuti kebutuhan dan kalkulasi pembangunan mereka.
Saya yakin ada berbagai alternatif yang lain, dan saya cukup percaya Anda bisa membayangkan sistem yang lain yang menurut Anda lebih baik. Yang pasti, jangan percaya dengan kata-kata orang bahwa sistem yang ada sekarang adalah satu-satunya alternatif. Itu bohong!
Debt = Money
Tidak ada uang yang eksis secara permanen di sebuah masyarakat ataupun di sebuah negara dalam
(Renungkan baik-baik hubungan pertumbuhan suplai uang - penduduk - produksi komoditi. Bila suplai uang benar-benar collapse, maka hanya masalah waktu sebelum yang lain juga mengikutinya...)
Fractional reserved banking adalah sebab masalah, tetapi di kemudian hari juga adalah sebab DAN akibat dari masalah. Untuk membayar hutang yang semakin lama semakin banyak, butuh lebih banyak dan lebih banyak lagi suplai uang, yang bahan bakunya belum tentu bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Dan karena jumlah manusia terus bertambah, suplai uang mau tak mau harus dibuat dari bahan / cara yang segampang mungkin diciptakan.
Cara apa lagi yang lebih gampang selain menciptakan uang begitu saja dengan sebuah entri pembukuan?
Rasio fractional reserved terus dinaikkan dari waktu ke waktu. Dari 2 kali lipat, menjadi 4 kali lipat, menjadi 10 kali lipat, 20 kali lipat, 40 kali lipat, dst…
Tentu saja, hal ini terjadi sebagian karena keserakahan si pencipta uang (bankir), tetapi sebagian lagi juga karena untuk memenuhi kebutuhan suplai uang yang diperlukan oleh sistem. Semua perubahan regulasi sampai saat ini di dalam dunia perbankan adalah untuk memperlama usia debt based money system di planet ini.
Efek pertambahan penduduk, pertambahan aktifitas manusia, pertambahan eksplorasi alam, adalah apa yang kita lihat hari ini. Saya bukan pemerhati isu lingkungan, tetapi kalau Anda termasuk orang yang sensitif terhadap lingkungan dan menyalahkan manusia karena telah merusak terlalu banyak bumi kita, Anda juga bisa mengarahkan pistol Anda kepada debt based money system.
Ingat aturan main sistem ini:
Majikan (bankir) akan memberikan kita berapapun uang yang kita inginkan, selama kita memberikan kepada mereka lebih daripada yang kita dapatkan.
Dan ketika kita (secara umum, umat manusia) tidak bisa lagi berhutang & membayar lebih daripada yang kita dapatkan, maka majikan tidak akan lagi memberikan kepada kita apa yang kita inginkan.
Amerika adalah mesin hutang terpenting di dunia sejak perang dunia ke-2. Kecuali kalau manusia di planet ini bisa segera menemukan mesin hutang raksasa berikut, bila tidak dunia ini akan memasuki era kekacauan besar.
Untuk apa si pencipta uang menciptakan uang dan memberikannya kepada kita hanya supaya kita bisa memberikannya lagi kepada mereka untuk membayar hutang-hutang kita? Ini memang bisa menunda hari penghakiman, tetapi ini bukanlah solusi…
Negara-negara yang kebanyakan hutang bisa saja memonetisasi berton-ton uang baru (hutang baru), dan kemudian membayarnya lagi kepada majikan mereka (bank). Bank juga secara teori bisa mengabulkan begitu saja semua permintaan kredit dari konsumen. Tapi kalau Anda pikir baik-baik, untuk apa bank melakukan itu? Untuk apa mencetak uang dan memberikannya kepada A hanya supaya A membayarnya kembali lagi kepada bank dengan uang yang sama?
Hiperinflasi tidak akan menyelesaikan masalah. Dalam konteks paling opitimis, dia hanya bisa menunda masalah yang sesungguhnya: collapse of credit, suplai uang kita.
Saya tidak bisa memastikan kepada Anda apa yang Akan terjadi, apakah dunia benar-benar akan memasuki era hiperinflasi karena masing-masing negara memonetisasi besar-besaran uang mereka, atau apakah monetisasi akan segera diakhiri dan kita akan langsung memasuki era deflasi. Saya bukan insider…
Satu hal yang pasti, daya hutang manusia ada batasnya. Ada level tertentu di mana bila level itu sudah tercapai, ya berhenti. Menambah angka nol di belakang uang kita tidak akan mengubah apapun, yang berubah hanyalah jumlah angka nol kita saja.
Beberapa bulan ini Anda membaca tentang monetisasi pemerintahan Amerika dan Inggris (Quantitative Easing). Apa sebenarnya yang mereka lakukan?
Buy It Baby.. Buy!!
Nilai uang yang terlibat di pasar surat hutang sebenarnya lebih besar dari pasar saham. Pemerintah Amerika membutuhkan injeksi dana yang besar di pasar hutang mereka. Sebagian dari uang yang mereka butuhkan sebenarnya bisa diambil dari pasar saham. Tetapi dengan quantitative easing akhir-akhir ini, keharusan untuk menjatuhkan pasar saham sudah berkurang.
Selasa, 05 Mei 2009
Siklus Alam Semesta
Hari ini, saya postingkan sebuah gambar yang harusnya sudah sering Anda lihat di TV, simbol Tai Ji.
Seberapa simbol ini bisa menjelaskan berbagai kejadian & siklus di alam yang kita tinggali ini, mungkin tergantung persepsi Anda masing-masing.
Note, dari gambar simbol:
Yang = putih
Yin = hitam
3 garis yang Anda lihat itu sendiri dinamakan Trigram.
Tiga garis penuh = Yang maksimum.
Tiga garis putus = Yin maksimum

Kalau Anda membayangkan Yang sebagai sifat tertentu (+), maka Yin adalah kebalikan dari sifat tersebut (-), misalnya:
Perhatikan gambar di atas:
Setelah Yang mencapai puncak, bibit Yin lahir,
Lalu Yin mulai mengelilingi Yang,
Kemudian Yin mendominasi Yang.
Setelah Yin mencapai puncak, bibit Yang lahir,
Lalu Yang mengelilingi Yin,
Kemudian Yang mendominasi Yin.
& kembali lagi ke siklus Yang mencapai puncak, dst…
Keseluruhan siklus di alam semesta, akan membentuk pola ini berulang-ulang. Sifat manusia, cuaca, kesehatan, nasib sebuah keluarga, bahkan nasib sebuah bangsa, tidak akan terlepas dari fenomena yang sama.
Sejarah memang tidak berulang dengan cara yang persis sama, tetapi kalau Anda perhatikan, kejadian-kejadian di alam akan berulang dengan pola yang mirip, yang berbeda-beda hanyalah rentang waktu kejadian dan pelakunya.
Seberapa simbol ini bisa menjelaskan berbagai kejadian & siklus di alam yang kita tinggali ini, mungkin tergantung persepsi Anda masing-masing.
Note, dari gambar simbol:
Yang = putih
Yin = hitam
3 garis yang Anda lihat itu sendiri dinamakan Trigram.
Tiga garis penuh = Yang maksimum.
Tiga garis putus = Yin maksimum
Kalau Anda membayangkan Yang sebagai sifat tertentu (+), maka Yin adalah kebalikan dari sifat tersebut (-), misalnya:
Yang : panas, maka Yin : dingin
Yang : cepat, maka Yin : lambat
Yang : kuat, maka Yin : lemah
Yang : rajin, maka Yin : malas
Yang : cepat, maka Yin : lambat
Yang : kuat, maka Yin : lemah
Yang : rajin, maka Yin : malas
Perhatikan gambar di atas:
Setelah Yang mencapai puncak, bibit Yin lahir,
Lalu Yin mulai mengelilingi Yang,
Kemudian Yin mendominasi Yang.
Setelah Yin mencapai puncak, bibit Yang lahir,
Lalu Yang mengelilingi Yin,
Kemudian Yang mendominasi Yin.
Keseluruhan siklus di alam semesta, akan membentuk pola ini berulang-ulang. Sifat manusia, cuaca, kesehatan, nasib sebuah keluarga, bahkan nasib sebuah bangsa, tidak akan terlepas dari fenomena yang sama.
Sejarah memang tidak berulang dengan cara yang persis sama, tetapi kalau Anda perhatikan, kejadian-kejadian di alam akan berulang dengan pola yang mirip, yang berbeda-beda hanyalah rentang waktu kejadian dan pelakunya.
***
Bagi Anda yang khawatir krisis ekonomi ini akan sangat buruk dan mengancam kehidupan keluarga Anda, mungkin Anda benar, mungkin juga tidak, tidak ada yang bisa tahu pasti. Kejadian yang sama bisa membawa efek yang berbeda terhadap orang yang berbeda, karena respon masing-masing orang berbeda.
Kamis, 30 April 2009
Debt Based Money System (Part 2)
Dalam debt based money system, sumber energi baru sistem adalah penciptaan hutang baru. Sedangkan penyebab habisnya stok energi adalah karena pembayaran hutang lama beserta bunganya.
Ini memaksakan udara yang perlu ditiup ke dalam balon harus lebih besar daripada udara yang berhembus keluar. Ukuran balon perlahan-lahan harus terus membesar, agar bunga bisa dibayarkan.
Anda, sebagai sebuah komunitas, boleh meminta berapapun uang yang Anda inginkan. Majikan Anda (Bank), akan memberikannya kepada Anda.
Majikan Anda akan menghalalkan segala cara untuk membantu Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan… Selama Anda sanggup membayar lebih daripada yang mereka berikan.
Anda meminta 1 milyar, Anda akan mendapatkan 1 milyar…
Anda meminta 1 trilyun, Anda akan mendapatkan 1 trilyun…
Bank memberikan Anda 1 milyar, Bank akan mendapatkan 1 milyar… + 10%...
Bank memberikan Anda 1 trilyun, Bank akan mendapatkan 1 trilyun… + 10%...
Darimana datangnya 10% ini? Seseorang di samping Anda, seseorang di planet ini, baik Anda kenal atau tidak, harus menciptakannya untuk Anda…
Seseorang akan meminta bank memproduksi uang, dan Anda harus mendapatkan uang itu dari tangan dia, dan kemudian membayar 10% bunga kepada bank sesuai “peraturan” yang ada.
Hehe… Pertama… Majikan Anda tidak akan mendapatkan apa yang dia butuhkan (bunga). Dan dengan demikian, tidak ada alasan bagi dia untuk memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan…
Jangan lupa, aturan permainan ini adalah Majikan akan memberikan berapapun uang yang Anda inginkan… Selama dan hanya selama Anda sanggup membayar lebih daripada yang Anda dapatkan…
Kedua, uang-uang yang eksis sebelumnya di tangan kalian akan perlahan-lahan kembali ke tangan Majikan, sesuai jadwal perjanjian pembayaran hutang pokok lama dan bunganya… Suplai uang bukan saja tidak bertambah, bukan hanya akan stagnan, tetapi akan terus menurun…
Uang sewa tetap harus dibayar kawan…. Ingat status Anda… Anda semua hanyalah penyewa…
Setiap sen uang yang eksis, eksis karena telah diajukan untuk tujuan tertentu. Tidak peduli untuk tujuan yang baik atau jahat, tidak peduli untuk tujuan yang penting ataupun tidak penting, uang yang telah eksis mewakili sebuah keinginan dan standar hidup yang telah terpenuhi oleh Anda-Anda yang telah memintanya sebelumnya…
Dan kalau uang-uang itu menghilang (udara balon yang berhembus keluar dan tidak kembali lagi), Anda akan kehilangan medium untuk membayar keinginan-keinginan dan standar hidup yang Anda nikmati sebelumnya…
Poops…
Anda harus membayar lebih daripada yang Anda dapatkan, hanya ketika itulah Majikan akan memberikan apa yang Anda inginkan (uang). Sistem ini mengharuskan demikian… Tidak ada hal yang lebih buruk daripada kontraksi kredit dalam sistem ini.
Volume kredit (uang) harus bertambah, harus! Bila tidak bagaimana mempertahankan eksistensi kalian semuanya? Inflasi bukanlah sebuah pilihan, inflasi adalah sebuah keharusan. Inflate or die my dear...
Kontraksi perdagangan dan turunnya GDP sebuah negara, adalah berita buruk bagi sistem ini. Bankir (Majikan) khawatir… Bukan karena mereka peduli pada Anda semuanya, tetapi karena mereka tahu turunnya aktifitas perdagangan akan membuat Anda tidak sanggup membayar lebih daripada yang telah Anda dapatkan dari mereka sebelumnya.
Tanpa Anda sanggup mengajukan kredit baru 10% lebih banyak per tahun, bagaimana Anda sanggup mempertahankan suplai uang di masyarakat Anda sambil membayar 10% kepada Majikan Anda?
Anda paham?


Bank-bank yang sekarat tidak bisa diselamatkan oleh siapapun selain Anda. Bila Anda tidak ingin bank-bank berjatuhan, maka peraslah otakmu, peraslah keringatmu, dan berusahalah agar Anda selalu mampu mencari jalan untuk membayar lebih daripada yang Anda dapatkan.
This is the rule of the game.
Tidak masalah Anda sadar atau tidak, tidak masalah Anda bisa mengimajinasikan ini atau tidak, kita semua adalah bagian dari sebuah skema piramida raksasa. Kita semua adalah sub-sub-sub-sub sistem dari skema yang sama.
Orang-orang yang membayar kita ada di level atas, dan orang-orang yang kita tanggungi ada di level bawah. Masing-masing membentuk mini-piramida dalam skema piramida raksasa yang sama.
Di puncak dari piramida ini, berdiri Majikan kita yang sesungguhnya, yang bila tanpa produk yang dia produksikan (uang), maka keseluruhan peradaban manusia akan macet dan tidak bisa berkembang ke mana-mana.
Semakin Anda mengambil lebih dari yang Anda berikan, semakin Anda mendekati level atas…
Semakin Anda membayar lebih dari yang Anda dapatkan, semakin Anda mendekati level bawah…
Sejumlah bank besar internasional boleh ditutup, dan tidak seperti yang Anda sangka, ini benar-benar tidak bermasalah bagi sang Majikan di level Top of the Top. Akumulasi asset riil mereka salama ratusan tahun ini jauh lebih besar daripada yang Anda tahu.
Bank, hanyalah sebuah institusi perantara antara kebutuhan manusia dengan uang yang mereka inginkan. Tetapi bukan uang yang sebenarnya manusia butuhkan, tetapi hal-hal yang bisa dibeli dengan uang itulah yang sebenarnya kita cari.
Makanan, pakaian, tanah / real estate, pendidikan, kesehatan, media informasi, industri hiburan, transportasi, sumber energi, dll… That’s the real wealth my friend…
Berita-berita yang Anda baca di koran dan nonton di TV adalah upaya-upaya terakhir, baik dari Majikan Anda (Bank), ataupun pembantu mereka (pemerintah) untuk mendorong Anda, agar Anda meminta dan membayar lebih daripada yang Anda minta…
Dan kalau setelah upaya-upaya mereka, Anda masih tidak sanggup juga membayar lebih daripada yang Anda dapatkan…. Permainan ini akan diakhiri. Hidup Anda semua sudah tidak bermanfaat lagi bagi sistem ini.
Kecuali kalau secara ajaib Majikan Anda memutuskan bahwa membagi-bagikan kekayaan mereka kepada Anda semuanya untuk bertahan hidup adalah gagasan yang lebih baik… Hehe…
Anda semua… Akan dipaksa mendapatkan sebuah pelajaran hebat tentang sifat manusia di tahun-tahun mendatang… Pelajaran tentang apa artinya
YOU WILL NOT ENJOY THIS LESSON…
... Kecuali kalau Anda, dan milyaran manusia sub-sistem piramida malang lain yang ada... Secara luar biasa ajaib sanggup mengganti aturan main sistem ini sebelum hari penghakiman itu tiba… Sebuah sistem yang balonnya tidak membutuhkan Anda semua untuk terus bergantian meniup udara lebih banyak lagi ke dalamnya…
Jumat, 24 April 2009
Everything is ok.... Until it isn't
Saya tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan agar Anda bisa memahami maksud saya "Di Ambang Kehancuran Terbesar Ekonomi," baik di buku maupun di judul artikel yang saya tulis sebelumnya.
Bank yang insolvent adalah bank yang bangkrut, artinya uang para nasabahnya sebenarnya sudah menguap di tengah udara... Kalau Anda bisa membayangkan situasi ini, Anda mungkin baru akan paham segenting apa situasi dunia sebenarnya.
(Memang, pusat gempa bukan di negara kita, tetapi keterkaitan ekonomi antar negara sudah sangat kuat. Apapun guncangan yang terjadi di negara-negara besar akan dirasakan juga oleh yang lain).
Anyway, mungkin tidak adil orang-orang seperti saya terus-menerus memaki pemerintahan berbagai negara, bankir internasional, dan mainstream media di dunia. Ada saatnya juga mengucapkan selamat dan terima kasih kepada mereka. Berkat propaganda dan kebohongan terang-terangan mereka mengenai apa yang sedang terjadi, setidaknya dunia finansial (di Amerika dan sejumlah negara di Uni Eropa) belum "kiamat" sampai hari ini.
Terlepas dari apakah kebohongan yang mereka lakukan benar atau tidak, setidaknya mereka sudah berhasil menunda tibanya hari penderitaan raksasa kepada publiknya.
Saran saya,
Bencana bisa datang tanpa pemberitahuan.
Good luck!
Note:
Informasi yang beredar, akhir musim panas ini (Juli - Agustus) pemerintah Amerika akan mulai default / gagal bayar atas treasury & municipal bond mereka.
Kamis, 16 April 2009
Hak Pemerintah Untuk Mencetak Uang
Pemilu barusan berlalu… Berita-berita konyol mulai muncul di koran tentang perilaku aneh beberapa caleg malang yang gagal mendapatkan suara. Para caleg, yang menghabiskan banyak uang untuk mencetak poster, spanduk, dan kolom iklan di koran, berharap uang “investasi”nya kembali. Tapi sayang, harapan tidak selalu sama dengan kenyataan.
Di poster, spanduk, dan iklan mereka, mereka menggambarkan diri mereka dengan berbagai kosakata yang mereka harap agak khusus, seperti : jujur… cerdas… anti korupsi… nasionalis… religius… sayang rakyat… dan bla bla bla lainnya.
Sedangkan, bagi yang berhasil memenangkan suara, belum resmi terpilih / dilantik saja, orang-orang ini sudah sibuk dengan koalisi antar partai, alias ciri-ciri khusus yang mereka jual saat kampanye harus dikompromikan dengan ciri-ciri khusus anggota dewan yang lain.
Ibarat keluarga Anda membeli tiket tour dengan travel A untuk berlibur ke Bali, keluarga tetangga Anda membeli tiker tour dengan travel B untuk berlibur ke Surabaya, tetapi A dan B berkoalisi tanpa izin kalian dan memutuskan untuk membawa kalian 2 berkeluarga untuk berlibur ke Lombok. Hehe...
Saya tidak ikut memilih, karena saya tidak percaya dengan orang-orang itu. Orang yang tidak mengetahui penyebab masalah tidak bisa menyelesaikan masalah. Dokter yang tidak bisa mendiagnosa penyakit pasiennya tidak bisa memberikan obat kepada pasiennya.
Apakah tidak memilih lantas adalah hal yang lebih baik? Saya tidak tahu… Yang saya tahu hanya saya tidak mempercayai calon-calon yang ada. Saya tidak sanggup pergi ke TPS dan mencontreng nama-nama mereka.
Transkrip terbaik mengenai sistem “demokrasi” yang sedang kita “nikmati” mungkin adalah
Berbagai masalah sosial-ekonomi-politik-budaya-dll di dunia ini, sudah berada di titik di mana solusi apapun yang coba Anda tawarkan, tidak mungkin lagi diaplikasikan tanpa menciptakan pertengkaran besar. Ini adalah bagian dari
Bela A salah, bela B juga salah.
Ke kiri salah, ke kanan juga salah.
Mengkritik pemerintah salah, tidak mengkritik juga salah.
Semua masalah dimulai dari uang kawan…
Tunggu… Kan pemerintah berbagai negara sedang sibuk dengan paket stimulus mereka, situasi sebentar lagi pasti akan membaik, bukan begitu?
Stimulus dibiayai dengan berbagai cara (beda negara beda kondisi):
Yang memiliki tabungan akan menstimulir perekonomian dengan tabungan…
Yang tidak memiliki tabungan akan menstimulir dengan uang pinjaman (hutang)…
Yang tidak sanggup meminjam (surat hutang tidak laku) akan menstimulir dengan monetisasi hutang (uang baru, dibayar kembali secara perlahan-lahan dalam bentuk pajak di tahun-tahun mendatang)…
Mengapa begitu? Ini adalah upaya terakhir untuk memompa debt (hutang) dalam debt based money system. Efek runtuhnya hutang konsumen (kredit) dikurangi dengan meningkatkan hutang pemerintah. Replacing private debts with public debts…
Bagi Anda yang mulai memahami mekanika penciptaan uang, stimulus seperti ini adalah bukti paling kuat tidak ada penguasa negara manapun yang berani menantang debt based money system!
Isu paling penting mengenai sistem penciptaan uang dunia adalah bolehkan pemerintah mencetak uang sebagai debit, bukan sebagai hutang kepada siapapun?
Propaganda paling sukses di dunia mengenai sistem penciptaan uang mungkin adalah bahwa penciptaan uang tidak boleh diserahkan kepada pemerintah! Untuk itulah sebenarnya saya mempromosikan buku
Dulunya, saya juga mempercayai konsep negara mencetak uang sesuka hati sampai saya sadar kalau negara memang bisa mencetak uang begitu gampang seperti yang sering dikatakan orang, mereka tidak perlu menerbitkan begitu banyak jenis surat hutang lagi.
Pemerintah tidak bisa dipercaya? Lantas bankir swasta bisa??? Kalau bisa, mengapa tidak ada satu generasi (± 25 tahun) pun yang berlalu tanpa krisis ekonomi?
Pemerintah berkolaborasi dengan bankir? Ya dan tidak, tergantung makna pemerintah bagi Anda. Kalau Anda berpikir pemerintah selama ini adalah sebuah institusi yang independen, bukan institusi turunan dari kekuatan finansial, maka iya, ada kolaborasi. Tapi kalau Anda bisa melihat bahwa pemerintahan berbagai negara hanyalah puppet dari kekuatan finansial, maka tidak, tidak ada kolaborasi. The Money Power has been in charge, they always are!
Kapitalisme dan Sosialisme adalah hal yang sama, kalau Anda bisa melihat
Sebagai gambaran untuk Anda, disederhanakan, suplai uang sekarang adalah begini…
Pemerintah X menerbitkan surat HUTANG sejumlah $1 juta. $1 juta ini kemudian dibelanjakan dalam proyek / pekerjaan pemerintah. Orang-orang yang mendapatkan $1 juta ini lalu membelanjakan uang-uang ini dalam masyarakat.
Masyarakat yang mendapatkan uang ini, menabungkan sebagian uang tersebut ke bank. Bank menjadikan uang ini + modal mereka sebagai basis untuk menciptakan kredit (hutang) baru kepada masyarakat yang lain (konsumen). Volume kredit yang tercipta adalah berkali-kali lipat dari uang yang ada
Kredit memang bukan uang, tetapi kredit memiliki fungsi yang sama dengan uang.
Penyebab bank bisa mendapatkan masalah (walaupun mereka memiliki hak untuk menciptakan kredit) adalah karena tidak ada yang bisa memastikan apakah orang-orang yang mengajukan kredit kepada perbankan akan memenuhi janji untuk melunasi hutang mereka, dan tidak ada juga yang bisa memastikan jaminan (kolateral) yang diberikan sebagai dasar pinjaman tidak akan mengalami penurunan nilai.
Bila kerugian dari kredit yang mereka ciptakan lebih besar dari modal mereka, modal akan menjadi negatif (insolvent), bank pun bangkrut. Orang-orang yang mengira mereka memiliki uang di bank baru kemudian sadar bahwa uang di rekening mereka sudah menguap di tengah udara. Poops… Hilang.
Surat hutang pemerintah ada bunganya… Hutang konsumen juga ada bunganya…
Sumber pendapatan yang lain dari pemerintah??
• Pajak
• Pendapatan dari perusahaan negara
Yang membayar pajak adalah rakyat negara bersangkutan, yang memberi pendapatan kepada perusahaan negara juga adalah rakyat negara bersangkutan (kecuali kalau penjualan perusahaan negara itu 100% ekspor). Jadi ujung-ujungnya yang membiayai nyaris semua pembayaran hutang pokok dan bunga pinjaman adalah rakyat negara bersangkutan…
Skema ini tidak ada hubungannya dengan medium apa yang dijadikan uang… Emas, perak, perunggu, tembaga, kertas, elektronik… Semuanya berakhir dengan cara yang sama…
Pinjam X bayar X, plus bunga X…
Pinjam Y bayar Y, plus bunga Y…
Pinjam Z bayar Z, plus bunga Z…
Gold standard?? Kawan, kalau uang selama ratusan tahun ini masih adalah koin emas fisik, saya ragu Anda akan melihat pertambahan populasi seperti ini...
Colonial Scripts & Greenback
Berita buruk mengenai colonial script dan greenback mungkin tidak perlu Anda dengar dari saya, ada banyak artikel di internet yang menceritakannya. Dua-duanya gagal karena over supply (dicetak terlalu banyak).
Tapi 1 hal yang perlu Anda ketahui adalah, yang memalsukan uang kertas ini bukanlah pemerintah. Dua-duanya dipalsukan secara masif oleh kekuatan finansial di London untuk mengembalikan pengendalian Amerika ke tangan bankir internasional di Inggris.
“Dalam jangka panjang, siapa yang mengendalikan suplai uang sebuah negara, dialah yang mengendalikan negara tersebut”
Untuk mengendalikan suplai uang Amerika, bankir internasional (Rothschild cs) harus mengembalikan medium uang yang mereka kuasai (emas) sebagai uang di Amerika. Uang kertas harus diganti dengan uang emas!
… Hari ini, tentu saja, kebutuhan bagi mereka untuk kembali ke emas sebagai uang sudah tidak ada, karena yang memonopoli uang kertas (bank note) pun adalah mereka sendiri. Dua-duanya sudah dalam kontrol mereka. Manfaat terbesar kampanye emas di internet adalah untuk menjual emas di harga setinggi-tingginya kepada orang-orang yang sanggup membeli.
Siapa pemilik bisnis pertambangan utama emas dunia? Bank-bank mana yang membiayai (memberikan kredit kerja) kepada perusahaan-perusahaan pertambangan utama dunia? Coba research-lah sendiri…
Dan kalaupun secara ajaib dunia kembali lagi ke gold standard (fractional reserved gold standard!), kekuatan yang samalah yang masih akan menjadi bankir dan menciptakan kredit kepada manusia-manusia yang ada.
Sedikit lucu melihat kampanye anti produk Amerika, anti Israel, anti Zionis, dan produk-produk yang lain, begitu gampang bagi sebagian orang untuk menyampaikan ide memboikot KFC, McDonald, Coca-Cola, dll, saya penasaran kapan orang-orang yang sama akan berpikir untuk melancarkan kampanye memboikot emas?
Membeli emas adalah tindakan perlawanan terhadap bankir internasional?? Hehe…
Harga emas boleh naik boleh turun, dan itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa proses penciptaan uang masih harus datang dari aplikasi kredit kepada perbankan!
Harga emas meroket?? Ya, itu akan membuat orang-orang yang menyimpan emas untuk bertambah kaya, tetapi demikian juga dengan para Money Masters, mereka juga akan bertambah kaya! Jauh melebihi kita.
Gampang mencari berita bank sentral menjual cadangan emas mereka untuk "menekan" harga... Yang tidak gampang adalah mencari berita siapa yang sedang membeli! Who is the last buyer??
Mereka-mereka yang berdebat bahwa kembali ke emas akan menyelesaikan masalah, bahwa “fiat” money (kertas) adalah hasil kreasi iblis… tidak tahu siapa yang sedang menjadi BOS…
Apa sebenarnya colonial script & greenback?
Bayangkan $1 juta pada contoh di atas… $1 juta itu adalah uang, bukan kredit! $1 juta itu akan eksis secara permanen di masyarakat tanpa bunga, dan tidak perlu dikembalikan kepada siapapun.
Itu adalah uang, sebagai alat tukar (medium of exchange) di masyarakat. Berbeda dengan kredit / IOU (promise to pay money), colonial script & greenback adalah the money itself!
Adalah hak dan kewajiban dari pemerintah untuk mencetak uang dan mengedarkannya untuk digunakan oleh komunitas yang mereka wakili. Mereka tidak perlu untuk menjerumuskan diri mereka ke jurang hutang sejak awal.
Pemerintah tidak bisa dipercaya? Baik, kalau demikian buatlah sistem di mana departemen yang menciptakan suplai uang harus bisa dikontrol oleh publik dengan memaparkan data yang transparan.
Masih tidak bisa dipercaya? Lantas itu otomatis berarti perbankan swasta lebih bisa dipercaya? Perbankan swasta pasti lebih jujur dibanding pemerintah?? Come on...
Setiap kali ada krisis, perbankan swasta meminta tolong kepada pemerintah (rakyat). Di hari-hari baik, semua keuntungan adalah milik mereka, di hari-hari buruk, semua kerugian akan dibagi rata dengan rakyat negara bersangkutan... Sungguh model bisnis yang sempurna.
Kalau pemerintah bisa menolong mereka, mengapa tidak sejak awal mengambil alih mandat penciptaan uang dari mereka saja?
Mengapa?? Karena PUBLIK, cukup bodoh untuk menerimanya!
Ini ada 2 contoh link tentang skema penciptaan uang yang lain, yang satu dari
Note:
(Saya tidak mengatakan semua orang yang mempromosikan emas sebagai uang adalah antek Money Masters, saya hanya merasa sejumlah besar dari mereka adalah korban propaganda populer bahwa emas adalah uang "sejati." Dunia ini tidak ada uang sejati. ALL MONEY IS FIAT BY DECREE)
Kamis, 02 April 2009
6,7 Milyar Demand
Saya lupa judulnya apa, dari sebuah film yang menceritakan tentang kisah seorang God Father (Mafia), seorang God Father di masa tuanya melakukan percakapan yang kurang lebih seperti ini kepada seorang pembantunya:
GF : Dik, kamu tahu mengapa dunia ini begitu kacau?
PBT : Hm… Nggak tahu Tuan.
GF : Dunia ini begitu kacau… Saya rasa karena semua manusia harus makan…
Awalnya saya tidak menganggap serius kata-kata ini, tetapi dengan bertambahnya umur, semakin lama saya menjalani hidup, semakin saya merasa kalimat itu ternyata ada benarnya.
Keseluruhan unit kehidupan di alam semesta, atau setidaknya di bumi, membutuhkan sumber energi untuk bertahan hidup. Semuanya harus “memakan” sesuatu. Harus. Karena tanpa suplai energi baru, semua makluk akan musnah.
Ketika Anda pergi keluar dan menatap masyarakat di depan Anda, apa yang Anda lihat kawan?
Ketika Anda menyaksikan anak-anak sekolah merayakan hari kelulusan mereka dari sekolah, ataupun upacara wisuda para mahasiswa/i di Universitas, apa yang Anda lihat kawan?
Atau ketika Anda sedang duduk santai di tempat kerja Anda, sambil melihat orang-orang di lingkungan kerja Anda, entah di kantor, entah di toko, atau mungkin juga di pabrik, apa yang Anda lihat kawan?
Tentu, banyak yang bisa dilihat... Tetapi satu persamaan absolut dari mereka, sama seperti kita sendiri, adalah mereka semua butuh makan. Mereka semua memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Berikut adalah grafik populasi dunia.
(Karena revolusi industri & teknologi, penemuan sumber energi baru seperti minyak, gas, dsb, dan juga karena ekspansi masif suplai uang, penduduk bumi dan peradaban dunia sanggup bertumbuh secara eksponensial sejak abad ke-19 sampai sekarang)
Kebutuhan (demand) adalah satu hal, kesediaan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan itu (supply) adalah hal yang lain. Bukan karena ada demand, lantas pasti akan ada supply. Dunia ini tidak seperti ini.
Coba lihat sekeliling Anda, perhatikan semua barang-barang yang ada… Lihatlah kawan, barang-barang itu ada di sana bukan karena sulap! Sebuah barang ada di tempat seperti yang sedang Anda lihat karena telah melewati rantai produksi dan distribusi yang sangat-sangat panjang… Sejak rantai produksi dan distribusi semua bahan bakunya, sampai ke rantai produksi dan distribusi produk jadinya.
Demand manusia akan selalu ada, irelevan dengan supply. Manusia hanya bisa terus berjuang dan memproduksi, semoga semua kebutuhan mereka bisa terpenuhi, dan berharap agar semua demand selalu bisa diimbangi oleh supply. Ada yang mengatakan demand pasti selalu sama dengan supply, tetapi itu hanyalah slogan, kedengarannya benar, sampai Anda mengecek ke lapangan... Ada masa-masa di mana demand lebih besar dari supply, dan ada masa-masa di mana demand lebih kecil dari supply.
Kita-kita yang masih asyik berinternet-ria, saya percaya sudah termasuk populasi yang cukup beruntung di antara 6,7 milyar penduduk bumi saat ini. Untuk setiap 1 orang yang bisa bermain internet, mungkin saja ada 1000 orang lainnya yang tidak sanggup menikmatinya, bahkan lebih. Bukan karena mereka tidak menginginkannya (demand), tetapi karena mereka tidak sanggup membayarnya, ataupun karena tidak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.
Keseluruhan demand yang ada, dipenuhi oleh semua supplier di planet ini dengan menggunakan berbagai sumber daya alam dan manusia, + sebuah medium pengantara untuk mempermudah transaksi, yang dinamakan dengan UANG.
Jadi jangan menganggap enteng masalah uang kawan… Medium ini sama pentingnya dengan semua elemen-elemen sumber daya lainnya… Agar semua demand, semua kebutuhan dan semua keinginan dari manusia bisa dipenuhi di planet ini.
Kalau Anda telah membacadebt based money system , krisis ekonomi part 1 , part 2 , dan tulisan-tulisan lainnya di sini, Anda seharusnya sudah melihat gambaran umum situasi kita sekarang.
Sama seperti manusia yang membutuhkan makanan sebagai sumber energi, demikian juga dengan system debt based money system. Sistem ini senantiasa membutuhkan debt (hutang) baru sebagai energi, yang bila tanpanya maka keseluruhan sistem ini akan ambruk.
Semua orang di dunia, harus saling bergantian untuk berpartisipasi dalam sistem hutang-berhutang ini. Tanpa hutang, sistem ini ibarat manusia lapar yang tanpa makanan. Tanpa suplai energi, sistem ini akan mati.
Grafik pertumbuhan eksponensial penduduk bumi seperti yang tadi Anda lihat, efek pertumbuhan industri dan teknologi seperti yang sedang kita nikmati, dibiayai sepenuhnya oleh ekspansi suplai uang dunia dalam bentuk kredit sejak ratusan tahun terakhir. Dan sekarang kita mulai melihat tanda-tanda bahwa kemampuan manusia untuk terus berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah berada di ambang limitnya.
Runtuhnya volume hutang adalah runtuhnya suplai energi di debt based money system. Semua barang yang kita nikmati dan pertumbuhan peradaban yang diberikan oleh hutang itu kepada kita akan dibawa pergi ketika hutang itu juga pergi… Ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang ada… Seberapa besar potensi kehilangan yang akan dirasakan ya tergantung seberapa besar skala runtuhnya volume hutang ini.
Mengekspansi suplai uang adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan…
Tetapi menciptakan uang dalam bentuk kredit (hutang) adalah sebuah pilihan…
6,7 milyar manusia yang butuh makan di dunia, 230 juta penduduk Indonesia yang perutnya lapar 3x sehari, adalah demand. Sedangkan kemampuan untuk men-supply volume kredit yang dibutuhkan agar semua kebutuhan yang diinginkan para demander ini bisa terpenuhi sudah di ambang batas.
Mengapa? Karena suplai uang (kredit) sedang berkurang. Mengapa berkurang? Karena kemampuan konsumen (terutama konsumen utama dunia: publik Amerika) untuk membayar dan mengajukan hutang baru sudah di ambang limit.
Grafik di atas dimulai dari tahun 1970, periode sebelum 1970 semua angka di atas adalah jauh lebih kecil.
Hei tunggu! Krisis apaan ini? Index Dow Jones kan sudah naik, IHSG juga sudah naik, mana ada krisis?!
Hehe… Teruslah berpikir demikian. Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk meyakinkan mayoritas publik bahwa tidak ada krisis atau krisis akan segera berlalu mungkin adalah kalau koran dan televisi mengatakan demikian.
Kalau Anda perhatikan situasi akhir-akhir ini (di lapangan nyata, bukan di pasar spekulasi yang nyaris irelevan dengan kehidupan mayoritas orang), ada beberapa jenis manusia / perusahaan sekarang:
* Yang berubah dari untung banyak menjadi untung sedikit
* Yang berubah dari untung sedikit menjadi tidak untung / impas
* Yang berubah dari impas menjadi rugi
* Yang berubah dari rugi menjadi rugi besar dan kemudian bangkrut
+ Sekelompok kecil yang tetap bisa untung besar di era krisis.
Saya tahu dari mana?
Saya tahu dari berita tentang penurunan ekspor di hampir semua negara di planet ini…
Saya tahu dari penurunan omset di hampir semua pabrik dan retailer di kota saya yang saya kenal…
Saya tahu dari belasan ribu operator yang kontraknya tidak diperpanjang oleh pabrik-pabrik di kota saya…
Saya tahu dari logika umum bahwa setelah operator-operator itu kehilangan pekerjaan dan pendapatan mereka, semuarantai belanja berikut yang selama ini mendapatkan uang dari mereka akan kehilangan sejumlah omset pendapatan mereka…
Yang sedang membeli barang dari perusahaan manufaktur sekarang, dan yang sedang membeli stok di pasaran retail adalah mereka yang masih bisa untung ataupun mereka yang tidak untung tetapi masih memiliki TABUNGAN.
Volume stok yang mereka beli sekarang pun menurun cukup jauh dibanding periode sebelumnya. Kalau Anda memperhatikan berita, volume penurunan order secara rata-rata di seluruh dunia sudah mencapai antara 20 - 50%, dan tidak ada tanda-tanda kejatuhan akan segera berakhir, apalagi daya beli publik akan berbalik arah.
Kenyataan bahwa efek krisis belum benar-benar terasa bukan karena tidak ada krisis, tetapi karena cukup banyak orang yang masih memiliki tabungan. Efek krisis ini, baik ekonomi, sosial, maupun militer (moga-moga tidak mengarah ke sini) baru akan Anda lihat setelah manusia-manusia di berbagai tempat mulai habis mengkonsumsi tabungan mereka.
When Goods Don’t Cross The Border, Armies Do!
Saya sebenarnya tidak sedang memberikan prediksi kepada Anda apa yang akan terjadi besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Apa yang coba saya tulis di blog ini hanyalah rangkaian sebab-akibat sebuah kejadian yang menurut saya logis dan wajar.
Demand 6,7 milyar penduduk bumi ini masih ada, yang tidak ada adalah daya beli (purchasing power) dari orang-orang yang sama. Kita semua akan menjadi saksi gejolak uang ini, dan bila saatnya sudah tiba, sebagian dari kita akan menjadi pemangsa terhadap yang lain, dan sebagian lagi akan menjadi termangsa oleh yang lain.
Semua orang harus “makan” kawan… Kita semua harus memperebutkan suplai energi (uang) yang tersisa… Sorry…
Debt based money system adalah pilihan kita…
“Apa Yang Kau Tanam, Itulah Yang Kau Tuai”

Atau Anda merasa tidak memilihnya? Anda tidak suka dengan sistem yang ada? Apa benar begitu…?
Tanpa aksi, pikiran Anda tidaklah penting... Silence is acceptance…!
Sedikit tambahan, mana sebab – mana akibat dari sebuah kejadian adalah relatif tergantung perspektif waktu.
Kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa asal – muasal krisis kali ini adalah karena sub-prime mortgage dan taruhan derivatif dengan nilai astronomis, itu mungkin memang benar, kalau dunia yang Anda lihat adalah periode 10 - 20 tahun terakhir.
Atau kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa krisis ini disebabkan oleh dolar-system paska perjanjian Bretton Woods tahun 1944, itu mungkin juga benar, kalau periode yang Anda analisa adalah 65 tahun terakhir.
Atau kalau Anda mendengar bahwa krisis ini diprakarsai olehpara bankir zionis super serakah yang ingin memonopoli semua usaha yang mengendalikan hajat hidup orang banyak , itu mungkin juga benar, kalau dunia yang kita lihat adalah periode 250 - 300 tahun terakhir.
Atau kalau Anda mendengar lagi bahwa krisis ini adalah karena sistem kredit (hutang) sebagai uang yang marak dilakukan para bankir swasta sejak abad ke-15 sebagai asal-muasal krisis, mungkin itu juga benar, kalau perspektif waktu diperpanjang lagi ke masa 600 ratus tahun terakhir.
Atau kalau yang Anda dengar adalah masalah riba, akibat sistem yang meminta lebih daripada yang dia berikan, itu mungkin juga benar, kalau perspektif waktu analisa diperpanjang lagi ke masa 2500 – 3000 tahun.
Anda semua tidak harus setuju ataupun memahami apa yang saya tulis sekarang… Di masa-masa mendatang, akan tiba banyak kesempatan dan kejadian yang akan membantu Anda memahami pelajaran dari kalimat ini…
“Semua makluk (& sistem) butuh makan (sumber energi)…, & Kemampuan alami manusia untuk berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah melewati ambang batas. 6,7 milyar demander malang di planet ini tidak sanggup lagi memberi makan sistem debt based money system ini. "
Dan bagi Anda yang berpikir pemerintahan ini akan menyelamatkan kita, teruskanlah mimpi indah Anda… Pemerintah, sebagai sebuah institusi, juga tidak terlepas dari kenyataan hidup yang sama (butuh “makan”),coba lihat link ini…
Ignorant is a blessing… Until it isn’t...
GF : Dik, kamu tahu mengapa dunia ini begitu kacau?
PBT : Hm… Nggak tahu Tuan.
GF : Dunia ini begitu kacau… Saya rasa karena semua manusia harus makan…
Awalnya saya tidak menganggap serius kata-kata ini, tetapi dengan bertambahnya umur, semakin lama saya menjalani hidup, semakin saya merasa kalimat itu ternyata ada benarnya.
Keseluruhan unit kehidupan di alam semesta, atau setidaknya di bumi, membutuhkan sumber energi untuk bertahan hidup. Semuanya harus “memakan” sesuatu. Harus. Karena tanpa suplai energi baru, semua makluk akan musnah.
Ketika Anda pergi keluar dan menatap masyarakat di depan Anda, apa yang Anda lihat kawan?
Ketika Anda menyaksikan anak-anak sekolah merayakan hari kelulusan mereka dari sekolah, ataupun upacara wisuda para mahasiswa/i di Universitas, apa yang Anda lihat kawan?
Atau ketika Anda sedang duduk santai di tempat kerja Anda, sambil melihat orang-orang di lingkungan kerja Anda, entah di kantor, entah di toko, atau mungkin juga di pabrik, apa yang Anda lihat kawan?
Tentu, banyak yang bisa dilihat... Tetapi satu persamaan absolut dari mereka, sama seperti kita sendiri, adalah mereka semua butuh makan. Mereka semua memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Berikut adalah grafik populasi dunia.
Kebutuhan (demand) adalah satu hal, kesediaan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan itu (supply) adalah hal yang lain. Bukan karena ada demand, lantas pasti akan ada supply. Dunia ini tidak seperti ini.
Coba lihat sekeliling Anda, perhatikan semua barang-barang yang ada… Lihatlah kawan, barang-barang itu ada di sana bukan karena sulap! Sebuah barang ada di tempat seperti yang sedang Anda lihat karena telah melewati rantai produksi dan distribusi yang sangat-sangat panjang… Sejak rantai produksi dan distribusi semua bahan bakunya, sampai ke rantai produksi dan distribusi produk jadinya.
Demand manusia akan selalu ada, irelevan dengan supply. Manusia hanya bisa terus berjuang dan memproduksi, semoga semua kebutuhan mereka bisa terpenuhi, dan berharap agar semua demand selalu bisa diimbangi oleh supply. Ada yang mengatakan demand pasti selalu sama dengan supply, tetapi itu hanyalah slogan, kedengarannya benar, sampai Anda mengecek ke lapangan... Ada masa-masa di mana demand lebih besar dari supply, dan ada masa-masa di mana demand lebih kecil dari supply.
Kita-kita yang masih asyik berinternet-ria, saya percaya sudah termasuk populasi yang cukup beruntung di antara 6,7 milyar penduduk bumi saat ini. Untuk setiap 1 orang yang bisa bermain internet, mungkin saja ada 1000 orang lainnya yang tidak sanggup menikmatinya, bahkan lebih. Bukan karena mereka tidak menginginkannya (demand), tetapi karena mereka tidak sanggup membayarnya, ataupun karena tidak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.
Keseluruhan demand yang ada, dipenuhi oleh semua supplier di planet ini dengan menggunakan berbagai sumber daya alam dan manusia, + sebuah medium pengantara untuk mempermudah transaksi, yang dinamakan dengan UANG.
Jadi jangan menganggap enteng masalah uang kawan… Medium ini sama pentingnya dengan semua elemen-elemen sumber daya lainnya… Agar semua demand, semua kebutuhan dan semua keinginan dari manusia bisa dipenuhi di planet ini.
Kalau Anda telah membaca
Sama seperti manusia yang membutuhkan makanan sebagai sumber energi, demikian juga dengan system debt based money system. Sistem ini senantiasa membutuhkan debt (hutang) baru sebagai energi, yang bila tanpanya maka keseluruhan sistem ini akan ambruk.
Semua orang di dunia, harus saling bergantian untuk berpartisipasi dalam sistem hutang-berhutang ini. Tanpa hutang, sistem ini ibarat manusia lapar yang tanpa makanan. Tanpa suplai energi, sistem ini akan mati.
Grafik pertumbuhan eksponensial penduduk bumi seperti yang tadi Anda lihat, efek pertumbuhan industri dan teknologi seperti yang sedang kita nikmati, dibiayai sepenuhnya oleh ekspansi suplai uang dunia dalam bentuk kredit sejak ratusan tahun terakhir. Dan sekarang kita mulai melihat tanda-tanda bahwa kemampuan manusia untuk terus berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah berada di ambang limitnya.
Runtuhnya volume hutang adalah runtuhnya suplai energi di debt based money system. Semua barang yang kita nikmati dan pertumbuhan peradaban yang diberikan oleh hutang itu kepada kita akan dibawa pergi ketika hutang itu juga pergi… Ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang ada… Seberapa besar potensi kehilangan yang akan dirasakan ya tergantung seberapa besar skala runtuhnya volume hutang ini.
Mengekspansi suplai uang adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan…
Tetapi menciptakan uang dalam bentuk kredit (hutang) adalah sebuah pilihan…
6,7 milyar manusia yang butuh makan di dunia, 230 juta penduduk Indonesia yang perutnya lapar 3x sehari, adalah demand. Sedangkan kemampuan untuk men-supply volume kredit yang dibutuhkan agar semua kebutuhan yang diinginkan para demander ini bisa terpenuhi sudah di ambang batas.
Mengapa? Karena suplai uang (kredit) sedang berkurang. Mengapa berkurang? Karena kemampuan konsumen (terutama konsumen utama dunia: publik Amerika) untuk membayar dan mengajukan hutang baru sudah di ambang limit.
Grafik di atas dimulai dari tahun 1970, periode sebelum 1970 semua angka di atas adalah jauh lebih kecil.Hei tunggu! Krisis apaan ini? Index Dow Jones kan sudah naik, IHSG juga sudah naik, mana ada krisis?!
Hehe… Teruslah berpikir demikian. Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk meyakinkan mayoritas publik bahwa tidak ada krisis atau krisis akan segera berlalu mungkin adalah kalau koran dan televisi mengatakan demikian.
Kalau Anda perhatikan situasi akhir-akhir ini (di lapangan nyata, bukan di pasar spekulasi yang nyaris irelevan dengan kehidupan mayoritas orang), ada beberapa jenis manusia / perusahaan sekarang:
* Yang berubah dari untung banyak menjadi untung sedikit
* Yang berubah dari untung sedikit menjadi tidak untung / impas
* Yang berubah dari impas menjadi rugi
* Yang berubah dari rugi menjadi rugi besar dan kemudian bangkrut
+ Sekelompok kecil yang tetap bisa untung besar di era krisis.
Saya tahu dari mana?
Saya tahu dari berita tentang penurunan ekspor di hampir semua negara di planet ini…
Saya tahu dari penurunan omset di hampir semua pabrik dan retailer di kota saya yang saya kenal…
Saya tahu dari belasan ribu operator yang kontraknya tidak diperpanjang oleh pabrik-pabrik di kota saya…
Saya tahu dari logika umum bahwa setelah operator-operator itu kehilangan pekerjaan dan pendapatan mereka, semua
Yang sedang membeli barang dari perusahaan manufaktur sekarang, dan yang sedang membeli stok di pasaran retail adalah mereka yang masih bisa untung ataupun mereka yang tidak untung tetapi masih memiliki TABUNGAN.
Volume stok yang mereka beli sekarang pun menurun cukup jauh dibanding periode sebelumnya. Kalau Anda memperhatikan berita, volume penurunan order secara rata-rata di seluruh dunia sudah mencapai antara 20 - 50%, dan tidak ada tanda-tanda kejatuhan akan segera berakhir, apalagi daya beli publik akan berbalik arah.
Kenyataan bahwa efek krisis belum benar-benar terasa bukan karena tidak ada krisis, tetapi karena cukup banyak orang yang masih memiliki tabungan. Efek krisis ini, baik ekonomi, sosial, maupun militer (moga-moga tidak mengarah ke sini) baru akan Anda lihat setelah manusia-manusia di berbagai tempat mulai habis mengkonsumsi tabungan mereka.
Saya sebenarnya tidak sedang memberikan prediksi kepada Anda apa yang akan terjadi besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Apa yang coba saya tulis di blog ini hanyalah rangkaian sebab-akibat sebuah kejadian yang menurut saya logis dan wajar.
Demand 6,7 milyar penduduk bumi ini masih ada, yang tidak ada adalah daya beli (purchasing power) dari orang-orang yang sama. Kita semua akan menjadi saksi gejolak uang ini, dan bila saatnya sudah tiba, sebagian dari kita akan menjadi pemangsa terhadap yang lain, dan sebagian lagi akan menjadi termangsa oleh yang lain.
Semua orang harus “makan” kawan… Kita semua harus memperebutkan suplai energi (uang) yang tersisa… Sorry…
Debt based money system adalah pilihan kita…

Atau Anda merasa tidak memilihnya? Anda tidak suka dengan sistem yang ada? Apa benar begitu…?
Tanpa aksi, pikiran Anda tidaklah penting... Silence is acceptance…!
Sedikit tambahan, mana sebab – mana akibat dari sebuah kejadian adalah relatif tergantung perspektif waktu.
Kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa asal – muasal krisis kali ini adalah karena sub-prime mortgage dan taruhan derivatif dengan nilai astronomis, itu mungkin memang benar, kalau dunia yang Anda lihat adalah periode 10 - 20 tahun terakhir.
Atau kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa krisis ini disebabkan oleh dolar-system paska perjanjian Bretton Woods tahun 1944, itu mungkin juga benar, kalau periode yang Anda analisa adalah 65 tahun terakhir.
Atau kalau Anda mendengar bahwa krisis ini diprakarsai oleh
Atau kalau Anda mendengar lagi bahwa krisis ini adalah karena sistem kredit (hutang) sebagai uang yang marak dilakukan para bankir swasta sejak abad ke-15 sebagai asal-muasal krisis, mungkin itu juga benar, kalau perspektif waktu diperpanjang lagi ke masa 600 ratus tahun terakhir.
Atau kalau yang Anda dengar adalah masalah riba, akibat sistem yang meminta lebih daripada yang dia berikan, itu mungkin juga benar, kalau perspektif waktu analisa diperpanjang lagi ke masa 2500 – 3000 tahun.
Anda semua tidak harus setuju ataupun memahami apa yang saya tulis sekarang… Di masa-masa mendatang, akan tiba banyak kesempatan dan kejadian yang akan membantu Anda memahami pelajaran dari kalimat ini…
“Semua makluk (& sistem) butuh makan (sumber energi)…, & Kemampuan alami manusia untuk berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah melewati ambang batas. 6,7 milyar demander malang di planet ini tidak sanggup lagi memberi makan sistem debt based money system ini. "
Dan bagi Anda yang berpikir pemerintahan ini akan menyelamatkan kita, teruskanlah mimpi indah Anda… Pemerintah, sebagai sebuah institusi, juga tidak terlepas dari kenyataan hidup yang sama (butuh “makan”),
Ignorant is a blessing… Until it isn’t...
Selasa, 24 Maret 2009
The Lost Science of Money
Sudah lebih dari 4 bulan sejak saya pertama kali membuat blog ini. Hasilnya… saya tidak tahu pasti, tetapi saya menduga ada sekitar 1200 - 1500 orang di Indonesia yang pernah mengklik blog ini.
Dari 1200 - 1500 orang ini, saya menduga ada sekitar 150 – 200 orang yang berhasil saya ajak untuk meneliti lebih lanjut topik ini, sisanya adalah orang-orang yang secara kebetulan datang ke sini, dan juga orang-orang yang hanya datang sekali dan kemudian tidak berminat untuk mencari tahu lebih lanjut.
Ditambah dengan penjualan buku yang saya terbitkan tahun 2007 lalu (Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia), saya menduga hanya ada sekitar 1500 - 2000 orang yang berhasil saya jangkau.
Indonesia memiliki sekitar 230 juta penduduk, 2000 orang adalah 0,00087% darinya. Saya tidak tahu pasti ada berapa website yang membahas topik ini di Indonesia, terutama yang lebih khusus mengenai topik uang, tetapi saya menduga persentase penduduk negara ini yang pernah mendapatkan informasi sejenis masih sangat-sangat minim jumlahnya.
Saya cukup kagum dengan bisnis MLM, karena hampir semua MLM di Indonesia tampaknya bisa dengan “mudah” mencapai angka puluhan ribu member. Dan bila digabungkan semua MLM-MLM beken seperti Amway, CNI, atau Tianshi, dsb, anggota MLM di Indonesia bisa saja mencapai berjuta-juta orang. Artinya, beberapa persen dari penduduk Indonesia adalah member MLM, baik partisipan aktif maupun pasif.
Saya kadang-kadang penasaran, seandainya semangat multi-level ini bisa dipraktekkan untuk menyebarkan pesan-pesan seperti yang ada di website / blog semacam ini, mungkin kita-kita juga bisa menggerakkan massa untuk menuntut perubahan sistem moneter yang lebih adil, baik di Indonesia, maupun di dunia.
Kalau di MLM yang mayoritas partisipannya rugi saja anggotanya di Indonesia bisa menembus jutaan orang, bersediakah partisipan-partisipan yang sama ini menggunakan sebagian kecil waktu mereka untuk ikut menyebarkan informasi-informasi seperti yang ada di sini? Potensi kerugian bagi mereka adalah nol. Tidak perlu membeli produk, tidak perlu membeli tiket seminar, dan tidak perlu mentraktir siapa-siapa untuk duduk-duduk di kedai kopi sambil membagi peluang “bisnis.”
Saya tidak tahu Anda berpikir bagaimana, tetapi menurut saya, tanpa massa, semua percobaan kita akan berakhir sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Untuk itu, saya harapkan Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam percobaan ini.
Saya tidak meminta Anda untuk mempromosikan blog ini secara khusus, silahkan Anda mempromosikan website-website lain yang menurut Anda lebih baik, yang saya minta adalah Anda, dalam waktu senggang Anda, untuk mulai bercerita kepada teman-teman Anda mengenai topik ini(debt based money system & riba perbankan). Hanya perlu modal mulut, tak perlu mengeluarkan uang…
Maukah Anda melakukannya, Kawan?
Kalau Anda penasaran mengapa saya melakukan ini, saya akan menceritakannya kepada Anda…
Saya menulis topik ini karena saya tidak suka dikelilingi oleh orang miskin.
Orang miskin memang tidaklah menakutkan, tetapi yang menakutkan adalah efek kemiskinan kepada mereka!
Saya dibesarkan di lingkungan kelas menengah seperti umumnya, walaupun saya kenal beberapa orang yang sangat kaya, tetapi saya mengenal jauh lebih banyak orang-orang yang tidak.
Sejauh yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, permasalahan uang (terutama masalah kekurangan uang) bertanggungjawab secara langsung kepada berbagai masalah keluarga dan sosial. Rusaknya hubungan rumah tangga, korupsi, penipuan, perjudian, alkoholisme, prostitusi, ketergantungan kepada obat bius, tindakan vandalisme, dan naiknya kriminalitas, dsb.
Debt based money system dan sistem moneter ribawi yang digunakan di seluruh planet ini, telah, sedang, dan akan semakin mempermiskin mayoritas penduduk di setiap negara, dan Indonesia 100% tidak terkecuali dari fenomena yang sama.
Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil tanpa berinteraksi dengan orang-orang yang lain, bila tidak, kemiskinan publik cepat atau lambat akan berdampak secara lansung kepadamu ataupun keluargamu (efek fisik maupun mental). Tak seorangpun bisa tak terpengaruh oleh efek kemiskinan di masyarakatnya. Manusia yang hidupnya sedang terdesak oleh kemiskinan bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.
Dan percayalah kepada saya, Anda tidak ingin melihat ketika mereka melakukan itu!
Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, sebelum saya lulus dari perguruan tinggi, dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di dekat Boyolali, saya tinggal di rumah seorang petani… Di keluarga mereka, indomie sudah termasuk lauk elit! Mayoritas hidangan makan mereka hanyalah sepiring nasi putih ditambah sedikit sayuran.
Ada berapa banyak sebenarnya keluarga-keluarga seperti ini di Indonesia? Yang bahkan tidak bisa makan dengan layak 3 kali sehari?
Hari ini, di tempat saya bekerja (pabrik), saya juga melihat secara langsung operator-operator yang bekerja dengan upah budak UMK. Meraka juga punya keluarga... Bagaimana caranya gaji 1 juta harus dipakai untuk menghidupi keluarga mereka? Apa sebenarnya yang mereka makan setiap hari? Tempat tinggal semacam apa yang mereka huni? Sekolah apa yang bisa dimasuki oleh anak-anak mereka?
Sekadar membayangkannya saja sudah membuat saya merasa mual.
Kawan, apa sebenarnya yang bisa membuat Anda merasa marah? Kata-kata apa yang bisa membuat emosi Anda naik tinggi? Kalau Anda sekarang mulai tahu kemiskinan dalam porsi yang cukup besar disebabkan oleh sebuah penyebab yang sebenarnya bisa dihindari oleh manusia, mengapa Anda bisa diam saja?
…. Ok, saya lebih baik tidak mengomel lebih lanjut... Anda tidak ke sini untuk mendengar omelan saya bukan?
Hari ini, saya akan mempromosikan sebuah buku kepada Anda… Judulnya : The Lost Science of Money, karangan Stephen Zarlenga.
Seminggu yang lalu seorang teman saya memberikannya kepadaku. Saya belum selesai membacanya, tetapi so far saya sangat terkesan dengan isi buku ini. Ini adalah sebuah buku mengenai perjalanan uang, buku terbaik mengenai sejarah uang yang pernah saya baca.
Dari 1200 - 1500 orang ini, saya menduga ada sekitar 150 – 200 orang yang berhasil saya ajak untuk meneliti lebih lanjut topik ini, sisanya adalah orang-orang yang secara kebetulan datang ke sini, dan juga orang-orang yang hanya datang sekali dan kemudian tidak berminat untuk mencari tahu lebih lanjut.
Ditambah dengan penjualan buku yang saya terbitkan tahun 2007 lalu (Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia), saya menduga hanya ada sekitar 1500 - 2000 orang yang berhasil saya jangkau.
Indonesia memiliki sekitar 230 juta penduduk, 2000 orang adalah 0,00087% darinya. Saya tidak tahu pasti ada berapa website yang membahas topik ini di Indonesia, terutama yang lebih khusus mengenai topik uang, tetapi saya menduga persentase penduduk negara ini yang pernah mendapatkan informasi sejenis masih sangat-sangat minim jumlahnya.
Saya cukup kagum dengan bisnis MLM, karena hampir semua MLM di Indonesia tampaknya bisa dengan “mudah” mencapai angka puluhan ribu member. Dan bila digabungkan semua MLM-MLM beken seperti Amway, CNI, atau Tianshi, dsb, anggota MLM di Indonesia bisa saja mencapai berjuta-juta orang. Artinya, beberapa persen dari penduduk Indonesia adalah member MLM, baik partisipan aktif maupun pasif.
Saya kadang-kadang penasaran, seandainya semangat multi-level ini bisa dipraktekkan untuk menyebarkan pesan-pesan seperti yang ada di website / blog semacam ini, mungkin kita-kita juga bisa menggerakkan massa untuk menuntut perubahan sistem moneter yang lebih adil, baik di Indonesia, maupun di dunia.
Kalau di MLM yang mayoritas partisipannya rugi saja anggotanya di Indonesia bisa menembus jutaan orang, bersediakah partisipan-partisipan yang sama ini menggunakan sebagian kecil waktu mereka untuk ikut menyebarkan informasi-informasi seperti yang ada di sini? Potensi kerugian bagi mereka adalah nol. Tidak perlu membeli produk, tidak perlu membeli tiket seminar, dan tidak perlu mentraktir siapa-siapa untuk duduk-duduk di kedai kopi sambil membagi peluang “bisnis.”
Saya tidak tahu Anda berpikir bagaimana, tetapi menurut saya, tanpa massa, semua percobaan kita akan berakhir sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Untuk itu, saya harapkan Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam percobaan ini.
Saya tidak meminta Anda untuk mempromosikan blog ini secara khusus, silahkan Anda mempromosikan website-website lain yang menurut Anda lebih baik, yang saya minta adalah Anda, dalam waktu senggang Anda, untuk mulai bercerita kepada teman-teman Anda mengenai topik ini
Maukah Anda melakukannya, Kawan?
Kalau Anda penasaran mengapa saya melakukan ini, saya akan menceritakannya kepada Anda…
Saya menulis topik ini karena saya tidak suka dikelilingi oleh orang miskin.
Orang miskin memang tidaklah menakutkan, tetapi yang menakutkan adalah efek kemiskinan kepada mereka!
Saya dibesarkan di lingkungan kelas menengah seperti umumnya, walaupun saya kenal beberapa orang yang sangat kaya, tetapi saya mengenal jauh lebih banyak orang-orang yang tidak.
Sejauh yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, permasalahan uang (terutama masalah kekurangan uang) bertanggungjawab secara langsung kepada berbagai masalah keluarga dan sosial. Rusaknya hubungan rumah tangga, korupsi, penipuan, perjudian, alkoholisme, prostitusi, ketergantungan kepada obat bius, tindakan vandalisme, dan naiknya kriminalitas, dsb.
Debt based money system dan sistem moneter ribawi yang digunakan di seluruh planet ini, telah, sedang, dan akan semakin mempermiskin mayoritas penduduk di setiap negara, dan Indonesia 100% tidak terkecuali dari fenomena yang sama.
Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil tanpa berinteraksi dengan orang-orang yang lain, bila tidak, kemiskinan publik cepat atau lambat akan berdampak secara lansung kepadamu ataupun keluargamu (efek fisik maupun mental). Tak seorangpun bisa tak terpengaruh oleh efek kemiskinan di masyarakatnya. Manusia yang hidupnya sedang terdesak oleh kemiskinan bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.
Dan percayalah kepada saya, Anda tidak ingin melihat ketika mereka melakukan itu!
Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, sebelum saya lulus dari perguruan tinggi, dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di dekat Boyolali, saya tinggal di rumah seorang petani… Di keluarga mereka, indomie sudah termasuk lauk elit! Mayoritas hidangan makan mereka hanyalah sepiring nasi putih ditambah sedikit sayuran.
Ada berapa banyak sebenarnya keluarga-keluarga seperti ini di Indonesia? Yang bahkan tidak bisa makan dengan layak 3 kali sehari?
Hari ini, di tempat saya bekerja (pabrik), saya juga melihat secara langsung operator-operator yang bekerja dengan upah budak UMK. Meraka juga punya keluarga... Bagaimana caranya gaji 1 juta harus dipakai untuk menghidupi keluarga mereka? Apa sebenarnya yang mereka makan setiap hari? Tempat tinggal semacam apa yang mereka huni? Sekolah apa yang bisa dimasuki oleh anak-anak mereka?
Sekadar membayangkannya saja sudah membuat saya merasa mual.
Kawan, apa sebenarnya yang bisa membuat Anda merasa marah? Kata-kata apa yang bisa membuat emosi Anda naik tinggi? Kalau Anda sekarang mulai tahu kemiskinan dalam porsi yang cukup besar disebabkan oleh sebuah penyebab yang sebenarnya bisa dihindari oleh manusia, mengapa Anda bisa diam saja?
…. Ok, saya lebih baik tidak mengomel lebih lanjut... Anda tidak ke sini untuk mendengar omelan saya bukan?
Hari ini, saya akan mempromosikan sebuah buku kepada Anda… Judulnya : The Lost Science of Money, karangan Stephen Zarlenga.
Seminggu yang lalu seorang teman saya memberikannya kepadaku. Saya belum selesai membacanya, tetapi so far saya sangat terkesan dengan isi buku ini. Ini adalah sebuah buku mengenai perjalanan uang, buku terbaik mengenai sejarah uang yang pernah saya baca.

Bankir sudah pasti tidak akan menyukai buku ini, dan saya khawatir para suporter emas dari Sekolah Austria pun mungkin tidak akan menyukainya.
Inti dari buku ini,
Semua uang pada dasarnya adalah Fiat. Medium X adalah uang karena penguasa atas komunitas tersebut memutuskan demikian.
Pertengkaran mengenai medium uang, emas vs kertas, ataupun lainnya, adalah propaganda dari penguasa yang sama yang telah mengendalikan kedua-duanya. Isu yang sebenarnya adalah siapa yang menciptakan uang:
Sinopsis buku ini bisa Anda lihat di websitenya:www.monetary.org
Inti dari buku ini,
Semua uang pada dasarnya adalah Fiat. Medium X adalah uang karena penguasa atas komunitas tersebut memutuskan demikian.
"Money Exists Not By Nature But By Law"
Pertengkaran mengenai medium uang, emas vs kertas, ataupun lainnya, adalah propaganda dari penguasa yang sama yang telah mengendalikan kedua-duanya. Isu yang sebenarnya adalah siapa yang menciptakan uang:
Pemerintah (mewakili publik) vs Bankir
Sinopsis buku ini bisa Anda lihat di websitenya:
Rabu, 18 Maret 2009
Senin, 16 Maret 2009
Quantitative Easing
Tampaknya Inggris masih lebih celaka dari Amerika. Tidak menunggu Bernanke untuk memenuhi janji Helicopter Speech-nya, Inggris memimpin terlebih dahulu proses mencetak uang di antara negara-negara lokasi gempa finansial kali ini.
Link 1
Link 2
Kosakata yang dipakai kali ini, bukan printing money, bukan juga monetisasi, tapi quantitative easing… Gonta-ganti kosakata, mungkin untuk membantu penjualan buku-buku ekonomi baru. Hehe…
Berbagai negara sebenarnya menciptakan uang dengan cara yang kurang lebih sama. Apa yang dilakukan Bank of England sejak beberapa abad yang lalu juga diaplikasikan di Amerika oleh Federal Reserve, dan apa yang dilakukan di Amerika, juga diaplikasikan oleh negara lainnya di seluruh dunia. Mungkin memang ada sedikit perbedaan kecil di berbagai negara, tetapi tetap prosesnya secara umum masih sama.
Dalam sistem yang sedang digunakan, pendapatan utama sebuah negara datang dari:
1. Pajak
2. Meminjam kepada publik / negara lain (penerbitan surat hutang)
3. Pendapatan dari perusahaan negara
Bila pemasukan dari ketiga cara ini masih juga kurang untuk memenuhi anggaran belanja pemerintah, dan pemerintah tetap ngotot membelanjakan uang yang tidak mereka miliki, pemerintah bisa memerintahkan bank sentral untuk mencetak uang untuk digunakan oleh mereka.
Mekanismenya adalah pemerintah menerbitkan surat hutang baru lagi, dan yang membeli adalah bank sentralnya. Yang satu adalah debitur, yang satunya lagi adalah kreditur. Darimana bank sentral mendapatkan uang untuk membeli surat hutang pemerintah ini? Jawabannya, di zaman ini, mereka menciptakan uang itu begitu saja. Itu adalah mandat mereka berdasarkan peraturan yang ada.
Uang yang dipinjam pemerintah dari bank sentral, secara umum bisa dikatakan tidak perlu dikembalikan lagi, hanya bunganya saja yang dibayarkan dari tahun ke tahun. Tidak seperti pinjaman publik kepada bank komersial, hutang pemerintah kepada bank sentral yang jatuh tempo selalu bisa di-rolling over lagi. Pemerintah pasti bisa menggali lubang baru untuk menutup lubang lama, sebab bank sentral sendiri adalah milik negara.
Dalam kasus bank sentral yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh negara sekalipun, hal ini tetap berlaku. Federal Reserve, walaupun adalah badan swasta, tetap akan me-rollover hutang pemerintah Amerika saat hutang mereka jatuh tempo.
Jadi, selama sebuah negara tidak menerbitkan surat hutang dalam mata uang negara lain, sebenarnya resiko gagal bayarnya adalah nol. Pemerintah pasti sanggup membayar, yang tidak pasti adalah daya beli (purchasing power) dari uang yang nantinya akan dibayarkan. Hehe…
Satu setengah tahun ini, berbagai bank sentral negara maju sudah menghabiskan uang mereka untuk membantu sementara bank-bank dan perusahaan finansial raksasa yang sebenarnya bangkrut. Dan sekarang, saatnya sudah hampir tiba bagi mereka untuk kehabisan uang mereka.
Pemerintahan di sana juga sudah berupaya meminjam sebanyak-banyaknya dari publik, sebagian uang yang sebenarnya bisa dipakai oleh publik berpindah tangan ke tangan pemerintah, yang kemudian memberikannya kepada bank-bank dan perusahaan finansial mereka supaya mereka bisa tetap beroperasi. Lesunya ekonomi riil sekarang sebenarnya adalah tanggungjawab pemerintah di sana juga, tetapi karena yang ditulis di koran hanyalah sisi “penyelamatan” oleh pemerintah, maka sisi destruksi dari tindakan yang sama ini tidak disadari oleh publik mereka secara umum.
Mungkin menarik juga membacaberita ini… , AIG, si pesakitan, tampaknya kembali akan membagikan bonus aduhai kepada managemen mereka, jumlahnya tak tangung-tanggung, $165 juta (hampir Rp 2 trilyun). Fantastis…
Benar-benar memuakkan melihat koran dan TV ketika mereka melaporkan upaya pemerintah dan bank sentral untuk “menyuntik” trilyunan dolar, euro, atau yen sebagai sebuah tindakan yang heroik. The Fed, Bank of England, European Central Bank, Bank of Japan, dll, mereka pada dasarnya adalah bagian dari sebuah jaringan yang eksis untuk mengambil keuntungan dari semua rakyat mereka, bukan sebaliknya.
Untuk setiap sen yang diklaim pemerintah untuk “menyelamatkan” ekonomi, ada satu sen juga yang hilang dari tangan publik sehingga mereka tidak sanggup “menyelamatkan” diri mereka sendiri. Semakin besar “penyelamatan” pemerintah, semakin berkurang kemampuan sebuah masyarakat untuk menyelesaikan masalah oleh diri mereka sendiri.
Coba lihatlink ini juga, Bernanke mengatakan kepada seluruh dunia bahwa resiko terbesar bagi pemulihan ekonomi Amerika sekarang adalah “kurangnya tekad” pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan finansial. Harusnya dia mengatakan dalam bahasa yang lebih singkat… Pemerintah Amerika (sebenarnya pembayar pajak Amerika) wajib membail-out semua perusahaan finansial yang ada, dengan demikian ekonomi akan pulih dengan cepat!
Saat ini, kontraksi kredit (deflasi) mulai menyebabkan macetnya aktifitas ekonomi. Solusi dari deflasi tentu saja adalah inflasi. Pertanyaannya adalah bagaimana menginflasikan sistem yang ada… Mencetak uang sebenarnya bukanlah dosa besar, masalahnya adalah status uang itu.
Kalau mereka tahu masalah sekarang adalah kebanyakan hutang (baik hutang pemerintah maupun hutang publik), mengapa mereka menawarkan solusi dengan berhutang lebih banyak? Apa sebenarnya motif mereka? Apakah mereka ingin menghiperinflasikan seluruh planet ini pada saat yang bersamaan?(Krisis ekonomi, part 1)
Skenario di mana hiperinflasi tidak akan terjadi kemungkinan hanya bisa terjadi kalau uang-uang baru yang dicetak pemerintahan berbagai negara tidak akan diputar kembali menjadi puluhan kali lipat kredit konsumen dalam fractional reserve system. Entah karena bank-bank penerima uang itu tidak mau meminjamkan kepada publik, ataupun karena publik yang tidak mau / tidak sanggup meminjam dan memenuhi janji untuk membayar.
Tetapi, kalau saya harus bertaruh, saya tetap akan bertaruh kepada hiperinflasi dalam beberapa tahun ke depan. Masa lalu uang penuh dengan cerita-cerita seperti ini…
Namun, seperti yang sudah Anda ketahui, permasalahan sistem sekarang ada pada daya beli konsumen… Menambah nol pada angka-angka di selembar kertas tidak akan menyelesaikan masalah, hanya memperumit masalah…
Dan dalam kasus percobaan menginflasikan sistem ini gagal… Siapkanlah mental Anda untuk menghadapi guncangan besar dunia dalam waktu beberapa tahun. Ketika mencetak uang tidak berhasil, cara lain untuk menginflasikan sistem adalah penghangusan inventori, baik inventori barang maupun manusia…
Hutang tidak akan dimaafkan, negara-negara maupun orang-orang yang gagal bayar, tidak akan dibiarkan begitu saja dalam sistem yang ada. Proses likuidasi manusia yang tidak lagi menguntungkan bisa saja berlangsung secara brutal…
Somehow, "The Elite" akan menemukan sebuah alasan / pemicu, untuk melikuidasi semua orang yang tidak lagi produktif atau sanggup membayar. Anda pernah dengar bencana Global Warming… Peak Oil… Bird Flu... Apocalypse 2012… World War 3… dsb? Saya curiga semuanya itu tidak ditiup tanpa alasan… Panggung menuju guncangan besar mungkin sedang dipersiapkan.
Moga-moga saya salah...
Kosakata yang dipakai kali ini, bukan printing money, bukan juga monetisasi, tapi quantitative easing… Gonta-ganti kosakata, mungkin untuk membantu penjualan buku-buku ekonomi baru. Hehe…
Berbagai negara sebenarnya menciptakan uang dengan cara yang kurang lebih sama. Apa yang dilakukan Bank of England sejak beberapa abad yang lalu juga diaplikasikan di Amerika oleh Federal Reserve, dan apa yang dilakukan di Amerika, juga diaplikasikan oleh negara lainnya di seluruh dunia. Mungkin memang ada sedikit perbedaan kecil di berbagai negara, tetapi tetap prosesnya secara umum masih sama.
Dalam sistem yang sedang digunakan, pendapatan utama sebuah negara datang dari:
1. Pajak
2. Meminjam kepada publik / negara lain (penerbitan surat hutang)
3. Pendapatan dari perusahaan negara
Bila pemasukan dari ketiga cara ini masih juga kurang untuk memenuhi anggaran belanja pemerintah, dan pemerintah tetap ngotot membelanjakan uang yang tidak mereka miliki, pemerintah bisa memerintahkan bank sentral untuk mencetak uang untuk digunakan oleh mereka.
Mekanismenya adalah pemerintah menerbitkan surat hutang baru lagi, dan yang membeli adalah bank sentralnya. Yang satu adalah debitur, yang satunya lagi adalah kreditur. Darimana bank sentral mendapatkan uang untuk membeli surat hutang pemerintah ini? Jawabannya, di zaman ini, mereka menciptakan uang itu begitu saja. Itu adalah mandat mereka berdasarkan peraturan yang ada.
Uang yang dipinjam pemerintah dari bank sentral, secara umum bisa dikatakan tidak perlu dikembalikan lagi, hanya bunganya saja yang dibayarkan dari tahun ke tahun. Tidak seperti pinjaman publik kepada bank komersial, hutang pemerintah kepada bank sentral yang jatuh tempo selalu bisa di-rolling over lagi. Pemerintah pasti bisa menggali lubang baru untuk menutup lubang lama, sebab bank sentral sendiri adalah milik negara.
Dalam kasus bank sentral yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh negara sekalipun, hal ini tetap berlaku. Federal Reserve, walaupun adalah badan swasta, tetap akan me-rollover hutang pemerintah Amerika saat hutang mereka jatuh tempo.
Jadi, selama sebuah negara tidak menerbitkan surat hutang dalam mata uang negara lain, sebenarnya resiko gagal bayarnya adalah nol. Pemerintah pasti sanggup membayar, yang tidak pasti adalah daya beli (purchasing power) dari uang yang nantinya akan dibayarkan. Hehe…
Satu setengah tahun ini, berbagai bank sentral negara maju sudah menghabiskan uang mereka untuk membantu sementara bank-bank dan perusahaan finansial raksasa yang sebenarnya bangkrut. Dan sekarang, saatnya sudah hampir tiba bagi mereka untuk kehabisan uang mereka.
Pemerintahan di sana juga sudah berupaya meminjam sebanyak-banyaknya dari publik, sebagian uang yang sebenarnya bisa dipakai oleh publik berpindah tangan ke tangan pemerintah, yang kemudian memberikannya kepada bank-bank dan perusahaan finansial mereka supaya mereka bisa tetap beroperasi. Lesunya ekonomi riil sekarang sebenarnya adalah tanggungjawab pemerintah di sana juga, tetapi karena yang ditulis di koran hanyalah sisi “penyelamatan” oleh pemerintah, maka sisi destruksi dari tindakan yang sama ini tidak disadari oleh publik mereka secara umum.
Mungkin menarik juga membaca
Benar-benar memuakkan melihat koran dan TV ketika mereka melaporkan upaya pemerintah dan bank sentral untuk “menyuntik” trilyunan dolar, euro, atau yen sebagai sebuah tindakan yang heroik. The Fed, Bank of England, European Central Bank, Bank of Japan, dll, mereka pada dasarnya adalah bagian dari sebuah jaringan yang eksis untuk mengambil keuntungan dari semua rakyat mereka, bukan sebaliknya.
Untuk setiap sen yang diklaim pemerintah untuk “menyelamatkan” ekonomi, ada satu sen juga yang hilang dari tangan publik sehingga mereka tidak sanggup “menyelamatkan” diri mereka sendiri. Semakin besar “penyelamatan” pemerintah, semakin berkurang kemampuan sebuah masyarakat untuk menyelesaikan masalah oleh diri mereka sendiri.
Coba lihat
Saat ini, kontraksi kredit (deflasi) mulai menyebabkan macetnya aktifitas ekonomi. Solusi dari deflasi tentu saja adalah inflasi. Pertanyaannya adalah bagaimana menginflasikan sistem yang ada… Mencetak uang sebenarnya bukanlah dosa besar, masalahnya adalah status uang itu.
Kalau mereka tahu masalah sekarang adalah kebanyakan hutang (baik hutang pemerintah maupun hutang publik), mengapa mereka menawarkan solusi dengan berhutang lebih banyak? Apa sebenarnya motif mereka? Apakah mereka ingin menghiperinflasikan seluruh planet ini pada saat yang bersamaan?
Skenario di mana hiperinflasi tidak akan terjadi kemungkinan hanya bisa terjadi kalau uang-uang baru yang dicetak pemerintahan berbagai negara tidak akan diputar kembali menjadi puluhan kali lipat kredit konsumen dalam fractional reserve system. Entah karena bank-bank penerima uang itu tidak mau meminjamkan kepada publik, ataupun karena publik yang tidak mau / tidak sanggup meminjam dan memenuhi janji untuk membayar.
Tetapi, kalau saya harus bertaruh, saya tetap akan bertaruh kepada hiperinflasi dalam beberapa tahun ke depan. Masa lalu uang penuh dengan cerita-cerita seperti ini…
Namun, seperti yang sudah Anda ketahui, permasalahan sistem sekarang ada pada daya beli konsumen… Menambah nol pada angka-angka di selembar kertas tidak akan menyelesaikan masalah, hanya memperumit masalah…
Dan dalam kasus percobaan menginflasikan sistem ini gagal… Siapkanlah mental Anda untuk menghadapi guncangan besar dunia dalam waktu beberapa tahun. Ketika mencetak uang tidak berhasil, cara lain untuk menginflasikan sistem adalah penghangusan inventori, baik inventori barang maupun manusia…
Hutang tidak akan dimaafkan, negara-negara maupun orang-orang yang gagal bayar, tidak akan dibiarkan begitu saja dalam sistem yang ada. Proses likuidasi manusia yang tidak lagi menguntungkan bisa saja berlangsung secara brutal…
Somehow, "The Elite" akan menemukan sebuah alasan / pemicu, untuk melikuidasi semua orang yang tidak lagi produktif atau sanggup membayar. Anda pernah dengar bencana Global Warming… Peak Oil… Bird Flu... Apocalypse 2012… World War 3… dsb? Saya curiga semuanya itu tidak ditiup tanpa alasan… Panggung menuju guncangan besar mungkin sedang dipersiapkan.
Moga-moga saya salah...
Kamis, 12 Maret 2009
Report From Iron Mountain
Hari ini, kita cerita sedikit tentang sebuah laporan yang disebut dengan “Report From Iron Mountain” (1967).
Sama seperti Protocols of Zions, saya rasa tidak perlu diperdebatkan apakah laporan ini benar-benar riil atau hanya sebuah teori konspirasi yang lain. Yang harus dipikirkan adalah apakah trend dan fakta yang terjadi memang sesuai dengan isi laporan ini.
Inti laporan ini adalah bahwa ada berbagai hal yang bisa dilakukan untuk mencapai masyarakat yang stabil. Namun, menurut tim penulis laporan ini, masyarakat yang stabil pada dasarnya baru tercipta saat pemerintahannya stabil. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya memastikan agar pemerintahan bisa stabil?
Satu hal yang pasti, pemeritahan tidak bisa eksis terlalu lama kalau tidak ada "masalah". Pemerintah tidak bisa bertahan kalau tidak ada “musuh” yang perlu disingkirkan demi kebaikan publik. Jadi ironinya bagi rakyat, cara untuk menyelamatkan eksistensi pemerintah adalah negara harus menemukan musuh / masalah terlebih dahulu. Jadi kalau tidak ada “musuh,” ciptakanlah!
Cara yang sudah terbukti adalah PERANG / Ancaman akan perang. Dalam dunia yang damai, publik tidak akan menerima untuk membayar lebih banyak pajak… kekurangan suplai kebutuhan pokok… ataupun pasrah akan berbagai intervensi pemerintah…
Tetapi tidak demikian di zaman perang, publik bukan hanya bersedia menerima semuanya yang ada di atas, tetapi mereka juga akan menuntut demikian, menuntut intervensi pemerintah untuk menyelamatkan mereka. Sikap melawan pemerintah di zaman perang justru dengan mudah akan dicap sebagai tindakan pengkhianatan oleh publik sendiri.
Di luar perang, apalagi yang kira-kira mempertahankan kekuasaan negara? 15 orang yang menulis laporan ini pun menyimpulkan 3 ciri-ciri sebuah kejadian yang bisa menggantikan perang untuk mengontrol publik…
1. Secara ekonomis, sama seperti yang terjadi saat perang, kejadian itu harus bisa menghanguskan kekayaan publik.
2. Ancaman besar yang bisa dipercaya publik. Dipercaya adalah kata kunci, masalah apakah kejadian itu adalah hal yang benar-benar terjadi atau tidak, tidak penting.
3. Masuk akal untuk menjadikan kejadian itu agar publik menyerahkan kebebasan mereka kepada pemerintah.
Ada berbagai skenario yang mereka pikirkan, dua di antaranya dalam laporan ini adalah:
• Serangan alien ke bumi
• Isu kerusakan lingkungan dalam skala raksasa.
Serangan alien ke bumi, tentu saja, lebih gampang dipercayai hari ini daripada 40 tahun yang lalu. Secara perlahan-lahan, publik di seluruh dunia memang dikondisikan untuk lebih mempercayai keberadaan alien hari ini dibanding masa lalu.
Mengenai isu kerusakan lingkungan, ya harus dibuat sampai publik bisa mempercayainya. Kalau lingkungan tidak cukup rusak, maka rusakkanlah, sampai benar-benar rusak.
Isu global warming, lapisan ozon yang terus menipis, penggundulan hutan, atau over populasi dunia, mungkin tidak separah seperti yang kita sangka. Berbagai statistik dan “data / fakta” bisa digunakan oleh siapapun demi kepentingan dan tujuan masing-masing...
Ok, minggu ini kita cerita sampai di sini dulu. Kalau Anda berminat, coba search lebih jauh mengenai laporan ini di internet. Sebagai catatan, 15 orang yang menulis laporan ini dipercayai semuanya adalah anggota CFR (Council of Foreign Relations), salah satu organisasi turunan yang lain dari para elit Money Masters Internasional…
Sama seperti Protocols of Zions, saya rasa tidak perlu diperdebatkan apakah laporan ini benar-benar riil atau hanya sebuah teori konspirasi yang lain. Yang harus dipikirkan adalah apakah trend dan fakta yang terjadi memang sesuai dengan isi laporan ini.
Inti laporan ini adalah bahwa ada berbagai hal yang bisa dilakukan untuk mencapai masyarakat yang stabil. Namun, menurut tim penulis laporan ini, masyarakat yang stabil pada dasarnya baru tercipta saat pemerintahannya stabil. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya memastikan agar pemerintahan bisa stabil?
Satu hal yang pasti, pemeritahan tidak bisa eksis terlalu lama kalau tidak ada "masalah". Pemerintah tidak bisa bertahan kalau tidak ada “musuh” yang perlu disingkirkan demi kebaikan publik. Jadi ironinya bagi rakyat, cara untuk menyelamatkan eksistensi pemerintah adalah negara harus menemukan musuh / masalah terlebih dahulu. Jadi kalau tidak ada “musuh,” ciptakanlah!
Cara yang sudah terbukti adalah PERANG / Ancaman akan perang. Dalam dunia yang damai, publik tidak akan menerima untuk membayar lebih banyak pajak… kekurangan suplai kebutuhan pokok… ataupun pasrah akan berbagai intervensi pemerintah…
Tetapi tidak demikian di zaman perang, publik bukan hanya bersedia menerima semuanya yang ada di atas, tetapi mereka juga akan menuntut demikian, menuntut intervensi pemerintah untuk menyelamatkan mereka. Sikap melawan pemerintah di zaman perang justru dengan mudah akan dicap sebagai tindakan pengkhianatan oleh publik sendiri.
Di luar perang, apalagi yang kira-kira mempertahankan kekuasaan negara? 15 orang yang menulis laporan ini pun menyimpulkan 3 ciri-ciri sebuah kejadian yang bisa menggantikan perang untuk mengontrol publik…
1. Secara ekonomis, sama seperti yang terjadi saat perang, kejadian itu harus bisa menghanguskan kekayaan publik.
2. Ancaman besar yang bisa dipercaya publik. Dipercaya adalah kata kunci, masalah apakah kejadian itu adalah hal yang benar-benar terjadi atau tidak, tidak penting.
3. Masuk akal untuk menjadikan kejadian itu agar publik menyerahkan kebebasan mereka kepada pemerintah.
Ada berbagai skenario yang mereka pikirkan, dua di antaranya dalam laporan ini adalah:
• Serangan alien ke bumi
• Isu kerusakan lingkungan dalam skala raksasa.
Serangan alien ke bumi, tentu saja, lebih gampang dipercayai hari ini daripada 40 tahun yang lalu. Secara perlahan-lahan, publik di seluruh dunia memang dikondisikan untuk lebih mempercayai keberadaan alien hari ini dibanding masa lalu.
Mengenai isu kerusakan lingkungan, ya harus dibuat sampai publik bisa mempercayainya. Kalau lingkungan tidak cukup rusak, maka rusakkanlah, sampai benar-benar rusak.
Isu global warming, lapisan ozon yang terus menipis, penggundulan hutan, atau over populasi dunia, mungkin tidak separah seperti yang kita sangka. Berbagai statistik dan “data / fakta” bisa digunakan oleh siapapun demi kepentingan dan tujuan masing-masing...
Ok, minggu ini kita cerita sampai di sini dulu. Kalau Anda berminat, coba search lebih jauh mengenai laporan ini di internet. Sebagai catatan, 15 orang yang menulis laporan ini dipercayai semuanya adalah anggota CFR (Council of Foreign Relations), salah satu organisasi turunan yang lain dari para elit Money Masters Internasional…
Kamis, 05 Maret 2009
Langgan:
Entri (Atom)












