Selasa, 2009 Juli 14

Ikan Kecil Di Samudra Dusta

Saya rasa semua orang pernah merasa heran, kalau penyebab kemiskinan adalah kurangnya uang, mengapa dunia ini tidak mencetak lebih banyak uang dan menyebarkannya ke penduduk? Siapa tahu semua masalah kemiskinan di dunia bisa selesai dalam seminggu. Ini mungkin akan sama mengharukannya seperti mendengar Michael Jackson menyanyikan Heal The World

Dan yang juga mengherankan, kalau negara memang bisa mencetak uang, mengapa mereka bisa terjerat dalam hutang, terbenam dalam tanggungjawab untuk membayar barang yang konon bisa mereka ciptakan.

Dengan berlalunya waktu, perlahan-lahan saya baru mulai sadar ternyata yang namanya “fakta” itu relatif, bisa berubah-ubah di dunia, tergantung siapa yang sedang berkuasa, tergantung siapa yang menjadi Sang Pemenang.

Sebagian pelajaran yang saya pelajari di zaman sekolahan, dan sejumlah informasi yang saya baca di koran, kalau dipikir-pikir sebenarnya hanyalah opini publik dan ilusi populer. Dirancang sedemikian rupa supaya sang pemenang akan tetap menjadi pemenang, dan si pecundang tetap akan menjadi pecundang. Yang berada di puncak piramida akan tetap berada di puncak, dan yang bergerombol di sisi bawah piramida akan tetap bergerombol di bawah.

Kita semua hanyalah ikan-ikan kecil di samudra dusta…

Apa yang Anda baca di sini?

Hmm… Mungkin ini termasuk sisa-sisa “fakta” versi si “pecundang.” Ditulis sedemikian rupa supaya para pecundang ini bisa mengetahui mengapa mereka adalah pecundang, dan berharap agar mereka bisa membalikkan situasi dan menciptakan dunia yang berbeda.

Ini ada beberapa postingan sebelumnya, mungkin ada baiknya Anda membacanya duluan.
• Saya menginginkan seluruh dunia plus 5%
• Debt based money system 1
• Debt based money system 2
• Bankir, Rakyat, & Pemerintah
• Kelaparan di Dunia Yang Berlimpah
• Mata Uang & Anggaran Belanja
• Stimulus Pemerintah
• Hak Pemerintah Untuk Mencetak Uang

Anda bisa membayangkan ada banyak sekali uang di dunia, bukan begitu? Uang-uang itu muncul karena ada orang yang mengajukannya ke perbankan. Uang-uang itu mewakili rumah, mobil, mesin, komoditi, dan berbagai hasil kerja keras seluruh penduduk di dunia.

Memang benar yang mencetak uang, medium transaksi resmi yang beredar, biasanya adalah negara, tetapi tidak ada uang yang beredar secara gratis, bahkan oleh negara. Uang hanya akan muncul di tangan seseorang kalau ada seseorang, sebuah institusi, ataupun sebuah negara yang mengajukan hutang terlebih dahulu.

Hari ini, kalau Anda pergi ke bank dan mendapatkan Rp 200 juta untuk membangun rumah impian Anda, maka suplai uang bertambah Rp 200 juta. Beberapa bulan kemudian, saat rumah Anda selesai, orang akan berkata:

"Hei, lihat, ada sebuah rumah, dan ada setumpuk uang, Rp 200 juta, untuk mewakili nilai rumah tersebut. Uang ini akan eksis secara permanen di masyarakat, berpindah tangan dari satu orang ke orang yang lain selama-lamanya."

Tetapi kawan, yang terjadi sebenarnya sedikit berbeda…:
1. Dunia ini bertambah sebuah rumah.
2. Dunia ini bertambah uang Rp 200 juta.

Rp 200 juta ini tercatat di sisi peminjam sebagai hutang (-200), dan di sisi kreditur sebagai piutang (+200). Net resultannya adalah nol. Dan kalau Anda memperhatikan bahwa si peminjam sebenarnya harus membayar lebih dari yang dia dapatkan, maka net resultan dari kejadian ini adalah NEGATIF (dalam satuan rupiah).

Dan satu hal lagi, Rp 200 juta ini, dalam realita, tidaklah eksis secara permanen. Kalau perjanjian kredit Anda dengan bank adalah 5 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 5 tahun. Kalau perjanjiannya adalah selama 15 tahun, maka Rp 200 juta ini hanya akan eksis selama 15 tahun (abaikan dulu bunga pinjaman, kalau dengan bunga, uang ini akan menghilang sebelum masa kredit berakhir).

Orang-orang yang kemudian mendapatkan bayaran atas beredarnya Rp 200 juta ini, para tukang bangunan, kontraktor, toko bangunan, dll, mereka tentu saja akan menyimpannya sebagai tabungan mereka, dan bertekad untuk tidak berpisah dengan uang mereka dengan sekuat tenaga.

Lantas yang akan Anda gunakan untuk membayar Rp 200 juta ini kepada sang pencipta uang? Ya, itu urusanmu kawan. Hanya Andalah yang tahu. Yang pasti, Anda harus menemukan Rp 200 juta + bunganya dari tangan orang lain yang sumber uang juga sama seperti Anda, kalau bukan dari kredit (hutang), ya berarti dari tabungan yang diperolehnya dari kredit (hutang) orang lain sebelumnya.

Tapi bagaimana kalau apapun cara yang Anda pikirkan, Anda masih juga tidak bisa membayar? Ya, bank akan menyita rumah Anda. Dalam satuan unit rumah, mereka mendapatkan 1 unit rumah Anda. Dalam satuan rupiah, mereka bisa untung, bisa juga rugi, tergantung situasi pasar properti waktu itu.

Kalau Anda pada akhirnya memang gagal bayar, bank akan terpaksa menghapus (write-off) piutang mereka, tetapi tabungan pihak lain (nasabah bank) tidak bisa dihapus begitu saja. Karena itu yang dihapus adalah modal bank sendiri. Dan ketika jumlah debitur gagal bayar seperti Anda sedemikian besar, dan modal bank tidak sanggup lagi menomboki volume uang yang hangus ini, maka tabungan publiklah yang menghilang…

Untuk mencegah kemarahan publik, biasanya negara kemudian akan tampil sebagai sang penyelamat dan menyetor modal ke perbankan. Inilah maksud talangan / bailout. Uang talangan ini datang dari mana? Kalau negara punya uang, itu akan datang dari tabungan negara. Kalau negara tidak punya uang, maka uang itu akan datang lewat hutang negara.

Oleh karena itu, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ini, maka semua manusia dan semua negara di dunia ini harus saling membantu, mencari peluang dan rencana untuk menciptakan proyek baru, dan demikian menciptakan uang (hutang) baru, supaya pengaruh negatif, resultan atas akumulasi transaksi-transaksi mereka, tidak dirasakan di planet ini.

Species manusia sudah menginflasikan suplai uang (hutang) selama berabad-abad dalam Debt based money system ini. Cara menghindari krisis ekonomi adalah kalau selalu ada sekelompok manusia di dunia ini yang bisa diandalkan untuk terus menginflasikan suplai uang (hutang) dalam volume yang substansial, agar resultan negatif dari transaksi-transaksi sebelumnya dari seluruh species ini tidak dirasakan oleh kita semua.

Keseluruhan sistem keuangan modern sudah sakit sejak detik pertama debt based money system dipraktekkan. Alasan mengapa jarang ada masalah adalah karena kemampuan species manusia untuk mengeksplorasi dunia dan mengajukan hutang baru memanglah sangat besar.

Selama berabad-abad, manusia bukan hanya sanggup mempertahankan suplai uang, manusia bahkan sanggup terus meningkatkan suplai uang (hutang). Species homo sapiens benar-benar luar biasa. Selalu ada caranya menciptakan proyek baru, selalu ada caranya membuka hutan baru, selalu ada caranya menemukan permintaan untuk membangun gedung-gedung mutakhir yang terbaru.

Namun, setiap beberapa generasi, akan tiba sebuah era di mana beban hutang tidak lagi bisa ditanggungi, dan akhirnya konsekuensi logis dari Debt as Money akan dirasakan untuk kurun waktu tertentu. Setiap beberapa generasi Anda akan melihat runtuhnya kemampuan publik untuk mengajukan hutang baru dan kebangkrutan massal. Publik bangkrut karena tidak sanggup membayar, dan perbankan bangkrut karena insolvency yang tidak lagi bisa ditutupi.

Dan kalau Anda perhatikan, skala boom & bust setiap beberapa generasi itu akan terus bertambah besar, baik dari sisi volume uang, maupun dari sisi jumlah populasi yang terlibat.

1 orang di tengah-tengah 5 orang yang kelaparan tidaklah sama dengan 10 orang di tengah-tengah 50 orang yang kelaparan. Mungkin para penggemar rasio akan berargumentasi bahwa kedua-duanya sama saja, hanya 20% dari populasi… Tapi 1 tetaplah bukan 10…

1 juta manusia yang kehilangan pekerjaan tidaklah sama dengan 10 juta manusia yang kehilangan pekerjaan. Saya sedang membicarakan jumlah nyawa manusia yang terkena akibat kawan… Kalau depresi sebelumnya berakhir dengan likuidasi liabilitas (perang dunia) yang membunuh puluhan juta orang, berapa orang yang akan dikorbankan di siklus kali ini? Ratusan juta? 1 milyar? Atau berapa? Dan lewat cara apa?


Hutang Pemerintah

Debt based money system + riba akan membawa dampak negatif tak berujung di manapun sistem ini dipraktekkan (malangnya, sistem ini dipraktekkan di seluruh negara). Dengan berlalunya waktu, tahun demi tahun, generasi demi generasi, yang akan terjadi hanyalah kemiskinan yang terus bertambah besar dan masalah sosial-politik-budaya yang tak habis-habisnya.

Pemerintah eksis untuk menyelesaikan masalah publik. Semakin banyak masalah, semakin besar skala pemerintah. Dalam konteks hubungan antara skala pemerintah dengan perkembangan negara, apakah sebuah negara termasuk maju atau tidak, Anda perlu menggunakan sedikit imajinasi Anda, mana sebab-mana akibat.

Apakah publik yang produktif yang membuat sebuah bangsa menjadi besar, atau sebuah skala pemerintahan yang besar yang membuat sebuah bangsa menjadi besar? Orang bisa berargumentasi di kedua arah sekaligus, dan kedua belah pihak memang akan menemukan beberapa poin yang valid.

Namun, motor penggerak utama apakah sebuah bangsa bisa maju atau tidak, tetap adalah rakyat mereka. Rakyat yang cerdas, kreatif, dan pekerja keras akan bisa menghasilkan produksi yang bisa dijual keluar, dan kemudian mengumpulkan kekayaan. Setelah itu, barulah pemerintahan mereka bisa menemukan sumber uang / mesin ATM mereka, baik lewat penarikan pajak maupun lewat penjualan surat hutang.

Skala pemerintah (termasuk skala hutang mereka) tidak menyebabkan bangsa mereka menjadi besar. Sebaliknya, skala pemerintah justru berhubungan secara signifikan dengan akumulasi masalah ekonomi-sosial-politik-budaya yang terjadi di negara tersebut. Itu adalah akibat, bukan sebab.

Hal lainnya, saya pernah menjelaskannya sebelumnya, konsumen membayar bunga atas uang yang mereka minta dari perbankan. Dan mereka membayar sekali lagi saat pemerintah menerbitkan surat hutang. Ingat, kita sedang hidup di sebuah sistem di mana semua uang pemerintah pasti secara langsung ataupun tidak langsung diambil dari rakyat mereka. Surat hutang negara tidak dibayar oleh negara, itu dibayar oleh publik.

Sekalipun ada sebuah negara yang surat hutangnya dibiayai secara masif oleh rakyat mereka sendiri. Uang berpindah tangan dari rakyat yang satu ke pemerintah dan lalu kembali ke tangan rakyat yang lain. Lantas apakah itu kemudian pantas disebut fenomena yang baik? Kalau itu adalah hal yang baik, mengapa tidak sekalian saja menaikkan pajak penghasilan menjadi 50%, 70%, atau 90%? Toh uang tetap beredar di negara sendiri.

Hehe... Ini akan menjadi kekonyolan besar, tetapi tidak lucu. Dengan pajak yang sedemikian tinggi, siapalah yang mau bekerja? Siapalah yang mau menjadi wirausahawan? Nyaris semua jerih payah orang-orang yang produktif akan diminta kembali oleh pemerintahan mereka!

Keadaan menjadi lebih rumit ketika surat hutang sebuah negara dibiayai dari uang dari luar negeri, dan juga dalam mata uang luar negeri. Bayangkan negeri X…

X meminjam USD 1 milyar dari World Bank. Katanya uang ini adalah untuk pembangunan jalan raya di negara X. Tapi ternyata World Bank tidak hanya memberikan uang, mereka juga menunjuk lansung siapa yang menjadi kontraktor utama dan supplier material, yang sebenarnya adalah bagian dari kroni para bankir di negara mereka sendiri. Uang mengalir dari World Bank ke rekening lain yang juga ditunjuk oleh World Bank. Dari USD 1 milyar ini, misalnya hanya USD 400 juta yang akhirnya beredar di negara X.

Pertanyaannya, bagaimana caranya negara X menemukan USD 600 juta + bunga untuk dikembalikan ke World Bank?

Jawaban populer mungkin adalah dengan selesainya jalan baru ini, masyarakat bisa memproduksi secara lebih efektif dan efisien, dan lama-kelamaan hutang akan terbayar, pokoknya pasti akan terbayar. Bagaimaan matematika asumsi ini bisa dijustifikasi, nobody cares, it just doesn’t matter you idiot…

Tapi kawan… Paska selesainya proyek, sisa USD 400 juta tadi sekarang sudah menjadi tabungan rakyat X yang bekerja di proyek itu, itu bukan lagi uang negara X. USD hanya bisa masuk ke kantong negara X atas pajak dari rakyatnya. Dari total pinjaman USD 1 milyar ini, anggaplah hanya ada USD 50 juta yang bisa kembali ke pemerintah menjadi pajak, lantas sisa USD 950 juta + bunga yang harus dibayarkan akan datang dari mana? Jalan raya itu tidak akan serta-merta menghasilkan dolar bagi pemerintahan negara X. Uang USD itu harus datang lewat cara yang lain.

Berapa banyak sebenarnya rakyat mereka harus menjual barang ke luar negeri, berapa banyak sebenarnya negara X harus mengeksplorasi alamnya dan menjualnya keluar, supaya pemerintah negara X bisa mendapatkan pajak yang cukup untuk membayar tagihan USD 1 milyar + bunga ini?

Dan pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apa bedanya USD dengan uang negara X? Mengapa ada proyek yang bisa dilaksanakan dengan uang yang dicetak Federal Reserve tetapi proyek yang sama tidak boleh dilaksanakan dengan uang yang dicetak bank negara X?

Anyway… ini memang masalah yang kompleks. Transaksi hutang perlu dianalisa case by case, karena setiap kasus memang berbeda.

Hal lain yang perlu Anda sadari adalah permasalahan hutang negara tidaklah berjalan sendiri, bersamaan dengan pasar valuta asing (kontrol nilai tukar mata uang), hutang luar negeri, selain beberapa sisi positifnya, juga membawa sisi negatif yang bisa sangat berbahaya.

Jadi, sehubungan dengan isu peranan pemerintah, Anda memang harus menggunakan imajinasi untuk memahami masalah. Apakah Anda benar-benar ingin hidup di negara yang penuh dengan campur tangan pemerintah atau tidak? Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda ingin mempertahankan sistem debt as money, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak masalah di masyarakat, sistem yang memastikan skala pemerintah (termasuk hutang pemerintah) yang akan terus bertambah besar, sistem yang memastikan akan ada semakin banyak tagihan dan pajak yang harus dibayar oleh anggota masyarakat yang masih produktif untuk menolong rekan-rekan mereka yang telah jatuh menjadi pecundang dalam sistem debt as money ini.

Ada sejumlah berita yang mengatakan bahwa sejumlah negara sudah mengurangi pajak kepada rakyatnya dalam menghadapi krisis global ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah APBN berbagai negara sesungguhnya sedang meningkat karena mereka sedang melancarkan proyek “stimulus” masing-masing?

Anda masih ingat pos penerimaan negara?
• Pajak
• Dividen perusahaan negara
• & Penerbitan berbagai jenis surat hutang

Kalau setoran pajak berkurang, dan pemasukan dividen perusahaan negara tidak bertambah, maka cara lain yang pemerintah gunakan untuk menutupi anggaran mereka pasti adalah dengan peningkatan penerbitan surat hutang negara. Efeknya sama saja, sebab yang membayar surat hutang tetap adalah rakyat mereka. Yang berbeda adalah timing pembayarannya. Kalau penerbitan surat hutang berhasil, maka setoran pajak yang perlu pemerintah tagih bisa diundur… Tetapi diundur tidak sama dengan dikurangi kawan… Diundur versi ini akan menyebabkan tagihan pajak yang semakin membesar di masa mendatang.

Kecuali Anda sama sekali tidak membaca berita, bila tidak Anda seharusnya tahu bahwa negara-negara “maju” seperti Amerika dan Inggris sebenarnya sudah sangat dekat dengan kebangkrutan. Mengapa masih ada begitu banyak orang yang justru mengagungkan mereka dan menganjurkan bahwa kita perlu meniru langkah-langkah mereka? Naikkan terus volume hutang, baik hutang konsumen maupun hutang negara, it doesn’t matter baby, just follow USA!

Dalam sistem yang kita anut, pemerintah tidak bisa menciptakan uang mereka sendiri. Pemerintah sesungguhnya hanya bisa meminjam… They can only borrow… Dan ketika Anda mendengar bahwa pemerintah sedang “mencetak uang” (monetisasi), apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah mereka sedang meminjam uang masa depan rakyat mereka. Mengapa? Sebab uang “cetakan” itu akan dibayar kembali dalam bentuk pajak yang ditagih kepada rakyat mereka di tahun-tahun mendatang.

Mengenai monetisasi, kalau disederhanakan, kredit konsumen adalah monetisasi dalam skala retail. Negara yang "mencetak uang" adalah monetisasi skala nasional.

Kapan pemerintah akan “mencetak uang”? Jawabannya adalah ketika mereka gagal meminjam. Tidak masalah pinjaman dicari dari dalam negeri ataupun luar negeri. Ketika tidak ada yang mau meminjami mereka secara suka rela, alternatif mereka hanyalah “meminjam secara paksa.”

Apakah saya sedang memojokkan pemerintah dalam blog ini?

Saya tidak merasa demikian. Sebaliknya, saya sebenarnya sedang mencoba menolong mereka, dan menolong diri kita sendiri.

Coba Anda bayangkan situasi ini:
Sekelompok orang terdampar di sebuah pulau terpencil. Di antara mereka, ada tenaga kerja yang masih muda dan kuat. Dan di pulau tersebut, ternyata tersedia material bangunan seperti pasir, semen, batu, kabel, dan lainnya. Dan orang-orang ini sebenarnya membutuhkan sebuah bangunan sebagai tempat berteduh mereka.

Tetapi, karena tidak ada uang sebagai medium transaksi, para pemuda itu pun menganggur. Mereka menghabiskan waktu mereka meratapi nasib buruk mereka, dan membayangkan betapa nikmatnya berada di kota mereka sebelumnya.

Mungkin kedengarannya terlalu ekstrim, tetapi sesungguhnya hal seperti ini bisa saja terjadi, apalagi dalam masyarakat yang kompleks. Otak kita sudah ketagihan dengan uang. Tanpa uang, masyarakat tidak berfungsi. Peradaban pun bisa macet.

Ini kenyataan.

Pemerintah negara XYZ bisa mengabaikan sejumlah pekerjaan umum mereka hanya karena tidak ada uang. Dan orang-orang tidak pernah bertanya, kalau rakyat bisa menciptakan uang untuk berbagai produk yang mereka produksi, mengapa pemerintah tidak boleh menciptakan uang atas infrastruktur yang mereka bangun?

Mengapa uang pemerintah harus berasal dari uang-uang yang eksis sebelumnya? Pemerintah mencetak uang itu inflationary? Harga akan melambung ke langit? Bisa ya dan tidak, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu.

Tetapi, kalau orang bisa menuduh tindakan pemerintah untuk mencetak uang itu inflationary, mengapa mereka tidak pernah berdemo ke bank komersial dan melemparkan isu yang sama?

Bank komersial melakukannya setiap hari, sepanjang tahun, dan sudah berlangsung selama berabad-abad! Kredit, dalam praktek, adalah uang. Dan perbankan sudah mencitakan kredit selama ratusan tahun.

Mengapa kalau sebuah negara mencetak uang biasanya mata uangnya jatuh? Ya sekali lagi, tergantung apa yang mereka lakukan dengan uang itu. Di postingan sebelumnya saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa tidak semua uang yang diciptakan menghasilkan nilai yang sama.

Menciptakan uang untuk membuat jalan tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk menomboki modal sebuah bank. Menciptakan uang untuk membangun stasiun pembangkit listrik tidaklah sama dengan menciptakan uang untuk membayar tagihan kartu kredit.

Penyebab kedua jatuhnya mata uang adalah invisible hand Sang Majikan di puncak piramida. Kalau hari ini Anda mendengar pemerintah negara X memutuskan untuk mencetak sejumlah uang, bukan hutang kepada siapapun, untuk digunakan di negara mereka, Anda bisa bertaruh mata uang mereka akan langsung dihancurkan di pasar valas di London dan New York dalam waktu singkat.

Dan kalau hari ini, yang sedang melakukan quantitave-easing adalah Indonesia, dan bukannya Amerika, Anda bisa bertaruh rupiah yang ada di rekening Anda sekarang sudah jatuh sangat drastis nilainya.

Everybody is not equal my friend…

Hak untuk menciptakan uang adalah milik para Money Masters secara eksklusif. Penguasa tertinggi di dunia adalah bankir yang bisa memproduksi uang di puncak piramida dunia. Di bawah mereka adalah bankir-bankir lokal dengan pengaruh yang lebih minor. Jangan berharap mereka mau melepaskan sistem moneter seperti ini.

Pengaruh hutang negara terhadap rakyat mereka sering kali tidak kasat mata. Dan para aktor di belakang layar, mereka bisa sama sekali tak terdengar di media. Media akan sibuk menulis berita politisi dan partai politik mana yang bisa menyelesaikan masalah, atau politisi dan partai politik mana yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tetapi mereka tidak akan melaporkan asal-muasal masalah yang sebenarnya.

Untuk setiap 1 sen uang yang dibayar kepada World Bank, negara X kehilangan 1 sen uang yang mungkin bisa dipakai untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menjaga fakir miskin mereka, dan memelihara infrastruktur mereka. Ini semua tidak kelihatan kecuali Anda mengimajinasikannya.

Anda dibujuk membayar pajak, dibombardir dengan slogan "Orang Bijak Taat Pajak,” bahwa uang itu adalah untuk Anda juga, negara membutuhkan uang untuk membangun ini dan membangun itu. Memang kata-kata itu tidak sepenuhnya salah, tapi kalimat itu juga tidak sepenuhnya jujur. Jarang-jarang Anda akan mendengar bahwa negara juga membutuhkan pajak Anda untuk membayar IMF, World Bank, ADB, dan majikan-majikan lainnya, bukan begitu?

Bagi orang yang tidak menyukai topik zionisme dan isu politik yang lain, kabar baiknya adalah Anda memang tidak harus memikirkannya. Just follow the money. Kalau Anda bisa membayangkan bagaimana aliran uang mengalir di dunia, perlahan-lahan Anda akan memahaminya sendiri.

Zionis tidak harus eksis secara fisik di negara manapun. Yang mereka perlukan hanyalah memastikan bahwa Anda berada di dalam bagan piramid keuangan mereka. Memungut $100 dari setiap orang di sebuah negara dengan 1 juta penduduk tanpa paksaan yang terlalu kasat mata bahkan lebih efektif dibandingkan dengan menduduki secara paksa suatu negara dengan 1 juta penduduk dan kemudian merampok mereka $100 juta.

Adalah pilihan Anda, apakah Anda tertarik untuk menyebarkan “fakta” versi “pecundang” ini kepada ikan-ikan kecil lainnya, bila tidak saya hanya bisa mengatakan kepada Anda… Selamat berjuang dan memanjat bagan piramida dunia... Moga-moga bukan Anda sebagai korban berikut yang akan tenggelam di samudra dusta…

• Link APBN
• Seputar Hutang Indonesia


Heal The World
(by Michael Jackson)

Heal the world…
Make it a better place
For you and for me
For all entire human race
There are.. People dying
If you care enough for the living
Make a better place
For you and for me…

Rabu, 2009 Juni 24

Step by Step Kebangkrutan Global

Dari berbagai berita di internet, kelihatannya sejumlah besar negara bagian Amerika akan bangkrut dalam waktu dekat. Yang paling kritis adalah California. Menurut Gubernur mereka, si Terminator Arnold Schwarzenegger, pemerintahan mereka hanya punya cukup uang untuk bertahan sampai bulan Juli ini.

Our wallet is empty. Our bank is closed.
Our credit is dried up.
- Arnold Schwarzenegger-

Setelah Juli, kalau tanpa injeksi uang ke kantong pemerintahan mereka, maka sejumlah instansi pemerintah akan ditutup, dan sebagian lagi akan melakukan PHK besar-besaran. Bayangkan kalau instansi yang ditutup adalah penjara, para napi: perampok, pembunuh, pemerkosa, pengedar obat bius, psikopat, dll, dilepaskan ke masyarakat, tanpa pekerjaan, tanpa uang, karena negara tidak punya uang untuk menampung mereka lagi, hehe…

The Fed, yang diharapkan untuk membantu mereka, mengindikasikan bahwa mereka tidak akan membailout negara bagian. Ya wajar-wajar saja, kalau mereka membailout California, maka dalam beberapa jam 50 negara bagian yang lain juga akan sibuk menelepon mereka dan meminta uang dengan alasan yang sama.

Pemerintahan Federal Amerika, tampaknya juga tidak bisa berbuat banyak. Uang yang mereka kumpulkan dari tangan publik untuk membailout bank-bank besar dan menciptakan “proyek stimulus” sudah sangat besar, ke mana lagi mencari pinjaman berikut?

Tanpa defisit anggaran negara bagianpun, pemerintah mereka sudah kesulitan meminjam, buktinya adalah quantitave easing (printing debt money) beberapa bulan terakhir.

Jadi bagaimana? Apa yang akan terjadi?

Hmm.. Saya sama tidak tahunya dengan Anda… Tapi mari kita bayangkan kembali beberapa hal mendasar tentang uang….

Seperti yang sudah Anda ketahui, uang muncul saat pengajuan kredit oleh konsumen. Awalnya, pengajuan kredit dilakukan untuk tujuan produksi. Hasil dari proses ini adalah uang yang tercatat di rekening si pemimjam dan juga benda berwujud yang diproduksi dari uang tersebut.

Sampai di sini, uang (kertas maupun elektronik) masih sangat berharga, karena mewakili nilai dari sebuah produk.

Step berikut, kredit diajukan konsumen untuk membeli barang yang sudah jadi, artinya barang yang sama yang sebelumnya telah diwakili oleh uang tertentu, dijadikan lagi sebagai jaminan untuk menciptakan lebih banyak uang.

Barang-barang hasil produksi masih sama, tetapi uang (kredit) yang beredar yang mewakili barang-barang tersebut bertambah. Inilah salah satu alasan kenaikan harga di pasar. Uang yang lebih banyak yang mengejar jumlah barang yang masih tetap.

Sampai di sini, uang masih juga berharga, karena bagaimanapun masih mewakili nilai dari suatu barang (walaupun barang yang sama sudah dijadikan sebagai jaminan untuk kedua kalinya).

Semakin banyak level sebuah aset dijadikan sebagai jaminan atas penciptaan kredit berikut, atau semakin besar volume uang yang tercipta atas barang yang sama yang dijadikan sebagai jaminan penciptaan kredit, semakin menurun nilai uang yang beredar.

Semakin sering Anda melihat publik melakukan spekulasi lewat uang kredit di industri atau produk tertentu, semakin besar kenaikan harga di industri atau produk tersebut.

Misalnya ABS (Asset Backed Security) atau MBS (Mortgage Backed Security). Konsumen meminta bank untuk menciptakan uang atas misalnya sebuah rumah yang mereka beli. Bank kemudian menjual janji konsumen tersebut untuk membayar kepada “investor” berikut, dan uang yang bank terima kemudian dipakai sebagai modal untuk menciptakan pinjaman berikut ke konsumen / demander uang yang berikut, dst…

Walaupun demikian, dengan berjalannya waktu, uang masih tetap akan berharga. Mengapa? Karena tidak sama seperti barang (yang bisa saja bertahan lama di dunia), setiap digit uang di dunia memiliki umur tertentu, umurnya berkurang dan berkurang dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, seiring dengan masa pembayaran kredit ke sang pencipta uang, BANK.

Saya pernah menggambarkan kepada Anda bahwa suplai uang di planet kita pada dasarnya adalah sebuah balon hutang. Balon ini adalah mengembang ataupun mengempis tergantung volume udara (hutang) di dalamnya.

Suplai uang = A + B – C

A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.

Konsumen menciptakan uang, bukan mesin cetak. Korporasi-korporasi raksasa yang dibiayai oleh para bankir? Mereka juga adalah bagian dari konsumen.

Hutang dari A akan menjadi tabungan dari B.
Hutang dari C akan menjadi tabungan dari D, dst…
Somebody akan berhutang… Dan somebody lainnya akan mendapatkan tabungan…

Apa yang terjadi kepada individu, juga terjadi kepada negara. Sekarang coba Anda bayangkan…

Setiap hari, setiap bulan, manusia-manusia saling bertukar barang dan jasa, dan sekaligus bertukar uang, baik berupa cash, maupun hanya sebuah entri elektronik di bank.

Alex, seorang insinyur, memiliki sejumlah tabungan + income tertentu dari mata pencahariannya. Karena setiap bulan ada surplus, maka tabungannya terus bertambah, dan kemampuannya untuk membeli lebih banyak barang dan memenuhi keinginan lainnya pun meningkat.

Maka Alex pun membelanjakan uangnya. Misalnya, dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli sebuah rumah baru.

Lalu, karena tabungannya sudah habis untuk melunasi rumah barunya, maka tabungannya menjadi nol, tetapi dia masih memiliki mata pencahariannya, dia masih bisa menghasilkan surplus pendapatan di bulan-bulan berikut.

Maka, diapun mengajukan kredit, misalnya pembelian mobil baru. Dia menyicil mobil tersebut dengan cara misalnya 36 bulan, menggunakan surplus pendapatan bulanannya yang kebetulan pas untuk membayar cicilan bulanan mobil ini.

Sekarang, Alex sudah tidak sanggup lagi mengajukan kredit baru apapun. Limit hutangnya sudah tercapai.

Siapapun yang masih meminjamkan uang kepadanya untuk membeli barang konsumsi berikut adalah seorang idiot!

Kalau Alex ngotot untuk membeli, maka dalam waktu beberapa bulan, karena menunggak, maka aset yang menjadi jaminan pinjaman itu akan disita oleh sang kreditur.

…& Bayangkan, kalau di suatu negara, ada sejumlah besar populasi yang hidup dengan cara si Alex….

Inflasi tidak berlansung abadi, karena keterbatasan daya beli oleh publik. Di level-level hutang tertentu, orang akan berhenti mengajukan hutang, karena memang sudah tidak sanggup lagi membayar.

Dan di era deflasi, semua barang yang perlu dibeli lewat hutang (misalnya rumah) biasanya akan jeblok harganya, karena kemampuan orang untuk mengajukan kredit menciut. Semakin besar porsi kredit dalam pembelian barang tertentu, biasanya semakin jeblok harga barang tersebut.

Sebelumnya, Anda perlu mengingat kembali aturan main penciptaan uang:
Majikan (bankir) akan memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan, bila dan hanya bila Anda bisa membayar lebih dari yang Anda dapatkan.

Sebuah masyarakat, bila sudah sampai di limit hutang mereka, akan berhenti mengajukan kredit. Tetapi, suplai uang nanti akan terus menurun karena setiap bulan ada hutang pokok dan bunga yang harus dibayar ke perbankan.

Ingat, yang penting adalah berapa uang yang berada di tangan publik. Sekalipun ada berton-ton uang kertas dan trilyun-trilyun uang di rekening besi baja bank, bila uang ini tidak dimiliki oleh publik, atau tidak bisa sampai ke tangan publik (publik mengajukan kredit duluan), maka keberadaan uang itu tetap tak berarti.

Turunnya suplai uang akan menjatuhkan harga berbagai jenis aset yang dijaminkan saat penciptaan uang awal, dan bank bersangkutan bisa terkena resiko insolvent (liabilitas lebih besar dari aset)

Somebody harus membayar kerugian ini. Kalau bank tidak dibiarkan bangkrut, maka selisih kerugian yang diderita perbankan harus ditambal oleh somebody, dan somebody itu adalah publik.

Campur tangan pertama pemerintah adalah meminjam uang dari tangan publik yang memiliki uang dan memberikannya ke perbankan. Untuk membantu kelancaran proses meminjam ini, market yang lain memiliki uang harus dijatuhkan duluan, biasanya adalah pasar obligasi dan pasar saham. Maka uang berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain.

Step berikut, kalau kejatuhan harga aset masih begitu besar, dan lebih dari kemampuan pemerintah untuk meminjam, maka pemerintah akan sampai di titik di mana mereka harus menentukan salah satu dari hal ini:
- Hentikan bailout, biarkan sejumlah bank tutup, dan kebangkrutan massal.
- Tak perlu meminjam dari publik, cetak uang baru (monetisasi), dan berikan lagi kepada perbankan.

Menciptakan uang tanpa dasar produksi, dan memberikannya kepada perbankan agar mereka bisa memenuhi rasio kecukupan modal mereka, adalah lebih sinting dibanding publik yang berspekulasi dengan uang kredit untuk membeli produk tertentu.

Efeknya adalah penurunan nilai uang (devaluasi), karena sejumlah uang yang tidak lagi mewakili nilai dicampur dengan uang-uang lama (kredit) yang mewakili nilai.

Semakin besar porsi uang baru (monetisasi) tak bernilai yang dicetak, semakin terasa efek inflationary mereka.

Zimbabwe zaman ini dan Weimar abad yang lalu adalah contoh kalau uang yang dicetak untuk membayar tagihan jauh melebihi uang sebelumnya yang masih mewakili nilai. Ketika Anda mencetak uang, yang tidak didasari produksi ataupun jaminan apapun, maka uang itu hanyalah selembar kertas, sesederhana itu.

Semakin banyak sampah yang dicampur dengan kertas berharga, semakin tidak berharga keseluruhan paket kertas itu. Dan bila jumlah sampah yang dicetak sudah sedemikian besar, jauh lebih daripada kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya, maka bahkan kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya itu juga akan ikut menjadi sampah.

Namun, monetisasilah tidaklah seburuk yang orang sangka, bila digunakan untuk tujuan yang jelas, misalnya produksi oleh perusahaan negara, ataupun diberikan kepada publik untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.

Singkatnya, kalau diimajinasikan, step by step menuju kebangkrutan adalah sebagai berikut:
1. Habisnya tabungan.
2. Beli barang berikut, bayar dengan sistem cicil (pokok & bunga)
3. Karena kesulitan membayar, ganti cara bayar. Bayar dengan sistem cicil (bunga aja, hutang pokok gak usah). Sebenarnya, ini sama saja dengan menyewa.. hehe…
4. Beli terus, kali ini bahkan bungapun sebenarnya gak sanggup dibayar. Tapi jangan khawatir, ada beberapa aset lunas yang terakumulasi sebelumnya yang bisa dijadikan jaminan.
5. Pembayaran macet, aset yang dijaminkan mulai disita. Dan kalau semua kreditur menuntut untuk dibayar, maka nyatakan kebangkrutan dan likuidasi semua aset untuk membayar mereka.
6. Khusus untuk negara, bisa diperpanjang ke step berikut. Kalau hutang dalam mata uang yang mereka cetak, mereka bisa bayar dengan mencetak mata uang itu. Kalau hutang dalam mata uang asing, mereka bisa mencetak uang sendiri, lalu ditukar di pasar valuta asing untuk membeli mata uang asing tersebut. Tergantung seberapa besar volune uang yang dicetak, tingkat devaluasi atau prospek hiperinflasi adalah relatif tergantung skala cetak uang itu.

Belum tentu kalau mulai mencetak uang lantas negara langsung bangkrut, karena tergantung apakah sebagai sebuah negara, mereka sanggup mengubah diri mereka, dari membeli lebih banyak daripada yang mereka jual (defisit) menjadi menjual lebih banyak daripada yang mereka beli (menabung).

Yang dilakukan saat negara mencetak uang (monetisasi atau quantitative easing) adalah membeli waktu dan menunda kebangkrutan. Kalau mereka bisa mengubah diri mereka dengan cepat, berubah dari sebuah entitas yang defisit menjadi sebuah entitas yang surplus, mereka bisa come back, hiperinflasi dan hancurnya mata uang tidaklah harus terjadi.

Tapi kalau mereka tidak bisa mengubah ketagihan mereka akan defisit, dan semua tagihan memang hanya mungkin dibayar lewat pencetakan uang baru berikut, maka the game is over. Uang yang mereka cetak pada akhirnya memang hanya akan dihargai sebesar nilai kertas itu sendiri…

Step 1 sampai 3 di atas akan membentuk siklus “booming” ekonomi, waktu di mana semua orang merasa “makmur,” hehe.. Di step no 4, bubble sudah di ambang pecah, dan pada step 5 dan 6, itu adalah masa-masa meletusnya “kemakmuran” ekonomi menjadi bencana ekonomi.

***

Kalau Anda sudah membaca mengenal implikasi Capital Accord 2, Anda sudah tahu bahwa daya leverage sekuritas rating AAA sangatlah besar. Bersama dengan uang tunai, emas, surat hutang negara maju seperti Dolar Amerika, Pound Inggris, Euro, dan juga sebagian surat hutang negara bagian (muncipal bond), mereka bisa dimasukkan di aset level 1 ataupun level 2 pembukuan perbankan.

Runtuhnya rating surat hutang perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors yang barusan bangkrut dan juga surat hutang negara bagian seperti California nantinya akan menjatuhkan rating surat hutang tersebut dalam pembukuan bank-bank besar. Artinya, apa yang sebelumnya ada di level 1 akan jatuh ke level 2, atau apa yang ada di level 2 akan jatuh ke level 3, alias modal yang harus bank kumpulkan untuk memenuhi rasio kecukupan modal kembali akan membengkak.

Bedanya, kali ini pemerintah dan bank sentral mereka tidak lagi sanggup meminjam dari publik seperti yang mereka lakukan tahun lalu. Kali ini, pilihannya tinggal 2, biarkan bank tutup dan masuki era deflasi besar, ataupun cetak
uang!!

Apakah Amerika, Inggris, dkk akan memonetisasi besar-besaran hutang mereka atau tidak, saya tentunya tidak tahu, tetapi kalau harus bertaruh, saya lebih condong bertaruh para Money Masters pada akhirnya akan mencobanya. Publik akan menuntut mereka untuk melakukannya. Duduk diam dan membiarkan sebuah krisis menghancurkan kehidupan masyarakat sepertinya bukan skenario yang bisa diharapkan untuk dilakukan para politisi dan pejabat bank sentral.

Negara maju adalah konsumen, dan kita, di Indonesia, dalam bagan piramida perdagangan global, adalah produsen. Kalau mereka melakukan devaluasi, kita juga nantinya akan ikut, karena mata uang kita kalau menguat, ekspor kita akan terganggu. Memang inilah nasib negara budak, kecuali kalau posisi Indonesia dan negara berkembang lainnya bisa diubah. Giliran Amerika, Inggris, dkk yang menjadi budak & mensuplai kebutuhan kita dengan harga murah. Hehe…

Tapi butuh waktu untuk melihat itu kawan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apa yang saya sharing kepada Anda mengenai masa depan, sejak buku Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia, sampai tulisan2 di blog ini mungkin baru akan menjadi kenyataan setelah bertahun-tahun lagi, bahkan dekade. Yang bisa saya katakan adalah kita memang sedang dalam perjalanan sesuai dengan apa yang saya tulis, KEBANGKRUTAN GLOBAL...

Rabu, 2009 Juni 03

Serba - Serbi & Klarifikasi

Sebenarnya informasi yang bisa saya sharing sudah habis saya sampaikan, tapi dari beberapa email yang saya terima, sepertinya ada penyampaian saya yang kurang beres. Untuk mencegah kesalahpahaman, mungkin lebih baik ditulis lagi artikel tambahan.

Tentu saja, saya paham kebanyakan orang tidak akan benar-benar membaca semua artikel yang ada di sini. Zaman ini, orang menginginkan informasi instan, kalau bisa sebuah artikel yang bisa dibaca habis dalam 3 menit untuk menjelaskan semua topik yang ada. Hehe... Sayang, saya gak punya…


Campur Tangan Pemerintah

Ketika saya mengkritik pemerintah atas berbagai campur tangan mereka dalam ekonomi, saya mengucapkan hal itu dalam konteks di mana pemerintah tidak boleh mencetak uang (sesuai sistem yang ada selama ini).

Uang pemerintah selalu datang dari pinjaman, entah itu suka-rela (rakyat membeli surat hutang negara) atau tidak suka-rela (pajak).

Ingat, pemerintah manapun tidak boleh mencetak uang (dalam sistem sekarang), mereka hanya boleh meminjam. Ketika mereka memonetisasi hutang, uang baru itu juga adalah hutang. Yang bayar? Ya you and me

Lantas, apakah saya mendukung pemerintah mencetak uang secara membabi-buta? Tentu tidak kawan.

Dalam konteks kredit konsumen, orang mengatakan asalkan pertumbuhan uang diikuti dengan pertumbuhan barang dan jasa, maka relatif tidak ada kenaikan harga.

Jika kalimat ini berlaku untuk konsumen, maka kalimat ini seharusnya juga berlaku untuk pemerintah, bukan begitu?

Jadi, dalam hal pemerintah mencetak uang, maksud saya adalah:
1. Uang digunakan untuk tujuan produksi barang ataupun jasa yang mereka berikan ke publik.
2. Uang itu eksis secara permanen di dalam negara, bukan hutang kepada siapapun. Tidak ada masa jatuh tempo atas uang tersebut.

Dan kalau memang harus ada kompromi, di mana uang bagaimanapun tetap harus diciptakan sebagai kredit (hutang), maka hutang pemerintah, sama seperti hutang swasta, tidak perlu dikenakan bunga.

Atau alternatif kompromi yang lain, hutang konsumen tetap dikenakan bunga, tetapi semua keuntungan perbankan harus dikembalikan lagi kepada publik dalam bentuk penghilangan pajak. Untuk itu, semua bank komersial, yang diberikan hak untuk menciptakan kredit, harus dinasionalisasikan terlebih dahulu oleh negara. Rakyat tidak perlu lagi membayar pajak, anggaran negara akan dibiayai sebagian oleh keuntungan bank, sebagian lagi lewat pencetakan uang baru.

Suplai uang di sebuah negara bisa dipatok oleh pemerintah, dengan kenaikan sekian persen tertentu setiap tahun, mengikuti kebutuhan dan kalkulasi pembangunan mereka.

Saya yakin ada berbagai alternatif yang lain, dan saya cukup percaya Anda bisa membayangkan sistem yang lain yang menurut Anda lebih baik. Yang pasti, jangan percaya dengan kata-kata orang bahwa sistem yang ada sekarang adalah satu-satunya alternatif. Itu bohong!


Debt = Money

Tidak ada uang yang eksis secara permanen di sebuah masyarakat ataupun di sebuah negara dalam debt based money system. Suplai uang bertambah saat volume kredit (hutang) bertambah. Suplai uang menurun saat volume kredit berkurang.

Membandingkan volume uang tunai dengan total kredit yang berfungsi sebagai uang di dunia ibarat membandingkan volume air sungai dengan air laut di samudera, benar-benar tak berarti.

Disederhanakan, suplai uang dunia = A + B – C

A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.

Suplai uang utama datang dari kredit konsumen, suplai nomor dua datang dari kredit negara / monetisasi (sangat jarang terjadi, sebab uang negara mayoritas hanyalah uang yang mereka himpun dari tangan publik).

Bisakah Anda membayangkan sistem ini kawan?

Untuk mempertahankan suplai uang, seluruh manusia di dunia harus terus mengajukan hutang baru. Yang terjadi dari waktu ke waktu sebenarnya hanya siapa yang memikul tanggung-jawab terbesar sebagai mesin hutang.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk hubungan antar-negara. Di internal negara, di internal propinsi, sebenarnya juga sama.

Dan kalau pada akhirnya, Anda mendapati bahwa suplai uang di planet ini datang dari para bankir swasta, bagaimana Anda bisa tidak marah? Apa hak mereka untuk menciptakan uang dan menyuruh kita semua untuk membayar dan memperkaya mereka?

“Uang ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani sang pencipta uang!”


Hutang, Manusia, & Lingkungan

Untuk membayar hutang & mengejar bunga, masyarakat harus terus mencari jalan untuk mengajukan hutang baru. Aktifitas mencari hutang secara umum akan diikuti oleh aktifitas produksi nyata di lapangan. Ini bisa menjadi berkat, juga bisa menjadi bencana.

Debt based money system (kredit sebagai uang) dan bibit-bibit fractional reserved banking modern dimulai pada abad ke-15…

Manusia, karena harus membayar hutang dan juga karena secara matematis tidak sanggup melunasi hutang yang bunganya bahkan tidak eksis, harus terus mencari area pengembangan baru. Untuk itu, mereka terus mengeksplorasi wilayah baru, mencari sumber daya alam baru, dan menciptakan teknologi yang baru.

Dan tentu saja, untuk mengerjakan begitu banyak proyek-proyek baru, dunia juga butuh manusia-manusia baru.

Ingat, yang dikejar manusia adalah bunga eksponensial, dan bunga eksponensial selalu berakhir dengan grafik parabolik… Dengan demikian, baik suplai uang (kredit), pertumbuhan populasi, maupun pertumbuhan produksi dan eksplorasi komoditi pada akhirnya akan membentuk kurva parabolik.

Suplai Uang Dunia


Populasi Dunia

Produksi Minyak Dunia (Peak Oil?)

(Renungkan baik-baik hubungan pertumbuhan suplai uang - penduduk - produksi komoditi. Bila suplai uang benar-benar collapse, maka hanya masalah waktu sebelum yang lain juga mengikutinya...)

Fractional reserved banking adalah sebab masalah, tetapi di kemudian hari juga adalah sebab DAN akibat dari masalah. Untuk membayar hutang yang semakin lama semakin banyak, butuh lebih banyak dan lebih banyak lagi suplai uang, yang bahan bakunya belum tentu bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Dan karena jumlah manusia terus bertambah, suplai uang mau tak mau harus dibuat dari bahan / cara yang segampang mungkin diciptakan.

Cara apa lagi yang lebih gampang selain menciptakan uang begitu saja dengan sebuah entri pembukuan?

Rasio fractional reserved terus dinaikkan dari waktu ke waktu. Dari 2 kali lipat, menjadi 4 kali lipat, menjadi 10 kali lipat, 20 kali lipat, 40 kali lipat, dst…

Tentu saja, hal ini terjadi sebagian karena keserakahan si pencipta uang (bankir), tetapi sebagian lagi juga karena untuk memenuhi kebutuhan suplai uang yang diperlukan oleh sistem. Semua perubahan regulasi sampai saat ini di dalam dunia perbankan adalah untuk memperlama usia debt based money system di planet ini.

Efek pertambahan penduduk, pertambahan aktifitas manusia, pertambahan eksplorasi alam, adalah apa yang kita lihat hari ini. Saya bukan pemerhati isu lingkungan, tetapi kalau Anda termasuk orang yang sensitif terhadap lingkungan dan menyalahkan manusia karena telah merusak terlalu banyak bumi kita, Anda juga bisa mengarahkan pistol Anda kepada debt based money system.

Ingat aturan main sistem ini:

Majikan (bankir) akan memberikan kita berapapun uang yang kita inginkan, selama kita memberikan kepada mereka lebih daripada yang kita dapatkan.
Dan ketika kita (secara umum, umat manusia) tidak bisa lagi berhutang & membayar lebih daripada yang kita dapatkan, maka majikan tidak akan lagi memberikan kepada kita apa yang kita inginkan.

Amerika adalah mesin hutang terpenting di dunia sejak perang dunia ke-2. Kecuali kalau manusia di planet ini bisa segera menemukan mesin hutang raksasa berikut, bila tidak dunia ini akan memasuki era kekacauan besar.

Untuk apa si pencipta uang menciptakan uang dan memberikannya kepada kita hanya supaya kita bisa memberikannya lagi kepada mereka untuk membayar hutang-hutang kita? Ini memang bisa menunda hari penghakiman, tetapi ini bukanlah solusi…

Negara-negara yang kebanyakan hutang bisa saja memonetisasi berton-ton uang baru (hutang baru), dan kemudian membayarnya lagi kepada majikan mereka (bank). Bank juga secara teori bisa mengabulkan begitu saja semua permintaan kredit dari konsumen. Tapi kalau Anda pikir baik-baik, untuk apa bank melakukan itu? Untuk apa mencetak uang dan memberikannya kepada A hanya supaya A membayarnya kembali lagi kepada bank dengan uang yang sama?

Hiperinflasi tidak akan menyelesaikan masalah. Dalam konteks paling opitimis, dia hanya bisa menunda masalah yang sesungguhnya: collapse of credit, suplai uang kita.

Saya tidak bisa memastikan kepada Anda apa yang Akan terjadi, apakah dunia benar-benar akan memasuki era hiperinflasi karena masing-masing negara memonetisasi besar-besaran uang mereka, atau apakah monetisasi akan segera diakhiri dan kita akan langsung memasuki era deflasi. Saya bukan insider

Satu hal yang pasti, daya hutang manusia ada batasnya. Ada level tertentu di mana bila level itu sudah tercapai, ya berhenti. Menambah angka nol di belakang uang kita tidak akan mengubah apapun, yang berubah hanyalah jumlah angka nol kita saja.

Beberapa bulan ini Anda membaca tentang monetisasi pemerintahan Amerika dan Inggris (Quantitative Easing). Apa sebenarnya yang mereka lakukan?

Ini gambaran yang disederhanakan…. Rakyat mereka sudah capek berhutang, mereka sudah sampai ke limit mereka, it’s over their limit. Tetapi sesuai kesepakatan kredit yang mereka buat, setiap bulan tetap ada tagihan yang harus dibayar ke perbankan. Bukan cuma bunga pinjaman, tetapi juga hutang pokok.

Total credit market di Amerika adalah sekitar $50 trilyun. Umpamakan bunga rata-rata per tahun dari kredit konsumen ini 5%, berarti ada $2,5 trilyun uang baru yang mereka butuhkan setiap tahun. Ditambah hutang pokok yang jatuh tempo, umpamakan $2,5 trilyun juga, maka setiap tahun harus ada “proyek” baru senilai $5 trilyun yang diajukan rakyat mereka hanya untuk MEMPERTAHANKAN suplai uang dolar ini.

Bagaimana kalau rakyat mereka tidak sanggup meminta kredit baru senilai $5 trilyun tahun ini? Tahun depan? Dan tahun-tahun berikut? Jawabannya adalah intervensi pemerintah.

Pemerintah akan menggantikan peran rakyat sebagai mesin hutang. Sebenarnya, tidak ada salahnya mencetak uang, solusi kekurangan uang adalah menambah uang, apa lagi yang Anda harapkan? Masalahnya adalah yang dicetak pemerintah saat monetisasi bukan hanya uang, tetapi juga hutang…

Bank sentral membeli surat hutang negara, hanya supaya negara nantinya bisa membayar kembali ke bank sentral, ini sinting. Ini benar-benar sia-sia. Majikan (bankir) menjadi kaya karena yang membayar tagihan bukan mereka. Tetapi dalam quantitative easing, uang yang mereka terima adalah uang yang mereka cetak. Suatu saat, ketika uang tidak lagi mewakili nilai, maka QE pun tidak lagi memberikan manfaat kepada bankir. Cepat atau lambat ini akan berakhir, QE tidak akan berlangsung abadi.

Bayangkan sebuah perusahaan, setiap staf harus memberikan kontribusi (profit) bagi majikan. Misalkan Anda seorang salesman, gaji Anda 5 juta dan penjualan Anda menghasilkan profit 50 juta bagi perusahaan. Selisih 45 juta itu adalah untuk menghidupi staf lain yang bekerja di departeman lain.

Seminimum-minimumnya, salesman itu harus menghasilkan profit 5 juta per bulan agar dia tidak menjadi parasit, bukan begitu? Kalau penjualannya menghasilkan profit kurang dari gajinya, dia akan berubah dari sebuah aset menjadi sebuah liabilitas.

Dan tidak ada liabilitas yang akan bertambah lama di perusahaan manapun juga!

Dunia ini juga sama seperti perusahaan itu. Kita semua adalah staf, masing-masing memberikan kontribusi dalam sistem piramida raksasa yang sama. Majikan menjadi kaya karena kontribusi kita kepada mereka, karena kita memberikan kepada mereka lebih daripada yang kita dapatkan.

Majikan tidak menjadi kaya karena mereka mencetak uang kepada kita, hanya supaya kemudian kita mengembalikan uang yang sama kepada mereka. Kekayaan mereka harus datang dari kontribusi kita kawan.

Anda tidak bisa berharap bank sentral dan bank komersial terus-menerus memproduksi uang (mengcover hutang pokok dan bunga), memberikannya kepada pemerintah dan publik hanya supaya pemerintah dan publik kemudian membayarkan kembali jumlah uang tersebut kepada bank bukan? Ini sia-sia (bagi bankir).

Di saat titik puncak hutang terlewati (saya tidak tahu kapan), titik di mana manusia benar-benar tidak sanggup lagi mengajukan hutang dan membayar lebih dari yang mereka minta, satu-satunya hal yang wajar untuk terjadi adalah likuidasi liabilitas.

Somobody has to be liquidated. If it’s not you, then it’s me…

Dan setelah cukup orang dilikuidasi, kita, bersama-sama dengan Majikan kita, akan memulai lagi sebuah era baru dengan hutang-hutang yang baru. Sebuah siklus baru.


Nilai Intrinsik Uang

Kalau emas adalah uang, lantas apa yang pemerintah gunakan untuk membeli emas? Memakai emas untuk membeli emas? Oh come on

Dalam standar emas, negara tetap harus memark-up harga emas. Harga emas dipatok (fixed) di level tertentu, di atas ongkos produksinya. Umpamanya ongkos negara per gram Rp 50.000, dan kemudian dipatok dengan nilai Rp 200.000 (face value) pada saat emas tersebut dibentuk sebagai mata uang (koin ataupun batangan).

Uang kertas juga sama. Uang elektronik juga demikian.

Bedanya adalah rasio perbandingan face value terhadap ongkos bahan baku. Pada emas, rasionya bisa lebih kecil. Untuk uang kertas dan elektronik, rasionya bisa sangat besar. Tapi, yang pasti, apapun bahan baku yang digunakan, tetapi akan dipatok di harga yang sudah dimark-up sebelumnya.

Bentuk uang cash atau elektronik, sebenarnya (bagi saya) tidak terlalu penting. Saya menyukai uang kertas, saya juga menikmati uang elektronik, jadi jujur saja saya tidak bisa mengkritik berlebihan bentuk uang ini.

Emas bisa digunakan sebagai uang, emas pernah digunakan sebagai uang, & mungkin saja emas di masa mendatang akan kembali menjadi uang…. Tapi itu tidak berarti uang = emas, bukan begitu?)

Bagi para goldbug yang sering berpikir uang kertas hanyalah selembar kertas (sampah), ketahuilah bahwa sekalipun emas digunakan sebagai uang, dia juga sebenarnya sebuah barang komoditi yang nilainya (face value) telah dinaikkan cukup jauh sebelum bisa digunakan sebagai uang.

Jadi emas (atau perak) sebagai uang memiliki 2 macam harga: harga sebagai komoditi dan harga sebagai uang. Hal yang sama dengan kertas sebagai uang, dan angka digital elektronik sebagai uang.


Mengenai Pemerintah

Sebuah negara dibentuk untuk melindungi rakyat dari berbagai ancaman, dan sebuah pemerintahan dibentuk untuk melayani kepentingan publik yang mengangkatnya.

Tidak tahu siapa yang memulainya duluan, atau mungkin juga manusia memang memiliki insting untuk “melukai dan memakan” manusia yang lain, itulah asal-muasal ancaman, dan untuk itulah dibutuhkan negara.

(Atau jangan-jangan sejak awal pendiri negara memang adalah “otak” dari para pengancam? Atau berkolaborasi dengan para pengancam??)


Satu hal yang perlu Anda pahami sebagai manusia, “semua orang (& sistem) butuh makan,” demikian juga dengan institusi yang namanya pemerintah.

Pemerintah eksis untuk melayani publik, dan eksis untuk menyelesaikan masalah publik. Tetapi, tanpa masalah, sejumlah anggota pemerintah tidak akan eksis. Untuk itu, adalah untuk kepentingan mereka juga untuk ikut membantu menciptakan masalah. Atau apakah Anda benar-benar berharap mereka akan menuntaskan masalah hanya untuk kemudian dipecat oleh rakyatnya karena masalahnya sudah tidak ada?

Saya tidak bisa membuktikannya, tetapi saya sama sekali tidak akan heran kalau pemerintahan di berbagai negara memang ikut aktif membiayai keberadaan kelompok-kelompok yang akan menjadi “ancaman” terhadap rakyatnya. Istilah yang mungkin sering Anda dengar adalah government psy-ops.

Itu juga sebagian dari alasan mengapa pemerintah di manapun tampaknya tidak pernah benar-benar ingin menyelesaikan semua permasalahan secara tuntas, termasuk isu pengadaan uang.

Anyway, ini hanyalah sebuah kemungkinan, saya tidak bisa membuktikannya…

Memang rumit, di satu sisi kita berharap pemerintah akan melayani publik, tetapi di sisi lain justru pemerintah adalah institusi yang juga harus diwaspadai oleh kita. Saya bukan ahli ilmu tata negara, moga-moga ada orang di luar sana yang tahu bagaimana seharusnya manusia berkumpul dan melindungi kepentingan kelompok mereka.

Mengenai uang… Saya mengatakan pemerintah berhak untuk menciptakan uang, tetapi saya tidak mengatakan pemerintah boleh mencetak uang “membabi-buta” kawan.

Argumen para goldbug bahwa “fiat” money (uang kertas) bisa dicetak sesuka hati memang tidak salah, tetapi kalau itu permasalahannya, ya kita kontrol aja volume uang yang boleh dicetak negara. Ini seharusnya bukan mission impossible.

Percobaan untuk mengontrol ini selalu gagal (di masa lalu), setahu saya selalu karena intervensi dari para bankir swasta. Secara teoritis, harusnya yang kita tangani adalah keberadaan para bankir swasta itu, bukan sistem uang kertas itu sendiri.



Bagi saya, hal terpenting saat menganalisa saham adalah laba (earning) dari perusahaan. EPS (Earning Per Share) dan PER (Price Earning Ratio) adalah indikator yang pertama saya lihat.

Karena terbelit hutang, konsumen mengurangi belanja mereka. Karena mengurangi belanja, penjualan sejumlah besar perusahaan menurun. Pada saat yang bersamaan, hutang mereka masih berjalan, dan margin laba tidak bisa dinaikkan sesuka hati karena tidak ada yang mau beli.

Pada saat yang bersamaan, produk pencipta hutang terbesar, real estate, sudah tidak bisa diandalkan untuk menciptakan gelombang hutang berikut. Sesungguhnya, bubble real estate tahun-tahun terakhir ditiup untuk menunda runtuhnya kredit dunia. Bubble real estate bukanlah penyebab krisis, dia adalah akibat dari sistem yang kita anut. Tanpa bubble ini, "kemakmuran" yang dirasakan penduduk dunia tahun 2003-2007 tidak akan ada.


Buy It Baby.. Buy!!

Pendek kata, secara umum, earning power dari mayoritas perusahaan, termasuk yang go public sebenarnya sedang menurun.

Kalau orang-orang masih bersedia membeli saham di harga PER yang tinggi, ya silahkan saja. Membeli barang dengan harga mahal tidaklah melanggar hukum. Bukan karena sebuah keputusan tampaknya konyol, lantas itu tidak akan dilakukan.

Ada berbagai macam jenis manusia, hehe… Jadi apakah pasar saham akan naik atau turun memang tidak bisa saya pastikan. Sorry…

Beli di PER 120X? Hehe...

Nilai uang yang terlibat di pasar surat hutang sebenarnya lebih besar dari pasar saham. Pemerintah Amerika membutuhkan injeksi dana yang besar di pasar hutang mereka. Sebagian dari uang yang mereka butuhkan sebenarnya bisa diambil dari pasar saham. Tetapi dengan quantitative easing akhir-akhir ini, keharusan untuk menjatuhkan pasar saham sudah berkurang.

Semakin besar QE oleh pemerintah Amerika, semakin berkurang tekanan di pasar saham dan komoditi. Demikian juga sebaliknya. Tetapi semakin besar QE, semakin besar juga tekanan pada US Dolar.

Sistem perbankan Amerika membutuhkan kira-kira $5 trilyun kredit baru (naik secara eksponensial setiap tahun) untuk bertahan hidup (memberikan kepada Majikan apa yang mereka butuhkan agar mereka mau memberikan kepada publik apa yang publik butuhkan). Kalau memang benar rakyat mereka sudah sampai ke limit hutang mereka, maka QE terpaksa akan menjadi jurus terakhir untuk menemukan $5 trilyun ini.

Dan ingat, angka $5 trilyun ini akan meningkat seiring dengan waktu. Beberapa minggu lalu Federal Reserve mengumumkan akan memonetisasi $1 trilyun dolar untuk membeli hutang baru pemerintah Amerika, saya rasa hanya masalah waktu sebelum mereka mengumumkan untuk membeli $trilyun-trilyun dolar yang berikut. Tidak ada lagi alternatif yang lain.

Tadi sudah saya jelaskan, mencetak uang dan memberikan kepada A hanya supaya A membayarnya kembali tidaklah menguntungkan Majikan, ini tindakan yang sia-sia. Uang harus datang atas permintaan A dan dibayar oleh A dan kawan-kawan A kepada Majikan. Jadi suatu saat di bulan-bulan / maksimum beberapa tahun mendatang, QE pasti akan ditinggalkan.

Namun, US Dolar tidak akan ambruk selama dolar-system masih eksis. Tetapi begitu negara-negara lain bisa menemukan solusi atau setidaknya menggantikan sebagian pengaruh dari dolar Amerika, maka USD bisa jatuh sangat dalam.


Bagaimana Melikuidasi Liabilitas?

Di perusahaan, orang yang tidak menghasilkan profit akan dipecat. Setelah dipecat, orang itu mau pergi kemana, ya terserah orang itu sendiri. Yang pasti perusahaan tidak akan menghidupi dia lagi.

Di dunia, kalau Anda bayangkan keseluruhan populasi sebagai bagian dari sebuah perusahaan, tidak begitu. Sebab orang yang tidak menghasilkan profit (liabilitas) juga harus makan dan memiliki berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi.

Saya bukan insider, saya tidak tahu apa yang sedang direncanakan. Sekadar spekulasi, berikut beberapa contoh likuidasi liabilitas:
- Penyebaran virus baru
- Perang
- Peracunaan massal lewat bahan pangan ataupun lewat vaksin & obat-obatan.
- Bencana alam” buatan
- Pengurangan suplai berbagai bahan baku kebutuhan pokok, kelaparan massal sampai mati.
- dll…

Cerita tentang rencana depopulasi dunia yang Anda baca di website-website konspirasi saya rasa tidak dilakukan karena ada maksud satanic tertentu, tetapi karena sejumlah manusia memang telah berubah dari aset menjadi liabilitas bagi sang Majikan dalam debt based money system.

Cerita adalah cerita, dan tidak harus terjadi. Hal-hal buruk yang saya tulis di sini belum tentu akan menjadi kenyataan, tergantung apa yang dilakukan manusia saat ini.

Manusia benar-benar harus menyingkirkan sistem pengadaan uang seperti yang sedang kita lakukan, ini demi kelangsungan hidup kita sendiri, dan harus dilakukan secepat mungkin.

Sebarkanlah informasi ini kawan. Anda tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi korban berikut.

It could be YOU.

Selasa, 2009 Mei 05

Siklus Alam Semesta

Hari ini, saya postingkan sebuah gambar yang harusnya sudah sering Anda lihat di TV, simbol Tai Ji.

Seberapa simbol ini bisa menjelaskan berbagai kejadian & siklus di alam yang kita tinggali ini, mungkin tergantung persepsi Anda masing-masing.

Note, dari gambar simbol:
Yang = putih
Yin = hitam

3 garis yang Anda lihat itu sendiri dinamakan Trigram.
Tiga garis penuh = Yang maksimum.
Tiga garis putus = Yin maksimum


Kalau Anda membayangkan Yang sebagai sifat tertentu (+), maka Yin adalah kebalikan dari sifat tersebut (-), misalnya:

Yang : panas, maka Yin : dingin
Yang : cepat, maka Yin : lambat
Yang : kuat, maka Yin : lemah
Yang : rajin, maka Yin : malas

Perhatikan gambar di atas:

Setelah Yang mencapai puncak, bibit Yin lahir,
Lalu Yin mulai mengelilingi Yang,
Kemudian Yin mendominasi Yang.

Setelah Yin mencapai puncak, bibit Yang lahir,
Lalu Yang mengelilingi Yin,
Kemudian Yang mendominasi Yin.

& kembali lagi ke siklus Yang mencapai puncak, dst…

Keseluruhan siklus di alam semesta, akan membentuk pola ini berulang-ulang. Sifat manusia, cuaca, kesehatan, nasib sebuah keluarga, bahkan nasib sebuah bangsa, tidak akan terlepas dari fenomena yang sama.

Sejarah memang tidak berulang dengan cara yang persis sama, tetapi kalau Anda perhatikan, kejadian-kejadian di alam akan berulang dengan pola yang mirip, yang berbeda-beda hanyalah rentang waktu kejadian dan pelakunya.

***

Bagi Anda yang khawatir krisis ekonomi ini akan sangat buruk dan mengancam kehidupan keluarga Anda, mungkin Anda benar, mungkin juga tidak, tidak ada yang bisa tahu pasti. Kejadian yang sama bisa membawa efek yang berbeda terhadap orang yang berbeda, karena respon masing-masing orang berbeda.

Ekonomi modern dunia sudah “booming” sejak selesainya perang dunia kedua (volume hutang nyaris membentuk kurva parabolik di hampir semua negara). Apakah siklus booming ini akan berubah arah menjadi siklus busting (pecahnya balon), ya kita lihat saja.

Waktu akan menunjukkannya kepada kita.

***

Bagi Anda yang pertama kali datang ke sini, moga-moga Anda punya 3 – 4 jam senggang untuk membaca semua yang pernah saya posting di sini.

Tidak ada satu artikel pendek manapun yang akan Anda temukan di dunia yang bisa menjelaskan semua rangkaian sebab-akibat dari berbagai kejadian di dunia. Sebenarnya, sekalipun Anda membaca semua yang pernah saya tulis di sini, juga masih tidak akan mendekati cukup.

Tapi kalau Anda mau membaca semua postingan di sini, mulai dari 2 dongeng tentang penciptaan uang kita (1) & (2), lalu ke Sejarah Money Changer, Sejarah Dinasti Rothschild, dan artikel-artikel lainnya, saya cukup yakin Anda setidaknya sudah lebih mehamami masalah dibanding ratusan juta orang Indonesia yang lain, & Anda tidak akan sibuk-sibuk berdebat dengan orang lain mengenai berbagai akibat dari masalah lagi.

Tanpa menyelesaikan penyebab dari masalah (sistem penciptaan uang), semua perdebatan yang lain yang Anda dengar dari orang-orang di sekitar Anda tentang cara menciptakan dunia yang lebih baik (isu politik, parlemen, hukum, KKN, dll) hanyalah pertengkaran kosmetika, sampai kapanpun tidak akan menyelesaikan masalah…

Terima kasih telah mengunjungi blog Pustaka Pohon Bodhi. Walaupun tidak saling kenal, tapi karena di antara jutaan alamat web di internet, ternyata Anda bisa juga datang ke sini, saya rasa ini juga sudah pertanda sebuah perjodohan.

Nice to know you all, & May God bless you. Bye2.

Kamis, 2009 April 30

Debt Based Money System (Part 2)

Dalam debt based money system, sumber energi baru sistem adalah penciptaan hutang baru. Sedangkan penyebab habisnya stok energi adalah karena pembayaran hutang lama beserta bunganya.

Bayangkan sebuah balon tanpa tutup… Udara akan terus berhembus keluar… Untuk mempertahankan eksistensi balon ini, harus ada yang meniup udara baru ke dalamnya… Inilah sistem keuangan yang kita anut.

No Air No Money

Interest (Bunga)?

Ini memaksakan udara yang perlu ditiup ke dalam balon harus lebih besar daripada udara yang berhembus keluar. Ukuran balon perlahan-lahan harus terus membesar, agar bunga bisa dibayarkan.

Anda, sebagai sebuah komunitas, boleh meminta berapapun uang yang Anda inginkan. Majikan Anda (Bank), akan memberikannya kepada Anda.

Majikan Anda akan menghalalkan segala cara untuk membantu Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan… Selama Anda sanggup membayar lebih daripada yang mereka berikan.

Anda meminta 1 milyar, Anda akan mendapatkan 1 milyar…
Anda meminta 1 trilyun, Anda akan mendapatkan 1 trilyun…

Bank memberikan Anda 1 milyar, Bank akan mendapatkan 1 milyar… + 10%...
Bank memberikan Anda 1 trilyun, Bank akan mendapatkan 1 trilyun… + 10%...

Darimana datangnya 10% ini? Seseorang di samping Anda, seseorang di planet ini, baik Anda kenal atau tidak, harus menciptakannya untuk Anda…

Seseorang akan meminta bank memproduksi uang, dan Anda harus mendapatkan uang itu dari tangan dia, dan kemudian membayar 10% bunga kepada bank sesuai “peraturan” yang ada.

Bagaimana kalau seseorang itu tidak eksis?

Hehe… Pertama… Majikan Anda tidak akan mendapatkan apa yang dia butuhkan (bunga). Dan dengan demikian, tidak ada alasan bagi dia untuk memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan…

Jangan lupa, aturan permainan ini adalah Majikan akan memberikan berapapun uang yang Anda inginkan… Selama dan hanya selama Anda sanggup membayar lebih daripada yang Anda dapatkan…

Kedua, uang-uang yang eksis sebelumnya di tangan kalian akan perlahan-lahan kembali ke tangan Majikan, sesuai jadwal perjanjian pembayaran hutang pokok lama dan bunganya… Suplai uang bukan saja tidak bertambah, bukan hanya akan stagnan, tetapi akan terus menurun…

Uang sewa tetap harus dibayar kawan…. Ingat status Anda… Anda semua hanyalah penyewa… (1) & (2)

Setiap sen uang yang eksis, eksis karena telah diajukan untuk tujuan tertentu. Tidak peduli untuk tujuan yang baik atau jahat, tidak peduli untuk tujuan yang penting ataupun tidak penting, uang yang telah eksis mewakili sebuah keinginan dan standar hidup yang telah terpenuhi oleh Anda-Anda yang telah memintanya sebelumnya…

Dan kalau uang-uang itu menghilang (udara balon yang berhembus keluar dan tidak kembali lagi), Anda akan kehilangan medium untuk membayar keinginan-keinginan dan standar hidup yang Anda nikmati sebelumnya…

Poops…

Anda harus membayar lebih daripada yang Anda dapatkan, hanya ketika itulah Majikan akan memberikan apa yang Anda inginkan (uang). Sistem ini mengharuskan demikian… Tidak ada hal yang lebih buruk daripada kontraksi kredit dalam sistem ini.

Volume kredit (uang) harus bertambah, harus! Bila tidak bagaimana mempertahankan eksistensi kalian semuanya? Inflasi bukanlah sebuah pilihan, inflasi adalah sebuah keharusan. Inflate or die my dear...

Kontraksi perdagangan dan turunnya GDP sebuah negara, adalah berita buruk bagi sistem ini. Bankir (Majikan) khawatir… Bukan karena mereka peduli pada Anda semuanya, tetapi karena mereka tahu turunnya aktifitas perdagangan akan membuat Anda tidak sanggup membayar lebih daripada yang telah Anda dapatkan dari mereka sebelumnya.

Tanpa Anda sanggup mengajukan kredit baru 10% lebih banyak per tahun, bagaimana Anda sanggup mempertahankan suplai uang di masyarakat Anda sambil membayar 10% kepada Majikan Anda?

Anda paham?



Bank-bank yang sekarat tidak bisa diselamatkan oleh siapapun selain Anda. Bila Anda tidak ingin bank-bank berjatuhan, maka peraslah otakmu, peraslah keringatmu, dan berusahalah agar Anda selalu mampu mencari jalan untuk membayar lebih daripada yang Anda dapatkan.

This is the rule of the game.

Tidak masalah Anda sadar atau tidak, tidak masalah Anda bisa mengimajinasikan ini atau tidak, kita semua adalah bagian dari sebuah skema piramida raksasa. Kita semua adalah sub-sub-sub-sub sistem dari skema yang sama.

Orang-orang yang membayar kita ada di level atas, dan orang-orang yang kita tanggungi ada di level bawah. Masing-masing membentuk mini-piramida dalam skema piramida raksasa yang sama.

Di puncak dari piramida ini, berdiri Majikan kita yang sesungguhnya, yang bila tanpa produk yang dia produksikan (uang), maka keseluruhan peradaban manusia akan macet dan tidak bisa berkembang ke mana-mana.


Semakin Anda mengambil lebih dari yang Anda berikan, semakin Anda mendekati level atas…

Semakin Anda membayar lebih dari yang Anda dapatkan, semakin Anda mendekati level bawah…

Sejumlah bank besar internasional boleh ditutup, dan tidak seperti yang Anda sangka, ini benar-benar tidak bermasalah bagi sang Majikan di level Top of the Top. Akumulasi asset riil mereka salama ratusan tahun ini jauh lebih besar daripada yang Anda tahu.

Bank, hanyalah sebuah institusi perantara antara kebutuhan manusia dengan uang yang mereka inginkan. Tetapi bukan uang yang sebenarnya manusia butuhkan, tetapi hal-hal yang bisa dibeli dengan uang itulah yang sebenarnya kita cari.

Makanan, pakaian, tanah / real estate, pendidikan, kesehatan, media informasi, industri hiburan, transportasi, sumber energi, dll… That’s the real wealth my friend…

Berita-berita yang Anda baca di koran dan nonton di TV adalah upaya-upaya terakhir, baik dari Majikan Anda (Bank), ataupun pembantu mereka (pemerintah) untuk mendorong Anda, agar Anda meminta dan membayar lebih daripada yang Anda minta…

Dan kalau setelah upaya-upaya mereka, Anda masih tidak sanggup juga membayar lebih daripada yang Anda dapatkan…. Permainan ini akan diakhiri. Hidup Anda semua sudah tidak bermanfaat lagi bagi sistem ini.

Kecuali kalau secara ajaib Majikan Anda memutuskan bahwa membagi-bagikan kekayaan mereka kepada Anda semuanya untuk bertahan hidup adalah gagasan yang lebih baik… Hehe…

Anda semua… Akan dipaksa mendapatkan sebuah pelajaran hebat tentang sifat manusia di tahun-tahun mendatang… Pelajaran tentang apa artinya “semua orang (& sistem) harus makan”.

YOU WILL NOT ENJOY THIS LESSON…

... Kecuali kalau Anda, dan milyaran manusia sub-sistem piramida malang lain yang ada... Secara luar biasa ajaib sanggup mengganti aturan main sistem ini sebelum hari penghakiman itu tiba… Sebuah sistem yang balonnya tidak membutuhkan Anda semua untuk terus bergantian meniup udara lebih banyak lagi ke dalamnya…

Jumat, 2009 April 24

Everything is ok.... Until it isn't

Saya tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan agar Anda bisa memahami maksud saya "Di Ambang Kehancuran Terbesar Ekonomi," baik di buku maupun di judul artikel yang saya tulis sebelumnya.

Bank yang insolvent adalah bank yang bangkrut, artinya uang para nasabahnya sebenarnya sudah menguap di tengah udara... Kalau Anda bisa membayangkan situasi ini, Anda mungkin baru akan paham segenting apa situasi dunia sebenarnya.

(Memang, pusat gempa bukan di negara kita, tetapi keterkaitan ekonomi antar negara sudah sangat kuat. Apapun guncangan yang terjadi di negara-negara besar akan dirasakan juga oleh yang lain).

Anyway, mungkin tidak adil orang-orang seperti saya terus-menerus memaki pemerintahan berbagai negara, bankir internasional, dan mainstream media di dunia. Ada saatnya juga mengucapkan selamat dan terima kasih kepada mereka. Berkat propaganda dan kebohongan terang-terangan mereka mengenai apa yang sedang terjadi, setidaknya dunia finansial (di Amerika dan sejumlah negara di Uni Eropa) belum "kiamat" sampai hari ini. (Contoh berita analisa penipuan publik)


Terlepas dari apakah kebohongan yang mereka lakukan benar atau tidak, setidaknya mereka sudah berhasil menunda tibanya hari penderitaan raksasa kepada publiknya.

Saran saya, persiapkan diri Anda secepat yang Anda bisa. Tidak ada yang bisa memberitahu kepada Anda secara pasti kapan sistem keuangan dunia akan collapse, tetapi satu hal yang bisa Anda yakini adalah tidak ada ruginya mengantisipasi lebih awal.

Bencana bisa datang tanpa pemberitahuan.

Good luck!

Note:
Informasi yang beredar, akhir musim panas ini (Juli - Agustus) pemerintah Amerika akan mulai default / gagal bayar atas treasury & municipal bond mereka.


Kamis, 2009 April 16

Hak Pemerintah Untuk Mencetak Uang

Pemilu barusan berlalu… Berita-berita konyol mulai muncul di koran tentang perilaku aneh beberapa caleg malang yang gagal mendapatkan suara. Para caleg, yang menghabiskan banyak uang untuk mencetak poster, spanduk, dan kolom iklan di koran, berharap uang “investasi”nya kembali. Tapi sayang, harapan tidak selalu sama dengan kenyataan.

Di poster, spanduk, dan iklan mereka, mereka menggambarkan diri mereka dengan berbagai kosakata yang mereka harap agak khusus, seperti : jujur… cerdas… anti korupsi… nasionalis… religius… sayang rakyat… dan bla bla bla lainnya.

Sedangkan, bagi yang berhasil memenangkan suara, belum resmi terpilih / dilantik saja, orang-orang ini sudah sibuk dengan koalisi antar partai, alias ciri-ciri khusus yang mereka jual saat kampanye harus dikompromikan dengan ciri-ciri khusus anggota dewan yang lain.

Ibarat keluarga Anda membeli tiket tour dengan travel A untuk berlibur ke Bali, keluarga tetangga Anda membeli tiker tour dengan travel B untuk berlibur ke Surabaya, tetapi A dan B berkoalisi tanpa izin kalian dan memutuskan untuk membawa kalian 2 berkeluarga untuk berlibur ke Lombok. Hehe...

Saya tidak ikut memilih, karena saya tidak percaya dengan orang-orang itu. Orang yang tidak mengetahui penyebab masalah tidak bisa menyelesaikan masalah. Dokter yang tidak bisa mendiagnosa penyakit pasiennya tidak bisa memberikan obat kepada pasiennya.

Apakah tidak memilih lantas adalah hal yang lebih baik? Saya tidak tahu… Yang saya tahu hanya saya tidak mempercayai calon-calon yang ada. Saya tidak sanggup pergi ke TPS dan mencontreng nama-nama mereka.

Transkrip terbaik mengenai sistem “demokrasi” yang sedang kita “nikmati” mungkin adalah Protocols of Zion. Wakil rakyat yang tidak kompeten, antara idiot dan moron, antara setan dan iblis, pilih salah satu.

Berbagai masalah sosial-ekonomi-politik-budaya-dll di dunia ini, sudah berada di titik di mana solusi apapun yang coba Anda tawarkan, tidak mungkin lagi diaplikasikan tanpa menciptakan pertengkaran besar. Ini adalah bagian dari Divide & Conguer.

Bela A salah, bela B juga salah.
Ke kiri salah, ke kanan juga salah.
Mengkritik pemerintah salah, tidak mengkritik juga salah.

Semua masalah dimulai dari uang kawan…

Debt based money system membutuhkan debt (hutang) sebagai sumber energi. Kalau Anda tidak bisa membayangkan efek kurangnya hutang terhadap sistem ini, bayangkan saja seseorang yang hanya bisa memakan sepotong roti kecil + segelas air putih setiap hari… Hari demi hari, dia akan semakin kurus… Sampai dia kekurangan gizi dan akhirnya mati.

Tunggu… Kan pemerintah berbagai negara sedang sibuk dengan paket stimulus mereka, situasi sebentar lagi pasti akan membaik, bukan begitu?

Stimulus dibiayai dengan berbagai cara (beda negara beda kondisi):

Yang memiliki tabungan akan menstimulir perekonomian dengan tabungan…

Yang tidak memiliki tabungan akan menstimulir dengan uang pinjaman (hutang)…

Yang tidak sanggup meminjam (surat hutang tidak laku) akan menstimulir dengan monetisasi hutang (uang baru, dibayar kembali secara perlahan-lahan dalam bentuk pajak di tahun-tahun mendatang)…

Mengapa begitu? Ini adalah upaya terakhir untuk memompa debt (hutang) dalam debt based money system. Efek runtuhnya hutang konsumen (kredit) dikurangi dengan meningkatkan hutang pemerintah. Replacing private debts with public debts…

Bagi Anda yang mulai memahami mekanika penciptaan uang, stimulus seperti ini adalah bukti paling kuat tidak ada penguasa negara manapun yang berani menantang debt based money system!

Isu paling penting mengenai sistem penciptaan uang dunia adalah bolehkan pemerintah mencetak uang sebagai debit, bukan sebagai hutang kepada siapapun?

Money as public creation (government)
Vs
Money as private creation (banks)

Propaganda paling sukses di dunia mengenai sistem penciptaan uang mungkin adalah bahwa penciptaan uang tidak boleh diserahkan kepada pemerintah! Untuk itulah sebenarnya saya mempromosikan buku The Lost Science of Money kepada Anda sebelumnya.

Dulunya, saya juga mempercayai konsep negara mencetak uang sesuka hati sampai saya sadar kalau negara memang bisa mencetak uang begitu gampang seperti yang sering dikatakan orang, mereka tidak perlu menerbitkan begitu banyak jenis surat hutang lagi.

Pemerintah tidak bisa dipercaya? Lantas bankir swasta bisa??? Kalau bisa, mengapa tidak ada satu generasi (± 25 tahun) pun yang berlalu tanpa krisis ekonomi?

Pemerintah berkolaborasi dengan bankir? Ya dan tidak, tergantung makna pemerintah bagi Anda. Kalau Anda berpikir pemerintah selama ini adalah sebuah institusi yang independen, bukan institusi turunan dari kekuatan finansial, maka iya, ada kolaborasi. Tapi kalau Anda bisa melihat bahwa pemerintahan berbagai negara hanyalah puppet dari kekuatan finansial, maka tidak, tidak ada kolaborasi. The Money Power has been in charge, they always are!

Kapitalisme dan Sosialisme adalah hal yang sama, kalau Anda bisa melihat siapa pengendali kekuasaan yang sebenarnya.

Sebagai gambaran untuk Anda, disederhanakan, suplai uang sekarang adalah begini…

Pemerintah X menerbitkan surat HUTANG sejumlah $1 juta. $1 juta ini kemudian dibelanjakan dalam proyek / pekerjaan pemerintah. Orang-orang yang mendapatkan $1 juta ini lalu membelanjakan uang-uang ini dalam masyarakat.

Masyarakat yang mendapatkan uang ini, menabungkan sebagian uang tersebut ke bank. Bank menjadikan uang ini + modal mereka sebagai basis untuk menciptakan kredit (hutang) baru kepada masyarakat yang lain (konsumen). Volume kredit yang tercipta adalah berkali-kali lipat dari uang yang ada (fractional reserved system).

Kredit memang bukan uang, tetapi kredit memiliki fungsi yang sama dengan uang.

Penyebab bank bisa mendapatkan masalah (walaupun mereka memiliki hak untuk menciptakan kredit) adalah karena tidak ada yang bisa memastikan apakah orang-orang yang mengajukan kredit kepada perbankan akan memenuhi janji untuk melunasi hutang mereka, dan tidak ada juga yang bisa memastikan jaminan (kolateral) yang diberikan sebagai dasar pinjaman tidak akan mengalami penurunan nilai.

Bila kerugian dari kredit yang mereka ciptakan lebih besar dari modal mereka, modal akan menjadi negatif (insolvent), bank pun bangkrut. Orang-orang yang mengira mereka memiliki uang di bank baru kemudian sadar bahwa uang di rekening mereka sudah menguap di tengah udara. Poops… Hilang.

"Kredit bisa dianggap = uang, selama krediturnya masih solvent"

Surat hutang pemerintah ada bunganya… Hutang konsumen juga ada bunganya…

Sumber pendapatan yang lain dari pemerintah??
• Pajak
• Pendapatan dari perusahaan negara

Yang membayar pajak adalah rakyat negara bersangkutan, yang memberi pendapatan kepada perusahaan negara juga adalah rakyat negara bersangkutan (kecuali kalau penjualan perusahaan negara itu 100% ekspor). Jadi ujung-ujungnya yang membiayai nyaris semua pembayaran hutang pokok dan bunga pinjaman adalah rakyat negara bersangkutan…

Skema ini tidak ada hubungannya dengan medium apa yang dijadikan uang… Emas, perak, perunggu, tembaga, kertas, elektronik… Semuanya berakhir dengan cara yang sama…

Pinjam X bayar X, plus bunga X…
Pinjam Y bayar Y, plus bunga Y…

Pinjam Z bayar Z, plus bunga Z…

Gold standard?? Kawan, kalau uang selama ratusan tahun ini masih adalah koin emas fisik, saya ragu Anda akan melihat pertambahan populasi seperti ini...

Semua ekspansi aktifitas perdagangan, industri, dan teknologi dibiayai oleh pertumbuhan masif suplai uang yang ada... Kalau emas fisik adalah uang, peradaban dunia pada 2009 ini tidak akan seperti yang sedang Anda lihat lagi... & Anda kemungkinan tidak akan duduk di depan komputer dan membaca blog seperti sekarang...


Colonial Scripts & Greenback

Berita buruk mengenai colonial script dan greenback mungkin tidak perlu Anda dengar dari saya, ada banyak artikel di internet yang menceritakannya. Dua-duanya gagal karena over supply (dicetak terlalu banyak).

Tapi 1 hal yang perlu Anda ketahui adalah, yang memalsukan uang kertas ini bukanlah pemerintah. Dua-duanya dipalsukan secara masif oleh kekuatan finansial di London untuk mengembalikan pengendalian Amerika ke tangan bankir internasional di Inggris.

“Dalam jangka panjang, siapa yang mengendalikan suplai uang sebuah negara, dialah yang mengendalikan negara tersebut”

Untuk mengendalikan suplai uang Amerika, bankir internasional (Rothschild cs) harus mengembalikan medium uang yang mereka kuasai (emas) sebagai uang di Amerika. Uang kertas harus diganti dengan uang emas!

… Hari ini, tentu saja, kebutuhan bagi mereka untuk kembali ke emas sebagai uang sudah tidak ada, karena yang memonopoli uang kertas (bank note) pun adalah mereka sendiri. Dua-duanya sudah dalam kontrol mereka. Manfaat terbesar kampanye emas di internet adalah untuk menjual emas di harga setinggi-tingginya kepada orang-orang yang sanggup membeli.

Siapa pemilik bisnis pertambangan utama emas dunia? Bank-bank mana yang membiayai (memberikan kredit kerja) kepada perusahaan-perusahaan pertambangan utama dunia? Coba research-lah sendiri…

Dan kalaupun secara ajaib dunia kembali lagi ke gold standard (fractional reserved gold standard!), kekuatan yang samalah yang masih akan menjadi bankir dan menciptakan kredit kepada manusia-manusia yang ada.

Sedikit lucu melihat kampanye anti produk Amerika, anti Israel, anti Zionis, dan produk-produk yang lain, begitu gampang bagi sebagian orang untuk menyampaikan ide memboikot KFC, McDonald, Coca-Cola, dll, saya penasaran kapan orang-orang yang sama akan berpikir untuk melancarkan kampanye memboikot emas?

Membeli emas adalah tindakan perlawanan terhadap bankir internasional?? Hehe…

Harga emas boleh naik boleh turun, dan itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa proses penciptaan uang masih harus datang dari aplikasi kredit kepada perbankan!

Harga emas meroket?? Ya, itu akan membuat orang-orang yang menyimpan emas untuk bertambah kaya, tetapi demikian juga dengan para Money Masters, mereka juga akan bertambah kaya! Jauh melebihi kita.

Gampang mencari berita bank sentral menjual cadangan emas mereka untuk "menekan" harga... Yang tidak gampang adalah mencari berita siapa yang sedang membeli! Who is the last buyer??

Mereka-mereka yang berdebat bahwa kembali ke emas akan menyelesaikan masalah, bahwa “fiat” money (kertas) adalah hasil kreasi iblis… tidak tahu siapa yang sedang menjadi BOS…

Apa sebenarnya colonial script & greenback?

Bayangkan $1 juta pada contoh di atas… $1 juta itu adalah uang, bukan kredit! $1 juta itu akan eksis secara permanen di masyarakat tanpa bunga, dan tidak perlu dikembalikan kepada siapapun.

Itu adalah uang, sebagai alat tukar (medium of exchange) di masyarakat. Berbeda dengan kredit / IOU (promise to pay money), colonial script & greenback adalah the money itself!

Adalah hak dan kewajiban dari pemerintah untuk mencetak uang dan mengedarkannya untuk digunakan oleh komunitas yang mereka wakili. Mereka tidak perlu untuk menjerumuskan diri mereka ke jurang hutang sejak awal.

Pemerintah tidak bisa dipercaya? Baik, kalau demikian buatlah sistem di mana departemen yang menciptakan suplai uang harus bisa dikontrol oleh publik dengan memaparkan data yang transparan.

Masih tidak bisa dipercaya? Lantas itu otomatis berarti perbankan swasta lebih bisa dipercaya? Perbankan swasta pasti lebih jujur dibanding pemerintah?? Come on...

Setiap kali ada krisis, perbankan swasta meminta tolong kepada pemerintah (rakyat). Di hari-hari baik, semua keuntungan adalah milik mereka, di hari-hari buruk, semua kerugian akan dibagi rata dengan rakyat negara bersangkutan... Sungguh model bisnis yang sempurna.

Kalau pemerintah bisa menolong mereka, mengapa tidak sejak awal mengambil alih mandat penciptaan uang dari mereka saja?

Mengapa?? Karena PUBLIK, cukup bodoh untuk menerimanya!

Ini ada 2 contoh link tentang skema penciptaan uang yang lain, yang satu dari Richard Cook, yang satu dari Ellen Brown, kalau ada waktu silahkan baca lebih lanjut di link mereka.


Note:
(Saya tidak mengatakan semua orang yang mempromosikan emas sebagai uang adalah antek Money Masters, saya hanya merasa sejumlah besar dari mereka adalah korban propaganda populer bahwa emas adalah uang "sejati." Dunia ini tidak ada uang sejati. ALL MONEY IS FIAT BY DECREE)

Kamis, 2009 April 02

6,7 Milyar Demand

Saya lupa judulnya apa, dari sebuah film yang menceritakan tentang kisah seorang God Father (Mafia), seorang God Father di masa tuanya melakukan percakapan yang kurang lebih seperti ini kepada seorang pembantunya:

GF : Dik, kamu tahu mengapa dunia ini begitu kacau?

PBT : Hm… Nggak tahu Tuan.

GF : Dunia ini begitu kacau… Saya rasa karena semua manusia harus makan…

Awalnya saya tidak menganggap serius kata-kata ini, tetapi dengan bertambahnya umur, semakin lama saya menjalani hidup, semakin saya merasa kalimat itu ternyata ada benarnya.

Keseluruhan unit kehidupan di alam semesta, atau setidaknya di bumi, membutuhkan sumber energi untuk bertahan hidup. Semuanya harus “memakan” sesuatu. Harus. Karena tanpa suplai energi baru, semua makluk akan musnah.

Ketika Anda pergi keluar dan menatap masyarakat di depan Anda, apa yang Anda lihat kawan?

Ketika Anda menyaksikan anak-anak sekolah merayakan hari kelulusan mereka dari sekolah, ataupun upacara wisuda para mahasiswa/i di Universitas, apa yang Anda lihat kawan?

Atau ketika Anda sedang duduk santai di tempat kerja Anda, sambil melihat orang-orang di lingkungan kerja Anda, entah di kantor, entah di toko, atau mungkin juga di pabrik, apa yang Anda lihat kawan?

Tentu, banyak yang bisa dilihat... Tetapi satu persamaan absolut dari mereka, sama seperti kita sendiri, adalah mereka semua butuh makan. Mereka semua memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

Berikut adalah grafik populasi dunia.

(Karena revolusi industri & teknologi, penemuan sumber energi baru seperti minyak, gas, dsb, dan juga karena ekspansi masif suplai uang, penduduk bumi dan peradaban dunia sanggup bertumbuh secara eksponensial sejak abad ke-19 sampai sekarang)

Kebutuhan (demand) adalah satu hal, kesediaan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan itu (supply) adalah hal yang lain. Bukan karena ada demand, lantas pasti akan ada supply. Dunia ini tidak seperti ini.

Coba lihat sekeliling Anda, perhatikan semua barang-barang yang ada… Lihatlah kawan, barang-barang itu ada di sana bukan karena sulap! Sebuah barang ada di tempat seperti yang sedang Anda lihat karena telah melewati rantai produksi dan distribusi yang sangat-sangat panjang… Sejak rantai produksi dan distribusi semua bahan bakunya, sampai ke rantai produksi dan distribusi produk jadinya.

Demand manusia akan selalu ada, irelevan dengan supply. Manusia hanya bisa terus berjuang dan memproduksi, semoga semua kebutuhan mereka bisa terpenuhi, dan berharap agar semua demand selalu bisa diimbangi oleh supply. Ada yang mengatakan demand pasti selalu sama dengan supply, tetapi itu hanyalah slogan, kedengarannya benar, sampai Anda mengecek ke lapangan... Ada masa-masa di mana demand lebih besar dari supply, dan ada masa-masa di mana demand lebih kecil dari supply.

Kita-kita yang masih asyik berinternet-ria, saya percaya sudah termasuk populasi yang cukup beruntung di antara 6,7 milyar penduduk bumi saat ini. Untuk setiap 1 orang yang bisa bermain internet, mungkin saja ada 1000 orang lainnya yang tidak sanggup menikmatinya, bahkan lebih. Bukan karena mereka tidak menginginkannya (demand), tetapi karena mereka tidak sanggup membayarnya, ataupun karena tidak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.

Keseluruhan demand yang ada, dipenuhi oleh semua supplier di planet ini dengan menggunakan berbagai sumber daya alam dan manusia, + sebuah medium pengantara untuk mempermudah transaksi, yang dinamakan dengan UANG.

Jadi jangan menganggap enteng masalah uang kawan… Medium ini sama pentingnya dengan semua elemen-elemen sumber daya lainnya… Agar semua demand, semua kebutuhan dan semua keinginan dari manusia bisa dipenuhi di planet ini.

Kalau Anda telah membaca debt based money system , krisis ekonomi part 1 , part 2 , dan tulisan-tulisan lainnya di sini, Anda seharusnya sudah melihat gambaran umum situasi kita sekarang.

Sama seperti manusia yang membutuhkan makanan sebagai sumber energi, demikian juga dengan system debt based money system. Sistem ini senantiasa membutuhkan debt (hutang) baru sebagai energi, yang bila tanpanya maka keseluruhan sistem ini akan ambruk.

Semua orang di dunia, harus saling bergantian untuk berpartisipasi dalam sistem hutang-berhutang ini. Tanpa hutang, sistem ini ibarat manusia lapar yang tanpa makanan. Tanpa suplai energi, sistem ini akan mati.

Grafik pertumbuhan eksponensial penduduk bumi seperti yang tadi Anda lihat, efek pertumbuhan industri dan teknologi seperti yang sedang kita nikmati, dibiayai sepenuhnya oleh ekspansi suplai uang dunia dalam bentuk kredit sejak ratusan tahun terakhir. Dan sekarang kita mulai melihat tanda-tanda bahwa kemampuan manusia untuk terus berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah berada di ambang limitnya.

Runtuhnya volume hutang adalah runtuhnya suplai energi di debt based money system. Semua barang yang kita nikmati dan pertumbuhan peradaban yang diberikan oleh hutang itu kepada kita akan dibawa pergi ketika hutang itu juga pergi… Ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang ada… Seberapa besar potensi kehilangan yang akan dirasakan ya tergantung seberapa besar skala runtuhnya volume hutang ini.

Mengekspansi suplai uang adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan…

Tetapi menciptakan uang dalam bentuk kredit (hutang) adalah sebuah pilihan…


6,7 milyar manusia yang butuh makan di dunia, 230 juta penduduk Indonesia yang perutnya lapar 3x sehari, adalah demand. Sedangkan kemampuan untuk men-supply volume kredit yang dibutuhkan agar semua kebutuhan yang diinginkan para demander ini bisa terpenuhi sudah di ambang batas.

Mengapa? Karena suplai uang (kredit) sedang berkurang. Mengapa berkurang? Karena kemampuan konsumen (terutama konsumen utama dunia: publik Amerika) untuk membayar dan mengajukan hutang baru sudah di ambang limit.

Grafik di atas dimulai dari tahun 1970, periode sebelum 1970 semua angka di atas adalah jauh lebih kecil.

Hei tunggu! Krisis apaan ini? Index Dow Jones kan sudah naik, IHSG juga sudah naik, mana ada krisis?!

Hehe… Teruslah berpikir demikian. Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk meyakinkan mayoritas publik bahwa tidak ada krisis atau krisis akan segera berlalu mungkin adalah kalau koran dan televisi mengatakan demikian.

Yes..! This crisis is over!

Kalau Anda perhatikan situasi akhir-akhir ini (di lapangan nyata, bukan di pasar spekulasi yang nyaris irelevan dengan kehidupan mayoritas orang), ada beberapa jenis manusia / perusahaan sekarang:
* Yang berubah dari untung banyak menjadi untung sedikit
* Yang berubah dari untung sedikit menjadi tidak untung / impas
* Yang berubah dari impas menjadi rugi
* Yang berubah dari rugi menjadi rugi besar dan kemudian bangkrut

+ Sekelompok kecil yang tetap bisa untung besar di era krisis.

Saya tahu dari mana?

Saya tahu dari berita tentang penurunan ekspor di hampir semua negara di planet ini…

Saya tahu dari penurunan omset di hampir semua pabrik dan retailer di kota saya yang saya kenal…

Saya tahu dari belasan ribu operator yang kontraknya tidak diperpanjang oleh pabrik-pabrik di kota saya…

Saya tahu dari logika umum bahwa setelah operator-operator itu kehilangan pekerjaan dan pendapatan mereka, semua rantai belanja berikut yang selama ini mendapatkan uang dari mereka akan kehilangan sejumlah omset pendapatan mereka…

Yang sedang membeli barang dari perusahaan manufaktur sekarang, dan yang sedang membeli stok di pasaran retail adalah mereka yang masih bisa untung ataupun mereka yang tidak untung tetapi masih memiliki TABUNGAN.

Volume stok yang mereka beli sekarang pun menurun cukup jauh dibanding periode sebelumnya. Kalau Anda memperhatikan berita, volume penurunan order secara rata-rata di seluruh dunia sudah mencapai antara 20 - 50%, dan tidak ada tanda-tanda kejatuhan akan segera berakhir, apalagi daya beli publik akan berbalik arah.

Kenyataan bahwa efek krisis belum benar-benar terasa bukan karena tidak ada krisis, tetapi karena cukup banyak orang yang masih memiliki tabungan. Efek krisis ini, baik ekonomi, sosial, maupun militer (moga-moga tidak mengarah ke sini) baru akan Anda lihat setelah manusia-manusia di berbagai tempat mulai habis mengkonsumsi tabungan mereka.

When Goods Don’t Cross The Border, Armies Do!

Saya sebenarnya tidak sedang memberikan prediksi kepada Anda apa yang akan terjadi besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Apa yang coba saya tulis di blog ini hanyalah rangkaian sebab-akibat sebuah kejadian yang menurut saya logis dan wajar.

Demand 6,7 milyar penduduk bumi ini masih ada, yang tidak ada adalah daya beli (purchasing power) dari orang-orang yang sama. Kita semua akan menjadi saksi gejolak uang ini, dan bila saatnya sudah tiba, sebagian dari kita akan menjadi pemangsa terhadap yang lain, dan sebagian lagi akan menjadi termangsa oleh yang lain.

Semua orang harus “makan” kawan… Kita semua harus memperebutkan suplai energi (uang) yang tersisa… Sorry

Debt based money system adalah pilihan kita…

“Apa Yang Kau Tanam, Itulah Yang Kau Tuai”


Atau Anda merasa tidak memilihnya? Anda tidak suka dengan sistem yang ada? Apa benar begitu…?

Tanpa aksi, pikiran Anda tidaklah penting... Silence is acceptance…!

Sedikit tambahan, mana sebab – mana akibat dari sebuah kejadian adalah relatif tergantung perspektif waktu.

Kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa asal – muasal krisis kali ini adalah karena sub-prime mortgage dan taruhan derivatif dengan nilai astronomis, itu mungkin memang benar, kalau dunia yang Anda lihat adalah periode 10 - 20 tahun terakhir.

Atau kalau Anda mendengar orang mengatakan bahwa krisis ini disebabkan oleh dolar-system paska perjanjian Bretton Woods tahun 1944, itu mungkin juga benar, kalau periode yang Anda analisa adalah 65 tahun terakhir.

Atau kalau Anda mendengar bahwa krisis ini diprakarsai oleh para bankir zionis super serakah yang ingin memonopoli semua usaha yang mengendalikan hajat hidup orang banyak , itu mungkin juga benar, kalau dunia yang kita lihat adalah periode 250 - 300 tahun terakhir.

Atau kalau Anda mendengar lagi bahwa krisis ini adalah karena sistem kredit (hutang) sebagai uang yang marak dilakukan para bankir swasta sejak abad ke-15 sebagai asal-muasal krisis, mungkin itu juga benar, kalau perspektif waktu diperpanjang lagi ke masa 600 ratus tahun terakhir.

Atau kalau yang Anda dengar adalah masalah riba, akibat sistem yang meminta lebih daripada yang dia berikan, itu mungkin juga benar, kalau perspektif waktu analisa diperpanjang lagi ke masa 2500 – 3000 tahun.

Anda semua tidak harus setuju ataupun memahami apa yang saya tulis sekarang… Di masa-masa mendatang, akan tiba banyak kesempatan dan kejadian yang akan membantu Anda memahami pelajaran dari kalimat ini…

“Semua makluk (& sistem) butuh makan (sumber energi)…, & Kemampuan alami manusia untuk berhutang dan memenuhi janji untuk membayarnya sudah melewati ambang batas. 6,7 milyar demander malang di planet ini tidak sanggup lagi memberi makan sistem debt based money system ini. "

Dan bagi Anda yang berpikir pemerintahan ini akan menyelamatkan kita, teruskanlah mimpi indah Anda… Pemerintah, sebagai sebuah institusi, juga tidak terlepas dari kenyataan hidup yang sama (butuh “makan”), coba lihat link ini…

Ignorant is a blessing… Until it isn’t...

Selasa, 2009 Maret 24

The Lost Science of Money

Sudah lebih dari 4 bulan sejak saya pertama kali membuat blog ini. Hasilnya… saya tidak tahu pasti, tetapi saya menduga ada sekitar 1200 - 1500 orang di Indonesia yang pernah mengklik blog ini.

Dari 1200 - 1500 orang ini, saya menduga ada sekitar 150 – 200 orang yang berhasil saya ajak untuk meneliti lebih lanjut topik ini, sisanya adalah orang-orang yang secara kebetulan datang ke sini, dan juga orang-orang yang hanya datang sekali dan kemudian tidak berminat untuk mencari tahu lebih lanjut.

Ditambah dengan penjualan buku yang saya terbitkan tahun 2007 lalu (Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia), saya menduga hanya ada sekitar 1500 - 2000 orang yang berhasil saya jangkau.

Indonesia memiliki sekitar 230 juta penduduk, 2000 orang adalah 0,00087% darinya. Saya tidak tahu pasti ada berapa website yang membahas topik ini di Indonesia, terutama yang lebih khusus mengenai topik uang, tetapi saya menduga persentase penduduk negara ini yang pernah mendapatkan informasi sejenis masih sangat-sangat minim jumlahnya.

Saya cukup kagum dengan bisnis MLM, karena hampir semua MLM di Indonesia tampaknya bisa dengan “mudah” mencapai angka puluhan ribu member. Dan bila digabungkan semua MLM-MLM beken seperti Amway, CNI, atau Tianshi, dsb, anggota MLM di Indonesia bisa saja mencapai berjuta-juta orang. Artinya, beberapa persen dari penduduk Indonesia adalah member MLM, baik partisipan aktif maupun pasif.

Saya kadang-kadang penasaran, seandainya semangat multi-level ini bisa dipraktekkan untuk menyebarkan pesan-pesan seperti yang ada di website / blog semacam ini, mungkin kita-kita juga bisa menggerakkan massa untuk menuntut perubahan sistem moneter yang lebih adil, baik di Indonesia, maupun di dunia.

Kalau di MLM yang mayoritas partisipannya rugi saja anggotanya di Indonesia bisa menembus jutaan orang, bersediakah partisipan-partisipan yang sama ini menggunakan sebagian kecil waktu mereka untuk ikut menyebarkan informasi-informasi seperti yang ada di sini? Potensi kerugian bagi mereka adalah nol. Tidak perlu membeli produk, tidak perlu membeli tiket seminar, dan tidak perlu mentraktir siapa-siapa untuk duduk-duduk di kedai kopi sambil membagi peluang “bisnis.”

Saya tidak tahu Anda berpikir bagaimana, tetapi menurut saya, tanpa massa, semua percobaan kita akan berakhir sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Untuk itu, saya harapkan Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam percobaan ini.

Saya tidak meminta Anda untuk mempromosikan blog ini secara khusus, silahkan Anda mempromosikan website-website lain yang menurut Anda lebih baik, yang saya minta adalah Anda, dalam waktu senggang Anda, untuk mulai bercerita kepada teman-teman Anda mengenai topik ini (debt based money system & riba perbankan). Hanya perlu modal mulut, tak perlu mengeluarkan uang…

Maukah Anda melakukannya, Kawan?

Kalau Anda penasaran mengapa saya melakukan ini, saya akan menceritakannya kepada Anda…

Saya menulis topik ini karena saya tidak suka dikelilingi oleh orang miskin.
Orang miskin memang tidaklah menakutkan, tetapi yang menakutkan adalah efek kemiskinan kepada mereka!


Saya dibesarkan di lingkungan kelas menengah seperti umumnya, walaupun saya kenal beberapa orang yang sangat kaya, tetapi saya mengenal jauh lebih banyak orang-orang yang tidak.

Sejauh yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, permasalahan uang (terutama masalah kekurangan uang) bertanggungjawab secara langsung kepada berbagai masalah keluarga dan sosial. Rusaknya hubungan rumah tangga, korupsi, penipuan, perjudian, alkoholisme, prostitusi, ketergantungan kepada obat bius, tindakan vandalisme, dan naiknya kriminalitas, dsb.

Debt based money system dan sistem moneter ribawi yang digunakan di seluruh planet ini, telah, sedang, dan akan semakin mempermiskin mayoritas penduduk di setiap negara, dan Indonesia 100% tidak terkecuali dari fenomena yang sama.

Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil tanpa berinteraksi dengan orang-orang yang lain, bila tidak, kemiskinan publik cepat atau lambat akan berdampak secara lansung kepadamu ataupun keluargamu (efek fisik maupun mental). Tak seorangpun bisa tak terpengaruh oleh efek kemiskinan di masyarakatnya. Manusia yang hidupnya sedang terdesak oleh kemiskinan bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.

Dan percayalah kepada saya, Anda tidak ingin melihat ketika mereka melakukan itu!

Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, sebelum saya lulus dari perguruan tinggi, dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di dekat Boyolali, saya tinggal di rumah seorang petani… Di keluarga mereka, indomie sudah termasuk lauk elit! Mayoritas hidangan makan mereka hanyalah sepiring nasi putih ditambah sedikit sayuran.

Ada berapa banyak sebenarnya keluarga-keluarga seperti ini di Indonesia? Yang bahkan tidak bisa makan dengan layak 3 kali sehari?

Hari ini, di tempat saya bekerja (pabrik), saya juga melihat secara langsung operator-operator yang bekerja dengan upah budak UMK. Meraka juga punya keluarga... Bagaimana caranya gaji 1 juta harus dipakai untuk menghidupi keluarga mereka? Apa sebenarnya yang mereka makan setiap hari? Tempat tinggal semacam apa yang mereka huni? Sekolah apa yang bisa dimasuki oleh anak-anak mereka?

Sekadar membayangkannya saja sudah membuat saya merasa mual.

Kawan, apa sebenarnya yang bisa membuat Anda merasa marah? Kata-kata apa yang bisa membuat emosi Anda naik tinggi? Kalau Anda sekarang mulai tahu kemiskinan dalam porsi yang cukup besar disebabkan oleh sebuah penyebab yang sebenarnya bisa dihindari oleh manusia, mengapa Anda bisa diam saja?

…. Ok, saya lebih baik tidak mengomel lebih lanjut... Anda tidak ke sini untuk mendengar omelan saya bukan?

Hari ini, saya akan mempromosikan sebuah buku kepada Anda… Judulnya : The Lost Science of Money, karangan Stephen Zarlenga.

Seminggu yang lalu seorang teman saya memberikannya kepadaku. Saya belum selesai membacanya, tetapi so far saya sangat terkesan dengan isi buku ini. Ini adalah sebuah buku mengenai perjalanan uang, buku terbaik mengenai sejarah uang yang pernah saya baca.


Bankir sudah pasti tidak akan menyukai buku ini, dan saya khawatir para suporter emas dari Sekolah Austria pun mungkin tidak akan menyukainya.

Inti dari buku ini,

Semua uang pada dasarnya adalah Fiat. Medium X adalah uang karena penguasa atas komunitas tersebut memutuskan demikian.

"Money Exists Not By Nature But By Law"

Pertengkaran mengenai medium uang, emas vs kertas, ataupun lainnya, adalah propaganda dari penguasa yang sama yang telah mengendalikan kedua-duanya. Isu yang sebenarnya adalah siapa yang menciptakan uang:

Pemerintah (mewakili publik) vs Bankir

Sinopsis buku ini bisa Anda lihat di websitenya: www.monetary.org

Rabu, 2009 Maret 18

Change We Can Believe In

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Obama yang tidak akan dilakukan Bush?

Transformation of Changes... Hehe

Senin, 2009 Maret 16

Quantitative Easing

Tampaknya Inggris masih lebih celaka dari Amerika. Tidak menunggu Bernanke untuk memenuhi janji Helicopter Speech-nya, Inggris memimpin terlebih dahulu proses mencetak uang di antara negara-negara lokasi gempa finansial kali ini.
Link 1
Link 2

Kosakata yang dipakai kali ini, bukan printing money, bukan juga monetisasi, tapi quantitative easing… Gonta-ganti kosakata, mungkin untuk membantu penjualan buku-buku ekonomi baru. Hehe…

Berbagai negara sebenarnya menciptakan uang dengan cara yang kurang lebih sama. Apa yang dilakukan Bank of England sejak beberapa abad yang lalu juga diaplikasikan di Amerika oleh Federal Reserve, dan apa yang dilakukan di Amerika, juga diaplikasikan oleh negara lainnya di seluruh dunia. Mungkin memang ada sedikit perbedaan kecil di berbagai negara, tetapi tetap prosesnya secara umum masih sama.

Dalam sistem yang sedang digunakan, pendapatan utama sebuah negara datang dari:
1. Pajak
2. Meminjam kepada publik / negara lain (penerbitan surat hutang)
3. Pendapatan dari perusahaan negara

Bila pemasukan dari ketiga cara ini masih juga kurang untuk memenuhi anggaran belanja pemerintah, dan pemerintah tetap ngotot membelanjakan uang yang tidak mereka miliki, pemerintah bisa memerintahkan bank sentral untuk mencetak uang untuk digunakan oleh mereka.

Mekanismenya adalah pemerintah menerbitkan surat hutang baru lagi, dan yang membeli adalah bank sentralnya. Yang satu adalah debitur, yang satunya lagi adalah kreditur. Darimana bank sentral mendapatkan uang untuk membeli surat hutang pemerintah ini? Jawabannya, di zaman ini, mereka menciptakan uang itu begitu saja. Itu adalah mandat mereka berdasarkan peraturan yang ada.

Uang yang dipinjam pemerintah dari bank sentral, secara umum bisa dikatakan tidak perlu dikembalikan lagi, hanya bunganya saja yang dibayarkan dari tahun ke tahun. Tidak seperti pinjaman publik kepada bank komersial, hutang pemerintah kepada bank sentral yang jatuh tempo selalu bisa di-rolling over lagi. Pemerintah pasti bisa menggali lubang baru untuk menutup lubang lama, sebab bank sentral sendiri adalah milik negara.

Dalam kasus bank sentral yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh negara sekalipun, hal ini tetap berlaku. Federal Reserve, walaupun adalah badan swasta, tetap akan me-rollover hutang pemerintah Amerika saat hutang mereka jatuh tempo.

Jadi, selama sebuah negara tidak menerbitkan surat hutang dalam mata uang negara lain, sebenarnya resiko gagal bayarnya adalah nol. Pemerintah pasti sanggup membayar, yang tidak pasti adalah daya beli (purchasing power) dari uang yang nantinya akan dibayarkan. Hehe…

Satu setengah tahun ini, berbagai bank sentral negara maju sudah menghabiskan uang mereka untuk membantu sementara bank-bank dan perusahaan finansial raksasa yang sebenarnya bangkrut. Dan sekarang, saatnya sudah hampir tiba bagi mereka untuk kehabisan uang mereka.

Pemerintahan di sana juga sudah berupaya meminjam sebanyak-banyaknya dari publik, sebagian uang yang sebenarnya bisa dipakai oleh publik berpindah tangan ke tangan pemerintah, yang kemudian memberikannya kepada bank-bank dan perusahaan finansial mereka supaya mereka bisa tetap beroperasi. Lesunya ekonomi riil sekarang sebenarnya adalah tanggungjawab pemerintah di sana juga, tetapi karena yang ditulis di koran hanyalah sisi “penyelamatan” oleh pemerintah, maka sisi destruksi dari tindakan yang sama ini tidak disadari oleh publik mereka secara umum.

Mungkin menarik juga membaca berita ini… , AIG, si pesakitan, tampaknya kembali akan membagikan bonus aduhai kepada managemen mereka, jumlahnya tak tangung-tanggung, $165 juta (hampir Rp 2 trilyun). Fantastis…

Benar-benar memuakkan melihat koran dan TV ketika mereka melaporkan upaya pemerintah dan bank sentral untuk “menyuntik” trilyunan dolar, euro, atau yen sebagai sebuah tindakan yang heroik. The Fed, Bank of England, European Central Bank, Bank of Japan, dll, mereka pada dasarnya adalah bagian dari sebuah jaringan yang eksis untuk mengambil keuntungan dari semua rakyat mereka, bukan sebaliknya.

Untuk setiap sen yang diklaim pemerintah untuk “menyelamatkan” ekonomi, ada satu sen juga yang hilang dari tangan publik sehingga mereka tidak sanggup “menyelamatkan” diri mereka sendiri. Semakin besar “penyelamatan” pemerintah, semakin berkurang kemampuan sebuah masyarakat untuk menyelesaikan masalah oleh diri mereka sendiri.

Coba lihat link ini juga, Bernanke mengatakan kepada seluruh dunia bahwa resiko terbesar bagi pemulihan ekonomi Amerika sekarang adalah “kurangnya tekad” pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan finansial. Harusnya dia mengatakan dalam bahasa yang lebih singkat… Pemerintah Amerika (sebenarnya pembayar pajak Amerika) wajib membail-out semua perusahaan finansial yang ada, dengan demikian ekonomi akan pulih dengan cepat!

Saat ini, kontraksi kredit (deflasi) mulai menyebabkan macetnya aktifitas ekonomi. Solusi dari deflasi tentu saja adalah inflasi. Pertanyaannya adalah bagaimana menginflasikan sistem yang ada… Mencetak uang sebenarnya bukanlah dosa besar, masalahnya adalah status uang itu.

Kalau mereka tahu masalah sekarang adalah kebanyakan hutang (baik hutang pemerintah maupun hutang publik), mengapa mereka menawarkan solusi dengan berhutang lebih banyak? Apa sebenarnya motif mereka? Apakah mereka ingin menghiperinflasikan seluruh planet ini pada saat yang bersamaan? (Krisis ekonomi, part 1)

Skenario di mana hiperinflasi tidak akan terjadi kemungkinan hanya bisa terjadi kalau uang-uang baru yang dicetak pemerintahan berbagai negara tidak akan diputar kembali menjadi puluhan kali lipat kredit konsumen dalam fractional reserve system. Entah karena bank-bank penerima uang itu tidak mau meminjamkan kepada publik, ataupun karena publik yang tidak mau / tidak sanggup meminjam dan memenuhi janji untuk membayar.

Tetapi, kalau saya harus bertaruh, saya tetap akan bertaruh kepada hiperinflasi dalam beberapa tahun ke depan. Masa lalu uang penuh dengan cerita-cerita seperti ini…

Namun, seperti yang sudah Anda ketahui, permasalahan sistem sekarang ada pada daya beli konsumen… Menambah nol pada angka-angka di selembar kertas tidak akan menyelesaikan masalah, hanya memperumit masalah…

Dan dalam kasus percobaan menginflasikan sistem ini gagal… Siapkanlah mental Anda untuk menghadapi guncangan besar dunia dalam waktu beberapa tahun. Ketika mencetak uang tidak berhasil, cara lain untuk menginflasikan sistem adalah penghangusan inventori, baik inventori barang maupun manusia…

Hutang tidak akan dimaafkan, negara-negara maupun orang-orang yang gagal bayar, tidak akan dibiarkan begitu saja dalam sistem yang ada. Proses likuidasi manusia yang tidak lagi menguntungkan bisa saja berlangsung secara brutal…

Somehow, "The Elite" akan menemukan sebuah alasan / pemicu, untuk melikuidasi semua orang yang tidak lagi produktif atau sanggup membayar. Anda pernah dengar bencana Global Warming… Peak Oil… Bird Flu... Apocalypse 2012… World War 3… dsb? Saya curiga semuanya itu tidak ditiup tanpa alasan… Panggung menuju guncangan besar mungkin sedang dipersiapkan.

Moga-moga saya salah...

Kamis, 2009 Maret 12

Report From Iron Mountain

Hari ini, kita cerita sedikit tentang sebuah laporan yang disebut dengan “Report From Iron Mountain” (1967).

Sama seperti Protocols of Zions, saya rasa tidak perlu diperdebatkan apakah laporan ini benar-benar riil atau hanya sebuah teori konspirasi yang lain. Yang harus dipikirkan adalah apakah trend dan fakta yang terjadi memang sesuai dengan isi laporan ini.

Inti laporan ini adalah bahwa ada berbagai hal yang bisa dilakukan untuk mencapai masyarakat yang stabil. Namun, menurut tim penulis laporan ini, masyarakat yang stabil pada dasarnya baru tercipta saat pemerintahannya stabil. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya memastikan agar pemerintahan bisa stabil?

Satu hal yang pasti, pemeritahan tidak bisa eksis terlalu lama kalau tidak ada "masalah". Pemerintah tidak bisa bertahan kalau tidak ada “musuh” yang perlu disingkirkan demi kebaikan publik. Jadi ironinya bagi rakyat, cara untuk menyelamatkan eksistensi pemerintah adalah negara harus menemukan musuh / masalah terlebih dahulu. Jadi kalau tidak ada “musuh,” ciptakanlah!

Cara yang sudah terbukti adalah PERANG / Ancaman akan perang. Dalam dunia yang damai, publik tidak akan menerima untuk membayar lebih banyak pajak… kekurangan suplai kebutuhan pokok… ataupun pasrah akan berbagai intervensi pemerintah…

Tetapi tidak demikian di zaman perang, publik bukan hanya bersedia menerima semuanya yang ada di atas, tetapi mereka juga akan menuntut demikian, menuntut intervensi pemerintah untuk menyelamatkan mereka. Sikap melawan pemerintah di zaman perang justru dengan mudah akan dicap sebagai tindakan pengkhianatan oleh publik sendiri.

Di luar perang, apalagi yang kira-kira mempertahankan kekuasaan negara? 15 orang yang menulis laporan ini pun menyimpulkan 3 ciri-ciri sebuah kejadian yang bisa menggantikan perang untuk mengontrol publik…

1. Secara ekonomis, sama seperti yang terjadi saat perang, kejadian itu harus bisa menghanguskan kekayaan publik.
2. Ancaman besar yang bisa dipercaya publik. Dipercaya adalah kata kunci, masalah apakah kejadian itu adalah hal yang benar-benar terjadi atau tidak, tidak penting.
3. Masuk akal untuk menjadikan kejadian itu agar publik menyerahkan kebebasan mereka kepada pemerintah.

Ada berbagai skenario yang mereka pikirkan, dua di antaranya dalam laporan ini adalah:
• Serangan alien ke bumi
• Isu kerusakan lingkungan dalam skala raksasa.

Serangan alien ke bumi, tentu saja, lebih gampang dipercayai hari ini daripada 40 tahun yang lalu. Secara perlahan-lahan, publik di seluruh dunia memang dikondisikan untuk lebih mempercayai keberadaan alien hari ini dibanding masa lalu.

Mengenai isu kerusakan lingkungan, ya harus dibuat sampai publik bisa mempercayainya. Kalau lingkungan tidak cukup rusak, maka rusakkanlah, sampai benar-benar rusak.

Isu global warming, lapisan ozon yang terus menipis, penggundulan hutan, atau over populasi dunia, mungkin tidak separah seperti yang kita sangka. Berbagai statistik dan “data / fakta” bisa digunakan oleh siapapun demi kepentingan dan tujuan masing-masing...

Ok, minggu ini kita cerita sampai di sini dulu. Kalau Anda berminat, coba search lebih jauh mengenai laporan ini di internet. Sebagai catatan, 15 orang yang menulis laporan ini dipercayai semuanya adalah anggota CFR (Council of Foreign Relations), salah satu organisasi turunan yang lain dari para elit Money Masters Internasional…

Kamis, 2009 Maret 05

Hemat... Hemat...

Solusi mengurangi overhead...





Hehehe...

Selasa, 2009 Maret 03

Serba - Serbi

Blog ini bagi saya ibarat sebuah buku… Buku online, bisa dibaca / didownload semua orang secara gratis. Sejauh yang bisa saya bayangkan, seharusnya Anda tidak akan mengalami kerugian dengan menghabiskan beberapa jam untuk membaca berbagai artikel yang ada di blog ini.

Dan kalau ada sesuatu yang menurut Anda baik di sini, saya harap Anda juga akan mengajak teman-teman Anda untuk berkunjung sebentar ke sini. Saya benar-benar berharap topik debt-based-money-system bisa mulai diketahui lebih banyak orang.

Satu-satunya unsur bisnis mungkin hanyalah beberapa buku yang pernah saya cetak yang masih saya jual di blog ini. Anyway, ini juga bukan sebuah hal yang salah, bukan begitu?

Mungkin tulisan di sini bukan artikel dengan mutu yang sangat tinggi, tidak ditulis oleh para profesor atau para phd., tetapi saya percaya masih cukup bagus sebagai permulaan bagi Anda yang mulai tertarik dengan dunia apa yang sedang kita tinggali, dan sistem keuangan macam apa yang sedang kita gunakan.

Hari ini, kita cerita serba-serbi saja, tidak ada topik khusus yang bisa saya ceritakan…

Semalam index Dow Jones mulai menembus ke bawah level 7000, tabungan dan uang pensiun orang-orang yang menabung secara langsung maupun tidak langsung di bursa saham lagi-lagi menguap. Level 6700 belumlah apa-apa, you have seen nothing yet!

Kalau Anda ingin lihat betapa tidak wajarnya periode 20 tahun terakhir, mungkin grafik ini bisa membantu sedikit…



Di mata saya, alasan satu-satunya yang masuk akal saat membeli saham adalah earning power dari perusahaan yang saya beli. Dia harus sanggup menciptakan profit dan memiliki prospek usaha yang jelas. Suasana seperti sekarang, kebanyakan perusahaan, baik listing maupun tidak, akan mengalami penurunan laba. Anda pernah mendengar kosakata Peak Earning? Bahwa laba korporat secara umum sudah mencapai titik puncak 2 tahun lalu, dan akan mulai menurun, dan terus menurun, di tahun-tahun mendatang?

Turunnya laba, yang cepat atau lambat akan diikuti dengan turunnya optimisme, pasti akan menjatuhkan level saham ke titik yang sangat rendah (serba-serbi pasar modal).

Tentu saja, tidak semua perusahaan merasakan efek yang sama. Mcdonald & Wal-Mart mengalami kenaikan laba di Amerika, sebab pengunjung toko-toko mahal / mewah mulai berpindah ke toko-toko murah. Di saat toko-toko yang lain ramai-ramai mengurangi outlet atau bahkan bangkrut, 2 perusahaan itu justru masih sanggup terus bertumbuh.

Ini hanyalah sebuah contoh, krisis tidak berdampak dengan cara yang sama kepada semua orang. Kalau sebuah kue dulunya dibagi oleh 10 orang, maka lewat krisis ini, walaupun jumlah kue berkurang, misalnya hanya tersisa 0,7 kue, tetapi mungkin hanya akan dibagi oleh 5 atau 6 orang, sebab yang lain akan jatuh bangkrut dan tidak lagi ikut bersaing memperebutkan kue tersebut. Bagi mereka-mereka yang survive, justru ada kemungkinan mereka akan bertambah kaya. Hehe…

Bagaimana dengan nasib mereka-mereka yang bangkrut? Saya tidak tahu... Semoga mereka bisa tetap hidup dengan baik setelahnya.

Korporat mana yang akan bangkrut duluan? Menurut saya mereka-mereka dengan level hutang paling tinggilah yang akan bangkrut duluan. Ingat, cicilan hutang (bunga + pokok) dan sebagian besar biaya-biaya overhead tidak bisa dikurangi walaupun omset usaha menurun drastis. Siapa yang beban hutangnya lebih tinggi, dialah yang lebih menderita pada siklus ini. Yang bisa mereka lakukan sekarang, selain berupaya mempertahankan pelanggan dan mencari pasar baru, ya cuma tinggal berdoa… berharap saingan mereka tumbang duluan. Hehe…

Saya mengucapkan kata-kata ini berdasarkan pengalaman nyata... Inilah yang sedang terjadi di tempat saya bekerja. Pabrik saya berhutang ¼ trilyun kepada 2 bank di Indonesia, dengan kerugian sekitar Rp 2 – 2,5 milyar setiap bulan, benar-benar tidak tahu sampai kapan bos saya bisa bertahan.

Pada dasarnya, perbedaan antara perusahaan insolvent dengan perusahaan bangkrut hanyalah terletak pada selembar kertas. Hanya butuh selembar surat litigasi dari kreditur yang tidak mendapatkan bayaran untuk membangkrutkan sebuah perusahaan yang insolvent.

Detik demi detik terus berlalu, bom waktu ini bisa meledak setiap saat…

Next, saya lihat di berita, AIG kembali mencatat kerugian…. Sialan, saya ikut membeli asuransi jiwa di perusahan ini 7 tahun yang lalu. Kerugian yang mereka derita di Amerika pada Q4 katanya adalah $ 61,7 milyar.

Kalau dibagi menjadi 90 hari (1 Quarter = 3 bulan), dan dibagi lagi ke 24 jam, berarti mereka rugi $ 28,56 juta per jam.

Kalau dikurskan ke rupiah (Rp 12.000), berarti mereka rugi Rp 342,8 milyar per jam. Gila… Bagaimana sebenarnya sebuah perusahaan bisa merugi Rp 342,8 milyar per jam? Apa sebenarnya isi neraca (balanced sheet) mereka? Transaksi macam apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan? (Capital Accord 2).

Untuk skala kerugian seperti ini, hanya butuh 45 menit bagi mereka untuk membantu pabrik saya melunasi semua hutang kami… Shit!

Sebenarnya sampai kapan pemerintah Amerika sanggup terus mencoba membailout mereka? Ingat, tidak ada uang yang gratis. Uang hanya muncul dalam bentuk kredit, semuanya harus dibayar kembali + bunga. Apakah pemerintah Amerika benar-benar sanggup meminjam uang tanpa limit kepada seluruh dunia selamanya?

Saya bukan ekonom professional, tetapi benar-benar tidak perlu menjadi profesional untuk mengkomentari masalah ini. US government is insane!

Mungkin ada baiknya kita bahas lagi dasar-dasar keuangan…

Suplai uang datang terutama lewat rakyat negara bersangkutan. Uang tercipta di saat kreasi kredit antara konsumen dengan bank komersial. Untuk uang ini, konsumen / rakyat harus membayar bunga tertentu dengan masa jatuh tempo tertentu.

Sedangkan negara, biaya untuk menghidupi mereka secara umum datang lewat 3 cara:
- Pajak
- Penerbitan surat hutang (meminjam uang kepada publik ataupun negara lain)
- Pendapatan dari perusahaan milik negara

Untuk pajak, tentu saja, ditarik langsung kepada rakyatnya… Untuk surat hutang, baik hutang pokok maupun bunga nantinya juga harus dibayar oleh rakyatnya lewat pajak di tahun-tahun mendatang, ataupun lewat 2 cara lain di atas. Kalau lewat penerbitan surat hutang, ya berarti gali lubang tutup lubang saja.

Nyaris seumur hidup saya, saya mengira negara bisa mencetak uang sebagai debit (bukan hutang & tanpa bunga), dan saya salah! Negara tidak bisa melakukannya sesuka hati. There is no free lunch. Cara sebuah pemerintah mendapatkan uang secara umum adalah lewat 3 cara di atas.

Sekarang coba Anda lihat sisi lain sistem ini, kita ambil contoh kasus Amerika saja, mereka adalah mesin / generator uang teraktif di dunia, apa sebenarnya yang terjadi di sana? Mengapa begitu banyak bailout, dan mengapa mereka begitu suka berperang atau mengancam untuk berperang?

Uang untuk bailout ini adalah beban negara. Kalau negara tidak punya uang? No problem… Jual saja surat hutang baru, pinjam dari orang-orang & negara-negara yang punya uang. Bank-bank dan perusahaan financial raksasa yang mendapatkan uang bailout ini, kemudian bisa melanjutkan usaha mereka, ataupun melanjutkan pembayaran gaji dan bonus aduhai lagi kepada eksekutif mereka. Surat hutang, tentu saja, adalah uang yang harus dibayar kembali di masa mendatang, plus bunga…

Dalam skenario terburuk, kalau surat hutang negara tidak laku, dan pemerintah tetap ngotot membailout juga, ya cetak uang saja. Tapi itu juga bukan uang gratis, tetap uang dalam bentuk kredit, ada bunganya. Inilah yang kita alami tahun 1998… Anda ingat obligasi rekapitulasi dan hiperinflasi kita 11 tahun lalu?

Anggaran untuk berperang bagi pemerintah sana datang juga lewat 3 cara di atas. Publik Amerika, bukan saja harus membayar bunga uang konsumsi mereka, mereka juga harus membayar bunga atas berbagai aktifitas pemerintah mereka. Ratusan milyar dolar, bahkan trilyunan dolar yang telah digunakan sebagai modal perang, setiap tahun juga ada bunganya! Bunga yang harus dibayar pemerintah Amerika di pasar surat hutang setidaknya ratusan milyar dolar / tahun. Siapa yang membayar tagihan ini? Rakyat Amerika…

Pertanyaannya, siapa sebenarnya pemilik utama bank-bank pencipta kredit di negara itu? Siapa sebenarnya yang sedang membeli dalam jumlah masif surat hutang negara? Dan juga siapa pemilik perusahaan-perusahaan pemasok senjata, obat-obatan, dan perusahaan konstruksi yang mendapatkan kontrak-kontrak proyek rehabilitasi lokasi perang, dan perusahaan-perusahaan yang mendapatkan kontrak pertambangan dan sumber energi di lokasi perang. Siapakah mereka sebenarnya? Berapakah sebenarnya margin profit usaha mereka? Apakah mereka mendapatkan proyek-proyek itu dengan tender yang adil atau lewat tunjuk saja?

Kemanapun kita pergi, selalu ada fenomena pemerintah mencoba berhutang sebanyak-banyaknya. Sadarkan Anda apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa sebenarnya orang-orang di balik pemerintahan berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia?

Saya pernah mendengar sebuah pernyataan dari seorang pejabat tinggi ekonomi di negara ini, kurang lebih yang dia katakan adalah seperti ini…

Defisit anggaran pemerintah sebesar 1,5 – 2 % dari GDP sebenarnya adalah angka yang kecil / tidak signifikan, negara-negara lain juga begitu kok, jadi jangan dibesar-besarkan seolah-olah ini masalah yang besar…

Apa sebenarnya maksudnya? Kalau 1,5 – 2 % adalah angka yang kecil / tidak signifikan, mengapa dia tidak sedikit lebih ambisius dengan mencanangkan SURPLUS 1,5 – 2 %? Mengapa setiap tahun harus DEFISIT?

Jawabannya adalah interest… bunga… Dengan anggaran yang terus defisit maka negara bisa berhutang lebih banyak lagi… Anda bayangkan, kalau semua negara tidak berhutang, berapa kerugian yang akan diderita bankir internasional seperti Mr. Rothschild dan kawan-kawannya? Dan jangan lupa efek lanjutan hutang, negara-negara yang kelebihan beban hutang cepat atau lambat akan menyerahkan sumber daya alam mereka kepada kreditur mereka. Ini hanyalah masalah waktu…

***

Kalau Anda tidak ingin hidup lebih lama lagi dalam sistem ini, saya berharap Anda juga mulai bercerita… Kalau tidak… ya tidak apa-apa… Mungkin ketika tiba giliran Anda yang menjadi korban krisis, Anda baru akan mulai bereaksi.

Sebelum hari itu tiba, take care my friends…

Kamis, 2009 Februari 26

Debt Based Money System

Ketika penjarahan menjadi gaya hidup bagi sebuah kelompok yang hidup di tengah-tengah sebuah masyarakat, dengan berlangsungnya waktu, mereka akan menciptakan bagi mereka sendiri sebuah sistem legal untuk mengesahkan tindakan tersebut dan sebuah kode moral untuk mengagungkannya.”
- Frederic Bastiat -

Kita sambung lagi ceritanya… Hari ini kita cerita tentang debt-based-money-system (sistem hutang sebagai uang). Ini sistem yang sama yang digunakan di negara manapun di dunia, termasuk Indonesia.

Sebelumnya, silahkan baca dulu 2 dongeng tersebut:
* Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%
* Mitos Uang

Uang (money), seperti yang kita ketahui, adalah simbol dari kekayaan (wealth). Dengan uang, kita bisa membeli berbagai barang yang tersedia di dunia. Bagi kebanyakan orang, uang itu sendiri adalah kekayaan. Money = Wealth.

Namun kenyataannya sedikit berbeda kawan. Kekayaan, baik berupa barang yang diproduksi, maupun modal tak tampak seperti pengetahuan dan keahlian manusia tidak sama persis dengan uang. Kekayaan bisa saja berada di sebuah komunitas untuk waktu yang sangat lama, sedangkan uang belum tentu.

Setiap unit uang memiliki umur tertentu. Yang saya maksud dengan umur bukan ketahanan fisik dari uang itu, tidak peduli uang itu berupa selembar kertas, sebatang kayu, sekeping koin logam, atau hanya angka elektronik di komputer. Yang saya maksud dengan umur adalah batasan waktu bagi uang tersebut untuk beredar di sebuah komunitas.

Kebanyakan orang tidak diberitahu bahwa uang tercipta saat bank menciptakan kredit. Masyarakat percaya bahwa negara mencetak uang, tetapi tidak membayangkan bagaimana proses uang itu muncul di tangan publik, yang mereka bayangkan adalah masyarakat akan berusaha dan bersaing dengan adil untuk mendapatkan uang tersebut.

Tapi kenyataannya, di zaman ini kreditlah uang, tidak masalah bentuknya logam, kertas, atau angka digital elektronik. Dan yang namanya kredit ada masa pembayarannya, tergantung kesepakatan saat pengajuan kredit antara Anda dengan bank pemberi kredit.

Umpamakan begini…
Budi meminjam 100 rupiah dengang bunga 20% / tahun, cara pembayaran yang Budi sepakati dengan bank adalah dengan membayar 10 rupiah selama 12 bulan, total Rp 120.

Memasuki bulan ke-10, Budi sudah kehilangan 100 rupiah yang dia pinjam sebelumnya, cicilan untuk dua bulan mendatang hanya mungkin datang lewat 2 cara:
1. Mengajukan pinjaman baru, menutup hutang lama dengan hutang baru.
2. Menjual sesuatu kepada orang lain yang memiliki rupiah, dan menggunakan uang itu untuk membayar cicilan

Misalnya Budi menggunakan cara pertama, memperpanjang skema pinjaman ini dengan cara yang sama. Maka memasuki bulan ke-20, dia lagi-lagi akan kehilangan semua uangnya, dan cicilan untuk bulan ke-21 sampai bulan ke-24 lagi-lagi hanya bisa dilakukan lewat 2 cara di atas.


Kalau Budi memilih cara kedua, bahwa cicilannya akan dibayar oleh orang lain yang membayar rupiah kepadanya atas barang / jasa yang dia jual, ketahuilah bahwa rupiah yang ada di tangan orang tersebut sebenarnya juga muncul lewat 2 cara di atas sebelumnya.

Bunga pinjaman, akan mempercepat masa hilangnya uang di sebuah komunitas, mempercepat waktu di mana kredit baru harus diajukan oleh komunitas tersebut, dan juga mentransfer kekayaan dari tangan orang yang mengajukan kredit kepada orang yang menciptakan kredit. Dan bila suatu ketika bunga pinjaman terlambat dibayar oleh si peminjam, dan keterlambatan cicilan tersebut juga ikut dibungakan (bunga-berbunga / compounding interest), maka waktu yang dimiliki komunitas tersebut untuk mengajukan kredit baru akan terus bertambah sempit, dan skala kredit yang harus diajukan oleh komunitas tersebut juga akan terus membesar secara eksponensial. Dalam jangka waktu yang panjang, setelah berpuluh-puluh tahun atau seratusan tahun, skala kredit (hutang) yang harus diajukan oleh komunitas tersebut (generasi anak-cucu-cicit mereka) bisa membentuk kurva parabolik raksasa.

Bila tanpa bunga, waktu yang diperlukan sebelum komunitas tersebut harus mengajukan kredit baru akan menjadi lebih lama. Dan bila dibandingkan dengan apa yang akan terjadi dengan sistem bunga-berbunga, waktu yang diperlukan di mana komunitas tersebut harus mengajukan kredit (hutang) baru akan bertambah sangat-sangat drastis, tetapi tetap saja uang itu ada masa berlakunya, tetap saja itu status uang itu adalah hutang dari publik yang harus dilunasi kepada sang pencipta kredit.

Kalau memang harus memilih salah satu di antara keduanya, wajarnya kita akan memilih sistem penciptaan kredit tanpa bunga daripada sebaliknya. Benar-benar orang yang aneh kalau dia berpikir bahwa mengenakan bunga dalam proses penciptaan uang yang diperlukan publik adalah demi kebaikan / kepentingan komunitas tersebut.

Kita-kita semua, termasuk berlevel-level generasi di atas kita, pada dasarnya hanya sekelompok manusia yang silih-berganti mengajukan kredit kepada sang pencipta kredit agar kita bisa memiliki uang sebagai medium transaksi. Demikian juga dengan generasi-generasi yang berikut, hanya akan silih-berganti memikul tanggung-jawab yang semakin lama semakin berat untuk berhutang dan membayar bunga hutang tersebut, dengan tujuan untuk mempertahankan suplai uang di komunitas masing-masing.

Kalau Anda pikir baik-baik, mengenakan bunga dalam debt based money system benar-benar adalah rancangan seorang genius. Kenyataan bahwa ada sekelompok orang yang sudah mulai mempraktekkannya / berusaha mempraktekkannya di komunitas mereka sejak ribuan tahun yang lalu, benar-benar membuktikan bahwa manusia adalah makluk yang sangat cerdas, bahkan sejak dahulu kala.

Tetapi, tentu saja, kenyataan bahwa ada zaman-zaman tertentu di mana manusia bisa membiarkan diri mereka diperbudak oleh sistem ini (termasuk zaman ini) juga membuktikan bahwa manusia juga adalah sebuah makluk yang mudah melupakan masa lalu. Pikiran kita terus-menerus dialihkan ke berbagai hal lainnya oleh sebuah sistem / kekuatan secara tidak kita sadari, tidak ada lagi waktu dan konsentrasi untuk memikirkan darimana uang berasal, dan apa status uang yang kita gunakan. Semua orang sibuk memikirkan urusan pribadinya, urusan keluarganya, urusan kantornya, urusan selebriti pujaannya, urusan politisi favoritnya, dan bla bla bla lainnya (Divide & Conguer).

Kalau memang ada sebuah topik yang sedemikian penting yang harus didiskusikan secara nasional di seluruh sekolah, universitas, televisi, radio, bahkan sampai ke sudut warung kopi sekalipun di negara ini, bahkan secara internasional di seluruh dunia, saya rasa topik itu adalah bagaimana seharusnya uang diciptakan kepada publik, kepada kita-kita semua.

Gerakan untuk memulainya sudah dilakukan sejak lama, terutama di luar negeri. Anda bisa melihatnya di internet, ada ribuan, bahkan puluhan ribu website dari orang-orang yang ingin memprotes, lihat juga di youtube, video-video dari orang yang sedang membagi informasi kepada seluruh orang di dunia mengenai sistem gila yang kita gunakan sekarang.

Sedih sekali rasanya ketika membuka televisi, menyaksikan debat dan kampanye calon “pemimpin rakyat,” dan yang kita dengar terus-menerus dari mulut mereka adalah solusi atas berbagai AKIBAT dari masalah, bukan PENYEBAB dari masalah. Saya percaya kebanyakan dari mereka memang berniat untuk memperbaiki keadaan negara, tetapi di sisi lain saya juga merasa mereka sedang mencari solusi di tempat yang salah, bagaimana mereka mau menawarkan solusi kalau mereka bahkan tidak memahami penyebabnya?

Debt Based Money System,
Bunga Kreasi Uang,
Fractional Reserved Banking.

Inilah rangkaian awal penyebab berbagai masalah.

Kita sambung lagi cerita Budi dan kawan-kawannya di atas…

Apa yang Budi pinjam, itulah yang dia bayarkan. Tidak masalah Budi memproduksi apa atau memiliki keahlian apa, kalau Budi meminjam rupiah kepada bank maka rupiahlah yang harus dikembalikan kepada bank. Tidak masalah bentuk rupiah seperti apa, apakah 1 rupiah = selembar kertas dengan cap Rp1 , atau 1 rupiah = 1 gr batu / logam tertentu , atau 1 rupiah = sebatang kayu ukuran tertentu, atau lainnya.

Kalau rupiah adalah kertas, dia harus mengembalikan kertas, kalau rupiah adalah logam, dia harus mengembalikan logam, kalau rupiah adalah sebatang kayu, dia harus mengembalikan sebatang kayu… Plus bunga pinjaman dalam bentuk yang sama.

Untuk menjadi sang pencipta uang, kita harus berhasil membujuk seluruh komunitas untuk menggunakan suatu benda yang kita miliki / produksi sebagai uang. Atau kalau tidak bisa membujuk mereka, kita harus memiliki kekuasaan untuk memaksa mereka untuk menerima suatu benda yang kita miliki / produksi sebagai uang. Hanya 1 dari 2 cara ini, tidak perlu yang lain.

Biarkan saya yang mengontrol uang sebuah negara, maka saya tidak peduli siapa yang menulis hukum di negara tersebut.”
- Mayer Amschel Rothschild. 1790 –

Medium yang bertahan paling lama sebagai uang bagi umat manusia adalah emas dan perak. Ada yang menyebutnya dengan uang “sejati,” ada yang menyebutnya dengan uang “jujur,” ada yang menyebutnya dengan uang “Tuhan.”

Mungkin ada baiknya juga kita mencari tahu sejarah penambang emas, siapakah mereka sebenarnya? Saya masih sedikit penasaran, apakah emas yang hebat, karena telah bertahan selama ribuan tahun, atau manusia-manusia di balik bisnis emas yang hebat, yang telah bertahan selama ribuan tahun?

Terus-terang, sampai hari ini pun saya masih belum memahami misteri emas, mengapa ratusan juta orang, bahkan milyaran orang begitu menginginkannya. Bagaimana sekeping logam kuning ini bisa memiliki kekuatan yang sedemikian besar di dunia? Apakah karena sejak dulu orang-orang menganggapnya sebagai uang, maka otomatis kita juga harus mempertahankan pendapat tersebut selamanya? Apakah uang, sebagai medium pertukaran barang, benar-benar harus memiliki “nilai intrinsik?” Atau apakah emas benar-benar memiliki nilai intrinsik?

Anyway, poin yang mau saya ceritakan bukan bahan apa yang mau dijadikan sebagai uang, melainkan bagaimana uang muncul ke tangan publik, dan apa status uang itu, sebagai hutang atau sebagai apa, itulah yang ingin saya sampaikan kepada Anda untuk dipikirkan.

Jangan salah paham, saya bukan sedang kampanye anti emas, sebagian tabungan saya juga saya simpam dalam bentuk emas. Seperti yang saya katakan, saya belum memahami misteri emas. Kita sedang hidup di sebuah zaman yang ekstrim, kita-kitalah yang akan menjadi saksi meletusnya bubble hutang terbesar dalam sejarah manusia, mendiversifikasikan tabungan pada zaman seperti sekarang bukanlah sebuah gagasan yang buruk kawan…

Ok, kita balik ke kota Budi tadi…

Umpamakan saja: Bank meminjamkan 1 juta rupiah kepada semua anggota komunitas tersebut dengan bunga 5% / tahun. Tanpa mengenakan bunga-berbunga, dan hanya bunga yang perlu dibayarkan setiap tahun, hutang pokok bisa ditunda.

Maka seluruh anggota kota tersebut harus mengembalikan 50 ribu rupiah setiap tahun kepada bank, dan dalam waktu 20 tahun semua suplai uang di komunitas tersebut sudah habis dihisap oleh bank itu kembali…

Sekarang, bank bukan hanya memiliki 1 juta modal awal yang tetap tercatat sebagai aset mereka (publik masih berhutang 1 juta kepadanya), mereka juga memegang kendali penuh suplai uang komunitas tersebut lewat pembayaran hutang yang dilakukan publik selama 20 tahun ini.

Tentu saja, publik tidak akan menunggu waktu 20 tahun untuk mengajukan kredit baru, jauh sebelumnya mereka sudah mengajukan kredit tersebut. Dunia ini luas, ada berbagai hal lain yang masih bisa dilakukan, masih ada banyak tanah yang masih bisa ditanami & dibangunkan rumah-rumah dan gedung untuk dihuni, dan masih banyak industri-industri baru yang bisa dikembangkan, dll. Ada alasan dan sarana yang sangat banyak bagi komunitas tersebut untuk terus beraktifitas dan menjadikannya sebagai dasar untuk mengajukan kredit baru. Suplai uang tidak akan menurun dengan gampang, selama masih ada peluang pengembangan baru dan daya beli komunitas tersebut masih ada (beban hutang belum mencapai level maksimal).

Bankir yang waras tentunya ingin meminjamkan sebanyak mungkin uang kepada publik. Tidak heran, sebab dari sanalah dia mendapatkan bunga, lewat cara itulah transfer kekayaan dilakukan. Dengan berlalunya waktu, umumnya mereka akan berupaya meminjamkan lebih banyak uang daripada yang mereka miliki. Mereka bisa mencoba mengurangi porsi emas / perak di koin logam yang mereka buat… Atau mengganti emas / perak dengan logam lain yang lebih murah… Atau menulis nota emas untuk menggantikan emas riil… Atau menjadikan nota (kertas) itu sendiri sebagai uang (mengakhiri zaman emas / perak sebagai uang resmi)… Atau mulai menerbitkan cek untuk menggantikan sebagian uang kertas… Atau menciptakan uang elektronik untuk menggantikan uang kertas… dst… Benar-benar kreatif. Tampaknya mereka selalu bisa menemukan cara untuk memenuhi keinginan mereka.

Namun ada hal yang tidak akan berubah…

Bankir hanya menciptakan uang dalam bentuk kredit (hutang), dan mereka selalu meminta lebih daripada yang mereka berikan.

Ibarat seorang tukang kayu yang setiap hari menebang pohon lebih cepat daripada dia menanamnya kembali… Kalau tindakan dia dibiarkan, dan diteruskan ke anak dia… dan diteruskan lagi ke cucu dia… dan diteruskan lagi ke cicit dia… Hanya masalah waktu sebelum dinasti tukang kayu ini menggunduli semua pohon di dunia.

Ini adalah logika matematika yang wajar kawan, saya tidak sedang menulis hal-hal yang misterius di sini…

Fractional reserved system dibuat untuk melipatgandakan kredit yang bisa bank ciptakan… Menggunakan uang kertas sebagai basis, atau menggunakan emas sebagai basis, dua-duanya akan berakhir dengan skenario yang sama kalau kita mengizinkan fractional reserved system, apalagi kalau rasio fractional reserved bisa dibuat fleksibel sesuai keinginan para bankir.

Kalau suplai uang (kredit baru) tumbuh lebih cepat dari pembayaran kredit lama dan bunganya, tanpa diikuti oleh pertumbuhan produksi barang / jasa, kita menyebutnya inflasi… atau menggunakan kosakata yang lebih positif, pertumbuhan ekonomi…

Kalau kredit baru lebih kecil dari pembayaran kredit lama dan bunganya, kita menyebutnya deflasi… atau menggunakan kosakata lain, resesi ekonomi…

Manusia-manusia di dunia ini, kita-kita semua, sebenarnya hanyalah sekelompok orang yang dipermainkan dalam debt based money system dan fractional reserved banking… Hutang kitalah yang menggerakkan aktifitas perekonomian di planet ini.

Omong-omong soal bahan uang, secara teoritis, turunnya nilai uang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan bahan apa yang dipakai untuk dijadikan sebagai uang. Menyalahkan inflasi kepada uang kertas adalah statement yang kurang adil kepada uang kertas.

Kontrol suplai uanglah (kredit) masalahnya. Kitalah yang mengizinkan fractional reserved banking, kembali ke gold standard tidak akan mengubah apapun kalau kita terus hidup dalam sistem fractional reserved banking dengan rasio fractional reserved yang bisa diubah-ubah sesuka hati. Uang kertas memang bisa dipalsukan, tetapi demikian juga dengan nota emas.

Tentu saja, kalau Anda bisa mengembalikan dunia ke zaman emas / perak / logam lainnya sebagai uang, saya juga tidak akan memprotesnya. Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak peduli bahan apa yang digunakan sebagai uang, sumber masalah kita adalah debt based money system, bunga uang, dan fractional reserved banking.

Pemerintah, dalam imajinasi saya, adalah institusi yang didirikan untuk membela kepentingan rakyatnya, untuk melakukan berbagai pekerjaan publik, menyediakan sarana dan prasarana publik, termasuk uang sebagai medium transaksi.

Uang seharusnya bisa dicetak oleh pemerintah, tanpa bunga, untuk mewakili produksi barang / jasa dari rakyat yang mereka wakili. Jumlah uang yang boleh dicetak adalah tergantung seberapa besar kapasitas produksi dan perdagangan dari negara tersebut.

Tentu saja, saya akui kalimat seperti ini gampang untuk diucapkan dan agak sulit untuk diterapkan. Menghitung kapasitas produksi, kapasitas perdagangan, dan bagaimana mendistribusikan uang yang akan dicetak kepada publik memang bukan hal yang sederhana. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin, yang penting adalah niat dan kesempatan untuk melakukannya.

Anyway, ini hanyalah salah satu konsep, mungkin masih ada konsep-konsep lainnya yang bisa dipikirkan, itulah diskusi yang kita perlukan untuk terjadi di negara ini. Inilah topik yang menurut saya penting untuk muncul di masyarakat, di sekolah, di universitas, dan di media.

Saya tidak mengklaim bisa memberikan solusi atas masalah ini, tujuan saya menulis blog ini adalah mengajak orang untuk mulai memikirkan metode penciptaan uang yang lebih adil. Harapan saya, tulisan-tulisan di sini bisa ikut membuka minat dan niat dari orang-orang untuk mereformasi sistem keuangan ribawi yang sedang kita anut.

Jadi, mulailah bercerita kawan… Topik ini benar-benar perlu untuk didiskusikan di masyarakat, bukan hanya di dunia maya…