Rabu, 19 November 2008

Kelaparan Di Tengah Dunia Yang Berlimpah

Bayangkan di suatu tempat, ada penduduk yang cukup, ada tanah yang subur, ada ternak yang sehat, cuaca/musim yang mendukung pertumbuhan tanaman, & sumber daya alam (minyak bumi, kayu, pertambangan dll) yang berlimpah...

Gambaran untuk masyarakat ini seharusnya adalah lingkungan yang luar biasa positif, makmur, maju, dan peradaban yang bisa berkembang dengan pesat.

Tetapi mengapa ada demikian banyak negara-negara yang miskin? Kalau diperhatikan, justru negara tropis yang kaya akan tanaman, perkebunan, dan pertambanganlah yang paling miskin di dunia. Lihatlah benua Afrika, kekayaan apa yang sebenarnya tidak ada di sana? Mengapa justru mereka yang paling menderita? Lihatlah Indonesia, mengapa negara kita bisa menjadi sedemikian susah sekarang?

Banyak sekali jawabannya, tetapi menurut kami inilah asal-muasalnya... "Tiadanya Hak Rakyat Untuk Menciptakan Uang." Semua alasan lain seperti kebodohan, kebencian, kolusi, korupsi, dan lainnya hanyalah turunan / akibat dari hal ini.

Uang dalam sebuah masyarakat sudah ibarat darah dalam tubuh manusia. Bila tidak ada uang (medium pertukaran barang dan jasa), maka masyarakat tidak akan bisa maju. Mengandalkan sistem barter mungkin bisa dilakukan di masyarakat yang populasinya kecil, tetapi di populasi besar, di dunia yang berisi 6,5 milyar penduduk hari ini, peradaban dan perdagangan tidak mungkin dilakukan dengan sistem barter.

Fungsi pemerintahan di manapun juga seharusnya adalah sebagai sebuah organisasi kecil untuk mengatur (regulasi) hal-hal yang menyangkut kehidupan warganya, dan juga tanggungjawab terpentingnya adalah menciptakan uang untuk digunakan oleh warganya supaya bisa menggerakkan perekonomian di negara bersangkutan. Uang ini akan dicetak berdasarkan skala produksi yang bisa dilakukan oleh warganya. Karena uang ada karena produksi barang / jasa warganya, maka uang tersebut sesungguhnya adalah milik warga tersebut sejak awal, bukan dalam bentuk hutang / kredit kepada sang pencipta uang. Warga tidak perlu berhutang kepada pemerintah, apalagi kepada bankir swasta!

*Pemerintah (mewakili rakyat) menghitung berapa uang yang diperlukan oleh rakyatnya, mengedarkannya kepada seluruh produsen di negaranya bebas bunga dan tidak dalam bentuk hutang/kredit. Setiap tahun dihitung kembali apakah uang yang ada cukup untuk digunakan pada tahun berikutnya, dengan memperhitungkan pertumbuhan produksi dan penduduk.

Tiadanya hak untuk menciptakan uang menyebabkan keterbelakangan peradaban, perdagangan yang macet, dan aktifitas kehidupan rakyat juga lambat.

Tunggu!... Bukankah setiap negara sudah memiliki bank sentral? Bukankah memang pemerintah sudah memiliki hak untuk menciptakan uang kepada rakyatnya?

Maaf..... Jawabannya adalah tidak..... Pemerintah manapun juga tidak mencetak uang dalam jumlah yang cukup untuk menggerakkan perekonomian negara mereka, dan juga tidak ada uang yang muncul tidak dalam bentuk hutang (+ bunga).

Bank sentral menciptakan sejumlah uang pada awalnya. Tetapi mayoritas uang di setiap negara berasal dari bank-bank komersial mereka. Secara umum, bank-bank komersial swastalah yang bertanggungjawab lebih dari 90% uang beredar di setiap negara.

Sistem yang kita anut, uang hanya muncul ketika rakyat mengajukan hutang kepada bank komersial swasta. Anda mungkin tidak berhutang, tetapi sumber dari uang Anda adalah seseorang yang sebelumnya berhutang.

Tanpa hutang, tanpa uang.....

Tanpa uang, tanpa perdagangan, tanpa peradaban....

Dan kalau hutang-hutang dilunasi..... Kembali lagi ke masyarakat yang tanpa uang.... Sebab uang muncul hanya dalam bentuk hutang!

Bayangkan sekelompok orang berkumpul bersama, ada yang memiliki cangkul, ada yang memiliki batu, ada yang memiliki semen, ada yang memiliki batu bata, ada yang memiliki kayu, tetapi tidak ada rumah yang bisa mereka bangun... karena tidak ada uang.... Bayangkan sekelompok lainnya, ada yang memiliki tanah, ada yang memiliki benih, ada yang memiliki pupuk, tetapi tidak ada tanaman yang bisa mereka produksi, karena tidak ada uang.... Tragis.

Tingkat kemajuan sebuah komunitas bisa dilihat dari tingkat produksi dan jumlah uang beredar mereka. Ketika pertambahan uang beredar ikut menaikkan jumlah produksi secara setara, maka roda perekonomian bisa berlanjut. Ketika pertambahan uang tidak diikuti oleh pertambahan produksi, maka proses penciptaan uang harus dihentikan, karena sudah tidak bisa diserap oleh masyarakat mereka.

Pemerintah kita, sudah cukup buruk mereka menciptakan uang dalam bentuk hutang oleh rakyatnya, masih menambah masalah dengan mencari hutang dengan mata uang negara lain... Cukup buruk kita menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang rupiah dan tagihannya dilimpahkan kepada rakyat dalam bentuk pajak, namun masih lebih buruk lagi kalau mereka mencari hutang dengan mata uang dolar, yen, atau euro...

Negara mana yang tidak menyerahkan hak menciptakan uang kepada negara lain dan kemudian mata uang mereka tidak dipermainkan oleh krediturnya?

Misalkan $1 = Rp 10.000, dan kita berhutang $1 juta kepada Amerika untuk membangun jalan di negara kita sendiri (yang sebenarnya bisa dibiayai oleh rupiah kita sendiri), dan rencananya kita akan bayar hutang ini dengan menjual beras ke Amerika.

Kalau 1 kg beras harganya $1 maka hutang $1 juta akan kita bayar dengan menjual 1 juta kg beras ke mereka.

Tetapi....... "ntah kenapa," tahu-tahu rupiah kita yang diperdagangkan di pasar forex internasional jatuh ke harga Rp 30.000, harga beras yang diperdagangkan di pasar komoditi jatuh ke harga $0,3 per kg, akhirnya kita harus menyerahkan 3,3 juta kg beras kepada Amerika sang kreditur...

Oh tidak... masih harus ditambah bunga...!! Misalkan bunganya 5% per tahun ($50.000), maka kita harus menjual 166 ribu kg beras tambahan supaya ada uang untuk dibayarkan kepada mereka...

Dan lantas orang-orang masih juga akan bertanya.. Mengapa negara kita bisa sedemikian miskin? Mengapa rakyat negara ini bisa hidup berkekurangan di alam yang begitu berlimpah....?

Hutang dolar harus dibayar dolar..
Hutang yen harus dibayar yen..
Hutang euro harus dibayar euro..

Tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar, yen, euro tidak di tangan kita...

Tak ada pejabat pemerintahan manapun yang berani mengganti sistem penciptaan uang yang sekarang kita gunakan... Dan mungkin memang tak ada yang bisa... Yang berani mencoba tidak akan berumur panjang...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

-Mr.Penanya

pak bodhi saya masih belum jelas perjalanan uang dari dicetak dari perum peruri-bank indonesia-bank komersial-masyarakat? apa seperti ini jalurnya? lalu bagaimana mekanismenya sebagai apa/dg cara apa uang tersebut berpindah? tolong dijelaskan saya sangat tertarik dg topik2 anda terimakasih

Ahmad Wira mengatakan...

terima kasih info nya gan.....
jangn lupa berkunjung ke Anehh.com