Kamis, 19 Februari 2009

Krisis Ekonomi 2009 (Part 2)

Di tulisan sebelumnya, kita sudah bicara soal gambaran umum dolar-system. Hari ini, kita lanjutkan cerita mengenai krisis ekonomi dari sisi internal perbankan.

Fractional Reserve Banking (FRB)

Seperti yang sudah Anda ketahui, untuk setiap rupiah (ataupun dolar, ataupun mata uang lainnya di setiap negara yang lain) yang dimiliki bank, mereka pada akhirnya bisa menciptakan kredit sebesar beberapa kali lipatnya. Bisa 2x, bisa 5x, bisa 10x, bisa 20x, bisa 40x, tergantung batasan fractional ratio dari bank sentral negara masing-masing.

Kredit, dalam praktek, adalah uang. Itulah sebabnya bank komersial sangat-sangat penting di setiap negara. Sebuah negara, boleh saja tidak memiliki bank sentral, tetapi dia tidak boleh tidak memiliki bank komersial. (Dulu-dulunya, yang menciptakan uang adalah negara, tetapi beberapa abad yang lalu kekuasaan menciptakan uang diambil alih pedagang uang, dan mereka menggantikan sistem penciptaan uang oleh negara / kerajaan ke bentuk sistem penciptaan kredit oleh bankir).

Gunanya bank sentral adalah sebagai regulator perbankan di negara bersangkutan, dan menjadi lender of the last resort bagi bank komersial. Setiap kali bank komersial dirush, mereka akan berupaya minta dibailout oleh bank sentral. Itulah cara yang dipakai berulang-ulang di berbagai negara selama ratusan tahun terakhir ini. Model bailout BLBI 1998 di Indonesia bukan monopoli kita, itu terjadi juga di tempat lain, dan akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Siklus ini akan berulang-ulang, tak akan berhenti selama kita selalu bisa diancam bahwa bila bank-bank tutup itu akan menjadi akhir dari dunia…

Kepemilikan bank sentral sebenarnya bukan isu utama. Kalau bank sentral dimiliki oleh swasta dan ketahuan publik, memang berpotensi memicu ketidaksetujuan orang. Jadi, masalah kepemilikan bank sentral jarang dibahas di media dan sekolah (yang juga dikendalikan oleh kartel kriminal yang sama). Tetapi, swasta atau bukan, itu bukan isu terpenting. Yang melipatgandakan modal menjadi berkali-kali, bahkan puluhan kali lipat kredit kepada publik adalah bank komersial. Dalam praktek, merekalah yang paling berpengaruh.

Kalau Anda mau mengajukan kredit untuk membeli sesuatu, atau kalau Anda mau mengekspansi usaha Anda, atau kalau Anda butuh uang untuk mengakuisisi perusahaan lain, yang Anda cari adalah bank komersial, Anda tidak meminjam uang langsung ke BI, bukan begitu?

Dalam kasus bailout, bank sentral membailout perbankan komersial atas perintah dari pemerintah. Pemerintah memerintahkan penciptaan uang baru itu atas nama rakyatnya. Status uang itu sendiri adalah hutang kepada bank sentral. Kosakata yang digunakan untuk melukiskan uang ini bisa berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama, hutang. Dan karena yang membayar tagihan dan bunga hutang pemerintah adalah rakyat (dalam bentuk pajak di tahun-tahun mendatang), maka yang membailout bank komersial adalah rakyat. Tidak ada yang namanya pemerintah menolong perbankan, tidak ada juga yang namanya bank sentral menolong perbankan, yang ada adalah rakyat negara bersangkutanlah yang menolong perbankan.

Sekarang kita buat contoh sederhana cara FRB :

Katakanlah kita adalah bank. Modal sendiri kita ada 1 milyar. Hari ini kita meminjamkan kepada A 100 juta untuk membeli barang kepada B. Kita bujuk juga si B untuk menabung 100 juta ini di bank kita.

Sekarang modal kita sisa 900 juta Hutang kepada B 100 juta. Piutang kepada A 100 juta. Tapi dari 100 juta tabungan si B, kita bisa juga menciptakan kredit baru mungkin 90, mungkin 80, mungkin 70 juta kepada si C yang mau membeli barang kepada D (tergantung ratio fractional reserve yang diizinkan bank sentral).

(Kita bisa menciptakan kredit baru dari uang yang ditabung B karena dari pengalaman, kebanyakan orang tidak akan menarik mayoritas uang mereka dari bank)

Lalu kita bujuk lagi si D untuk membuka rekening di bank kita. Dari misalnya 90 juta tabungan D ke kita, nantinya juga bisa diciptakan lagi kredit 60, 70, atau 80 juta kepada E, dst...

Dan dari 900 juta modal tersisa tadi, kita lakukan lagi dengan cara yang sama. Pecah-pecah dan pinjamkan kembali ke rakyat (konsumen).

1 milyar kita setelah berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, bisa menciptakan kredit akumulasi sebesar 2, 5, 10, 15 milyar, atau lebih kredit (uang). Tergantung batasan fractional reserve dari bank sentral.

Kalau Anda lihat selisih bunga bank, kredit – tabungan, seolah-olah selisihnya hanya beberapa persen. Misalnya bank memberikan bunga 5% kepada nasabah tabungannya, dan meminjamkan kredit kepada publik dengan bunga sebesar 10%. Sejumlah besar orang mengira bank hanya akan untung 5%.

Itu tidaklah benar, dengan modal 1 milyar sebuah bank bisa saja menciptakan kredit sebesar 10 milyar, mereka mengungkit modal mereka (leverage) ke level yang sangat tinggi. Coba Anda cek di internet, lihat RoE (Return on Equity) bank-bank go public, Anda akan menemukan bahwa keuntungan riil mereka biasanya adalah double-digit, bisa 20-an %, bisa 30-an %, benar-benar hebat mengingat cukup banyak debitur mereka (para penghutang) sebenarnya tidak sanggup mencapai net profit margin seperti itu di bisnis mereka sendiri.

Tetapi, itu baru satu sisi dari FRB, masih ada sisi lainnya yang jarang dibahas orang…Karena semua modal telah diungkit (leverage), maka untuk setiap rupiah yang diderita bank, bank juga akan menarik kembali berkali-kali lipat kredit yang disalurkan oleh mereka.

Setiap 100 juta kerugian yang diderita oleh bank (baik terjadi karena gagal bayar alami si debitur ataupun karena kelalaian sengaja dari pihak bank saat menyeleksi calon debitur!), akan berujung dengan ratusan juta, bahkan milyaran rupiah kredit yang harus ditarik kembali.

Bank tidak bisa serta-merta menarik kredit mereka dari publik. Melakukannya tanpa alasan bisa mengekspos kejahatan mereka. Bankir bisa dibunuh, gedung mereka juga bisa dibakar! Hehe..

Setiap siklus krisis perbankan selalu terjadi karena mereka BENAR-BENAR kehilangan uang (modal) karena pinjaman-pinjaman yang mereka berikan sebelumnya macet atau gagal bayar.

Bedanya dengan bisnis-bisnis pada umumnya, mereka memiliki bank sentral untuk membacking mereka, beda dengan kita-kita orang biasa. Kalau usaha kita yang bangkrut, tak ada yang akan membailout kita.

Sekarang, coba Anda gabungkan skenario ini…

Bank-bank negara barat saat ini benar-benar terus-menerus kehilangan modal mereka karena berbagai jenis kredit yang mereka berikan ke debitur mereka banyak yang gagal bayar / default.

Mengapa default? Karena kemampuan rakyat mereka untuk berhutang sudah di ambang limit, mereka tidak sanggup berhutang terus dan memenuhi janji untuk membayar. Bukan hanya subprime mortgage yang bermasalah kawan, kredit-kredit yang lain juga sama bermasalahnya.

Di sisi lain, karena kerugian yang diderita perbankan (modal terus mengecil), kredit yang harus mereka tarik kembali dari peredaran juga berlipat-lipat dari jumlah kerugian tersebut.

Dan untuk melipatgandakan kekuatan dari kontraksi kredit ini, bank kendali Rothschild, bank sentralnya bank sentral, Bank for International Settlements, menerapkan Capital Accord baru ke negara-negara barat yang menjadi pusat gempa finansial kali ini.

Fractional reserve ratio / daya leverage dikurangi! Bank-bank komersial barat harus meningkatkan ratio kecukupan modal mereka. Anda bayangkan, selama ini bank-bank Amerika dibiarkan menciptakan kredit sebesar 20-an kali lipat modalnya, dan bank-bank Eropa bahkan lebih besar lagi, lebih dari 40x. Contoh berita **Link

Apa jadinya ketika mereka ramai-ramai menarik kredit / tidak memperpanjang kredit kepada debitur mereka supaya bank-bank mereka bisa memenuhi ratio kecukupan modal yang baru ini?

(Angka di atas tidak termasuk transaksi derivatif, kalau transaksi derivatf dimasukkan, leverage bank-bank internasional di dunia seperti JP Morgan, Citibank, HSBC, dll bisa jauh lebih tinggi). **Link

Hilangnya kredit (uang) dari peredaran tidak mungkin tidak menyebabkan resesi. Semakin besar uang yang ditarik kembali, semakin besar skala resesi yang akan terjadi.

Coba baca Implikasi Capital Accord 2, sebuah pembahasan dari Muhammad Rafeeq pada tahun 2007 di www.iamthewitness.com. Dan kalau Anda punya waktu lebih, silahkan download wawancara DBS dengannya di bulan Oktober-November-Desember 2007. Anda bisa dengar lebih jelas step-by-step bagaimana kehancuran sistem keuangan perbankan barat dilakukan.

Jangan tertipu oleh berita bangkrutnya bank-bank zionis di koran. Benar, beberapa dari mereka pasti akan bangkrut, dan kondisi finansial dari bank-bank yang tersisa juga sangat-sangat buruk, tetapi sejumlah besar kerugian mereka tetap akan dibailout oleh rakyat negara masing-masing. Yang sebenarnya sedang mereka lakukan sekarang adalah konsolidasi kekuasaan.

Bank tidak akan jatuh sendirian, kreditur-debitur mereka semuanya akan terpengaruh. Biarkan lebih banyak usaha yang jatuh bangkrut, dan konsolidasikan kepemilikan setiap industri ke lebih sedikit tangan, itulah yang sedang mereka lakukan. Kalau Anda punya waktu lebih, baca juga Protocols of Zion.

Next, ini sebenarnya hal yang paling penting... Yang benar-benar penting di dunia kalau Anda mau mendominasi semua manusia adalah kepemilikan dan kontrol atas semua perusahaan strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak... Bank, selaku institusi pencipta kredit, hanyalah pihak yang berdiri di tengah.

Tidak peduli akhir dari krisis ekonomi kali ini akan seperti apa, orang-orang yang mengendalikan perusahaan strategis seperti pertambangan, pertanian, benih makanan, perusahaan distribusi internasional, perusahaan farmasi, media massa, institusi pendidikan, perusahaan air minum, dll, merekalah yang akan tetap tampil sebagai pemenang terakhir. Tidak masalah kalau dolar tetap digunakan sebagai uang atau tidak, atau apakah emas akan kembali menjadi uang atau tidak...

Dan Anda tahu siapa kelompok yang menguasai mayoritas dari bisnis-bisnis di atas? Jawabannya adalah orang-orang yang sama yang juga memegang kendali di bank-bank internasional.

Banyak orang mengatakan informasi-informasi seperti yang sedang Anda baca ini sebagai tuduhan ataupun propaganda rasialis anti-semit terhadap bankir zionis yahudi. Tetapi, maaf…. Menurut saya, justru orang-orang itulah yang ibarat anak ayam yang dipelihara oleh serigala, dan setelah tumbuh besar, dia justru membela serigala itu, karena tidak sadar bahwa orang tuanya sebenarnya telah dibunuh oleh serigala tersebut… Mereka tidak tahu orang macam apa yang sedang mereka bela!

Kawan, sebenarnya tidak ada kewajiban bagi orang lain untuk membantu menjelaskan semua hal kepada kita-kita. Mereka bisa saja duduk manis di rumah, atau santai ngobrol dengan teman-teman dan keluarga mereka. Kenyataan bahwa ada cukup banyak orang yang masih bersedia membagi informasi di internet kepada kita secara gratis sebenarnya adalah hal yang perlu kita syukuri.

Tentu saja, tidak semua informasi di internet itu benar. Tergantung nalar kita sendiri untuk memikirkannya, mana yang benar, mana yang tidak…

Collect informations, Study the informations, & Make Your Own Choice

12 komentar:

MyThinkAll mengatakan...

Terus terang saya senang blog pencerahan ini.

Apa yang anda bahas adalah masalah universal tentang penindasan masyarakat dunia oleh kekuatan hidden financial. Walaupun Anda bukan seorang Muslim tapi saya menyarankan tulisan anda di Posting ke www.warnaislam.com Ada kolom muamalat yg juga bahas ttg bahaya riba, uang kertas dan fractional reserve.

Trims atas pencerahannya dari sisi lain. Semoga tuhan memberkati Anda

yosstate mengatakan...

saya selalu mengikuti postingan bapak, dan saya akhirnya menyadari kita belum merdeka, tapi dijajah oleh yang meguasai supply uang sebagai hutang plus bunga yang tidak pernah mereka ciptakan.

Anonim mengatakan...

Saya baru baca berita di detikfinance hari ini tentang indeks saham di amerika yang jatuh terparah karena isu pemerintah akan menasionalisasi perbankan. Apakah menurut anda ini adalah cara pemerintah amerika untuk keluar dari krisis?

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Menurut saya, tidak ada komunitas yang sanggup mengejar compounding interest selamanya. Limit penduduk Amerika untuk menginflasikan suplai uang sudah di ambang batas.

Krisis perbankan mereka tak akan berakhir tanpa mendefault hutang-hutang yang memang tidak sanggup mereka pertahankan lagi untuk dibayar. Bank-bank mereka sudah insolvent, dan akan terus begitu sampai level hutang penduduk mereka menurun drastis & daya beli penduduk mereka membaik.

Pemerintah mengambil alih perbankan, kalau tujuannya adalah untuk menghentikan krisis, terus terang saya tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukannya. Tetapi kalau tujuannya adalah mengembalikan fungsi penciptaan uang kepada pemerintah, dan bukan lagi lewat tangan bankir swasta, saya sangat-sangat setuju...

yosstate mengatakan...

yupz, betul pak, saya setuju dengan fungsi uang sebagai alat tukar yang timbul dari barang2 dan jasa2 yang mampu diciptakan masyarakat.
Tapi itu hal yang mustahil dilakukan pemerintah manapun, mereka akan dihancurkan dengan sangat mudah dan gak bakalan kelihatan.
Yang pasti sikap USA yang jadi proteksionis dan menasionalisasi menjadikan mereka seperti negara komunis, lambat laun akan ada perang dagang dan mulai depressi. Mungkin setelah itu rencana Jenderal Albert Pike akan segera terlaksana : let get start to kick ass someone, and get the warworld, hehehe.

Anonim mengatakan...

Pak, mengapa memakai nama Pustaka Pohon Bodhi? Kok bukan pohon kelapa atau pohon cemara misalnya ?

boyin mengatakan...

saya juga penasaran dengan langkah Amerika selanjutnya. menurut anda apakah dengan uang bailout yang akan mulai dikeluarkan bulan depan akan membuat rupiah menjadi kuat atau semakin terpuruk. hee....soalnya saya juga lagi kapan jualnya nih.

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Website warnaislam gak respon tuh email saya. Kalau Bapak bisa posting di sana, copy-kan aja ya artikel yang Bapak rasa cocok ke sana. Thanks.

@Boyin,
Sebenarnya tergantung uang bailout itu datang dari mana... Kalau pemerintah USA bisa menghimpun dana dari tangan publik & negara lain yang memiliki tabungan dolar, saya rasa dolar akan relatif menguat terhadap mata uang yang lain.

Tapi kalau mereka gagal meyakinkan calon pembeli surat hutang mereka, dan akhirnya mengambil cara singkat dengan mencetak uang, ya dolar akan melemah.

Ada juga kemungkinan program bailout akan putus di tengah jalan. Asumsinya pemerintah USA gagal menjual surat hutang, gak punya uang, dan gak mau mencetak uang juga, jadi program2 bailout itu dicancel. Bisa juga begitu. Kalau ini yang terjadi, saya percaya dolar USA juga akan menguat (selama kita masih dalam dolar-system).

Hanya ketika dunia sepakat untuk tidak menjadikan dolar Amerika sebagai mata uang transaksi internasional utama, dolar Amerika bisa ambruk total.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, saya pribadi tidak mau memegang dolar USA. Kalau ada uang lebih mungkin coba cari peluang-peluang usaha di kota / desa tempat kita tinggal aja. Kalau tetap gak ketemu ya pegang cash & emas aja.

Anonim mengatakan...

sebelumnya terima kasih banyak atas pengetahuan yang saya dapat dari Bapak, ada beberapa pertanyaan yang saya ingin ajukan ke Bapak berkenaan dengan resesi dunia :
Bagaimana Analisa Bapak ke depan tentang?:
1. kurs dolar terhadap rupiah
2. suku bunga bank akan turun atau naik?
3. usaha dalam bidang apa yang sekiranya akan selamat dalam badai resesi sekarang ini .. mulai dari skala kecil, menengah dan besar..
4. hal apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan? (Bapak sendiri tidak ingin memegang dolar USA)
5. mohon juga hal-hal yang dapat diaplikasikan untuk semua kalangan masyarakat.
sekali lagi terima kasih banyak....

Icha mengatakan...

Thanks sudah sharing informasi.Saya dapat pengetahuan baru dari blog anda. cheers :)

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

@ Anonim,

Ada hal-hal umum tertentu yang bisa saya komentari, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa...

Kritik terhadap sistem keuangan ribawi bisa dilakukan semua orang, karena itu memang adalah hal mendasar yang bisa dipahami semua orang.

Kalau nasehat mendetail soal investasi uang, saya tidak bisa, sepertinya kurang pantas.. Saya sendiri bukan orang kaya dalam kehidupan pribadi saya. Bagaimana mau memberi nasehat detail kepada orang lain? Hehe..

Pendapat umum yang bisa saya jawab dari pertanyaan Anda adalah:
- Kurs dolar tergantung kemampuan Amerika mempertahankan dolar system. Seburuk-buruknya keuangan mereka, asalkan dolar tetap menjadi medium transaksi utama, dolar tidak akan jatuh berlebihan. Kalau Amerika mendevaluasikan uang mereka, tak lama kemudian seluruh negara yang lain juga harus ikut, untuk menyelamatkan ekspor masing-masing.

- Bunga sebenarnya lebih ditentukan oleh konsumen. Saat daya beli bagus, bunga tinggi tidak masalah. Saat daya beli menurun, bunga akan turun dengan sendirinya... Untuk negara non-Amerika, memang ada faktor lain, masalah nilai tukar mata uang.

Bunga berbagai surat hutang negara kita mungkin tidak bisa turun banyak, karena kebutuhan pemerintah untuk meminjam uang sangat besar. Kalau bunga kita rendah, siapa yang mau membeli surat hutang kita?

Bank komersial juga akan menimbang-nimbang, kalau uang disimpan di surat hutang negara ternyata lebih menguntungkan, untuk apa meminjamkan uang kepada publik... Jadi bunga kredit bank komersial juga susah turun banyak, sekalipun daya beli konsumen Indonesia menurun. Justru resiko bunga naik cukup besar, begitu rupiah bergejolak (jatuh), bunga kredit bank komersial bisa naik.

Anonim mengatakan...

Salut buat anda pak bodhi....tulisan anda mengingat kan saya pada sosok kwik kian gie,seorang yg jujur dan mencintai indonesia tapi di depak karna terlalu"PINTAR"....oleh antek2 yahudi..