Selasa, 13 Januari 2009

Tipu - Menipu Di Masyarakat

Hari ini saya akan posting sebuah isu yang lebih ringan. Ringan, tapi bukan berarti tidak penting ok.. Hehe..

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah email dalam bahasa Inggris, sebuah email dari Nigeria, seseorang menyuruh saya mengontaknya dalam sebuah "kesempatan" yang nantinya akan memberikan saya 1 juta dolar lebih.

Pada dasarnya surat itu adalah sejenis Nigerian Scam. Saya jadi teringat sebuah buku yang saya terbitkan tahun 2005: Berbohong & Menjadi Kaya. Buku ini bisa dibilang 75% serius - 25% humor, karena cerita-cerita penipuan di masyarakat, walaupun korban menderita kerugian riil, tetapi kadang-kadang skenarionya terjadi di luar nalar yang kita sangka.

Jadi hari ini saya akan memposting sebagian dari buku itu untuk Anda. Selamat membaca, semoga bermanfaat...


DISCLAIMER
Buku ini ditulis untuk tujuan edukasi terhadap masyarakat akan bahaya penipuan.
Kami tidak bertanggung jawab bila berbagai informasi di buku ini disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindakan yang merugikan masyarakat.


BAB 1 : Pendahuluan

Apa itu Masyarakat?

Bagi Anda yang memahami kejamnya kehidupan, masyarakat adalah sebuah komunitas di mana orang-orang berkumpul bersama dan saling memanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing. Itulah masyarakat.

Dalam sejarah kehidupan manusia, kasus di mana seorang manusia (ataupun sekolompok manusia) berbohong dan memperdayai kelompok lainnya demi kepentingan pribadi adalah tidak terhitung banyaknya. Setiap hari, setiap saat, selalu ada kasus baru.

Ada orang mengatakan media utama untuk mengendalikan orang adalah dengan kekuatan senjata, ada juga yang mengatakan media yang paling efektif adalah uang dan materi. Namun, sebenarnya ada sebuah media lainnya yang lebih murah dan jauh lebih berbahaya, yaitu bahasa.

Hanya dengan menggunakan kata-kata, seorang individu, sebuah perusahaan, bahkan sebuah negara, bisa menyebabkan kehancuran dan kerugian skala raksasa kepada pihak lainnya (para korban).

Buku ini adalah tentang penipuan konsumen, maka kita hanya akan membahas persoalan tentang kebohongan dan penipuan dalam skala yang lebih kecil, yaitu yang ada di masyarakat, baik yang terjadi di Indonesia, maupun contoh kasus yang terjadi di negara lainnya.

Kita semua, secara tidak sadar, sering kali meremehkan permasalahan penipuan konsumen. Kita cenderung berpikir bahwa skala dari kegiatan ini pastilah masih kecil, jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Nilai kerugian yang diderita masyarakat pastilah masih kecil, jadi lebih baik aparat kepolisian tidak usah terlalu fokus pada investigasi kasus-kasus penipuan konsumen. Namun, apakah asumsi kita ini akurat?

Kita mengira tindakan kriminalitas fisik terus bertambah dari tahun ke tahun, namun yang bisa kita pastikan sebenarnya adalah liputan media terhadap kriminalitas fisiklah yang bertambah, baik lewat media koran maupun lewat televisi. Kita mengira kasus penipuan konsumen sangat sedikit, kenyataannya adalah liputan media terhadap kasus inilah yang sedikit. Seandainya berbagai media lebih sering mengekspos jenis kriminalitas ini, kita baru akan menyadari betapa banyaknya kasus penipuan yang ada di sekeliling kita maupun di dunia.

Omset dari “bisnis” penipuan konsumen di seluruh dunia diperkirakan mencapai di atas US$100 milyar per tahun, alias di atas 1.000 trilyun rupiah setiap tahunnya. Berapa angka pastinya di Indonesia, tidak ada yang tahu, sebab masyarakat Indonesia cenderung lebih toleran dan jarang memprotes bila tertipu.

Sebelum bicara soal contoh kasus penipuan, mari kita pikirkan sebentar sebenarnya siapakah para penipu itu? Mengapa mereka melakukan-nya?

Sebenarnya, berbohong dan menipu adalah karakter dari kita semua. Siapa sih yang tidak berbohong? Ada orang mengklasifikasikan ke-bohongan berdasarkan tujuan berbohongnya, ada juga yang mengklasifikasikan kebohongan berda-sarkan skala akibatnya. Sekarang, mari kita lihat tahapan-tahapan sebelum sebuah tindakan naik sampai ke tingkat penipuan.

Omong Kosong

Omong kosong, yang populer disebut dengan istilah bullshit, adalah tahap awal ketika kita mulai belajar untuk mengucapkan hal-hal yang tidak akurat. Berbeda dengan kebohongan, omong kosong tidaklah diucapkan untuk menjebak dan merugikan orang lain.

Orang yang beromong kosong adalah mereka yang membicarakan suatu hal dalam kapastitas yang telah melebihi tingkat pemahaman mereka. Kita semua melakukannya, kita semua menikmatinya. Bila jam istirahat sudah tiba, ataupun bila beberapa teman sudah berkumpul bersama, semuanya akan mulai membicarakan berbagai macam hal, mulai dari hal-hal kecil sampai ke hal-hal rumit semacam politik internasional dan berbagai rahasia alam semesta.

Mengapa ada omong kosong? Sejak kapan manusia melakukannya?

Entahlah, siapa yang tahu? Kelihatannya omong kosong sudah ada sejak manusia ada. Sekadar spekulasi, omong kosong mungkin secara langsung berhubungan dengan sistem demokrasi yang kita anut. Di negara demokrasi, kita bebas untuk bicara, kita dianjurkan untuk bicara. Bila kita diam, kita dituduh tidak partisipatif untuk mengembangkan demokrasi, dan lebih buruknya lagi, sejumlah orang mencap orang diam sebagai orang bodoh. Untuk menghindari tuduhan ini, sejak kecil, murid-murid di sekolah sudah dididik, dibentuk, dan kalau perlu dipaksa untuk selalu bicara dan menyatakan pendapatnya.

Akibatnya, bisa ditebak, karena intensitas masyarakat untuk membicarakan hal-hal yang dalam batas-batas tertentu tidak mereka pahami meningkat, jumlah omong kosong pun meningkat.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya bekerja sebagai staf marketing di sebuah perusahaan swasta, dalam salah satu rapat yang dihadiri oleh bos besar, bos berkata: “Hei, kalian jangan diam saja. Kalau ada ide katakan sekarang. Kalau kamu diam saja, saya anggap kamu bodoh!” Pada rapat-rapat di kemudian hari yang bila dihadiri oleh bos, semua staf marketing memegang teguh prinsip ini: “lebih baik bicara dan ketahuan bodoh daripada tidak mencoba dan tetap dituduh bodoh!”

Kebohongan “Putih”

Yang dimaksud dengan kebohongan putih adalah kebohongan yang diucapkan untuk menjaga ataupun memperbaiki hubungan sosial antar individu di masyarakat, dan oleh karenanya tidak terhindarkan dan “perlu” dilakukan. Contohnya:

 “Apa kabar Merry? Sudah lama tak jumpa, kami kangen sekali padamu”
 “Wah, kamu tampak cantik sekali hari ini”
 “Senang sekali berjumpa denganmu”
 “Wah, anakmu sudah besar ya. Ganteng sekali dia”
 “Bajumu bagus sekali. Beli di mana?”

Dengan orang-orang yang lebih dekat, mungkin Anda pernah juga mendengar kata-kata:

 “Saya akan selalu setia bersamamu. Mulai sekarang sampai hari kiamat memisahkan kita”
 “Besok malam saja sayang. Saya kurang enak badan hari ini”
 “Saya akan pulang agak malam sayang. Ada rapat di kantor”

Bisa Anda bayangkan, seandainya kita sama sekali tidak mengucapkan kebohongan putih, dunia ini tentunya akan sangat sunyi dan hubungan antar individu, baik di masyarakat maupun di keluarga, tentunya tidak akan sebaik sekarang.

Kebohongan “Abu-Abu”

Kebohongan abu-abu adalah kebohongan yang diucapkan untuk mendapatkan sejumlah keuntungan bagi diri sendiri, disadari oleh sang pengucap, namun masih dalam batas yang tidak terlalu merugikan pihak pendengar. Contoh:

Seorang Bapak mengatakan kepada anaknya: “Saya sangat mencintaimu nak, saya juga sangat mencintai Ibumu. Seandainya bisnis saya tidak gagal, saya pasti akan membawa kalian keliling dunia dan memberikan lebih banyak kepada kalian” (Kenyataannya, bisnisnya gagal karena kebiasaan judinya yang akut, dan juga karena beberapa wanita simpanan yang menguras habis uangnya).

Kebohongan “Hitam”

Kebohongan hitam adalah kebohongan yang diucapkan secara sadar dan sengaja untuk menyesatkan pendengar dan memberikan keuntungan pribadi bagi pengucapnya.

Sebagian pengusaha kotor, politisi busuk, pengacara tak bernurani, dan juga sejumlah perusahaan periklanan tak bermoral, tidak henti-hentinya mengucapkan kebohongan terhadap masyarakat. Orang-orang ini, karena kekuatan uang dan kekuasaan, tak tersentuh sama sekali oleh hukum.

Kadang-kadang, kita tidak bisa berhenti merasa heran, apakah sungguh-sungguh berbohong dan menjebak orang adalah hal yang salah. Bila ya, mengapa begitu banyak orang yang bebas melakukannya?

Penipuan

Pada dasarnya, perbedaan kebohongan hitam dan penipuan adalah pelakunya. Untuk kebohongan hitam, pelakunya adalah orang-orang yang karena pekerjaan, ataupun karena pangkatnya, memiliki “hak” untuk berbohong, sedangkan untuk penipuan, pelakunya adalah warga negara biasa ataupun perusahaan yang tidak memiliki “legitimasi untuk berbohong.”

Berikut sebuah ilustrasi:

A. Dalam suatu bencana alam di suatu negara, sekelompok pengusaha daerah kemudian mendirikan sebuah perusahaan untuk mengumpulkan sumbangan untuk diberikan kepada para korban. Perusahaan tersebut, menyuap sejumlah pejabat yang berwenang, dan juga bekerja sama dengan berbagai instansi yang terkait, mendapatkan lisensi dan legitimasi untuk mengumpulkan sumbangan. Dalam prakteknya, sumbangan yang diterima dipakai untuk menggaji diri mereka secara besar-besaran, menggaji beberapa karyawannya, membayar cicilan mobil baru dan kalau perlu, rumah baru, dan sisanya baru disumbangkan kepada para korban yang berhak. Katakanlah, pada akhirnya, sumbangan yang benar-benar disalurkan kepada korban adalah sebesar 50% dari nilai yang berhasil didapatkannya.

B. Tidak lama setelah itu, seorang warga biasa, sebut saja Franky, terinspirasi oleh cara mencari uang perusahaan tersebut, juga mulai mencari sumbangan untuk para korban. Uang yang akhirnya disalurkan Franky adalah 75% dari nilai yang didapatkannya. Untuk sebuah persentase nilai sumbangan yang sebenarnya lebih besar, Franky tetap bisa dimasukkan ke penjara, sebab dia tidak memiliki legitimasi untuk melakukannya.

Kebanyakan orang, walaupun menyadari bahwa mereka bukanlah manusia suci, bahwa mereka memang cenderung berbohong dalam kehidupan mereka, masih bisa menimbang-nimbang dalam kepala mereka kebohongan mana yang bisa diterima, dan kebohongan mana yang tidak bisa diterima.

Para penipu, mereka tidak akan mem-boroskan waktu mereka yang berharga untuk mengklasifikasikan jenis-jenis kebohongan, mereka juga tidak akan menimbang-nimbang kebohongan mana yang bisa diterima dan mana yang tidak bisa diterima.

Para penipu sangat lihai dalam membuat generalisasi untuk membenarkan perbuatan mereka. Mereka selalu menganggap bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah manifestasi dari sifat umum manusia, sebab memang benar semua orang berbohong. Filsafat favorit mereka:

“Seandainya berbohong adalah tindakan yang melanggar hukum, tentunya kita semua adalah kriminal. Karena tidak mungkin kita semua adalah kriminal, tentunya berbohong tidaklah melanggar hukum.”

Para penipu, yang mengambil resiko besar untuk melakukan apa yang mereka lakukan, bukanlah manusia dengan cara berpikir yang normal.

Bicara soal resiko, ini adalah hal yang membedakan antara penipu profesional dengan yang amatiran. Semua penipu adalah orang-orang yang ingin mendapatkan uang cepat, uang gampang, menikmati kebebasan tanpa limit, dan tergila-gila pada tantangan atas resiko perbuatan mereka. Namun, adalah kemampuan menangani resikolah yang akhirnya membedakan mereka.

Sekadar jago berbohong dan menangani resiko saja tidak akan membuat seseorang men-jadi penipu yang sukses. Untuk berhasil di arena ini dalam jangka panjang, tampaknya para penipu memang membutuhkan “suplemen” yang lain. Seorang mantan polisi mengatakan: “Penipu bukan hanya orang yang pandai berbohong, mereka memang menikmati kesenangan lewat tindakan manipulatif untuk merugikan orang lain, dan mereka juga senantiasa menghancurkan segala sesuatu yang bukan rancangan mereka. Orang-orang seperti ini memiliki kebencian yang sangat besar terhadap semua peraturan sosial.”

Mengapa para penipu berhasil?

Kita semua mungkin berpikir bahwa ada banyak alasan untuk tidak mempercayai orang lain. Namun, itu adalah pikiran sebelum ujian datang. Dalam prakteknya, kewaspadaan kita sebenarnya tidak bertambah hanya karena kita berpikir demikian.

Anda pergi ke supermarket membeli beberapa jenis buah-buahan. Anda memakannya tanpa berpikir panjang. Seberapa yakinkah Anda makanan yang sedang Anda makan benar-benar telah lulus uji kelayakan dan bebas bahan kimia berbahaya?

Anda ingin jalan-jalan ke luar pulau. Anda memutuskan untuk naik pesawat. Setelah check-in, Anda naik ke pesawat tanpa berpikir, seberapa aman pesawat yang sedang Anda tumpangi. Sebagian orang sempat berdoa sebelum pesawat take-off, tetapi mayoritas tidak. Sadarkah Anda bahwa Anda sedang menyerahkan kepercayaan absolut kepada sang pilot dan maskapai penerbangan? Pernahkah Anda khawatir Anda akan terpaksa merasakan hukum gravitasi di tengah langit bila ada yang tidak beres di mesin pesawat itu?

Oke lah, saya akui ini adalah perumpamaan yang agak paranoid. Sebenarnya maksud saya sederhana saja, yaitu bukan karena kita percaya bahwa banyak orang tidak layak dipercaya, lantas kewaspadaan kita otomatis menjadi meningkat.

Kebanyakan orang, berdasarkan pengalaman saya, benar-benar memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mempercayai apa yang mereka lihat dan apa yang mereka baca. Hal inilah yang menyebabkan para pelaku penipuan konsumen berhasil memperdayai mangsanya.

Sebagai tambahan, sebelum kita menuju bab berikut tentang contoh-contoh kasus penipuan konsumen, saya tekankan lagi bahwa penipu tidaklah sama dengan pelaku kejahatan fisik. Para penipu mendapatkan uang dari konsumen yang secara suka rela memberikan uang kepada mereka. “Seni” dari penipuan adalah bagaimana membujuk dan membuat konsumen merasa yakin bahwa mereka sedang melakukan hal yang cerdas, bukannya hal yang bodoh.


BAB 2 : Telemarketing & Berbagai Investasi Palsu

Di bab ini, kita akan membicarakan berbagai jenis penipuan telemarketing dan janji-janji investasi yang menyesatkan konsumen:

Anda Memenangkan Hadiah!

Contoh #1:

Sebuah perusahaan telemarketing mengi-rimkan surat kepada Anda, katanya Anda telah dipastikan mendapatkan salah satu dari lima hadiah ini:

1. Satu buah motor Honda.
2. Satu paket liburan impian.
3. Satu set home entertainment.
4. Uang tunai sebesar 5 juta rupiah.
5. Uang tunai sebesar 1 juta rupiah.

Apa yang akan Anda dapatkan adalah tergantung pilihan acak oleh komputer mereka. Namun, sebelumnya Anda harus membayar dahulu biaya promosi dan pajak sebesar 500 ribu. Mereka meyakinkan Anda bahwa 500 ribu ini masih lebih rendah dibanding nilai barang yang akan Anda dapatkan.

Tidak akan ada orang yang mendapatkan motor Honda, tidak juga hadiah uang tunai. Yang disediakan oleh perusahaan telemarketing ini hanyalah paket liburan dan home entertainment.

Namun, jangan salah, ternyata yang mereka maksud dengan liburan impian adalah beberapa lembar voucher hotel, tidak termasuk biaya perjalanan dan akomodasi. Dan apa yang mereka maksud dengan home entertainment adalah sebuah radio kecil dan sebuah speaker murah.

Bukannya untung, bila Anda mempercayai mereka, Anda akan berakhir dengan kerugian baik materi maupun waktu.

Contoh #2:

Anda mendapatkan sebuah surat, isinya adalah Anda beruntung terpilih untuk mendapat-kan hadiah sebuah jam tangan emas Rolex dari perusahaan mereka. Namun, sebelumnya Anda harus membayar terlebih dahulu biaya pengiriman, pajak hadiah, dan juga Anda harus membeli salah satu dari produk yang mereka jual kepada Anda. Produk yang mereka tawarkan adalah:

 Satu set multi vitamin, seharga 300 ribu.
 Satu set kosmetik, seharga 250 ribu.
 Sebuah kalung dengan batu kristal, seharga 750 ribu.
 Sebuah cincin emas, seharga 1,5 juta.

Staf dari perusahaan mereka menghubungi Anda, menjelaskan dan membujuk agar Anda bersedia membeli produk mereka, alasan-alasan mereka kedengarannya valid:

Perusahaan tentu saja membutuhkan penjualan agar biaya hadiah kami yang mahal bisa tertutupi.
Kami rasa pembelian dari Anda cukup fair, bagaimanapun Anda telah memenangkan sebuah jam yang sangat berharga.

Setelah Anda membayar, bila Anda berun-tung, mereka benar-benar akan mengirimkan produk yang Anda beli kepada Anda.

Namun, multi vitamin yang Anda terima hanyalah beberapa botol vitamin seharga kurang dari 100 ribu, kosmetik yang Anda terima juga jauh di bawah 250 ribu. Batu kristalnya ternyata palsu, dan nilai cincin emasnya pun jauh di bawah harga beli Anda.

Mengenai jam Rolex, mereka mengatakan stok sedang habis dan mereka akan segera mengirimkan kepada Anda bila barang sudah tiba.

Perusahaan telemarketing seperti ini tidak memiliki alamat yang tetap, modus operasi mereka terutama adalah menggunakan telepon. Bila target mereka sudah tercapai, mereka akan kabur dan pindah ke kota lain.


Menyumbang! Menyumbang!

Contoh #3:

Beberapa perusahaan telemarketing mengklaim mereka adalah representatif dari beberapa yayasan sosial ternama. Mereka akan menelepon ataupun menyurati Anda untuk memberikan sejumlah sumbangan dengan cara membeli produk dari mereka. Mereka mengatakan keuntungan dari penjualan produk mereka akan digunakan untuk diberikan kepada beberapa yayasan sosial yang bekerja sama dengan mereka.

Bukan hal yang aneh bila mereka mencoba menjual kepada Anda produk-produk umum dengan harga puluhan kali lipat harga yang wajar. Para konsumen yang membeli mengira mereka benar-benar sedang melakukan hal yang mulia.

Para telemarketer sering mengatakan bahwa keuntungan mereka akhirnya digunakan untuk:

 Membeli obat-obatan untuk sejumlah rumah sakit kecil ataupun puskesmas yang terletak di wilayah yang miskin.
 Bantuan beasiswa untuk anak-anak dari keluarga miskin.
 Membeli pakaian dan makanan bagi sejumlah panti jompo dan panti asuhan.
 Biaya pengobatan untuk para penderita sakit ginjal, ataupun penderita kanker yang tidak memiliki biaya pengobatan.

Kenyataannya, tidak ada uang yang akan disumbangkan. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menjual produk yang mahal kepada Anda dan mendapatkan keuntungan yang besar untuk diri mereka sendiri.

Liburan Impian

Contoh #4:

Anda mendapatkan surat ataupun email, isinya adalah bahwa Anda telah terpilih sebagai orang yang beruntung untuk mendapatkan sebuah liburan impian. Anda akan mendapatkan perjalanan gratis dengan kapal pesiar mewah.

Nomor telepon yang mereka berikan kepada Anda dalam surat mereka biasanya adalah nomor 1-800-xxx. Begitu Anda menghubungi mereka, mereka akan menceritakan betapa beruntungnya Anda, sebab Anda adalah satu di antara sangat sedikit orang yang bisa mendapatkan liburan impian ke Bahama ataupun Karibia dengan biaya yang sangat rendah dibandingkan dengan biaya yang biasanya harus dibayar oleh turis biasa. Biasanya liburan dengan kapal pesiar ke tempat itu akan berkisar sekitar $2.500. Namun sekarang Anda dapat mengi-kutinya dengan hanya membayar biaya sekitar $388, $488, ataupun $588.

Mereka menekan Anda untuk segera “mengamankan” ataupun “meregistrasi” liburan ini dengan meminta nomor kartu kredit Anda. Mereka mengatakan bahwa biaya ini telah termasuk semua biaya akomodasi menuju dan dari Bahama ataupun Karibia. Mereka juga mengatakan bahwa Anda perlu membayar sekarang juga.

Bila Anda meminta waktu untuk berpikir ataupun surat tertulis dari mereka, respon mereka biasanya adalah:

 Promosi ini adalah sangat terbatas, hanya untuk beberapa orang yang beruntung saja.
 Bila Anda menunggu sampai surat kami sampai ke rumah Anda, tawaran ini pasti sudah habis diambil orang.

Begitu Anda memberikan nomor kartu kredit, Anda akan dialihkan kepada seorang “supervisor”, yang kenyataannya adalah seorang petugas di bagian departemen “verifikasi” mereka, orang yang akan mengkonfirmasikan detail penjualan ini.

Tidak seperti pembicaraan sebelumnya, percakapan Anda dengan petugas verifikasi adalah direkam dalam kaset. Mereka akan menanyakan lagi nomor kartu kredit Anda, menjelaskan secara singkat paker liburan ini, dan mengingatkan kepada Anda bahwa pembelian ini adalah non-refundable.

Nyatanya, sebenarnya biaya yang Anda bayar ini sama sekali bukan untuk biaya perjalanan liburan impian yang Anda bayangkan. Porsi terbesar dari uang ini akan digunakan untuk menggaji pemilik ide dan para telemarketer. Untuk $388, $488, dan $588 yang Anda bayarkan, apa yang akan Anda dapatkan hanyalah sebuah paket berisi video, sejumlah brosur iklan liburan, dan beberapa lembar voucher untuk kapal pesiar Bahama dan Karibia.

Kredit! Kredit!

Contoh #5:

Anda mendapatkan surat ataupun email:

Dengan bersemangat, Anda segera meng-hubungi mereka. Mereka menjanjikan Anda sebuah kartu kredit dari Master Card ataupun Visa, limit sebesar $5.000. Tidak mungkin ditolak, tidak masalah apakah Anda memiliki catatan kredit buruk di masa lalu ataupun tidak.

Mereka menyuruh Anda membayar biaya proses sebesar $149,95 baik dengan debit maupun dengan menggunakan kartu kredit yang sedang Anda miliki.

Setelah itu, mereka akan mengirimkan sebuah paket kepada Anda. Isinya adalah sebuah kartu anggota belanja dan sebuah katolog. Anda disuruh untuk berbelanja minimal $400 untuk barang-barang yang telah di-mark-up di katalog tersebut, setelah itu baru aplikasi kartu kredit Anda dapat diproses.

Setelah Anda berbelanja, akhirnya mereka akan mengirimkan beberapa lembar formulir aplikasi kartu kredit kepada Anda. Anda harus mengurus sendiri aplikasi tersebut, dan “garansi” yang mereka janjikan sebelumnya sama sekali tidak benar.

Contoh #6:

Suatu hari, Anda mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari lembaga perbankan negara. Mereka mengklaim bisa membersihkan catatan buruk apapun sehubungan dengan sejarah kredit Anda. Kemudian Anda pun melakukan percakapan dengan mereka:

Anda : “Jadi kalian akan memperbaiki catatan kredit saya?”
Penipu : “Benar sekali. Kami bisa memperbaiki catatan kredit Anda secara legal, tidak masalah seburuk apapun catatan Anda.”
Anda : “Ya, sebenarnya sekarang pun saya sedang bermasalah dengan cicilan ...”
Penipu : “Tidak masalah, apapun yang sedang Anda hadapi, kami sanggup memper-baikinya. Anda bahkan tidak perlu melunasi tagihan dan pajak terhutang sebelumnya.”
Anda : “Jadi sekalipun saya memiliki setumpuk catatan hitam kredit, Anda tetap bisa memperbaikinya?”
Penipu : “Saya ulangi sekali lagi, tidak penting seburuk apapun catatan kredit Anda, kami bisa secara legal menghapus-kannya dari catatan perbankan.”
Anda : “Wah, apa yang sebenarnya kalian lakukan, mencuri komputer mereka?”
Penipu : “Kami menggunakan Undang-Undang Pelaporan Kredit, yang telah disetujui oleh Pemerintah. UU tersebut dapat memaksa perbankan untuk menghapus sejumlah catatan buruk konsumen tentang kredit mereka seandainya pihak perbankan belum memiliki bukti kuat akan kejahatan yang disengajai konsumen.”
Anda : “Ehm…. Seberapa besar harapan untuk berhasil?
Penipu : “Dari pengalaman kami, tingkat keefektifan sistem kami adalah setidaknya 95%, itu pun masih cukup konservatif.”
Anda : “Jadi, apa yang perlu saya lakukan sekarang?”
Penipu : “Anda perlu membayar dahulu biaya aplikasi. Harganya hanya $200. Angka ini tidak ada artinya dibanding dengan manfaat yang bisa Anda terima nantinya.”
Anda : “Kapan saya bisa mendapatkan hasilnya?”
Penipu : “Biasanya kami sudah berhasil membersihkan catatan kredit klien kami dalam waktu 45 hari, walaupun beberapa orang membutuhkan waktu yang lebih lama, seperti enam sampai delapan bulan.”

Bila pembicaraan berlangsung lebih lama, dan Anda kemudian memberikan uang Anda kepada mereka, Anda tidak akan mendengar suara mereka lagi. Tidak ada yang namanya lembaga pembersih catatan kredit konsumen!

Contoh #7:

Anda membaca di koran:

Setelah Anda menelepon mereka, mereka mengatakan bahwa nilai pinjaman maksimal adalah sebesar beberapa ribu dolar. Namun Anda harus membayar biaya aplikasi sebesar beberapa puluh sampai beberapa ratus dolar di muka.

Target dari operasi ini adalah mereka yang sedang dalam krisis finansial, seperti mereka yang sedang kehilangan pekerjaan, orang-orang yang memiliki sejarah kredit yang buruk, ataupun mereka yang sedang kepepet mem-butuhkan uang.

Kenyataannya, walaupun memang setiap proses peminjaman uang akan membutuhkan biaya aplikasi, biaya tersebut tidak perlu dibayar di muka. Anda hanya perlu membayar bila aplikasi Anda telah diterima dan orang yang memberikan pinjaman sudah jelas orangnya.

Untuk kasus di mana biaya aplikasi harus dibayar di muka, maka uang yang Anda bayar akan masuk ke kantong para penipu (agen pinjaman palsu), bukannya masuk ke kantong pemberi pinjaman yang sebenarnya, dan keseluruhan kegiatan loan-brokering ini pada dasarnya adalah penipuan belaka.

Kami Datang Untuk Membantu…

Contoh #8:

Dunia penipu terdiri dari orang-orang yang sering kali sudah saling kenal, alias teman sendiri. Para penipu kemudian pun melakukan jual beli daftar prospek, orang-orang yang telah mereka tipu. Mereka menyadari bahwa ada kecenderungan bahwa orang yang pernah tertipu cenderung untuk bisa kembali ditipu.

Seorang nenek, yang dalam suatu penipuan telemarketing mengalami kerugian yang sangat besar, suatu hari didatangi oleh seorang pemuda dengan penampilan yang rapi. Pemuda tersebut mengaku berasal dari tim investigasi polisi divisi penipuan konsumen. Pekerjaannya adalah mendata kerugian konsumen, mencari para penjahat, dan mengembalikan uang hasil penipuan kepada konsemen.

Untuk jasa tersebut, konsumen perlu mem-bayar sejumlah uang di muka. Nenek tersebut membayar uang muka yang diminta, dan tidak pernah didatangi pemuda tersebut lagi.

Ingat:

Memang benar ada polisi ataupun aparat yang bekerja keras mencari para pelaku penipuan. Namun mereka tidak seharusnya meminta fee apapun kepada para korban, apalagi minta di muka.

Ini Yang Paling Amoral!

Contoh #9:

Sekelompok penipu memiliki spesialisasi untuk mencari rezeki dari orang-orang yang baru meninggal. Tentu saja, mereka tidak men-dapatkan uang dari sang almarhum, mereka mencarinya dari keluarganya.

Beberapa hari setelah upacara pemakaman, para penipu akan mendatangi keluarga tersebut dan menunjukkan tagihan bahwa sang almarhum beberapa minggu lalu sempat membeli barang dari mereka dan belum melunasinya. Mereka berbicara dengan penuh empati dan turut berduka cita atas kematian almarhum.

Biasanya tagihan mereka tidak amat besar, dan pihak keluarga korban dalam suasana itu akan cenderung membayar tagihan yang diminta.

Berbagai Taktik Penekanan

Contoh #10:

Para telemarketer tidak selalu bicara dengan cara yang simpatik. Bila dibutuhkan, mereka juga bisa bicara dengan penuh tekanan dan paksaan. Suatu ketika, Anda akan mendengar kata-kata semacam ini:

 Cukup! Kamu adalah seorang pengusaha. Kamu membuat keputusan setiap hari. Kamu tidak menjadi kaya karena sifat ragu-ragumu. Sekarang putuskanlah, mari kita transaksi!
 Kesempatan ini hanya untuk jumlah orang yang sangat terbatas!
 Menunda berarti Anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan karena pasar sedang bergerak dengan kencang.
 Kesempatan ini hanya akan tersedia sampai hari ini. Besok pasti sudah tidak ada lagi.
 Sekarang pergilah ke bank. Ambil uangnya dan segera hubungi saya!
 Tidak ada uang? Pinjamlah dengan orang! Kamu bisa membayarnya nanti dengan keuntungan yang akan kamu dapatkan.

Penerbit Gadungan

Contoh #11:

Sejumlah orang selalu bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Mereka mengira para penulis buku adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa. Orang-orang ini tidak menyadari kenyataan bahwa penulis buku hanyalah orang biasa, bedanya adalah mereka bersedia menuliskan cerita-cerita ataupun pengetahuan yang mereka ketahui untuk dibagikan kepada orang lain.

Para penipu yang melihat kesempatan ini, mengiklankan kesempatan ini di berbagai media lokal dan mulai mencari penulis berbakat di masyarakat. Anda mungkin pernah membaca:

Setelah Anda menghubungi mereka, mereka akan menyuruh Anda memberikan naskah untuk dibaca oleh “redaktur” mereka. Setelah beberapa minggu, mereka akan menghubungi Anda, mengatakan bahwa naskah Anda cukup bagus.

Perbedaan penerbit yang legal dan gadungan adalah apa yang mereka katakan setelah naskah Anda dianggap bagus…

Penerbit gadungan menjanjikan royalti tertentu kepada Anda, namun mereka juga mengatakan kepada Anda bahwa sebelum naskah Anda bisa diterbitkan, naskah Anda perlu diedit terlebih dahulu. Biaya edit per halaman adalah Rp xxx, yang harus Anda bayar di muka. Selain itu, Anda juga harus membayar berbagai biaya tambahan sebelum buku Anda bisa diterbitkan dan dijual di pasaran.

Bila Anda ternyata cukup naif dan mempercayai mereka, habislah uang Anda. Kenyataannya, penerbit gadungan nyaris tidak pernah menolak naskah, kecuali naskah Anda benar-benar sedemikian buruknya dan tidak mungkin diedit oleh “redaktur” mereka.

Tidak ada yang namanya penulis membayar penerbit. Penerbitlah yang seharusnya membayar penulis! Memang benar ada yang namanya biaya edit naskah, namun itu adalah bagian dari ongkos produksi penerbit, bukan beban penulis.

Di Indonesia, penulis buku biasanya bisa mendapatkan royalti antara 8% sampai 15% dari harga jual buku, tergantung kesepakatan bersama.

Agen Hak Paten Palsu

Contoh #12:

Setiap tahun, puluhan ribu manusia cerdas yang berhasil menemukan teknologi ataupun ide baru bercita-cita untuk mendapatkan hak paten atas penemuan mereka.

Memang ada sejumlah perusahaan legal yang menawarkan jasa hak paten ataupun penjualan penemuan ke berbagai manufaktur untuk komersialisasi penemuan tersebut.

Sayangnya, ada juga perusahaan yang diciptakan dan dikelola oleh mereka-mereka yang tidak punya itikad baik, alias para penipu.
Para agen-agen palsu ini, selain secara bersemangat membujuk para penemu men-daftarkan hak paten mereka, tentu saja dengan membayar terlebih dahulu, mereka juga membuat klaim palsu dan berlebihan atas prospek potensial pasar yang bisa dilayani oleh penemuan baru para langganannya. Setelah menerima bayaran, mereka tidak selalu menghubungi manufaktur untuk menjual penemuan klien mereka, lebih seringnya, uang yang mereka terima mereka gunakan untuk membayar diri sendiri dan sejumlah karya-wannya.

Kenyataannya, sangat sedikit penemuan baru yang akhirnya sukses di pasar setiap tahun, dan sebuah hak paten tidak selalu meningkatkan kemungkinan sukses Anda di pasar komersial.


Menjual Copyright

Contoh #13:

Beberapa tahun yang lalu, saat saya sedang di sebuah toko majalah, saya melihat sebuah majalah asing, judulnya Small Business Opportunities (SBO), saya membaca beberapa halaman darinya, dan terkesan dengan salah satu tawarannya:

Di iklan itu, pemiliknya mengatakan hal-hal semacam ini:

 “Bila Anda memang menginginkan uang gampang yang banyak, inilah caranya. Tidak ada cara yang lain!”
 “Beberapa tahun terakhir ini, saya menjual manual dengan topik yang diinginkan masyarakat dengan harga yang terjangkau, antara $15 sampai $50 per manual. Saya mengiklankan diri di berbagai majalah di seluruh negeri ini.”
 “Biaya produksi per manual sangatlah rendah, cuma beberapa puluh sen, keuntungan dari bisnis ini adalah sangat luar biasa.”
 “Keuntungan per bulan yang bisa Anda dapatkan setidaknya mencapai beberapa ribu dolar, minimal!”
 “Karena keberhasilan saya, saat ini saya adalah pembicara dengan harga per jam yang sangat tinggi, saya tidak perlu lagi menggeluti bisnis penjualan manual.”
 “Saya akan membatasi pembeli dari copyright manual saya. Tentunya saya tidak ingin melihat persaingan yang terlalu besar karena banyaknya penjual manual yang sama di negeri ini. Hanya Anda yang bereaksi cepatlah yang akan mendapatkannya. Bagi yang terlambat, saya akan mengembalikan uang Anda.”
 “Hubungi saya sekarang! Anda akan kaya lewat usaha penerbitan ini.”

Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa ternyata manual yang dia maksud terdiri dari informasi-informasi umum tentang motivasi, keuangan, dan pengembangan diri yang tersedia secara berlimpah di berbagai toko buku.

Menurut pengakuan dari orang-orang yang membeli copyright dari pemasang iklan tersebut, manual-manual yang mereka cetak tidaklah gampang dijual, banyak orang lebih cenderung membaca buku-buku pengembangan diri klasik di toko buku daripada manual mereka. Klaim bahwa dia akan mengembalikan uang bagi orang yang membeli belakangan juga tidak terbukti!

Pelajarannya:

Bukan karena Anda membaca sebuah tawaran dari sebuah majalah ataupun koran yang legal, lantas apa yang Anda baca otomatis juga pasti legal dan jujur. Majalah dan koran tidak akan memverifikasi kejujuran jenis usaha yang membeli ruang iklan dari mereka. Lebih sering daripada tidak, pihak majalah dan koran sendiri juga tidak tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh customer mereka, para pemasang iklan.

Mungkin Anda masih ingat, beberapa tahun yang lalu, sebuah perusahaan yang mengaku dari Jepang, kalau tidak salah namanya G-Cosmos. Mereka memasang iklan besar-besaran hampir setiap hari di koran terbesar di Indonesia, Kompas. Mereka menawarkan kesempatan investasi dengan imbal hasil 10% sampai 30% dari investasi kita. Alamat mereka juga terletak di salah satu gedung perkantoran elit di Jakarta, yang mereka SEWA tentunya. Beberapa bulan setelah itu, perusahaan itu hilang entah ke mana… Investor tidak cuma rugi, tetapi juga terpukul secara psikologis karena kebodohan yang telah mereka lakukan.


Melipat Amplop, plop, plop…

Contoh #14:

Apakah Anda pernah membaca iklan ini?

Untuk orang yang pertama kali membaca, bayangan kita adalah kita akan dikirimkan sekotak brosur bersamaan dengan amplop, kita melipat brosur/kertasnya, masukkan ke amplop, kirimkan ke mereka, dan, yes…, mereka akan membayar kita.

Namun, kenyataannya tidaklah sedemikian sederhana… Ada dua skenario umum dari apa yang akan terjadi:

Pertama, Anda akan menerima kiriman dari mereka, isinya adalah sejumlah brosur dan pesan untuk menyuruh Anda memasang iklan di koran lokal Anda dengan isi yang persis sama dengan iklan yang Anda baca. Ya, benar, Anda harus mencari peserta baru dari program ini. Di iklan yang Anda pasang, Anda perlu menekankan bahwa mereka perlu menyertakan sebuah amplop beserta perangko bila ingin dibalas.

Uang dari pembaca harus disetor kembali ke pemilik program, sedangkan yang Anda kem-balikan ke pengirim adalah amplop mereka beserta brosur yang sudah Anda lipat. Untuk setiap amplop yang Anda kirim, Anda akan dibayar $2 seperti yang sudah mereka janjikan….
Skenario kedua, mereka akan mengirim sejumlah brosur umum dan amplop kepada Anda, dan mengatakan bahwa Anda akan dibayar bila pelipatan dan penyusunan amplop Anda memenuhi standar mereka. Biaya pengiriman kembali adalah ongkos Anda sendiri. Akhirnya, tentu saja, tidak akan ada hasil kerja Anda yang memenuhi standar mereka. Tidak akan ada bayaran dari mereka.

Ingatlah satu hal, membayar orang untuk melipat kertas dan memasukkannya ke amplop adalah gagasan yang gila, bila Anda sendiri tidak akan melakukannya, orang lain juga tidak. Jangan mempercayai iklan-iklan seperti itu. Sudah ada mesin yang dirancang khusus untuk melakukan pekerjaan itu, harganya juga jauh lebih murah dibanding dengan membayar tenaga manusia.

Membaca & Menjadi Kaya???

Contoh #15:

Seseorang menelepon ataupun mengirim surat kepada Anda, katanya mereka mewakili sejumlah penerbit buku di negeri ini. Mereka mengklaim para penerbit bersedia membayar bila Anda membaca buku yang akan mereka terbitkan dan memberi komentar sebelum buku tersebut naik cetak. Anda akan dibayar berdasarkan jumlah kata yang ada dalam buku itu.

Biaya untuk menjadi “pembaca professional” adalah Rp. 75.000,- Anda hanya perlu membayar sekali dan akan menjadi anggota klub mereka seumur hidup.

Apa yang akan Anda terima nantinya adalah sekumpulan nama Penerbit di Indonesia, sebagian ada alamatnya, sebagian lagi bahkan tidak ada alamatnya. Bila Anda menghubungi penerbit yang bersangkutan, Anda baru sadar bahwa tidak ada lowongan untuk menjadi pembaca profesional.

Beasiswa Untuk Buah Hati Anda

Contoh #16:

Biaya pendidikan yang semakin lama semakin tinggi adalah fenomena di berbagai negara, bukan cuma Indonesia. Sejumlah telemarketer yang jeli melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan penipuan yang menjanjikan.

Beberapa dari mereka mulai menelepon ataupun menyurati Anda, mereka mengklaim bahwa mereka berasal dari organisasi non-profit. Misi mereka adalah membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka menjanjikan Anda bahwa apapun keadaan dan prestasi dari anak Anda, dia dapat memperoleh beasiswa, baik dari pemerintah, Bank Dunia, IMF, ataupun berbagai perusahaan swasta besar lainnya. Mereka mengklaim bahwa setiap tahun organisasi-organisasi ini me-nyediakan milyaran dolar untuk membantu para anak sekolahan maupun mahasiswa di seluruh dunia untuk mendapatkan beasiswa. Yang Anda perlukan untuk mendapatkannya hanyalah akses. Merekalah aksesnya!

Supaya anak Anda dapat memperoleh beasiswa, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mendaftarkan anak Anda di program aplikasi mereka. Biayanya berkisar beberapa ratus sampai ribuan dolar. Seandainya beasiswa anak Anda ditolak, uang yang Anda bayarkan akan dikembalikan.

Tentu saja, jangan harap Anda akan mendapatkannya. Untuk uang yang telah Anda bayar, apa yang kemudian akan Anda dapatkan adalah sebuah daftar berisi alamat-alamat sekolah dan universitas yang menawarkan beasiswa. Semua proses aplikasi harus Anda lakukan sendiri. Sama sekali tidak akan ada bantuan dari mereka. Beberapa alamat yang mereka berikan bahkan adalah fiktif.


Pekerjaan Impian

Contoh #17:

Iklan-iklan semacam ini menarik perhatian dari jutaan orang di dunia, semuanya dengan cita-cita yang sama: mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan mendapatkan kesempatan untuk mengelilingi dunia.

Sayangnya, cita-cita dan harapan inipun adalah kesempatan bisnis bagi sejumlah tele-marketer amoral. Mereka biasanya menagih biaya pendaftaran sebesar beberapa puluh dolar sampai ke ratusan dolar untuk “jasa” mereka.

Untuk biaya yang Anda bayar, nantinya Anda akan mendapatkan sebuah paket, isinya adalah deskripsi tentang alamat dari para perusahaan kapal pesiar dan tips untuk melamar ke sana. Semua biaya dan proses aplikasi adalah tanggung jawab Anda sendiri.

Ada juga kasus di mana para telemarketer mendapatkan sebuah pekerjaan untuk Anda, baik benar-benar di kapal pesiar maupun di tempat lainnya (darat), mereka akan mengatakan kepada Anda bahwa ada biaya lainnya yang perlu Anda bayar: Visa, tiket, akomodasi, dll. Semua biaya tersebut sudah di mark-up secara drastis. Gaji Anda nantinya juga akan dipotong untuk mereka. Pada akhirnya, angka final yang harus Anda bayar mencapai ribuan dolar! Mereka tidak mengata-kannya sebelumnya…

Warisan Terkutuk…

Contoh #18:

Sebuah jam dinding yang mati sekalipun bisa menunjukkan waktu secara akurat dua kali dalam sehari, apalagi kata-kata orang yang hidup. Semakin banyak kata-kata dan kemungkinan yang diucapkan, semakin besar kemungkinannya untuk “akurat.”

Inilah yang dimanfaatkan oleh sejumlah penipu dengan kedok peramal (Saya tidak mengatakan semua peramal adalah penipu, maksud saya ada penipu yang menyamar sebagai peramal).

Target dari para penipu yang menyamar sebagai peramal ada banyak sekali, berikut adalah salah satu ilustrasi:

Seorang wanita yang tampak bingung dan sedih mencari bantuan dari seorang peramal jalanan yang dia temui. Setelah bincang-bincang, peramal tersebut bertanya kepada wanita tersebut apakah akhir-akhir ini dia mendapatkan sejumlah uang dadakan? Setelah berpikir sejenak, wanita tersebut mengakui bahwa dua bulan lalu dia mendapatkan sejumlah warisan dari orang tuanya yang baru meninggal.

Peramal tersebut langsung beraksi, dia mengatakan bahwa uang tersebut datang dari sumber yang kurang “bersih”, ada kemungkinan uang tersebut didapat dengan cara yang kurang baik. Dia mengatakan bahwa uang tersebut harus segera dibersihkan, dia pun menyuruh wanita tersebut mengambil uang dari bank dan membawa kepadanya. Setelah sejumlah upacara, peramal mengatakan bahwa sebagian uang tersebut harus disumbangkan ke berbagai yayasan sosial, sebagian lagi harus dikubur di dalam tanah selama beberapa minggu, sisanya baru bisa digunakan. Bila tidak, nasib buruk akan terus menghantui wanita tersebut.

Uang yang ditanam di dalam tanah ini tentunya tidak akan terlalu lama di dalam tanah. Setelah wanita yang kebingungan itu pergi, peramal tersebut juga akan pergi, bersamaan dengan uang yang dia gali dari tanah tersebut.


Bintang Muda Berbakat

Contoh #19:

Berbagai acara reality show yang kita lihat di televisi beberapa tahun terakhir ini telah menjadi inspirasi bagi sejumlah perusahaan pencarian bakat gadungan untuk mengail di air keruh.

Orang tua manapun berharap anak mereka bisa menjadi terkenal, muncul di televisi, dan syukur-syukur sudah menghasilkan banyak uang di saat umur mereka masih kecil.

Beberapa penipu kemudian mendirikan perusahaan pencarian bakat. Mereka mengklaim bahwa mereka telah bekerja sama dengan berbagai Production House dan sudah meng-orbitkan beberapa bintang muda berbakat. Foto dari beberapa bintang baru dipajang di kantor mereka untuk membuat orang tua anak terkesan.

Mereka menawarkan kepada orang tua anak untuk mengikutkan anak mereka ke dalam program pelatihan akting dan modeling mereka, tentu saja dengan biaya kursus setinggi langit. Bila anaknya berhasil, kontrak dengan beberapa PH ternama tinggal menunggu waktu.

Sesungguhnya, yang mereka lakukan kemudian adalah menyewa sejumlah aktor amatiran dan beberapa guru self-development yang kurang profesional untuk mendidik anak-anak dari klien mereka. Di akhir pelatihan, tidak akan ada anak-anak tersebut yang akan mendapatkan kontrak dari PH.


Not-So-Secure Securities…

Contoh #20:

Sebenarnya aneh juga, dalam bahasa Inggris: saham, obligasi, dan berbagai produk-produk derivatif di pasar modal disebut dengan securities. Kenyataan yang kita ketahui, produk-produk seperti ini sangatlah jauh dari aura “aman (secure).”

Penipu tidak selalu mengoperasikan skala perusahaan mereka dalam lingkup kecil. Ada juga penipuan skala yang lebih besar, sangat besar. Anda masih ingat skandal Enron dan WorldCom?

Ya, dua yang barusan adalah penipuan skala raksasa. Kita lihat yang lebih kecil saja. Anda tahu nama-nama berikut ini?

 Concept Technologies Group Inc.
 Diamond Entertainment Corp.
 First Chesapeake Financial Corp.
 Futurebiotics Inc.
 Immunotherapeutics Inc.
 International Franchise System Inc.
 Las Vegas Entertainment Network Inc.
 Officeland Inc.
 Red Hot Concepts Inc
 Sanyo Industries Inc.
 U.S. Transportation Systems Inc.
 International Thoroughbred Breeders Inc.

Mereka semuanya terdaftar di NASDAQ, QTC, dan AMEX sebagai perusahaan publik. Namanya juga keren-keren, bukan begitu?

Selama tiga tahun, perusahaan-perusahaan di atas telah menyebabkan kerugian sebesar lebih dari US$106 juta uang investor yang mempercayai rekomendasi dari mereka untuk melakukan pembelian ataupun penjualan saham.

Contoh #21:

Bagaimana kalau seseorang mengatakan dia bisa menebak secara pasti gerakan dari suatu saham ataupun indeks saham tertentu? Apakah Anda mempercayainya?

Suatu hari, Anda mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari perusahaan investasi pribadi. Dia mengklaim perusahaannya memiliki tim research yang kompeten dan profesional, bahwa analisa mereka memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi.

Tentu saja, siapapun akan sinis dan skeptis dengan klaim seperti ini pada awalnya. Selama berminggu-minggu, orang ini akan terus menerus menghubungi Anda untuk memberikan rekomendasi tertentu.

Suatu hari, mereka menghubungi Anda, mengatakan bahwa minggu ini indeks Hang Seng akan naik. Satu minggu berlalu, indeks Hang Seng ternyata memang naik.

Beberapa hari lagi, mereka kembali menghubungi Anda, katanya indeks Hang Seng masih akan naik minggu ini. Anda menunggu, dan mereka benar. Indeks memang naik.

Dua minggu kemudian, mereka mengatakan kepada Anda indeks akan turun. Anda kembali menunggu, kali ini sudah mulai serius… Indeks memang turun minggu itu! Anda menjadi bersemangat dan ingin mendengar lebih banyak. Sudah saatnya untuk invest! Waktunya telah tiba untuk untung besar!

Anda tahu apa yang sebenarnya dilakukan orang itu? Bagaimana mungkin dia bisa begitu akurat? Ada banyak teknik untuk berbohong, salah satunya adalah ini:

Mula-mula, mulailah dengan mencari 200 prospek orang berduit. Katakan kepada 100 orang bahwa indeks akan naik, katakan kepada 100 lainnya bahwa indeks akan turun. Setelah 1 minggu, bila indeks naik, coret 100 nama yang kemarin Anda hubungi bahwa indeks akan turun, mereka tidak akan percaya lagi.

Ulangi proses ini, dari sisa 100 orang, katakan kepada 50 orang indeks akan naik, katakan kepada 50 orang lainnya indeks akan turun. Bila indeks masih naik dalam kurun waktu itu, coret lagi 50 orang yang berada di daftar indeks turun.

Di percobaan ketiga, Anda memiliki 50 orang prospek, katakan kepada 25 orang bahwa indeks akan naik, katakan lagi kepada 25 orang sisanya bahwa indeks akan turun. Di akhir percobaan, Anda akan mendapatkan 25 orang yang akan menganggap Anda sebagai Dewa Saham. Mendapatkan dana dari mereka tidak akan terlalu sulit lagi…

Bila Anda terkagum-kagum atas keakuratan mereka, berarti Anda adalah salah satu dari ke-25 prospek yang “beruntung” itu.

Setelah itu, perusahaan itu akan mengajak Anda untuk bergabung dengan mereka. Keuntungan yang didapatkan akan dibagi sesuai kesepakatan bersama. Kadang-kadang, dana yang Anda setor benar-benar digunakan untuk perdagangan saham ataupun derivatifnya. Namun, cukup sering juga, dana yang Anda setor akan menjadi sumber uang untuk membiayai kehidupan ekstra mewah mereka.


Genius Real Estate

Contoh #22:

Stephen Murphy, mengklaim dirinya sebagai pengganti Donald Trump di Amerika. Dia menulis buku “One Up On Trump”, dan juga 10 buku lainnya tentang real estate dan motivasi.

Dalam buku-buku, iklan, dan seminarnya, dia menggambarkan dirinya sebagai veteran perang Vietnam dan pemabuk yang berhasil menjadi kaya lewat bisnis real estate. Kekayaannya dibangun lewat perusahaannya, American Capital Investments Inc.

Apa yang sebenarnya dia lakukan? Dia mengumpulkan uang dari publik untuk membeli gedung-gedung komersial dan perkantoran, dengan menyembunyikan fakta tentang transaksinya. Sering kali dia menyatakan bahwa sudah ada pembeli berikut yang sedang antri untuk membeli dan para investor yang menyetor uang kepadanya akan mendapatkan keuntungan bahkan dalam waktu kurang dari 30 hari. Dia juga berulang kali memisrepresentasikan keuntungan dari bangunan yang dia beli, dan kadang-kadang menjual kepada publik porsi-porsi bangunan yang bahkan tidak dia miliki.

Dengan buku-buku yang dia tulis, beserta dengan seminar yang dia lakukan, dia berhasil mengumpulkan lebih dari $18 juta. Investornya pada akhirnya kehilangan lebih dari $10 juta.

Genius ini akhirnya dinyatakan bersalah atas enam jenis tuntutan, sayangnya uang investor tidak dapat dikembalikan seluruhnya lagi.
Pesulap Jalanan

Contoh #23:

Seorang wanita setengah baya sedang jalan di sebuah Mall, kemudian seorang Ibu muda menghampirinya dengan ramah. Mereka kemudian mulai berteman, berngobrol dengan akrapnya.

Setelah itu, seorang wanita muda lainnya datang mencari pemilik dari sebuah tas yang dia pegang. Mereka bertiga pun membuka tas itu, ternyata tas itu berisi setumpuk uang tunai.
Mereka mulai bingung apa yang harus mereka lakukan, namun tentu saja mereka ingin membagi uang tersebut.

Tentu saja, kedua wanita muda itu adalah teman sekongkolan, misi mereka adalah menjebak wanita tua itu untuk mendapatkan sejumlah uang darinya.

Salah satu wanita muda mengaku dia bekerja di perusahaan pengacara. Dia mengambil teleponnya dan mulai menghubungi kantornya. Setelah itu, dia mengatakan bahwa menurut hukum, bila mereka mau membagi uang tersebut, mereka harus bisa membuktikan bahwa mereka masing-masing memiliki cukup banyak uang untuk “menghidupi diri sendiri” saat pengacara mencoba mencari pemilik yang sebenarnya. Katanya, pengacara di kantornya merekomendasikan mereka agar masing-masing menyetor sejumlah uang tertentu untuk membuktikan itikad baik dan sebagai bukti bahwa mereka memang memiliki cukup uang untuk bertahan selama masa tunggu.

Maka mereka pun pergi ke ATM dan mengambil sejumlah uang. Uang itu mereka campur bersama uang di tas yang mereka temukan. Setelah itu, dengan ketrampilan lapangan yang telah mereka latih, kedua wanita muda itu akan mengganti tas itu dengan tas lainnya yang serupa yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Wanita tua itu, akhirnya akan disuruh menyimpan tas palsu yang berisi kertas-kertas bekas. Setelah sampai di rumah, wanita tua itu baru sadar telah ditipu…


Nigerian Fraud

Contoh #24:

Skema penipuan ini membidik warga kelas menengah, usia pertengahan, para pengusaha ataupun profesional yang biasanya lebih sulit ditipu. Nilai kerugian yang disebabkan skema ini diperkirakan mencapai $1 juta setiap hari di Amerika Serikat saja, belum termasuk negara lain. Anda harus hati-hati bila mendapat fax, email, ataupun surat seperti contoh berikut:

Lagos, Nigeria
Kepada : Pimpinan Perusahaan / CEO xxx-xxx Yang Terhormat,

Proposal Rahasia

Setelah berkonsultasi dengan sejumlah rekan saya dan informasi yang saya dapatkan dari Kamar Dagang dan Industri Nigeria, saya memutuskan untuk meminta bantuan Anda agar kami dapat mentransfer dana sebesar US$50.000.000,- (lima puluh juta dolar Amerika) ke rekening Anda.

Dana di atas adalah akibat tagihan ganda yang kami lakukan terhadap sebuah kontraktor luar negeri sekitar lima tahun lalu. Dana tersebut kemudian ditahan oleh Bank Sentral Negeria sejak saat itu.

Sekarang dana itu sudah dapat ditransfer ke luar negeri dan untuk itulah kami membutuhkan Anda. Sangatlah penting untuk diketahui bahwa kami sebagai warga negara Nigeria tidak diperkenankan untuk memiliki rekening di luar negeri. Dana yang akan kami transfer akan dibagi dengan komposisi berikut: 70% untuk kami, 25% untuk Anda, dan 5% untuk berbagai biaya lokal maupun internasional yang akan keluar akibat proses transfer ini.

Namun, menurut hukum yang berlaku di Nigeria, untuk melaksanakan transfer ini, Anda perlu membuka dahulu sebuah rekening di Nigeria dengan saldo minimal US$100.000,-

Bila Anda setuju dengan kesepakatan ini, kami sangat menantikan kehadiran Anda di Lagos, dan saat itu saya akan memperkenalkan Anda kepada representatif dari NNPC, termasuk juga para pejabat di Bank Sentral Nigeria.

Tolong hubungi kami secepatnya di nomor xxx-xxx. Waktu adalah hal yang sangat penting bagi kami untuk menyelesaikan proses transfer ini secepatnya.

Hormat Kami,
Dr Albu Arhu


Ada berbagai skenario untuk memancing Anda mengeluarkan uang. Untuk keamanan Anda, hal yang paling penting untuk Anda ingat adalah bahwa apapun yang mereka katakan, Anda tidak perlu mendengarkannya. Tidak usah menggubris surat ataupun email seperti ini.

***


Sabtu, 10 Januari 2009

Mengenai Israel - Gaza

Sudah 2 minggu lebih pembantaian masal terbaru warga Palestina terjadi. Pelakunya, Israel, bukan saja tidak diapa-apakan, malahan media Barat tetap saja mencoba memposisikan mereka seolah-olah mereka juga adalah korban. Bahwa mereka, warga Yahudi Israel, hanya ingin mempertahankan "hak" mereka atas tanah di Palestina.

Coba baca lagi Sejarah Dinasti Rothschild.

Saat ini, 90% orang Yahudi di dunia adalah keturunan dari Khazar, atau yang lebih sering disebut sebagai Yahudi Ashkenazi. Orang-orang ini berbohong kepada seluruh dunia bahwa tanah Israel adalah tanah leluhur mereka, padahal kampung halaman sebenarnya dari nenek moyang mereka ada di Georgia yang terletak 800 mile dari Israel.

Alasan mengapa keturunan Khazar mengklaim mereka sebagai orang Yahudi adalah karena pada tahun 740 Masehi, atas perintah dari raja mereka (King Bulan), rakyat Khazaria harus memeluk kepercayaan Yahudi, tetapi tentu saja itu tidak mengubah gen mereka dari Mongolia Asia (Turki) menjadi orang Yahudi.



1871 : Seorang Jenderal Amerika bernama Albert Pike, yang telah menjadi anggota Illuminati atas pengaruh Guiseppe Mazzini, menyelesaikan cetak birunya untuk rancangan tiga perang dunia mendatang.

Albert Pike

Perang dunia I adalah perang untuk menghancurkan Tsar Rusia, seperti yang pernah dijanjikan Nathan Rothschild tahun 1815. Tsar akan digantikan oleh komunisme yang akan digunakan untuk menyerang agama, terutama Kristiani. Perbedaan antara kekaisaran Inggris dan Jerman akan digunakan sebagai penyebab perang ini.

Perang dunia II didasari oleh kontroversi antara fasisme dan politik zionisme dengan pembunuhan orang Yahudi sebagai pemancing kebencian orang terhadap Jerman. Perang ini dirancang untuk menghancurkan fasisme (yang juga dirancang Rothschild) dan meningkatkan pengaruh politik para Zionist. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan pengaruh komunisme ke level yang bisa menandingi kekuatan Kristiani.

Perang dunia III dirancang dengan menciptakan kebencian terhadap dunia Muslim dengan menempatkan mereka untuk berperang melawan kekuatan Zionist. Saat itu terjadi, negara-negara lain di dunia akan terpaksa berperang satu sama lain dengan menyebabkan kehancuran bagi mental, fisik, spiritual, dan ekonomi mereka.

***

Negara Israel didirikan atas berbagai agenda, salah satu tujuan utamanya adalah untuk memprovokasi kebencian dari negara-negara Muslim dan untuk memicu perang dunia ke-3. Jadi Israel pada dasarnya tidak akan berdamai dengan alasan apapun juga dengan para tetangganya.

Tentu saja, argumen bahwa mereka hanya ingin mempertahankan hak mereka untuk "kembali" ke tanah leluhur mereka adalah bullshit! Bagaimana mau "kembali" kalau leluhur mereka tidak pernah meninggalkan tanah itu sebelumnya? Tanah leluhur orang Khazar itu terletak di Georgia, bukan tanah Israel yang mereka tempati sekarang.

Percuma siapapun mencoba menyarankan agar mereka berunding dengan pihak-pihak lainnya untuk berdamai. Mereka tidak akan melakukannya! Berdamai adalah berseberangan dengan alasan negara itu didirikan.

Kecuali kita menangkap dan mengeksekusi para otak di belakang layar (pimpinan zionis), bila tidak konflik buatan di Timur Tengah ini sampai kapan pun tidak akan selesai (pimpinan zionis lucunya tidak tinggal di Israel.. Keluarga bankir internasional seperti Rothschild, Rockefeller, Warburg, Oppenheimer, dll tersebar di berbagai kota-kota indah di Eropa, mereka tidak tinggal di Israel!).

Israel dari tahun ke tahun, secara sengaja dan terencana, sedang memaksakan terjadinya perang. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya!!

Apakah kita akan memasuki perangkap mereka, setuju dengan berbagai aksi pengiriman pasukan untuk berperang melawan para pembunuh di Israel, atau mau memilih jalan tanpa pertumpahan darah dengan cara menangkap terlebih dahulu otak dan sumber dana mereka (bankir internasional)?

Pikirkanlah...

Kamis, 08 Januari 2009

Mata Uang, Anggaran Belanja, dll

Omong lagi mengenai uang.. Hari ini kita bicara tentang mata uang, logika anggaran belanja, dan serba-serbi lainnya...

Coba Anda bayangkan perumpamaan ini:

Di sebuah desa terdapat 3 orang: A, B, dan C.

A menanam jagung, B membuat gerobak, dan C hidup sebagai nelayan yang menjual ikan. Selama bertahun-tahun, mereka berdagang dengan cara barter, di mana produk yang mereka produksi mereka tukarkan dengan produk orang lain dalam jumlah yang menurut mereka nilainya setara.

Pada suatu tahun, karena suatu masalah, tanaman jagung A gagal panen, dan dia tidak punya jagung untuk ditukarkan dengan B dan C. Karena B dan C memang kelebihan persediaan gerobak dan ikan, dan juga karena selama ini A adalah orang yang jujur, maka B & C memutuskan untuk memberikan hutang kepada A. A akan menulis selembar surat hutang, menyatakan bahwa dia akan mendapatkan gerobak dan ikan dari B & C dalam jumlah tertentu, dan akan mengembalikan nilai barang tersebut dengan jagung yang akan dia bayarkan pada musim panen berikut. Hasilnya, semua orang merasa puas. A mendapatkan gerobak dan ikan untuk bertahan hidup, dan B & C pun berhasil “menjual” produksi mereka.

Di musim panen berikut, lagi-lagi A mengalami musibah. Jagungnya kembali gagal panen, dan dia kembali menulis surat hutang kepada B & C untuk “membeli” gerobak dan ikan mereka. B & C sedikit merasa tidak senang, namun karena mereka sangat percaya kepada A, mereka menerima surat hutang dari A. Di hari-hari kemudian, surat hutang yang ditulis A bahkan bisa diperdagangkan antara B & C untuk saling bertukar gerobak dan ikan.

Suatu ketika, A merasa bahwa strategi surat hutang yang dia tulis ini bisa bertahan selamanya, dan dia mulai mengabaikan tanaman jagung dia sama sekali. Dia menghabiskan kebanyakan waktunya yang berharga untuk menikmati hidup dan bermain golf. Ketika musim panen tiba, dia tinggal menulis surat hutang baru kepada B & C.

B & C, yang merasa ada yang tidak beres dengan tindakan A, kemudian pergi ke ladang A untuk melakukan investigasi, dan terkejut karena ternyata A bahkan tidak menanam bibit jagung. A sudah tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk membayar hutangnya. B & C akhirnya menyadari bahwa “penjualan” mereka kepada A selama ini adalah imaginer. Mereka tidak akan mendapatkan kembali nilai barang (jagung) dari A sebesar nilai gerobak dan ikan yang selama ini sudah mereka berikan kepada A.

****

Uang adalah alat tukar (medium of exchange), jadi surat hutang si A pada contoh di atas adalah uang, karena itulah yang dipakai oleh A untuk mendapatkan barang dari B & C, dan juga bisa dipakai oleh B dan C untuk saling bertukar hasil produksi mereka.

Perhatikan bahwa si A bisa membeli sebanyak yang dia mau tanpa perlu memproduksi barang selama surat hutang dia diakui oleh B dan C. Pada dasarnya, selama B & C bersedia menerima surat hutang itu, tidak ada limit waktu seberapa lama A bisa duduk nongkrong sambil "membeli" barang dengan surat hutang dia.

Di dunia nyata hari ini, si A adalah Amerika Serikat. Negara ini secara konsisten telah mengambil kebijakan defisit spending selama 2 dekade ini. Dan kalau Anda melihat kebijakan pemerintah mereka, tampaknya mereka tidak ada niat untuk berbalik arah. Industri dan manufaktur mereka terus dipindahkan ke negara murah seperti Cina, India, Vietnam, Indonesia, dll. Yang tersisa di sana hanya industri retail dan sejumlah perusahaan teknologi, yang inipun mulai meninggalkan Amerika tahun-tahun ini. Dan perhatikan apa topik favorit media sekarang di sana...

"Stimulus"

Dibiayai pakai apa? Negara itu tidak memiliki surplus anggaran (tabungan), demikian juga dengan rakyatnya, jadi jawabannya adalah surat hutang baru. Gali lubang tutup lubang kawan...

(& Jangan lupa, dalam sistem moneter yang kita anut, uang adalah kredit (hutang). Dan yang namanya hutang itu harus dibayar kembali + bunga. Paket stimulus versi mereka dalam bahasa yang paling sederhana adalah menyuruh pemerintah dan rakyat untuk menggali lubang lebih dalam lagi dari sekarang, tetapi dengan propaganda seolah-olah membela kepentingan rakyat supaya rakyat setuju dengan stimulus itu. Siapa yang nantinya mendapat untung? Hehe... The bankers again, stupid!)

Defisit perdagangan Amerika

Jadi, satu hal yang perlu Anda pelajari dari contoh di atas adalah, ada perbedaan antara kekayaan (wealth) dengan uang (money).

Sebuah negara mungkin saja tidak memiliki kekayaan, tetapi dia tidak mungkin kekurangan uang. Zaman sekarang uang hanyalah selembar kertas, bahkan hanya angka-angka digital di komputer. Kalau mau melihat contoh yang ekstrim, lihatlah Zimbabwe sekarang.

Kekayaan pada dasarnya datang dari PRODUKSI (barang & jasa). Uang hanyalah medium pertukaran. Menilai kekayaan berdasarkan jumlah uang bisa akurat selama uang yang dipakai adalah cerminan dari produksi rakyat yang memproduksi barang & jasa sebelumnya.

Dunia menjadikan US dolar sebagai reserve currency. Negara-negara lainnya di luar Amerika juga harus menggunakan US dolar dalam mayoritas transaksi mereka untuk saling bertukar barang. Selama praktek ini tidak dicabut, dan selama Amerika terus mengambil kebijakan defisit spending tanpa niat untuk membayar, seluruh dunia harus mensubsidi Amerika secara gratis.

Saat ini, tsunami finansial sedang melanda Amerika. Mata uang yang dipakai seluruh dunia, US dolar, pun bergoyang keras. Ada yang bilang akan naik tajam, ada yang bilang akan turun tajam. Siapa yang benar??

Silahkan meneliti berbagai faktor "fundamental" yang Anda suka, tetapi menurut saya saat ini faktor yang paling penting adalah tergantung seberapa Amerika bisa mempertahankan status US dolar sebagai reserve currency internasional. Kalau Amerika bisa mencegah negara lainnya menggunakan mata uang masing-masing untuk berdagang, US dolar akan terus menguat. Tetapi kalau Amerika tidak bisa mencegah negara-negara lainnya menggunakan mata uang mereka, US dolar akan bersaing ketat dengan Zimbabwe dolar nantinya.

Usaha pemerintah Amerika ini tidak akan dilakukan hanya dengan perundingan sopan di atas meja. Mereka tentunya bersedia menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Tindakan biadab apapun mungkin mereka lakukan, saya tidak bisa membayangkan sejauh apa mereka bersedia berbuat... So quite hard to tell what will happened next. Perang? Wabah penyakit baru? Atau yang lain?

Next, kita bicara tentang omong kosong di media yang mengatakan "Kelesuan ekonomi di Amerika bisa ditanggulangi dengan cara meningkatkan konsumsi dalam negeri dan perdagangan antar negara di luar Amerika."

Renungkanlah baik-baik efek US dolar sebagai reserve currency kawan. Seluruh dunia membutuhkan US dolar sebagai uang (berdasarkan sistem sekarang). Kalau rakyat Amerika tidak bisa berhutang lebih jauh (karena resesi dan juga bank yang tidak bersedia + tidak sanggup meminjamkan karena mereka sudah insolvent), darimana suplai US dolar nantinya akan berasal? Darimana negara-negara lainnya akan mendapatkan dolar untuk saling berdagang nantinya? Bulan demi bulan, selalu ada hutang yang perlu dibayar kembali ke bank. Kalau pertambahan hutang baru tidak bisa menandingi pembayaran hutang pokok, bunga, dan default pembayaran pinjaman lama, suplai uang US dolar akan terus menurun.



Hanya konsumen dan pemerintah Amerika yang bisa memproduksi US dolar (lewat pengajuan kredit ke perbankan Amerika). Bank sentral negara manapun tidak boleh mencetak US dolar, ingat itu.

Kedua, nilai tukar mata uang. Ambil contoh saja, negara kita, Indonesia. Bagaimana caranya meningkatkan konsumsi di dalam negeri kalau rupiah terus jatuh terhadap dolar dan mata uang lainnya?

Jangankan kalau terjadi PHK masal, tanpa PHK pun daya beli rakyat negara ini terus dikurangi karena jatuhnya rupiah. Bagaimana meningkatkan konsumsi di dalam negeri kalau daya beli rakyatnya sedemikian rendah?

Kita ambil contoh sederhana saja.. Anggaplah pendapatan bulanan rata-rata rakyat negara ini sebesar 2 juta. Kalau dibagi dengan harga nasi goreng rata-rata 8 ribu, berarti sebulan bisa membeli 250 piring. Kalau rupiah terus jatuh dan nantinya harga rata-rata nasi goreng 12 ribu, berarti hanya bisa membeli 167 piring. Dan kalau ditambah faktor PHK (kehilangan 2 juta pendapatan bulanan itu), bagaimana caranya meningkatkan penjualan nasi goreng dalam negeri??

(Lebih jauh mengenai mata uang, apa & siapa sebenarnya yang mengatur nilai tukar? "Fundamental"?? Hehe.. Saya pun berharap dunia sesederhana itu, tapi saya khawatir tidak demikian. Aksi spekulasi segerombolan hedge fund di London atau New York pun bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah kita)

Dan renungan yang lebih basic lagi, bagaimana caranya meningkatkan KONSUMSI bisa menciptakan kemakmuran? Makmur versi Amerika dan Zimbabwe??

Saya bukan ekonom, tetapi saya bisa berspekulasi berdasarkan apa yang saya lihat di dunia nyata, berdasarkan perbuatan dan peraturan yang dibuat pemerintah.

Sebuah negara pada dasarnya sama dengan sebuah individu, harus berusaha hidup dalam kemampuannya. Kalau di SD dan SMP kita terus-terusan diajari JANGAN "lebih besar pasak daripada tiang," mengapa hanya kita saja yang mempraktekkannya? Mengapa tidak negara juga?

Bayangkan keluarga ini:

Alex adalah petani jeruk dengan tanah yang luas. Karena ketagihan berjudi dan tidak mahir mengatur anggaran kehidupannya, dia mengabaikan tanahnya dan menghabiskan waktunya untuk berjudi dan juga menyerahkan usahanya kepada orang-orang yang tidak qualified. Perlahan-lahan, dia kehilangan uang tunainya. Tahap berikut dia menjual harta lainnya, emas, mobil, jam tangan mahal, perhiasan istrinya, lalu mulai berhutang kepada semua orang yang mau memberikan pinjaman kepadanya, dan akhirnya mulai menjual tanah dan aset perusahannya.. Kemudian meminta uang terus-menerus kepada anak-anaknya. Tidak jarang pula dia berdebat dengan anak-anaknya sebelumnya tentang buah jeruk yang mereka makan...

Harga jeruk di pasaran 3000 per buah. Ongkos Alex sebenarnya adalah 500 per buah, maka Alex pun terus mengeluh kepada anak-anaknya tentang "subsidi" yang terpaksa dia berikan kepada anak-anaknya.

Bandingkan dengan pemerintahan Republik Indonesia... Perhatikan perbuatan mereka:
- Penjualan terus-menerus BUMN
- Penerbitan terus-menerus SUN, SBN, Sukuk
- Terus mengeluh tentang "Subsidi" BBM (dan sekarang mulai mencabut subsidi sama sekali)
- Intensifikasi penarikan pajak dan pungutan kepada rakyat

Negara ini, tanpa perlu Anda menjadi ekonom profesional pun, bisa ditebak sedang dalam arah yang salah!

** Link APBN 2009

Sayang, solusi tidak gampang dipraktekkan...

"Sebelum Anda bisa menerapkan peraturan baru, pertama-tama Anda harus menghadapi terlebih dahulu pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari peraturan lama"

Banyak pihak yang mendapat manfaat dari status quo. Mengganti sistem moneter kredit sebagai uang dan praktek bunga (riba) bukan perkara gampang. Sekadar mengungkit masalah ini saja di media utama pun sudah sangat sulit, apalagi mengedukasi publik dalam jumlah masal. Dan tentu saja, saya tidak berpikir pemerintah berani melakukan itu. Presiden manapun yang berani menantang sistem ini dan kelompok kartel bank internasional (Rothschild cs) saya rasa tidak akan berumur panjang...

Hal menarik lainnya, tampaknya propaganda islam-fobia cukup sukses di mana-mana di dunia. Saya bukan muslim, dan dari lingkungan pergaulan saya sehari-hari, saya cukup tahu bahwa segala sesuatu yang bernada islamik cukup tidak populer bagi kalangan non muslim yang lain. Bila saya bicara soal anti riba (ini hanya kosakata sederhana), sejumlah teman-teman saya sudah mulai merasa otak saya sedang bermasalah. Mana mungkin di dunia yang "modern" ini, kita masih berpikir untuk kembali ke sistem "Islamik" yang sudah tidak dipraktekkan ribuan tahun itu?

Hei.. Anti riba bukan hanya diyakini oleh Islam, larangan riba juga adalah ajaran agama lainnya, bagaimana bisa orang-orang Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan lainnya berpikir sebaliknya?

Masih banyak masalah yang perlu diluruskan. Perjalanan kita masih sangat jauh untuk memulai perubahan.....

Rabu, 07 Januari 2009

Senin, 05 Januari 2009

Mengenai Vaksin

Melacak sejarah vaksin modern, mungkin kita bisa memulai dari Flexner bersaudara. Bos mereka, Rockefeller, awal abad ke-20 membiayai beberapa saudara ini, yang salah satunya kemudian bergerak dalam penelitian vaksin untuk disuntikkan ke tubuh manusia.

Propaganda bahwa vaksin bermanfaat bagi kesehatan dan bisa mencegah penyakit kemudian disebarkan lewat berbagai universitas dan sekolah, yang juga dilakukan oleh salah satu Flexner brothers ini.

Karena pentingnya isu ini, saya tidak berani mengklaim 100% benar mengenai bahaya vaksin. Anda harus melakukan research sendiri mengenai masalah ini. Keselamatan anak-anak Anda adalah berada di tangan Anda sendiri.

Berikut sebuah artikel yang saya terjemahkan untuk Anda, semoga bisa membantu Anda memulai memikirkan masalah ini...

**Link


MENGAPA ANDA SEHARUSNYA MENGHINDARI VAKSIN

Oleh : Dr. James Howenstine, MD

"Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan."
- Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional -

Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.

Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5& masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara 1871 - 1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.

Kebanyakan dari sukses program vaksinasi sebenarnya datang dari perbaikan kesehatan publik lewat kualitas air bersih dan sanitasi, kepadatan hunian yang berkurang, nutrisi yang lebih baik, dan perbaikan standar hidup. Secara umum kasus berbagai penyakit sudah menurun sebelum vaksin penyakit itu ditemukan. Di Inggris, kasus polio telah menurun 82% sebelum vaksin polio diperkenalkan pada 1956. Pada awal 1900-an, seorang dokter yang sangat cerdas, Dr. W.B. Clarke, mengatakan "Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya."

Ada sebuah kepercayaan di masyarakat bahwa kita tidak seharusnya mengkritik vaksin karena nantinya publik akan menolak melakukannya. Hal ini valid hanya bila manfaat dari vaksin jauh lebih besar dari resikonya. Apakah vaksin benar-benar mencegah penyakit? Pertanyaan penting ini tampaknya tidak benar-benar dipelajari oleh masyarakat. Vaksin sangatlah menguntungkan bagi perusahaan farmasi dan legislasi di Amerika telah memberikan perkecualian kepada mereka, bahwa mereka bebas dari tuntutan hukum bila tidak menuliskan reaksi / efek vaksin yang cukup umum terjadi. Pada tahun 1975 Jerman menghentikan vaksinasi pertusis (batuk). Hari ini kurang dari 10% anak-anak Jerman divaksinasi terhadap pertusis. Kasus pertusis tetap menurun sekalipun lebih sedikit anak-anak yang divaksinasi dibanding sebelumnya.

Kasus campak terjadi di sekolah dengan tingkat vaksinasi lebih dari 98% di seluruh bagian Amerika termasuk area yang sebelumnya tidak mengenal campak. Seiring meningkatnya tingkat imunisasi, campak menjadi penyakit yang terjadi hanya pada orang-orang yang telah divaksinasi. Wabah campak terjadi di sekolah yang 100% anak-anaknya telah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Di Inggris, kasus campak menurun 97% sebelum program vaksinasi dilakukan.

Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal. Pertusis tetap menjadi endemik di Belanda di mana selama 20 tahun 96% anak-anak telah mendapatkan 3 suntikan pertusis sebelum umur 12 bulan. Setelah dimulainya vaksinasi dipteri di Inggris dan Wales tahun 1894, kasus kematian dipteri naik 20% pada 15 tahun kemudian. Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus. Berlanjutnya penyakit pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi membuktikan bahwa imunitas seumur hidup paska vaksinasi sebenarnya tidak terjadi. Proses suntikan partikel viral ke dalam darah ini sebenarnya tidak menyediakan jalan yang jelas untuk mengeliminasi substansi ini.

Mengapa vaksin gagal melindungi terhadap penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata. Sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya. Vaksin "mengecoh" tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang diinjeksi. SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 - 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS. Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 - 19 jam paska imunisasi DPT. Dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia mempelajari 70 kasus kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya. Tidak ada satu kematianpun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin adalah hal yang mulia dan tidak ada pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama karena mereka begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi.

Ada alasan yang valid untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit kekebalan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Apakah vaksin steril?

Dr. Robert Strecker mengklaim bahwa Departemen Pertahanan (DOD) diberikan 10 juta dolar pada 1969 untuk menciptakan virus AIDS yang akan digunakan sebagai senjata pengurangan populasi terhadap orang kulit hitam. Dengan menggunakan hukum kebebasan informasi, Dr. Strecker berhasil mempelajari bahwa DOD mendapatkan dana dari Konggres untuk melakukan penelitian untuk menhancurkan kekebalan tubuh lewat virus. Setelah diproduksi, vaksinnya diberikan di 2 lokasi.

Vaksin cacar yang mengandung HIV diberikan kepada 100 juta penduduk Afrika tahun 1977. Lebih dari 2000 pria homoseksual kulit putih di New York juga diberikan vaksin hepatitis B yang mengandung HIV pada 1978. Vaksin tersebut diberikan di Central Darah kota New York. Vaksin hepatitis yang mengandung HIV juga diberikan kepada pria homoseks lainnya di kota San Fransisco, Los Angeles, St. Louis, Houston, dan Chicago pada 1978 dan 1979. Instansi Kesehatan Publik Amerika melaporkan bahwa kasus AIDS terbanyak terjadi di 6 kota tersebut. Saat sebuah virus memasuki sebuah komunitas, butuh 20 tahun sebelum jumlah kasusnya berganda. Bila cerita karangan bahwa gigitan monyet hijau menyebabkan epidemik HIV, maka dugaan gigitan monyet yang terjadi 1940-an seharusnya sudah menyebabkan puncak insiden HIV pada 1960-an yang mana HIV belum eksis sama sekali di Afrika. WHO memulai vaksinasi cacar di Afrika tahun 1977 yang menargetkan populasi perkotaan dan menghindari pedesaan. Bila gigitan monyet hijau yang benar-benar menyebabkan HIV, maka insiden HIV di pedesaan seharusnya lebih tinggi daripada perkotaan. Namun, kebalikannyalah yang terjadi.

Pada 1954 Dr. Bernice Eddy (bakteriologis) menemukan bahwa virus monyet hidup dalam keadaan steril akan menginaktifasikan vaksin polio yang dikembangkan oleh Dr. Jonas Salk. Penemuan ini tidak diterima baik oleh NIH dan Dr. Eddy kemudian diturunkan pangkatnya. Kemudian, Dr. Eddy, bekerja bersama Sarah Stewart, menemukan virus SE polyoma. Virus ini cukup penting karena dia menyebabkan kanker pada setiap binatang yang menerimanya. Vaksin panas kuning (yellow fever) sebelumnya ditemukan mengandung virus leukimia avian (burung). Kemudian Dr. Hilleman mengisolasi virus SV 40 dari vaksin polio Salk dan Sabin. Mereka mengandung 40 virus berbeda. Tetapi mereka tidak pernah berhasil menghilangkan virus-virus tersebut dari vaksin polio.

Virus SV 40 menyebabkan penyakit yang berbahaya. Mereka telah diidentifikasi dalam 43% kasus non-hodgekin lymphoma, 36% tumor otak, 18% sample darah sehat, dan 22% sample sperma sehat, mesothiolomas dan penyakit lainnya. Pada saat hal ini ditemukan SV 40 telah diinjeksi ke 10 juta penduduk yang menerima vaksin polio. Pencernaan lambung menginaktivasi sejumlah SV 40 dalam vaksin Sabin. Walaupun demikian, isolasi vaksin polio Sabin dalam 38 kasus Guillan Barre Syndrome (GBS) di Brasil menyimpulkan bahwa jumlah yang signifikan bis diinfeksi dari vaksin ini. Semua 38 dari pasien ini telah menerima vaksin polio Sabin beberapa bulan sampai tahun sebelum munculnya GBS.

Insiden non-hodgkin lymphoma secara "misterius" berganda sejak 1970-an. Dr. John Martin, profesor patalogi di Universitas Southern California, dipekerjakan oleh cabang Viral Oncology di Biro Biologi (FDA) dri 1976 sampai 1980. Saat bekerja di sana dia menemukan bahwa DNA luar negeri dalam vaksin polio hidup orimune lederle mengandung kontaminasi serius. Dia melaporkan kepada atasannya dan kemudian malahan disuruh untuk berhenti mengecek karena bukan pekerjaannya untuk meneliti itu.

Percobaan vaksin lederle menunjukkan bahwa pimpinan di atas tidak peduli akan bahaya dari vaksin. Infeksi pada binatang masih menjadi masalah yang tak terselesaikan pada manufaktur vaksin. Club of Rome yang berpengaruh besar secara tertulis bahkan menyatakan bahwa populasi dunia terlalu besar dan perlu untuk dikurangi sebesar 90%. Artinya dari 6 milyar sekarang perlu dikurangi menjadi 500 - 600 juta orang. Menciptakan kelaparan dan perang dan pembantaian seperti yang di Afrika, dan penyakit buatan seperti HIV, Ebola, Marburg, dan mungkin juga virus Nil Barat dan SARS tentu saja bisa membantu mengurangi populasi. Grup elit lainnya (Trilateral, Bildergers) juga telah menyatakan hal yang sama.

Perusahaan yang ditunjuk untuk membuat vaksin cacar di Inggris sudah dalam masalah besar di Amerika karena kualitas operasionalnya yang buruk. Bagaimana bisa performa mereka kemudian menjadi bagus setelah datang ke Inggris? Bila memang ada grup-grup berpengaruh besar yang bertekad mengurangi populasi dunia, cara apa lagi yang lebih cerdik selain menginjeksi orang-orang dengan vaksin yang bisa menyebabkan kanker? Orang yang menerimaRata Penuh vaksin tidak akan pernah curiga vaksin yang dia terima 10 - 15 tahun sebelumnya menyebabkan dia terkena penyakit kanker.

Bahaya Lainnya Dari Vaksin

Pada 4 Maret 1977, dalam majalah Science, Jonas dan Darrel Salk memperingatkan, "vaksin virus hidup terhadap flu dan polio bisa memproduksi penyakit yang seharusnya dia cegah." Virus hidup terhadap campak dan gondok bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan otak. Vaksin flu babi dipaksakan kepada publik Amerika walaupun tidak pernah ada kasus flu babi pada manusia. Petani juga menolak vaksin itu karena membunuh ternak-ternak mereka. Dalam beberapa bulan sejak penggunaan vaksin ini telah terjadi banyak gangguan serius (GBS).

Sebuah artikel di Washington Post tanggal 26 Januari 1988 menyebutkan bahwa semua kasus polio sejak 1979 disebabkan oleh vaksin polio. Harusnya situasi ini bisa menghentikan penggunaan vaksin, tetapi tetap saja vaksin diberikan. Vaksin adalah arus profit yang hebat tanpa resiko bagi perusahaan obat karena sekarang gangguan akibat vaksin akan direkompensasikan oleh pemerintah (pembayar pajak). Terus naikknya pengguna vaksin diikuti dengan terus naiknya penyakit kekebalan (rheumatoid arthritis, subacute lupus erythematosus, psoriasis, sclerosis, asthma) pada anak-anak. Walaupun memang ada yang disebabkan oleh faktor pembawaan genetik, tetapi kebanyakan adalah akibat partikel protein luar, merkury, aluminium, formaldehyde dan bahan-bahan beracun lainnya di vaksin.

Pada 1999, vaksin rotavirus direkomendasikan oelh Central Pengendalian Penyakit untuk semua anak-anak. Saat dijalankan, beberapa anak meninggal dan sejumlah yang lain mengalami gangguan lainnya. Percobaan pra penjualan menunjukkan insiden intussusception meningkat 30 kali lipat tetapi tetap saja vaksin ini dipasarkan tanpa menuliskan peringatan di dalamnya. Vaksin anak-anak sering kali tidak dipelajari keracunannya karena penelitian ini bisa membuat vaksin tersebut tidak jadi digunakan.

Dalam studi yang besar di Australia ditemukan bahwa resiko mendapatkan encephalitis dari vaksin pertusis adalah 5 kali lipat lebih besar daripada mendapatkannya secara alamiah.

Vaksin menyebabkan Diabetes Melitus Type 1

Dr. John Classen menerbitkan 29 artikel mengenai diabetes akibat vaksin. Setidaknya 8 dari 10 anak-anak dengan diabetes type 1 adalah akibat vaksinasi. Anak-anak ini bisa saja terbebas dari cacar, gondok, atau batuk, tetapi mereka mendapatkan yang jauh lebih buruk: penyakit yang akan mengurangi umur mereka 10 - 15 tahun dan sisa kehidupan dalam perawatan. Dr. Classen telah menunjukkannya di Finlandia, introduksi vaksin hemophilus type B menyebabkan 3 kali lipat diabetes type 1 dan sejumlah kematian dan kerusakan otak lainnya.

In New Zealand, insiden diabetes type 1 pada anak-anak meningkat 61% setelah program vaksinasi agresif hepatitis B. Peningkatan yang serupa juga terjadi di Inggris, Italy, Swedia, dan Denmark paska program imunisasi hepatitis B.

Substansi Beracun Diperlukan Untuk Membuat Vaksin

Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak austik meningkat dari antara 200 - 500 % di setiap negara bagian di Amerika.

Di Amerika, injeksi vaksin telah meningkat dari 10 menjadi 36 jenis dalam 25 tahun terakhir. Dalam periode ini, anak-anak yang menderita gangguan belajar dan perhatian terus meningkat. Sejumlah memang mungkin disebabkan karena pengguanan kokain oleh ibu mereka, tetapi kemungkinan vaksinlah penyebab utamanya. Sejumlah vaksin mengandung aluminium.

Hampir semua vaksin mengandung aluminium dan merkuri. Metal ini memiliki pengaruh yang penting dalam penyakit Alzheimer. Seorang pakar pada Konferensi Vaksin Internasional 1997 menunjukkan bahwa orang yang menerima 5 atau lebih vaksin flu memiliki kemungkinan terkena Alzheimer 10 kali lipat lebih besar dibanding orang yang mendaptkan injeksi 2 kali atau kurang. Saat kita menerima injeksi vaksin, kita sebenarnya sedang bermain Russian Roulette. Kita bukan hanya terekspos aluminium, merkuri, formaldehyde, dan protein asing lainnya, tetapi juga virus simian 40 dan virus-virus berbahaya lainnya yang bisa menyebabkan kanker, leukimia, dan gangguan lainnya.

Konggres telah memproteksi manufaktur dari tuntutan hukum, jadi vaksin-vaksin berbahaya meningkatkan profit perusahaan obat tanpa resiko bagi mereka.

Kebijakan pemerintah mewajibkan vaksinasi anak-anak sebelum memasuki sekolah diambil tanpa bukti akan efisiensi dan keamanan vaksin itu sendiri. Tidak ada bukti vaksin bekerja dan tidak ada penelitian akan keamanan penggunaan mereka. Pendapat saya adalah ada bukti dalam jumlah besar bahwa vaksin itu berbahaya dan satu-satunya alasan mereka eksis adalah karena profit luar biasa bagi perusahaan farmasi.


Dr. James Howenstine

Serba - Serbi

"Sebelum Anda bisa menerapkan peraturan baru, pertama-tama Anda harus menghadapi terlebih dahulu pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari peraturan lama"

Mengekspos kriminalitas kartel bankir internasional (Rothschild cs) bukanlah pekerjaan mudah. Walaupun ada internet, tetapi tetap saja publik tidak gampang untuk dijangkau. Dan sekalipun sudah diberitahu, tetap saja hanya sebagian kecil saja yang tertarik untuk ikut memberitahu masyarakat yang lain.

Saya percaya kita butuh 10-20% penduduk di Indonesia untuk memulai perubahan sistem keuangan kita, kalau diasumsikan hanya 1 di antara 5 orang yang akan bereaksi setelah mengetahui kejahatan mereka, berarti sebenarnya butuh seluruh penduduk Indonesia untuk diberitahu informasi seperti ini sebelumnya.

Come on... Bagaimana caranya??

Tentu saja, jutaan orang yang saya bilang itu tidak perlu harus datang ke sini. Blog ini bukan sebagai penyelamat tunggal bangsa, saya tidak sehebat itu, dan saya juga tidak memiliki cukup pengetahuan, waktu, dan dana untuk melakukan itu. Yang penting adalah seluruh rakyat kita mendapatkan informasi seperti ini.

Bagi Anda yang berjodoh dengan blog ini, kalau Anda merasa ada file yang berguna bagi masyarakat kita, silahkan copy-paste file-file di blog ini ke komputer Anda, dan sebarkanlah ke orang-orang yang bisa Anda jangkau...

Kejahatan kartel ini tidak hanya sebatas sistem keuangan. Mereka (Anda bisa menyebut mereka kartel internasional, zionis, illuminati, elite, dll) mengendalikan semua korporasi utama dunia, bursa komoditi dan finansial, pendidikan, media (TV, koran), farmasi (obat-obatan, vaksin), dan juga bisnis obat bius, perjudian, dan prostitusi. Dan saya percaya mereka juga berhasil memperpanjang kekuasaan mereka di hampir semua negara dunia lewat kontrol "wakil rakyat" di berbagai negara.

Sesungguhnya pernahkah Anda curiga mengapa sistem "demokrasi" begitu giat dipopulerkan di sekolah dan media? Apakah kita bukan sedang dijadikan kambing percobaan dalam sebuah sistem yang sebenarnya tidak bebas? Tidak peduli siapa yang nantinya jadi pejabat pemerintah dan Presiden, kenyataannya kita tidak tahu siapa mereka, apa keahlian mereka, apa motif kerja mereka, dan apakah mereka menempatkan kepentingan negara dan rakyat di prioritas pertama kerja mereka. Cobalah tanya pada diri kita, seberapa banyak dari kita yang bisa mengakses para anggota DPR, apalagi Presiden, dan mengatakan kepada mereka apa yang kita pikirkan. Menjangkau mereka bukanlah pekerjaan mudah bagi rakyat banyak!

Kadang-kadang, saya curiga sistem kerajaan di zaman dululah yang lebih baik. Rakyat sama seperti sekarang, juga membayar sejumlah pajak. Tidak ada bedanya! Tetapi kita bisa tahu pasti sang Raja pasti akan membela kepentingan kerajaan dia, dia tidak akan mengkhianati kerajaan dia sendiri.

Anyway, it's just my opinion. Saya tidak ahli di urusan tata negara.

Bagaimana kelompok bankir internasional ini bisa sehebat itu?

Tentu saja, pencapaian ini tidak terjadi dalam 1 malam. Bankir internasional sudah mengambil alih sistem keuangan dunia sejak 1694. Dan sistem ribawi sebenarnya pun sudah dipraktekkan selama lebih dari 2000 tahun, selang-seling dengan era keberhasilan perjuangan untuk melawan mereka. Ratusan tahun sudah berlalu sejak manusia bisa bebas dari para penghisap darah ini.

Dengan memegang kendali kredit (uang), mereka menentukan siapa yang akan tampil sebagai pemimpin di setiap bidang industri. Dengan kekayaan mereka, mereka membayar orang-orang paling cerdas yang ada untuk bekerja di sektor-sektor yang ingin mereka kendalikan.

Lakukan ini selama beberapa generasi, maka sama sekali tidak heran kelompok ini bisa memiliki pengaruh yang besar di dunia di segala bidang.

Saya berharap dalam beberapa tahun ke depan, manusia bisa kembali bebas dari kejahatan kelompok ini. Cara yang bisa saya pikirkan, pertama-tama adalah lewat penyebaran informasi. Kalau dengan bantuan internet sekalipun ini masih tidak berhasil, saya rasa peluang untuk berhasil lewat media lain adalah mendekati mustahil.

So, let's do your best. Please spread this information.

Semoga usaha kita ini akan berhasil.

Rabu, 24 Desember 2008

Merry X'mas & Happy New Year

*** Selamat Hari Natal 2008 & Tahun Baru 2009 ***




Selamat berlibur & berkumpul dengan keluarga Anda.




Sampai jumpa lagi di tahun 2009.


Thank you for visiting.


Selasa, 23 Desember 2008

Mengenai Madoff, Ponzi, dkk

Madoff mengatakan bisnis dia adalah sebuah skema Ponzi, dan seluruh media utama dunia melaporkan sesuai dengan apa yang dia katakan. Orang-orang mulai sibuk menjelaskan apa itu skema Ponzi, tetapi tak seorang pun memaparkan secara detail bagaimana bisa bisnis Madoff adalah skema Ponzi.

Tentu saja tidak bisa, katakan Madoff sendiri tidak menjelaskannya.

Saya tidak ingin berspekulasi tentang hal ini. Tetapi satu hal yang perlu Anda ketahui, hanya beberapa hari setelah kasus ini muncul di berita, seorang hakim di Amerika mengatakan bahwa karena Madoff menyelenggarakan sebuah bisnis "penipuan", maka para "korban" sepantasnya berhak mendapatkan kompensasi!

Berikut beberapa perusahaan yang menjadi "korban" Madoff:
- HSBC
- BNP Paribas
- Nomura
- AXA
- Royal Bank of Scotland
- Fortis
- Swiss Life Holding
- UBS
- Jewish Community Foundation
- etc

**List Korban Madoff

Come on... Lihat baik-baik list di atas. Kita bukan sedang membicarakan ibu-ibu rumah tangga yang kehilangan uang di reksa dana atau bursa saham, perusahaan-perusahaan itu adalah institusi finansial paling profesional di dunia, dan juga organisasi yang dikelola oleh manusia paling licik dan kejam di dunia (Yahudi Talmudik), bagaimana bisa orang-orang percaya mereka adalah "korban?"

Pernahkah Anda meminjam uang ke bank? Dalam dunia riil, meminjam uang tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Setiap perusahaan finansial memiliki divisi credit risk department, semua investasi perusahaan itu harus melewati departemen ini. Semakin besar nominal investasi, semakin banyak study & due diligence yang harus dilakukan, dan semakin tinggi posisi orang yang harus menyetujui penanaman uang itu.

Customer Madoff menanam masing-masing ratusan juta dolar dan beberapa ada yang menginvestasikan beberapa miliar dolar kepadanya. Mana mungkin mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Madoff. Apakah Anda benar-benar percaya Madoff mengatakan kepada mereka, "Berikan saja uang kalian kepadaku, jangan tanya apa yang saya lakukan, yang penting setiap tahun saya akan memberikan Anda return 13,5%" dan customer dia setuju begitu saja?

Huh..

Kalau sampai ada bailout kepada mereka, strategi ini jangan-jangan bisa menjalar ke seluruh dunia. Cukup tunjuk satu orang sebagai kambing hitam, maka kerugian uang yang diderita para bankir dan yayasan zionis di pasar finansial bisa dinombok oleh pembayar pajak di masing-masing negara. Luar biasa...!!

Anyway, bagi Anda yang masih tertarik dengan skema Ponzi, berikut adalah sedikit informasi yang bisa saya sharing kepada Anda.

(Terima kasih kepada seorang teman saya yang masih menyimpan file-file lama buku PPB, bila tidak saya tidak bisa memposting file ini lagi)

Buku : Berbohong & Menjadi Kaya
Bab 3 : Skema Ponzi, Piramid Game, dan Kawan-Kawan

Sepintas Tentang Mr. Ponzi

Carlo Ponzi lahir di Italia dan pindah ke New York pada tahun 1893. Saat itu usianya 15 tahun, dan dia suka mencari berbagai jalan singkat menuju kekayaan. Dia pernah masuk penjara di Kanada (karena penipuan surat berantai dan penggunaan cek palsu) dan juga di Atlanta (untuk skema imigrasi ilegal). Akhirnya Ponzi pindah ke Boston tahun 1919.



Berpindah kerja dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Boston, pria berbadan kecil ini (tingginya sekitar 156 cm, walaupun sering tidak memiliki pekerjaan, namun selalu mengenakan pakaian yang elegan) bertekad mengubah realita hidupnya. Dia sering begadang membayangkan berbagai cara untuk menjadi kaya dengan cepat.

Boston bukanlah tempat yang sesuai untuk menjadi orang miskin. Kota itu penuh dengan orang kaya dengan gaya hidup yang mewah, hal ini membuat Ponzi muda frustrasi dan sangat kecewa. Dia terus memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan sebagian dari kemakmuran yang berlimpah di kota barunya. Selama waktu itu, Ponzi juga tidak lupa untuk selalu menyurati keluarga dan saudaranya yang mungkin sedang khawatir padanya, mengingat masa itu adalah masa perang dunia pertama.

Surat-surat yang dia tulis ini kemudian memberikan Ponzi sebuah gagasan yang di kemudian hari dia ilustrasikan sebagai sebuah “gagasan hebat.” Ponzi sendiri mungkin tidak menyangka, skema yang dia ciptakan ini pada akhirnya menjadi bentuk lain dari sistem spekulasi mata uang modern.

Di awal 1900-an, seseorang dapat menyertakan sebuah kupon di dalam surat untuk menghemat biaya koresponden untuk membeli perangko. Sebuah organisasi yang dinamakan International Postal Union mengeluarkan kupon yang dapat diperdagangkan di sejumlah negara tertentu untuk mendapatkan perangko setempat.

Ponzi menemukan bahwa kupon-kupon yang dibeli di negara yang ekonominya lemah dapat dijual dengan sejumlah keuntungan di Amerika Serikat. Dia memutuskan untuk menggunakan sedikit uang yang dengan susah payah dia tabung untuk mencoba “gagasan hebat” ini. Sayangnya, dalam waktu singkat dia menemukan bahwa ada berbagai hal lainnya di skema ini yang membuat impiannya tidak bisa berhasil. Terutama adalah bahwa mayoritas keuntungan pada akhirnya ternyata kembali ke organisasi postal.

Namun, walaupun gagasan hebat dia tidak berhasil, hal yang lain muncul. Setiap kali dia membicarakan skema ini dengan orang lain, mereka tampaknya percaya dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Teman-teman dan keluarga mereka akan selalu bertanya padanya, tanpa curiga, bagaimana rencana ini harus dilakukan. Orang-orang sangat tertarik dengan investasi ini, walaupun Ponzi sudah tahu skema itu sebenarnya tidak berhasil.

Jadi, di akhir tahun 1919, Ponzi mengambil keputusan yang akan membuat namanya tercatat di sejarah sebagai salah satu icon paling terkenal di dunia penipuan. Dia berhenti membeli kupon perangko internasional dan berurusan dengan birokrasi tak berujung. Mulai saat itu dia fokus untuk melakukan hal yang lebih menguntungkan, yaitu mencari investor.

Pada Desember 1919, Ponzi mulai menggunakan nama baru, “Charles” Ponzi. Dengan modal $150, dia mulai meminjam uang dengan memberikan nota-nota pengembalian di masa mendatang. Dia mulai mengundang teman-teman dan saudara mereka untuk ikut di program yang dia sebut sebagai “Rencana Ponzi.”

Ponzi mengklaim bahwa dia bisa menghasilkan keuntungan 100% dalam beberapa bulan. Masalahnya adalah dia kekurangan modal untuk mengeksploitasi kelemahan sistem postal internasional. Karena masih ada ruang untuk pertumbuhan, dia tidak keberatan untuk berbagi keuntungan dengan investor.

Ponzi melakukan presentasinya secara berhasil. Dia memberi contoh bahwa sebuah kupun yang dia beli di Spanyol dengan harga satu sen dapat ditukar dengan nilai ekuivalen enam sen di Amerika. Keuntungannya adalah lima kali lipat! Nada bicaranya begitu meyakinkan sehingga banyak orang mempercayainya.

Apapun juga yang dia katakan, dia berhasil. Beberapa orang, termasuk teman dekat dan saudara mereka, memutuskan untuk berjudi dengannya, dan Ponzi berhasil mengumpulkan $1.250 dari mereka. 90 hari kemudian, Ponzi memberikan bunga kepada mereka sebesar $750. Investor yang terkagum-kagum padanya menceritakan kisah ini kepada lebih banyak orang. Dalam waktu singkat, kantor Ponzi penuh dengan orang-orang serakah yang ingin menginvestasikan uang mereka kepadanya.

Dengan perjanjian tertulis bahwa dia akan membayar $150 dalam waktu 90 hari untuk setiap $100 yang dia terima, Ponzi berhasil meyakinkan ribuan orang yang akhirnya memberikan jutaan dolar kepadanya (termasuk ¾ anggota kepolisian Boston). Dia juga kadang-kadang menenangkan kebimbangan investornya dengan melunasi pembayarannya dalam waktu 45 hari. Dalam delapan bulan, dia mengumpulkan $9 juta, yang mana kewajibannya adalah $14 juta. Dia membayar agennya komisi sebesar 10%. Termasuk 50% bunga pinjaman kepada investor, bunga yang harus dia bayar sebenarnya adalah 60%.

Tetapi metode finansial gaya Ponzi tidak berdasarkan keuntungan riil dalam berbisnis. Dia menggunakan uang investor baru untuk membayar uang investor lama yang jatuh tempo. Walaupun penuh dengan uang tunai, sebenarnya Ponzi tidaklah menghasilkan uang apapun. Dalam suatu proses pengadilan di kemudian hari, terbukti bahwa sebenarnya Ponzi berada dalam kondisi yang sangat kepepet, semakin besar bisnisnya, semakin besar masalahnya. Dia sama sekali tidak melakukan investasi apapun, semua uang yang sedang dia pegang adalah uang orang-orang yang berhasil ditipunya.

Suatu saat, Ponzi mendapatkan $200 ribu dalam sehari, dengan dividen 50% dalam 90 hari. Akhirnya, dia menaikkan janjinya dengan memberikan 100% bunga dalam tiga bulan. Para investor pun antri menyerahkan uang kepadanya.

Ponzi adalah seorang genius dalam memanipulasi orang. Sebagai contoh: bila seorang investor mau mengambil uang mereka yang jatuh tempo, mereka harus berjalan melewati kantor mereka untuk sampai ke counter yang antriannya sangat panjang karena cuma ada dua atau tiga counter yang buka.

Setelah uang ada di tangan, para investor ini berjalan keluar dengan menghadapi belasan counter investasi yang antriannya pendek. Mayoritas kemudian tergoda untuk menginvestasikan lagi uang mereka. Sangat sedikit orang yang berjalan keluar dari kantor Ponzi dengan uang di tangan.

Di puncak masa likuiditasnya, Ponzi menjadi seorang maniak shopping. Dia menghabiskan waktunya untuk membeli baju baru, jam emas, berlian untuk istrinya, sebuah mobil limosin, dan juga villa 20 kamar di Lexington, pinggir kota Boston. Seperti yang juga dilakukan para penipu yang mengikuti jejaknya, Ponzi menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk membelanjakan uangnya.

Di awal bulan Juli 1920, Ponzi mendapatkan omset $1 juta per minggu. Pada suatu hari, Ponzi membawa sebuah tas berisi uang tunai $3 juta menuju Hanover Trust Co., dan membeli sejumlah saham di bank tersebut. Sayang kesuksesan dia tidak berlangsung lama.

Karena setiap hari ada ratusan orang antri di kantornya untuk menyetor dan mengambil uang, seorang editor harian Boston Post meminta pendapat dari sejumlah ahli keuangan dan mereka menyimpulkan bahwa, walaupun memang ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan ribuan dolar dari pertukaran kupon perangko, namun “gagasan hebat” Ponzi tidak mungkin sanggup melayani permintaan yang sedemikian besar dengan perdagangan sebesar jutaan dolar.

Tidak lama kemudian, para reporter yang skeptis meminta wawancara dengannya. Karena khawatir akan image-nya, Ponzi menyewa seorang public relation bernama William McMasters untuk menangani publisitasnya. Ini ternyata adalah langkah bumerang baginya. McMasters menghabiskan beberapa hari di kantor Ponzi, dan menemukan bahwa operasi ini adalah sebuah penipuan dan langsung menuju Kejaksaan. “Orang ini adalah seorang idiot finansial,” kata McMasters. “Dia bahkan tidak bisa berhitung…. Dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan menghisap cerutu lewat pipa emasnya sambil berguman tentang kupon perangko.”

Ponzi dipanggil untuk menghadap pengadilan di Boston. Para penggemar etnik Italianya bersorak mendukung saat Ponzi melewati jalan, namun para auditor dan polisi yang menggeledah kantornya tidak berhasil menemukan apapun, selain catatan nama-nama dan nomor telepon. Karyawannya, saat ditanya, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya bos mereka mendapatkan profit usaha.

Sebulan kemudian, khawatir akan runtuhnya skema “gagasan hebat”nya, Ponzi membawa $2 juta uang tunai menuju Saratoga Springs. Dia berharap memiliki nasib yang baik di casino tersebut. Dia tidak berhasil, dia kehilangan semuanya.

Pada Agustus 1920, harian Boston Globe menulis sebuah ekspos terhadap skema Ponzi. Nyaris terjadi kerusuhan, ribuan investor yang ketakutan menyerbu kantor Ponzi dan meminta uang mereka kembali. Itu seperti rush terhadap sebuah bank. Pengadilan kemudian menjelaskan secara detail:

Pada tanggal 19 Juli, rekening Ponzi di Hanover Trust adalah $334.000. Pada tanggal 24 Juli adalah sebesar $871.000. Namun, minggu berikutnya terjadi penarikan: $572.000 pada 26 Juli, $228.000 pada 27 Juli, dan $905.000 pada 28 Juli, total melebihi $1.765.000. Walaupun demikian, rekeningnya masih menunjukkan surplus, karena Ponzi menyetor uang tambahan yang dia ambil dari bank lain. Skema ini akhirnya berakhir karena penarikan sebesar $331.000 pada tanggal 9 Agustus. Ponzi bangkrut.

Di puncak skemanya, Ponzi hanya memiliki kupon perangko senilai $30, dengan uang investor sebesar $10 juta dari sekitar 20.000 investor di Boston dan New York.

Dalam masa 10 bulan itu, Ponzi merasakan suka duka tertinggi dari kehidupannya. Kebanyakan investor yang percaya padanya kehilangan seluruh uang mereka. Ponzi akhirnya ditangkap agen Federal dan menjalani hukuman penjara selama empat tahun di penjara Massachusetts.

Setelah keluar dari penjara, Ponzi kembali mengasah bakatnya. Dia melakukan berbagai aksi penipuan di Florida. Akhirnya, dia dideportasi kembali ke Italia. Dalam wawancaranya yang terakhir bersama sebuah harian berita, Ponzi mengatakan bahwa dia tidak menyesal namun berharap dunia memaafkannya.

Yang kemudian terjadi lebih cocok dibilang “melupakannya.” Di awal 1930-an, pimpinan Italia Benito Mussolini secara ceroboh mengira pria bernama Ponzi ini adalah seorang genius perbankan. Ponzi diangkat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan Italia. Tidak lama kemudian, para pengikutnya menemukan bahwa pimpinan mereka bahkan tidak bisa berhitung. Ponzi mengetahui bahwa dia segera akan diekspos, dia segera mengepak beberapa tas berisi uang tunai dan berlayar menuju Amerika Selatan.

Namun, ternyata Ponzi melakukan hal yang sama di sana. Ketika Ponzi meninggal di Brazil beberapa tahun setelah itu di salah satu rumah sakit, dia sedang dalam pengawasan polisi.


Mengenali Skema Ponzi:

Skema Ponzi terjadi ketika kita melihat dua kegiatan tersebut:

1. Perancang program menggunakan uang dari investor sendiri untuk membayar bunga “investasi” mereka, sambil menyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan dana investasi mereka.
2. Perancang program mencari investor baru dan menggunakan uang mereka untuk membayar kepada investor lama.

Semakin besar bunga yang dijanjikan, semakin besar kebutuhan perancang program untuk menemukan partisipan baru. Semakin cepat masa jatuh tempo yang dijanjikan, semakin cepat perancang program harus menemukan investor baru.

Skema permainan Ponzi tidak mungkin bertahan terlalu lama karena keterbatasan jumlah partisipan di wilayah geografis manapun. Skema ini dapat berumur lebih panjang jika perancang program sanggup membangun sumber pendapatan baru di wilayah lain setelah partisipan di suatu wilayah sudah mencapai tingkat maksimal.

Namun, pada akhirnya, pada suatu ketika semua skema Ponzi pasti akan runtuh. Pertanyaannya hanya satu: Kapan?

Berikut adalah sebuah ilustrasi bagaimana skema Ponzi bekerja di zaman sekarang:

Contoh #25:

Anda mengaku sebagai seorang pengusaha peternakan ayam. Anda membuat perhitungan bisnis peternakan ayam dan menemukan bahwa untuk setiap juta rupiah yang diinvestasikan, Anda bisa mendapatkan keuntungan 400% dalam setahun. Setelah itu, Anda mulai mengundang orang-orang untuk mendengarkan presentasi Anda. Anda menawarkan kepada mereka bunga 25% setiap 3 bulan atas dana investasi mereka.

Ketika orang mulai menginvestasikan uang mereka, Anda secara aktif masih terus mencari investor baru. Saat masa 3 bulan sampai, Anda menggunakan uang investor sendiri untuk membayar mereka. Proses ini dilanjutkan selama yang Anda bisa sampai Anda tidak sanggup membayar para investor lagi.

Di contoh di atas, perancang program tidak memiliki niat untuk mengembangkan peternakan ayam sejak awal. Namun skema Ponzi tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang, perancang program bisa jadi benar-benar melaksanakan rencana bisnis yang dia buat. Namun, di tengah jalan, bisnisnya gagal dan dia menemukan bahwa keuntungan dengan mengembangkan skema Ponzi ternyata lebih menguntungkan dibanding dengan rencana bisnis awalnya. Akhirnya, dia berpindah haluan dan fokus pada pencarian investor baru dan mengabaikan rencana bisnis awalnya.


Pyramid Game

Perbedaan utama antara skema Ponzi dengan permainan piramida adalah usaha para partisipan/investor. Pada skema Ponzi, para investor adalah bersikap pasif, mereka tinggal menunggu masa jatuh tempo dan mengambil uang mereka. Sedangkan pada permainan piramida, para partisipan harus secara aktif mencari partisipan baru. Para peserta memang sejak awal menyadari apa yang mereka lakukan, mereka memang sadar bahwa keselamatan modal dan keuntungan yang mereka terima adalah tergantung hasil perekrutan mereka.

Pada permainan piramida, para peserta mula-mula harus membayar biaya tertentu untuk bisa bergabung dengan sistem bisnis itu untuk mencari rekrutan baru dan mendapatkan komisi/bonus dari perusahaan.

Contoh #26:

Sebuah perusahaan, sebut saja PT. Rimba Finance Indonesia, menawarkan peluang “bisnis” seperti ini: Anda disuruh membayar Rp75.000 untuk bergabung dengan mereka. Rp25.000 adalah joining fee, sisa Rp50.000 dibayar kepada lima orang yang merupakan upline Anda, dan masing-masing upline mendapatkan Rp10.000. Setelah membayar uang itu, Anda berhak menjadi anggota perusahaan mereka dan mulai mencari partisipan baru. Para partisipan baru juga akan menyetor Rp75.000 dan Anda sebagai perekrut, upline dari mereka, akan mendapatkan Rp10.000.

Setiap orang boleh merekrut maksimal 5 orang dalam satu level. Karena total ada 5 upline yang akan mendapatkan bayaran, berarti total pembayaran adalah sebesar 5 level. Total pembayaran yang bisa Anda terima secara matematis adalah sebagai berikut:

Level 1 : 5 partisipan : bonus Rp 50.000,-
Level 2 : 25 partisipan : bonus Rp 250.000,-
Level 3 : 125 partisipan : bonus Rp 1.250.000,-
Level 4 : 625 partisipan : bonus Rp 6.250.000,-
Level 5 : 3125 partisipan : bonus Rp 31.250.000,-

Total bonus komulatif matematis adalah:
Rp 39.050.000,-

Ini tampaknya sebuah bisnis yang “masuk akal” dan yang pasti, sangat bonafit, bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, dengan modal Rp75.000, seseorang bisa mendapatkan manfaat maksimal sebesar 39 juta, artinya lebih dari 52.000%. Bisnis atau tabungan deposito jangka pendek mana yang bisa menandingi angka ini?

Sesungguhnya, perusahaan seperti ini beberapa di antaranya menyebut mereka sebagai PT. X, artinya di Indonesia mereka adalah badan hukum yang legal. Saya tidak tahu apakah PT. yang melekat pada nama perusahaan seperti itu adalah jujur atau tidak, yang jelas saya memang pernah melihat brosur iklan dari PT-PT seperti itu.

Pada mayoritas permainan piramida, biaya untuk bergabung biasanya masih terjangkau kebanyakan orang. Para partisipan sejak awal memang sudah menyadari bahwa mereka sedang melakukan usaha piramida. Mereka tidak takut rugi, karena bagi mereka kegiatan itu hanyalah sebuah taruhan judi biasa, kalaupun rugi, kerugiannya masih bisa diterima dan tidak memberatkan.

Semua permainan piramida pada akhirnya akan berkembang seperti skema Ponzi untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka harus mengeks-pansikan wilayah “bisnis” mereka ke wilayah geografis lain untuk melanjutkan sumber dana untuk membayar para partisipan sebelumnya.

Karena keterbatasan jumlah populasi dan reputasi piramida yang buruk, permainan atau “bisnis” piramida biasanya tidak bisa berkembang terlalu besar dan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya dalam beberapa bulan, masa ekspansi mereka sudah akan berakhir. Para partisipan yang bergabung belakangan akan kehilangan uang mereka. Jumlah mereka adalah mayoritas, cukup sering adalah lebih dari 90% karena sistem bagi hasil piramida memang mengharuskan demikian.


MLM / Network Marketing,
Orang Kaya Membangun “Jaringan”

Menurut salah satu “guru” finansial yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini: “Orang kaya membangun jaringan, orang miskin dan kelas menengah sibuk mencari pekerjaan.”

Salah satu sistem bisnis yang dipuji setinggi langit oleh “guru” tersebut adalah bisnis Multi Level Marketing (MLM) alias Network Marketing. Katanya, MLM adalah salah satu cara untuk membangun jaringan dan menjadi kaya sambil menolong orang lain. Anehnya, “guru” tersebut tidak bergabung dengan MLM manapun, yang dia lakukan adalah menulis buku untuk memuji MLM dan menjualnya kepada jutaan partisipan MLM. Pada saat dia memuji “jaringan” versi MLM, dia sendiri membangun jaringan versi yang lain, model jaringan bisnis yang lebih konvensional.

Sebenarnya “guru” tersebut tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa MLM akan membuat orang menjadi kaya. Masalahnya adalah kalimat yang barusan sebenarnya belum selesai, permasalahan penting yang harus Anda pikirkan adalah: Kaya bagi siapa? Kaya bagi berapa persen partisipan yang bergabung?

Perusahaan MLM menganggap para distributor mereka sebagai pelaku bisnis independen, orang-orang yang membeli hak distribusi produk bisnis mereka. Sederhananya, bos MLM sedang menjual bisnis kepada para distributor.

Kalau Anda pernah membeli saham, Anda tentunya tahu perusahaan yang hendak go public diharuskan untuk memberikan paparan publik yang akurat tentang bisnis dan data-data keuangan perusahaan. Walaupun kita tahu yang namanya “akurat” versi korporat tidak selalu demikian, namun setidaknya mereka sudah mencoba dan melaksanakan prosedur formal untuk menjual bisnis mereka.

Contoh lain, seorang pedagang yang hendak menjual toko dan bisnisnya, tentunya calon pembeli berhak meminta informasi tentang penjualan toko dan catatan keuangan toko tersebut.

Bila Anda menghadiri “business opportunity” versi MLM, ketika perusahaan itu mencoba menjual hak “bisnis” kepada Anda, data apa yang sebenarnya Anda dapatkan? Apakah mereka akan memberitahu kepada Anda: Siapa mendapatkan berapa? Berapa banyak orang mendapatkan berapa banyak uang? Berapa persen partisipan yang mendapatkan keuntungan? Berapa persen partisipan yang tidak mendapatkan keuntungan?

Beberapa tahun yang lalu, saat saya menjadi partisipan dari suatu program MLM, bila saya mencoba mengajak teman saya untuk ikut MLM dan mereka tidak tertarik, saya benar-benar berpikir demikian dalam hati saya:

 Mereka tidak punya visi.
 Mereka tidak punya impian.
 Mereka butuh motivasi.
 Mereka belum sadar.
 Mereka harus menghadiri seminar “business opportunity” kami.
 Mereka benar-benar kasihan.

Saya tidak menyangka, beberapa tahun setelah itu, saya sendiri akan menjadi anggota masyarakat yang anti-MLM.

Dalam seminar MLM, umumnya kita akan dijelaskan tentang siapa mereka (profil perusahaan), “business plan” mereka (cara bagi hasil/bonus), diikuti dengan berbagai testimonial dan kisah kesuksesan. Di seminar-seminar turunannya, mereka menyelenggarakan seminar motivasi yang intinya adalah berpikir positif, bertindak positif, dan program NLP lainnya.

Bila mengikuti seminar mereka secara rutin, partisipan akan menjadi sangat bersemangat dan sekaligus menjadi “buta.” Mereka tidak lagi bisa melihat gambaran yang akurat tentang apa yang sedang mereka lakukan. Para partisipan menjadi lupa untuk berpikir berapa sebenarnya harga wajar dan manfaat dari produk yang mereka jual, mereka tidak lagi bisa melihat bahwa walaupun pemilik dan sejumlah upline mereka menikmati hidup yang berlimpah, namun peluang matematis mayoritas peserta untuk mencapai level itu adalah mendekati nihil.

Mereka tidak ingat lagi walaupun mereka sedang menjual untuk perusahaan tersebut, semua biaya penjualan dan marketing adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dan mereka juga tidak lagi sadar bahwa pembagian hasil/bonus MLM adalah permasalahan sistem kompensasi matematika, bukan berdasarkan seberapa positif/termoti-vasinya mereka. Bila rancangan skema bagi hasil mengharuskan bahwa hanya 1% partisipan yang akan untung dan 99% lainnya rugi, angka ini tidak bisa berubah walaupun 100% partisipan aktif membeli buku, kaset, dan vcd motivasi secara teratur.

Tidak ada yang salah dengan seminar motivasi, sesungguhnya secara pribadi saya sangat salut dengan industri MLM. Mereka bersedia mendidik para partisipannya secara mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Masalahnya adalah: Apakah karena kita menggunakan ilmu pengembangan diri positif dalam bekerja, lantas semua yang kita kerjakan otomatis juga menjadi benar?

Bagaimana kalau kita mengajarkan seorang calo obat bius ilmu berpikir positif? Kita mengajari dia untuk bangun lebih pagi, lebih ramah mencari pelanggan, bekerja lebih giat, berpikir lebih optimis, dan akhirnya berhasil menjual lebih banyak. Apakah lantas pekerjaannya menjadi positif?

Tunggu dulu! Jangan salah paham. Saya tidak mengatakan kegiatan MLM adalah salah atau ilegal. Saya tidak berkata demikian. Sampai di sini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa seminar motivasi dan pikiran positif yang diberikan MLM tidak berhubungan dengan positif tidaknya model bisnis mereka. Itu adalah 2 hal yang berbeda. Seminar pikiran positif adalah seminar pikiran positif. MLM adalah MLM. Mereka tidak sama. Bukan karena MLM menyelenggarakan seminar pikiran positif, lantas mereka juga pasti positif.

Saran saya, hadiri saja seminar motivasi MLM, tetapi lebih baik gunakan pelajaran yang didapat untuk melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Kalau Anda adalah pedagang, gunakan pelajaran yang didapat untuk menjual lebih banyak. Kalau Anda seorang profesional, gunakan pelajaran yang didapat untuk bekerja lebih cerdas dan efektif. Kalau Anda seorang salesman, gunakan pelajaran yang didapat untuk menutup lebih banyak transaksi.

Angka-angka bicara lebih keras dibanding kata-kata. Berikut adalah data keuangan salah satu MLM top di Amerika yang disajikan dalam bentuk penerimaan per 10.000 distributor.

Komposisi bagi hasil seperti di atas adalah tidak berbeda jauh antara MLM yang satu dengan yang lainnya. Tentu saja, karena sistem bagi hasil antar MLM tidak persis sama, maka angka yang akan terlihat di MLM lain juga akan berbeda. Namun, tetap saja perbedaannya tidak terlalu besar.

Mayoritas partisipan MLM ditakdirkan secara matematis untuk rugi (setelah biaya pembelian dan marketing diperhitungkan). Pola bagi hasil terhadap 10.000 partisipan di atas akan tetap tampak dengan pola yang sama sekalipun mereka semua membaca buku pikiran positif yang sama, mendengarkan kaset pikiran positif yang sama, dan menonton vcd presentasi pikiran positif yang sama. Keberhasilan di sistem bisnis mereka juga sangat tergantung pada posisi dan timing seorang partisipan di bagan perusahaan, bukan hanya permasalahan motivasi dan pikiran positif.

Apa sebenarnya MLM???

Menurut pendapat pribadi saya, perbedaan antara MLM dengan permainan piramida adalah MLM menjual produk tertentu, sedangkan permainan piramida hanya melibatkan perputaran uang para partisipan tanpa produk.

Skema mereka secara garis besar identik, tujuan dan hasil akhir juga demikian. MLM bisa dikategorikan sebagai usaha yang legal adalah berkat adanya produk sah yang mereka jual. Saya akui sejumlah perusahaan MLM memang menjual produk dengan kualitas yang sangat baik, namun saya tetap percaya mayoritas partisipan MLM manapun tidak bergabung dengan mereka karena manfaat produk yang mereka jual, melainkan karena mereka mempercayai janji-janji pendapatan amat besar yang mereka dengar di pertemuan “business opportunity” MLM tersebut.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa MLM bersalah atau ilegal, sesungguhnya saya tidak peduli dengan sistem bagi hasil ekstrim yang terjadi pada sistem bisnis mereka. Sama seperti permainan piramida, di mana sebagaian kecil partisipan mendapatkan keuntungan lewat kerugian masif yang dialami mayoritas peserta, bagi saya itu hanyalah masalah kesepakatan. Seandainya seorang partisipan mengetahui secara jelas apa yang sedang dia lakukan, mengetahui secara jelas peluang menang-kalahnya sejak awal dan tetap sepakat untuk bergabung, ya silakan saja, itu kan hak masing-masing.

Perbedaan ekstrim pendapatan antar orang dalam suatu organisasi di mata saya adalah realita hidup, sekadar memprotes tidaklah ada artinya. Negara kapitalis manapun mengalami masalah ini. Kalau MLM dinyatakan bersalah karena masalah ini, tentunya banyak jenis usaha lainnya yang akan segera menyusul.

Yang penting di mata saya mengenai industri MLM adalah transparansi dan kejujuran mereka. Bila mereka bersedia memberikan data yang akurat kepada distributor dan calon distributor mereka sejak awal tentang peluang menang-kalah di sistem bisnis mereka, bila mereka bersedia memaparkan secara transparan laporan pembayaran riil mereka kepada semua level distributornya, saya tidak akan mengkritik mereka lagi.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, salah satu perusahaan MLM paling terkenal diperintahkan oleh FTC (Federal Trade Commission) untuk menuliskan label berikut di semua produk mereka: “54% dari distributor kami tidak men-dapatkan keuntungan dan sisanya mendapatkan rata-rata $65 per bulan.” Sayangnya, perusahaan ini tidak diharuskan untuk melakukan hal yang sama di perusahaan cabangnya di negara lain, termasuk Indonesia.

Perbedaan MLM Dengan Perusahaan Direct-Selling

Sering kali kita mendengar dari pelaku MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct-selling, namun hal itu lebih sering daripada tidak, adalah tidak benar. Perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen non-distributor. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan retail. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan meretailkan produk ke konsumen non-distributor, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus.

Senin, 22 Desember 2008

Manusia Zombie

10 tahun lalu (1998), saat saya masih kuliah di P. Jawa, untuk pertama kalinya seumur hidup saya melihat ada sekelompok manusia di negara ini bisa berkumpul bersama-sama, dalam jumlah yang cukup besar, untuk memperjuangkan hal yang sama.

Tetapi saya masih ragu-ragu, adakah alasan lainnya yang bisa mempersatukan negara ini, dalam jumlah yang lebih masif lagi? Waktu itu yang berdemo hanyalah mahasiswa & sejumlah kecil dosen senior. Komponen negara lainnya seperti kelas pekerja, baik di retail maupun di pabrik tidak muncul. Para pengusaha, baik besar maupun kecil, juga tidak muncul. Orang-orang tua atau yang lebih senior di masyarakat, juga tidak muncul.

Rakyat negara ini, sejauh yang bisa saya lihat dan rasakan, cuek bebek satu sama lain. Dari luar seolah-olah kita bersikap cukup ramah pada orang-orang di samping kita, tetapi saat situasi sedang krisis, baru ketahuan hubungan antar golongan sebenarnya sangat renggang.

Di negara ini, saya merasa bahwa sama sekali tidak ada cara bagi rakyat biasa untuk menjangkau wakil rakyat di DPR / MPR. Apapun yang dilakukan para wakil rakyat, seburuk apapun keputusan mereka, sepertinya tidak ada cara sama sekali bagi rakyat biasa untuk berkomunikasi dengan mereka, apalagi mempengaruhi keputusan mereka. Bagaimana saya tahu? Karena saya sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjangkau DPRD kota saya, apalagi yang duduk manis di Jakarta.

Negara ini melakukan Pemilu setiap 5 tahun, tetapi kalau kita menjumlahkan total waktu untuk pemilihan DPR, MPR, Presiden, dan DPRD (propinsi), maka sekitar 2 - 2,5 tahun (40 - 50%) dari 5 tahun total waktu kekuasaan para "wakil rakyat" habis untuk kampanye dan promosi. Biaya yang dihabiskan juga luar biasa besar, puluhan trilyun rupiah setiap periode!

Kalau pada akhirnya yang kita dapatkan hanyalah sejumlah "wakil rakyat" yang tidak bisa kita akses, yang tidak bisa kita pengaruhi dalam membuat kebijakan publik, untuk apa sebenarnya kita memilih??

Rakyat negara ini, di mata saya, tidak cukup memiliki informasi sebagai basis untuk berpikir, tidak memiliki emosi, dan tidak bisa bersatu dalam jumlah masif. Dan masyarakat semacam ini pada akhirnya akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima... Perbudakan dan hilangnya hak sipil.

Gambar-gambar berikut adalah contoh demonstrasi yang melibatkan berbagai komponen rakyat di negara-negara lainnya. Saya tidak mengatakan ini adalah hal yang baik, yang ingin saya katakan hanyalah bahwa di beberapa negara yang lain, rakyat mereka sanggup berpikir, bersatu, dan menyampaikan emosi mereka saat "wakil rakyat" yang mereka pilih tidak membela kepentingan mereka.

Korea


Yunani


Francis


Thailand

Taiwan

Saya penasaran, akankah tiba suatu hari rakyat Indonesia juga bisa bersatu dan berkata dengan keras kepada para "wakil rakyat" bahwa pihak yang harusnya mereka bela adalah rakyat Indonesia, bukan kepentingan pihak lainnya (terutama bankir internasional).

Sampai saat ini, berdasarkan apa yang bisa saya lihat, pekerjaan terpenting dari pemerintahan manapun di seluruh dunia adalah meningkatkan hutang publik. Itu pekerjaan #1 dari Presiden dan pemerintahannya. Segala pekerjaan yang lain hanyalah kamuflase. Dan negara-negara yang bisa menghindari kebijakan tersebut, berdiri sebagai pemenang di antara yang tersisa.

Saya ambil sebuah contoh, negara tetangga kita, Singapura.

Walaupun saya sama sekali tidak ragu negara ini adalah antek Israel, tetapi satu hal yang benar-benar harus saya akui tentang mereka adalah pemerintahan Singapura memperlakukan rakyat mereka dengan sangat baik. Baik bukan dalam bentuk kebebasan berpolitik, tetapi baik dalam hal kepedulian mereka akan kesejahteraan publik.

Singapura bukanlah negara demokrasi, mereka adalah pemerintahan totaliter. Keluarga Lee Kuan Yew memegang kendali absolut di negara itu. But so what? Siapa juga yang bilang sistem demokrasi lebih baik dari sistem totaliter? Di negara itu, siapapun oposisi yang secara serius ingin mengancam kekuasaan partai PAP (People Action Party) Lee, dalam waktu dekat pasti akan jatuh bankrut. Rakyat Singapura sendiri menyadarinya, karena itulah mereka jarang memprotes. Selama pemerintahan mereka bisa terus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan riil per kapita mereka bisa terus meningkat setiap tahun, rakyat mereka benar-benar tidak perlu peduli tentang hal yang lain.

Indonesia tidak diberkati dengan "keberuntungan" seperti ini. Anyway, jangan salahkan nasib. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah reedukasi masyarakat. Saya 100% yakin setiap masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Masyarakat bodoh akan mendapatkan apa yang pantas diterima orang bodoh, demikian juga sebaliknya. Hasil reedukasi memang tidak akan terlihat langsung, tetapi dengan berlalunya waktu, perbaikan kualitas manusia di negara ini akan memperbaiki "nasib" rakyat negara ini. Saya percaya demikian.

Manusia yang bisa berpikir memiliki emosi, sebaliknya, manusia yang tidak bisa lagi berpikir, mereka adalah manusia zombie. Hidup, tapi mati...

Jangan sampai negara ini menjadi negara zombie... Negara yang rakyatnya hanya bisa "terima nasib," tidak bisa berpikir dan bereaksi atas kejadian apapun, & tidak bisa menyampaikan perasaan apapun ketika sekelompok "wakil rakyat" menghianati kepentingan mereka.

& Ingat hal ini, jangan mau dianggap remeh sekelompok bajingan di luar sana (Yahudi Talmudik) yang menganggap kita "goyim". Anda tahu apa itu goyim? Sederhananya, artinya ternak (binatang)! Semakin sebuah negara melarat, semakin rakyat sebuah negara putus asa, semakin lebarlah senyuman para Yahudi Talmudik itu. Jangan biarkan mereka menertawai kita! Jangan biarkan Rothschild, Rockefeller cs mengendalikan kehidupan kita!

Mulailah bercerita kawan. Ini negara Anda juga!

Jumat, 19 Desember 2008

Serba - Serbi

Beberapa tahun yang lalu, saya mengajak teman saya untuk join menerbitkan buku. Untuk penghasilan tambahan saja. Topik yang kami bahas biasanya adalah ekonomi, karena saat ngobrol / kongko-kongko di kedai, topik yang paling sering kami bicarakan memang adalah uang.

Sudah 4 tahun lebih sejak waktu itu, kalau dipikir-pikir, sepertinya penerbitan buku lebih mirip yayasan sosial daripada usaha orientasi profit. Untungnya kecil.... tapi thanks God usaha ini tidak repot, tak perlu terlalu diurus.

Anyway, omong-omong ada sebuah blog yang menurut saya sangat menarik... Ada linknya di sisi kanan blog ini: Blog Hypertiger. Si hypertiger menjelaskan kepada orang-orang bahwa inflasi tidak mungkin berlangsung selamanya, deflasi pasti akan mengikuti inflasi. Sekalipun terjadi hiperinflasi, nantinya pun akan diikuti oleh hiperdeflasi. Sejak sistem bank sentral yang didirikan pada abad ke-15 di Venetia sampai sekarang, siklus ekonomi (& sosial) selalu mengulangi pola yang sama.

Singkatnya, apa yang hendak diceritakan oleh hypertiger kepada kita adalah siklus ekonomi selalu berupa 3 siklus yang berulang-ulang:
1. Inflasi dan rusaknya tabungan.
2. Deflasi dan rusaknya modal.
3. Kebangkrutan ekonomi dan konsolidasi kekuasaan.

Mengapa harus ada inflasi? Karena ada bunga saat uang diciptakan sebagai kredit (hutang). Bila tidak ada inflasi (pertambahan jumlah uang atau kredit), bagaimana mungkin bunga pinjaman lama bisa dibayarkan? Anda paham?

Misalnya:
Sebuah masyarakat yang baru meninggalkan sistem barter, dan sekarang mulai memiliki bank.

* Bank meminjamkan kepada masyarakat Rp X, berlaku 1 tahun, plus bunga 5%.
* Tahun depan masyarakat harus mengembalikan Rp X + 5% (Ini tidak mungkin, karena 5% nya bahkan tidak eksis di masyarakat).
* Bank meminjamkan lagi (Rp X + 5%) kepada masyarakat, berlaku 1 tahun, plus bunga 5%.
* Tahun depan masyarakat harus mengembalikan (Rp X + 5 %) + 5% lagi (Ini tidak mungkin lagi, karena 5% yang terakhir juga tidak eksis di masyarakat).
* dst, dst, dst..

Tentu saja, dalam kehidupan riil, sistem ini tidak sesederhana itu. Ada berbagai jenis hutang, yang jatuh tempo dan tingkat bunganya berbeda-beda, dan juga bank pemberi kredit yang berbeda-beda. Tapi gambaran besarnya tidak berubah, masyarakat harus terus mencari usaha baru, kesempatan baru, & pengembangan baru agar bisa terus mengajukan uang (hutang) baru kepada bank agar suplai uang cukup untuk digunakan mereka setelah bunga dan pokok pinjaman lama dikembalikan kepada bank.

Sistem ini harus terus-menerus menginflasikan diri... sampai mereka mencapai limit atas mereka, kemampuan berhutang maksimal mereka... Inflate or die my dear...

dan setelah itu.... Bufff.... Balon kredit mereka pecah. Suplai uang berkurang dan masyarakat harus hidup dengan konsekuensi kurangnya suplai uang bagi mereka (kemiskinan, kelaparan, kriminalitas yang melonjat, tingkat kesehatan / sanitasi yang berkurang, dll).

Dan akhirnya adalah konsolidasi kekuasaan. Krisis selalu mengurangi kompetisi untuk setiap jenis industri. Akan ada semakin sedikit orang yang eksis di setiap jenis industri setelah deflasi berakhir. Kue yang dulu dibagi 100 orang nantinya akan dibagi oleh 50 orang. Di siklus berikut, dibagi oleh 20 orang. Di siklus berikut, dibagi oleh 10 orang, dst... Survival of the fittest...

Tapi hidup & kompetisi tidak berlansung adil kawan... Anda lihat sendiri, siang bolong Wall Street terang-terangan memaksakan konsolidasi kekuasaan. Perusahaan yang harus tutup malah diselamatkan, dan bahkan uang pembayar pajak diberikan secara gratis kepada mereka supaya mereka bisa membeli perusahaan saingan mereka. Ini sudah sinting!! Mengapa tidak ada orang yang menghentikan mereka? Sudah sebodoh apa masyarakat Amerika dan negara-negara lainnya sekarang?

Apapun yang bisa dilakukan di Amerika, Inggris, atau negara lainnya saya percaya juga bisa dilakukan di Indonesia. Saya yakin UU JPSK Indonesia akan diluluskan DPR dalam minggu-minggu ke depan. Penduduk di negara ini sama bodohnya dengan rakyat negara lainnya. Mereka belajar berdasarkan kurikulum sekolah yang sama, dan menonton televisi dengan acara pembodohan masal yang juga kurang lebih sama.

Sorry to say this, but it's quite hopeless.
Masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima, tidak peduli baik atau buruk. Kita semua ikut bertanggungjawab atas kebodohan bangsa dan konsekuensinya.

Anda masih menyimpan harapan akan perubahan? Kalau masih, Anda harus mengedukasi orang-orang di sekitar Anda secepatnya. Saya tidak benar-benar percaya ini akan berhasil, tapi ini satu-satunya alternatif yang saya tahu.

Do it or not do it, it's up to you...

Rabu, 17 Desember 2008

Saham - Emas - Minyak

Melihat gambar kadang-kadang bisa memberikan lebih banyak gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan dibanding kata-kata.

Moga-moga 2 chart ini berguna bagi Anda..



(2 gambar di atas belum diupdate)
* Dow Jones hari ini 8900, emas 850, jadi rationya 10,4x
* Emas hari ini 850, minyak 44, sekarang rationya 19,3x

Kalau saya harus berspekulasi, saya akan bertaruh ratio Dow/Gold kembali ke 1:1 daripada naik langsung kembali.

Rata-rata ratio Gold/Oil adalah sekitar 15x, jadi saat ini emas tidak murah-murah banget dibanding minyak... Anyway, ratio gold/oil pernah menembus 30x, dan momentum orang menuntut delivery fisik emas dan perak di bursa berjangka Comex mulai meningkat, jadi bisa-bisa saja kalau ratio Gold/Oil naik lebih tinggi lagi sebelum turun kembali.


Note:
Komentar di atas hanyalah untuk informasi umum kepada publik, dan bukan anjuran untuk melakukan spekulasi di bursa saham dan bursa berjangka!