Rabu, 03 Juni 2009

Serba - Serbi & Klarifikasi

Sebenarnya informasi yang bisa saya sharing sudah habis saya sampaikan, tapi dari beberapa email yang saya terima, sepertinya ada penyampaian saya yang kurang beres. Untuk mencegah kesalahpahaman, mungkin lebih baik ditulis lagi artikel tambahan.

Tentu saja, saya paham kebanyakan orang tidak akan benar-benar membaca semua artikel yang ada di sini. Zaman ini, orang menginginkan informasi instan, kalau bisa sebuah artikel yang bisa dibaca habis dalam 3 menit untuk menjelaskan semua topik yang ada. Hehe... Sayang, saya gak punya…


Campur Tangan Pemerintah

Ketika saya mengkritik pemerintah atas berbagai campur tangan mereka dalam ekonomi, saya mengucapkan hal itu dalam konteks di mana pemerintah tidak boleh mencetak uang (sesuai sistem yang ada selama ini).

Uang pemerintah selalu datang dari pinjaman, entah itu suka-rela (rakyat membeli surat hutang negara) atau tidak suka-rela (pajak).

Ingat, pemerintah manapun tidak boleh mencetak uang (dalam sistem sekarang), mereka hanya boleh meminjam. Ketika mereka memonetisasi hutang, uang baru itu juga adalah hutang. Yang bayar? Ya you and me

Lantas, apakah saya mendukung pemerintah mencetak uang secara membabi-buta? Tentu tidak kawan.

Dalam konteks kredit konsumen, orang mengatakan asalkan pertumbuhan uang diikuti dengan pertumbuhan barang dan jasa, maka relatif tidak ada kenaikan harga.

Jika kalimat ini berlaku untuk konsumen, maka kalimat ini seharusnya juga berlaku untuk pemerintah, bukan begitu?

Jadi, dalam hal pemerintah mencetak uang, maksud saya adalah:
1. Uang digunakan untuk tujuan produksi barang ataupun jasa yang mereka berikan ke publik.
2. Uang itu eksis secara permanen di dalam negara, bukan hutang kepada siapapun. Tidak ada masa jatuh tempo atas uang tersebut.

Dan kalau memang harus ada kompromi, di mana uang bagaimanapun tetap harus diciptakan sebagai kredit (hutang), maka hutang pemerintah, sama seperti hutang swasta, tidak perlu dikenakan bunga.

Atau alternatif kompromi yang lain, hutang konsumen tetap dikenakan bunga, tetapi semua keuntungan perbankan harus dikembalikan lagi kepada publik dalam bentuk penghilangan pajak. Untuk itu, semua bank komersial, yang diberikan hak untuk menciptakan kredit, harus dinasionalisasikan terlebih dahulu oleh negara. Rakyat tidak perlu lagi membayar pajak, anggaran negara akan dibiayai sebagian oleh keuntungan bank, sebagian lagi lewat pencetakan uang baru.

Suplai uang di sebuah negara bisa dipatok oleh pemerintah, dengan kenaikan sekian persen tertentu setiap tahun, mengikuti kebutuhan dan kalkulasi pembangunan mereka.

Saya yakin ada berbagai alternatif yang lain, dan saya cukup percaya Anda bisa membayangkan sistem yang lain yang menurut Anda lebih baik. Yang pasti, jangan percaya dengan kata-kata orang bahwa sistem yang ada sekarang adalah satu-satunya alternatif. Itu bohong!


Debt = Money

Tidak ada uang yang eksis secara permanen di sebuah masyarakat ataupun di sebuah negara dalam debt based money system. Suplai uang bertambah saat volume kredit (hutang) bertambah. Suplai uang menurun saat volume kredit berkurang.

Membandingkan volume uang tunai dengan total kredit yang berfungsi sebagai uang di dunia ibarat membandingkan volume air sungai dengan air laut di samudera, benar-benar tak berarti.

Disederhanakan, suplai uang dunia = A + B – C

A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.

Suplai uang utama datang dari kredit konsumen, suplai nomor dua datang dari kredit negara / monetisasi (sangat jarang terjadi, sebab uang negara mayoritas hanyalah uang yang mereka himpun dari tangan publik).

Bisakah Anda membayangkan sistem ini kawan?

Untuk mempertahankan suplai uang, seluruh manusia di dunia harus terus mengajukan hutang baru. Yang terjadi dari waktu ke waktu sebenarnya hanya siapa yang memikul tanggung-jawab terbesar sebagai mesin hutang.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk hubungan antar-negara. Di internal negara, di internal propinsi, sebenarnya juga sama.

Dan kalau pada akhirnya, Anda mendapati bahwa suplai uang di planet ini datang dari para bankir swasta, bagaimana Anda bisa tidak marah? Apa hak mereka untuk menciptakan uang dan menyuruh kita semua untuk membayar dan memperkaya mereka?

“Uang ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani sang pencipta uang!”


Hutang, Manusia, & Lingkungan

Untuk membayar hutang & mengejar bunga, masyarakat harus terus mencari jalan untuk mengajukan hutang baru. Aktifitas mencari hutang secara umum akan diikuti oleh aktifitas produksi nyata di lapangan. Ini bisa menjadi berkat, juga bisa menjadi bencana.

Debt based money system (kredit sebagai uang) dan bibit-bibit fractional reserved banking modern dimulai pada abad ke-15…

Manusia, karena harus membayar hutang dan juga karena secara matematis tidak sanggup melunasi hutang yang bunganya bahkan tidak eksis, harus terus mencari area pengembangan baru. Untuk itu, mereka terus mengeksplorasi wilayah baru, mencari sumber daya alam baru, dan menciptakan teknologi yang baru.

Dan tentu saja, untuk mengerjakan begitu banyak proyek-proyek baru, dunia juga butuh manusia-manusia baru.

Ingat, yang dikejar manusia adalah bunga eksponensial, dan bunga eksponensial selalu berakhir dengan grafik parabolik… Dengan demikian, baik suplai uang (kredit), pertumbuhan populasi, maupun pertumbuhan produksi dan eksplorasi komoditi pada akhirnya akan membentuk kurva parabolik.

Suplai Uang Dunia


Populasi Dunia

Produksi Minyak Dunia (Peak Oil?)

(Renungkan baik-baik hubungan pertumbuhan suplai uang - penduduk - produksi komoditi. Bila suplai uang benar-benar collapse, maka hanya masalah waktu sebelum yang lain juga mengikutinya...)

Fractional reserved banking adalah sebab masalah, tetapi di kemudian hari juga adalah sebab DAN akibat dari masalah. Untuk membayar hutang yang semakin lama semakin banyak, butuh lebih banyak dan lebih banyak lagi suplai uang, yang bahan bakunya belum tentu bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Dan karena jumlah manusia terus bertambah, suplai uang mau tak mau harus dibuat dari bahan / cara yang segampang mungkin diciptakan.

Cara apa lagi yang lebih gampang selain menciptakan uang begitu saja dengan sebuah entri pembukuan?

Rasio fractional reserved terus dinaikkan dari waktu ke waktu. Dari 2 kali lipat, menjadi 4 kali lipat, menjadi 10 kali lipat, 20 kali lipat, 40 kali lipat, dst…

Tentu saja, hal ini terjadi sebagian karena keserakahan si pencipta uang (bankir), tetapi sebagian lagi juga karena untuk memenuhi kebutuhan suplai uang yang diperlukan oleh sistem. Semua perubahan regulasi sampai saat ini di dalam dunia perbankan adalah untuk memperlama usia debt based money system di planet ini.

Efek pertambahan penduduk, pertambahan aktifitas manusia, pertambahan eksplorasi alam, adalah apa yang kita lihat hari ini. Saya bukan pemerhati isu lingkungan, tetapi kalau Anda termasuk orang yang sensitif terhadap lingkungan dan menyalahkan manusia karena telah merusak terlalu banyak bumi kita, Anda juga bisa mengarahkan pistol Anda kepada debt based money system.

Ingat aturan main sistem ini:

Majikan (bankir) akan memberikan kita berapapun uang yang kita inginkan, selama kita memberikan kepada mereka lebih daripada yang kita dapatkan.
Dan ketika kita (secara umum, umat manusia) tidak bisa lagi berhutang & membayar lebih daripada yang kita dapatkan, maka majikan tidak akan lagi memberikan kepada kita apa yang kita inginkan.

Amerika adalah mesin hutang terpenting di dunia sejak perang dunia ke-2. Kecuali kalau manusia di planet ini bisa segera menemukan mesin hutang raksasa berikut, bila tidak dunia ini akan memasuki era kekacauan besar.

Untuk apa si pencipta uang menciptakan uang dan memberikannya kepada kita hanya supaya kita bisa memberikannya lagi kepada mereka untuk membayar hutang-hutang kita? Ini memang bisa menunda hari penghakiman, tetapi ini bukanlah solusi…

Negara-negara yang kebanyakan hutang bisa saja memonetisasi berton-ton uang baru (hutang baru), dan kemudian membayarnya lagi kepada majikan mereka (bank). Bank juga secara teori bisa mengabulkan begitu saja semua permintaan kredit dari konsumen. Tapi kalau Anda pikir baik-baik, untuk apa bank melakukan itu? Untuk apa mencetak uang dan memberikannya kepada A hanya supaya A membayarnya kembali lagi kepada bank dengan uang yang sama?

Hiperinflasi tidak akan menyelesaikan masalah. Dalam konteks paling opitimis, dia hanya bisa menunda masalah yang sesungguhnya: collapse of credit, suplai uang kita.

Saya tidak bisa memastikan kepada Anda apa yang Akan terjadi, apakah dunia benar-benar akan memasuki era hiperinflasi karena masing-masing negara memonetisasi besar-besaran uang mereka, atau apakah monetisasi akan segera diakhiri dan kita akan langsung memasuki era deflasi. Saya bukan insider

Satu hal yang pasti, daya hutang manusia ada batasnya. Ada level tertentu di mana bila level itu sudah tercapai, ya berhenti. Menambah angka nol di belakang uang kita tidak akan mengubah apapun, yang berubah hanyalah jumlah angka nol kita saja.

Beberapa bulan ini Anda membaca tentang monetisasi pemerintahan Amerika dan Inggris (Quantitative Easing). Apa sebenarnya yang mereka lakukan?

Ini gambaran yang disederhanakan…. Rakyat mereka sudah capek berhutang, mereka sudah sampai ke limit mereka, it’s over their limit. Tetapi sesuai kesepakatan kredit yang mereka buat, setiap bulan tetap ada tagihan yang harus dibayar ke perbankan. Bukan cuma bunga pinjaman, tetapi juga hutang pokok.

Total credit market di Amerika adalah sekitar $50 trilyun. Umpamakan bunga rata-rata per tahun dari kredit konsumen ini 5%, berarti ada $2,5 trilyun uang baru yang mereka butuhkan setiap tahun. Ditambah hutang pokok yang jatuh tempo, umpamakan $2,5 trilyun juga, maka setiap tahun harus ada “proyek” baru senilai $5 trilyun yang diajukan rakyat mereka hanya untuk MEMPERTAHANKAN suplai uang dolar ini.

Bagaimana kalau rakyat mereka tidak sanggup meminta kredit baru senilai $5 trilyun tahun ini? Tahun depan? Dan tahun-tahun berikut? Jawabannya adalah intervensi pemerintah.

Pemerintah akan menggantikan peran rakyat sebagai mesin hutang. Sebenarnya, tidak ada salahnya mencetak uang, solusi kekurangan uang adalah menambah uang, apa lagi yang Anda harapkan? Masalahnya adalah yang dicetak pemerintah saat monetisasi bukan hanya uang, tetapi juga hutang…

Bank sentral membeli surat hutang negara, hanya supaya negara nantinya bisa membayar kembali ke bank sentral, ini sinting. Ini benar-benar sia-sia. Majikan (bankir) menjadi kaya karena yang membayar tagihan bukan mereka. Tetapi dalam quantitative easing, uang yang mereka terima adalah uang yang mereka cetak. Suatu saat, ketika uang tidak lagi mewakili nilai, maka QE pun tidak lagi memberikan manfaat kepada bankir. Cepat atau lambat ini akan berakhir, QE tidak akan berlangsung abadi.

Bayangkan sebuah perusahaan, setiap staf harus memberikan kontribusi (profit) bagi majikan. Misalkan Anda seorang salesman, gaji Anda 5 juta dan penjualan Anda menghasilkan profit 50 juta bagi perusahaan. Selisih 45 juta itu adalah untuk menghidupi staf lain yang bekerja di departeman lain.

Seminimum-minimumnya, salesman itu harus menghasilkan profit 5 juta per bulan agar dia tidak menjadi parasit, bukan begitu? Kalau penjualannya menghasilkan profit kurang dari gajinya, dia akan berubah dari sebuah aset menjadi sebuah liabilitas.

Dan tidak ada liabilitas yang akan bertambah lama di perusahaan manapun juga!

Dunia ini juga sama seperti perusahaan itu. Kita semua adalah staf, masing-masing memberikan kontribusi dalam sistem piramida raksasa yang sama. Majikan menjadi kaya karena kontribusi kita kepada mereka, karena kita memberikan kepada mereka lebih daripada yang kita dapatkan.

Majikan tidak menjadi kaya karena mereka mencetak uang kepada kita, hanya supaya kemudian kita mengembalikan uang yang sama kepada mereka. Kekayaan mereka harus datang dari kontribusi kita kawan.

Anda tidak bisa berharap bank sentral dan bank komersial terus-menerus memproduksi uang (mengcover hutang pokok dan bunga), memberikannya kepada pemerintah dan publik hanya supaya pemerintah dan publik kemudian membayarkan kembali jumlah uang tersebut kepada bank bukan? Ini sia-sia (bagi bankir).

Di saat titik puncak hutang terlewati (saya tidak tahu kapan), titik di mana manusia benar-benar tidak sanggup lagi mengajukan hutang dan membayar lebih dari yang mereka minta, satu-satunya hal yang wajar untuk terjadi adalah likuidasi liabilitas.

Somobody has to be liquidated. If it’s not you, then it’s me…

Dan setelah cukup orang dilikuidasi, kita, bersama-sama dengan Majikan kita, akan memulai lagi sebuah era baru dengan hutang-hutang yang baru. Sebuah siklus baru.


Nilai Intrinsik Uang

Kalau emas adalah uang, lantas apa yang pemerintah gunakan untuk membeli emas? Memakai emas untuk membeli emas? Oh come on

Dalam standar emas, negara tetap harus memark-up harga emas. Harga emas dipatok (fixed) di level tertentu, di atas ongkos produksinya. Umpamanya ongkos negara per gram Rp 50.000, dan kemudian dipatok dengan nilai Rp 200.000 (face value) pada saat emas tersebut dibentuk sebagai mata uang (koin ataupun batangan).

Uang kertas juga sama. Uang elektronik juga demikian.

Bedanya adalah rasio perbandingan face value terhadap ongkos bahan baku. Pada emas, rasionya bisa lebih kecil. Untuk uang kertas dan elektronik, rasionya bisa sangat besar. Tapi, yang pasti, apapun bahan baku yang digunakan, tetapi akan dipatok di harga yang sudah dimark-up sebelumnya.

Bentuk uang cash atau elektronik, sebenarnya (bagi saya) tidak terlalu penting. Saya menyukai uang kertas, saya juga menikmati uang elektronik, jadi jujur saja saya tidak bisa mengkritik berlebihan bentuk uang ini.

Emas bisa digunakan sebagai uang, emas pernah digunakan sebagai uang, & mungkin saja emas di masa mendatang akan kembali menjadi uang…. Tapi itu tidak berarti uang = emas, bukan begitu?)

Bagi para goldbug yang sering berpikir uang kertas hanyalah selembar kertas (sampah), ketahuilah bahwa sekalipun emas digunakan sebagai uang, dia juga sebenarnya sebuah barang komoditi yang nilainya (face value) telah dinaikkan cukup jauh sebelum bisa digunakan sebagai uang.

Jadi emas (atau perak) sebagai uang memiliki 2 macam harga: harga sebagai komoditi dan harga sebagai uang. Hal yang sama dengan kertas sebagai uang, dan angka digital elektronik sebagai uang.


Mengenai Pemerintah

Sebuah negara dibentuk untuk melindungi rakyat dari berbagai ancaman, dan sebuah pemerintahan dibentuk untuk melayani kepentingan publik yang mengangkatnya.

Tidak tahu siapa yang memulainya duluan, atau mungkin juga manusia memang memiliki insting untuk “melukai dan memakan” manusia yang lain, itulah asal-muasal ancaman, dan untuk itulah dibutuhkan negara.

(Atau jangan-jangan sejak awal pendiri negara memang adalah “otak” dari para pengancam? Atau berkolaborasi dengan para pengancam??)


Satu hal yang perlu Anda pahami sebagai manusia, “semua orang (& sistem) butuh makan,” demikian juga dengan institusi yang namanya pemerintah.

Pemerintah eksis untuk melayani publik, dan eksis untuk menyelesaikan masalah publik. Tetapi, tanpa masalah, sejumlah anggota pemerintah tidak akan eksis. Untuk itu, adalah untuk kepentingan mereka juga untuk ikut membantu menciptakan masalah. Atau apakah Anda benar-benar berharap mereka akan menuntaskan masalah hanya untuk kemudian dipecat oleh rakyatnya karena masalahnya sudah tidak ada?

Saya tidak bisa membuktikannya, tetapi saya sama sekali tidak akan heran kalau pemerintahan di berbagai negara memang ikut aktif membiayai keberadaan kelompok-kelompok yang akan menjadi “ancaman” terhadap rakyatnya. Istilah yang mungkin sering Anda dengar adalah government psy-ops.

Itu juga sebagian dari alasan mengapa pemerintah di manapun tampaknya tidak pernah benar-benar ingin menyelesaikan semua permasalahan secara tuntas, termasuk isu pengadaan uang.

Anyway, ini hanyalah sebuah kemungkinan, saya tidak bisa membuktikannya…

Memang rumit, di satu sisi kita berharap pemerintah akan melayani publik, tetapi di sisi lain justru pemerintah adalah institusi yang juga harus diwaspadai oleh kita. Saya bukan ahli ilmu tata negara, moga-moga ada orang di luar sana yang tahu bagaimana seharusnya manusia berkumpul dan melindungi kepentingan kelompok mereka.

Mengenai uang… Saya mengatakan pemerintah berhak untuk menciptakan uang, tetapi saya tidak mengatakan pemerintah boleh mencetak uang “membabi-buta” kawan.

Argumen para goldbug bahwa “fiat” money (uang kertas) bisa dicetak sesuka hati memang tidak salah, tetapi kalau itu permasalahannya, ya kita kontrol aja volume uang yang boleh dicetak negara. Ini seharusnya bukan mission impossible.

Percobaan untuk mengontrol ini selalu gagal (di masa lalu), setahu saya selalu karena intervensi dari para bankir swasta. Secara teoritis, harusnya yang kita tangani adalah keberadaan para bankir swasta itu, bukan sistem uang kertas itu sendiri.



Bagi saya, hal terpenting saat menganalisa saham adalah laba (earning) dari perusahaan. EPS (Earning Per Share) dan PER (Price Earning Ratio) adalah indikator yang pertama saya lihat.

Karena terbelit hutang, konsumen mengurangi belanja mereka. Karena mengurangi belanja, penjualan sejumlah besar perusahaan menurun. Pada saat yang bersamaan, hutang mereka masih berjalan, dan margin laba tidak bisa dinaikkan sesuka hati karena tidak ada yang mau beli.

Pada saat yang bersamaan, produk pencipta hutang terbesar, real estate, sudah tidak bisa diandalkan untuk menciptakan gelombang hutang berikut. Sesungguhnya, bubble real estate tahun-tahun terakhir ditiup untuk menunda runtuhnya kredit dunia. Bubble real estate bukanlah penyebab krisis, dia adalah akibat dari sistem yang kita anut. Tanpa bubble ini, "kemakmuran" yang dirasakan penduduk dunia tahun 2003-2007 tidak akan ada.


Buy It Baby.. Buy!!

Pendek kata, secara umum, earning power dari mayoritas perusahaan, termasuk yang go public sebenarnya sedang menurun.

Kalau orang-orang masih bersedia membeli saham di harga PER yang tinggi, ya silahkan saja. Membeli barang dengan harga mahal tidaklah melanggar hukum. Bukan karena sebuah keputusan tampaknya konyol, lantas itu tidak akan dilakukan.

Ada berbagai macam jenis manusia, hehe… Jadi apakah pasar saham akan naik atau turun memang tidak bisa saya pastikan. Sorry…

Beli di PER 120X? Hehe...

Nilai uang yang terlibat di pasar surat hutang sebenarnya lebih besar dari pasar saham. Pemerintah Amerika membutuhkan injeksi dana yang besar di pasar hutang mereka. Sebagian dari uang yang mereka butuhkan sebenarnya bisa diambil dari pasar saham. Tetapi dengan quantitative easing akhir-akhir ini, keharusan untuk menjatuhkan pasar saham sudah berkurang.

Semakin besar QE oleh pemerintah Amerika, semakin berkurang tekanan di pasar saham dan komoditi. Demikian juga sebaliknya. Tetapi semakin besar QE, semakin besar juga tekanan pada US Dolar.

Sistem perbankan Amerika membutuhkan kira-kira $5 trilyun kredit baru (naik secara eksponensial setiap tahun) untuk bertahan hidup (memberikan kepada Majikan apa yang mereka butuhkan agar mereka mau memberikan kepada publik apa yang publik butuhkan). Kalau memang benar rakyat mereka sudah sampai ke limit hutang mereka, maka QE terpaksa akan menjadi jurus terakhir untuk menemukan $5 trilyun ini.

Dan ingat, angka $5 trilyun ini akan meningkat seiring dengan waktu. Beberapa minggu lalu Federal Reserve mengumumkan akan memonetisasi $1 trilyun dolar untuk membeli hutang baru pemerintah Amerika, saya rasa hanya masalah waktu sebelum mereka mengumumkan untuk membeli $trilyun-trilyun dolar yang berikut. Tidak ada lagi alternatif yang lain.

Tadi sudah saya jelaskan, mencetak uang dan memberikan kepada A hanya supaya A membayarnya kembali tidaklah menguntungkan Majikan, ini tindakan yang sia-sia. Uang harus datang atas permintaan A dan dibayar oleh A dan kawan-kawan A kepada Majikan. Jadi suatu saat di bulan-bulan / maksimum beberapa tahun mendatang, QE pasti akan ditinggalkan.

Namun, US Dolar tidak akan ambruk selama dolar-system masih eksis. Tetapi begitu negara-negara lain bisa menemukan solusi atau setidaknya menggantikan sebagian pengaruh dari dolar Amerika, maka USD bisa jatuh sangat dalam.


Bagaimana Melikuidasi Liabilitas?

Di perusahaan, orang yang tidak menghasilkan profit akan dipecat. Setelah dipecat, orang itu mau pergi kemana, ya terserah orang itu sendiri. Yang pasti perusahaan tidak akan menghidupi dia lagi.

Di dunia, kalau Anda bayangkan keseluruhan populasi sebagai bagian dari sebuah perusahaan, tidak begitu. Sebab orang yang tidak menghasilkan profit (liabilitas) juga harus makan dan memiliki berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi.

Saya bukan insider, saya tidak tahu apa yang sedang direncanakan. Sekadar spekulasi, berikut beberapa contoh likuidasi liabilitas:
- Penyebaran virus baru
- Perang
- Peracunaan massal lewat bahan pangan ataupun lewat vaksin & obat-obatan.
- Bencana alam” buatan
- Pengurangan suplai berbagai bahan baku kebutuhan pokok, kelaparan massal sampai mati.
- dll…

Cerita tentang rencana depopulasi dunia yang Anda baca di website-website konspirasi saya rasa tidak dilakukan karena ada maksud satanic tertentu, tetapi karena sejumlah manusia memang telah berubah dari aset menjadi liabilitas bagi sang Majikan dalam debt based money system.

Cerita adalah cerita, dan tidak harus terjadi. Hal-hal buruk yang saya tulis di sini belum tentu akan menjadi kenyataan, tergantung apa yang dilakukan manusia saat ini.

Manusia benar-benar harus menyingkirkan sistem pengadaan uang seperti yang sedang kita lakukan, ini demi kelangsungan hidup kita sendiri, dan harus dilakukan secepat mungkin.

Sebarkanlah informasi ini kawan. Anda tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi korban berikut.

It could be YOU.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam sejahtera pak....membaca tulisan anda mengingatkan gue pada anggota2 FPI yg rada extrim...I mean pola pikir nya pak....
Anda sebaik nya di rekrut jadi anggota FPI dan diberikan kedudukan di post "Penasehat ekonomi" I think Indonesia akan makmur....haha.

Anonim mengatakan...

salute 4 jempol saya buat anda.

Pohon Bodhi mengatakan...

accident-kah bocoran minyak teluk mexico?? apa akibat jangka menengah-panjangnya??

http://pesn.com/2010/05/27/9501657_Gulf_oil_gusher_conspiracy_cover-up/

Pohon Bodhi mengatakan...

Goldman Sachs melepas 44% saham BP mereka hanya beberapa minggu sebelum bocoran minyak bawah laut mereka. Sungguh beruntung!

http://moneycentral.msn.com/ownership?Holding=Institutional+Ownership&Symbol=BP