Rabu, 24 Juni 2009

Step by Step Kebangkrutan Global

Dari berbagai berita di internet, kelihatannya sejumlah besar negara bagian Amerika akan bangkrut dalam waktu dekat. Yang paling kritis adalah California. Menurut Gubernur mereka, si Terminator Arnold Schwarzenegger, pemerintahan mereka hanya punya cukup uang untuk bertahan sampai bulan Juli ini.

Our wallet is empty. Our bank is closed.
Our credit is dried up.
- Arnold Schwarzenegger-

Setelah Juli, kalau tanpa injeksi uang ke kantong pemerintahan mereka, maka sejumlah instansi pemerintah akan ditutup, dan sebagian lagi akan melakukan PHK besar-besaran. Bayangkan kalau instansi yang ditutup adalah penjara, para napi: perampok, pembunuh, pemerkosa, pengedar obat bius, psikopat, dll, dilepaskan ke masyarakat, tanpa pekerjaan, tanpa uang, karena negara tidak punya uang untuk menampung mereka lagi, hehe…

The Fed, yang diharapkan untuk membantu mereka, mengindikasikan bahwa mereka tidak akan membailout negara bagian. Ya wajar-wajar saja, kalau mereka membailout California, maka dalam beberapa jam 50 negara bagian yang lain juga akan sibuk menelepon mereka dan meminta uang dengan alasan yang sama.

Pemerintahan Federal Amerika, tampaknya juga tidak bisa berbuat banyak. Uang yang mereka kumpulkan dari tangan publik untuk membailout bank-bank besar dan menciptakan “proyek stimulus” sudah sangat besar, ke mana lagi mencari pinjaman berikut?

Tanpa defisit anggaran negara bagianpun, pemerintah mereka sudah kesulitan meminjam, buktinya adalah quantitave easing (printing debt money) beberapa bulan terakhir.

Jadi bagaimana? Apa yang akan terjadi?

Hmm.. Saya sama tidak tahunya dengan Anda… Tapi mari kita bayangkan kembali beberapa hal mendasar tentang uang….

Seperti yang sudah Anda ketahui, uang muncul saat pengajuan kredit oleh konsumen. Awalnya, pengajuan kredit dilakukan untuk tujuan produksi. Hasil dari proses ini adalah uang yang tercatat di rekening si pemimjam dan juga benda berwujud yang diproduksi dari uang tersebut.

Sampai di sini, uang (kertas maupun elektronik) masih sangat berharga, karena mewakili nilai dari sebuah produk.

Step berikut, kredit diajukan konsumen untuk membeli barang yang sudah jadi, artinya barang yang sama yang sebelumnya telah diwakili oleh uang tertentu, dijadikan lagi sebagai jaminan untuk menciptakan lebih banyak uang.

Barang-barang hasil produksi masih sama, tetapi uang (kredit) yang beredar yang mewakili barang-barang tersebut bertambah. Inilah salah satu alasan kenaikan harga di pasar. Uang yang lebih banyak yang mengejar jumlah barang yang masih tetap.

Sampai di sini, uang masih juga berharga, karena bagaimanapun masih mewakili nilai dari suatu barang (walaupun barang yang sama sudah dijadikan sebagai jaminan untuk kedua kalinya).

Semakin banyak level sebuah aset dijadikan sebagai jaminan atas penciptaan kredit berikut, atau semakin besar volume uang yang tercipta atas barang yang sama yang dijadikan sebagai jaminan penciptaan kredit, semakin menurun nilai uang yang beredar.

Semakin sering Anda melihat publik melakukan spekulasi lewat uang kredit di industri atau produk tertentu, semakin besar kenaikan harga di industri atau produk tersebut.

Misalnya ABS (Asset Backed Security) atau MBS (Mortgage Backed Security). Konsumen meminta bank untuk menciptakan uang atas misalnya sebuah rumah yang mereka beli. Bank kemudian menjual janji konsumen tersebut untuk membayar kepada “investor” berikut, dan uang yang bank terima kemudian dipakai sebagai modal untuk menciptakan pinjaman berikut ke konsumen / demander uang yang berikut, dst…

Walaupun demikian, dengan berjalannya waktu, uang masih tetap akan berharga. Mengapa? Karena tidak sama seperti barang (yang bisa saja bertahan lama di dunia), setiap digit uang di dunia memiliki umur tertentu, umurnya berkurang dan berkurang dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, seiring dengan masa pembayaran kredit ke sang pencipta uang, BANK.

Saya pernah menggambarkan kepada Anda bahwa suplai uang di planet kita pada dasarnya adalah sebuah balon hutang. Balon ini adalah mengembang ataupun mengempis tergantung volume udara (hutang) di dalamnya.

Suplai uang = A + B – C

A = Hutang lama yang telah diajukan sebelumnya (yang belum jatuh tempo)
B = Hutang baru yang sedang diciptakan
C = Pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang lama.

Konsumen menciptakan uang, bukan mesin cetak. Korporasi-korporasi raksasa yang dibiayai oleh para bankir? Mereka juga adalah bagian dari konsumen.

Hutang dari A akan menjadi tabungan dari B.
Hutang dari C akan menjadi tabungan dari D, dst…
Somebody akan berhutang… Dan somebody lainnya akan mendapatkan tabungan…

Apa yang terjadi kepada individu, juga terjadi kepada negara. Sekarang coba Anda bayangkan…

Setiap hari, setiap bulan, manusia-manusia saling bertukar barang dan jasa, dan sekaligus bertukar uang, baik berupa cash, maupun hanya sebuah entri elektronik di bank.

Alex, seorang insinyur, memiliki sejumlah tabungan + income tertentu dari mata pencahariannya. Karena setiap bulan ada surplus, maka tabungannya terus bertambah, dan kemampuannya untuk membeli lebih banyak barang dan memenuhi keinginan lainnya pun meningkat.

Maka Alex pun membelanjakan uangnya. Misalnya, dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli sebuah rumah baru.

Lalu, karena tabungannya sudah habis untuk melunasi rumah barunya, maka tabungannya menjadi nol, tetapi dia masih memiliki mata pencahariannya, dia masih bisa menghasilkan surplus pendapatan di bulan-bulan berikut.

Maka, diapun mengajukan kredit, misalnya pembelian mobil baru. Dia menyicil mobil tersebut dengan cara misalnya 36 bulan, menggunakan surplus pendapatan bulanannya yang kebetulan pas untuk membayar cicilan bulanan mobil ini.

Sekarang, Alex sudah tidak sanggup lagi mengajukan kredit baru apapun. Limit hutangnya sudah tercapai.

Siapapun yang masih meminjamkan uang kepadanya untuk membeli barang konsumsi berikut adalah seorang idiot!

Kalau Alex ngotot untuk membeli, maka dalam waktu beberapa bulan, karena menunggak, maka aset yang menjadi jaminan pinjaman itu akan disita oleh sang kreditur.

…& Bayangkan, kalau di suatu negara, ada sejumlah besar populasi yang hidup dengan cara si Alex….

Inflasi tidak berlansung abadi, karena keterbatasan daya beli oleh publik. Di level-level hutang tertentu, orang akan berhenti mengajukan hutang, karena memang sudah tidak sanggup lagi membayar.

Dan di era deflasi, semua barang yang perlu dibeli lewat hutang (misalnya rumah) biasanya akan jeblok harganya, karena kemampuan orang untuk mengajukan kredit menciut. Semakin besar porsi kredit dalam pembelian barang tertentu, biasanya semakin jeblok harga barang tersebut.

Sebelumnya, Anda perlu mengingat kembali aturan main penciptaan uang:
Majikan (bankir) akan memberikan kepada Anda apa yang Anda inginkan, bila dan hanya bila Anda bisa membayar lebih dari yang Anda dapatkan.

Sebuah masyarakat, bila sudah sampai di limit hutang mereka, akan berhenti mengajukan kredit. Tetapi, suplai uang nanti akan terus menurun karena setiap bulan ada hutang pokok dan bunga yang harus dibayar ke perbankan.

Ingat, yang penting adalah berapa uang yang berada di tangan publik. Sekalipun ada berton-ton uang kertas dan trilyun-trilyun uang di rekening besi baja bank, bila uang ini tidak dimiliki oleh publik, atau tidak bisa sampai ke tangan publik (publik mengajukan kredit duluan), maka keberadaan uang itu tetap tak berarti.

Turunnya suplai uang akan menjatuhkan harga berbagai jenis aset yang dijaminkan saat penciptaan uang awal, dan bank bersangkutan bisa terkena resiko insolvent (liabilitas lebih besar dari aset)

Somebody harus membayar kerugian ini. Kalau bank tidak dibiarkan bangkrut, maka selisih kerugian yang diderita perbankan harus ditambal oleh somebody, dan somebody itu adalah publik.

Campur tangan pertama pemerintah adalah meminjam uang dari tangan publik yang memiliki uang dan memberikannya ke perbankan. Untuk membantu kelancaran proses meminjam ini, market yang lain memiliki uang harus dijatuhkan duluan, biasanya adalah pasar obligasi dan pasar saham. Maka uang berpindah dari satu pasar ke pasar yang lain.

Step berikut, kalau kejatuhan harga aset masih begitu besar, dan lebih dari kemampuan pemerintah untuk meminjam, maka pemerintah akan sampai di titik di mana mereka harus menentukan salah satu dari hal ini:
- Hentikan bailout, biarkan sejumlah bank tutup, dan kebangkrutan massal.
- Tak perlu meminjam dari publik, cetak uang baru (monetisasi), dan berikan lagi kepada perbankan.

Menciptakan uang tanpa dasar produksi, dan memberikannya kepada perbankan agar mereka bisa memenuhi rasio kecukupan modal mereka, adalah lebih sinting dibanding publik yang berspekulasi dengan uang kredit untuk membeli produk tertentu.

Efeknya adalah penurunan nilai uang (devaluasi), karena sejumlah uang yang tidak lagi mewakili nilai dicampur dengan uang-uang lama (kredit) yang mewakili nilai.

Semakin besar porsi uang baru (monetisasi) tak bernilai yang dicetak, semakin terasa efek inflationary mereka.

Zimbabwe zaman ini dan Weimar abad yang lalu adalah contoh kalau uang yang dicetak untuk membayar tagihan jauh melebihi uang sebelumnya yang masih mewakili nilai. Ketika Anda mencetak uang, yang tidak didasari produksi ataupun jaminan apapun, maka uang itu hanyalah selembar kertas, sesederhana itu.

Semakin banyak sampah yang dicampur dengan kertas berharga, semakin tidak berharga keseluruhan paket kertas itu. Dan bila jumlah sampah yang dicetak sudah sedemikian besar, jauh lebih daripada kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya, maka bahkan kertas-kertas berharga yang ada sebelumnya itu juga akan ikut menjadi sampah.

Namun, monetisasilah tidaklah seburuk yang orang sangka, bila digunakan untuk tujuan yang jelas, misalnya produksi oleh perusahaan negara, ataupun diberikan kepada publik untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.

Singkatnya, kalau diimajinasikan, step by step menuju kebangkrutan adalah sebagai berikut:
1. Habisnya tabungan.
2. Beli barang berikut, bayar dengan sistem cicil (pokok & bunga)
3. Karena kesulitan membayar, ganti cara bayar. Bayar dengan sistem cicil (bunga aja, hutang pokok gak usah). Sebenarnya, ini sama saja dengan menyewa.. hehe…
4. Beli terus, kali ini bahkan bungapun sebenarnya gak sanggup dibayar. Tapi jangan khawatir, ada beberapa aset lunas yang terakumulasi sebelumnya yang bisa dijadikan jaminan.
5. Pembayaran macet, aset yang dijaminkan mulai disita. Dan kalau semua kreditur menuntut untuk dibayar, maka nyatakan kebangkrutan dan likuidasi semua aset untuk membayar mereka.
6. Khusus untuk negara, bisa diperpanjang ke step berikut. Kalau hutang dalam mata uang yang mereka cetak, mereka bisa bayar dengan mencetak mata uang itu. Kalau hutang dalam mata uang asing, mereka bisa mencetak uang sendiri, lalu ditukar di pasar valuta asing untuk membeli mata uang asing tersebut. Tergantung seberapa besar volune uang yang dicetak, tingkat devaluasi atau prospek hiperinflasi adalah relatif tergantung skala cetak uang itu.

Belum tentu kalau mulai mencetak uang lantas negara langsung bangkrut, karena tergantung apakah sebagai sebuah negara, mereka sanggup mengubah diri mereka, dari membeli lebih banyak daripada yang mereka jual (defisit) menjadi menjual lebih banyak daripada yang mereka beli (menabung).

Yang dilakukan saat negara mencetak uang (monetisasi atau quantitative easing) adalah membeli waktu dan menunda kebangkrutan. Kalau mereka bisa mengubah diri mereka dengan cepat, berubah dari sebuah entitas yang defisit menjadi sebuah entitas yang surplus, mereka bisa come back, hiperinflasi dan hancurnya mata uang tidaklah harus terjadi.

Tapi kalau mereka tidak bisa mengubah ketagihan mereka akan defisit, dan semua tagihan memang hanya mungkin dibayar lewat pencetakan uang baru berikut, maka the game is over. Uang yang mereka cetak pada akhirnya memang hanya akan dihargai sebesar nilai kertas itu sendiri…

Step 1 sampai 3 di atas akan membentuk siklus “booming” ekonomi, waktu di mana semua orang merasa “makmur,” hehe.. Di step no 4, bubble sudah di ambang pecah, dan pada step 5 dan 6, itu adalah masa-masa meletusnya “kemakmuran” ekonomi menjadi bencana ekonomi.

***

Kalau Anda sudah membaca mengenal implikasi Capital Accord 2, Anda sudah tahu bahwa daya leverage sekuritas rating AAA sangatlah besar. Bersama dengan uang tunai, emas, surat hutang negara maju seperti Dolar Amerika, Pound Inggris, Euro, dan juga sebagian surat hutang negara bagian (muncipal bond), mereka bisa dimasukkan di aset level 1 ataupun level 2 pembukuan perbankan.

Runtuhnya rating surat hutang perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors yang barusan bangkrut dan juga surat hutang negara bagian seperti California nantinya akan menjatuhkan rating surat hutang tersebut dalam pembukuan bank-bank besar. Artinya, apa yang sebelumnya ada di level 1 akan jatuh ke level 2, atau apa yang ada di level 2 akan jatuh ke level 3, alias modal yang harus bank kumpulkan untuk memenuhi rasio kecukupan modal kembali akan membengkak.

Bedanya, kali ini pemerintah dan bank sentral mereka tidak lagi sanggup meminjam dari publik seperti yang mereka lakukan tahun lalu. Kali ini, pilihannya tinggal 2, biarkan bank tutup dan masuki era deflasi besar, ataupun cetak
uang!!

Apakah Amerika, Inggris, dkk akan memonetisasi besar-besaran hutang mereka atau tidak, saya tentunya tidak tahu, tetapi kalau harus bertaruh, saya lebih condong bertaruh para Money Masters pada akhirnya akan mencobanya. Publik akan menuntut mereka untuk melakukannya. Duduk diam dan membiarkan sebuah krisis menghancurkan kehidupan masyarakat sepertinya bukan skenario yang bisa diharapkan untuk dilakukan para politisi dan pejabat bank sentral.

Negara maju adalah konsumen, dan kita, di Indonesia, dalam bagan piramida perdagangan global, adalah produsen. Kalau mereka melakukan devaluasi, kita juga nantinya akan ikut, karena mata uang kita kalau menguat, ekspor kita akan terganggu. Memang inilah nasib negara budak, kecuali kalau posisi Indonesia dan negara berkembang lainnya bisa diubah. Giliran Amerika, Inggris, dkk yang menjadi budak & mensuplai kebutuhan kita dengan harga murah. Hehe…

Tapi butuh waktu untuk melihat itu kawan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apa yang saya sharing kepada Anda mengenai masa depan, sejak buku Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia, sampai tulisan2 di blog ini mungkin baru akan menjadi kenyataan setelah bertahun-tahun lagi, bahkan dekade. Yang bisa saya katakan adalah kita memang sedang dalam perjalanan sesuai dengan apa yang saya tulis, KEBANGKRUTAN GLOBAL...

7 komentar:

Furqon mengatakan...

Terima kasih atas pencerahannya Bung Pohonbodhi :-)

saya ada sedikit pertanyaan mengenai bagaimana nasib emas kalau skenario kebangkrutan amerika terjadi?

Pohon Bodhi mengatakan...

Kalau tidak ada percobaan monetisasi besar, kita akan memasuki masa deflasi.

Di era ini, uang akan menjadi sangat berharga, cash is king. Kalau emas memang adalah uang, maka dia akan memiliki daya beli (purchasing power) yang tinggi. Saat harga produk yang lainnya jatuh, emas masih dapat mempertahankan nilainya.

Tapi tentu emas adalah uang atau bukan harus tanya yang sedang jadi bos, para central bankers dan para zionis (Rothschild cs). Semua uang adalah fiat. Tanpa keputusan resmi dari mereka untuk kembali menjadikan emas sebagai uang, emas hanyalah sebuah logam perhiasan.

Selama status emas tidak jelas, di era deflasi, emas bisa juga ikut jatuh harganya.

Kalau ada percobaan monetisasi global, prospek inflasi dalam jangka menengah - panjang mungin akan sangat tinggi. Emas, dan nyaris segala hal yang lain, akan naik harganya.

Tapi saya bukan insider, jadi yang mana yang akan terjadi dari 2 kemungkinan ini, saat ini saya tidak tahu.

Untuk jaga2 aja, menyimpan sebagian uang kita dalam bentuk emas fisik mungkin berguna nantinya. Sekalipun harganya jatuh, sejelek-jeleknya dia masih berguna sebagai hadiah mas kawin buat anakmu nanti. Hehe..

nou mengatakan...

Apa kbr,Pak Bodhi..? Saya coba berbagi pengalaman teman saya tentang emas dan analisa belajar saya terhadap harga emas dari kitco.com.
Juga ada sedikit pertanyaan tentunya.

Sesaat sebelum jatuhnya nilai mata uang rupiah pada krismon tahun 1997 sodara teman saya menjual assetnya berupa 1 unit ruko 3 lantai senilai 5kg emas,setelah krismon nilai ruko itu hanya berkisar 2kg emas,jika emas itu dikembalikan ke ruko maka akan di dapatkan 2 unit ruko plus sisa 1kg emas.

Dari statistik harga emas pd situs kitco.com dlm 10 tahun terakhir ini harga emas dlm dolar meningkat lebih dari 300%. Jika sebelum 2002 harga emas dibawah 300 dolar/troy ounce rupiah dan pada tahun 2009 ini harga emas dikisaran 900 dolar/troy ounce maka telah terjadi kenaikan harga emas,atau mungkin lebih tepatnya terjadi inflasi terhadap mata uang dolar hingga sepertiganya. Memang pada grafik kitco.com tersebut harga emas bergerak secara fluktuatif,tapi tren secara umum naik terus. Pergerakan yang fluktuatif itu adalah akibat aksi ambil untung dari para spekulan emas.

Sekarang mulai banyak lembaga swadaya masyarakat yg mensosialisaikan emas sebagai alat tukar dan media penyimpanan kekayaan(tabungan). Jika nanti banyak masyarakat yg memakai emas sebagai alat tukar,atau sebagai standar nilai barang,tentu keberadaan emas layaknya berperilaku uang walaupun tidak resmi. Lalu mengapa harus menunggu keputusan para bankir dan para zionis..? Bukankah masyarakat telah mengambil kembali urusan uang mereka yang selama ini diurus pemerintah melalui penciptaan uang kertas dan para bankir yg selama ini menguasai perputaran uang masyarakat..? Berarti masyarakatlah yg jadi bos terhadap uangnya sendiri.

Pohon Bodhi mengatakan...

@Nou,
Kabar saya baik2 :)

Rupiah kita memang konsisten jatuh sejak saya bisa mengingat.. Jadi kalau harga emas konsisten naik dalam rupiah dari generasi ke generasi ya wajar2 aja. Saya rasa harga ruko temanmu yg dia jual 1998 tahun2 terakhir ini juga sudah catch up bukan?

Harga emas (dalam USD) gak ke mana-mana sejak bubble 1980 sampai sekarang, itu kan juga kenyataan. Orang barat yang beli saat puncak harga 1980 baru break even setelah menunggu hampir 30 tahun.

Apakah masyarakat benar bisa menggunakan emas sebagai medium transaksi tanpa restu dari pemerintah dan bank sentral, saya tidak tahu. Tapi terus-terang saya masih sulit membayangkan itu terjadi dalam skala besar.

Menabung emas mungkin, tapi kalau benar-benar menggunakannya sebagai medium transaksi sehari-hari, sepertinya sulit. Harganya mahal, sulit dipecah.

Kalau kita bisa membujuk lebih banyak orang untuk membeli emas, memang harganya akan naik. Tetapi semua barang yang lain juga demikian. Sama seperti properti. Itu tidak membuktikan emas adalah uang, naiknya harga itu hanya fenomena supply-demand biasa.

Anonim mengatakan...

Mohon Moderator menanggapi tulisan dibawah ini dalam tulisan2 berikutnya, ini menarik karena ibu mentri juga telah menyampaikan hal yang sama dlm sebuah wawancara beberapa hari yang lalu di TV bahwa hutang luar negeri biasa sebagaimana negara2 maju melakukannya. terimakasih Kevin

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id126901.html

nou mengatakan...

Dari beberapa artikel yang saya baca beberapa institusi keuangan dunia memiliki cadangan emas yang sangat besar. contohnya seperti The Fed dan IMF. Mereka memiliki cadangan emas hingga ribuan ton. Bahkan Cina yang sekarang sebagai salah satu negara terkuat ekonominya sudah mempersiapkan diri dengan terus meningkatkan cadangan emasnya yang hingga sekarang telah melebihi 1000 ton.

Salah satu fungsi uang yang saya ketahui adalah penyimpan nilai kekayaan (store of value - cmiiw).
Jika institusi-institusi keuangan terbesar di dunia seperti the Fed dan IMF saja menyimpan kekayaannya dalam cadangan emas bukankah hal tersebut sudah menunjukkan bahwa emas berlaku sebagai uang? Jika emas bukan uang mengapa pemerintah Cina menaikkan terus cadangan emasnya...?

Dalam kasus harga emas sekitar 300 dolar pada awal tahun 2000-an hingga menjadi 900-an dolar pada tahun 2009 ini,apakah perubahan harga tersebut dapat dikatakan emas yang harganya naik? Atau nilai dolar yang turun terhadap emas?Kemudian bagaimana caranya kita memastikan bahwa suatu barang itu harganya naik atau turun karena faktor suply-demamd semata?
Sementara kita tau bahwa uang kertas yang beredar di dunia ini khususnya dolar sebagai alat tukar internasional dan rupiah sebagai alat tukar resmi negeri yang standarnya mengacu kepada dolar dapat dicetak sekehendaknya sesuai selera pemiliknya...?

Pohon Bodhi mengatakan...

@Nou,
Emas baru mulai "dilepaskan" sebagai uang sejak Amerika meninggalkan standar emas 1971.

Tumpukan emas IMF, Fed, dan bank sentral berbagai negara yang lain, mayoritas adalah stok yang mereka timbun jauh sebelumnya. Emas adalah medium uang yang paling populer sejak berabad-abad yang lalu. Itulah sebabnya bank2 besar itu punya emas.

Saya curiga beberapa dekade ini bank2 besar itu sudah mulai melepas emas mereka, menjualnya ke market, kepada siapa saya tidak tahu..

Dan pada akhirnya, kalau mereka kehabisan emas, dan tetap pada keputusan mereka bahwa emas bukanlah uang, kenyataannya adalah: there is nothing we can do!

Cina menaikkan cadangan emas mereka beberapa ratus ton. Itu gak ada apa-apanya dibanding 2 trilyun cadangan dolar devisa mereka.

Lagian bukan hanya emas yang dibeli Cina, bukan begitu? Mereka sedang membeli dalam jumlah besar komoditi dan bahan pangan lainnya.

Kalau ntar kita membaca berita Cina akan menimbun soya, apa lantas soya adalah uang??