Senin, 03 November 2008

Bailout USA & JPSK Indonesia

Beberapa minggu yang lalu pemerintah RI mensahkan sebuah perpu tentang JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan). Katanya nilai jaminan uang nasabah di bank akan dinaikkan, dan dalam situasi darulat, pemerintah memiliki hak untuk mem-bailout bank-bank yang beresiko bankrut untuk menghindari kejatuhan sistemik perbankan. Jadi, untuk menghindari keterlambatan "aksi penyelamatan", maka sebelum krisis dimulai, peraturan pemerintahnya sudah disahkan terlebih dahulu.

Betapa menyenangkannya menjadi bankir.... Di hari-hari baik, semua keuntungan adalah miliknya. Di hari-hari buruk, semua kerugian bisa dilimpahkan ke rakyat negara bersangkutan. Benar-benar luar biasa.

Media-media utama mengupas perpu ini seolah-olah ini adalah hal yang perlu disyukuri. Tapi apa benar perpu ini bermanfaat bagi orang banyak?

Mari kita berandai-andai sebentar.....

A adalah seorang manager di perusahaan developer terkemuka di kotanya.
B adalah anak dari A, sedang sekolah di SMU, hobi dan bakat utamanya adalah taruhan sepak bola. Setiap akhir pekan dia akan duduk di kafe menonton siaran sepak bola dan memasang taruhan jutaan rupiah.

A memiliki gaji kira-kira 15 juta per bulan.
Karena statusnya sebagai manager, maka dia pun merasa perlu untuk tinggal di perumahan yang lebih berkelas. Barusan dia membeli rumah seharga 400 juta. Setelah membayar uang muka sebesar 150 juta, dia pun mengajukan kredit 250 juta untuk KPR.
Setiap bulan dia harus membayar 4 juta ke banknya selama 10 tahun. Dia juga membeli sebuah mobil sedan, yang cicilan bulanannya 4 juta per bulan selama 3 tahun. Jadi dari 15 juta pendapatannya, A tinggal 7 juta yang bisa dia belanjakan.

Konsumsi bulanan rumah tangganya: listrik, air, makan, hiburan, dan asuransi kesehatan menghabiskan 6 juta. Jadi A menabung uang tunai kira-kira 1 juta per bulan.

Lalu si A bertemu dengan seorang teman lamanya, C, yang habis kuliah Master Ekonomi di Amerika. Katanya si C: membelanjakan semua uang kita adalah tindakan partriotisme, berkat konsumsi maka ekonomi negara bisa maju. Maka banggalah menjadi konsumen, mulailah mengajukan kartu kredit. Spending is Good.

A mengira semua yang dia dengar dari C pastilah benar. Bagaimanapun, Amerika kan negara maju. Kalau kita mengikuti lifestyle orang Amerika, kita baru bisa ikut-ikutan maju.

Dia mulai mengajukan kredit macam-macam, perabot rumah tangga, liburan akhir tahun, renovasi rumah, TV baru, motor Tiger terbaru untuk anaknya, B, semuanya dibayar pakai kredit.

Cicilan rumah dan mobil tetap dibayar A, tetapi jangka waktunya diperpanjang, supaya nilai cicilan bulannya bisa mengecil dan dia bisa menyicil kredit lainnya.

2 tahun kemudian, B mulai masuk perguruan tinggi, yang sumbangan masuknya puluhan juta rupiah. Mobil pun mulai sering rusak dan masuk bengkel, dan A pun mulai kesulitan keuangan. Dia pun pelan-pelan mulai menggadaikan harta keluarganya. Perhiasan dan tabungan istrinya mulai dipinjam A, katanya ntar akan dibeliin lagi. Dia pun tidak segan-segan meminjam ke teman-teman terdekatnya (D,E,F,G,H), Total pinjamannya sebesar 100 juta, dengan bunga 1% per bulan. Jatuh tempo hutang pokok adalah 5 tahun, jadi A tidak perlu melunasi hutang pokok selama 5 tahun selama bunga 1% ini dibayarkan tiap bulan (1% dari 100 juta = 1 juta)

Lalu suatu ketika anaknya, B, kalah taruhan bola. Nilainya 100 juta. Si A yang sayang anak, mengatakan kepada rekan-rekan taruhan bola si B (I,J,K,L,M) bahwa semua kerugian B akan dijamin olehnya. A akan membayar (I,J,K,L,M) 1% setiap bulan dari 100 juta kekalahannya. Hutang pokok ditunda dulu. Sebelum hutang dibayarkan, A menyarankan I,J,K,L,M untuk tetap berjudi dengan si B. Bagaimanapun, yang namanya judi ada menang-kalah. Siapa tahu B bisa menang 100 juta hari Sabtu mendatang. Kalau B menang, berarti hutangnya lunas.

D,E,F,G,H pun mulai panik. Apa yang dilakukan A?? Hutang banknya belum lunas, hutang ke mereka pun belum dibayar, sekarang A malahan menambah tanggung jawab baru dengan menjamin hutang si B.

I,J,K,L,M pun khawatir setengah mati.. Jadi mulai sekarang si B akan berjudi dengan mereka tanpa modal. Ketika B menang, mereka berlima harus membayar penuh, tetapi ketika B kalah, A hanya akan membayar 1% per bulan dari kerugian B.

D pun memulai duluan, dia pergi ke E dan berkata, "E, saya lagi ada sedikit urusan keluarga nih, surat hutang A ke saya ada 20 juta, saya jual ke kamu ya, saya kasih diskon deh, kamu kasih saya 19 juta saja."

Beberapa minggu kemudian, E tersadar, dia telah salah langkah. Maka E pun mencari F, "F, saya lagi urusan keluarga yang sangat mendesak, lagi butuh uang banyak nih. Saya punya surat utang A sebesar 40 juta, saya jual ke kamu ya, saya kasih diskon deh, 38 juta saja, tolong diambil ya..."

Satu hal yang pasti, melihat apa yang dilakukan oleh A, maka tak seorangpun di antara D,E,F,G,H yang mau menjadi orang terakhir yang memegang surat hutang si A. Kemungkinan default sedemikian besarnya... Bantuan mereka ke A atas dasar hubungan akrap pertemanan kemungkinan besar tidak akan pernah dibayarkan kembali. Maka nilai surat hutang A pun terus menurun. 20 juta surat hutang akan dilepas ke siapapun yang mau membeli dengan harga mungkin 19 juta, 18 juta, 15 juta, bahkan 10 juta, yang penting ada yang mau membeli. 10 juta masih lebih baik dibandingkan dengan 0 (nol)!!!

Kurang lebih itulah hasil JPSK versi Indonesia.
(Tentu saja, A tidaklah sama persis dengan pemerintah. A tidak bisa mencetak uang untuk membayar hutang, pemerintah bisa)

Cobalah pikir-pikir:
Bagaimana mungkin pemerintah RI sanggup mem-bailout perbankan sekali lagi? Bukankah bunga obligasi BLBI 10 tahun lalu masih belum lunas dibayarkan? Bukankah Indonesia masih harus menerbitkan SUN (Surat Utang Negara) sebesar TRILYUNAN rupiah setiap bulan untuk membayar anggaran tahunan mereka? Bukankah Indonesia masih sibuk-sibuknya memikirkan cara menarik pajak yang lebih besar lagi terhadap rakyatnya yang sudah hidup susah? Bukankah ini masih Indonesia yang sama yang beberapa tahun yang lalu mengemis selama 1 tahun ke IMF hanya untuk mendapatkan 2 milyar dolar pinjaman?

Sebelum JPSK pun, nilai surat hutang pemerintah tidak terlalu dipercaya, makanya bunganya lebih tinggi, 9%-an. Bandingkan dengan kebanyakan negara lainnya yang berkisar 1 - 3%.

Setelah JPSK, pemegang surat hutang Indonesia pun mulai khawatir.. "Apa RI sudah gila? Emang gak cukup hutang kalian? Kok ditambah lagi? Mau jamin pakai apa uang nasabah di bank kalian? Kalau memang sudah kaya, ngapain juga lu jualan SUN tiap bulan?"

Hasilnya pun bisa ditebak, harga SUN jatuh, nilai rupiah terpuruk, bunga pinjaman meningkat sampai 20%-an.

Padahal itu cuma JPSK, ancang-ancang saja untuk membailout, belum benar-benar bailout.

Nanti kalau krisis tiba, dan pemerintah benar-benar membailout, apa yang akan terjadi pada rupiah kita? Apa implikasinya terhadap kehidupan rakyat banyak? Rupiah yang lemah membuat ongkos impor meningkat, padahal kita tergantung kepada barang impor untuk berbagai kebutuhan pokok kita. Sekelompok kecil eksportir mungkin akan bertambah kaya, tetapi bertambah kayanya mereka tidak bisa mengkompensasikan kerugian masif yang dialamai mayoritas orang lain. Hasil akhirnya adalah standar hidup rakyat negara ini tetap menurun.

Lalu gimana dengan mentor RI, Amerika Serikat? Bukankah mereka melakukan hal yang sama dengan RI, dan US dolar mereka tetap menguat?

Salah satu alasan terpentingnya adalah karena pembayaran taruhan derivatif. Taruhan di pasar derivatif sudah menembus 1000 trilyun dolar (mayoritas adalah kontrak US dolar, dan HARUS disettle dengan US dolar). Anda tidak bisa membayar hutang dolar Amerika dengan Yen, Euro, Pound, atau rupiah. Hutang USD harus dibayar dengan USD!

Ke mana mencari trilyunan US dolar dalam sekejap? ... Federal Reserve dan bank sentral besar lainnya memang memberikan bantuan likuiditas yang amat besar setahun terakhir (> dari 3 trilyun dolar sampai sekarang), tetapi angka itu masih sangat jauh dari yang dibutuhkan pasar. Jangan lupa taruhan derivatif sudah mencapai 1000 trilyun. 1% saja kontrak yang harus dibayar, berarti harus ada tambahan 10 trilyun dolar!

Jadi segala aset yang bisa dijual harus dijual, dan digunakan untuk membeli US dolar untuk men-settle pembayaran perjudian derivatif. Bank-bank utama dunia juga tidak akan memberikan kredit kepada siapapun (kecuali kroni mereka), karena uang yang sama harus digunakan untuk membayar pihak pemenang dari taruhan derivatif. Bank juga tidak akan me-rollover hutang-hutang perusahaan swasta lainnya, jadi jangan kaget kalau mulai sekarang akan ada banyak perusahaan besar yang bangkrut atau diambilalih paksa pihak lain karena tidak bisa membayar hutang.

Kalau ratusan trilyun kontrak derivatif dunia ditulis dengan kontrak rupiah, sekarang tentunya rupiah kita juga sudah menguat kencang tak terbendung. Mengapa? Karena suplai rupiah tidak cukup untuk men-settle kontrak derivatif itu.

Jadi jangan salah sangka, dolar Amerika tidak menguat karena dia pantas menguat. Fundamental ekonomi negara superpower itu tidaklah lebih baik dibanding Indonesia. Dua-duanya sedang melaju dengan kencang dalam kereta yang sama menuju kebangkrutan....

3 komentar:

mbah dipo mengatakan...

saya penggemar berat blog ini. Pencerahannya luar biasa.
Mohon ijin mengambil kata2 dalam blog ini dalam bentuk quote. Karena setiap kalimatnya berisi.

Anonim mengatakan...

Tuh bank century habis dibail out. Yg terjadi kok gak kayak ceritamu?

Anonim mengatakan...

Atas ane gk paham nih rupanya...