Minggu, 16 Mei 2010

All Slaves Are Not Equal

Di bawah ini adalah angka-angka keuangan 2001-2010 yang direkap dari 2 website pemerintah. Kita asumsikan saja tidak ada angka off-balanced sheet seperti yang dilakukan oleh negara-negara barat. Angka-angka tersebut dalam satuan trilyun rupiah.

www.fiskal.depkeu.go.id
www.dmo.or.id

Sayang tidak ada data yang lebih lama, kalau bisa diambil sejak tahun 1945, tentunya akan sangat informatif.

Dan juga tabel rasio pembayaran beberapa negara barat yang direkap dari website Michael Pollaro

Hari ini kita abaikan saja isu hak pemerintah untuk mencetak uang, kita ikuti saja sistem yang ada dan kita lihat siapa yang lebih baik dari beberapa budak uang di dunia.




Beberapa grafik dari angka-angka di atas:


GDP adalah angka produksi barang dan jasa di sebuah negara, gabungan dari sektor swasta dan pemerintah, ditambah gross investment dan selisih ekspor-import.

Pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap GDP Indonesia kurang lebih adalah sebesar 20%.


Kalau Anda menganggap pemerintah sebagai sebuah korporasi, maka sebenarnya harus diakui rasio finansial mereka memang terus membaik.


Rasio pendapatan / pengeluaran di atas 1, artinya pemerintah setiap tahun ada surplus (tabungan). Di bawah 1 artinya setiap tahun defisit (berhutang). 10 tahun terakhir selalu defisit.

Rasio hutang / pendapatan menunjukkan berapa besar ungkitan (leverage) mereka. Semakin besar angkanya, semakin lama hutang harus dibayarkan dari pendapatan tahunan mereka.

Dan di bawah ini adalah alasan utama mengapa rasio hutang / pendapatan pemerintah kita terus membaik secara sangat impresif.


Korporasi biasa harus menjual produk atau jasa tertentu untuk mendapatkan pendapatan, sedangkan kalau pada negara, komponen utama penerimaan mereka adalah pajak, alias uang dari kantong-kantong kita. Apakah Anda terkesan dengan prestasi ini adalah tergantung cara pandang Anda. Anda boleh menganggap hal ini sebagai hal yang baik ataupun tidak baik. It's your choice.


Mengenai pendapatan non pajak di atas, terutama adalah terdiri dari pembagian laba BUMN dan juga pembagian uang SDA (sumber daya alam) negara.

Dan di bawah ini, perbandingan antara PIIGS, Amerika, dan Indonesia. Gunakan imajinasi Anda untuk memahami makna angka-angka ini. Kalau kita memiliki logika berpikir yang sama, saya percaya kita akan sampai ke kesimpulan yang sama, yaitu situasi keuangan Indonesia jauh lebih baik dibanding siapapun dari mereka.

Dan menarik juga untuk diperhatikan, keadaan Amerika sama sekali tidak lebih baik daripada the PIIGS. Jadi agak lucu juga melihat situasi panik Eropa akhir-akhir direspon oleh pasar dengan cara membeli USD, padahal Amerika pun setali tiga uang dengan mereka, kalau bukan lebih buruk.



Walaupun sama-sama debt slaves, tetapi tampaknya setiap orang tetap berbeda status. Kalau saja Indonesia yang memiliki rasio-rasio keuangan seperti itu, tidak bisa dibayangkan nasib rupiah dan pasar saham kita.

Dan seandainya saja Amerika hari ini memiliki rasio keuangan seperti Indonesia, saya curiga lembaga rating dunia pun harus segera menciptakan rating yang bahkan lebih tinggi dibanding AAA. Hehe..

55 komentar:

Anonim mengatakan...

itulah the power of trust pak, meskipun terkadang non sense hehehe...

RongkErong mengatakan...

Maaf Pak, Saya ingin Bertanya. Mungkin engga cocok dg Topik yg Sekarang Lg Di bahas .. Tp Ada hubungannya Lah dg Pemerintah.
Begini, perbedaan pemerintah mencetak uang lalu menggunakannya untuk pembangunan(Gedung, Jembatan,& infrastruktur lain) Dg mencetak uang untuk konsumsi/membeli Gedung2, infrastuktur lain dan barang2 yg sudah Eksis sbelumnya ??
Uang yang beredar kan Tetap Lebih banyak Di masyarakat, apakah g akan ada inflasi dari tindakan Keduanya ???
Mohon Diberi Analogi(contoh Soal Seperti Biasanya), Krn Saya msh Kurang Mudeng mengenai Hal Tsb. heehee ...

Pohon Bodhi mengatakan...

Kalau buat perumpamaan yang simple kira-kira begini..

Ada 10 rumah dan 1 milyar di sebuah komunitas. Maka setelah sejumlah waktu kita bisa menanggap rata-rata harga rumah mereka adalah sekitar 100 juta / rumah.

Kalau Anda menambah misalnya 1 milyar di komunitas ini tanpa membangun rumah yang baru, Anda ciptakan uang agar orang bisa berspekulasi atas properti yang sama, maka setelah sejumlah waktu harga rumah bisa saja menjadi 200 juta / rumah. (10 rumah + 2 milyar)

Sebaliknya, kalau Anda menambah 1 milyar tadi untuk membangun 10 rumah baru, yang memang ada demandnya, maka setelah sejumlah waktu harga rumah seharusnya tidak akan terlalu jauh dari angka 100 juta / rumah, karena sekarang ada 20 rumah + 2 milyar.

Inflasi atau tidak? Ya, itu mungkin tergantung definisi inflasi menurut Anda. Kalau inflasi yang Anda maksudkan adalah pertambahan suplai uang, maka iya, menambah uang pasti akan inflasi.

Kalau yang Anda maksud adalah kenaikan harga barang, maka itu tergantung untuk apa uang-uang baru itu diciptakan. Ada perbedaan besar antara membangun hal yang baru dengan membeli barang yang sudah eksis.

RongkErong mengatakan...

Inflasi menurut saya kenaikan harga barang2 & menurunnya nilai mata uang.
Akan Tetapi Di komunitas tsb tidak hanya ada rumah, Di dalamnya banyak terdapat produk lain spt beras, motor, buah-buahan dll. Bagaimana ketika produksi barang2 lain tsb tdk bisa mengimbangi demand karena kelebihan kuantitas uang ??
Tp kalo pencetakan uangnya tidak langsung "tumpek-blek", alias bertahap mgkn tidak apa2 ..

Mohon Diperbaiki, mungkin pernyataan saya kurang tepat, Cz sy kurang mengerti tentang Ekonomi. Alias amatiran, heehe..

Pohon Bodhi mengatakan...

Iya, di dalam komunitas memang tidak hanya ada rumah. Perumpamaan di atas hanya utk menyederhanakan saja.

Maksud saya adalah uang yg diciptakan berkali-kali atas aset yang sama bisa mengungkit harganya.

Anonim mengatakan...

jadi semakin banyak barang(produksi) dan semakin banyak suply uang tidak akan membuat harga barang menjadi naik. betul begitu pak?

Pohon Bodhi mengatakan...

Asalkan benar-benar ada demand, menambah suplai uang bersama-sama dengan barang memang tidak akan menyebabkan gejolak harga (naik/turun).

Tentunya dengan asumsi kita tidak sedang menghitung sampai detail angka-angka di belakang komanya. Maksud saya adalah harga secara rata-rata.

Tapi kita perlu juga sedikit imajinasi kawan, jangan campurkan fenomena kenaikan setiap harga produk dengan isu inflasi.

Kalau kebetulan pada suatu waktu sebuah komunitas memang lagi sangat perlu/ingin, atau karena suatu hal suatu produk benar-benar lagi sangat ngetren, harganya tetap bisa melambung tinggi irelevan dengan masalah suplai uang secara umum.

Proletar mengatakan...

pak pohon, saya mau tanya.. (ga ada hubungan dg crita diatas, tp msh ttng uang)
dg sistem fractional resrved semua uang akan kembali ke BI. yg sya bingung, sampai di BI uang tsb diapakan? trus klo BI mnctak uang baru gmn caranya smpai ke masyarkat. makasih pencerahannya pak

Rik mengatakan...

The new insanity. the fractional-reserve banking will be replaced with no reserve banking in the US. Read it here: http://rawstory.com/2010/03/footnote-fed-believes-minimum-reserve-requirements-eliminated/

Pohon Bodhi mengatakan...

Semua uang, pertama kali, sebelum beredar & sampai ke tangan seseorang, adalah harus didahului dengan hutang.

Bank sentral bisa mencetak uang utk membeli sebagian surat hutang pemerintah. Uang ini, setelah dibelanjakan pemerintah, nantinya akan sampai ke tangan publik, yg kemudian berakhir di rekening mereka di bank komersial.

Bersama modal milik bankir sendiri, uang ini yg menjadi modal fractional reserve system. 1 milyar bisa menjadi berkali-kali lipat, tergantung rasio kelipatan yg diizinkan di masing-masing negara.

By the way, uang ini tidak harus kembali ke BI. Hutang pemerintah bisa terus dirolling-over sama mereka. Statusnya memang hutang, tetapi nilai principalnya belum tentu harus dibayar.

Kalau Anda mau membayangkan bagaimana cara uang sampai ke tangan masyarakat, simplenya, abaikan saja dulu bank sentral.. Imajinasikan saja gabungan semua bank komersial di sebuah negara.

Kredit yang mereka ciptakan, itulah suplai uang utama. Diberikan secara tunai atau berupa eletronik, tidak masalah.

(Bank sentral membeli surat hutang negara disebut monetisasi. Saya lihat sangat jarang dilakukan, kecuali terpaksa)

**

Kalau uang tunai benar-benar sudah sangat minim penggunaannya, no reserve banking sepertinya bukan hal yang mustahil. Kedengarannya memang agak beresiko, tetapi secara teknis sepertinya mungkin saja dilakukan.

Mungkin tidak tahun ini, tapi utk negara-negara yg lebih maju seperti US, dalam waktu beberapa tahun, who knows?

Rik mengatakan...

Masalahnya bukan begitu. IMO, hari ini reserve requirement berfungsi sebagai rem bagi penciptaan uang. Dengan no-reserve banking, rem ini udah nggak ada lagi. Di Inggris, Swedia dan Kanada memang pengaturan reserve requirement sudah diserahkan ke masing-masing bank. Meskipun begitu secara rata-rata, reservenya masih ada. Kalau di US sepertinya (mudah-mudahan salah) semua bank akan tanpa reserve sama sekali

Pohon Bodhi mengatakan...

Kalau saya lihat, masalahnya adalah bagaimana caranya bank menyeleksi kredit apa yang bisa diberikan & kredit mana yang tidak bisa.

Kalau terlalu longgar, suplai uang akan naik terlalu cepat. Kalau terlalu ketat, bisa menyebabkan resesi.

No reserve requirement secara teori tidak terlalu buruk, asal punya bank komersial yang bisa dipercaya. Tentu saja, kenyataannya tidak begitu. Jadi Anda benar utk mengkhawatirkan rencana seperti ini.

Ada banyak taruhan derivatif yang kalau harus dibayar, tidak akan ada cukup uang di dunia utk membayarnya. Mungkin the Fed hanya mengambil ancang-ancang saja.. No reserve requirement bisa menjadi salah satu solusi bagi Wall Street.

Rik mengatakan...

Bank secara default tidak akan bisa prudent. Kalau mereka menyeleksi kredit, berarti mereka menghentikan musik yang sedang dimainkan pada game of musical chair. Subprime-mortgage ada karena prime mortgage sudah tidak bisa lagi menaikkan harga rumah.
Dulu waktu housing bubble, orang-orang bisa bertaruh di pasar perumahan tanpa biaya. Sekarang dengan no-reserve banking ini apakah akan memicu banking bubble?

Anonim mengatakan...

hal yang ditanyakan sepertinya sudah banyak diulas secara gamblang, pak bodhi rasanya cukup me refer ke tulisan2 yg terkait saja biar gak cepe he he

Anonim mengatakan...

hal yang ditanyakan sepertinya sudah banyak diulas secara gamblang, pak bodhi rasanya cukup me refer ke tulisan2 yg terkait saja biar gak cepe he he

Anonim mengatakan...

Saya sangat senang sekali membaca artikel2 di blog ini.
ada yang ingin saya tanyakan pada anda, ada yang sedikit rancu bagi saya sebagai orang awam. pertanyaan saya tidak ada hubungannya dengan topik kali ini, tp mungkin anda dapat memberikan sedikit pencerahan bagi saya.
Begini, pemerintah kita lagi semangat2nya menarik wisatawan luar negeri yang katanya bisa menambah DEVISA negara karena mereka bawa dollar.
yang saya tanyakan dollar ini ujung2nya akan berakhir dimana ?? di BI kah?? Lalu BI menukarkan rupiahnya dg dollar melalui pencetakan uang ato bagaimana ??

Mengapa tidak mancetak rupiah lalu tukarkan dengan dollar, tanpa harus repot2 mendatangkan wisman yg bawa dollar kemari, sama saja kan ??

Apakah perbedaannya hanya terletak pada demand trhadap dollar dan demand terhadap rupiah saja ??

Mohon pencerahannya !!

Pohon Bodhi mengatakan...

Mencetak rupiah, lalu tukarkan dengan dolar, kemudian belanjakan dolar tersebut utk membayar kebutuhan import.. Ini adalah rumus free lunch kawan.

Rupiah, dan semua mata uang lainnya, berharga karena mereka diciptakan atas alasan yang masuk akal.

Saat bank menciptakan kredit ke masyarakat, normalnya peminjam harus meyakinkan bank bahwa uang itu digunakan untuk sebuah pekerjaan / produk akhir yang memang memiliki nilai.

Beberapa belas tahun terakhir, memang kriteria kredit menjadi lebih longgar, makanya nilai uang menurun dengan lebih cepat.

Namun, walaupun kriteria kredit longgar, tetapi masih tidak sampai ke level meminta free lunch.

Kalau sampai sebuah pemerintah mencetak uang hanya demi membeli dolar (membiayai import), saya kira mata uang negara itu akan jadi sasaran tembak di pasar valas.

Seberapa serius kejatuhannya, ya tergantung seberapa besar skala rumus free lunch yg mereka lakukan, & pengaruh politik negara tersebut di dunia.

tengkuputeh mengatakan...

Bang bodhi, mnrt saya kembali kepada invisible hand. Jadi wlw byk utang tetap AAA

Anonim mengatakan...

bang pohon, setelah saya baca:

http://worldreports.org/news/292_obama_confirms_biden_geithner_emanuel_bribery

sepertinya kok mengerikan sekali yang terjadi di USA dan dunia ini pada umumnya. Ada komen bung?

Anonim mengatakan...

Pak Pohon Bodhi, saya masih kurang mengerti tentang devisa diatas, mungkin pertanyaan saya terlalu bodo untuk anda jawab.
kalo saya bisa analogikan begini: Seorang Bule bawa Dollar ke indo, dia tuker tuh dollar ke bank komersial or money changer. Apakah perjalanan dollarnya hanya berhenti sampai disini saja ??
Tentu saja si money changer/bank komersial kan tidak akan berbelanja di indo pake dollar, jadi diya tukerin ke BI, Trus di BI dollar itu menjadi DEVISA negara ?? Apakah benar "Perjalanannya" Demikian ??
Trus BI menukarkan rupiahnya dengan Dollar tsb, so BI dapat rupiah darimana ?? Apakah BI punya simpanan rupiah ato dengan mencetak rupiah ??
Jika dengan mencetak rupiah, lalu apa bedanya dengan BI mencetak rupiah lalu tuker ke dollar ..??
Mohon Pencerahannya !!

Pohon Bodhi mengatakan...

Masalahnya sebenarnya apa?

Kalau sekumpulan bule membelanjakan dolar di Indonesia, dan akhir-akhirnya bank sentral memberikan rupiah agar pemilik dolar bisa mengrupiahkan uang dolar mereka.

What's wrong?

Tapi kalau yang Anda maksud adalah misalnya pemerintah butuh membelanjakan 1 milyar dolar untuk mengimpor misalnya gula. Karena gak punya dolar, lalu pemerintah menerbitkan surat hutang sebesar 10 trilyun. BI membeli semua surat hutang itu lewat penerbitan rupiah baru dan pemerintah membeli dolar dengan rupiah2 baru itu di pasar valas. Ini baru menjadi masalah kawan.....

Inilah konsep free lunch yg saya maksud.

Anonim mengatakan...

bung pohon, bagaimana analisa anda terhadap global stock market, usd dan gold?
makasih
mikesaham@gmail.com

Pohon Bodhi mengatakan...

Intinya begini Mike...

Hutang konsumen negara barat sudah mencapai limit, mereka tidak sanggup membayar ongkos sewa uang mereka tanpa default.

Bursa saham seharusnya sudah crash. Tapi tidak jadi karena hutang macet konsumen ini dilimpahkan ke beban pemerintah (inilah makna bailout). Mereka berhasil membeli waktu beberapa tahun.

Sampai ke titik di mana pemerintah pun sekarang mulai macet. Pendapatan mereka tidak sanggup mencover pengeluaran, dan surat hutang mereka sulit dijual dengan harga di mana mereka akan sanggup membayar bunganya.

Market seharusnya akan melanjutkan crash. Ini deflasi besar.

Sebagian orang bertaruh negara2 barat akan mencegah deflasi dengan memprinting money (monetisasi). Efeknya adalah devaluasi mata uang / inflasi besar.

Apakah kita akan langsung menuju deflasi atau inflasi besar dulu ya tergantung apakah printing money ini (quantitative easing) jadi dilanjutkan atau tidak.

Kalau menjadikan US dolar sebagai acuan, kita lihat apakah ada berita the Fed akan melanjutkan QE. So far belum ada berita itu..

Berarti surat hutang pemerintah Amerika harus dibeli dengan uang-uang yg sudah eksis sebelumnya.

Siapa yg mau beli? Bunga surat hutang Amerika sangat rendah. Jawabnya adalah kalau imbal hasil / prospek alternatif yg lain bahkan lebih buruk.

Selama tidak ada QE lanjutan di Amerika, bursa saham harus crash secara berkala.

Misalkan saja kebutuhan hutang bulanan Amerika (hutang baru + rolling over hutang lama) 400 milyar dolar/bulan. Bulan terakhir berhasil dicapai dalam suasana Dow jatuh dari 11.000 ke 10.000.

Bulan berikut, utk mendapatkan 400 milyar yg berikut, kita harus berada dalam suasana di mana Dow harus jatuh dari 10.000 ke misalnya 8.800. Demikian selanjutnya.. Time frame bisa bulanan atau triwulan, saya tidak pasti, saya tidak punya detail jadwal penjualan surat hutang mereka.

Harga saham semakin drop semakin murah. Uang yg bisa dikumpulkan setiap 1.000 poin drop pun mengecil. Jadi utk 400 milyar yg berikut butuh suasana index drop yg makin lama makin besar.

USD akan naik secara berkala bila tanpa QE, dan berhenti setelah market putus asa karena mereka sadar dolar system tidak mungkin lagi dilanjutkan. Pemerintah Amerika akan sampai ke titik di mana tidak ada cukup uang nganggur di dunia utk membeli surat hutang mereka.

Emas adalah wildcard. Saya tidak tahu. Walaupun saya memang punya beberapa simpanan emas, tapi hati kecil saya selalu menganggapnya sebagai logam sampah. Saya beli utk jaga-jaga saja. Kalau memang harganya melambung, ya ok. Kalau tidak, ya no problem juga.

mike mengatakan...

100% AGREE WITH YOUR VISION.

Anonim mengatakan...

bung pohon, bagaimana dengan data2 ISM, pending home sales dan lain2 yang masih menunjang stock market? sehingga market masih tidak crash...

thanks

Anonim mengatakan...

bung pohon akhir2 ini swing low-high dow terlalu besar. apakah ini pembalikan trend/continue trend?
terima kasih

Pohon Bodhi mengatakan...

If you don't read newspaper, you will be uninformed.
If you do read newspaper, you will be misinformed..

Hehe.. Bercanda aja. Tapi kadang2 org memang harus hati2 dgn berita & statistik.

Anonim mengatakan...

maksudnya banyak berita yang ngak bisa dipercaya ya, bro? apalagi bloomberg, cnn, dll. beritanya A sebenarnya mereka lagi kerjain B, beritanya B, sebenarnya mereka lagi kerjain A. dibolak balik gitu, supaya yang baca pada stress semua. hahaha....

steve mengatakan...

Pak Pohon Bodhi,

Di atas banyak yang nanya ttg money changer. Sebenarnya money changer itu dapat keuntungan dari mana ya? Prinsipnya kan beli murah jual mahal, tp bagaimana dia selalu dapat harga lebih kompetitif? Sy tidak mengerti mekanisme money changer [sama halnya dengan pedagang emas].

Pls pencerahan.

Thanks

Pohon Bodhi mengatakan...

@Steve,
Kalau yg Anda maksud kios-kios money changer di toko/mall, setahu saya sih mereka juga tukar dolar ke bank langganan mereka, lalu jual ke pembeli.

Mereka pun take risk, kadang untung kadang tidak. Cuman resiko bisa sedikit dikurangi karena di kios retail, spread buy-sell nya cukup tinggi. Tergantung mata uang, spread bisa berkisar beberapa puluh poin sampai beberapa ratus poin rupiah / mata uang.

steve mengatakan...

Dear pak Pohon Bodhi,

Saya mengutip komentar anda :

"Misalkan saja kebutuhan hutang bulanan Amerika (hutang baru + rolling over hutang lama) 400 milyar dolar/bulan. Bulan terakhir berhasil dicapai dalam suasana Dow jatuh dari 11.000 ke 10.000.

Bulan berikut, utk mendapatkan 400 milyar yg berikut, kita harus berada dalam suasana di mana Dow harus jatuh dari 10.000 ke misalnya 8.800. Demikian selanjutnya.. Time frame bisa bulanan atau triwulan, saya tidak pasti, saya tidak punya detail jadwal penjualan surat hutang mereka.".

Mengapa indeks saham [dan harga saham] harus jatuh utk memenuhi need dr balance sheet amerika? Apakah diasumsikan pelaku berbondong2 menjual saham utk membeli surat hutang? Berarti pemerintah menjanjikan lebih imbalnya sebgai daya tariknya kah? initiatornya apa?

Thanks

Pohon Bodhi mengatakan...

@Steve,
Suplai uang terbatas, maka uang harus berpindah dari 1 market ke market yang lain. Kalau pasar surat hutang pemerintah Amerika mau laris, mereka harus bisa menghisap uang dari market yang lain.

Market yang lain bisa berupa:
* Pasar surat hutang korporat swasta
* Bursa saham secara umum
* Tabungan di perbankan komersial.

Pemerintah Amerika tidak perlu menjanjikan imbal hasil (bunga) yg lebih tinggi sekarang. Dengan bunga rendah seperti sekarang pun bisa laku, asalkan bisa "meyakinkan" pasar bahwa mendapat bunga rendah masih lebih aman daripada kalau invest di pasar lain, yg bunga lebih tinggi tapi modalnya belum tentu terjamin, atau bahkan modalnya bisa berkurang (misalnya kalau harga saham turun terus).

Anonim mengatakan...

saya penasaran, apa sebenarnya yang akan terjadi bila departemen keuangan diberikan hak pencetakan uang dengan backup barang dan jasa yang diproduksi BUMN atau seluruh rakyat misalnya, memangnya negara enggak boleh ya mencetak uangnya sendiri ? Bukankah dulu Bung Karno mencetak uang sendiri ? kira-kira dulu bung karno backup uangnya apa ? kenapa tetap terjadi hyperinflasi waktu itu ? apa bung karno mencetak uang meminjam ke bank jawa (bank indonesia) ??

Pohon Bodhi mengatakan...

Sayang saya pun gak punya data seputar sejarah masa itu. Jadi gak bisa komentar apa yg sebenarnya terjadi.

Satu hal yang pasti, sebuah negara (pemerintah) kalau mencetak uang hanya untuk mengimpor barang dari luar negeri (beli dolar), maka mata uang dia sudah seharusnya menjadi objek spekulasi besar di pasar valas.

Namun, kurs mata uang setahu saya juga bukan hal yang transparan. Sulit memastikan apakah tidak ada invisible hand di balik nilai tukar itu. Susah mengatakan kurs yg ada sekarang sudah "benar" atau "adil"

Kekuasaan sistem perbankan internasional terletak di monopoli hak mereka utk menciptakan uang. Apapun harus dilakukan untuk mencegah wacana pemerintah boleh mencetak uang kembali digalakkan.

Selama sebuah masyarakat / negara tidak mencoba membuat mata uang mereka sendiri, tanpa melewati perbankan, saya yakin wacana apapun yg mereka buat utk memperbaiki ekonomi tidak akan direspon terlalu negatif oleh money masters. Tapi bila sudah melewati batas dan mencoba memprinting money, booms... Banyak hal yg buruk akan segera terjadi terhadap mereka..!

Fachri Reza mengatakan...

saya tau situs ini dari seseorang yg mengepost artikel dari sini di milis dinar dirham indonesia.. saya belum baca sama sekali (baru scanning aja) tapi tampaknya sangat informatif dan sangat membuka mata. itulah sebabnya saya suka sekali mempelajari sejarah. terima kasih atas artikel2nya, saya sangat mengapresiasi..

Anonim mengatakan...

@Pohon Bodhi
Kurs mata uang 98% menggambarkan transaksi spekulatif & hedging. Sisanya adalah hasil dari perdagangan barang dan jasa. Volume perdagangan mata uang di pasar valuta asing dalam satu minggu saja bisa mengalahkan volume ekspor-impor barang dan jasa real dalam satu tahun.

Anonim mengatakan...

Bung pohon,

tolong tanya bagaimana efek pasar uang dan saham jika china menaikkan nilai yuan ?

terima kasih
miek

Pohon Bodhi mengatakan...

coba baca artikel ini, tentang prospek yuan-dolar:

http://www.marketskeptics.com/2009/01/hyperinflation-will-begin-in-china-and.html

Anonim mengatakan...

pak bodhi, kalau china saja bisa terancam hyperinflasi, gimana dengan indonesia? mohon tanggapannya, pak.

trus mengenai gold yang terus mencetak record tertinggi baru, ini petanda apa? apakah negara2 barat masih terus mencetak uang baru sampe saat ini?

Pohon Bodhi mengatakan...

China terancam hiperinflasi kalau dia terus mematok yuan-dolar di ±6.83 , tapi akhirnya dia harus melepas peg itu karena tekanan kenaikan harga barang di dalam negeri mereka.

Indonesia juga sama, tapi kita tidak mematok kurs. Jadi kalau memang mau menguat, asal tidak ada intervensi pemerintah, bisa lebih cepat terjadi.

Harga emas.. Intinya terletak di pertanyaan: Apakah emas akan kembali menjadi uang?

Kalau jawabannya adalah tidak, maka harga emas ya tergantung kesepakatan pembeli & penjual emas sebagai komoditi saja. Berapa nilai logisnya..? Saya tidak tahu. Tetapi, untuk sebuah logam yg gak jelas manfaatnya, $1255/oz sangatlah mahal, bukan begitu? hehe..

Kalau jawabannya adalah iya, maka harga emas sekarang terlampau murah... Hitung2an begini:

* Anggap saja hanya dolar US yg perlu dibacking emas.

US total credit market : ± $53 trilyun
Total emas yg sudah ditambang di dunia : ± 160.000 ton = 5,14 milyar ounce.

53T : 5,14 M = $10.300 / oz.

Atau Anda bisa juga mengganti metode dengan asumsi perhitungan yg lain. Misalnya emas hanya membacking hutang nasional Amerika, dan hanya emas yg diklaim dimiliki oleh the Fed.

Hutang : $13 T
Emas the Fed : 261 juta oz

13T : 261 juta = $49.800/oz .. Oops..

Atau memakai asumsi yang lain, total suplai uang di dunia (kalau gak salah ekivalen $200T), dibagi total emas yg pernah ditambang, dll. Terserah Anda.

Gimanapun cara Anda menghitung, kalau memang emas adalah uang, maka harga $1255/oz sekarang terlalu murah.

Anonim mengatakan...

Mr Pohon,

tolong tanya, sekarang china sudah melepas peg dollar. tidak jadi terjadi hiperinflasi. tapi kenapa market saham malah naik. bukannya kalo inflasi harga saham baru naik, kalo deflasi harga saham turun? terima kasih atas jawabannya.
miek

Pohon Bodhi mengatakan...

Saya masih percaya bursa saham akan drop. Setiap beberapa minggu tampaknya ada waktu di mana pemerintah US harus menjual surat hutang dalam jumlah besar.

Kalau gagal menjual dan ngotot tidak mau default, satu-satunya cara adalah melanjutkan printing money (QE).

Selama tidak ada pengumuman QE tahap berikut, bursa saham seharusnya tidak akan ada cukup sumber tenaga utk rally signifikan.

Lagian, naiknya mata uang setiap negara terhadap USD bukannya langsung akan berdampak positif, dalam jangka pendek-menengah pasti ada efek negatifnya juga. Kita masih di dalam dolar-system. Semua negara wajib mengekspor ke US ataupun ke negara yg memiliki tabungan USD, bila tidak mereka terancam tidak punya uang (USD) utk mengimpor.

Anonim mengatakan...

pak bodhi, kalo untuk menghindari hiperinflasi indo harus menguatkan rupiah terhadap dolar, apa itu tidak membuat para eksportir gulung tikar?

terus belakangan saya memperhatikan kalo rupiah stabil di angka 9000-an, apa itu ngak sama dengan yuan yang dipeg di angka 6,83 untuk menjaga kestabilan nilai tukar? apa dengan stabilnya rupiah di angka 9000-an, indonesia juga menghadapi ancaman hiperinflasi seperti halnya China? mohon tanggapannya, thanks.

Pohon Bodhi mengatakan...

Coba imajinasikan ini.. Amerika, negara dengan 400 juta penduduk (di antara 6,8 milyar penduduk dunia). Hari ini musnah semuanya. Boomms... Apakah dunia kiamat?

Dunia akan kacau, itu sudah pasti. Dolar system yg dipakai selama puluhan tahun akan ambruk. Tapi, dunia pada akhirnya tetap akan berlanjut, perdagangan tidak akan kiamat. Manusia akan merancang sistem baru.

Rupiah menguat, pada akhirnya itu akan berarti daya beli penduduk Indonesia menguat (impor murah). Perbaikan daya beli itu akhirnya akan membuat konsumsi penduduk Indonesia bertambah.

Short&medium term pain di sektor ekspor akan ditutupi oleh naiknya daya beli di dalam negeri. Tapi proses ini memang butuh waktu dan adaptasi, dan eksportir yg gulung tikar memang akan menderita.

Kemakmuran sebuah negara berhubungan erat dengan daya beli mata uangnya. Di balik argumen currency yg lemah utk membantu ekspor, saya terus terang tidak tahu contoh negara yg rakyatnya bertambah makmur karena mata uangnya bertambah lemah.

Kalau memang memiliki mata uang yg lemah sedemikian baik, biarlah US & negara eropa yg merasakannya. Jangan kita2 di Asia terus, bukan begitu?

Saya rasa pengaruh peg China dengan kurs 9000an kita berbeda efek, karena skala perdagangan kita dengan China sama sekali di level yg berbeda.

China di tahun2 ini bisa menghasilkan belasan/puluhan milyar surplus dolar per bulan! Dalam beberapa bulan, dia bisa menabung dolar setara dengan devisa yg dikumpulkan Indonesia sejak merdeka th 1945.

Skala masalah yg dihadapi mereka berbeda level dengan kita. Ancaman inflasi mereka jauh lebih serius.

Anonim mengatakan...

Pak bodhi, setelah saya perhatikan begitu Yuan diapresiasikan, harga komoditas malah naik, bukankah kalau harga komoditas semakin tinggi artinya inflasi tinggi dan daya beli masyarakat turun? kalau Yuan menguat dan harga komoditas juga naik, bukankah sama saja, lebih bagus Yuan dipeg dan harga komoditas tidak naik atau malah turun? bagaimana menurut pendapat anda?

trus setelah terapresiasi 1 hari, Yuan kembali turun dalam 2 hari terakhir, ada gelagat apa nih pak menurut anda? apakah apresiasi Yuan adalah sebagai hasil kesepatan antara China dan amerika, China menguatkan Yuan dan amerika harus melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui sebagai hasil kesepatan?bagaimana menurut anda?

Pohon Bodhi mengatakan...

Kita tak bisa mengukur skala spekulasi dalam pergerakan harga. Kita tak punya akses informasi yg diperlukan utk itu.

Yuan kalau menguat, logikanya daya beli mereka akan menguat. Lalu para spekulan membeli index komoditi utk mengantisipasi hal itu, lalu naiklah harga komoditi utk sementara. Tapi jangan lupa, yuan naik berarti yg lain turun. Negara yg daya belinya turun demandnya juga nantinya akan turun. Jadi sebenarnya total demand tidak harus berubah banyak, hanya berpindah komposisi saja.

Sabar aja. Setiap keputusan ekonomi membutuhkan waktu utk melihat efeknya. Biasanya beberapa bulan baru mulai kelihatan polanya, kadang2 bahkan lebih lama, jadi bagi yg suka day trading mungkin memang akan sangat menyiksa..

Apakah ada kesepakatan rahasia antara US, china, dgn yg lain? Saya yakin ada. Tapi sayang saya ini nobody.. gak punya akses ke informasi itu.

Vittek mengatakan...

Pak pohon aku mau tanya nih, cz lom bner2 paham . banyak pemerintahan (negara) yang mengetatkan anggaran belanjanya akibatnya negara2 pengekspor mengalami penurunan demand, yg aku tanya apakah anggaran negara itu adalah belanja rakyat2 nya juga ??
Misalkan negaranya tidak jadi mengimpor, apakah rakyatnya tidak bisa mengimpor juga ? Memangnya apa saja yang di beli suatu negara sehingga rakyatnya tidak bisa membeli barang itu juga .
Jika hanya negaranya yang mengetatkan fiskalnya, apakah itu berarti masyarakatnya melakukan hal yang sama ?

Pohon Bodhi mengatakan...

Anggaran negara tidak sama dengan belanja rakyat. Anda lihat tabel di artikel ini, pengaruh belanja pemerintah Indonesia di GDP tahunan kita adalah sekitar 20%. Sisanya datang dari sektor swasta.

Kalau negara mengatakan mereka mau berhemat, maka pos2 pengeluaran mereka yang dihemat. Gaji pegawai negeri, pembangunan proyek infrastruktur, dll.

Pertemuan G20 minggu ini penuh dengan slogan "austerity". Ini omong kosong. Austerity artinya hemat, artinya kamu punya uang tetapi memilih menggunakannya dengan cermat/hemat. Kenyataannya, mayoritas G20 memilih "hemat" karena mereka memang gak punya uang lagi (broke). Ini hanya permainan kosakata agar orang2 yang nantinya menjadi korban "penghematan" ini lebih bersedia menerima nasib buruknya.

Kevin mengatakan...

Pertemuan G20 sepakat untuk menurunkan defisit hingga 50% hingga 2013. Bisakah/ bagaimana caranya? pak Bodhi apa efeknya bagi rakyat pemilih... tks

Anonim mengatakan...

Pak bodhi, seperti yang anda katakan bahwa mayoritas G20 memilih hemat karena mereka memang ngak punya uang. So darimana uang buat anggaran belanja mereka? dari mencetak uang lagi? kalau tidak berarti mereka akan menyedot uang yang sudah ada dong, dunia akan kekeringan dolar. apakah dolar akan melambung tinggi? mohon tanggapannya, thanks!

Anonim mengatakan...

wa kalu defisit dikurangin berarti kompanya nggak terlalu kenceng genjotannya, ekonomi bisa lesu darah balonnya bisa loyo termasuk orangnya

Anonim mengatakan...

Pak pohon, mau tanya nih tentang hutang pemerintah pada luar negeri.

Mungkin salah satu alasan pemerintah tidak melakukan QE karena takut akan terjadinya hyperinflasi, tapi dengan membawa dollar ke dalam negeri, otomatis BI akan melakukan sterilisasi, artinya dengan melakukan pencetakan uang baru juga, apakah ini tidak sama saja ?


kecuali Dollar tsb dibuat belanja untuk impor.


bagaimana ini, mohon penjelasannya !!

Pohon Bodhi mengatakan...

Wajarnya memang hutang luar negeri ($, Y, E) dipakai utk pekerjaan yang ujungnya membutuhkan impor yang memerlukan mata uang itu. Rasanya gak wajar meminjam dolar, lalu cetak rupiah utk pekerjaan di dalam negeri. Di dalam negeri, transaksi harus menggunakan rupiah. Proyek rupiah, dalam sistem sekarang, kalau pemerintah kekurangan uang, mereka akan menerbitkan surat hutang nominasi rupiah.

Mungkin saya salah, tapi saya masih belum dengar pemerintah Indonesia gagal menjual SUN (Rp). Jadi surat hutang yang dalam mata uang lain pasti dipakai di proyek yg memang membutuhkan settlement dalam mata uang itu.

Yang mungkin harus dipertanyakan adalah apakah transaksi dengan luar negeri itu memang harus dilakukan sejak awal. Misalnya pemerintah ingin membangun X. X mungkin saja dikerjakan oleh korporasi dalam negeri, tetapi proyek itu malahan diberikan ke kontraktor luar negeri. Pinjaman dolar utk membayar korporasi asing itu tidak perlu dilakukan bila proyek itu diberikan kepada mitra dalam negeri.

Tapi contoh seperti ini tentunya case by case, saya tidak mengatakan semua proyek dengan luar negeri ada unsur kriminal/KKN /kebodohan pemerintah.

Tapi kalau seperti yang Anda pertanyakan, pemerintah meminjam dolar, lalu BI mencetak rupiah setara dolar itu, dan semua uang itu dipakai utk membayar korporat dalam negeri, ini kedengarannya luar biasa dungu. Pemerintah setahu saya belum sampai sebodoh itu. Kalau iya, sungguh tragedi besar...

Pohon Bodhi mengatakan...

More to come..

http://www.telegraph.co.uk/finance/china-business/7886077/Chinese-rating-agency-strips-Western-nations-of-AAA-status.html

jabon mengatakan...

yah... soal hak pemerintah mencetak uang ga perlu kita pikirin. yang penting gimana kita mendapatkan uangnya....