Jumat, 05 Maret 2010

Melangkah Menuju Armageddon

“Manfaat terbesar dari sebuah krisis adalah hutang yang bisa diciptakan olehnya.”

Hari ini yang akan saya tulis adalah mengenai hutang pemerintah, Sovereign Debt.

Akhir-akhir ini, pers mulai memberitakan bahwa ternyata pemerintah Yunani memiliki hutang jauh lebih banyak daripada mereka akui secara formal selama ini, dan tak lama kemudian, satu per satu negara lain pun ketahuan melakukan teknik penyembunyian hutang yang sama. Italy, Spanyol, Dubai, dan entah siapa lagi yang segera akan ketahuan.

Fantastis.

Persamaan di antara mereka sejauh ini adalah teryata pemerintah mereka sempat ber”konsultasi” dengan Goldman Sachs mengenai teknik menyembunyikan hutang. Ayam bertanya kepada serigala bagaimana menggemukkan ayam.

Dalam debt based money system, hal terpenting mengenai pemerintah yang harus Anda pahami adalah:

Pemerintah pada dasarnya tidak punya uang!

Awalnya, mereka adalah sebuah institusi di mana mereka mengambil uang dari kantong A untuk dimasukkan ke kantong B (dan kantong mereka sendiri tentunya) demi tujuan-tujuan yang disetujui oleh A dan B.

Angin surga semacam pajak untuk pembangunan akan disetujui oleh siapapun juga, bukan begitu?

Tapi, saat skala masyarakat dan pemerintah sudah berkembang sedemikian besar, dan komunikasi antara mereka dengan rakyat sudah tidak mungkin lagi dilakukan, maka uang dari kantong A tidak lagi harus masuk ke kantong B dengan seizin A + B.

Pemerintah, sebagai orang tengah, sekarang menjadi pihak yang mengambil keputusan. Hehe.. Dan godaan korupsi pun keluar.

Bayangkan si John Terry yang katanya niat awalnya mendekati Vanessa Perroncel adalah untuk memberikan support spiritual karena barusan putus dengan pacarnya Wayne Bridge, tetapi di hari-hari kemudian ternyata Perroncel terlalu berat untuk bisa disupport, maka si John Terry pun terpaksa melepas tangannya, dan Perroncel pun jatuh ke pangkuannya. Hehe..

Demikianlah politisi pun tidak bisa mensupport terlalu lama godaan dan kesempatan untuk mengkorup uang yang begitu gampang untuk dikorup.

Saat ini, berbagai pemerintah di dunia sedang dalam kerata express menuju kebangkrutan. Pengeluran mereka terus bertambah, tidak bisa mengimbangi penerimaan (pajak & penjualan surat hutang).

Menarik bukan, puluhan tahun negara barat mengajarkan kepada seluruh dunia bahwa deficit-spending tidak ada salahnya, defisit 2-3% dari GDP adalah kecil dan tidak signifikan…? Hehe.. Sekarang merekalah yang ada di headline berita untuk topik yang tidak mereka inginkan, sovereign bankruptcy.

Omong-omong soal GDP, kosakata populer Debt to GDP ratio pada dasarnya adalah omong kosong politisi, dikarang sedemikian rupa agar statistik kondisi keuangan negara bisa tampak lebih baik dan hutang pemerintah bisa terus diperbesar.

Kalau seseorang datang meminjam uang kepadamu, mana yang Anda pikirkan, keuangan pribadinya, atau GDP kota dia tinggal?!

Dua ratio utama kalau Anda mau menimbang-nimbang seberapa besar kemungkinan sebuah negara akan default (gagal bayar) atas hutang mereka adalah:
1. Rasio hutang terhadap pendapatan
2. Rasio pembayaran hutang (bunga + hutang pokok) terhadap pendapatan

Semakin besar ratio ini, semakin mungkin pemerintah tersebut gagal bayar.

Hari ini, kalau direksi BUMI Resources roadshow ke luar negeri untuk mencari hutang baru sambil menyodorkan data Hutang-BUMI-to-Indonesia-GDP ratio, reaksi apa yang kira-kira akan diterima oleh direksi mereka di depan para calon kreditur itu?

Hehe.. Ada 2 kemungkinan:
- Calon kreditur akan tertawa sakit perut atas kedunguan direksi BUMI.
- Calon kreditur akan sangat marah atas penghinaan inteligensi yang dilakukan direksi BUMI kepada mereka.

Anda paham? Laporan keuangan perusahaan terbuka selalu memaparkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan mereka sendiri, tidak pernah mereka mengarang-ngarang ratio keuangan terhadap GDP negara atau kota mereka. Ini bukan kebetulan, ini terjadi karena memang itulah yang seharusnya.

Anyway, sekarang kita bahas saja mengapa negara-negara yang katanya maju itu sekarang di ambang kebangkrutan:

Ada 2 tambahan pengeluaran yang sangat mencekik mereka:
1. Uang bailout pasar finansial
2. Proyek-proyek infrastruktur yang hutangnya dijamin oleh negara.

1. Bailout pasar finansial
Anda sudah paham bahwa kredit konsumen negara-negara barat sudah mencapai batas. Rakyat mereka sudah melewati 3 generasi terakhir untuk membelanjakan uang mereka dan terbenam dalam samudra hutang untuk membeli berbagai hal yang mereka impikan. Dan dalam proses ini, ikut menciptakan booming perekonomian bagi negara-negara berkembang, pemasok barang-barang konsumsi itu.

Hutang harus dibayar kawan. Majikan tidak boleh menerima kurang dari yang mereka berikan. Ini masalah prinsip. Melanggar prinsip ini, maka mereka bukan lagi majikan, dan Anda bukan lagi budak.

Ini tidak boleh terjadi…


Kalau konsumen tidak membayar, maka bad loan di pembukuan perbankan akan menjadi sampah, dan akhirnya diwrite-off, dihapusbukukan. Tetapi neraca harus selalu seimbang kawan… Sisi kiri kalau minus, maka sisi kanan juga harus minus.

Bank harus mencoret modal mereka setara dengan kerugian yang mereka derita. Tapi rasio fractional reserve mereka sudah sangat tinggi, bisa 40-60x, mereka sudah beroperasi nyaris tanpa modal! Resiko ada di pihak penabung. Kalau mereka menderita kerugian, maka uang deposanlah yang harus dikorbankan.

Politisi (pemerintah) sinting mana yang mau mengambil resiko mengorbankan uang deposan secara massal, membiarkan rakyatnya marah karena tabungan mereka menghilang?

Jadi bailout-lah jalan yang dipilih.

Belasan trilyun dolar taruhan para perusahaan finansial sekarang dijamin oleh pemerintah Amerika, Inggris, Jerman, Francis, dan lainnya. Kerugian perbankan akan ditomboki pemerintah mereka dengan menaikkan jumlah hutang pemerintah.

Hutang bertambah, dengan demikian pembayaran hutang (bunga + hutang pokok) setiap tahun juga akan bertambah…

Jangan lupa, pemerintah tidak punya uang… Jadi yang membayar adalah rakyat yang mereka wakili. Masalahnya rakyatnya sekarang pun tidak punya uang… Oops..

Bailout tabungan deposan adalah satu hal, bail out taruhan perusahaan spekulasi adalah hal lainnya.

Tampaknya orang Amerika tidaklah terlalu pintar. Mereka dirampok gila-gilaan oleh para bankir zionis mereka, tetapi secara umum reaksi mereka biasa-biasa saja. Belasan trilyun dolar yang sekarang dijamin oleh pemerintah (pembayar pajak) mayoritas adalah untuk menolong dana taruhan, bukan untuk menolong publik Amerika.

Trilyun Dollar

Bisakah Anda membayangkan ini? Kalau saya punya uang 1 milyar dan kemudian berjudi sebesar 5 milyar dengan meminjam sisa 4 milyar kepada X. Kalau saya salah memasang taruhan, normalnya saya akan kehilangan 1 milyar saya sambil berhutang 4 milyar kepada X.

Yang terjadi kemudian adalah saya menyuruh pemerintahan kota saya membailout taruhan saya dengan memberikan kepada saya 5,5 milyar. 4 milyar untuk membayar X, 1 milyar untuk dikembalikan ke kas saya, dan 0.5 milyar sebagai bonus tahunan saya karena telah berhasil menghindarkan kota saya dari krisis perbankan .

What the fuck!!


2. Jaminan proyek infrastruktur
Dari kasus Yunani, sekarang baru mulai ketahuan, yang menciptakan SPV (Special Purpose Vehicle) bukan hanya perusahaan finansial, ternyata negara juga melakukan hal yang sama, atas arahan perusahaan Rothschild, Goldman Sachs.

Apa yang mereka lakukan adalah menyuruh pemerintah membentuk PPP (Public Private Partnership), perusahaan swasta yang hutang-hutangya dijamin oleh negara. PPP ini mendapatkan tender untuk membangun berbagai macam proyek. Asumsinya adalah kalau proyek sudah selesai, arus pendapatan dari proyek itu (misalnya perusahaan listrik, jalan tol, air minum dll) akan bisa membayar hutang mereka.

Manfaat PPP bagi pemerintah ibarat manfaat SPV bagi perbankan. Hutang-hutang mereka tidak akan muncul di neraca negara, sama seperti hutang-hutang SPV tidak akan muncul di neraca perbankan (off balance sheet), kecuali kalau SPV gagal bayar.

Sekarang, di tengah-tengah resesi global, di mana banyak orang kehilangan pekerjaan, ditambah dengan korupsi internal di berbagai proyek-proyek infrastruktur itu (yang jago korup bukan hanya pajabat Indonesia, di mana-mana sama saja), banyak proyek yang tidak menghasilkan pendapatan, bahkan cukup banyak proyek yang berhenti di tengah jalan. Dan dengan demikian, PPP pun mulai gagal bayar.


Kreditur pun meminta kepada sang penjamin hutang, pemerintah!

Hutang-hutang yang sebelumnya tidak pernah muncul di APBN negara-negara tersebut sekarang mendadak menjadi bagian dari tagihan yang harus dibayar negara.

Bayangkan skenario ini:
Negara X memiliki pendapatan tahunan (pajak + penjualan surat hutang + dividen BUMN) sebesar $100 milyar.
Cicilan pembayaran hutang tahunan sekitar 10% dari pendapatan : $10 milyar.
Sisa $90 milyar untuk biaya operasional pemerintah.

Mendadak mereka diberitahukan bahwa ada hutang yang harus dibayar karena PPP sekarang default sebesar $200 milyar.

Oops… Ke mana mencari uang ini? Menjual surat hutang baru? Kreditur mana lagi yang mau percaya kepada negara ini kalau ternyata selama ini mereka sudah dibohongi karena statistik keuangan pemerintah ini ternyata penuh dengan trik-trik kebohongan.

Rating surat hutang negara X pun jatuh, suku bunga mendadak naik tinggi. Persis di saat di mana mereka kekurangan uang dan membutuhkan bunga hutang yang rendah, suku bunga surat hutang mereka justru naik, dan mendorong mereka lebih keras ke jurang kebangkrutan.

Dan bayangkan kalau hampir semua negara maju sebenarnya mempraktekkan apa yang dilakukan negara X… Ini akan menjadi sebuah tsunami kebangkrutan pemerintah.

Hei, apa benar skala default PPP sedemikian besar? Entahlah, itulah yang saya dengar. Hutang Dubai yang gagal bayar ternyata bukan $80 milyar seperti yang mereka akui beberapa bulan yang lalu, angka yang sebenarnya adalah sekitar $385 milyar! Dan di Yunani, hutang yang mereka sembunyikan adalah 12X lipat hutang resmi yang mereka akui selama tahun-tahun terakhir ini.

Angka definit tentunya susah dipastikan, bagaimanapun perbankan tidak mungkin blak-blakan membocorkan angka riilnya. Semakin buruk angkanya, semakin buruk prospek harga saham mereka!

Timeframe kapan semua sampah ini akan muncul di media akan menghancurkan pasar finansial sekali lagi?

Hm... Saya tidak tahu... Yang pasti, saya percaya pesan Hollywood bahwa 2012 akan terjadi goncangan kemanusiaan hebat bukanlah cerita isapan jempol semata. Para zionis memang cukup aragon untuk percaya apapun yang mereka lakukan, tidak ada yang bisa dilakukan para goyim untuk mencegah mereka. Mulai sekarang sampai akhir 2012, skala berita buruk dan gejolak akan terjadi setiap beberapa bulan seharusnya akan terus meningkat.

Belajar dari pengalaman Indonesia tahun 1998, saya kira apa yang sedang direncanakan para bankir zionis di arena internasional adalah sebagai berikut:
• Negara-negara yang terancam default akan terpaksa melego mayoritas, atau bahkan semua perusahaan-perusahaan negara, terutama usaha-usaha utilitas semacam air minum, listrik, rumah sakit, bank-bank milik negara, bahkan hutan lindung dan lokasi-lokasi kaya sumber daya alam mereka.
• Negara menyerahkan wewenang moneter kepada institusi internasional. Mereka akan didikte, misalnya oleh IMF, World Bank, atau BIS, untuk mendekatkan cita-cita terciptanya mata uang tunggal dunia
• Memperbudak rakyat dan publik dunia dengan hutang-hutang baru maupun rolling over hutang-hutang lama yang seharusnya dibiarkan default.

Poin ketiga hanya bisa dilakukan di negara yang masih sanggup menginflasikan sistem keuangan mereka.

Indonesia memang dihajar dengan keras tahun 1998, dengan kurs yang jatuh dalam sekalipun kita masih bisa tertolong karena demand negara-negara maju masih terus bertambah, alias ekspor kita bisa terus berekspansi.

Kali ini, saat negara-negara tujuan ekspor sendiri yang dihajar, siapa yang menolong kita? Namun, secara pribadi saya merasa porsi hutang rakyat Indonesia masih “rendah,” masih banyak orang yang cukup konservatif, yang belum memiliki hutang-hutang sinting di credit card, kredit kuliah anak, kredit mobil atau rumah kedua / ketiga, dan lainnya. Perjalanan kita untuk mencapai peak credit mungkin masih 1 atau 2 generasi lagi. So, don’t worry… For now.

Yang mengkhawatirkan adalah negara-negara maju: USA, Inggris, dan Eropa Barat. Kalau memang mereka tidak lagi sanggup mengajukan hutang dan membayar lebih banyak daripada yang mereka dapatkan, mereka akan menjadi liabilitas dalam debt based money system.

Nasib liabilitas dalam sistem ini adalah mati! Majikan tidak akan menghabiskan uang mereka yang berharga untuk menghidupi sebuah masyarakat yang tidak lagi menguntungkan mereka.

Pertanyaannya... Bagaimana sebaiknya melikuidasi liabilitas ini…?

26 komentar:

Anonim mengatakan...

Pak Bodhi, bagaimana pendapat bapak mengenai perkembangan mata uang Euro? Bukankah seharusnya mata uang ini menjadi satu preseden/percontohan dalam men-setup dunia dengan satu currency? Kalau Euro collaps bukankah orang akan reluctant untuk "diajak" menggunakan satu mata uang bersama?
Bila Eurozone disetting untuk default, tidakkah itu akan menghancurkan rencana besar para bankir?

Anonim mengatakan...

Akhirnya dah kembali bs menikmati artikel bapak.. Hrs lbh sering posting ya pak.. Masi banyak yg samar dan blm di pahami dgn benar ni.. Oh ya coba utk memberikan pendapat tentang perekonomian kita sendiri. Sehingga kt2 dapat mengambil ancang2 di awal.. Tq

Anonim mengatakan...

Oh ya.. Kl bs tampilan lebar postingan blogny di kembalikan seperti dl lg.. Lebar yg dl pas 1 halaman di hp.. Membacapun tidak serumit skrg harus scroll kiri kanan..

Pohon Bodhi mengatakan...

Wilayah yang menggunakan mata uang yang sama perlu memiliki lembaga yang bisa mengikat kebijakan ekonomi dan politik semua negara tersebut.

Mungkin kalau krisis nanti berlanjut ke level yang lebih serius, banyak negara Eropa yang akan melepaskan independensi politik mereka ke lembaga regional.

Itu "manfaat" yang besar dari krisis. Kekuasaan kembali berkonsolidasi ke tangan yang lebih sedikit.

Anonim mengatakan...

Pak bodhi,

menurut analisa bapak, misalkan surat hutang eropa jatuh. para investor akan memarkir dananya kemana? ke US atau asia ? ke pasar bond, komoditi atau saham ?

makasih
mike

pohon bodhi mengatakan...

IMO, kalau eropa sudah selesai konsolidasi, usd akan lanjut trend jebloknya. USA akan mirip uni soviet 1990.

Anonim mengatakan...

menurut pendapat saya, amerika akan menginflasikan sistem dengan mencetak uang membayar hutangnya dan menutup anggaran belanja mereka. yang menjadi pertanyaan seberapa tinggi inflasi akan terjadi? bagaimana dengan rupiah? saya pikir rupiah tidak akan lolos dari hantaman inflasi yang tinggi.data-data yang diumumkan pemerintah tentang inflasi sepertinya berbeda dengan apa yang dirasakan masyarakat di lapangan, biasanya jauh lebih tinggi inflasinya daripada angka2 yang diumumkan itu.menurut pandangan pak pohonbodhi gimana?

trus mengenai data hutang pemerintah indonesia yang resmi diketahui publik itu, apakah data2nya akurat? jangan2 entar seperti yunani yang udah terancam default baru terbongkar semuanya ternyata hutangnya jauh dari data resminya. bagaimana menurut pandangan bapak?

Anonim mengatakan...

International Money Order. Itu pula yg awalnya saya amati dr trend penggunaan Euro, kemudian mata uang Liga Arab yg baru2 saja setahu saya disetujui. Menyusul mata uang regional lainnya yg akhirnya konvergen ke IMO. Melihat sejarah kalau tidak salah Euro adalah visi salah seorang bankir Mason, CMIIW.

Hal ini jg yang membuat saya berpikir kenapa Euro dibiarkan digoncang jika seandainya trend mata uang hendak diarahkan ke IMO secara "halus". Tapi tentu saja skenario "kasar" dengan menciptakan krisis besar2an sehingga setiap negara menyerahkan sovereignity-nya untuk one order juga mungkin. I hope that it is just a wild imagination.

Anonim mengatakan...

Kl blh mundur sedikit ke artikel yg lalu.. Dimana bapak menentang diterapkan kebijakan SUN dlm denominasi mata uang asing.. Dimana letak dan sampai sejauh mana bahaya nya? Yg sampai hal ini tdk diperhitungkan / kl blh disebut tdk diketahui oleh menkeu/pemerintah kita?

Dalam bentuk apa pemerintahan amerika berutang kepada FED atas pencetakkan dolar yg terus menerus? Apakah itu gratis?

Jika bank sentral bukan ditujukan utk melindungi dan mensejaterakan perekonomian rakyat negaranya? Lalu kepada sapa lg bank2 central bekerja?
Tq

Anonim mengatakan...

Beberapa gempa terakhir adalah testing HAARP. Senjata baru di perang dunia ke-3?

http://www.whatdoesitmean.com/index1349.htm

Anonim mengatakan...

ya melikuidasi liabilities, dengan perang, penyebaran wabah mematikan, "mereka" tidak akan segan melakukannya.

Fraud mengatakan...

hmm, lagi2 ekonom wannabe sedang beraksi.

dengan artikel diatas semakin saya yakin bahwa pengetahuan anda tentang prinsip ekonomi sungguh jauh dibawah rata-rata. sayang sekali padahal kemampuan anda merangkai kalimat lumayan.

sorry, cuma mencoba berkata jujur

Anonim mengatakan...

atas gue sok tau

Fraud mengatakan...

@atas gue : minimal gw berkata jujur dalam penilaian gw.

Anonim mengatakan...

Berarti lo jujur dong kalo lo goblok dan cuma omong doang.

Fraud mengatakan...

atas gw : tetep aja gw leih pinter dari lo dan pembuat blog ini hahaha, berani adu argumen?

Anonim mengatakan...

buktikan

Widodo S. mengatakan...

Kelihatannya PPP ini benar adanya. Jangan-jangan beberapa tahun mendatang giliran proyek-proyek infrastruktur kita yg harus dibailout pemerintah.

http://www.detikfinance.com/read/2010/04/15/123928/1338863/4/jembatan-selat-sunda-dilirik-5-investor-asing

Widodo S. mengatakan...

Apakah SBY akan menyesalinya nanti?

http://www.detikfinance.com/read/2010/04/15/125209/1338889/4/jembatan-selat-sunda-pacu-ekonomi-asia

Anonim mengatakan...

Mata uang tunggal di eropa merupakan bagian strategi dari sebuah grand design.

melihat kedekatan pemerintahan sekarang dengan george soros, hal ini merupakan bagian dari grand design itu.

Pembicaraan mengenai pembangunan infrastukstur dengan skema PPP saya yakin merupakan salah satu tema yang dibahas dalam pertemuan itu.

Saya yakin anda tahu, bagaimana dengan budaya korupsi yang ada di aparat pemerintah kita.

Skenarionya dalam bayangan saya adalah, pembagunan megaproyek infrastruktur dengan skema PPP, dimana dikerjakan oleh private + BUMN (dengan arahan sang master) namun biaya ditanggung pemerintah dengan jaminan pembayaran pajak atau konsesi yang sangat menguntungkan bagi developer..

Pada saat pembangunan infrastruktur, korupsi seperti biasa terjadi, dan kualitas dan manfaat tidak sebagus seharusnya. Namun utang tetap harus dibayar, dan bersiaplah membayar dengan darah dan air mata terutama bagi generasi mendatang.

Masijo mengatakan...

saudara Pohon bodhi, saya masih kurang paham dg 'Bailout' tsb.

jika membaca tulisan diatas sepertinya bailout dari pemerintah (rakyat) kepada perusahaan swasta tsb diberikan secara gratis alias mereka tidak diwajibkan membayarnya kembali ke 'negara'.

Apakah itu yang namanya 'Bailout' ??

Setau saya Kalo di 'Bailout' itu sama saja dg di take over (nasionalisasi) sementara, Atau mereka diwajibkan membayarnya kembali ke negara jika perusahaannya sudah sehat ..


Mohon Penjelasannya !!

Pohon Bodhi mengatakan...

Ya, ada yang dinasionalisikan, ada yang hanya berupa pinjaman ke perbankan, menunggu mereka untung kembali dan mengembalikan uang itu ke pemerintah. Dan dalam kasus ternyata situasi ekonomi tidak membaik, ya pemerintah hanya akan kebagian tagihan saja, gula dan madunya sudah dihisap sama pemilik lama.

Untuk yang dinasionalisasikan, nantinya juga akan dijual kembali saat situasi sudah memungkinkan. Kalau Anda melihat track record pemerintah, timing mereka dalam menjual biasanya tidak berakhir dengan gemilang. & Tak tertutup kemungkinan pemilik lama yang masuk kembali dengan menggunakan nama korporasi yang berbeda.

Hal lainnya, paska bailout biasanya hanya segelintir top management yang diganti, kadang-kadang malahan tidak diganti. Mereka tetap menikmati jabatan mereka, gaji dan bonus tahunan mereka, menggunakan uang bailout itu. Kalau Anda lihat apa yang sedang dilakukan di Wall Street, mereka bahkan lebih jauh lagi. Menerima uang bailout dari pemerintah (pembayar pajak), mereka sekarang malahan membalas budi dengan cara mengurangi pinjaman uang ke publik. Alasannya, menahan uang, menunggu bank-bank lain bangkrut dan menggunakan dana mereka untuk mengakuisisi bank bangkrut lain ternyata margin keuntungannya bisa lebih tinggi!

Anyway, pada akhirnya orang harus memikirkan ini. Seandainya bailout tidak merugikan negara (pembayar pajak), mengapa berhenti pada industri perbankan saja? Mengapa tidak dilanjutkan ke segala jenis usaha & industri? Nasionalisasikan saja semua perusahaan yg bangkrut! Naikkan pajak, biayai semua akuisisi perusahaan rugi itu dengan mengambil uang dari kantong perusahaan yang masih bisa profit dan pembayar pajak individu, isn't it a good idea??

Pikirkanlah itu, apa benar masyarakat seperti itu yang kita inginkan. Kalau iya, berdoalah moga2 kita mendapatkannya, sebuah republik komunis..

denmas_bedjo mengatakan...

supaya indonesia bisa lebih survive memang harus sebisa mungkin mengandalkan ketahanan ekonomi nasional yang artinya melibatkan seluruh rakyat dan pemerintah indonesia

hentikan sikap korupsi dan konsumerisme berlebihan menurut saya adalah contoh tindakan kecil yang bisa dilakukan

Anonim mengatakan...

pohon bodhi siapapun anda,anda pinter banget.saya awalnya mau menshare ke temen saya yang sombong bgt dg ilmunya,tapi setelah saya pikir2 ,ga jadi karenananti dia bakal asal mencomot kata2 anda dan mengklaimnya sbg pikirannya,hehehe.
nulis terus yah,tapi kalo bisa kalimat lebih disederhanakan lagi,saya orang teknik yg pengen ngerti ekonomi :))

Anonim mengatakan...

Krisis Yunani selesai, ketika terjadi penghapusan sebagian utang Yunani, nah, gitu kek diberlakukan ke seluruh dunia......

garong brangkal mengatakan...

Bagaimana dengan kedaan sekarang di indonesia pak bodhi?
Apakah bisa seperti tahun 1998,,,