Selasa, 24 Maret 2009

The Lost Science of Money

Sudah lebih dari 4 bulan sejak saya pertama kali membuat blog ini. Hasilnya… saya tidak tahu pasti, tetapi saya menduga ada sekitar 1200 - 1500 orang di Indonesia yang pernah mengklik blog ini.

Dari 1200 - 1500 orang ini, saya menduga ada sekitar 150 – 200 orang yang berhasil saya ajak untuk meneliti lebih lanjut topik ini, sisanya adalah orang-orang yang secara kebetulan datang ke sini, dan juga orang-orang yang hanya datang sekali dan kemudian tidak berminat untuk mencari tahu lebih lanjut.

Ditambah dengan penjualan buku yang saya terbitkan tahun 2007 lalu (Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia), saya menduga hanya ada sekitar 1500 - 2000 orang yang berhasil saya jangkau.

Indonesia memiliki sekitar 230 juta penduduk, 2000 orang adalah 0,00087% darinya. Saya tidak tahu pasti ada berapa website yang membahas topik ini di Indonesia, terutama yang lebih khusus mengenai topik uang, tetapi saya menduga persentase penduduk negara ini yang pernah mendapatkan informasi sejenis masih sangat-sangat minim jumlahnya.

Saya cukup kagum dengan bisnis MLM, karena hampir semua MLM di Indonesia tampaknya bisa dengan “mudah” mencapai angka puluhan ribu member. Dan bila digabungkan semua MLM-MLM beken seperti Amway, CNI, atau Tianshi, dsb, anggota MLM di Indonesia bisa saja mencapai berjuta-juta orang. Artinya, beberapa persen dari penduduk Indonesia adalah member MLM, baik partisipan aktif maupun pasif.

Saya kadang-kadang penasaran, seandainya semangat multi-level ini bisa dipraktekkan untuk menyebarkan pesan-pesan seperti yang ada di website / blog semacam ini, mungkin kita-kita juga bisa menggerakkan massa untuk menuntut perubahan sistem moneter yang lebih adil, baik di Indonesia, maupun di dunia.

Kalau di MLM yang mayoritas partisipannya rugi saja anggotanya di Indonesia bisa menembus jutaan orang, bersediakah partisipan-partisipan yang sama ini menggunakan sebagian kecil waktu mereka untuk ikut menyebarkan informasi-informasi seperti yang ada di sini? Potensi kerugian bagi mereka adalah nol. Tidak perlu membeli produk, tidak perlu membeli tiket seminar, dan tidak perlu mentraktir siapa-siapa untuk duduk-duduk di kedai kopi sambil membagi peluang “bisnis.”

Saya tidak tahu Anda berpikir bagaimana, tetapi menurut saya, tanpa massa, semua percobaan kita akan berakhir sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Untuk itu, saya harapkan Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam percobaan ini.

Saya tidak meminta Anda untuk mempromosikan blog ini secara khusus, silahkan Anda mempromosikan website-website lain yang menurut Anda lebih baik, yang saya minta adalah Anda, dalam waktu senggang Anda, untuk mulai bercerita kepada teman-teman Anda mengenai topik ini (debt based money system & riba perbankan). Hanya perlu modal mulut, tak perlu mengeluarkan uang…

Maukah Anda melakukannya, Kawan?

Kalau Anda penasaran mengapa saya melakukan ini, saya akan menceritakannya kepada Anda…

Saya menulis topik ini karena saya tidak suka dikelilingi oleh orang miskin.
Orang miskin memang tidaklah menakutkan, tetapi yang menakutkan adalah efek kemiskinan kepada mereka!


Saya dibesarkan di lingkungan kelas menengah seperti umumnya, walaupun saya kenal beberapa orang yang sangat kaya, tetapi saya mengenal jauh lebih banyak orang-orang yang tidak.

Sejauh yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, permasalahan uang (terutama masalah kekurangan uang) bertanggungjawab secara langsung kepada berbagai masalah keluarga dan sosial. Rusaknya hubungan rumah tangga, korupsi, penipuan, perjudian, alkoholisme, prostitusi, ketergantungan kepada obat bius, tindakan vandalisme, dan naiknya kriminalitas, dsb.

Debt based money system dan sistem moneter ribawi yang digunakan di seluruh planet ini, telah, sedang, dan akan semakin mempermiskin mayoritas penduduk di setiap negara, dan Indonesia 100% tidak terkecuali dari fenomena yang sama.

Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil tanpa berinteraksi dengan orang-orang yang lain, bila tidak, kemiskinan publik cepat atau lambat akan berdampak secara lansung kepadamu ataupun keluargamu (efek fisik maupun mental). Tak seorangpun bisa tak terpengaruh oleh efek kemiskinan di masyarakatnya. Manusia yang hidupnya sedang terdesak oleh kemiskinan bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.

Dan percayalah kepada saya, Anda tidak ingin melihat ketika mereka melakukan itu!

Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, sebelum saya lulus dari perguruan tinggi, dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di dekat Boyolali, saya tinggal di rumah seorang petani… Di keluarga mereka, indomie sudah termasuk lauk elit! Mayoritas hidangan makan mereka hanyalah sepiring nasi putih ditambah sedikit sayuran.

Ada berapa banyak sebenarnya keluarga-keluarga seperti ini di Indonesia? Yang bahkan tidak bisa makan dengan layak 3 kali sehari?

Hari ini, di tempat saya bekerja (pabrik), saya juga melihat secara langsung operator-operator yang bekerja dengan upah budak UMK. Meraka juga punya keluarga... Bagaimana caranya gaji 1 juta harus dipakai untuk menghidupi keluarga mereka? Apa sebenarnya yang mereka makan setiap hari? Tempat tinggal semacam apa yang mereka huni? Sekolah apa yang bisa dimasuki oleh anak-anak mereka?

Sekadar membayangkannya saja sudah membuat saya merasa mual.

Kawan, apa sebenarnya yang bisa membuat Anda merasa marah? Kata-kata apa yang bisa membuat emosi Anda naik tinggi? Kalau Anda sekarang mulai tahu kemiskinan dalam porsi yang cukup besar disebabkan oleh sebuah penyebab yang sebenarnya bisa dihindari oleh manusia, mengapa Anda bisa diam saja?

…. Ok, saya lebih baik tidak mengomel lebih lanjut... Anda tidak ke sini untuk mendengar omelan saya bukan?

Hari ini, saya akan mempromosikan sebuah buku kepada Anda… Judulnya : The Lost Science of Money, karangan Stephen Zarlenga.

Seminggu yang lalu seorang teman saya memberikannya kepadaku. Saya belum selesai membacanya, tetapi so far saya sangat terkesan dengan isi buku ini. Ini adalah sebuah buku mengenai perjalanan uang, buku terbaik mengenai sejarah uang yang pernah saya baca.


Bankir sudah pasti tidak akan menyukai buku ini, dan saya khawatir para suporter emas dari Sekolah Austria pun mungkin tidak akan menyukainya.

Inti dari buku ini,

Semua uang pada dasarnya adalah Fiat. Medium X adalah uang karena penguasa atas komunitas tersebut memutuskan demikian.

"Money Exists Not By Nature But By Law"

Pertengkaran mengenai medium uang, emas vs kertas, ataupun lainnya, adalah propaganda dari penguasa yang sama yang telah mengendalikan kedua-duanya. Isu yang sebenarnya adalah siapa yang menciptakan uang:

Pemerintah (mewakili publik) vs Bankir

Sinopsis buku ini bisa Anda lihat di websitenya: www.monetary.org

11 komentar:

Furqon mengatakan...

Salam kenal Bang Bodhi,
saya suka tulisan-tulisan anda mengenai perbankan dan bahayanya riba dan saya merupakan pelanggan setia blog anda (tiap hari suka ngecek apakah ada tlisan baru anda).
btw saya siap menyebarkan informasi yang anda posting di blog anda dan mohon ijin untuk me-link tulisan di blog anda pada fesbuk sayah ;-)

Anonim mengatakan...

Pak Bodhi

Saya kalau mencari buku The Lost Science of Money di mana yah thx..

Anonim mengatakan...

Saya sependapat dengan anda bahwa Pemerintah yang harus menguasai percetakan uang daripada Bankir , tapi ada alasan kenapa emas lebih cocok sebagai medium :
1. Uang Kertas lebih mudah diperbanyak dan dicetak, sehingga Pemerintah sering lupa diri. Dalam sejarah Islam , para Khalifah yang mencetak uang tembaga (bisa dipersamakan dengan uang kertas) secara berlebihan mengalami masalah ekonomi luar biasa.
Mungkin anda perlu membaca Khazanah Islam tentang perekonomian.
Salah satunya saya nukil pendapat Ibnu Taimiyah ulama abad ke 14 “Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

2. Uang kertas lebih memungkinkan untuk dipakai dalam sistem interest dan Fractional Reserve.

3. Emas bisa diterima oleh seluruh dunia. Sehingga lebih memungkinan untuk menghindari transaksi derivatif. Tidak seperti sekarang seluruh manusia di dunia dipaksa untuk memakai Dollar dan untuk menghindari fluktuasi kurs ada instrumen hedging yg spekulatif

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

@Furqon
Silahkan dilink aja ok. Thanks. Sebenarnya saya ada acct juga di facebook, email saya di alwie888@yahoo.com. Tapi jangan ajak chat / email dulu, saya masih bingung cara memakai facebook. Hehe..

Buku The Lost Science of Money sebenarnya bisa didownload juga di internet. Alamat websitenya cukup banyak, coba cari di google. Kalau masih gak dapat / download gagal, nanti email saya aja (pustaka_pohonbodhi@yahoo.com)

Inti dari buku itu adalah sebuah negara / pemimpin dari sebuah komunitas, berhak dan berkewajiban menciptakan uang untuk diedarkan di komunitas tersebut. Uang yang eksis secara permanen, tanpa masa kredit dan tidak perlu dikembalikan ke kreditur (bankir).

Sejauh yang saya tangkap, si penulis bukanlah seorang anti emas, yang dia tekankan adalah hak negara (sovereign right) untuk menciptakan uang.

Dan kalau bisa membebaskan diri dari campur tangan para bankir, secara teoritis uang kertas jauh lebih efisien sebagai medium uang.

Anonim mengatakan...

kemiskinan bisa kita hindari ketika syariat islam tegak. Jalan menuju tegaknya syariat islam adalah Iman, Hijrah dan Jihad fi sabilillah.

Juli Ramadhan mengatakan...

Saya sudah membaca buku anda berjudul "Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia". Wah luar biasa membawa pencerahan & banyak memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan di benak saya selama ini. Terima kasih.

Saya jadi sangat tertarik dengan buku "The Lost Science of Money."

Radesman mengatakan...

Ntar saya cari buku2 tersebut, terakhir saya ke Gramedia di kota saya itu belom ada...facebook n ym ada sudah saya add, mohon di app!

A Thing for Khilafah mengatakan...

Pak Bodhi,
hal yang mungkin perlu saya kritisi adalah nama blog anda.

Setelah saya membaca buku ada dan saya tertarik dengan informasi di dalamnya, saya berikan buku saya pada teman-2 yang lain.

Tapi ada ganjalan dengan nama pohon bodhi. Apakah ini hanya sekedar nama, atau memang anda ingin juga mempromosikan pohonbodhi.

Btw, jika diganti dengan nama lain, mungkin lebih baik.

Salam,
Dimas

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

@Dimas,

Pohonbodhi kebetulan nama publisher yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Jadi memang tidak berhubungan langsung dengan topik yang saya tulis di blog ini..

Anonim mengatakan...

@A Thing For Khilafah/Dimas :

Deh! Narrow-minded amat yah kl sampai nama juga anda persoalkan. Yang penting isi yang dia sampaikan! Cobalah melihat jauh melampaui hidung anda...

assalamualaykum!

Anonim mengatakan...

Trm ksh telah membuat sy mengerti, dan sya siap buat mendukung terjadinya revolusi ekonomi di negeri yg kita cintai ini