Selasa, 16 Desember 2008

Pentingnya Real Estate

Hari ini, kita bicara sebentar tentang real estate, mengapa produk ini sedemikian penting bagi ekonomi.

Pentingnya real estate adalah karena 2 hal. Pertama, kemampuannya untuk mempengaruhi permintaan atas hampir semua produksi industri lainnya. Kedua, dalam hal suplai uang di masyarakat, bagaimana kredit KPR bisa mempengaruhi suplai uang di masyarakat.

Poin #1
Coba bayangkan, apa yang terjadi ketika seseorang membeli rumah?
Rumah tidak muncul karena sulap. Rumah ada setelah industri-industri suplair bahan bangunan memproduksi produk mereka. Semen, granit, cat, genteng, baja, kayu, kabel, pipa, aluminium, dll. Setelah rumah selesai dibangun, orang yang menempati rumah tersebut memerlukan lagi furnitur, tv, radio, kipas angin, AC, alat dapur, perkakas rumah tangga, alat elektronik, dll.

Anda lihat, karena sebuah rumah, sedemikian banyak industri lain tertolong. Tanpa orang-orang membeli rumah, berapa banyak karyawan lain di industri lain yang akan kehilangan pekerjaan?
Sebaliknya, karena booming properti, tak terhitung jumlah orang yang mendapatkan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung. Coba Anda perhatikan, bukankah hampir semua usaha ramai ketika penjualan properti lancar? Ketika sebuah daerah baru dibuka pembangunannya, bukankah orang-orang yang berjualan di sekitar sana bisa mendapatkan nafkah lebih baik dibanding daerah yang penjualan propertinya stagnan? Jadi kalau Anda sedang ingin membuka toko dan sekarang bingung mau buka di mana, tips dari saya, perhatikan bisnis properti di wilayah yang mau Anda masuki. Semakin bagus penjualan properti di wilayah itu, semakin mungkin bisnis akan ramai di sana.

Poin #2
Suplai uang. Kalau Anda mengikuti blog ini dari awal. Anda sudah tahu kalau uang muncul di masyarakat hanya dalam bentuk kredit (hutang). Karena uang muncul dalam bentuk hutang, dan yang namanya hutang harus dibayar kembali, dan juga karena bunga bank (riba), yang tidak diciptakan oleh bank saat pemberian kredit, maka sebagai sebuah komunitas, orang-orang yang mendapatkan uang dari bank harus bergantian mengajukan kredit baru untuk menggantikan pembayaran bunga dan sebagian hutang pokok pinjaman lama setiap tahun.

KPR (termasuk juga kredit ruko dan apartemen), seperti yang Anda ketahui, bukanlah pinjaman jangka pendek. Di Indonesia, orang mengajukan KPR untuk pembayaran selama 7 - 15 tahun. Di negara-negara maju, kredit KPR bisa selama 30 tahun.

Jadi, uang yang dipinjam debitur KPR ini bisa eksis di masyarakat untuk jangka waktu 7 - 30 tahun di masyarakat tersebut. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, pinjaman tersebut perlahan-lahan dikembalikan kepada perbankan. Tidak ada satu produk konsumsi apapun yang bisa menandingi KPR dalam hal volume uang (kredit) yang bisa diciptakan, dan juga uang yang bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama di masyarakat.

Jadi ketahuilah, salah satu hal yang paling berbahaya bagi dalam konteks suplai uang di masyarakat adalah macetnya penjualan rumah dan banyaknya orang yang membayar lunas hutang KPR mereka. Hehe.. Jangan kaget, tetapi memang ini kenyataannya, semakin banyak orang melunasi hutang mereka (KPR), semakin sedikit suplai uang di masyarakat. Dan ingat ini... Tidak ada pengurangan suplai uang di masyarakat yang tidak diikuti dengan resesi / depresi. Tidak ada.

Ketika orang default / gagal bayar, bank terpaksa mencoret pinjaman debitur di kolom aset mereka, tetapi titipan uang nasabah tidak bisa dikurangi, maka yang terjadi adalah modalnya yang berkurang. Kalau modal mereka berkurang, maka pinjaman yang bisa mereka berikan sesuai dengan fractional reserve system juga berkurang. Jadi default juga akan menyebabkan pengurangan suplai uang di masyarakat, tetapi efeknya berbeda dengan orang yang melunasi hutang KPR mereka.

**************************

Saat ini, kita melihat collapsenya bisnis properti di negara-negara maju. Kita fokus saja ke Amerika, karena negara inilah yang paling penting kalau Anda mau berspekulasi apa yang akan terjadi di bulan-bulan kemudian di seluruh dunia. Ingat, dolar Amerika adalah reserve currency seluruh negara di dunia, hampir semua transaksi internasional menggunakan US dolar. Seberapa banyak bank sentral sebuah negara bisa menciptakan kredit di negaranya juga dipengaruhi oleh seberapa banyak cadangan US dolar mereka.

Siapa yang bisa menciptakan US dolar? Jawabannya adalah HANYA konsumen dan pemerintah Amerika. Siapapun selain mereka berdua tidak bisa menciptakan US dolar, sebab hanya merekalah yang bisa mengajukan kredit kepada perbankan Amerika untuk menciptakan dolar (kredit). Kalau Anda melihat orang lain di berbagai belahan dunia bertransaksi dolar, itu adalah dolar-dolar yang sudah eksis sebelumnya, bukan dolar fresh from US banking oven..

Konsumen Amerika sudah di ambang batas untuk berhutang lebih jauh, pemerintah Amerika juga sama buruknya. Mereka berdua sekarang tidak sanggup membayar hutang pokok masing-masing, bulan demi bulan sekarang hanya berupaya membayar bunga pinjaman. Tetapi US dolar masih adalah reserve currency dunia. Itu masalahnya. Pemerintah Amerika bisa saja mengambil jalan pintas untuk pelunasan hutang-hutang mereka, caranya adalah nyalakan mesin cetak di Federal Reserve Bank.

Seluruh dunia sekarang melihat apa yang akan mereka lakukan. Kita sedang menuju kalau bukan hiperdeflasi karena suplai uang (total cash & kredit) di Amerika yang berkurang drastis dengan sangat cepat, berarti hiperinflasi karena pemerintah Amerika memutuskan untuk mengintervensi keadaan dengan menyelesaikan masalah dengan cara mencetak uang baru.

Siapapun yang berpikir ini hanyalah resesi kecil, ekonomi akan sedikit buruk, tetapi tidak buruk-buruk amat... Anda sebaiknya mengedukasi diri Anda secepatnya. Terakhir kali dunia memasuki situasi seperti ini (1930-an), tahun-tahun berikutnya manusia memasuki perang dunia II.

Jutaan orang akan kembali musnah di tahun-tahun berikut, kalau bukan karena perang, berarti karena wabah lainnya.

Believe or not, up to you.

Jumat, 12 Desember 2008

Demo Lagi

Dalam cerita "Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%", Anda melihat bahwa karena suplai uang di masyarakat muncul dalam bentuk kredit (pinjaman kepada bankir), dan bunga untuk melunasi pinjaman tersebut bahkan tidak eksis, maka tahun demi tahun ada masyarakat yang gagal bayar atas hutangnya, atau jatuh bangkrut.

Uang rasanya selalu kurang, pengusaha senantiasa berharap untuk menekan biaya perusahaannya, dan pekerja senantiasa merasa mereka dibayar terlalu sedikit.

Manusia akan selalu membela kepentingan pribadi dan kelompoknya, ini fakta, sifat alami dari kita. Pengusaha membuat berbagai asosiasi untuk menampung kepentingan mereka. Buruh pun demikian, perserikatan-perserikatan terus didirikan, seolah-olah nasib mereka akan berubah setelahnya.

Manusia itu egois, Anda harus tahu itu. Anda tidak bisa membayangkan seberapa jahat kita bisa menjadi kalau hidup kita sudah terdesak. Itulah sebabnya manusia, yang juga diberkati dengan akal untuk berpikir, harus menciptakan sistem, aturan, dan hukum untuk melayani kepentingan bersama mereka, sesempurna yang sanggup mereka pikirkan.

Mengenakan bunga atas uang: uangnya sudah diedarkan, tetapi bunganya tidak eksis, sebenarnya mudah untuk dipahami, sistem ini tidak adil, dan pasti akan menciptakan kemiskinan dalam jangka panjang. Ribuan tahun yang lalu, masyarakat seperti yang kita baca di Alkitab dan Al Qur'an pun sudah merasakannya. Itulah sebabnya mereka melarang riba.

Tetapi manusia modern, yang sekolah dan kuliah belasan tahun, yang mempelajari ekonomi "modern", yang bahkan rajin solat dan ke gereja / tempat sembahyang lainnya, tidak menyadarinya. Televisi telah mencuci bersih otak mereka. Solusi mereka atas persoalan ekonomi selalu berdasarkan aturan yang sudah berlaku, harus dalam konteks uang tetap sebagai hutang, dan bunga harus tetap diberlakukan. Anak-anak muda ini tidak tahu bahwa ada alternatif.. Uang tidak harus muncul dalam bentuk hutang, dan bunga tidak harus ada.

Colonial script di Amerika abad 18, Greenbacks Amerika abad 19, dan Labor Tresury Certificate Jerman abad 20 adalah contoh untuk mereka pelajari. Tapi sayang, sekolah dan universitas tidak akan membahas ini. Kewajiban kita di luar sistem edukasi formallah untuk melakukannya. Ketiga jenis uang ini berhasil melayani publik, dan gagal setelah dipalsukan secara besar-besaran oleh bankir internasional yang tidak menyukainya. Dan tentu saja, para goldbug, suporter emas sebagai uang, mereka juga mengatakan menjadikan emas / perak sebagai uang bisa menjadi solusi. Anyway, bukan saatnya berdebat dengan para goldbug, prioritas utama kita adalah mengedukasi masyarakat. Pendukung greenbacks dan emas harus bersatu dan menyingkirkan sistem perbankan swasta yang memungut riba kepada kita terlebih dahulu.

Berita yang saya baca hari ini di koran lokal saya, kemarin dalam demonstrasi buruh di depan gedung Walikota, terjadi perkelahian antara buruh dan polisi. 4 buruh kepalanya bocor, dan 7 polisi dan satgas luka memar karena lemparan batu dan botol mineral... Ribuan buruh berdemonstrasi di sana karena mereka mau meminta kenaikan UMK tahun 2009.

Pemandangan ini akan muncul berulang-ulang, intensitasnya juga akan terus meningkat. Krisis bahkan belum mulai, yang Anda lihat ini baru pemanasan. Tunggulah sampai pabrik benar-benar mem-PHK buruh dalam jumlah jutaan tahun 2009-2010, tunggulah sampai berbagai usaha skala kecil menengah mulai mengurangi karyawan mereka, tunggulah rak supermarket kosong karena tidak ada yang mengimpor barang karena L/C perbankan tidak lagi diakui oleh penjual maupun perusahaan pengangkutan. You have seen nothing yet!

Nikmatilah hidupmu sekarang, dan bacalah berita-berita semacam ini sebagai hiburan, seolah-olah ini ditulis oleh orang kurang kerjaan yang paranoid. Nikmatilah, selagi Anda masih bisa. Anda mengira waktu masih panjang, biarlah masyarakat ini tetap bodoh, biarlah perbankan swasta terus menghisap lebih banyak darah kita lebih lama lagi. Anda akan kaget dengan apa yang akan Anda lihat nantinya.

Time is running out.

Kamis, 11 Desember 2008

Mulailah Bercerita

Minggu lalu, dalam rapat tahunan perusahaan tempat saya bekerja, salah satu komisaris kami berkata, "Kalian harus lebih hemat lagi. Anda tahu, sekarang kalau saya naik pesawat, saya hanya bisa naik kelas ekonomi, saya tidak terbiasa dengan itu!"

"Dasar keparat...." Dalam hati saya benar-benar muak dengan orang itu. Ada seribuan karyawan outsourcing di pabrik tempat saya bekerja, mereka bekerja sepanjang bulan hanya untuk mendapatkan ongkos hidup yang pas-pasan. UMR kota saya adalah 960 ribu. Sebelumnya mereka bisa saja dapat 1,5 - 2 juta karena ada OT (over time). Tetapi sekarang lupakan itu, nyaris tidak ada order dari customer. Dengan biaya hidup minimum sekitar 1,5 juta di kota saya, sebenarnya kebanyakan pegawai kami hidup di bawah garis hidup layak.

Manager kami yang lain, mengatakan ada kemungkinan "profit tambahan" di anggaran 2009 karena asumsi dolar terhadap rupiah adalah Rp 10.500, dan mereka cukup yakin angka rata-rata kurs riil dolar akan lebih tinggi dari itu. Jadi selisihnya akan menjadi keuntungan perusahaan. Huh.. Manusia-manusia yang bekerja kepada mereka ternyata sekarang menjadi objek keuntungan.

Anyway, saya tidak bisa membenci lebih jauh. Bagaimanapun, inilah tempat saya mancari nafkah. Saya pun tidak ingin pabrik kami ada masalah. Setahun yang lalu, saya bincang-bincang dengan seorang manager yang lain, saya mengatakan kepadanya bahwa hutang perusahaan kita sebaiknya dikurangi. Balasan darinya adalah saya terlalu muda untuk memahami ekonomi, hutang adalah untuk gear up, leverage! Kalau tidak gear up, tidak bisa maju!

Sekarang perusahaan kami mulai terpojok, hutang kami ada 1/4 trilyun rupiah.. Order customer menukik tajam, tetapi bunga bank tetap jalan terus, dan biaya overhead semacam listrik dan air justru meningkat (harga listrik baru dinaikkan sama PLN bulan lalu dan tarif air akan naik Januari mendatang). Masa depan mulai tampak mengerikan..

Saya tidak benar-benar membenci manajemen perusahaan saya. Saya tahu mereka sama hanya dengan manusia-manusia lainnya, telah menjadi korban bunga bank, dan budak dari fractional reserve system.

Inflasi adalah hal yang buruk, saya tahu itu. Tetapi deflasi (kalau terjadi), akan menjadi hal yang jauh lebih buruk. Ketika masyarakat masih sanggup menambah hutang, kredit-kredit baru bisa terus diajukan kepada bank komersial. Setidak-tidaknya suplai uang relatif cukup untuk digunakan masyarakat untuk perdagangan, membayar bunga pinjaman lama, atau melunasi sebagian hutang-hutang lama. Tetapi di siklus deflasi, suplai uang berkurang, tapi (hutang + bunga) yang harus dibayar kembali tidak berkurang. Ini akan memperparah dan mempercepat tingkat kebangkrutan.

Terus terang, kalau keadaan terus begini, nasib perusahaan tempat saya bekerja maupun puluhan ribu pabrik lainnya di dunia tidak terlalu sulit untuk diprediksi. Bank, yang memberikan kredit kepada pabrik-pabrik ini, neraca mereka pun gampang untuk ditebak. Apakah mereka masih bisa mempertahankan ratio kecukupan modal mereka 1 atau 2 tahun lagi? Entahlah... Saya tidak peduli, uang saya tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak itu, sejumlah besar juga sudah saya tarik dari bank. Untuk apa juga saya titipkan uang saya kepada mereka?

Kawan.. Tidak akan ada perubahan apapun mengenai sistem keuangan negara kita dan negara-negara lainnya kalau publik tetap sebodoh hari ini. Sekolah dan universitas tidak akan mengajarkan mekanika penciptaan uang kepada murid-muridnya. Kurikulum ditulis oleh profesor-profesor yang dibayar oleh sang pemenang (bankir internasional).

Kita butuh dukungan setidaknya 10 atau 20% penduduk untuk melancarkan perubahan. Penduduk Indonesia ada 230 juta, artinya kita butuh setidaknya 23 - 46 juta orang untuk membaca cerita-cerita tentang perbankan, fractional reserve system, dan sejarah bankir internasional terlebih dahulu. Huh.. Bagaimana caranya??

Media tidak akan mengupas topik ini. Topik apapun lainnya boleh dibahas, siapapun boleh jadi presiden, tetapi satu topik tidak boleh.. Tidak boleh ada yang menyinggung riba perbankan, tidak boleh ada yang membahas kriminalitas bankir dan fractional reserved system di televisi dan koran nasional. Sinetron-sinetron pembodohan masal akan terus muncul di primetime tayangan televisi.. Publik akan terus dibodoh-bodohi sampai tua. Tak heran kalau beberapa dekade yang lalu seorang diktator pernah berkata "Berkat terbesar bagi pemerintah adalah kalau memiliki sekumpulan rakyat yang tidak sanggup berpikir..."

Sebuah masyarakat akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima, tidak peduli baik atau buruk. Kita boleh muak terhadap semua politisi, kita boleh muak terhadap semua orang, tetapi kita tidak punya alternatif.. Politisilah yang akan menjalankan negara, itulah konsekuensi sistem demokrasi. Kita butuh mereka untuk menjalankan negara. Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil, hidup mandiri dan tidak tergantung kepada siapapun untuk hidup, bila tidak Anda harus mengambil tindakan sekarang.

Saya bermimpi semua orang Indonesia akan membaca artikel di blog ini,
- Sejarah dinasti Rothschild
- Sejarah pedagang uang
- Saya menginginkan seluruh dunia plus 5%
- & Protocols of Zion

Bacalah, dan kalau Anda menganggap artikel itu berguna, sebarkanlah artikel itu. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Pada akhirnya, kita, sebagai sebuah masyarakat, akan mendapatkan apa yang pantas kita terima. Tidak peduli baik atau buruk.

Mulailah bercerita kawan.. Fractional Reserved Banking is a crime.

Silence is acceptance!

Selasa, 09 Desember 2008

Di Ambang Kehancuran Terbesar Ekonomi

Cuplikan wawancara DBS dengan Muhammad Rafeeq di www.iamthewitness.com.

Muhammad Rafeeq adalah mantan regulator di perbankan Inggris, ikut membantu Dr. Mahathir Mohamad (Malaysia) menghadapi para spekulan mata uang pada krisis moneter 1997-98. Saat ini tinggal di Inggris.


Anda sudah tahu mengenai fractional reserve system.. Bank tidak benar-benar menggunakan semua uangnya ketika mereka menciptakan aset di kolom neraca mereka. Hanya sebagian uang mereka yang diperlukan ketika mereka meminjamkan uang ke si peminjam.

Kalau Anda mendengar reserve requirement adalah sebesar 10%, maka untuk setiap $100 pinjaman yang mereka berikan, mereka hanya mengeluarkan $10 saja.

Model ini bisa disebut dengan nominal based fractional reserved system.

Paska penerapan new capital accord (Basel Accord 2) tahun lalu, kita melihat dunia perbankan dan finansial bergejolak tak henti-hentinya. Dan semua orang dengan akal waras dan insider sudah keluar sama sekali dari pasar finansial.

Apa sebenarnya yang diterapkan di capital accord baru ini? Sederhananya, perbankan tidak lagi menganut nominal based reserved, mulai tahun lalu perbankan harus menerapkan risk based fractional reserved system.

Sekarang, aset perbankan dibagi menjadi 3 level:
Level 1 antara lain surat hutang pemerintahan negara maju, seperti USA, Inggris, Euro, & Emas.
Level 2 antara lain surat hutang / obligasi korporat kualitas tinggi (rating AAA)
Level 3 antara lain surat hutang dengan rating lebih rendah (B atau C), sekuritisasi aset (KPR, otomotif, dll), kontrak Swap dll.

Modal yang diperlukan untuk membiayai ketiga level aset ini berbeda-beda:
Level 1 sebagai aset yang paling aman nyaris tidak perlu modal, misalnya hanya perlu mencadangkan $0.5 untuk setiap $100 aset yang bank miliki.
Level 2 sedikit lebih banyak, misalnya cadangan modal sampai $5 untuk setiap $100 aset yang bank miliki.
Level 3 adalah produk berisiko tinggi, cadangan modal yang diperlukan berbeda-beda tergantung produknya, bisa $10, $15, $20, $30, $50, bahkan sampai setinggi $100 untuk setiap $100 aset.

Seperti yang sudah Anda ketahui, sekuritisasi produk CDO (collaterized Debt Obligation) subprime sebelumnya adalah produk AAA. Tetapi dengan banyaknya KPR gagal bayar, banyak produk CDO yang akhirnya menjadi kertas sampah. Status produk-produk inipun terus menurun dan modal yang harus dicadangkan perbankan pun terus meningkat. Bank-bank di negara maju, yang sebelumnya hanya mencadangkan beberapa dolar untuk produk ini, terpaksa meningkatkan modal mereka untuk produk-produk sampah ini. Tetapi..... bank tidak ada uang, dan mereka pun terkena margin call.

Bilions-billions dan trillions dolar injeksi bank sentral di seluruh negara maju yang Anda baca di koran dari tahun lalu sampai sekarang adalah untuk membantu bank memenuhi ratio kecukupan modal mereka supaya mereka bisa memenuhi ketentuan capital accord yang baru. Kalau mereka tidak bisa memenuhi ketentuan baru ini, mereka harus dinyatakan pailit... bankrut...

Sekarang Anda tahu mengapa pemerintah negara maju mati-matian menutup mata mereka terhadap perusahaan rating yang terus-menerus memberikan rating palsu, penilaian yang lebih bagus daripada yang seharusnya didapatkan oleh klien mereka. Rating AAA seolah-olah adalah gratis, semua korporat adalah AAA, seburuk-buruknya kinerja klien mereka, rating mereka masih AAB atau AA-. Mengapa? Karena bila rating diturunkan, modal yang perlu dicadangkan oleh perbankan untuk produk ini pun bertambah, dan bank sudah tidak punya uang untuk itu.

Namun satu hal yang tidak kelihatan di banking book perbankan (neraca) adalah detail produk derivatif mereka. Produk ini biasanya dicatatkan di pembukuan yang lain, namanya trading book. Tetapi ada satu hal yang sangat luar biasa mengenai peraturan pencadangan modal mengenai produk derivatif, yaitu negatively correlating asset.

Bila bank menulis sebuah kontrak kepada beberapa pihak, dan pihak-pihak tersebut secara teori (menurut model komputer, marked to model) bisa saling meniadakan resiko, maka bank hanya perlu mencadangkan modal atas selisih resiko mereka.

Kita buat perumpamaan saja, andaikan bank memberikan pinjaman ke toko eskrim sebesar $10, dan memberikan pinjaman lain ke toko payung sebesar $11. Bukannya mencadangkan modal sebesar $21, bank hanya mencadangkan $1 atas 2 transaksi ini. Perusaaan eskrim dan payung adalah negatively correlating asset. Yang satu akan sukses di musim kemarau, dan kalau yang terjadi musim hujan, maka payunglah yang sukses. Hehe... luar biasa bukan. Mengapa bank suka melakukan hal ini? Karena semakin sedikit modal yang perlu dicadangkan, semakin besar leverage mereka. Ingat, leverage adalah kunci kekuatan dari fractional reserved system.

Atau kita ambil perumpamaan lain, bank menulis foreign exchange swap dalam US dolar dan Euro. Di kaki USD, mereka mencari mitra dagang lain untuk trasaksi USD-Yen, dan di kaki Euro, mereka mencari lagi mitra dagang lan untuk transaksi Euro-Swiss Franc. Lalu mereka menutup transaksi ini dengan mencari orang yang bertransaksi Yen-Swiss Franc. Selama tidak ada counterparty yang gagal bayar, skema ini tidak bermasalah, dan bank bahkan tidak perlu menyediakan modal untuk memfasilitasi produk derivatif ini, dan yang pasti angka-angka perdagangan derivatif ini tidak muncul di banking book (neraca) yang mereka berikan kepada publik setiap 3 bulanan itu.

Jadi ibaratkan trading book perbankan sebagai sebuah meja, meja itu harus balanced supaya modal perbankan tidak terpakai untuk produk-produk tersebut.

Krisis CDO subprime telah memicu ketidakseimbangan meja trading book perbankan negara maju. Model marked to model mereka tidak pernah teruji di dunia nyata, kalau ada counterparty yang ingkar janji, bankrut, atau gagal bayar, keseluruhan sistem ini akan runtuh.

Setiap kali adalah aset di trading book yang membusuk, produk tersebut harus segera diganti dengan meterial baru supaya meja tersebut tidak runtuh. Material apa yang dipakai untuk "menyeimbangkan meja" sejak tahun lalu? Jawabannya adalah cash....

Sebelumnya ada Contract Default Swap (CDS) untuk melindungi para partisipan derivatif atas resiko gagal bayar counterparty mereka, dan dengan demikian mereka bisa terus menyembunyikan transaksi itu di trading book mereka. Tetapi sekarang CDS pun diragukan gunanya, buktinya AIG sudah jatuh. Alasan AIG dan perusahaan asuransi raksasa lainnya diselamatkan karena bila CDS yang ditulis mereka dinyatakan menjadi sampah, maka kontrak-kontrak derivatif akan dimasukkan di banking book (neraca) perbankan. Dan bila dimasukkan ke neraca, maka perlu modal trilyunan dolar lagi untuk menopang aset-aset sampah itu, dan bank-bank di negara maju sudah terlalu bangkrut untuk bisa menemukan trilyunan dolar baru itu.

Solusi krisis yang diambil berbagai bank sentral sampai saat ini, di satu sisi bank sentral terus menginjeksi uang ke perbankan (bank menukar aset sampah di neraca mereka dengan surat hutang negara), dan di sisi lain perbankan terus menahan kredit untuk diberikan kepada publik. Bukan karena mereka sengaja ingin publik mati, tetapi karena mereka memang tidak punya cukup uang untuk memenuhi rasio kecukupan modal mereka lagi. Secara teknis, bank-bank besar di negara barat sebenarnya sudah insolvent, aset mereka lebih kecil dari hutang, alias modalnya negatif!

* Ingat bagan neraca?









dan X harus = Y (A + B)

(Sekarang di bank-bank utama Amerika dan Eropa, X sebenarnya lebih kecil dari A. Berkat suntikan dana tak habis-habis dari bank sentral, maka seolah-olah modal mereka masih positif. Tetapi, dengan ekonomi riil dan lapangan kerja yang terus memburuk, semakin banyak customer mereka yang gagal bayar, dan semakin kecil lagi X, dan semakin negatif lagi B. Kalau bank sentral menghentikan suntikan dana, bank-bank itu akan langsung tutup!)

Produk derivatif perbankan sudah melewati $1000 trilyun! Semua bank sentral dan bankir pun panik. Sampai sejauh mana bank sentral bersedia mencetak uang untuk diberikan kepada perbankan (resiko hyperinflasi) untuk mempertahankan rasio kecukupan modal mereka? Sampai seberapa dalam bank komersial harus menahan kredit kepada publik dan tidak menciptakan resiko hyperdeflasi? Di satu sisi bankir sekarang kebanjiran trilyunan dolar baru, tetapi di sisi lain masyarakat umum dan pengusaha tidak memiliki akses kredit kepada perbankan komersial, hutang-hutang pun nyaris tidak ada yang bisa dirollover... Bahkan pasar obligasi internasional bisa dibilang beku total sepanjang tahun 2008 ini, dan 2009 akan lebih ketat lagi...

***

Bayangkan seorang pengusaha, sebut saja dengan nama Rizal. Dia punya hutang 5 milyar rupiah. Perusahaannya memiliki 100 karyawan. Hutangnya kepada bank biasanya akan dia rolling over setiap bulan Maret. Rizal dalam hatinya berencana untuk terus membayar cicilan bunga bulanan saja, dia tidak berencana sama sekali untuk melunasi hutang pokoknya. Yang dia tahu, selama dia sanggup membayar bunga pinjaman, bank tidak akan menarik kredit pokok darinya.

Tetapi betapa terkejutnya dia, pada bulan Januari dia ditelepon oleh sang bankir, katanya bulan Maret ini bank akan menarik piutang mereka. Rizal pun stress, dia mencoba mencari pinjaman ke bank lain, tetapi tak ada yang mau meminjaminya. Akhirnya, Rizal pun menjual aset-aset perusahaannya. Tokonya yang dulu seluas 5000 m², sekarang tinggal 500 m². Karyawannya pun tinggal 20 orang.

Ada jutaan Rizal-Rizal yang lain di seluruh dunia. Tidak semua seberuntung dia, setidak-tidaknya Rizal yang ini masih sanggup menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan. Tetapi yang lain bagaimana? Kalau kredit mereka ditarik oleh bank, berapa banyak dari Rizal-Rizal yang lain yang akan menutup usahanya, berapa juta manusia akan yang kehilangan pekerjaan karena PHK?

* Satu hal yang tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah betapa para "orang kaya" dan "konglomerat" sebenarnya tidak terlalu kaya. Mereka memiliki penampilan ekstra mewah memang karena mereka memiliki banyak uang, tetapi uang mereka adalah kredit (hutang). Kalau kredit-kredit itu dikembalikan, Anda akan kaget betapa orang-orang itu sebenarnya biasa-biasa saja. Korporat-korporat juga demikian, nyaris semua perusahaan high profile hidup dari hutang. Kalau mereka gagal merestrukturisasi (rollover) hutang dan obligasi jatuh tempo mereka, perusahaan-perusahaan ternama itu akan bankrut saat itu juga.

Sistem perbankan yang sekarang ibarat meja yang sudah runtuh. Komponen di kaki-kaki meja mereka setiap bulan ada yang membusuk dan harus diamputasi... Bukannya membuat meja dari bahan padat, bankir-bankir modern malah membuat meja mereka dari bahan kertas lunak beracun (derivatif)...

Gagal bayarnya KPR subprime (KPR untuk orang-orang berpendapatan rendah ataupun pendapatan tidak tetap / KPR yang beresiko tinggi untuk default) hanyalah pembuka, masih ada KPR prime yang juga sedang gagal bayar, kredit pembelian real estate komersial, kartu kredit, kredit kendaraan bermotor, kredit korporat, effect swap, foreign exchange swap, dan sebagainya. Sejumlah besar sekuritisasi produk-produk tersebut masih disembunyikan di trading book perbankan barat. Kalau semuanya nantinya akan dicatatkan di banking book (neraca), it's game over, mereka tidak akan mungkin menemukan modal untuk itu. $1000's trillion is just too much....!

Dalam Protokol Zion, disebutkan bahwa bankir zionis akan menghancurkan ekonomi riil, lalu menghancurkan sistem finansial (perbankan), dan kemudian tampil sebagai Raja (penyelamat manusia) dengan menyediakan semua infrastruktur dan bahan baku bagi manusia untuk survive. Mereka secara de facto memang telah menguasai semua asset riil di dunia. Berbagai perusahaan komoditi dan usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak memang telah diprivatisasi oleh semua negara dan diborong oleh perusahaan-perusahaan yang dibacking oleh bankir zionis ini (Rothschild, Rockefeller, Oppenheimer, Warburg, dll).

Kemarin saya membaca di koran, pemerintah berencana untuk bernegosiasi dengan IMF untuk mendapatkan pinjaman siaga untuk mengantisipasi krisis moneter 2009. Bankir-bankir di IMF bukanlah penyelamat, mereka adalah sekumpulan vampire penghisap darah! Pertemuan-pertemuan semacam itu benar-benar hanya membuang waktu, sekumpulan orang super munafik bertatap muka dan membicarakan tentang rencana perbaikan kesejahteraan rakyat dunia.

Kalau para bankir zionis benar-benar berniat menyelamatkan Indonesia dan negara miskin lainnya, apa yang perlu mereka lakukan sebenarnya sederhana saja.
1. Hapus bukukan hutang pemerintah Indonesia.
2. Kembalikan aset-aset penghasil income yang mereka rampok paska privatisasi kepada negara kita.
Tentu saja, mereka tidak akan melakukan itu!

Dan kalau politisi dan ekonom di semua negara benar-benar mau memperbaiki standar hidup rakyatnya, benar-benar mau memenuhi janjinya saat kampanye, ini yang harus mereka lakukan duluan:
1. Hapuskan sistem moneter kredit (hutang) sebagai uang dan fractional reserved system.
2. Hentikan spekulasi nilai tukar mata uang di pasar forex internasional.
Tentu saja, ini juga tidak akan dilakukan!

Kita diajarkan di sekolah bahwa imperialisme Inggris sudah lama berakhir, tetapi sejarah ditulis oleh pemenang.. dan kita masih adalah pecundang.. Inggris dan Belanda meninggalkan negara-negara jajahannya setelah mendirikan bank sentral di masing-masing negara. Bank sentral tersebut kemudian akan mengembangkan mata uang lokal (kredit/hutang) untuk dipakai oleh rakyat negara tersebut (suplai uang tumbuh lewat kredit oleh bank komersial swasta yang meminjam duluan kepada bank sentral). Tetapi tahukah Anda, nilai dari mata uang negara-negara tersebut masih dalam kendali kelompok yang sama yang duduk manis di sepetak tanah di City of London? Kelompok yang sama yang mengeksploitasi rakyat yang mereka jajah sejak beberapa abad yang lalu.

Jadi... Maaf, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Bersiap-siaplah menyambut kehancuran terbesar ekonomi di abad 21 ini!!

The next question... Kapan sistem perbankan barat akan collapse?
Saya bukan insider... Saya tidak bisa menjawabnya. Tetapi saya bisa berspekulasi.

Pertama, ekonomi riil harus collapse duluan. Harus ada puluhan juta orang kehilangan pekerjaan mereka, dan puluhan bahkan ratusan juta lainnya hidup dalam kepanikan.

Kedua, suplai bahan pangan harus defisit. Sekarang kebanyakan negara masih memiliki simpanan beras atau gandum (di negara barat) selama beberapa bulan. Tetapi jatuhnya harga komoditi saat ini bisa memicu kebangkrutan pertanian / perkebunan. Bila sebagian dari mereka tidak menanam kembali pada bulan-bulan mendatang, maka hasil panen akan menurun. Dan bila berbagai negara telah habis mengkonsumsi cadangan bahan pangan mereka, situasi akan menjadi tak terkontrol, inilah saat yang paling cocok untuk para zionis mengambil alih dunia. Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu, seluruh dunia akan tergantung pada mereka, sang Mesiah penyelamat umat manusia.

Sekadar spekulasi, semester kedua 2009 - semester pertama 2010 akan ada perubahan besar-besaran akan standar hidup kebanyakan manusia di planet ini... Perubahan yang tidak akan kita senangi...!!

Jumat, 05 Desember 2008

Berdagang - Berspekulasi - Berjudi

Semakin lama semakin sering saya membaca kata "investor" di koran dan majalah. Saya agak heran juga, sejak kapan orang-orang menjadi begitu pandai? Darimana para "investor" ini berasal? Di mana mereka berada sebelumnya?

Orang-orang tua sering bilang "Keputusan dalam hidup selalu adalah perjudian, karena tidak ada hal yang pasti, maka orang hanya bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang dia tahu."

Benar sekali, tidak ada yang pasti, dan semua orang memang hanya berjudi berdasarkan apa yang dia tahu. Namun satu hal yang perlu Anda sadari, dalam semua bidang dan dalam setiap transaksi, sekalipun sekelompok orang melakukan keputusan yang sama, namun mereka melakukannya berdasarkan level informasi dan pengetahuan yang berbeda-beda.

Mari kita berandai-andai.....
Saya bekerja di sebuah perusahaan eskrim, PT kami adalah perusahaan publik. Akhir-akhir ini saya mengetahui bahwa perusahaan saya berhasil mendapatkan sebuah order dari customer baru yang akan meningkatkan laba perusahaan saya sebesar 200% dalam waktu 6 bulan mendatang.

Jadi.. Diam-diam saya pergi ke broker saham saya dan membeli saham perusahaan saya sebanyak yang saya bisa... (Jangan khawatir mengenai peraturan insider trading... Dunia nyata tidak seperti itu, every insider trades!)

Di tempat lain, ada seseorang yang sering jual beli saham, sebut saja di Jacky. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini cuaca memang agak panas. Dia bertaruh bahwa global warming itu benar, dan dia pun membeli sejumlah saham perusahaan eskrim saya.

Di tempat lain lagi, seorang Ibu muda, Susi, yang lagi kebanyakan duit, yang baru mulai belajar membeli saham dan menjadi "investor", tidak sabar lagi untuk membeli saham pertamanya. Dan PT kami yang begitu beruntung, menjadi saham pembuka di portfolionya.

Anda lihat... Antara saya, Jacky, dan Susi, walaupun mengambil keputusan yang sama, tetapi kami melakukannya dengan alasan dan informasi yang berbeda.

* Bagi saya, saya bisa mengatakan dengan nyaris pasti saya akan menang, karena saya tahu customer baru kami akan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan saya. Maka saya tidak ragu untuk menyebut diri saya sebagai pedagang, bahkan investor.
* Bagi Jacky, saya akan menyebutnya spekulator. Keputusan dia memang ada dasarnya, tetapi tetap saja dia tidak benar-benar tahu apa yang sedang dia lakukan.
* Bagi Susi, dia adalah penjudi! Ibu ini sedang mempertaruhkan uangnya tanpa dasar.

Jadi, perbedaan antara berdagang, berspekulasi, dan berjudi terletak pada alasan dan informasi yang dimiliki si pembuat keputusan. Semakin Anda mengetahui informasi mengenai apa yang Anda lakukan dan semakin besar kontrol Anda atas hasil dari sebuah kejadian, semakin Anda bisa menyebut diri Anda investor. Sebaliknya, semakin Anda tidak tahu dan tidak bisa memegang kendali atas hasil sebuah kejadian, semakin Anda memenuhi kriteria sebagai seorang penjudi.

Kawan... Jangan mengira karena kita sedang melakukan hal yang sama dengan seseorang, lantas kita pun berada satu level dengan mereka.

Mari kita sambung lagi andai-andai tadi....
6 bulan kemudian, setelah hasil perdagangan kami dengan customer baru itu selesai dan muncul di laporan keuangan publik kami, harga saham perusahaan saya meroket 4 kali lipat.

Jacky, yang gembira atas "kepandaian" dia, memutuskan untuk take some profit. Dia menjual 1/2 saham dia, dan menyimpan 1/2 yang tersisa sambil berharap saham perusahaan eskrim saya akan terus naik harganya.

Susi, yang gembira atas "kepandaian dan keberuntungan" dia, memutuskan bahwa 4 kali lipat hanyalah awal. Dia menyimpan semua sahamnya, dan dengan tekat bulat akan terus menunggu hingga sahamnya naik lebih tinggi lagi.

Saya, di sisi lain, mendapatkan informasi rahasia dari pemasok kami di Amerika, bahwa global ternyata tidak warming.... (hehe), bulan-bulan mendatang, yang terjadi malahan adalah global cooling... dan saya pun menjual semua saham yang saya miliki, ditambah shortselling atas saham perusahaan saya.

Cuaca berubah sesuai yang saya antisipasi, cuaca sangat dingin dan eskrim tidak laku.. Penjualan kami anjlok, dan harga saham pun menukik tajam paska pengumuman laporan keuangan kami yang terbaru.

* Saya, lagi-lagi untung besar.
* Jacky, yang untung saat menjual 1/2 sahamnya dulu, sekarang rugi atas 1/2 saham yang tersisa.
* Susi yang malang, dia bukan saja tidak pernah mendapatkan keuntungan, sekarang malah harus rugi setelah menunggu 1 tahun.

Kawan, dunia ini sangatlah kejam.
Pikirkanlah baik-baik sebelum melibatkan diri di pasar finansial...

Semoga Anda bukan Jacky, apalagi Susi. Good luck!

Kamis, 04 Desember 2008

The Rich Will Go On...

Mengenai Hyperinflasi Weimar

Bab 4 dari buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Terjemahan dari artikel Ellen Brown, www.webofdebt.com

SEBUAH PELAJARAN DARI JERMAN PASKA PERANG DUNIA I

“Kami tidak cukup bodoh untuk mencoba menciptakan sebuah mata uang yang dibacking oleh emas, yang memang tidak kami miliki lagi, tetapi setiap Mark yang akan kami cetak akan dibacking oleh pekerjaan dan barang yang nilainya setara… kami tertawa saat ahli finansial nasional memandang bahwa nilai dari sebuah mata uang adalah tergantung kepada emas dan sekuritas lain yang berada di ruangan besi bank.”
- Adolf Hitler -


Paska perang dunia I di Jerman, saat Hitler sedang berkuasa, negara itu sedang dalam kebangkrutan total. Perjanjian Versailles mewajibkan Jerman untuk membayar semua biaya reparasi perang, nilainya setara dengan tiga kali lipat nilai semua properti negaranya. Spekulasi terhadap mata uang Mark menyebabkan mata uang ini hancur, dan membawa Jerman menuju era hiperinflasi saat itu. Di puncak kejatuhannya, sebuah gerobak yang membawa 100 milyar Mark bahkan tidak bisa membeli sepotong roti. Tabungan negara sudah kosong, dan sejumlah besar rumah dan sawah diambil alih oleh bankir dan spekulator. Rakyat hidup dalam kesulitan dan kelaparan. Hal seperti itu belum pernah dialami mereka sebelumnya… Jerman akhirnya tidak memiliki pilihan selain meminjam uang dan menjadi budak dari bankir internasional.

Hitler dan para Sosialis Nasionalis, yang mulai berkuasa sejak 1933, kemudian melompati para bankir dan mulai menerbitkan mata uang mereka sendiri. Mereka belajar dari Abraham Lincoln yang menerbitkan “greenbacks.” Hitler mulai menyusun program kredit dengan merancang berbagai pekerjaan umum. Proyek-proyek utamanya adalah pengendalian banjir, perbaikan bangunan publik dan perumahan umum, konstruksi bangunan baru, jalan raya, jembatan, kanal, dan pelabuhan. Nilai dari proyek-proyek ini ditentukan untuk bernilai 1 milyar unit mata uang baru, yang mereka namai Labor Treasury Certificate.

Jutaan orang dipekerjakan untuk mengerjakan proyek-proyek ini, dan mereka akan mendapatkan bayaran dalam bentuk sertifikat ini. Uang ini tidak dibacking oleh emas, melainkan oleh sesuatu yang memiliki nilai, yaitu tenaga kerja dan material yang diberikan kepada pemerintah. Hitler berkata, “Untuk setiap Mark yang kami cetak kami mewajibkan pekerjaan ataupun barang produksi dengan nilai yang setara.” Para pekerja kemudian dapat menggunakan sertifikat ini untuk membeli dan membayar berbagai barang dan jasa, dan mulai menciptakan pekerjaan untuk lebih banyak orang.

Dalam waktu 2 tahun, masalah pengangguran teratasi dan negara ini kembali berdiri di atas kaki sendiri. Mereka memiliki sebuah mata uang yang stabil, kuat, tanpa hutang, dan tanpa inflasi, padahal pada saat yang bersamaan jutaan orang di Amerika dan negara-negara Barat lainnya masih tetap menganggur dan hidup dari bantuan pemerintah. Jerman bahkan sanggup memulai perdagangan dengan luar negeri, sekalipun dia tidak diberikan kredit dan harus menghadapi boikot perekonomian dari luar. Mereka melakukannya dengan sistem barter: mesin-mesin dan komoditi ditukar langsung dengan negara lain, tanpa melalui bankir internasional. Sistem pertukaran langsung ini bisa dilakukan tanpa perlu berhutang dan tanpa defisit perdagangan. Eksperimen ekonomi Jerman ini tidak berlansung lama, sama seperti yang terjadi pada Lincoln, tetapi berhasil meninggalkan sejumlah peninggalan atas kesuksesannya, salah satunya adalah Autobahn, superhighway ekstensif pertama di dunia.

Hjalmar Schacht, yang saat itu adalah kepala bank sentral Jerman, memiliki sebuah kutipan menarik tentang greenbacks versi Jerman ini. Seorang bankir Amerika berkata kepadanya, “Dr. Schacht, kamu seharusnya datang ke Amerika. Kami punya banyak uang dan itulah perbankan yang sebenarnya.” Schacht membalas, “Kamu seharusnya datang ke Jerman. Kami tidak punya uang dan itu baru perbankan yang sebenarnya.”

Walaupun Hitler dihujat dalam berbagai buku sejarah, tetapi dia sebenarnya sangat populer di Jerman, setidaknya pada masa-masa tertentu. Ini terjadi karena selama periode tertentu, Hitler berhasil menyelamatkan Jerman dari teori ekonomi Inggris, bahwa uang harus dipinjam dalam bentuk emas kepada para kartel bankir dan bukannya bisa dicetak langsung oleh pemerintah. Sebenarnya inilah sebabnya kekuasaan Hitler harus dihentikan, dia melompati bankir internasional dan menciptakan mata uang dia sendiri.

Sebelumnya Hitler dibiayai oleh para bankir untuk melawan Soviet yang dipimpin Stalin. Tetapi kemudian Hitler menjadi ancaman yang bahkan lebih besar dibanding Stalin karena dia mencoba mencetak uangnya sendiri, sebuah hak istimewa yang dimonopoli oleh bankir.

Dalam bukunya, “Billions for the Bankers, Debts for the People (1984), Sheldon Emry menulis,

Jerman menerbitkan uang bebas hutang mereka mulai 1935, mereka kemudian bangkit dari depresi dan menjadi kekuatan besar dunia hanya dalam waktu 5 tahun. Jerman membiayai pemerintahan dan semua operasional perang mereka dari 1935 sampai 1945 tanpa emas dan tanpa hutang, dan memerlukan gabungan semua kekuatan kapitalis dan komunisme untuk bisa menghancurkan Jerman dan mengembalikan Eropa kembali ke genggaman para bankir. Bagian sejarah uang ini tidak pernah muncul dalam pelajaran uang di buku-buku dan kurikulum sekolah zaman ini.

MENGENAI HIPERINFLASI WEIMAR

Banyak buku yang menceritakan tentang inflasi gila-gilaan 1923 yang dialami Republik Weimar (panggilan untuk Jerman saat itu). Devaluasi radikal dari mata uang Mark dikatakan adalah kesalahan dari pemerintah yang mencetak terlalu banyak uang. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Krisis finansial Weimar dimulai dari nilai reparasi mustahil yang dipaksakan dalam Perjanjian Versailles. Schacht, yang saat itu adalah komisioner mata uang berkata,

“Perjanjian Versailles adalah sebuah model untuk menghancurkan perekonomian Jerman… Kami tidak mungkin sanggup membayar kecuali dengan mencetak uang besar-besaran.”

Itu yang dia katakan saat itu. Tetapi dalam bukunya tahun 1967 “The Magic of Money,” Schacht mengungkapkan bahwa sebenarnya yang memompa begitu banyak uang baru ke perekonomian Jerman saat itu bukanlah pemerintah, melainkan sebuah bank swasta, Reichsbank.

Sama seperti Federal Reserve Amerika, kebanyakan orang mengira Reichsbank adalah bank pemerintah, tetapi dia sebenarnya adalah bank swasta yang dioperasikan untuk mencari kepentingan pribadi. Yang mendorong masa inflasi dalam peperangan menjadi masa hiperinflasi adalah spekulasi dari investor luar negeri, yang menjual mata uang Mark, bertaruh bahwa nilainya akan jatuh. Dalam sebuah manipulasi yang disebut shortselling, spekulator menjual sesuatu yang sebenarnya tidak mereka miliki, untuk dibeli kembali saat harga jatuh. Spekulasi terhadap Mark bisa dilakukan karena Reichsbank menyediakan mata uang ini dalam jumlah sangat besar untuk dipinjamkan kepada orang-orang yang mau meminjam, tentu saja dengan mengenakan bunga.


Menurut Schacht, pemerintah Weimar bukan hanya tidak menyebabkan hiperinflasi, tetapi merekalah yang akhirnya berhasil mengendalikan hiperinflasi tersebut. Pemerintah membuat batasan yang ketat terhadap Reichsbank, dan menghalangi dia untuk meningkatkan spekulasi oleh luar negeri dengan menghapuskan akses terhadap pinjaman bank. Hitler kemudian membawa Jerman bangkit kembali dengan menerbitkan Labor Treasury Certificate, sejenis greenbacks versi Amerika.

Schacht mengakui di buku riwayat hidupnya bahwa mengizinkan pemerintah untuk menerbitkan uang sebenarnya tidak serta-merta akan menciptakan inflasi seperti yang ditulis teori ekonomi klasik. Ketika suplai uang bertambah setara dengan pertambahan barang dan jasa, inflasi tidak akan terjadi dan harga barang pun tidak akan naik.

Rabu, 03 Desember 2008

Gudang Benih di Svalbard

Terima kasih kepada makanan modifikasi genetis (Genetically Modified Food), planet kita sedang dalam perjalanan untuk kehilangan nyaris semua benih tanaman / tumbuhan.

Tapi perlu Anda ketahui, ini bukan terjadi karena tuntutan zaman. Pengendalian benih diperlukan oleh penguasa dunia untuk mengendalikan manusia. Ingat, manusia yang lapar tidak sanggup melawan. Dengan mengendalikan benih, mereka bisa mengendalikan suplai bahan pangan dunia.

Bila tiba suatu hari di mana hanya tanaman GM yang bisa dipakai oleh petani di seluruh dunia, tidak ada lagi kemungkinan untuk menggulingkan kekuasaan para penguasa (bankir internasional: Rothschild, Rockefeller, Warburg, dll)

Siapa mengendalikan bahan pangan, dialah yang mengendalikan manusia.
Siapa mengendalikan minyak, dialah yang mengendalikan benua.
Siapa mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan dunia.
- Henry Kissinger -

Berikut sebuah artikel dari William Engdahl, penulis buku "Seeds of Destruction."

"Doomsday Seed Vault" in the Arctic
Bill Gates, Rockefeller and the GMO giants know something we don’t

by F. William Engdahl

Global Research, December 4, 2007

One thing Microsoft founder Bill Gates can’t be accused of is sloth. He was already programming at 14, founded Microsoft at age 20 while still a student at Harvard. By 1995 he had been listed by Forbes as the world’s richest man from being the largest shareholder in his Microsoft, a company which his relentless drive built into a de facto monopoly in software systems for personal computers.

In 2006 when most people in such a situation might think of retiring to a quiet Pacific island, Bill Gates decided to devote his energies to his Bill and Melinda Gates Foundation, the world’s largest ‘transparent’ private foundation as it says, with a whopping $34.6 billion endowment and a legal necessity to spend $1.5 billion a year on charitable projects around the world to maintain its tax free charitable status. A gift from friend and business associate, mega-investor Warren Buffett in 2006, of some $30 billion worth of shares in Buffet’s Berkshire Hathaway put the Gates’ foundation into the league where it spends almost the amount of the entire annual budget of the United Nations’ World Health Organization.

So when Bill Gates decides through the Gates Foundation to invest some $30 million of their hard earned money in a project, it is worth looking at.

No project is more interesting at the moment than a curious project in one of the world’s most remote spots, Svalbard. Bill Gates is investing millions in a seed bank on the Barents Sea near the Arctic Ocean, some 1,100 kilometers from the North Pole. Svalbard is a barren piece of rock claimed by Norway and ceded in 1925 by international treaty (see map).



On this God-forsaken island Bill Gates is investing tens of his millions along with the Rockefeller Foundation, Monsanto Corporation, Syngenta Foundation and the Government of Norway, among others, in what is called the ‘doomsday seed bank.’ Officially the project is named the Svalbard Global Seed Vault on the Norwegian island of Spitsbergen, part of the Svalbard island group.

Doomsday Seed Vault

The seed bank is being built inside a mountain on Spitsbergen Island near the small village of Longyearbyen. It’s almost ready for ‘business’ according to their releases. The bank will have dual blast-proof doors with motion sensors, two airlocks, and walls of steel-reinforced concrete one meter thick. It will contain up to three million different varieties of seeds from the entire world, ‘so that crop diversity can be conserved for the future,’ according to the Norwegian government. Seeds will be specially wrapped to exclude moisture. There will be no full-time staff, but the vault's relative inaccessibility will facilitate monitoring any possible human activity.

Did we miss something here? Their press release stated, ‘so that crop diversity can be conserved for the future.’ What future do the seed bank’s sponsors foresee, that would threaten the global availability of current seeds, almost all of which are already well protected in designated seed banks around the world?

Anytime Bill Gates, the Rockefeller Foundation, Monsanto and Syngenta get together on a common project, it’s worth digging a bit deeper behind the rocks on Spitsbergen. When we do we find some fascinating things.

The first notable point is who is sponsoring the doomsday seed vault. Here joining the Norwegians are, as noted, the Bill & Melinda Gates Foundation; the US agribusiness giant DuPont/Pioneer Hi-Bred, one of the world’s largest owners of patented genetically-modified (GMO) plant seeds and related agrichemicals; Syngenta, the Swiss-based major GMO seed and agrichemicals company through its Syngenta Foundation; the Rockefeller Foundation, the private group who created the “gene revolution with over $100 million of seed money since the 1970’s; CGIAR, the global network created by the Rockefeller Foundation to promote its ideal of genetic purity through agriculture change.

CGIAR and ‘The Project’

As I detailled in the book, Seeds of Destruction, in 1960 the Rockefeller Foundation, John D. Rockefeller III’s Agriculture Development Council and the Ford Foundation joined forces to create the International Rice Research Institute (IRRI) in Los Baños, the Philippines.1 By 1971, the Rockefeller Foundation’s IRRI, along with their Mexico-based International Maize and Wheat Improvement Center and two other Rockefeller and Ford Foundation-created international research centers, the IITA for tropical agriculture, Nigeria, and IRRI for rice, Philippines, combined to form a global Consultative Group on International Agriculture Research (CGIAR).

CGIAR was shaped at a series of private conferences held at the Rockefeller Foundation’s conference center in Bellagio, Italy. Key participants at the Bellagio talks were the Rockefeller Foundation’s George Harrar, Ford Foundation’s Forrest Hill, Robert McNamara of the World Bank and Maurice Strong, the Rockefeller family’s international environmental organizer, who, as a Rockefeller Foundation Trustee, organized the UN Earth Summit in Stockholm in 1972. It was part of the foundation’s decades long focus to turn science to the service of eugenics, a hideous version of racial purity, what has been called The Project.

To ensure maximum impact, CGIAR drew in the United Nations’ Food and Agriculture Organization, the UN Development Program and the World Bank. Thus, through a carefully-planned leverage of its initial funds, the Rockefeller Foundation by the beginning of the 1970’s was in a position to shape global agriculture policy. And shape it did.

Financed by generous Rockefeller and Ford Foundation study grants, CGIAR saw to it that leading Third World agriculture scientists and agronomists were brought to the US to ‘master’ the concepts of modern agribusiness production, in order to carry it back to their homeland. In the process they created an invaluable network of influence for US agribusiness promotion in those countries, most especially promotion of the GMO ‘Gene Revolution’ in developing countries, all in the name of science and efficient, free market agriculture.

Genetically engineering a master race?

Now the Svalbard Seed Bank begins to become interesting. But it gets better. ‘The Project’ I referred to is the project of the Rockefeller Foundation and powerful financial interests since the 1920’s to use eugenics, later renamed genetics, to justify creation of a genetically-engineered Master Race. Hitler and the Nazis called it the Ayran Master Race.

The eugenics of Hitler were financed to a major extent by the same Rockefeller Foundation which today is building a doomsday seed vault to preserve samples of every seed on our planet. Now this is getting really intriguing. The same Rockefeller Foundation created the pseudo-science discipline of molecular biology in their relentless pursuit of reducing human life down to the ‘defining gene sequence’ which, they hoped, could then be modified in order to change human traits at will. Hitler’s eugenics scientists, many of whom were quietly brought to the United States after the War to continue their biological eugenics research, laid much of the groundwork of genetic engineering of various life forms, much of it supported openly until well into the Third Reich by Rockefeller Foundation generous grants.2

The same Rockefeller Foundation created the so-called Green Revolution, out of a trip to Mexico in 1946 by Nelson Rockefeller and former New Deal Secretary of Agriculture and founder of the Pioneer Hi-Bred Seed Company, Henry Wallace.

The Green Revolution purported to solve the world hunger problem to a major degree in Mexico, India and other select countries where Rockefeller worked. Rockefeller Foundation agronomist, Norman Borlaug, won a Nobel Peace Prize for his work, hardly something to boast about with the likes of Henry Kissinger sharing the same.

In reality, as it years later emerged, the Green Revolution was a brilliant Rockefeller family scheme to develop a globalized agribusiness which they then could monopolize just as they had done in the world oil industry beginning a half century before. As Henry Kissinger declared in the 1970’s, ‘If you control the oil you control the country; if you control food, you control the population.’

Agribusiness and the Rockefeller Green Revolution went hand-in-hand. They were part of a grand strategy which included Rockefeller Foundation financing of research for the development of genetic engineering of plants and animals a few years later.

John H. Davis had been Assistant Agriculture Secretary under President Dwight Eisenhower in the early 1950’s. He left Washington in 1955 and went to the Harvard Graduate School of Business, an unusual place for an agriculture expert in those days. He had a clear strategy. In 1956, Davis wrote an article in the Harvard Business Review in which he declared that “the only way to solve the so-called farm problem once and for all, and avoid cumbersome government programs, is to progress from agriculture to agribusiness.” He knew precisely what he had in mind, though few others had a clue back then--- a revolution in agriculture production that would concentrate control of the food chain in corporate multinational hands, away from the traditional family farmer.3

A crucial aspect driving the interest of the Rockefeller Foundation and US agribusiness companies was the fact that the Green Revolution was based on proliferation of new hybrid seeds in developing markets. One vital aspect of hybrid seeds was their lack of reproductive capacity. Hybrids had a built in protection against multiplication. Unlike normal open pollinated species whose seed gave yields similar to its parents, the yield of the seed borne by hybrid plants was significantly lower than that of the first generation.

That declining yield characteristic of hybrids meant farmers must normally buy seed every year in order to obtain high yields. Moreover, the lower yield of the second generation eliminated the trade in seed that was often done by seed producers without the breeder’s authorization. It prevented the redistribution of the commercial crop seed by middlemen. If the large multinational seed

companies were able to control the parental seed lines in house, no competitor or farmer would be able to produce the hybrid. The global concentration of hybrid seed patents into a handful of giant seed companies, led by DuPont’s Pioneer Hi-Bred and Monsanto’s Dekalb laid the ground for the later GMO seed revolution.4

In effect, the introduction of modern American agricultural technology, chemical fertilizers and commercial hybrid seeds all made local farmers in developing countries, particularly the larger more established ones, dependent on foreign, mostly US agribusiness and petro-chemical company inputs. It was a first step in what was to be a decades-long, carefully planned process.

Under the Green Revolution Agribusiness was making major inroads into markets which were previously of limited access to US exporters. The trend was later dubbed “market-oriented agriculture.” In reality it was agribusiness-controlled agriculture.

Through the Green Revolution, the Rockefeller Foundation and later Ford Foundation worked hand-in-hand shaping and supporting the foreign policy goals of the United States Agency for International Development (USAID) and of the CIA.

One major effect of the Green Revolution was to depopulate the countryside of peasants who were forced to flee into shantytown slums around the cities in desperate search for work. That was no accident; it was part of the plan to create cheap labor pools for forthcoming US multinational manufactures, the ‘globalization’ of recent years.

When the self-promotion around the Green Revolution died down, the results were quite different from what had been promised. Problems had arisen from indiscriminate use of the new chemical pesticides, often with serious health consequences. The mono-culture cultivation of new hybrid seed varieties decreased soil fertility and yields over time. The first results were impressive: double or even triple yields for some crops such as wheat and later corn in Mexico. That soon faded.

The Green Revolution was typically accompanied by large irrigation projects which often included World Bank loans to construct huge new dams, and flood previously settled areas and fertile farmland in the process. Also, super-wheat produced greater yields by saturating the soil with huge amounts of fertilizer per acre, the fertilizer being the product of nitrates and petroleum, commodities controlled by the Rockefeller-dominated Seven Sisters major oil companies.

Huge quantities of herbicides and pesticides were also used, creating additional markets for the oil and chemical giants. As one analyst put it, in effect, the Green Revolution was merely a chemical revolution. At no point could developing nations pay for the huge amounts of chemical fertilizers and pesticides. They would get the credit courtesy of the World Bank and special loans by Chase Bank and other large New York banks, backed by US Government guarantees.

Applied in a large number of developing countries, those loans went mostly to the large landowners. For the smaller peasants the situation worked differently. Small peasant farmers could not afford the chemical and other modern inputs and had to borrow money.

Initially various government programs tried to provide some loans to farmers so that they could purchase seeds and fertilizers. Farmers who could not participate in this kind of program had to borrow from the private sector. Because of the exorbitant interest rates for informal loans, many small farmers did not even get the benefits of the initial higher yields. After harvest, they had to sell most if not all of their produce to pay off loans and interest. They became dependent on money-lenders and traders and often lost their land. Even with soft loans from government agencies, growing subsistence crops gave way to the production of cash crops.5

Since decades the same interests including the Rockefeller Foundation which backed the initial Green Revolution, have worked to promote a second ‘Gene Revolution’ as Rockefeller Foundation President Gordon Conway termed it several years ago, the spread of industrial agriculture and commercial inputs including GMO patented seeds.

Gates, Rockefeller and a Green Revolution in Africa

With the true background of the 1950’s Rockefeller Foundation Green Revolution clear in mind, it becomes especially curious that the same Rockefeller Foundation along with the Gates Foundation which are now investing millions of dollars in preserving every seed against a possible “doomsday” scenario are also investing millions in a project called The Alliance for a Green Revolution in Africa.

AGRA, as it calls itself, is an alliance again with the same Rockefeller Foundation which created the “Gene Revolution.” A look at the AGRA Board of Directors confirms this.

It includes none other than former UN Secretary General Kofi Annan as chairman. In his acceptance speech in a World Economic Forum event in Cape Town South Africa in June 2007, Kofi Annan stated, ‘I accept this challenge with gratitude to the Rockefeller Foundation, the Bill & Melinda Gates Foundation, and all others who support our African campaign.’

In addition the AGRA board numbers a South African, Strive Masiyiwa who is a Trustee of the Rockefeller Foundation. It includes Sylvia M. Mathews of the Bill & Melinda Gates Foundation; Mamphela Ramphele, former Managing Director of the World Bank (2000 – 2006); Rajiv J. Shah of the Gates Foundation; Nadya K. Shmavonian of the Rockefeller Foundation; Roy Steiner of the Gates Foundation. In addition, an Alliance for AGRA includes Gary Toenniessen the Managing Director of the Rockefeller Foundation and Akinwumi Adesina, Associate Director, Rockefeller Foundation.

To fill out the lineup, the Programmes for AGRA includes Peter Matlon, Managing Director, Rockefeller Foundation; Joseph De Vries, Director of the Programme for Africa’s Seed Systems and Associate Director, Rockefeller foundation; Akinwumi Adesina, Associate Director, Rockefeller Foundation. Like the old failed Green Revolution in India and Mexico, the new Africa Green Revolution is clearly a high priority of the Rockefeller Foundation.

While to date they are keeping a low profile, Monsanto and the major GMO agribusiness giants are believed at the heart of using Kofi Annan’s AGRA to spread their patented GMO seeds across Africa under the deceptive label, ‘bio-technology,’ the new euphemism for genetically engineered patented seeds. To date South Africa is the only African country permitting legal planting of GMO crops. In 2003 Burkina Faso authorized GMO trials. In 2005 Kofi Annan’s Ghana drafted bio-safety legislation and key officials expressed their intentions to pursue research into GMO crops.

Africa is the next target in the US-government campaign to spread GMO worldwide. Its rich soils make it an ideal candidate. Not surprisingly many African governments suspect the worst from the GMO sponsors as a multitude of genetic engineering and biosafety projects have been initiated in Africa, with the aim of introducing GMOs into Africa’s agricultural systems. These include sponsorships offered by the US government to train African scientists in genetic engineering in the US, biosafety projects funded by the United States Agency for International Development (USAID) and the World Bank; GMO research involving African indigenous food crops.

The Rockefeller Foundation has been working for years to promote, largely without success, projects to introduce GMOs into the fields of Africa. They have backed research that supports the applicability of GMO cotton in the Makhathini Flats in South Africa.

Monsanto, who has a strong foothold in South Africa’s seed industry, both GMO and hybrid, has conceived of an ingenious smallholders’ programme known as the ‘Seeds of Hope’ Campaign, which is introducing a green revolution package to small scale poor farmers, followed, of course, by Monsanto’s patented GMO seeds. 6

Syngenta AG of Switzerland, one of the ‘Four Horsemen of the GMO Apocalypse’ is pouring millions of dollars into a new greenhouse facility in Nairobi, to develop GMO insect resistant maize. Syngenta is a part of CGIAR as well.7

Move on to Svalbard

Now is it simply philosophical sloppiness? What leads the Gates and Rockefeller foundations to at one and the same time to back proliferation of patented and soon-to-be Terminator patented seeds across Africa, a process which, as it has in every other place on earth, destroys the plant seed varieties as monoculture industrialized agribusiness is introduced? At the same time they invest tens of millions of dollars to preserve every seed variety known in a bomb-proof doomsday vault near the remote Arctic Circle ‘so that crop diversity can be conserved for the future’ to restate their official release?

It is no accident that the Rockefeller and Gates foundations are teaming up to push a GMO-style Green Revolution in Africa at the same time they are quietly financing the ‘doomsday seed vault’ on Svalbard. The GMO agribusiness giants are up to their ears in the Svalbard project.

Indeed, the entire Svalbard enterprise and the people involved call up the worst catastrophe images of the Michael Crichton bestseller, Andromeda Strain, a sci-fi thriller where a deadly disease of extraterrestrial origin causes rapid, fatal clotting of the blood threatening the entire human species. In Svalbard, the future world’s most secure seed repository will be guarded by the policemen of the GMO Green Revolution--the Rockefeller and Gates Foundations, Syngenta, DuPont and CGIAR.

The Svalbard project will be run by an organization called the Global Crop Diversity Trust (GCDT). Who are they to hold such an awesome trust over the planet’s entire seed varieties? The GCDT was founded by the United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) and Bioversity International (formerly the International Plant Genetic Research Institute), an offshoot of the CGIAR.

The Global Crop Diversity Trust is based in Rome. Its Board is chaired by Margaret Catley-Carlson a Canadian also on the advisory board of Group Suez Lyonnaise des Eaux, one of the world’s largest private water companies. Catley-Carlson was also president until 1998 of the New York-based Population Council, John D. Rockefeller’s population reduction organization, set up in 1952 to advance the Rockefeller family’s eugenics program under the cover of promoting “family planning,” birth control devices, sterilization and “population control” in developing countries.

Other GCDT board members include former Bank of America executive presently head of the Hollywood DreamWorks Animation, Lewis Coleman. Coleman is also the lead Board Director of Northrup Grumman Corporation, one of America’s largest military industry Pentagon contractors.

Jorio Dauster (Brazil) is also Board Chairman of Brasil Ecodiesel. He is a former Ambassador of Brazil to the European Union, and Chief Negotiator of Brazil’s foreign debt for the Ministry of Finance. Dauster has also served as President of the Brazilian Coffee Institute and as Coordinator of the Project for the Modernization of Brazil’s Patent System, which involves legalizing patents on seeds which are genetically modified, something until recently forbidden by Brazil’s laws.

Cary Fowler is the Trust’s Executive Director. Fowler was Professor and Director of Research in the Department for International Environment & Development Studies at the Norwegian University of Life Sciences. He was also a Senior Advisor to the Director General of Bioversity International. There he represented the Future Harvest Centres of the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR) in negotiations on the International Treaty on Plant Genetic Resources. In the 1990s, he headed the International Program on Plant Genetic Resources at the FAO. He drafted and supervised negotiations of FAO’s Global Plan of Action for Plant Genetic Resources, adopted by 150 countries in 1996. He is a past-member of the National Plant Genetic Resources Board of the US and the Board of Trustees of the International Maize and Wheat Improvement Center in Mexico, another Rockefeller Foundation and CGIAR project.

GCDT board member Dr. Mangala Rai of India is the Secretary of India’s Department of Agricultural Research and Education (DARE), and Director General of the Indian Council for Agricultural Research (ICAR). He is also a Board Member of the Rockefeller Foundation’s International Rice Research Institute (IRRI), which promoted the world’s first major GMO experiment, the much-hyped ‘Golden Rice’ which proved a failure. Rai has served as Board Member for CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center), and a Member of the Executive Council of the CGIAR.

Global Crop Diversity Trust Donors or financial angels include as well, in the words of the Humphrey Bogart Casablanca classic, ‘all the usual suspects.’ As well as the Rockefeller and Gates Foundations, the Donors include GMO giants DuPont-Pioneer Hi-Bred, Syngenta of Basle Switzerland, CGIAR and the State Department’s energetically pro-GMO agency for development aid, USAID. Indeed it seems we have the GMO and population reduction foxes guarding the hen-house of mankind, the global seed diversity store in Svalbard. 8

Why now Svalbard?

We can legitimately ask why Bill Gates and the Rockefeller Foundation along with the major genetic engineering agribusiness giants such as DuPont and Syngenta, along with CGIAR are building the Doomsday Seed Vault in the Arctic.

Who uses such a seed bank in the first place? Plant breeders and researchers are the major users of gene banks. Today’s largest plant breeders are Monsanto, DuPont, Syngenta and Dow Chemical, the global plant-patenting GMO giants. Since early in 2007 Monsanto holds world patent rights together with the United States Government for plant so-called ‘Terminator’ or Genetic Use Restriction Technology (GURT). Terminator is an ominous technology by which a patented commercial seed commits ‘suicide’ after one harvest. Control by private seed companies is total. Such control and power over the food chain has never before in the history of mankind existed.

This clever genetically engineered terminator trait forces farmers to return every year to Monsanto or other GMO seed suppliers to get new seeds for rice, soybeans, corn, wheat whatever major crops they need to feed their population. If broadly introduced around the world, it could within perhaps a decade or so make the world’s majority of food producers new feudal serfs in bondage to three or four giant seed companies such as Monsanto or DuPont or Dow Chemical.

That, of course, could also open the door to have those private companies, perhaps under orders from their host government, Washington, deny seeds to one or another developing country whose politics happened to go against Washington’s. Those who say ‘It can’t happen here’ should look more closely at current global events. The mere existence of that concentration of power in three or four private US-based agribusiness giants is grounds for legally banning all GMO crops even were their harvest gains real, which they manifestly are not.

These private companies, Monsanto, DuPont, Dow Chemical hardly have an unsullied record in terms of stewardship of human life. They developed and proliferated such innovations as dioxin, PCBs, Agent Orange. They covered up for decades clear evidence of carcinogenic and other severe human health consequences of use of the toxic chemicals. They have buried serious scientific reports that the world’s most widespread herbicide, glyphosate, the essential ingredient in Monsanto’s Roundup herbicide that is tied to purchase of most Monsanto genetically engineered seeds, is toxic when it seeps into drinking water.9 Denmark banned glyphosate in 2003 when it confirmed it has contaminated the country’s groundwater.10

The diversity stored in seed gene banks is the raw material for plant breeding and for a great deal of basic biological research. Several hundred thousand samples are distributed annually for such purposes. The UN’s FAO lists some 1400 seed banks around the world, the largest being held by the United States Government. Other large banks are held by China, Russia, Japan, India, South Korea, Germany and Canada in descending order of size. In addition, CGIAR operates a chain of seed banks in select centers around the world.

CGIAR, set up in 1972 by the Rockefeller Foundation and Ford Foundation to spread their Green Revolution agribusiness model, controls most of the private seed banks from the Philippines to Syria to Kenya. In all these present seed banks hold more than six and a half million seed varieties, almost two million of which are ‘distinct.’ Svalbard’s Doomsday Vault will have a capacity to house four and a half million different seeds.

GMO as a weapon of biowarfare?

Now we come to the heart of the danger and the potential for misuse inherent in the Svalbard project of Bill Gates and the Rockefeller foundation. Can the development of patented seeds for most of the world’s major sustenance crops such as rice, corn, wheat, and feed grains such as soybeans ultimately be used in a horrible form of biological warfare?

The explicit aim of the eugenics lobby funded by wealthy elite families such as Rockefeller, Carnegie, Harriman and others since the 1920’s, has embodied what they termed ‘negative eugenics,’ the systematic killing off of undesired bloodlines. Margaret Sanger, a rapid eugenicist, the founder of Planned Parenthood International and an intimate of the Rockefeller family, created something called The Negro Project in 1939, based in Harlem, which as she confided in a letter to a friend, was all about the fact that, as she put it, ‘we want to exterminate the Negro population.’ 11

A small California biotech company, Epicyte, in 2001 announced the development of genetically engineered corn which contained a spermicide which made the semen of men who ate it sterile. At the time Epicyte had a joint venture agreement to spread its technology with DuPont and Syngenta, two of the sponsors of the Svalbard Doomsday Seed Vault. Epicyte was since acquired by a North Carolina biotech company. Astonishing to learn was that Epicyte had developed its spermicidal GMO corn with research funds from the US Department of Agriculture, the same USDA which, despite worldwide opposition, continued to finance the development of Terminator technology, now held by Monsanto.

In the 1990’s the UN’s World Health Organization launched a campaign to vaccinate millions of women in Nicaragua, Mexico and the Philippines between the ages of 15 and 45, allegedly against Tentanus, a sickness arising from such things as stepping on a rusty nail. The vaccine was not given to men or boys, despite the fact they are presumably equally liable to step on rusty nails as women.

Because of that curious anomaly, Comite Pro Vida de Mexico, a Roman Catholic lay organization became suspicious and had vaccine samples tested. The tests revealed that the Tetanus vaccine being spread by the WHO only to women of child-bearing age contained human Chorionic Gonadotrophin or hCG, a natural hormone which when combined with a tetanus toxoid carrier stimulated antibodies rendering a woman incapable of maintaining a pregnancy. None of the women vaccinated were told.

It later came out that the Rockefeller Foundation along with the Rockefeller’s Population Council, the World Bank (home to CGIAR), and the United States’ National Institutes of Health had been involved in a 20-year-long project begun in 1972 to develop the concealed abortion vaccine with a tetanus carrier for WHO. In addition, the Government of Norway, the host to the Svalbard Doomsday Seed Vault, donated $41 million to develop the special abortive Tetanus vaccine. 12

Is it a coincidence that these same organizations, from Norway to the Rockefeller Foundation to the World Bank are also involved in the Svalbard seed bank project? According to Prof. Francis Boyle who drafted the Biological Weapons Anti-Terrorism Act of 1989 enacted by the US Congress, the Pentagon is ‘now gearing up to fight and win biological warfare’ as part of two Bush national strategy directives adopted, he notes, ‘without public knowledge and review’ in 2002. Boyle adds that in 2001-2004 alone the US Federal Government spent $14.5 billion for civilian bio-warfare-related work, a staggering sum.

Rutgers University biologist Richard Ebright estimates that over 300 scientific institutions and some 12,000 individuals in the USA today have access to pathogens suitable for biowarfare. Alone there are 497 US Government NIH grants for research into infectious diseases with biowarfare potential. Of course this is being justified under the rubric of defending against possible terror attack as so much is today.

Many of the US Government dollars spent on biowarfare research involve genetic engineering. MIT biology professor Jonathan King says that the ‘growing bio-terror programs represent a significant emerging danger to our own population.’ King adds, ‘while such programs are always called defensive, with biological weapons, defensive and offensive programs overlap almost completely.’ 13

Time will tell whether, God Forbid, the Svalbard Doomsday Seed Bank of Bill Gates and the Rockefeller Foundation is part of another Final Solution, this involving the extinction of the Late, Great Planet Earth.


Selasa, 02 Desember 2008

Perjalanan Uang

Setelah melewati zaman barter, perjalanan uang menemani kita sebagai manusia dalam menciptakan peradaban di dunia.

Ada berbagai alat yang pernah digunakan sebagai uang, misalnya garam, kerang, ranting pohon, sampai ke logam, dan tentu saja kertas, dan yang terakhir angka digital di komputer.

Satu hal yang diketahui oleh sekelompok kecil manusia yang sangat kaya, yaitu mereka bisa memiliki semua uang di dunia dengan mengambil alih hak penciptaan uang, dan mengenakan bunga atas uang yang mereka ciptakan.

Puluhan abad ini, berbagai kerajaan telah ditaklukkan dari dalam maupun luar, dan berbagai negara telah dihancurkan demi memperebutkan hak atas penciptaan uang di negara tersebut, sejak zaman Babylonia sampai sekarang.

"Izinkan saya mengambil lebih banyak daripada yang saya berikan, dan saya tidak peduli siapa yang membuat hukumnya." Inilah satu-satunya peraturan seorang bankir sejati.

Masyarakat hanya bisa mendapatkan uang ketika bank menciptakan kredit, dan atas setiap kredit yang bank ciptakan, bank juga menagih bunga atas pinjaman tersebut.

Untuk mempertahankan jumlah uang agar tetap eksis di masyarakat, selalu harus ada orang yang mengajukan pinjaman baru agar saat bunga dan atau pokok pinjaman lama dibayarkan oleh debitur sebelumnya, jumlah uang di masyarakat tersebut tidak berkurang.

Mengapa kita khawatir jumlah uang berkurang? Sebab uang di masyarakat adalah ibarat darah dalam tubuh manusia. Perdagangan dan peradaban modern tidak mungkin dilanjutkan tanpa uang dalam masyarakat. Suplai uang yang berkurang menyebabkan pengangguran, kemiskinan, dan macetnya aktifitas perdagangan.

Dan itulah pentingnya inflasi (pertambahan jumlah uang dan kredit). Dalam sistem penciptaan uang yang kita pakai sekarang, satu-satunya target moneter adalah kita harus terus menciptakan kredit, minimal kredit yang diajukan oleh masyarakat cukup untuk menggantikan pembayaran bunga dan atau pokok pinjaman lama. Dan kalau bisa menciptakan kredit lebih banyak dari pembayaran bunga / pokok, lebih baik lagi, karena pertambahan kredit yang bila diikuti dengan pertambahan produksi berarti aktifitas produksi masyarakat bertambah, yang diikuti dengan kesejahteraan (semu) yang ikut bertambah, dan tentu saja juga berarti bank bisa menciptakan lebih banyak lagi aset untuk diri mereka, dan demikian lebih banyak lagi penerimaan dalam bentuk bunga di kemudian hari. Inflate or die, my dear..

* Mengapa disebut kesejahteraan semu? Karena uang yang dimiliki masyarakat pada akhirnya tetap bukan milik mereka, semuanya adalah milik bank. Ingat, banklah yang memberikan kredit kepada masyarakat, uang bukan jatuh dari pohon. Anda mungkin tidak berhutang, tetapi sumber dari uang Anda adalah seseorang, sebuah perusahaan, ataupun sebuah negara yang sebelumnya berhutang! Kalau seseorang, perusahaan, atau negara melunasi semua hutang-hutang mereka, tidak ada satu sen pun lagi uang beredar di masyarakat...

Dahulu kala, ketika bankir (waktu itu tukang emas/logam) berhasil menjadikan produksi mereka (emas/perak) sebagai uang, masyarakat menggunakan emas/perak sebagai alat tukar.. Beberapa generasi kemudian, saat jumlah logam ini tidak cukup untuk melayani kebutuhan manusia, digunakan lagi perunggu, tembaga, ataupun nikel.. Dan akhrinya karena permintaan atas uang terus meningkat, kita pun beralih ke kertas, dan sekarang uang elektronik. Tetapi satu hal yang tidak berubah, apapun yang kita gunakan sebagai bahan uang, bankir selalu meminta lebih daripada yang mereka berikan.

Disederhanakan, perjalanan uang adalah sebagai berikut:
1. Zaman barter
2. Zaman logam (emas, perak dll)
3. Kertas yang bisa ditukar dengan logam (Gold standard, misalnya saja setiap $1 kertas bisa ditukar dengan 1 oz emas)
4. Fractional Gold Standard (misalnya untuk setiap 10 lembar uang, hanya satu lembar yang perlu ada jaminan emas, jadi 1 oz emas menciptakan $10, 10 kali lipat sebelumnya)
5. Full Fiat Fractional Money System (uang kertas)
6. Full Fiat Digital Money (on the way)

Apa yang akan digunakan sebagai uang tidak masalah, selama bunga dikenakan saat penciptaan uang, suatu ketika bankir akan memiliki semua uang di masyarakat itu.

Emas pernah adalah uang, tetapi itu adalah masa lalu, kalau tidak percaya ambil koin emasmu dan cobalah membeli barang di pasar. Rupiah adalah legal tender di negara ini, dan kalau Anda mencoba memaksakan emas kepada pedagang di samping Anda sebagai uang, saya khawatir Anda akan menghabiskan sejumlah waktu di tahanan.

Apakah emas akan menjadi uang lagi di masa mendatang? Entahlah, tanyalah pada bankir, merekalah yang membuat aturan.

Pada akhirnya 99.999% manusia hanyalah penyewa uang.....

Anda ingin tahu lebih banyak skema penciptaan uang perbankan modern? Ada booklet di internet yang bisa didownload secara gratis, "Modern Money Mechanics" Ditulis oleh Bank Federal Reserve sendiri. Hard copy sudah out of print... Mungkin karena telah membocorkan terlalu banyak informasi yang tidak menguntungkan perbankan. Cobalah search di google.

Senin, 01 Desember 2008

Ekspansi 2009

Siapa yang akan mengekspansi bisnis / skala perusahaannya tahun 2009?

Entahlah, mungkin ada beberapa industri akan bertambah maju di saat krisis, tapi satu institusi yang saya yakin akan memaksakan ekspansi adalah "PT. Republik Indonesia."

Karena uang tersedot untuk membayar pinjaman & riba perbankan, setiap tahun kemiskinan bertambah, masalah sosial juga bertambah, dan sebagai hasilnya persoalan yang dilempar kepada pemerintah juga ikut bertambah.

Untuk "menyelesaikan" masalah, pemerintah kemudian ekspansi dan menambah jumlah pegawai negeri, yang menurut mereka masih juga kurang untuk "menyelesaikan" masalah. Atau jangan-jangan itu bagian dari solusi pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran?

Namun sayang, pemerintah tidak punya uang. Solusi mereka dengan menambah jumlah pegawai negeri akan dibiayai dengan cara:
- Menarik lebih banyak lagi pajak dari rakyatnya
- Mencetak surat hutang (yang akan dibayar juga oleh rakyatnya lewat pajak) dan....
- Meminjam ke negara lain / hutang.

Minggu kemarin saya baca di koran, menteri ekonomi kita, Ibu Sri Mulyani pergi ke Jepang untuk mencari hutangan baru untuk anggaran 2009, menurut koran bersangkutan perjalanan itu penting karena tanpa hutangan baru, uang di kas pemerintah bahkan tidak cukup untuk membayar gaji pegawai negeri mereka.

Heran juga... Kalau begitu mengapa masih menambah jumlah pegawai negeri?? Bukannya lebih logis kalau memangkas jumlah pegawai negeri??

Sebagai seorang pegawai swasta, saya sedikit sedih ketika tiap bulan gaji saya dipotong secara otomatis oleh perusahaan saya untuk membayar pajak penghasilan, dan setiap bulan saya menghibur diri dengan mengatakan kepada diriku mungkin uang yang saya bayarkan benar-benar dipakai untuk membangun sekolah, jalan raya, dan infrastruktur lainnya untuk kemajuan bangsa.

Otak saya pening dan selera makan saya hilang mencoba memahaminya, solusi yang tengah dicoba pemerintah adalah berhutang lebih banyak agar dapat "menyelesaikan" masalah? Yang cara pembayarannya adalah memaksakan rakyatnya yang masih bekerja / belum bangkrut untuk membayar lebih banyak pajak?" Saya sedikit penasaran, akankah tiba suatu hari di mana tidak ada lagi pegawai swasta? Hari di mana pemerintah menjadi "big bos" , di mana setiap warga negara hanya memiliki satu pekerjaan, sebagai pegawai negeri?

Kawan.. Angka-angka elektronik di pasar finansial bisa melompat drastis dalam waktu dekat, tetapi produksi kita tidak. Kalau hutang akan dibayar oleh kita lewat produksi riil, seperti hasil pertanian, pertambangan, perkebunan, atau kerajinan tangan, kita tidak bisa serta-merta menaikkan produksi secepat perubahan kurs & harga komoditi.

Ingat-ingat saja, hanya beberapa bulan yang lalu kurs Yen terhadap rupiah adalah 70, sekarang sudah 130 (+85%). Hanya beberapa bulan yang lalu harga tembaga adalah $8000/ton, sekarang tinggal $3700/ton.

Tanyalah pada petani sanggupkah mereka meningkatkan panen beras 85% dalam 3 bulan, tanyalah pada penambang batubara, emas, tembaga, dll apakah mereka bisa sesuka hati meningkatkan hasil tambang puluhan persen dalam sekejap! Sorry... Tidak ada yang bisa!

Negara miskin terus berhutang, tetapi barang yang mereka produksi untuk membayar hutang tunduk pada mekanisme yang di luar kendali mereka (nilai mata uang dan harga komoditi).

Benar-benar mengkhawatirkan... Ke mana negara kita ini akan menuju?