Selasa, 10 Februari 2009

Mitos Income Opportunity di MLM

Silahkan download buku "Merchant of Deception" di sini. (Kisah nyata dari seorang "distributor" Amway yang menceritakan berbagai sisi bisnis MLM yang tidak diketahui publik).

Banyak orang yang pro MLM di Indonesia, banyak juga orang yang sebaliknya. Buku-buku best-seller biasanya adalah yang pro, sebab bisa memberikan harapan kepada publik. Sebaliknya, buku-buku dengan pemaparan sebaliknya biasanya akan hilang tak berbekas dengan berlalunya waktu.

Saya tidak bermaksud menulis hal-hal yang jelek untuk merusak suasana hati Anda. Hehe.. Yang saya inginkan hanyalah memaparkan sisi lain dari berbagai hal di sekeliling kita yang menurut saya perlu untuk diketahui orang.

Hari ini, saya akan memposting sebuah artikel yang ditulis oleh Robert FitzPatrick dari Pyramid Scheme Alert (2004).

Judul : Mitos Income Opportunity di Multi Level Marketing
Pyramid Scheme Alert
http://www.pyramidschemealert.org/psamain/resources/MythofMLMIncome.pdf

Bab I dari buku "Kaya Bersama Lewat MLM, Fakta atau Ilusi?"

Ini artikel yang cukup panjang. Bagi Anda yang tidak suka membaca di layar komputer, silahkan diprint dan baca di rumah...

Laporan Spesial Konsumen
MITOS “INCOME OPPORTUNITY” DI MULTI LEVEL MARKETING

Introduksi dan Pandangan Umum

Klaim MLM dalam memberikan kesempatan “pendapatan paruh waktu” ataupun “pendapatan tambahan” adalah daya tarik utama dari mereka. Ini juga alasan terkuat mereka untuk melawan berbagai gugatan penipuan piramida, pengendalian pikiran, dan promosi yang tidak jujur.

Pertanyaannya adalah apakah MLM membawa persoalan sosial dan finansial atau membawa manfaat bagi para konsumen. Legitimasi dari jenis usaha ini akhirnya mengaburkan kebenaran ataupun ketidakbenaran dari klaim adanya pendapatan mereka. Ini adalah sebuah pertanyaan yang akan mempengaruhi setidaknya lima juta penduduk Amerika Utara yang direkrut setiap tahunnya dan tak terhitung penduduk lainnya di negara yang lain.

Laporan ini membeberkan kenyataan bahwa 99% representatif sales dari perusahaan yang dianalisa hanya mendapatkan rebate income (pendapatan berupa diskon dan atau komisi) $14 per minggu. Angka ini belum termasuk biaya bisnis, pembelian inventori, dan pajak. Angka ini merepresentasikan fakta bahwa secara virtual hampir semua partisipan program MLM kehilangan uang. Sebagai tambahan, laporan ini juga membuktikan secara rata-rata tidak ada net income yang didapat oleh distributor MLM yang mencoba melakukan penjualan retail door-to-door.

Perusahaan MLM biasanya mencoba menutupi laporan tingkat kegagalan partisipan mereka yang sangat tinggi dengan hanya melaporkan jumlah partisipan “aktif” dan membatasi laporan pendapatan para distributor dalam jangka waktu satu tahun ataupun kurang, dan juga tidak melaporkan kerugian masif dari investor-investor baru mereka. Kebanyakan MLM tidak melaporkan data penerimaan rata-rata distributor mereka.

Bila semua partisipan selama periode 5 tahun ikut dikalkulasikan, tingkat kegagalan akan meningkat jauh lebih tinggi. Kurang dari 1 di antara 1000 peserta akan menunjukkan adanya keuntungan yang mereka dapatkan. Mereka yang disebut para distributor “sukses” sebenarnya berakumulasi dalam jumlah yang relatif sedikit di level atas dari jenjang organisasi mereka.

Model bisnis dari kebanyakan perusahaan MLM menyebabkan kerugian masif dari jutaan konsumen, bukannya disebabkan oleh faktor kompetisi yang normal atau tingkat usaha ataupun bakat dari partisipannya.

Kerugian kolektif yang terjadi adalah dalam bentuk transfer kekayaan dari jutaan orang di Amerika setiap tahun kepada segelintir pemilik dan perekrut. Seperti faktor lainnya yang memberikan kontribusi dalam pemiskinan, transfer kekayaan ini menyebabkan rusaknya kredibilitas kredit, pernikahan yang terganggu, persahabatan yang berakhir, dan keresahan masyarakat.

Dari dua kategori kesempatan pendapatan MLM, rebate income dan retail sales income, yang paling sering dipublikasikan adalah pendapatan rebate, komisi, dan bonus yang didapat dari pembelian downline. Ini adalah jenis pendapatan yang mana perusahaan mengklaim akan bisa memberikan “potensial tak terbatas” yang didasari oleh pendapatan akibat rantai “tak terbatas” para peserta yang terrekrut.

Laporan ini menganalisa data dari lima perusahaan MLM. Tiga di antaranya adalah perusahaan besar dan sangat terkenal. Satunya adalah perusahaan baru dan sedang berkembang. Laporan disajikan dalam bentuk pembayaran per 10.000 peserta program. Data menunjukkan bahwa tidak cuma secara virtual tidak ada peserta yang mendapatkan keuntungan rebate tetapi juga terjadi transfer kekayaan dari peserta yang mengalami kerugian ke kantong dari sejumlah kecil anggota organisasi di level atas dari rantai distribusi.

Sebuah laporan spesial disediakan mengenai data rebate dari perusahaan MLM paling lama dan paling besar, Amway/Quixtar. Laporan tersebut disajikan dalam basis pendapatan rata-rata per 300.000 peserta. Data menunjukkan pola yang sama di mana 99+% partisipan mengalami kerugian dan terjadi akumulasi kekayaan di level atas dari organisasi.

Angka-angka dari laporan Amway/Quixtar harus dipelajari secara terpisah karena adanya sebuah bisnis tambahan yang dijalankan para distributor level atas yang menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang mereka terima dari sistem Amway/Quixtar. Pengoperasian dari bisnis tambahan mereka (“tools business” yang meliputi penjualan buku, kaset, dan registrasi seminar kepada peserta baru) mempengaruhi program pembayaran dan taktik perekrutan mereka.

Dioperasikan tanpa disadari oleh partisipan baru, sumber pendapatan “rahasia” ini telah diperkarakan dan diumumkan di internet selama bertahun-tahun. Bulan Mei 2004, program berita nasional NBC Dateline membawa sebuah kamera yang disembunyikan ke salah satu acara pertemuan perekrutan mereka dan berhasil mengekspos kejahatan mereka. Para “kingpins” Amway/Quixtar mendapatkan mayoritas dari pendapatan mereka lewat bisnis perekrutan, bukan dengan menjual produk Amway.

Menyamar atas nama Direct Selling (Penjualan Langsung)

Elemen kedua dari “income opportunity” MLM adalah janji-janji akan adanya keuntungan kepada distributor lewat penjualan langsung ke pasar retail (konsumen). Kesempatan penjualan retail ini adalah basis dari argumen mereka bahwa MLM adalah direct selling. Selain itu, kemungkinan penjualan retail juga dijadikan sebagai argumen utama melawan gugutan praktek skema piramida yang sering ditujukan kepada mereka, karena para upline mendapatkan uang lewat pembelian produk oleh partisipan baru, bukan lewat biaya (fee) masuk / membership.

Laporan ini mengekspos mitos dari klaim MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct selling dari laporan penjualan retail mereka. Karena faktor-faktor yang akan ditulis dalam laporan ini, para distributor MLM jarang menghasilkan penjualan retail. Sebuah statistik dari 21 perusahaan MLM yang merepresentasikan 5 juta partisipan dengan “proyeksi” penjualan retail sebesar $10 milyar dolar membuktikan bahwa bahkan kalau penjualan retail benar-benar terjadi, rata-rata sales MLM tidak mendapatkan net profit sama sekali dari penjualan retail.

Kebanyakan perusahaan MLM memiliki berbagai cara untuk mengaburkan fakta bahwa mereka bukan perusahaan direct selling:
 Mayoritas MLM mengkalkulasikan total pembelian dari distributor mereka dan kemudian memproyeksikan “keuntungan retail“ tanpa mengverifikasikan apakah produk benar-benar dijual di pasar retail atau bukan, dijual pada harga berapa ataupun dijual ke siapa. Walaupun penjualan ke konsumen diklaim ada dan dipublikasikan, secara internal pembayaran ke para distributor didasarkan sepenuhnya kepada pembelian harga “grosir” mereka. Tidak masalah apakah penjualan retail benar-benar terjadi atau tidak, perhitungan pendapatan upline dihitung hanya dari pembelian para downline mereka.

 Sejumlah perusahaan mengklaim mereka “mengharuskan” aktifitas retail dari para distributor mereka, namun tidak ada metode yang sistematis untuk mengaudit aktifitas mereka. Kenyataan bahwa suatu perusahaan perlu membuat aturan “harus menjual ke retail” pada dasarnya sudah menunjukkan pertanda kuat sebuah permasalahan model bisnis MLM dan kecenderungan mereka untuk beroperasi sebagai skema perekrutan piramida.

 Sejumlah perusahaan MLM kenyataanya melaporkan total volume penjualan berdasarkan proyeksi penjualan retail yang tidak ditemukan, bahkan menggunakan angka-angka itu untuk dilaporkan kepada Securities and Exchange Comission dan kepada para pemegang sahamnya.

Temuan yang ditulis dalam laporan ini mengungkit sebuah pertanyaan tentang bagaimana sebuah bisnis, yang mana hampir tidak ada anggota sales mereka yang mencatatkan keuntungan dan nyaris tidak ada konsumen retail, bisa dikategorikan sebagai direct selling? Dan sebenarnya bagaimana perusahaan seperti itu bisa disebut sebagai sebuah “bisnis”?


BAGIAN 1 : BAGAIMANA MITOS PENDAPATAN MLM DIPERTAHANKAN

Membingungkan konsumen

Sebelum laporan ini, konsumen memiliki sedikit bahkan tidak ada data yang berguna tentang klaim pendapatan MLM. Sebaliknya, mereka dihadapkan kepada berbagai “testimonial” dan “kisah kesuksesan.”

Multi Level Marketing menggunakan berbagai bahasa yang membingungkan tentang trademark “rencana kompensasi” mereka dan penjelasan tentang model bisnis mereka yang memperbolehkan authorisasi tak terbatas dari para distributor mereka dan juga program pembayaran yang didapat dari pembelian orang-orang yang direkrut dalam rantai tak terbatas.

 Mereka menggunakan istilah consumer direct marketing, one-to-one marketing, personal franchising, network marketing, dan kata-kata menarik lainnya yang semuanya sebenarnya meyesatkan.

 Sejumlah MLM menggambarkan pembayaran mereka sebagai program yang unik dan lebih menguntungkan dibandingkan saingan mereka. Mereka menggunakan kosakata semacam stair-step breakaway, legs, binary, trinary, PV, dan BV, namun pada dasarnya semua sistem itu secara esensial identik dan menghasilkan hasil akhir finansial yang seragam pada mayoritas partisipannya.

 Berbagai lingkaran dan diagram digambarkan dalam pertemuan perekrutan mereka dan presentasi hirairki organisasi yang kompleks, kadang-kadang bisa mencapai 12 level dengan nama-nama menarik seperti Regent, Platinum, Diamond, dan Blue Diamond.

 Ada bonus kepemimpinan, bonus breakaway, bonus produksi, komisi antar level, dan berbagai macam nama “pendapatan.”

 Sering kali ada “harga retail yang dianjurkan” terhadap produk mereka yang sebenarnya sangat jarang dijual ke retail.

 Rebates, yang sebenarnya adalah diskon atas pembelian para distributor, dianggap sebagai “income”.

 “Distributor markup”, yang digunakan secara bergantian dengan kata “gross profit”, seolah-olah mereka adalah hal yang sama.

 Kualifikasi untuk bisa mendapatkan pembayaran ataupun rebates tergantung pada faktor-faktor kompleks seperti volume pembelian “personal group”, tingkat jenjang dari seorang distributor, ataupun ukuran dan konfigurasi dari pembelian para downline.

Metode lain untuk membingungkan konsumen termasuk:
1. Informasi tentang pendapatan yang diberikan oleh perusahaan MLM ataupun industri MLM sering kali dicampuradukkan dengan statistik perusahaan direct selling tradisional seperti Avon dan Tupperware.

2. Hampir semua data yang dipresentasikan MLM mengabaikan biaya rata-rata atapun pengeluaran normal bisnis seperti transportasi, telepon, perjalanan, pelatihan, ataupun ongkos pengiriman yang terjadi akibat mengoperasikan bisnis MLM. Dengan cara ini, “gross income” dicampuradukkan dengan “net profit.”

3. Pembelian inventori juga dikeluarkan sebagai biaya bisnis dan dianggap sebagai “konsumsi pribadi.”

4. Sejumlah perusahaan MLM melaporkan pendapatan rata-rata distributor dengan cara merata-ratakan mereka dengan pendapatan yang amat sangat besar dengan ribuan orang yang tidak mendapatkan apapun, menyebabkan kesan seolah “rata-rata” partisipan mendapatkan “profit” padahal mayoritas tidak.

5. Sejumlah data hanya memperhitungkan distributor “aktif” dan mengabaikan distributor yang tidak menghasilkan apapun dan keluar (mayoritas), karena angka pembagi jumlah distributor terhadap pembayaran pendapatan mengecil maka angka “pendapatan rata-rata” meningkat.

6. Biasanya distributor yang dihitung adalah distributor “aktif” selama 1 tahun terakhir. Strategi ini menyebabkan para partisipan level bawah yang mengalami kerugian dan kemudian keluar jumlahnya tidak bertambah dari tahun ke tahun. Seandainya angka distributor yang keluar dari tahun ke tahun diakumulasi, perbandingan para pemenang dan pecundang akan mencapai angka yang mengerikan.

7. Tidak dilaporkan angka yang sebenarnya tentang berapa partisipan baru setiap tahun dan berapa partisipan yang keluar pada tahun yang sama, sebuah bukti tentang karaktek asli dari permainan itu dan bukti nyata bisnis mereka tidak memiliki basis konsumen yang nyata.

8. Dalam kebanyakan MLM, persentase pembayaran rebate kepada distributor di berbagai jenjang tidak dipaparkan, karena bila dilakukan, akan terlihat kesenjangan yang tinggi antara pendapatan level bawah dengan level atas.

Singkatnya, perusahaan MLM tidak memberikan data finansial mendasar yang diperlukan konsumen untuk bisa membuat keputusan investasi yang cerdas. Karenanya kebanyakan masyarakat mengikuti suatu program atas rekomendasi orang lain yang juga ikut berdasarkan rekomendasi orang lainnya tanpa mengetahui kebenaran dari klaim “income opportunity.”

Klaim “Legalitas”

Elemen lain untuk mempertahankan mitos legitimasi MLM dan kesempatan pendapatan adalah berdasarkan klaim, bahwa tidak masalah bagaimanapun cara mereka beroperasi, mereka tetap “legal”. Sebagai sebuah perusahaan legal, “sukses” dalam bisnis ini dikatakan mereka sebagai hasil dari “kerja keras” dan “mengikuti sistem” yang direkomendasikan oleh organisasi, sama seperti model bisnis legal lainnya. Tingkat persentase kegagalan dan kerugian yang dialami oleh para anggotanya, tanpa perlu memperhatikan skalanya, dianggap sebagai resiko bisnis yang normal dan merupakan kesalahan pribadi individu tersebut. Klaim dari legalitas teknis digunakan untuk mengafirmasikan legitimasi finansial, untuk menutupi kejahatan struktural yang mengharuskan mayoritas untuk kalah, dan menjustifikasi penipuan sistematis.

Sampai sekitar 25 tahun sebelumnya di Amerika Serikat, skema penjualan rantai tak terputus secara rutin dipandang sebagai skema piramida ilegal dan merupakan “praktek tidak adil dan penipuan perdagangan”. Semua perusahaan penjualan yang menggunakan rantai tak terputus dalam memasarkan produk mereka akan dianggap sebagai penipuan karena mayoritas peserta mengalami kerugian dan adanya keperluan untuk melakukan penipuan dalam aktifitasnya. Walaupun begitu, laporan ini tidak secara langsung mengalamatkan pertanyaan tentang apakah MLM dengan rantai tak terputus adalah perusahaan legal atau tidak. Sejak 2000, Federal Trade Comission senantiasa menghindari melakukan prosekusi terhadap industri MLM, menyebabkan konsumen mempertanyakan legalitas MLM yang sebenarnya. Konsumen harus mencari tahu sendiri apakah mereka telah ditipu atau tidak.

Tidak masalah apakah perekrutan rantai tak terputus dinyatakan legal atau tidak, tidak masalah FTC melakukan prosekusi atau tidak terhadap industri MLM, tidak akan mengubah kenyataan akan adanya kerugian masif bagi pesertanya. Rantai tak terputus, tanpa para partisipannya mendapatkan keuntungan utama dari penjualan retail, akan selalu menyebabkan kerugian bagi mayoritas pesertanya.

Dalam kasus yang jarang di mana FTC menindak perusahaan MLM, faktor yang menjadi perhatian utama mereka adalah apakah penjualan yang dilakukan perusahaan tersebut mayoritas dilakukan kepada konsumen atau bukan. Hal ini adalah faktor yang membedakan apakah sebuah MLM adalah direct selling atau samaran dari skema perekrutan piramida.

Menyembunyikan Matematika Piramida

Berikut adalah sebuah ilustrasi matematika sederhana dari program distribusi 6 level yang mana setiap orang merekrut 5 orang. Seorang partisipan akan mulai mendapatkan keuntungan setelah memiliki 3 level downline (5+25+125=155 orang). Ilustrasi:

Top Level: 1
Level #2: 5
Level #3: 25
Level #4: 125
Level #5: 625
Level #6: 3.125
Total 3.906 partisipan

Karena hanya partisipan yang memiliki 3 level downline saja yang bisa untung, maka hanya partisipan level 1,2, dan 3 yang akan mendapatkan keuntungan. Jumlah mereka (31/3906) kurang dari 1%. Persentase partisipan yang kehilangan uang lebih dari 99%.

Formula dasar ini berlaku tidak masalah ada berapa level yang ditambahkan. Sekitar 99% dari partisipan tidak dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan. Sebagai contoh, bila bagan di atas ditambah 1 level (level #7), ada ada tambahan 15.625 partisipan. Peserta total akan menjadi 19.531. Jumlah partisipan yang bisa mendapatkan keuntungan adalah 1+5+25+125=156 peserta, tetap kurang dari 1% dibandingkan 19.531.

Angka-angka yang besar, yang oleh promoter MLM disebut sebagai “potensial pendapatan luar biasa”, didasarkan pada overrides dari level partisipan downline terdalam. Hanya beberapa orang saja yang akan mencapai keadaan itu. Secara matematis sudah ditakdirkan sejak awal oleh perancang sistem pembayaran MLM bahwa mayoritas akan mengalami kerugian, bukan karena faktor “kerja keras” dan “mengikuti sistem.”

Trik dalam skema ini adalah menutupi kenyataan dan meyakinkan setiap peserta bahwa mereka akan berhasil dalam membangun grup downline yang besar. Partisipan dididik untuk percaya bahwa ini adalah formula kekayaan di mana “semua orang pasti bisa.”

Menyembunyikan Data

Penipuan masal diperlukan untuk menarik sejumlah besar konsumen agar bersedia mengikuti program-program di mana mayoritas dari mereka sejak awal sudah ditakdirkan untuk gagal. Seandainya kebenaran diketahui dan dipahami sejak awal, sangat sedikit orang yang akan mencoba.

Industri lain seperti casino dan lotere dikenal sebagai arena di mana mayoritas pemain mengalami kerugian dan sedikit orang memenangkan uang. Perusahaan mereka secara ketat diawasi dan pemaparan yang jujur tentang peluang menang-kalah diharuskan. Pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemain dianggap mereka sebagai hiburan / membeli entertainment. Tidak ada konsumen yang akan menganggap serius permainan judi sebagai “income opportunity” apalagi sebuah pilihan karier.

Survei dari Pyramid Scheme Alert menunjukkan bahwa peluang keberhasilan di arena MLM lebih kecil dibandingkan dengan peluang memenangkan uang di beberapa jenis perjudian. Saat semua partisipan selama beberapa tahun dijumlahkan bersama, yang semuanya sebenarnya ingin menang, didapati bahwa tingkat kegagalan mencapai angka 99,9%. Untuk mencapai posisi pendapatan besar, yang sering disebut oleh para promoter, tingkat keberhasilannya adalah terlalu kecil untuk digambarkan dalam sebuah grafik.

Lebih dari itu, dalam semua permainan judi dan lotere, peluang menang-kalah adalah bersifat random, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Di MLM, peluang menang-kalah sangat ditentukan juga oleh posisi dan timing. Hanya mereka yang mengikuti program sejak awal, pemilik program, dan sejumlah kecil partisipan yang akan mendapatkan keuntungan. Mereka berada di posisi di mana kesuksesan dan uang sudah dipastikan ada setiap kali partisipan baru masuk. Para pecundang, mereka yang masuk paling akhir, tidak memiliki peluang sama sekali untuk menggantikan posisi mereka yang berada di atas.

Bahkan, sekalipun menggunakan metode akuntansi versi MLM , data-data yang tersedia menunjukkan 99% partisipan “aktif’ yang sedang menginvestasikan uang dan waktu mereka tidak mendapatkan profit. Beberapa rugi ratusan dolar, beberapa lagi rugi ribuan dolar.

Kerugian masif yang dialami konsumen diakibatkan oleh penahanan data keuangan dan informasi oleh industri MLM terhadap para konsumen yang bergabung menjadi distributor MLM. Pada saat yang bersamaan, kampanye skala besar untuk menggambarkan MLM sebagai “income opportunity” dan sumber pendapatan digalakkan untuk menarik perhatian masyarakat.

Karakter Alami Bisnis MLM

MLM bukanlah bisnis direct selling seperti yang mereka katakan. Avon dan Tupperware adalah direct selling, tetapi MLM tidak.

Multi Level Marketing adalah sebuah model bisnis yang unik. Mereka berbeda secara signifikan dengan model penjualan langsung tradisional karena memperbolehkan setiap partisipannya merekrut orang lain dan mendapatan overrides / komisi dalam sebuah rantai tak terputus. “Rantai tak terputus” adalah titik yang paling kontroversial. Ini adalah karakteristik yang paling mengundang penipuan finansial. Pendapatan overrides adalah pendapatan utama dari bisnis MLM, sedangkan pendapatan penjualan retail adalah pendapatan utama dari bisnis penjualan langsung (direct selling).

Rantai management MLM tidaklah sama dengan struktur management perusahaan penjualan tradisional. Perusahaan penjualan langsung tradisional skala nasional sekalipun dapat diorganisir dalam 4 level managerial yang memantau para sales yang menjual langsung ke konsumen (end user). Di MLM, rantai semacam ini adalah tak terbatas.

Kamuflase Akan “Penjualan Produk”

Walaupun secara virtual tidak ada distributor yang mendapatkan keuntungan atau memiliki pelanggan, sebuah skema piramida tetap dapat kelihatan seperti sebuah “perusahaan penjualan” biasa. Hal ini karena setiap kali seorang rekrutan baru membeli produk, komisi dihitung sebagai pembelian produk oleh rekrutan sebelumnya. Secara virtual, tidak pernah ada end user, yang ada adalah rangkaian tak terputus dari “distributor.” Beberapa distributor yang memperoleh profit mendapatkannya dari rangkaian baru distributor baru yang direkrut. Bila rangkaian ini berakhir, pendapatannya juga berakhir.

Walaupun skema berbasis rekrut ini dapat dikamuflasekan untuk tampak seperti “penjualan”, elemen klasik dari skema piramida tetap dapat ditemukan:
1. Adanya multi level investor yang membawa masuk lebih banyak rekrutan
2. Pembayaran diperlukan untuk mendapatkan uang dan mempertahankan posisi dalam rantai distribusi.
3. Rekrutan diharuskan untuk melanjutkan rantai agar bisa mendapatkan bayaran.
4. Investor lama mendapatkan bayaran dari investasi rekrutan baru.
5. Sebuah struktur di mana mayoritas partisipan secara permanen berada di level bawah di mana income adalah tidak memungkinkan.
6. Setiap level distribusi terbaru pasti terdiri dari jauh lebih banyak partisipan dibanding level sebelumnya, misalnya 5 kali lipat lebih banyak.

Skema seperti ini tidak boleh berhenti merekrut. Dia juga tidak pernah stabil karena tidak memiliki basis pelanggan yang kuat. Semakin lama skema ini beroperasi, semakin kecil kemungkinan untuk melakukan perekrutan baru, dengan demikian mengurangi kemungkinan untuk bisa mendapatkan income. Profit dalam sistem seperti ini bukanlah profit yang sebenarnya, dia cuma merupakan transfer uang dari partisipan level bawah ke level atas saja.

Proses pencucian uang melalui pembelian barang bisa mengkamuflasekan keseluruhan operasi MLM sebagai perusahaan penjualan berbasis produk, bukan fee. Penjualan produk dalam skema perekrutan diperkenalkan lewat janji palsu akan adanya pendapatan lewat pembelian bulanan. Tidak memerlukan biaya untuk memasuki MLM, tetapi pembelian bulanan diharuskan untuk mengkualifikasikan seseorang untuk mendapatakan kesempatan “pendapatan tak terbatas.”

BAGIAN 2 : MENGEKSPOS MITOS PENDAPATAN REBATE MLM

Sumber Data

Pyramid Scheme Alert menyusun analisa terhadap pendapatan rata-rata actual dari NuSkin, Nikken, Melaleuca, dan Cyberwize.com, laporan dibuat dengan basis per 10.000 partisipan. Keempat perusahaan MLM tersebut, tiga di antaranya adalah perusahaan besar, anggota terkenal di Direct Selling Association (DSA), dan yang keempat adalah perusahaan baru dan sedang berkembang dengan pesat. Mereka cukup representatif untuk jenis produk, cara pembayaran, struktur bisnis, dan klaim marketing dari mayoritas dari perusahaan MLM.

Angka-angka dalam analisa ini didapat dari dokumen publik yang dikeluarkan perusahaan yang bersangkutan dan cuma memasukkan pembayaran perusahaan kepada distributor dalam bentuk rebate dan komisi. Persentase dan uang aktual disajikan dalam basis per 10.000 distributor untuk mempermudah pembacaan, kecuali untuk laporan Amway/Quixtar.

Data NuSkin didapat dari laporan berjudul “Penerimaan Rata-Rata Aktual 1998”. NuSkin diharuskan oleh FTC untuk membuat pemaparan disebabkan karena pelanggaran mereka sehubungan dengan klaim pendapatan yang tidak akurat. NuSkin hanya mengkalkulasikan pendapatan dari distributor yang “aktif” selama 1 bulan pada tahun 1998. Jumlah distributor yang masuk namun akhirnya keluar dari program pada tahun yang sama tidak diikutkan.

Angka-angka Nikken dan Melaleuca berasal dari laporan mereka ke distributor sebelumnya. Keduanya juga hanya mengikutsertakan partisipan “aktif”. Melaleuca hanya mengkalkulasikan penerimaan anggotanya yang aktif selama 12 bulan penuh pada tahun 1992. Mereka yang drop out sebelum satu tahun dikeluarkan dari perhitungan. Melaleuca melaporkan bahwa lebih dari 50% distributornya keluar sebelum satu tahun.

Angka Melaleuca juga dikaburkan mereka karena mereka tidak bersedia memberikan angka eksak tentang persentase masing-masing distributor di setiap level distibusinya, yang diberikan mereka adalah angka persentase untuk 2 grup besar distributor. Namun, mereka mengemukakan bahwa sekitar satu dari lima partisipan yang bertahan lebih dari satu tahun akan naik dari jenjang terendah menuju level yang lebih tinggi. Analisa PSA didasarkan kepada ukuran umum dari kedua grup besar mereka.

Data Cyberwize.com berasal dari “Pernyataan Pemaparan Pendapatan Cyberwize.com tahun 2003-2004” yang diambil dari website mereka. Perusahaan ini, sama seperti lainnya, membatasi laporan dengan hanya memperhitungkan partisipannya yang aktif dan tidak memasukkan anggotanya yang tidak aktif.

Sumber data dari Amway/Quixtar adalah “Pendapatan rata-rata tahunan untuk IBO Amerika Utara, laba rata-rata tahunan 2001 dalam U.S. dolar, Quixtar Inc. 2002, yang diposting di website mereka. (Di Amway/Quixtar, distributor disebut dengan istilah Independent Business Owner (IBO)). “Aktif” dalam pemaparan Quixtar artinya bila seorang IBO mencoba melakukan penjualan retail, atau mempresentasikan rencana bisnis IBO, atau menerima uang bonus, atau menghadiri pertemuan IBO pada tahun 2000.

ANALISIS DATA : MEMECAHKAN KODE RAHASIA MLM

Data yang dikeluarkan perusahaan

Semua data yang digunakan dalam analisa pendapatan rebate di sini adalah berasal dari pemaparan publik perusahaan yang bersangkutan. Analisa dari PSA menyajikannya dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dengan menggunakan format per 10.000 distributor. Dengan menyajikan laporan dalam bentuk yang lebih mudah dibaca, kode rahasia MLM menjadi terbaca. Pembayaran yang amat kecil yang diterima mayoritas peserta dan pembayaran yang amat sangat besar bagi sejumlah kecil partisipan level atas menjadi terbaca.

Perusahaan MLM telah membuat laporan tampak lebih baik bagi mereka dengan hanya memperhitungkan peserta “aktif” selama satu tahun, atau selama bulan tertentu ataupun beberapa bulan. Dengan metode ini, pendapatan dari mereka yang berada di level bawah menjadi meningkat. Proporsi dari distributor level atas juga menjadi mengecil. Seandainya semua anggota distributor ikut diperhitungkan, tingkat kegagalan yang lebih jujur akan terlihat.

Metode Kalkulasi
1. Penggunaan sistem 10.000 partisipan akan membuat laporan rumit dan abstrak dari perusahaan bersangkutan menjadi lebih mudah dipahami. Karena persentase distributor di setiap level dipaparkan oleh mereka, kita dapat mengetahui jumlah partisipan setiap 10.000 orang dengan mengalikannya dengan persentase angka tersebut. Contoh: Bila NuSkin mengatakan 0,66% pesertanya berada di level “Lapis”, berarti setiap 10.000 peserta ada 66 orang.
2. Dengan jumlah anggota di setiap level dipublikasikan, dan pembayaran rata-rata distributor di berbagai level diketahui, total pembayaran yang dibayarkan kepada setiap level, per 10.000 orang, dapat dikalkulasikan.
3. Dengan total pembayaran kepada tiap peserta di setiap level diketahui, persentase pembayaran yang dibayarkan kepada berbagai level dapat dikalkulasikan dengan jumlah tiap level dengan jumlah pembayaran total seluruh level.

Revenue, Bukan Profit

Angka penerimaan bukanlah profit. Biaya untuk melaksanakan bisnis (membeli inventori, biaya mobil, telepon, membeli material marketing, seminar pelatihan dll.) belum diperhitungkan, termasuk pajak. Net income aktual, bila ada, akan jauh lebih kecil daripada angka-angka yang tersaji.

Kenyataan bahwa penerimaan rata-rata tidak mencukupi untuk mendapatkan “profit” adalah benar bahkan untuk perusahaan dengan angka pendapatan rata-rata tertinggi di industri MLM. Pada bulan Mei 2004, pada acara ekspos terhadap program penjualan Amway/Quixtar, NBC Dateline melaporkan bahwa pendapatan utama dari distributor level atas Amway/Quixtar bukan berasal dari komisi penjualan Amway/Quixtar, melainkan lewat bisnis penjualan buku, kaset, dan registrasi seminar rekrutan baru. Para pengkritik mengatakan bahwa biaya untuk menjadi seorang distributor top di Amway/Quixtar lebih besar dibanding pendapatan / komisi mereka. Tanpa adanya “rahasia” sumber pendapatan lain, para “kingpins” akan mengalami kerugian. Para pengkritik yang diwawancarai oleh Dateline juga mengungkapkan bahwa penjualan buku, kaset, dan registrasi seminar mereka diorganisir dengan sistem piramida tertutup. Barang-barang itu tidak pernah diretail di luar para sales. Para distributor level atas akan mendapatkan keuntungan setiap kali terjadi penjualan kepada distributor level bawah.

Biaya Penjualan Retail dan Penerimaannya Tidak Dimasukkan

Pendapatan dari penjualan retail tidak ikut dikalkulasikan dalam analisa dari kelima perusahaan. Bagian 3 dari laporan ini mengupas penjualan retail dari perusahaan MLM dengan jumlah sample yang lebih banyak.

Karena tidak ada proyeksi akan laba penjualan retail di laporan ini, semua biaya yang terjadi yang berhubungan dengannya seperti pembelian inventori, marketing, perjalanan, pelatihan, sample barang, diskon dll. juga tidak dikalkulasikan. Bila biaya-biaya tersebut dibandingkan dengan hasil penjualan retail, kerugian riil akan lebih besar daripada yang dipresentasikan di laporan ini.

Estimasi Pembayaran NuSkin:
Sumber: NuSkin’s “1998 Actual Average Incomes” Report


Pada setiap 10.000 anggota NuSkin:
 16 dari 10.000 individu menerima 52% dari pembayaran perusahaan.
 99% partisipan posisi terendah mendapatkan pendapatan rata-rata $7,43 per minggu (bila memperhitungkan pengeluaran dan pajak, hasilnya adalah kerugian yang signifikan).
 Top 1% dari organisasi menerima 74% total pembayaran perusahaan.
 86% partisipan tidak menerima apa-apa
 Rata-rata pembayaran kepada semua partisipan NuSkin adalah $28 per minggu sebelum pengeluaran dan pajak.

Estimasi Pembayaran Nikken:
Sumber: Nikken USA’s Average Wellness Consultant Income Sheet
Annual Income Statistics 2000


Pada setiap 10.000 anggota Nikken:
 25 dari 10.000 individu menerima 46% dari pembayaran perusahaan.
 Kurang dari 1% (75 orang) menerima 58% pembayaran perusahaan.
 94% peserta terbawah menerima 17% pembayaran perusahaan.
 Pembayaran rata-rata kepada 99% partisipan terbawah adalah $5,32 per minggu (belum termasuk pengeluaran dan pajak mereka, hasilnya adalah kerugian signifikan).
 Pembayaran rata-rata kepada semua partisipan Nikken adalah $12,57 per minggu (sebelum pengeluaran dan pajak)


Estimasi Pembayaran Melaleuca:
Sumber: Melaleuca’s 2002 Annual Income Statistics, Melaleuca Marketing Executives


Pada 10.000 anggota Melaleuca:
 82 dari 10.000 (kurang dari 1%) menerima lebih dari setengah pembayaran perusahaan
 30 individu menerima 35% dari total pembayaran perusahaan
 Rata-rata pendapatan 99% terbawah distributor Melaleuca yang aktif selama satu tahun penuh adalah $9,66 per minggu (sebelum pengeluaran dan pajak, hasilnya adalah kerugian yang signifikan)


Estimasi Pembayaran Cyberwize.com:
Sumber: Income Disclosure Statement for Cyberwize.com 2003-2004 on the cyberwize.com website (August, 2004)


Pada setiap 10.000 anggota Cyberwize:
 34% dari keseluruhan pembayaran diterima oleh 13 individu dari total 10.000 partisipan “aktif”.
 Rata-rata pendapatan untuk 99% partisipan terbawah adalah $5,61 (sebelum pengeluaran dan pajak, hasilnya adalah kerugian signifikan).
 Cyberwize.com memaparkan bahwa 67% distributor aktif mereka tidak mendapatkan komisi, 6.700 dari 10.000 distributor mereka tidak mendapatkan rebate income.
 Dua level terbawah dari jenjang distributor mereka mencapai 90% dari total partisipan.
 Dari 10.000 partisipan, penerimaan 4 orang di level tertinggi sama dengan 9.000 orang di level terbawah.

Data Tambahan Tentang Penerimaan Rebate Rata-Rata

1. Laporan tahunan perusahaan MLM, Usana, menunjukkan penjualan sebesar $133.776.000,- dan pembayaran kepada distributor sebesar $51.174.000,-. Perusahaan tersebut memiliki 66.000 distributor “aktif” (mereka yang membeli produk selama tiga bulan terakhir). Artinya seorang distributor rata-rata membeli produk sejumlah $2.027,- per tahun dan menerima pendapatan rata-rata $775 atau $14,90 per minggu (sebelum pengeluaran dihitung). Perhatikan: laporan dari Usana merusak gambaran sebenarnya dari bisnis mereka, di mana pembayaran yang mereka perhitungkan adalah selama 1 tahun penuh, namun distributor yang diperhitungkan hanya mereka yang aktif selama 3 bulan terakhir. Ribuan orang mendaftarkan diri dan kemudian keluar. Pembayaran mereka diperhitungkan sebagai penjualan, namun mereka tidak ikut dihitung saat pembayaran rata-rata dikalkulasikan.

2. Pada tahun 2000, Market Amerika, perusahaan MLM lainnya, membayarkan uang sebesar $60,6 juta dolar kepada 81.379 distributor aktif, artinya $15 per minggu sebagai pendapatan rata-rata (sebelum pengeluaran distributor diperhitungkan).

3. Berdasarkan laporan tahunan tahun 2000 dari perusahaan MLM, Pre-Paid Legal Services, perusahaan membayarkan $139.891.000,- komisi dalam lima tahun terakhir. Total partisipan yang ikut dalam program mereka selama itu berjumlah 472.189. Artinya rata-rata mendapatkan $5,70 per minggu (sebelum pajak, pelatihan, dan pengeluaran lainnya). Bila biaya pelatihan dimasukkan, pendapatan mereka rata-rata $2,10 per minggu.

Rangkuman Dari Penemuan Penerimaan Rebate

Hasil analisa terhadap tiga perusahaan MLM paling terkenal dan satu yang lebih baru menunjukkan 99% distributor mereka tidak mendapatkan keuntungan rebate dari perusahaan mereka. Selain itu, jutaan dolar telah dibayarkan distributor-distributor itu untuk produk, pelatihan, fee, dan material marketing yang sebenarnya akhirnya menjadi keuntungan bagi sejumlah kecil peserta di level atas. Konsentrasi penerimaan uang yang didapatkan oleh segelintir distributor adalah konsisten dan ekstrim.


Para promoter MLM di posisi Top senantiasa mengatakan bahwa pendapatan yang mereka dapatkan bisa didapatkan oleh siapapun. Kenyataannya, setiap tahun, para rekrutan baru (mayoritas dari distributor) keluar dan digantikan oleh rekrutan baru lainnya. Tingkat drop out tahunan dari program MLM bisa mencapai 50% sampai 75%. Dalam kasus Nikken, masa aktif para Direct dan Senior (81% dari total partisipan) adalah kurang dari 1 tahun.
Uang yang dikeluarkan oleh para partisipan di level bawah, adalah sumber pendapatan dari mereka yang berada di atas, tahun demi tahun.

Tiga Kunci Untuk Memahami Pembayaran Rebate MLM

 Perbedaan pendapatan antar level di MLM bukan lagi antara pendapatan tinggi dan pendapatan rendah seperti di korporasi umumnya, perbedaan di MLM adalah antara amat sangat tinggi dibanding dengan tiadanya profit sama sekali (setelah semua biaya diperhitungkan).

 Pendapatan yang amat sangat tinggi yang diperoleh dari distributor level top dalam MLM basis rekrut diperoleh secara langsung dari distributor-distributor yang mengalami kerugian, bukan dari “pelanggan” perusahaan, seperti yang biasanya terjadi di perusahaan umum. Jadi uang dari suatu level berpindah ke level yang lain, uang berpindah di dalam perusahaan! MLM basis rekrut sama sekali tidak memiliki basis konsumen yang kuat, uang yang didapat distributor level atas dari tahun ke tahun diambil dari pengeluaran distributor level bawah dan keluarga mereka.

 Persentase untuk mencapai posisi top di MLM tidak menunjukkan angka-angka yang masuk akal untuk “sukses” :

- 16 dari 10.000 di NuSkin
- 1 dari 10.000 di Nikken
- 30 dari 10.000 di Melaleuca
- 1 dari 10.000 di Cyberwize.com
- 2 dari 300.000 di Amway/Quixtar (akan dijelaskan di bagian “Suplemen Spesial”)

Peluang riil sebenarnya jauh lebih buruk! Tidak semua orang yang berada di dalam sistem MLM memiliki kesempatan yang sama, tidak seperti lotere. Mereka yang berada di posisi top MLM akan menang setiap hari, karena posisi mereka, bukan karena peluang menang-kalah. Bila jumlah semua partisipan (aktif maupun tidak) benar-benar diperhitungkan dalam laporan keuangan mereka, angka yang terlihat akan jauh lebih buruk.

BAGIAN 3 : MENGEKSPOS MITOS PENDAPATAN RETAIL DARI MLM

Pada bagian sebelumnya telah ditunjukkan bahwa secara virtual tidak ada distributor MLM yang mendapatkan keuntungan dari rebate atau komisi. Jumlah uang yang sangat besar dikeluarkan, namun kebanyakan berpindah ke kantong dari distributor level top dari organisasi mereka.

Dapatkah anggota MLM mendapatkan keuntungan dengan meretailkan produk mereka ke konsumen (end user)? Angka-angka yang kami dapatkan dari 20 perusahaan MLM sekali lagi membuktikan kata-kata itupun adalah mitos. Sebelum memperhitungkan pajak dan biaya untuk menjual, sekalipun seorang distributor sanggup menjual harga produk mereka dengan harga retail tanpa diskon, pendapatan retail maksimum mereka hanya berkisar $12 per minggu. Setelah memperhitungkan berbagai jenis biaya dan praktek pemberian diskon dalam kenyataan, free samples, dan penggunaan pribadi, penerimaan rata-rata akan berkisar antara nol dan rugi besar.

Pentingnya Meretailkan Produk Secara Hukum

Walapun Federal Trade Comission menggunakan persentase pendapatan retail sebagai acuan penentuan apakah MLM adalah perusahaan piramida atau bukan, namun dalam prakteknya perusahaan MLM tidak perlu menyampaikan angka penjualan retail yang sebenarnya baik kepada distributor maupun kepada pemerintah. Bila FTC harus memprosekusi sebuah perusahaan MLM sebagai perusahaan piramida, mereka harus menunjukkan bukti bahwa perusahaan tersebut memang tidak cukup meretailkan produk, pencarian bukti ini membutuhkan research yang amat menghabiskan waktu dengan berurusan dengan perusahaan MLM.

Dalam kasus FTC melawan Equinox International, tanpa perlu melakukan pemeriksaan lapangan yang sangat memboroskan biaya untuk mengecek data penjualan retail, FTC menggunakan argumen logika matematika sederhana untuk menentukan level penjualan retail yang diperlukan sebuah perusahaan MLM untuk bisa disebut sebagai perusahaan legal. Bila angka level itu sudah didapat, digabungkan dengan faktor-faktor lainnya, yang kebanyakan akan disajikan dalam laporan ini, kebanyakan perusahaan didapati tidaklah memenuhi syarat karena tidak berhasil mencapai angka itu.

Acuan 70% Retail

Formula tersebut melibatkan penjumlahan total biaya produksi, biaya marketing, overhead umum, dan keuntungan retail. Model perhitungan FTC mengizinkan bahwa hanya setengah dari pendapatan rebate yang diterima seorang distributor harus didapat dari penjualan retail, jadi hanya nilai setengah dari pendaptan rebate yang dijumlahkan. FTC memproyeksikan bahwa 70% dari penjualan yang dilakukan oleh distributor Equinox harus bentuk retail supaya mereka bisa dikategorikan sebagai perusahaan MLM yang legal. FTC juga percaya penjualan retail dari Equinox tidaklah melebihi 20% dari omset mereka.

Karena kebanyakan MLM mengalokasikan porsi yang besar dari penjualan mereka untuk dijadikan pendapatan rebate kepada para upline, maka kebanyakan dari mereka akhirnya harus menjual setidaknya 70% produk ke konsumen untuk bisa disebut sebagai perusahaan legal. Menggunakan laporan tahunan tahun 2000 dari Herbalife International, salah satu perusahaan MLM yang paling besar, mereka akan harus menjual setidaknya 80% produk mereka dalam bentuk retail seandainya formula dari FTC diaplikasikan.

Ada berbagai kejadian, selain tes dari FTC, untuk menunjukkan bahwa memang 70% dari penjualan MLM harus dalam bentuk retail untuk dapat mengkategorikan mereka sebagai perusahaan non piramida.

 Pada tahun 1979, Amway diharuskan untuk menjual 70% produk mereka lewat retail setiap bulan. Amway mengatakan bahwa sejak awal mereka memang sudah membuat peraturan itu kepada distributor mereka. “Aturan 70%” ini seharusnya mencegah Amway untuk melarang penimbunan stok oleh distributor mereka. Tahun-tahun terakhir ini, Amway mengklaim bahwa penjualan dari seorang distributor kepada distributor lainnya juga termasuk penjualan retail. Sampai saat ini FTC belum memutuskan menerima klaim seperti ini dari MLM manapun.

 Sebagai tambahan, standar 70% ini telah diaplikasikan dalam 4 kasus di North Carolina, oleh kantor pengacara umum NC. Keempat perusahaan itu adalah Club Atlanta Travel, Destiny Telecomm International ,Inc., Tele-Card International, dan International Heritage, Inc..

Kenyataan Retail
 Level penjualan retail yang aktual dari mayoritas MLM diprakarsai oleh Amway/Quixtar, perusahaan MLM tertua dan terbesar. Amway telah diperintahkan oleh pemerintah untuk menyediakan data penjualan retail mereka. Mereka memaparkan bahwa kurang dari 20% produk mereka dibeli oleh orang-orang yang bukan distributor mereka.

 Melaleuca dan kebanyakaan perusahaan MLM menekankan praktek “menjadi pelanggan Anda sendiri”, benar, membeli produk perusahaan dan merekrut orang lain untuk juga membeli produk perusahaan. Secara virtual semua program MLM mengharuskan pembelian minimum kepada distributor mereka. Tidak ada satupun dari empat perusahaan yang dipelajari di sini yang membayarkan rebate berdasarkan penjualan retail, semuanya berdasarkan pembelian distributor downline.

 Akhir-akhir ini, sebagai respon terhadap aksi regulator yang fokus pada level penjualan retail, beberapa MLM mulai mengharuskan distributor mereka untuk memiliki pelanggan retail. Ini tidak menunjukkan bahwa distributor itu mendapatkan keuntungan yang besar dari penjualan retail atau menunjukkan bahwa mereka memiliki basis konsumen yang kuat, mereka cuma mencari beberapa pelanggan untuk jaga-jaga. Contohnya: untuk kasus Pre-Paid Legal, salah satu MLM terbesar, rata-rata pelanggan retail distributor mereka adalah 4 orang, tidak cukup untuk menghasilkan keuntungan yang cukup untuk distributornya.

Data dari 21 MLM
Sumber: Multi Level Marketing, the Definitive Guide to America’s Top MLM Companies. Compiled by Will Marks, 1994.


Rangkuman Dari Penemuan Pendapatan Retail
 Penemuan adalah berdasarkan sample tahun 1994 dari 21 perusahaan MLM, skala besar maupun kecil.
 Sample terdiri dari 5,2 juta distributor dengan “proyeksi” penjualan retail sebesar $10 milyar.
 Rata-rata gross profit perusahaan MLM adalah 33%.
 Gross profit rata-rata maksimum dari para distributor adalah $634,08 per tahun ($12,19 per minggu), sebelum pengeluaran dan pajak.
 Pendapatan $12 per minggu ini didapat hanya bila mereka berhasil menjual semua inventori mereka di pasar retail, tidak membeli sama sekali produk untuk diri sendiri, tidak pernah memberikan sample gratis, dan tidak memberikan diskon kepada pelanggannya.
 Bila biaya yang sebenarnya diperhitungkan, termasuk inventori, sample, biaya penjualan, dan diskon, maka net profit bagi distributor adalah mendekati nol sampai rugi besar.

Singkatnya: Tidak Terdapat Profit Rebate, Tidak Juga Terdapat Profit Retail.

Rendahnya potensial pendapatan keuntungan retail ($12,19 per minggu), harus dipandang bersamaan dengan penemuan kita sebelumnya tentang pendapatan rebate:

 Rata-rata pendapatan rebate 99% partisipan “aktif” NuSkin adalah $7,43 per minggu
 Rata-rata pendapatan rebate 99% partisipan “aktif” Nikken adalah $5,32 per minggu
 Rata-rata pendapatan rebate 99% partisipan “aktif selama full 1 tahun” Melaleuca adalah $9,66 per minggu
 Rata-rata pendapatan rebate 99% partisipan “aktif” Cyberwize.com adalah $5,61 per minggu

Laporan PSA menunjukkan bahwa “income opportunity” yang dijanjikan industri MLM, baik berupa rebate income maupun retail income, adalah tidak benar. Yang terjadi adalah kerugian masif oleh mayoritas partisipan yang berubah bentuk menjadi keuntungan yang amat sangat besar bagi promoter program mereka.

Klaim MLM akan legitimasi, berdasarkan “income opportunity” terhadap para konsumen, adalah palsu dan tidak terbukti. Klaim lainnya bahwa model bisnis mereka adalah direct selling, juga terbukti palsu.

Mitos Door-to-Door Selling

Model penjualan MLM diklaim mereka sebagai sistem door-to-door selling oleh ribuan reseller mereka. Klaim ini adalah kontradiktif dengan pengalaman dari banyak orang. Penjual door-to-door sudah sangat jarang ditemukan dalam masyarakat Amerika Serikat hari ini. Tidak banyak orang yang ada di rumah pada jam kerja ataupun memiliki waktu untuk menjamu para penjual. Pertimbangan tentang keamanan juga menyebabkan penjual door-to-door tidak popular. Internet, distribusi masal, took-toko diskon, katalog mail order, dan telemarketing semuanya memiliki kontribusi atas hilangnya penjual door-to-door.

Selain faktor-faktor di atas, masih ada 10 faktor mengapa distributor MLM sulit untuk bisa menjual secara door-to-door:
1. Gross profit yang tidak mencukupi dan harga produk yang terlalu tinggi.
Sebagai contoh: Nikken, mereka menetapkan keuntungan kotor sebesar 20% dari penjualan retail produk mereka. Dengan mempertimbangkan biaya untuk melakukan penjualan, margin seperti ini akan sangat sulit untuk memberikan keuntungan yang diperlukan oleh para partisipannya.

Seorang distributor harus membiayai ongkos memprospek orang, melakukan presentasi produk, pembelian produk, meyediakan customer support dan material marketing, menyediakan sample gratis, atau setidak-tidaknya untuk demonstrasi produk, dan mengantarkan produk (kecuali pelanggan membeli langsung dari Nikken). Para distributor juga harus menagih pembayaran dan mengembalikan produk seandainya diperlukan. Biaya lainnya yang terjadi misalnya lisensi bisnis dan akuntansi (Nikken menagih biaya akuntansi sebesar $24 sampai $360 per tahun kepada distributor mereka atas pelayanan akuntansi mereka), perjalanan, telepon, komputer, dan biaya teknologi lainnya.

Margin retail sebesar setidaknya 50% (100% mark up dari biaya pembelian “grosir”) diperlukan supaya dapat menutup harga produk dan biaya operasional dari seorang distributor. Perusahaan penjualan langsung semacam Avon memberikan margin retail yang tinggi bagi para distributornya.
Selain margin keuntungan kotor, harga jual produk juga harus kompetitif di pasaran. Kenyataan yang kita ketahui adalah harga produk MLM jauh di atas produk-produk sejenis di pasaran.

2. Pilihan yang terbatas kepada konsumen membatasi kesempatan penjualan retail.
Pilihan adalah terbatas dalam metode penjualan orang-ke-orang ini, kebanyakan konsumen lebih suka pergi ke toko ataupun supermarket karena adanya pilihan yang lebih banyak dan tidak ada tekanan pembelian dari sang penjual yang kemungkinan adalah saudara atau teman baiknya.

3. Kebijakasanaan marketing menyulitkan penjualan retail.
Mayoritas MLM memberlakukan pembatasan yang menyulitkan aktifitas penjualan, sehingga meningkatan harga jual retail dan membatasi ekspos oleh para penjualnya. Pembatasan mereka di antaranya larangan pemajangan produk di toko retail dan pengiklanan masal. Sebagai tambahan, perusahaan MLM juga tidak melibatkan diri di iklan nasional untuk mendukung merek mengedukasi konsumen mengenai produk dan perusahaan mereka. Biaya dan beban untuk melakukan itu ditanggung oleh para distributor mereka.

4. Tidak ada pelatihan penjualan retail.
Perusahaan MLM jarang memberikan pelatihan kepada para partisipannya untuk bisa melakukan penjualan retail. Fokus utama pelatihan dan seminar mereka adalah melatih, memotivasi, memberikan reward kepada partisipan untuk merekrut lebih banyak partisipan lainnya.

5. Sifat alami produk mempersulit penjualan produk.
Sejumlah produk MLM pada dasarnya adalah kontroversial. Selama bertahun-tahun, produk-produk penurunan berat badan MLM mengandung senyawa yang sebenarnya sejak lama dilarang, seperti ephedrine. Misalnya tentang produk Nikken yang mengandung magnet terapis, sebuah laporan di internet mengajukan keberatan atas nilai dan efisiensi dari teknologi magnet, termasuk tantangan ilmiah dan hukum. Bebagai isu-isu kontroversial ini menyebabkan tantangan yang lebih besar bagi partisipannya untuk bisa menjual produk perusahaan mereka.

6. Tersedianya produk-produk lain yang kompetitif mempersulit penjualan retail
Banyak produk dengan manfaat yang setara dengan produk MLM bisa dibeli di toko-toko, supermarket, ataupun di internet dengan harga yang lebih murah. Produk-produk Nikken, bahkan dapat dibeli dari distributor dan mantan distributor mereka dengan harga diskon.

7. Pertambahan jumlah distributor yang tinggi mempersulit penjualan retail.
Karakteristik dari MLM adalah perekrutan, termasuk merekrut anggota keluarga dan teman baik. Bayangkan saja kalau Anda melihat restoran McDonald berada di mana-mana di jalan yang sama. Adanya jumlah distributor yang begitu banyak di sebuah wilayah geografis yang sama pada akhirnya akan menyebabkan pemberian diskon oleh mereka, sebuah skenario yang akan merusak bisnis penjualan retail mereka.

8. Manfaat jangka panjang untuk merekrut lebih besar dibanding menjual.
Setiap penjualan yang dilakukan oleh seorang distributor MLM tidak serta merta memastikan bahwa dia akan bisa menjual lagi kepada orang yang sama. Seorang downline yang terekrut, sebaliknya, berada di sebuah sistem yang mengharuskan dia untuk membeli lebih banyak. Dengan demikian, adalah lebih menguntungkan untuk mencari downline daripada mencari pelanggan retail.

9. Sistem kompensasi menguntungkan perekrutan.
Kebanyakan MLM menggunakan sistem pembagian hasil di mana upline bisa mendapatkan manfaat yang besar atas setiap produk yang terjual, lebih besar dibandingkan dengan distributor yang menjual. Dengan demikian, insentif untuk menjual menjadi kecil.

10. Kenaikan jenjang disebabkan oleh perekrutan.
Kesempatan apapun yang ditawarkan dalam skema ini, harus didapat dengan cara berada di posisi atas dari organisasi. Perekrutan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pendapatan yang besar.

Godaan dan Pancingan

Perusahaan MLM mengalihkan perhatian akan skema bisnis dan kerugian definit dari mayoritas partisipannya mereka dengan mempresentasikan gambaran yang sangat menjanjikan dari prospek bisnis mereka. Secara virtual, semua MLM akan mengatakan hal-hal seperti ini:
 Kesempatan akan “residual” income. Ya, benar, Anda bisa mendapatkan komisi dari orang yang Anda rekrut dan juga orang-orang yang mereka rekrut. Anda bisa terbebas dari “budak gaji.”

 Pendapatan yang teratur tanpa pekerjaan yang teratur. Kebanyakan produk akan dibeli pelanggan dari bulan ke bulan, mereka membutuhkannya.

 Potensi pendapatan yang luar biasa. Benar, pendapatan Anda akan meningkat seiring dengan berkembangnya jumlah downline Anda. Bila seseorang merekrut lima orang, dan mereka kemudian merekrut 5 orang, dalam 7 level saja, orang itu memiliki 78.000 downline. Komisi dari pembelian mereka, bulan demi bulan, akan mengalir ke kantong orang tersebut. Anda bisa menjadi orang itu! Apakah pekerjaan Anda sekarang memberikan kesempatan seperti itu?

 Kemungkinan untuk pensiun dini. Dengan pendapatan dari grup downline Anda, Anda tidak perlu bekerja dan hidup dengan enak!

 Personal freedom, kebebasan finansial! Tidak ada lagi bos!

 Fleksibilitas waktu. Lebih banyak waktu untuk anak, keluarga, dan liburan.

 Kesempatan untuk bisa berbisnis dengan modal yang kecil! Tidak ada resiko.

 Tidak perlu spesialisasi dan pendidikan. Anyone can do it!

 Tidak perlu biaya marketing dan “cold” call. Prospek pertama Anda adalah teman baik, keluarga Anda, atau tetangga Anda.

Menyalahkan Para Korban

Jutaan konsumen mengikuti program MLM, mengalami kerugian, dan keluar tanpa pernah memahami mengapa mereka gagal. Mereka diperlihatkan tentang gaya hidup eksklusif dari peserta yang “sukses”, dan diberitahu bahwa “Anyone can do it.” Promoter meyakinkan mereka bahwa bila mereka gagal, itu karena “kegagalan mereka sendiri.” Kebanyakan dari mereka tidak pernah membayangkan berapa banyak orang yang telah ikut dan juga akhirnya keluar. Mereka percaya kegagalan mereka adalah hal yang tidak biasa dalam sistem bisnis mereka. Konsekwensinya, mereka tidak mengajukan protes dan gugatan kepada pemerintah, mereka juga tidak akan memperingatkan teman dan saudaranya untuk menghindari MLM. Rasa malu dan kekecewaan mereka ditutupi dengan sikap diam. Akibatnya, program perekrutan berjalan tanpa halangan.

Seperti yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya, tingkat persentase partisipan yang gagal nyaris tidak berhubungan sama sekali dengan usaha partisipan tersebut. Kerugian multi milyar dolar dari konsumen disebabkan oleh model bisnis piramida. Penjualan retail adalah kurang memungkinkan, dan pendapatan berbasis rekrut menyebabkan mayoritas peserta ditakdirkan untuk rugi. Hal yang sebaliknya tidak bisa terjadi. Setiap seorang peserta “sukses”, secara matematis dipastikan akan ada banyak peserta lainnya yang tidak. “Anyone” cannot do it.

Skema rantai tak terputus, tentu saja, tidak dapat dilanjutkan selamanya. Korban di level bawah, terus menerus mengalami perubahan, banyak yang keluar dan digantikan dengan yang baru. Kegagalan masif memang diperlukan, bila tidak dalam waktu singkat semua populasi bumi akan menjadi anggotanya.
Skema seperti ini, pada akhirnya harus berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain, biasanya ke negara lain, dan ada juga yang kemudian mengganti nama mereka untuk melanjutkan aksi perekrutan.

Suplemen Spesial : Data dan Analisa Amway/Quixtar

Mitos tentang kesempatan pendapatan yang dikampanyekan oleh industri MLM seperti yang telah dipresentasikan di bagian sebelumnya menunjukkan bahwa 99% partisipan tidak mendapatkan net income dalam bentuk pendapatan rebate, komisi, dan bonus. Data dari 21 perusahaan MLM menunjukkan partisipan juga tidak mendapatkan keuntungan lewat penjualan retail. Kesempatan seorang partisipan baru untuk mendapatkan keuntungan dari MLM adalah sangat kecil, terlalu kecil untuk bisa disebut sebagai “income opportunity.”

Suplemen ini menyajikan data dan analisis dari Amway, sekarang dikenal dengan nama Quixtar di Amerika Utara. Hasil akhir menunjukkan hasil yang sama, setidaknya 99% distributor mereka tidak mendapatkan keuntungan nyata.

Amway/Quixtar adalah MLM paling tua, paling besar, dan paling terkenal dengan pendapatan di atas $4 milyar. Amway dan Quixtar pada dasarnya adalah perusahaan yang sama dengan sedikit perbedaan superficial. Perusahaan induk mereka sama, yaitu Alticor. Top executive dan manager mereka juga sama. Distributor “kingpin” mereka juga sama. Produk dari mereka sama, dan sistem pembayaran mereka secara esensial sama.

Bisnis Rahasia

Angka-angka Amway dianalisa secara terpisah karena adanya bisnis rahasia yang dilakukan oleh para distributor level atas mereka, yang mana menghasilkan mayoritas dari pendapatan mereka. Bisnis rahasia ini telah diperkarakan dan diekspos di berbagai website selama bertahun-tahun. Bulan Mei 2004, program berita nasional NBC Dateline membawa sebuah kamera yang disembunyikan ke salah satu acara pertemuan perekrutan mereka dan berhasil mengekspos kejahatan mereka. Para “kingpins” Amway/Quixtar mendapatkan mayoritas dari pendapatan mereka lewat bisnis perekrutan, bukan dengan menjual produk Amway. Dalam pertemuan-pertemuan perekrutan, para “kingpin” mengklaim bahwa mereka menjadi kaya-raya dari bisnis Amway dan para peserta baru dapat mencapai apa yang mereka capai dengan menjadi distributor (IBO). Kenyataannya, para “kingpin” mendapatkan mayoritas pendapatan mereka lewat penjualan buku, kaset, dan seminar kepada rekrutan baru, yang diberitahu bahwa alat-alat itu diperlukan untuk mencapai “kesuksesan.” Kenyataannya, sejumlah distributor di level atas berada dalam posisi net loss (setelah pengeluaran) dari bisnis Amway mereka. Mereka bisa bertahan karena uang yang didapatkan dari perekrutan.

Data laporan ini menunjukkan pendapatan rata-rata dari distributor level top di Amway/Quixtar lebih kecil dibandingkan dengan MLM yang lain dan persentase pendapatan di level mereka juga lebih rendah dibandingkan dengan MLM lain.

Amway/Quixtar membayar lebih rendah kepada distributor top mereka, namun pendapatan mereka disuplementasikan dengan mengoperasikan sebuah bisnis rahasia, yang didukung oleh perusahaan induk, yaitu menjual “success tools” kepada rekrutan.


Tidak ada data yang tersedia sehubungan dengan angka yang didapat dari penjualan “success tools”, namun data yang menunjukkan bahwa 99% dari partisipannya kehilangan uang cukup untuk membuktikan sebuah aksi penipuan skala global yang mereka lakukan.

Gugatan Hukum, Ekspos, Protes Konsumen, Penghindaran Pajak, Pengabaian Aturan Pemerintah, dan Usaha Intensif Mencari Pengaruh Politik
Alasan lain mengapa Amway/Quixtar pantas mendapatkan analisa yang terpisah sehubungan dengan klaim “income opportunity” mereka adalah:
 Amway/Quixtar adalah perusahaan paling kontroversial di industri MLM Amerika. Sejumlah gugatan pribadi, gugatan class action, protes konsumen dan ekspos internet semuanya menggugat praktek penipuan akan janji kesempatan pendapatan dan pengoperasian sebuah skema piramida yang berbahaya.

 Amway digugut oleh salah satu perusahaan terbesar di Amerika, Procter and Gamble, karena mengoperasikan skema piramida ilegal dan membohongi para rekrutan akan kesempatan pendapatan.

 Amway/Quixtar menjadi subjek ekspos berita dari program acara berita paling dipercayai di Amerika, NBC Dateline, dan CBS 60 Minutes, yang mana mereka dituduh melakukan penipuan masal dan memisrepresentasikan pendapatan dari distributor mereka.

 Amway memiliki sejarah tindakan penipuan dan perbuatan ilegal:
• Tahun 1983, pemerintahan Kanada menggugat Amway dan pendirinya: DeVos dan VanAndel karena penghindaran pajak. Mereka akhirnya dinyatakan bersalah dan membayar denda sebesar $25 juta, angka terbesar yang pernah terjadi di Kanada.
• Tahun 1979, di Amerika, Amway diperintahkan oleh FTC untuk menghentikan praktek pengaturan pengendalian harga dan membesar-besarkan klaim pendapatan mereka.
• Setelah terbukti melanggar aturan klaim pendapatan yang tidak akurat, Amway pada akhirnya memaparkan laporan pendapatan rata-rata aktual.
• Amway diguguat oleh Negara Bagian di Wisconsin karena klaim pendapatan yang tidak akurat. Pemeriksaan dari kantor pengacara umum Wisconsin membuktikan bahwa para distributor level atas Amway, secara umum, mengalami net loss di laporan pajak mereka.
• Amway terlibat dalam berbagai upaya lobi skala besar untuk mempengaruhi regulasi federal tentang klaim pendapatan palsu.

Estimasi Pembayaran Quixtar (Amway) – basis per 300.000 partisipan
Sumber: Average AnnualIncome for IBO’s in North America, 2001 Average Annual Earnings in U.S.Dollar, 2002 Quixtar Inc.


Pada sample 300.000 partisipan “aktif” Amway/Quixtar:
• Total ada 454.000 partisipan (partisipan aktif hanya 66% dari total partisipan).
• Sekitar 155.000 partisipan tidak mendapatkan bonus (34%).
• 99,4% partisipan mendapatkan $13,41 per minggu, sebelum perhitungan pembelian produk, biaya bisnis dan pajak. Pendapatan rata-rata ini jauh lebih kecil daripada biaya untuk menjalankan bisnis. Artinya 99% tidak mendapatkan keuntungan.
• Dalam angka yang riil, sekitar 452.000 dari 455.000 sedang dalam posisi terbawah dari rantai distributor. Persentase ini menunjukkan 99,9% dari total partisipan sedang kehilangan uang setiap tahun. 50% dari mereka akan keluar dari sistem dan digantikan dengan sekumpulan investor baru setiap tahun.
• Level atas yang terdiri dari sekitar 0,6% partisipan (sekitar 1 setiap 200 orang) menerima 24% dari total pembayaran perusahaan. Pendapatan rata-rata bagi mereka adalah $700 per minggu, sebelum pembelian produk, biaya bisnis dan pajak. Karena biaya bisnis untuk mereka yang berada di level atas biasanya sangat tinggi, maka bahkan untuk mereka yang di berada atas sekalipun tidak ada keuntungan lewat bisnis ini.
• Kurang dari 1 di antara 10.000 partisipan adalah level Diamond dan atasnya.

Bagaimana data Quixtar ini dianalisa:
• Laporan adalah dalam bentuk per 300.000 partisipan karena jumlah peserta di level atas adalah sedemikian kecilnya dibandingkan dengan total partisipan. Di perusahaan MLM lainnya, jumlah basis sample yang lebih kecil dimungkinkan, tetapi di Quixtar penggunaan jumlah basis distributor yang lebih kecil akan menyebabkan timbulnya angka pecahan di jumlah distributor per level. Sebagai contoh: setiap 300.000 partisipan, hanya ada 2 individu di level teratas.

• Penggunaan angka per 300.000 partisipan membuat data dapat dimengerti dengan lebih mudah

• Persentase distributor di setiap “level pin” (Platinum, Diamond, dll.) dapat dikalkulasikan ke jumlah aktual dengan mengalikan mereka ke 300.000 sample distributor. Sebagai contoh: Quixtar memaparkan bahwa 0,0007% dari total distributor “aktif” adalah level Founder Exec. And Above. Dalam laporan basis 300.000, artinya hanya 2 orang yang merupakan distributor level tersebut.

• Dengan didapatkannya jumlah aktual distributor di setiap level pin, dan pendapatan rata-rata dari mereka dipaparkan oleh Quixtar, total uang yang diberikan per 300.000 partisipan dapat dihitung.

• Total pembayaran kepada distributor non-pin didapat dari total pembayaran perusahaan yang dikurangi total pembayaran kepada distributor level pin.

• Jumlah partisipan “non aktif”, yang tidak menerima pembayaran komisi, didapat dari paparan Quixtar bahwa 66% partisipan mereka adalah “aktif”.

Bagaimana Mengenali dan Menghindari MLM Basis Rekrut

Dr. Jon Taylor, Direktur Pyramid Scheme Alert, menemukan 5 karakteristik dari perusahaan MLM yang sebenarnya merupakan skema piramida dengan produk, kelima karasteristik itu disebut dengan Lima Bendara Merah, yaitu:
1. Perekrutan tak terbatas… Dengan semakin banyak jumlah partisipan, peluang partisipan untuk merekrut menjadi semakin kecil.
2. Kenaikan jenjang disebabkan oleh perekrutan… Satu-satunya cara partisipan mendapatkan pendapatan yang lebih besar adalah dengan merekrut lebih banyak.
3. “Pay to Play”… Distributor perlu melakukan belanja bulanan untuk tetap berada dalam permainan.
4. Komisi diberikan kepada lebih dari 5 level distribusi.
5. Pembayaran komisi kepada upline lebih besar ataupun mendekati komisi yang didapat oleh distributor yang berhasil menjual.

Bila muncul sendiri-sendiri, kelima bendera merah ini belum tentu akan membentuk sebuah skema piramida. Namun, bila muncul bersamaan, sistem itu akan memberikan ungkitan yang luar biasa, menyebabkan akumulasi pendapatan yang amat besar di level atas dan kerugian masif di level bawah. Kelima karakteristik ini akan membentuk skema piramida yang menyamar sebagai perusahaan penjualan langsung.

Tiga Trik Tambahan Pemangsa Piramida

• “Alat” dan Event.. Promoter selalu mempromosikan buku, kaset, ataupun pelatihan seminar yang mereka produksi kepada partisipan. Kadang-kadang pendapatan dari bisnis ini lebih besar dibanding pendapatan dari penjualan produk mereka.
• Proyeksi penjualan “retail”… Proyeksi pendapatan dibuat dengan asumsi penjualan dengan harga retail, dengan produk yang dijual dengan harga yang mahal dan tidak kompetitif. Hampir semua produk MLM sebenarnya dibeli oleh distributor mereka, bukan pelanggan asli.
• Jalur karier… Promoter menyuruh rekrutan baru untuk memilih satu di antara dua jalur, yang pertama adalah menjual lewat retail dan yang satunya adalah untuk mereka yang serius ingin “membangun bisnisnya.” Bila insentif diberikan sedemikian besarnya untuk merekrut, pertanyaan seperti itu adalah omong kosong belaka.

Bagaimana Mencegah MLM beroperasi Sebagai Skema piramida

• Penjualan retail harus diaudit secara berkala
• Perusahaan MLM harus memaparkan informasi penjualan dan pendapatan kepada para distributornya

***

1 komentar:

eka sapta mengatakan...

misi agan2 dan aganwati
saya mau bagi peluang bisnis online yg praktis dan tepat guna
System Tercanggih Yang Pernah Ada, Dan Diciptakan Khusus Bagi Anda Yang Ingin Berkecukupan Financial Tanpa Harus Pontang-Panting Kesana Kemari Cari Kerja , Tanpa Perlu Mikirin Dari Mana Dapat Modal

anda sudah bosan dengan yg namanya kekurangan dalam hal finansial?
Mau Usaha, Tapi Tidak Punya Modal ?
Terlalu Berat Dalam Bekerja, Tapi Hasilnya Minim?
Mau Sekolah/ Kuliah Tapi Kurang Dana ?
ingin menjalankan bisnis dengan modal yg minim namun hasilnya memuaskan?

segera daftarkan diri anda di ASETFB
apakah itu asetfb?
apakah itu semacam bisnis mlm dgn mencari downline?

dsini kita hanya perlu menyebarkan formulir kunjungan ke jejaring sosial dan akan dibayar sebesar Rp5000, untuk tiap formulir yg diisikan oleh netter, semakin banyak dan semakin luas formulir yg anda sebarkan, maka semakin banyak peluang mendapatkan bonus yg lebih besar.
jadi bukan bisnis yg gunanya mencari2 anggota dan melakukan prospekting

dijamin, No tipu2 gan, dosa :)

untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi link dibawah ini dan bacalah dengan teliti , juga dengan hati yg terbuka, karena membaca adalah kunci kesuksesan, thanks :)
http://asetfb.com/?id=EkaSaptanism